Tampilkan postingan dengan label Teologi Kontekstual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teologi Kontekstual. Tampilkan semua postingan

25 April 2013

KEPECAYAAN TERHADAP PARA ROH PADA SUKU BIAK, PAPUA

Tugas Makalah Teologi Kontestual
Nama : Michael Morino
Asal : Papua
Kuliah : STT SAPPI Cianjur


BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang

Masyarakat Biak masih memiliki kebudayaan kuno yang berkisar pada
kepercayaan animisme bahkan kepercayaan tersebut lebih ditonjolkan
melalui upacara ritual yang lebih dikenal dengan WOR. Kata Wor sudah
berarti lagu dan tari tradisional. Semua anak yang terkena wabah
penyakit dianggap bernasib malang sehingga harus diadakan upacara
adat.
Wor dapat mengekspresikan semua aspek kehidupan orang Biak, seperti
halnya upacara tradisional para leluhur berupa ukiran kayu, dan lebih
khusus pada motif atribut yang digunakan mereka pada saat menyanyi dan
menari; berupa motif pada pakaian. Semua barang yang digunakan untuk
upacara adat dapat disakralkan atau dikeramatkan.

Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang di atas maka rumusan masalahnya
adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah proses Wor berlangsung?
2. Apa tujuan suku Biak melakukan Wor?
3. Bagaimanakah upacara pesta adat ini berlangsung?

Tujuan Penulis
Bertitik tolak dari rumusan masalah maka tujuannya penulis ingin
menjelaskan masalahnya sebagai berikut:
1. Penulis ingin menjelaskan bagaimanakah proses Wor ini berlangsung
2. Penulis ingin menjelaskan apa tujuan suku Biak melakukan Wor
3. Penulis ingin menjelaskan bagaimanakah upacara pesta adat berlangsung


BAB II
KEPECAYAAN TERHADAP PARA ROH PADA SUKU BIAK, PAPUA

Pengertian wor
Dalam agama tradisional orang Biak, Wor merupakan suatu kewajiban yang
harus diselenggarakan oleh setiap keluarga batih/inti mereka. Wor
mempunyai dua arti :
(a) Wor sebagai upacara adat (upacara taradisional);
(b) Wor sebagai nyanyian adat .

Jika kita uraikan kedua konsep atau istilah munara dan wor atas struktur
atau bentuk katanya, maka akan jelas konsep-konsep utama yang berkaitan erat
dengan kedua kata kompleks tersebut. Kata munara terdiri atas dua kata
yaitu mun yang artinya penggal bagian atau bayar ganti sedangkan ara
artinya kasihan, ibah hati, penggugah, pemancing, motivasi, penyebab,
sesuatu terjadi. Wor terdiri atas dua kata w/ aw artinya engkau
sedangkang or panggilan, mengundang; pesta lagu nyanyian yang disebut
wor.

Dengan demikian kata munara atau wor itu dapat diformulasikan menjadi:
undangan keluarga untuk mengambil bagian dalam pesta: menari dan bernyanyi,
makan-minum bersama, dan diakhiri dengan acara transaksi ekonomi bersama
berupa hasil ladang seperti: talas, keladi, sagu, dan hasil buruan
seperti: daging
babi, ikan, dengan transaksi hasil barteran berupa: piring, gelang, parang,
tombak dan sebagainya antar keluarga tuan pesta dengan pihak keluarga paman
(mother brother), yang dikenal dalam adat Vyak dengan istilah munsasu dan
maidofa (take and give) secara kolektif.

Dengan demikian, munara atau wor dapat diartikan secara bebas sebagai pesta
atau upacara akbar yang tentunya dibarengi dengan acara jamuan makan,
bernyanyi dan menari, yang diakhiri dengan transaksi ekonomi, yang
terselenggara sebagai puncak dari seluruh rangkaian pesta adat
yang mengikuti lingkaran atau daur hidup seseorang, mulai dari kehadirannya
dalam kandungan (janin), kelahiran, kanak-kanak, remaja, akilbalik, dewasa, tua,
hingga ia masuk liang kubur.

3. Jenis Munara atau Wor Biak
Munara atau wor Vyak dibagi atas dua bagian besar, yaitu wor sraw 'pesta kecil'
dan munara atau wor veyeren 'pesta akabar'. Seterusnya wor sraw atau secabik
pesta (kecil) kurang lebih terbagi lagi atas 18 wor, yakni pesta 'wor':
1. Kakfo ikoibur 'meramal kelamin janin.
2. Anunbesop 'diturunkannya bayi darirumah ke halaman/bawah sekitar kampong.
3. Anansus 'tetekan bayi.
4. Raikarkir 'pelobangan telinga dan hidung.
5. Ananmam 'makan kunyahan.
6. Marandak 'jalan pertama kali.
7. Andomankun ' makan sendiri tanpa disuap.
8. Papaf 'penyapihan anak.
9. Kapanaknik 'cukur rambut anak.
10. Famamarwark 'pemberian cawat/pakain
11. Mansorandak 'pertama kali pergi dan kembali dari negeri orang.
12. Amfudum 'pengatapan rumah baru.
13. Sunavrdado 'memasuki/hunian rumah tinggal baru.
14. Sunsram 'memasukipendidikan di lembaga rumsram.
15. Sarsram 'pesta tamat lembaga rumsram.
16. Sarwai babo uji-pakai perahu baru.
17. Kper-roemun lepas dari bahaya.
18. Avovs-farbey pelepasan atribut perkabungan.

