30 September 2012

Batas-Batas Iman

SEKOLAH TINGGI ALKITAB TIRANUS
Mata Kuliah : Soteriologi dan Kehidupan Kristen
Dosen : Mika Sulistiono
Tugas : Analisis Pemikiran
Batas-Batas Iman
Nama : Adrianus

Buku ini membahas tentang isu-isu teologis yang berkaitan dengan
kepercayaan dan ketidakpercayaan, dan hal-hal yang berhubungan dengan
orang-orang yang meninggalkan imannya kepada Yesus Kristus. Buku ini
lebih memfokuskan kepercayaan dan ketidakpercayaan dari perspektif
kemanusiaan, kisah-kisah yang dibahas dalam buku ini adalah nyata.
Kisah-kisah berasal dari kesaksian orang-orang yang pernah mengaku
sebagai orang Kristen, bahkan banyak di antara mereka pernah terlibat
di dalam pelayanan Kristen untuk kurun waktu yang lama, tetapi
kemudian meninggalkan imannya. Pertanyaan yang perlu kita renungkan,
apakah seseorang yang sudah diselamatkan masih dapat kehilangan
keselamatannya. Kita akan mengatakan tidak akan hilang, namun,
bagaimana kita menyikapi fakta bahwa ada orang yang telah
betahun-tahun dengan setia melayani di gereja tetapi kemudian
meninggalkan imannya. Bagaimana kita memandang hal seperti ini?
Alasan-alasan apa yang mendorong orang-orang percaya meninggalkan
imannya. Bagaimana kita harus menafsirkan kesaksian-kesaksian banyak
pribadi yang telah meninggalkan kepercayaan mereka di masa lalu dan
masa kini?
Sebelum mengambil keputusan meninggalkan imannya, tentu mereka
mengalami pergumulan-pergumulan tentang kepercayaan mereka.
Persoalan-persoalan yang dihadapi oleh mereka yang meninggalkan
imannya adalah keraguan akan doktrinal, seperti meragukan keilahian
Kristus, kelahirannya dari seorang perawan, kebangkitan, dan yang
paling parah adalah keraguan mereka akan keberadaan Allah. Hal ini
semakin didukung oleh penemuan-penemuan ilmiah baru yang menempatkan
Allah semakin jauh dari jangkauan mereka. Selain itu
pengalaman-pengalaman hidup yang mereka rasakan, membuat mereka
semakin merasakan Allah membiarkan dan tidak mencegah hal-hal yang
buruk terjadi dalam kehidupan mereka. Masalah mulai muncul ketika
mereka mulai merasakan kebisuan atau kebungkaman Allah. Apakah
sesungguhnya ada Allah di luar sana atau yang mengatakan Allah ada
hanya tradisi yang dibuat oleh manusia?
Kisah Chuck dan Billy menggambarkan misteri kepercayaan dan
ketidakpercayaan. Apa yang menyebabkan orang menjadi percaya, apakah
seseorang percaya disebabkan oleh suatu gen keluarga, atau kepercayaan
seseorang disebabkan oleh lingkungan keluarga tempat mereka
dibesarkan? Apa yang dialami Chuck dalam keluarganya sangat berbeda
dengan Billy, Chuck hanya mengenyam pendidikan rendah dan menjalani
kehidupan yang duniawi, sedangkan Billy hidup dalam keluarga yang
saleh dan rajin ke gereja. Biily dibentuk menjadi seorang
pelayan/penghotbah melalui universitas, tetapi Chuch menjadi seorang
pelayan/penghotbah dengan belajar sendiri. Walaupun pelayanan Chuck
pertumbuhannya sangat pesat, tetapi keragu-raguannya terhadap imannya
selalu menghantui hidupnya. Chuck berkesimpulan bahwa keragu-raguannya
disebabkan oleh kurangnya pendidikan teologi, akhirnya Chuck
mendaftarkan diri ke sebuah seminari. Keberhasilan Chuck sebagai
seorang penginjil menjadikan popularitasnya naik dan mendapat
pengakuan umum, pelayanan Chuck berkembang luar biasa. Tetapi pada
saat yang sama Chuck justru mengalami masa yang berat, keraguan akan
imannya tidak dapat hilang, ia mengalami kekacauan rohani, keraguannya
terus berlanjut dan menguat, akhirnya Chuck tidak tahan lagi dan
meninggalkan pelayanan. Chuck tidak dapat lagi berpura-pura
mempercayai sesuatu yang ia tidak yakini. Dalam suatu pertemuan dengan
Billy, Chuck mengatakan bahwa ia tidak sependapat dengan semua
pandangan Bily tentang Allah dan kekristenan, Chuck menganggap bahwa
banyak hal yang disampaikan Billy di mimbar adalah omong kosong dan
usang. Tetapi, tidak ada kepura-puraan dalam diri Billy Graham: ia
mempercayai apa yang ia percayai dengan ketulusan yang tak
tergoyahkan.
Kisah keluarga Smith juga mengalami keraguan dan ketidakpercayaan
ketika mengalami berbagai permasalahan dalam hidupnya. Mereka memiliki
tujuh anak namun hanya tiga yang bertahan hidup sampai dewasa. Dari
keluarga besar yang memiliki iman kristen yang dalam, hanya iman
Hannalah yang bertahan, walaupun imannya itu sering diluputi oleh
keragu-raguan. Masa-masa sulit dalam hidupnya, kepedihan-kepedihan
membuat Hannah mulai mempertanyakan Allah. Ujian selanjutnya yang
dialami oleh Hannah adalah dari suaminya sendiri Robert, ia seorang
tokoh internasional yang mempersona banyak pendengar dengan
khotbahnya, Robert menjadi seorang penghotbah terkenal di dunia.
Tetapi badai kembali melanda keluarga Hannah, suaminya diberhentikan
dari tugas berkhotbahnya, akibat laporan dari seorang gadis bahwa
Robert masuk ke kamarnya dan melakukan perbuatan amoral. Robert
akhirnya memutuskan untuk tidak berkhotbah lagi, dengan alasan ia
benar-benar meragukan kepercayaannya, dan akhirnya ia benar-benar
meninggalkan imannya. Dari seorang yang menyelamatkan jiwa-jiwa
menjadi meninggalkan imannya. Alasan yang dijumpai dalam keluarga
Smith, adalah depresi dan penyakit mental, amoralitas, alasan
filosofis, kritisme alkitabiah, dan kekecewaan kepada Allah. Tidak
seperti suami dan anak-anaknya, Hannah tetap memegang imannya dengan
teguh sampai akhir hidupnya.
Kemisterian Allah telah menimbulkan berbagai pertanyaan, siapakah
Allah? Di manakah Allah? Kesamaan apa yang Allah dan manusia miliki?
Pertanyaan inilah yang menjadi isu kepercayaan dan ketidakpercayaan.
Walaupun keberadaan Allah adalah suatu yang misteri, dan Allah yang
tetap tersembunyi membuat orang berpikir bahwa Dia tidak ada, tetapi
Dia tetap melakukan rancangan-rancangannya dalam banyak peristiwa
sejarah. Banyak orang meninggalkan imannya diakibatkan oleh persepsi
yang keliru tentang Allah, mereka tidak dapat memahami keberadaan
Allah. Orang menggunakan berbagai cara untuk mengenal Allah, misalnya:
melalui peziarahan, kontemplasi, meditasi. Namun harus disadari bahwa
apapun cara yang orang gunakan dalam pencarian akan Allah, semua
diawali dengan adanya keragu-raguan terhadap iman. jika hal ini tidak
disikapi dengan baik, maka akan membawa seseorang semakin jauh dari
Tuhan atau semakin kehilangan iman, dan pada akhirnya akan mengalami
kehampaan iman. Walaupun tidak sampai kehilangan iman. Satu prinsip
yang harus kita pegang adalah selalu berpijak pada Alkitab sebagai
firman Allah yang akan mengungkapkan misteri-misteri Allah bagi kita.