Sedangkan munara pesta akbar kurang lebih terbagi pula atas 11 wor, yakni
pesta wor.
1. beyeren atau wor kabor insos 'pesta inisiasi keluarga inti
(anak-anak).
2. ramrem pesta peminyakan bagi pengantin laki-laki yang akan
memasuki rumah tangga baru;
3. fakoker pesta pemotongan atau pelepasantali (adat) pingitan
(keperawanan) orang tua atau keluarga bagi seseorang.pengantin
perempuan yang hendak berumah tangga baru;
4. umbambin pesta prosesi antar-arakan dari keluarga luas pengantin
wanita kepada keluarga luas
pengantin pria;
5. yakyaker pesta pengantaran wanita disertai perabot rumah tangganya
dari keluarga dekat pihak perempuan (orang tua terdekat: bapak-ibu,
saudara-saudara, paman-bibi) untuk seterusnya tinggal bersama suaminya
atau memasuki keluarga pihak keluarga laki-laki;
6. akekdofnan (yaf) 'pesta panenraya).
7. faduren pesta sarat muatan perahu niaga atau keberhasilan
perbarteran antar pulau;
8 samsom pesta permohonan maaf.
9. samsyom syukur puji.
10. fannangki pesta pemberian persembahan hasil panen kepada Tuhan
penguasa langit-bumi.
11. rakmamun pesta kemenanganperang.

4. Wor sebagai Fokus dan Dinamika Hidup Orang Biak
Istilah fokus kebudayaan, seperti yang digunakan untuk mengarahkan diskusi
ini, sesungguhnya mengandung arti bahwa dalam kehidupan setiap suku bangsa
(etnik di mana pun, telah pasti mempunyai kebudayaan inti (culture core). Pada
hakekatnya garis besar konsep kebudayaan itu dapat dilihat sebagai pengetahuan
yang dapat diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan yang dipakai untuk
mengartikan pengalamannya dan menghasilkan tingkah laku social. Untuk
diskusi ini, kita akan melihat kebudayaan itu dari segi perilaku dalam
segi
kognitif (struktur). Berdasarkan pemahaman ini, kebudayaan dapat diartikan
dengan sejumlah perilaku manusia yang berpola sebagai hasil dari suatu
kegiatan (munara-wor). Kebudayaan juga adalah keseluruhan gagasan, ide,
kepercayaan dan pengetahuan manusia dalam suatu masyarakat. Karena itu,
perilaku budaya pada dasarnya ditentukan oleh segi kognisi atau pengetahuan
dan pengalaman manusia dalam suatu masyarakat. Karena itu, perilaku budaya
pada dasarnya ditentukan oleh segi kognisi atau pengetahuan dan pengalaman
manusia. Setiap kebudayaan mengandung berbagai kategori perilaku yang
digunakan manusia untuk memilah-milah dan menggolong-golongkan
pengalaman Sehubungan dengan itu, penulis akan
mencoba mengemukakan wor atau pesta sebagai fokus dalam kebudayaan
Biak. Upacara religi secara universal danpada dasarnya berfungsi
sebagai aktivitas untuk merekonstruksikan kembalaisemangat kehidupan
sosial antar warga masyarakat.
Menrut pengetahuan emik penulis bahwa bila diteliti secara mendalam tentang
rusaknya tatanan atau struktur sosial orang Biak yang terpaket dalam upacara
adat (munara/wor), karena telah dirusak oleh pranata lain. Diduga semangat
membangun dalam kebudayaan Biak menjadi rusak dan renggang oleh karena
beberapa sistem pranata adat Biak diputuskan secara sepihak oleh intervensi
kebudayaan luar sehingga dinamika kehidupan sosial orang Biak tak berdaya
lagi. Oleh karena wor sebagai pranata dan sekaligus menjadi dinamisator atas
prestasi maksimal bagi seseorang, keluarga, kelompok keret atau etnis Biak
sengaja diputuskan maka dinamika hidup orang Biak telah berada di ambang
kepunahan (Kamma, 1981, 1982; Kapissa, 1994; Rumbrawer, 1995). Lihat
struktur struktur Wor sebagai berikut