Tidak dapat dipungkiri bahwa keraguan dan ketidakpercayaan selalu ada
di setiap masa atau zaman. Sejak kejatuhan umat manusia memiliki
kecenderungan untuk mengarah kepada ketidakpercayaan. Bahkan
orang-orang yang memiliki keyakinana yang kuat terhadap kepercayaan
mereka kepada Allah pun ada kecenderungan untuk mengalami
ketidakpercayaan. Mereka kadang menjalani hidup seperti orang yang
tidak percaya kepada Allah yang personal, Makahkuasa, Mahatahu, dan
Mahahadir. Dalam PB, dapat kita jumpai kasus ketidakpercayaan, siapa
Yesus itu, apakah Dia sungguh Mesias, Anak Allah? Atau, apakah Dia
hanya seorang rabi, seorang anak tukang kayu? Banyak orang meragukan
klaimnya termasuk ibu dan saudara-saudaranya, bahkan Yohanes pembaptis
dan beberapa murid-Nya. Ada banyak pengikut Yesus yang mengalami
kesulitan untuk mengerti sehingga meninggalkan iman mereka. Kita dapat
menemukan bahwa apa yang dialami oleh Yohanes pembaptis, Petrus, dan
Thomas menunjukkan penyebab hilangnya iman mereka bukan karena
penyangkalan yang terburu-buru atau keragu-raguan yang serius.
Walaupun Yohanes Pembaptis mengalami kebimbangan dalam imannya, Petrus
menyangkal dan mengutuk, Tomas menuntut bukti, tetapi keraguan dan
ketidakpercayaan mereka tidak menyebabkan apa yang disebut dosa tidak
terampuni. Allah yang berkuasa dan Dia mengetahui berbagai keraguan
dan penyangkalan kita, bahkan sebelum semua terjadi. Tokoh reformasi
seperti Matin Luther dan Calvin juga pernah mengalami keraguan, tetapi
mereka selalu kembali kepada Alkitab sebagai firman Allah.
Perkembangan teknologi di abad ke-20, menjadi ancaman terbesar
terhadap kekristenan. Ilah teknologi dan kemajuan telah menantang
Allah Alkitab. Umat Kristen jaman sekarang hanya berbasa-basi tentang
kebergantungan kepada Allah, tetapi dalam kenyataannya lebih
tergantung pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, di mana Allah
hanya dipikirkan setelahnya. Selain tantangan Ilmu pengetahuan,
filsafat juga menjadi tantangan orang Kristen. Tidak sedikit orang
Kristen yang goyah imannya setelah mereka belajar filsafat. Banyak
filsuf yang tidak percaya kepada Allah, mereka sampai pada kesimpulan
tentang "kematian Allah". Terdapat ratusan bahkan ribuan kaum lelaki
dan beberapa perempuan yang memainkan peran penting dalam merintis
jalan supaya ketidakpercayaan menjadi sebuah sudut pandang yang dapat
diterima dalam masyarakat modern. Para filsuf agama berusaha untuk
membuktikan keberadaan Allah melalui berbagai garis agrumen yang
rasional, tetapi semuannya mengalami kesia-siaan. Serangan paling
hebat bagi iman Kristen adalah munculnya teori evolusi Charles Darwin
dan sampai saat ini teori evolusi menjadi penguasa ilmu pengetahuan.
Teori evolusi membuka jalan bagi ketidakpercayaan yang semakin keras,
bahkan membawa banyak orang menjadi ateis. Para ilmuwan berpendapat
bahwa apa yang dulu dipercaya berasal dari Allah kini dapat dengan
mudah dijelaskan dengan data ilmiah.
Bebrapa hal yang mempengaruhi seseorang sehingga meninggalkan imannya,
antara lain: adanya kontadiksi-kontadiksi Alkitab yang nyata dan ini
sangat mengganggu kalangan yang memandang Alkitab tidak mungkin salah.
Isu-isu yang berkaitan dengan kebaikan Allah dan persoalan kejahatan,
mengapa Allah yang baik, yang Mahakuasa, membiarkan kejahatan terjadi,
membiarkan kaum teroris menghilangkan nyawa ribuan orang, membiarkan
bencana alam memusnakan jutaan orang. Banyak orang yang dulunya
memiliki hubungan yang intim dengan Allah, namun setelah belajar
tentang teologi, ilmu tentang Allah, sering kali justru merusak
kepercayaan seseorang kepada Allah. Tetapi inilah yang terjadi.
Berusaha memahami Allah melalui pikiran saja merupakan suatu upaya
sia-sia yang telah membuat banyak teolog jatuh ke jalan yang salah.
Tidak sedikit para pelayan Tuhan yang masih aktif dalam pelayanan
sedang bergumul dengan keragu-raguan dan ketidakpercayaan. Tidak
sedikit di antara mereka adalah orang-orang jebolan dari seminari.
F.W. Robertson seorang pengkhotbah yang mampu membuat sidang
pendengarnya terpaku, namun ia pun bergumul dengan keragu-raguan akan
Allah yang dikotbahkannya. Seringkali terbalik, mereka yang tidak
memiliki latar belakang religius, tetapi kemudian menjadi orang-orang
Kristen yang kuat ("orang percaya yang mengagumkan") dan mereka yang
memiliki latar belakang religius yang kuat, tetapi kemudian
meninggalkan iman ("orang murtad yang mengagumkan").
Pergumulan yang banyak membuat orang mengalami keraguan adalah
pertanyaan tentang keberadaan Allah. Apakah Allah itu ada? Kalau ada
mengapa membisu terhadap setiap persoalan, mengapa Allah membiarkan
kejahatan berkembang, kenapa Allah tidak mencurahkan murkanya atas
orang-orang jahat dan membuat orang-orang benar hidup sejahtera.
Dimanakah Allah di tengah penderitaan dan kejahatan? Persoalan
penderitaan dan kejahatan ketika dikaitkan dengan kebisuan Allah,
sering kali menjadi kendala bagi orang Kristen. Cara untuk menanggapi
kebisuan Allah terhadap rasa sakit dan penderitaan adalah meninggalkan
iman. Selain itu, faktor-faktor psikologis dan sosial kadang kala
membuat seseorang cenderung ke arah kepercayaan dan ketidakpercayaan.
Kematian juga merupakan penyebab seseorang meninggalkan imannya, rasa
kehilangan karena orang yang dikasihinya meninggal. Jadi tidak heran
kalau Karl Mark memandang agama sebagai racun yang mesti dihapuskan
dari masyarakat karena bagi Karl agama adalah penindas, senjata
kontrol sosial. Agama tidak memberikan solusi bagi persoalan yang
dihadapi manusia. Bagi Karl Mark Allah tidak ada.
Banyak orang Kristen membayangkan hidup tanpa iman sebagai suatu
kesedihan, ketidakamanan, dan tanpa pengharapan. Tetapi lain halnya
dengan orang yang sudah meninggalkan imannya mengatakan bahwa mereka
telah menemukan damai sejahtera yang sejati setelah meninggalkan iman
mereka. Bagi mereka meninggalkan iman saja belum cukup, mereka terus
berusaha untuk membawa orang lain pada cara berpikir mereka, mereka
menjadi misionaris ketidakpercayaan. Mereka yang dulunya pengijil
Kristen, kini mereka memanfaatkan keterampilan penginjilannya untuk
berbicara dan menulis, untuk mengajak orang meninggalkan iman. Mereka
dulunya mengkotbahkan Yesus sebagai Mesias, kini mengajarkan Yesus
sebagai mitos. Dulu mengajarkan Injil sebagai kabar baik, kini
mengajarkan Injil sebagai kabar buruk. Namun ada juga di antara mereka
akhirnya tidak tahan menjalani hidup tanpa iman kepada Allah, mereka
kemudian kembali kepada Tuhan Yesus.