Hakekat dan Makna Wor Biak
Sebagai mana telah disinggung sepintas pada awal diskusi kita di atas, bahwa
hakekat wor atau pesta Biak adalah pusat kehidupan suku bangsa Biak (culture
core). Mengapa pernyataan hipotesis ini cenderung diabsahkan. Oleh karena jika
kita diskusikan secara mendalam tentang wor maka akan kita jumpai hakekat
dan arti makna hidup seutuhnya dalam terselenggaranya upacara ritual Biak.
Dalam filsafat ekonomi orang Biak telah ditegaskan bahwa " Nko wor va ido, na
nko mar" (Kami akan mati, jika kami tidak bernyanyi). Orang Biak dahulu, telah
menyadari bahwa lagu dan pesta adalah aset kehidupan. Jika melaksanakan
upacara wor akan mendatangkan rejeki dan berkah bagi keluarga dan
masyarakat sekitar. Pernyataan seperti ini telah dinyatakan dalam tema dan syair
lagu beberapa wor Biak kurang lebih dinyatakan sebagai berikut: Ada lagu ada
kehidupan (wor isya kenm isya); ada kehidupan ada makanan (kenm isya anan
isya); ada makanan ada nilai (anan isya vave snonsnon / maseren isya); dan
dapat diakhiri dengan: ada nilai ada pesta inisiasi (vave sno manseren isya
munara isya), dan ada persta akbar ada seberkas kasih dan persatuan klen atau
kampung (munara isya vave oser er mnu isya kako).

Budaya
Orang Biak sebagian besar telah menganut agama Kristen. Tetapi, orang
Biak masih banyak memiliki kepercayaan terhadap para roh, yaitu suatu
kepercayaan yang telah terbentuk dari nenek moyang mereka. Mereka
percaya akan adanya penguasa yang melebihi kekuatan atau kekuasaaan
manusia biasa yang menurut mereka penguasa tersebut mendiami Nanggi
(surga) yang berada di Mandep (langit).
Selain itu, mereka percaya akan adanya penguasa-penguasa yang mendiami
Farsyos (Jagad raya) dan ada juga yang menghuni abyab (gua), karui
beba (batu besar), bon bekaki (gunung tinggi), soren (dasar laut), war
besyab (sungai), ai beba (pohon besar), dan lain-lainnya.

Penguasa yang mendiami Nanggi merupakan pusat kekuatan atau kekuasaan
yang mengatur alam semesta. Penguasa Nanggi (Sang Langit) dikenal
dengan sebutan Manggundi (Dia sendiri). Penguasa-penguasa yang
mendiami Farsyos, abyab, karui beba (batu besar), bon bekaki, dan
lain-lainnya yang disebutkan di atas adalah bersifat roh (spirit).
Roh-roh ini diklasifikasikan menjadi dua, yaitu roh-roh/arwah-arwah
nenek moyang dan kerabat mereka yang telah meninggal dunia yang
dikenal dengan istilah bahasa Biak yaitu Karwar. Karwar ini mendiami
Farsyos (jagad raya), sup/meos aibui (wilayah/tempat atau pulau yang
merupakan tempat berkumpulnya arwah-arwah itu) dan juga Amfyanir.
Selain itu, roh-roh itu mendiami wilayah-wilayah yang tidak ada
penghuninya (sup bebewursba), seperti lautan luas atau hutan-hutan
belan-tara.

Kedua, roh-roh halus jin. Roh-roh ini dibagi menjadi tiga, yaitu : (a)
roh-roh halus/jin yang mendiami pohon-pohon besar yang dalam istilah
bahasa Biak disebut Arbur; (b) roh-roh halus/jin yang mendiami gua,
gunung, batu, hutan rimba, sungai disebut dabyor, yang dikenal juga
dengan sebutan Manggun (pemilik); dan roh-roh halu /jin yang mendiami
laut atau lautan disebut Faknik.

Hal ini menunjukkan bahwa orang Biak percaya adanya makhluk
supranatural. Agama tradisional mereka mempunyai hubungan erat dengan
mitologi mereka. Tokoh mitologi mereka adalah Manarmakeri yang telah
pergi ke sebelah barat dan dia akan datang kembali untuk memberikan
kebahagian atau kekayaan bagi mereka yang telah lama ditinggalkan.
Mereka percaya bahwa Manggundi yang menjelma sebagai manusia biasa,
yaitu Manarmakeri yang pernah melakukan karya Koreri di Meokbundi
(salah satu pulau di Biak Timur).

Namun, ia tidak diterima oleh masyarakatnya (Orang Biak), sehingga ia
pergi ke bagian barat yaitu Eropa, dan Ia akan kembali kepada mereka
dengan membawa kembali koreri, yaitu dunia Kando Mob Oser, artinya
dunia yang tidak ada kesusahan lagi/dunia bahagia. Selain itu, Wor
merupakan unsur penting dalam agama tradisonal mereka. Dengan demikian
mempunyai sifat religius cukup tinggi.

Oleh karena itu, Wor merupakan suatu perwujudan dari kehidupan
religius yang menurut mereka sangat penting. Dikatakan sangat penting
karena Wor mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas
orang Biak dan merupakan simbol hubungan mereka dengan Penguasa
(Manggundi) dan kerabat-kerabat mereka yang meninggal (Arwah-arwah
nenek moyang).

Dalam kehidupan beragama orang Biak, Wor merupakan suatu kewajiban
yang diatur berdasarkan sistem kekerabatan (patrilineal) dan sistem
perkawinan mereka, sehingga apabila ada keluarga batih yang lalai
melakukannya, maka keluarga tersebut akan mendapat sanksi dari
Manggundi atau arwah-arwah nenek moyang mereka



BAB III
PEMAHAMAN SUKU BIAK TERHADAP MUSIK WOR

Musik Wor dalam kehidupan masyarakat Biak berhubungan erat dengan
upacara keagamaan. Dengan upacara-upacara keagamaan, orang Biak
menyatakan hubungannya dengan "penguasa" yang disembah. Sebelum
masuknya pengaruh agama Kristen, orang Biak percaya akan adanya
penguasa yang melebihi kekuatan atau kekuasaan manusia biasa yang
menurut mereka penguasa tersebut mendiami Nanggi (surga) yang berada
di Mandep (langit). Selain itu, mereka percaya akan adanya
penguasa-penguasa yang mendiami Farscyos (jagad raya) dan ada juga
yang menghuni abyab (gua), karui beba (batu besar), bon bebaki (gunung
tinggi), soren (dasar laut), ai beba (pohon besar), dan lain-lainnya.
Penguasa yang mendiami Nanggi merupakan pusat kekuatan atau kekuasaan
tertinggi yang mengatur alam semesta. Penguasa Nanggi (Sang langit)
dikenal dengan sebutan Mangundi (Dia sendiri). Penguasa-penguasa yang
mendiami Farscyos (jagad raya), abyab (gua), karui beba (batu besar),
bon bebaki (gunung tinggi), soren (dasar laut), ai beba (pohon besar)
, dan lain-lainnya yang disebutkan di atas adalah bersifat roh
(spirit). Roh-roh ini diklasifikasikan menjadi dua, yaitu : (1)
Roh-roh/arwah-arwah nenek moyang dan kerabat mereka yang telah
meninggal dunia yang dikenal dengan istilah bahasa Biak yaitu Karwar.
Agama tradisional mereka mempunyai hubungan erat dengan mitologi
mereka. Tokoh mitologi mereka adalah Manarmakeri yang telah pergi ke
sebelah barat dan dia akan datang kembali
1. II. Deskripsi Masyarakat Biak.
Orang Biak adalah salah satu dari 250 suku bangsa di Tanah Papua.
Sekitar 96.000 penduduk tinggal di kabupaten Biak Numfor, yang
meliputi kepulauan Biak, Supiori, dan Numfor, dengan luas 3130 km².
Separuh dari penduduk tinggal di Biak kota. Ibukota kabupaten ini,
yang secara etnis penduduknya campuran, merupakan pusat pemerintahan
dan perekonomian, serta lokasi pelabuhan udara internasional. Biak
Numfor adalah kabupaten yang paling padat penduduknya di Irian Jaya,
dan satu-satunya wilayah yang penduduknya memiliki bahasa dan budaya
yang sama.
Sebelum perang dunia II, Biak terkenal sebagai sarang bajak laut.
Pemerintah Belanda meramalkan bahwa para bajak laut ini akan pindah
atau punah, kalau serangan-serangan meraka talah diberantas.
Kenyataannya, perdagangan merupakan sumber yang lebih jauh penting
dalam menopang kehidupan mereka daripada penjarahan, meski reputasi
Biak yang mengerikan itu sebagian tetap benar. Orang-orang Biak pada
masa lalu adalah pandai besi yang berpindah-pindah, pedagang dan
sewaktu-waktu menjadi pengikut Sultan Tidore. Sekarang kebanyakan
masyarakat menjadi nelayan, pemburu, dan petani yang berpindah-pindah
dengan mudah antara darat dan laut.

Pelaut selalu mendapat posisi yang khusus dalam masyarakat Biak.
Diceritakan bagaimana nenek moyang orang Biak mendayung perahu ke
barat atau selatan manuju Seram, Timor, dan bahkan ke Singapura untuk
mencari harta karun dan budak. Melancong ke "tanah asing' masih
menjadi kebanggaan sekarang dan kualifikasi terbaik untuk menjadi
pemimpin lokal seringkali berupa "pengalamannya di luar". Namun, lebih
penting lagi dari sekedar melancong, adalah bagaimana pengalaman ini
dapat "diterjemahkan" untuk konteks lokal. Para pelancong harus
membuktikan petualangan-petualangan mereka dengan benda-benda,
gelar-gelar, dan teks-teks: porselin China dan Eropa digunakan untuk
mas kawin dan alat tukar menukar dalam upacara; gelar yang diberikan
oleh Sultan Tidore diwariskan, ditukar, dan dijual oleh sanak keluarga
dari yang menerima gelar; kata-kata asing, frasa-frasa, dan
potongan-potongan dari khotbah (yang dihafal dalam kunjungan ke tempat
misionaris) dapat dimasukkan ke dalam cerita-cerita atau lagu-lagu.
Seorang misionaris dan antropolog belanda, F.C. Kamma, menulis:
"orang-orang biak menganggap sesuatu sebagai hal yang aneh hanya bila
hal itu belum menjadi milik mereka. Tetapi, begitu benda tersebut
'dikuasai', pemiliknya itu dianggap memiliki harkat yang sama seperti
yang dimiliki oleh pembajak laut pada masa lampau". Dalam pencarian
status, masyarakat Biak memberikan nilai positif kepada semua elemen
asing, dan benar- benar menyerap elemen-elemen itu, bukanlah hanya
menempelkannya.