Setelah membaca buku ini cukup mengagetkan bahwa dari sekian banyak
kisah orang yang mengalami ketidakpercayaan dan berakhir pada
meninggalkan iman, tidak sedikit diantaranya memulai masa kecil mereka
dengan suatu keyakinan yang sangat mantap, bahkan itu terjadi sampai
mereka menginjak masa remaja. Persoalan mulai terjadi ketika mereka
masuk ke seminari/universitas, di mana mereka mulai belajar teologi,
filsafat dan ilmu pengetahuan. Pikiran mereka mulai mempertanyakan apa
yang menjadi keyakinan mereka sejak kecil, keraguan mulai menghantui
pikiran mereka dan itulah yang menghantar mereka kepada
ketidakpercayaan yang berujung pada meninggalkan iman. Lebih
menyedihkan lagi bahwa banyak di antara mereka yang mengambil
keputusan untuk meninggalkan imannya adalah orang-orang yang pernah
eksis dalam pelayanan. Banyak di antara mereka pelayanannya luar biasa
membawa orang-orang bertobat dan datang kepada Yesus.
Menjadi tanda tanya besar, bagaimana mungkin ada orang yang mengalami
kuasa Injil dalam hidupnya dan dalam hidup orang lain dapat berpaling
dan meninggalkan imannya yang pernah diberitakannya kepada khalayak
umum? Apakah mereka memang tidak dipilih dari mulanya? Hanya Tuhan
yang tahu. Satu hal yang perlu kita pegang sebagai orang percaya bahwa
ketika kita memiliki kekayaan pengetahuan, pengalaman, dan hubungan
yang intim dengan Yesus, tentunya kita tidak akan meninggalkan iman.
Kita harus menjadikan Alkitab sebagai dasar iman, penolakan terhadap
Alkitab berarti penolakan terhadap Allah.
Dalam buku ini penulis memaparkan perjalanan orang-orang yang pernah
beriman kepada Tuhan Yesus, tetapi pada akhirnya mereka harus
meninggalkan imannya. Apa yang dipaparkan penulis mengisyaratkan bahwa
iman itu tidak statis. Dari kasus-kasus yang penulis paparkan dapat
kita melihat bahwa banyak di antara mereka yang terlahir dalam
keluarga Kristen dan mereka pada awalnya memilih iman yang begitu
kokoh, tetapi iman yang mereka miliki itu tidak statis. Ketika mereka
mulai menginjak dewasa mereka mulai mempertanyakan iman mereka, bahkan
ada yang sudah terjun bertahun-tahun dalam pelayanan, tetapi iman
mereka juga tidak statis, mereka pada akhirnya meninggalkan iman yang
tadinya kokoh. Dalam buku ini, penulis tidak membahas tentang hubungan
antara iman dan keselamatan, penulis hanya melihat penyebab mereka
meninggalkan. Penulis tidak membahas dari sisi apakah seseorang yang
meninggalkan iman memang sudah ditentukan dari semula untuk tidak
diselamatkan. Tentang kealkitabiah buku ini, penulis kurang
menggunakan ayat-ayat Alkitab sebagai pendukung. Akan lebih menguatkan
lagi, jika setiap kasus yang dibahas didukung dengan kebenaran
Alkitab, sehingga pembaca mengambil suatu kesimpulan berdasarkan
kebenaran Alkitab.
Bagi saya pribadi buku ini mengingatkan bahwa tanpa kita memiliki
pemahaman (pribadi dan karya) dan hubungan pribadi yang benar dengan
Tuhan Yesus, maka tidak menutup kemungkinan kita pun akan mengalami
hal yang sama dengan orang-orang yang meninggalkan imannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seseorang di segani dan di hormati bukan karena apa yang di perolehnya, Melainkan apa yang telah di berikannya. Tak berhasil bukan karena gagal tapi hanya menunggu waktu yang tepat untuk mencoba lagi menjadi suatu keberhasilan hanya orang gagal yang merasa dirinya selalu berhasil dan tak mau belajar dari kegagalan

BERITA TERKINI

« »
« »
« »
Get this widget

My Blog List

Komentar