Pada jaman ini, orang-orang Biak banyak yang menjadi pilot, ilmuwan,
rektor universitas, dan bintang-bintang sepakbola. Banyak di antara
mereka adalah keturunan dari guru-guru pribumi. Pada tahun 1950-an,
saat usaha-usaha awal untuk mengembangkan daerah tersebut secara
serius, orang Belanda sudah menganggap penduduk Biak sebagai
"orang-orang papua yang paling terpengaruh Barat". Namun orang Biak
masih mempertahankan nilai-nilai dan gaya berpikir lokal mereka. Mas
kawin masih mencerminkan dan menciptakan hubungan-hubungan sosial.
Seorang pegawai negri masih akan meliburkan diri untuk menunggu di
bandara dengan satu kotak umbi taro bagi sanak familinya yang
melancong, oleh-oleh yang bersifat feminin ini melambangkan ikatan
hubungan antara seorang laki-laki dengan saudara petempuan serta
ikatan antara keturunan-keturunan mereka. Seorang paman di Jayapura
mungkin masih bisa memberikan "gelar" pada keponakannya dengan
membiayai kuliahnya di Universitas. Batas-batas antara perkotaan dan
pedesaan Biak tetap dapat ditembus. Penduduk kota kerap kali
mengunjungi sanak keluarganya di desa dan banyak menyumbang pada
proyek-proyek desa. Orang-orang desa gemar sekali berkunjung ke kota
Biak untuk berjualan di pasar, mengunjungi sanak keluarga dan
berbelanja. Namun kedua lingkungan ini tetap mempertahankan
kualitasnya masing-masing. Tidak banyak uang beredar di desa-desa,
dimana mata pencaharian mereka tergantung pada pengaturan barter dan
produksi secara tradisional.

Pesta-pesta megah yang pernah menandai kehidupan sosial masyarakat
Biak sekarang merupakan sesuatu yang telah lampau. Namun, upacara
perkawinan, ulang tahun atau keselamatan pulang dari perjalanan masih
dirayakan dengan kegiatan makan dan minum, menari dan menyanyi
sepanjang malam. Pada masa lalu, nyanyiannya adalah wor. Sekarang
lagu-lagu gereja dan yospan telah menggantikan fungsi wor dalam
kebanyakan perayaan yang diadakan. Tidak mengherankan dengan
kemunduran yang terjadi dalam waktu yang panjang dari genre yang tua
ini; yang lebih mengherankan adalah kehidupannya yang tetap hadir
selama berpuluh-puluh tahun, atau bahkan abad, meskipun ia dilarang
keras. Misionaris yang datang ke teluk Cendrawasih tahun 1855
menemukan "orang-orang kasar tanpa agama","yang membuat pantai-pantai
bergema dengan lagu-lagu perang mereka dan dengan gemuruh gendang dan
suara yang berat, yang mengumandangkan bait-bait kemenangan mereka".
Para misionaris bekerjasama untuk menghapus bentuk-bentuk nyanyian
asli , yang mereka anggap terikat dengan peperangan antar kelompok.
Kalau bisa tetap selamat dari peperangan ini, wor pasti telah memiliki
kedudukan yang kokoh dalam masyarakat lokal, sebagaimana kita akan
melihat jika sekarang kita beralih ke masalah musik masyarakat biak
pada masa lampau.


BAB IV
STRATEGI MEMBAWA INJIL KE SUKU BIAK

Suku biak adalah suku yang memiliki budaya yang disebut Wor. Wor ini
sangat terkenal, wor ini adalah upacara yang biasa di lakukan oleh
suku biak sebagai satu ucapan syukur. Melihat dari latar belakang maka
penulis mengambil kesimpulan bahwa ketika penulis akanmelakukan
pelayanan disana engan mengunakan stratagi wor ssebagai jembatan untuk
memberitakan injil.


BAB V
PENUTUP

A. kesimpulan
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kebudayaan inti atau fokus
kebudayaan orang Biak sesungguhnya adalah pelaksanaan wor. Jika wor tidak
dilaksanakan berarti semua sistem kehidupan dan aktivitas hidup orang Biak
akan menjadi lumpuh total, tidak akan bergairah lagi dan akhirnya totalitas
kebudayaan Biak akan punah.
Makna tersirat dalam diskusi ini adalah bahwa akibat dari intervensi
kebudayaan-kebudayaan dominan dan adanya larangan untuk membatasi
berbagai upacara ritual wor Biak, maka fokus dan dinamika kebudayaan Biak
pun punah. Hilanglah makna upacara yang mempertebal perasaan kolektif dan
integrasi sosial orang Biak.

B. Saran
Biarlah dari makalah ini dapat memberikan satu inspirasi bagi setiap
orang yang punya hati dalam pelayanan kontekstual. untuk masuk kedalam
budaya suatu daerah harus melalui konteks budaya setempat.

Hari Keberuntungan

Penganut budaya ini beranggapan bahwa ada hari-hari tertentu yang bisa
memberikan keberuntungan dan juga ada hari-hari tertentu yang bisa
menimbulkan hal-hal yang tidak baik apabila mereka mulai mengerjakan
sesuatu pada hari tersebut.
Khususnya masyarakat yang kami amati di kampung Salutik, mereka sangat
percaya akan hal tersebut, sehingga ada orang-orang tertentu yang
dipercaya bisa menentukan dan melihat hari/bulan/tahun yang sesuai dan
dianggap bisa memberikan keberuntungan. Misalnya menentukan waktu
pernikahan, bercocok tanam, membangun rumah, panen dll. Semuanya ini
harus sesuai dengan petunjuk dari orang yang dipercaya bisa melihat
waktu yang dianggap bisa memberikan keberuntungan.

Masyarakat yang ada di sana mayoritas beragama Kristen, namun
kehidupan mereka juga masih terlibat dengan hal-hal yang disebutkan di
atas. Bahkan majelis sendiri pun masih mempraktekkan hal-hal yang
demikian.

Pola kehidupan dari masyarakat Salutik yaitu dengan bertani dan
beternak. Ini merupakan suatu kekuatan/potensi yang bisa dikembangkan,
karena mereka hanya mengolah lahan dan beternak dengan alat dan cara
yang masih sangat sederhana dan masih banyak lagi yang bisa
dikembangkan.

Dengan pola kehidupan yang demikian mereka menjalin hubungan sosial
dengan baik. Rasa kekeluargaan bisa terbangun melalui gotong royong.
Metode yang akan digunakan adalah melakukan pendekatan kepada
orang-orang tertentu agar kita dapat mengubah pola pemikiran mereka.
Sebenarnya bukan harinya yang tidak baik tetapi misalnya jika dalam
bercocok tanam mungkin musimnya tidak sesuai. Misalnya seseorang akan
menanam padi sawah pada musim kemarau maka hal ini tentunya tidak
sesuai dengan waktunya.

Sangat penting menekankan bagi mereka bahwa semua hari diciptakan
Tuhan itu baik. Apabila mereka mengalami kegagalan itu tidak
disebabkan oleh waktu/hari di mana memulai pekerjaan tersebut tetapi
ada begitu banyak faktor yang dapat mempengaruhinya.

8 April 2013

Diskusi Kelompok MK Teologi Kontekstual

Diskusikan:

Amati suatu daerah pelayanan (budaya, agama, pola hidup, sosial, politik, dll), kemudian rancangkan suatu model pelayanan kontekstual untuk menjembatani atau mempertemukan akan kebutuhan Injil (teks) di daerah pelayanan yang saudara amati (konteks).

Catatan:
* diskusikan di perpustakaan.
* setelah selesai diskusi presentasikan dikelas.
* waktu diskusi 45 menit.
* hasil diskusi kirim ke: adrianuspasasa@gmail.com

Hasil Diskusi

Kelompok: Papua (Maekel dan Efraim)


Pelayanan Kontekstualisasi SUKU PAPUA; Suku Dani

Latar Beakang Suku Dani
Budaya: masih sangat mistis, misalnya budaya Potong Jari yang  maknanya  sebagai wujud dari tanda kasih sayang kepada keluarga yang dicintai yang telah meninggal dunia.
Agama: mayoritas animism; Kristen belum seberapa
Pola hidup: berladang berpindah-pindah
Sosial: masih mempertahankan kesukuan satu dengan yang lain; atau bagi yang belum percaya hubugan social sangat tertutup
Politik: ingin memisahakan diri dari negara RI; Balas dendam antar suku masih kuat.
Dengan latar belakang Suku Dani di atas kami aka mencoba merancang model pelayanan secara kontekstual dengan metode dalam bentuk  “Pendekatan Step by Step”
Dengan berupaya mendalami dan mempelajari semua unsur dalam masarakat di atas secara step by step, besar harapan kami pelan tapi pasti akan memungkinkan kami dapat memahami baik dari segi bahasa, pergaulan social, poal hidup, keyakian, adat istiadat  maupun  dalam unsur politik. kemudian, setelah itu kami mulai terlibat dalam pola hidup mereka tanpa harus mengikuti pola hidup yang bertentangan dengan Injil.
Contoh pendekatan dalam unsur budaya Potong jari yang dimaknai sebagai tanda kasih sayang kepada keluarga yang dicintai yang telah meninggal. Akan hal ini Kami akan mencoba memberikan pemahaman bahwa kasih sayang tidak perlu dinyatakan melalui  dengan cara mengorbankan anggota tubuh seperti potong  jari. Dan kasih sayang kepada orang yang dicintai tidak ada faedanya jika dilakukan kepada orang yang sudah maninggal. Dan kasih sayang yang sejati hanya bisa didapatkan dalam Kristus . hanya melalui pengorbanan Kirstuslah  Kasih yang sejati itu dapat diwujudkan. Seperti apa pun wujud pengorbanan kasih kita kepada orang lain tanpa didasari kasih kristus tetapi  dengan motif hanya sebagai balas jasa kita kepada orang yang kita kasihi dan telah meninggal, maka  pengorbanan yang kita lakukan itu sia-sia saja.  sehingga katika kita  mewujudkan kasih kita kepada orang yang dikasihi, tidak harus dengan potong jari dan tidak perlu menunggu sampai mereka meninggal. Tetapi harusnya kasih kita dapat diwujudkan kepada orang-orang hidup yang ada di sekitar kita melalui perhatian atau kepedulian atau pertolongan disaat mereka membutuhkannya.

5 Maret 2013

Tugas Teologi Kontesktual


NAMA           : ARNI LETELAY
NPM               : 20100103
Strategi Don Richarson dalam Menjangkau Suku Sawi di Pedalaman Papua tahun 1962
Don Richarson adalah seorang misionaris yang melayani di Suku Sawi pedalaman Papua bersama keluarganya. Panggilannya terhadap suku-suku yang memiliki cara hidup tidak wajar, dimana kekejaman, berburu manusia sebagai santapan sehari-hari merupakan cara hidup mereka merupakan suatu panggilan yang sangat jelas dengan penuh kepastian. Kehadiran Don di Suku Sawi untuk mengubahkan pola pikir masyarakat suku sawi untuk meninggalkan budaya mereka yang kejam dan mengganti dengan kasih Kristus Yesus.
Dengan mengenal dan memahami budaya serta adanya harapan-harapan untuk suku Sawi, Don Richarson memulai pelayanannya. Suku sawi adalah salah satu suku yang tertinggal di pulau Papua. Suku sawi memelihara budaya secara turun temurun yaitu Pengayauan dan Kanibalisme, budaya Penghianatan, budaya Aumaway.
Budaya Pengayauan sering kali dihubungkan dengan symbol keberanian dan kejantanan dimana kepala-kepala yang telah dipenggal direbus dan dikeringkan seringkali bergantungan di rumah dan sering dipakai sebagai bantal kepala. Budaya Penghianatan menyebabkan suku Sawi menjadi kanibal. Menurut kepercayaan mereka yang telah diwarisi secara turun temurun dengan memakan daging manusia (kanibal) merupakan salah satu ambang pintu utama yang harus mereka lewati untuk mengenal hakekat tertinggi dari kehidupan Sawi dan menjadikan mereka mengerti kebaikan dan kejahatan. Budaya ini disebabkan karena dendam dan jebakan yang digunakan yaitu musuh dalam selimut. Disebabkan karena mereka mendengar kisah penghianatan Yudas, mereka menganggap Yudas adalah pahlawan, mereka kagum akan penghianatan yang dilakukan Yudas dan Kristus menjadi yang menjadi korban penghianatan tidak berarti apa-apa. Orang-orang sawi bukan saja kejam tetapi juga menghormati kekejaman.
Budaya Aumaway ialah orang yang sakit dan tidk berdaya dipaksa mati sebelum waktunya. Orang yang pingsan, tidak sadarkan diri atau dalam keadaan koma sudah dianggap mati. Orang sakit yang sudah mati diupacarakan yang disebut gefam ason yang bertujuan supaya mereka mengalami pembaharuan tubuh dan mereka tidak mengalami kematian lagi. Persoalan yang sedang dihadapi oleh suku Sawi adalah persoalan rohani yang belum mereka temukan jawabannya. Selama ribuan tahun kebudayaan Sawi telah berjuang tanpa dapat memberikan jawaban yang memuaskan, hanya Injil yang bisa menghentikan kebiasaan/budaya suku Sawi.
Strategi yang dilakukan Don Richarson adalah mempelajari bahasa dan budaya orang Sawi, mengajar orang-orang Sawi untuk membaca dalam bahasa sawi dan menerjemahkan seluruh Perjanjian Baru ke dalam bahasa orang Sawi, mencari analogi untuk menjadi jembatan Injil. Don Richarson akhirnya memahami konsep anak perdamaian yang dilakukan suku Sawi. Konsep anak perdamaian digunakan oleh Don Richarson untuk menyampaikan pekabaran tentang Allah yang pengampun. Allah telah mengutus Putera-Nya untuk menjadi pendamai dan mengakhiri perang terhadap dosa dan kematian. Suku sawi dan haeman membutuhkan anak perdamaian untuk menemukan kedamaian. Kedamaian itu dapat dimiliki hanya jika hidup dan mencintai sama seperti Dia yang telah memanggil umat-Nya. Anak Perdamaian Allah, Tuhan kita Yesus Kristus.
Tanggapan:
Hati misi yang ada pada Don Richarson membuat setiap orang percaya atau hamba Tuhan dapat melayani setiap orang-orang yang masih hidup dalam budaya primitive. Dengan pola-pola yang digunakan oleh Don Richarson, kita dapat belajar mengerti dan belajar bahasa dari suku yang kita layani, mempelajari budaya orang-orang yang kita layani, mengajar membaca untuk orang-orang di tempat kita melayani sehingga ketika kita mengabarkan Injil, mereka dapat memahami, menerima Injil, dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru selamat. Dengan budaya yang ada juga kita dapat memperkenalkan Kristus dalam kehidupan orang-orang kita layani.  

 
Pemanfaatan Ritual Ma’nene’ dalam Masyarakat Toraja sebagai Jalan Masuk untuk Kesaksian Injil
Suku Toraja merupakan salah satu suku yang berasal dari Indonesia, dengan memiliki banyak kekayaan alam dan budaya membuat suku Toraja sangat terkenal dan banyak dikunjungi oleh para wisatawan dalam maupun luar negeri. Suku Toraja sudah menerima Injil dari para misionaris yang datang ke suku itu sehingga tidak heran bahwa Suku Toraja merupakan salah satu penduduk yang bermayoritas Kristen. Suku Toraja dengan kebudayaannya yang unik, dengan julukan Land of the Heavenly Kings yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain di dunia ini dan masih hidup hingga sekarang ini. Begitu banyak situs tua yang bisa dikunjungi, termasuk pekuburan leluhur seperti situs makam pahat di Lemo, makam goa purba di Londa, menhir padi dan megalit di antara persawahan, serta makam aristocrat. Selain itu suku Toraja terkenal dengan adat istiadat yang masih sangat kental, salah satunya yaitu budaya/ritual ma’nene.
Upacara ma’nene’ adalah salah satu kegitan ritual adat Toraja, khususnya di Barrupu, Rinding Allo, Toraja Utara, upcara ini adalah untuk mengganti pakaian Almarhum sebagai perwujudan rasa cinta dari keluarga yang masih hidup. Upacara ini diadakan pada  bulan agustus dan caranya adalah peti-peti leluhur, tokoh dan orang tua dikeluarkan dari makam-makam dan liang batu (kuburan batu adalah kuburan khas orang Toraja, kuburan ini biasanya terletak di lereng-lereng bukit/gunung batu). Mayat-mayat ini dikeluarkan dan diganti busana mereka dengan busana baru. Orang-orang yang melaksanakan upacar ini tetap berharap, arwah leluhur menjaga mereka dari gangguan jahat, hama tanaman, juga kesialan hidup.
Upacara ini diadakan dengan memotong kerbau dan babi. Ketika ritual Ma’nene’ diadakan, para perantau asal Barrupu akan pulang kampong demi menghormati leluhurnya. Warga Barrupu percaya, jika ritual Ma’nene’ tidak digelar maka leluhur akan menjaga mereka. Kesetiaan mereka terhadap amanah leluhur melekat pada setiap warga desa, meskipun warga Barrupu salah satu dari suku Toraja yang sudah menerima Injil.
Ritual berasal dari sebuah kisah seorang pemburu binatang yang bernama Pong Rumasek dimana saat ia sedang berburu bukannya menemukan binatang tetapi menemukan mayat. Ia merawat mayat itu karena merasa kasihan, dengan cara membungkus tulang-tulang mayat itu dengan pakaiannya dan diletakkan di areal yang lapang dan layak. Setelah itu, Pong Rumasek selalu mendapatkan hasil buruannya dan sesampainya di rumah tanaman padinya sudah menguning dan siap dipanen. Sejak saat itu. Pong Rumasek dan masyarakat Barrupu memuliakan mayat para leluhur. Tokoh dan kerabat dengan upacara Ma’nene’.
Tanggapan:
Adat-istiadat dan kebudayaan sudah mendarah daging oleh setiap suku yang ada di dunia ini. Setiap manusia yang lahir tentunya tidak bisa menolak yang namanya budaya dan secara tidak sadar setiap manusia dibesarkan dengan budaya yang ada di daerah masing-masing. Salah satunya suku Toraja yang memiliki adat istiadat dan kebudayaan yang dijaga sampai saat ini, misalnya upacara ma’nene’ yang begitu dihargai oleh mereka. Meskipun bertentangan dengan apa yang diajarkan ternyata mereka lebih menghormati kebudayaan karena mendapatkan malapetaka ketika mereka tidak melakukan ritual tersebut.
Masyarakat Toraja banyak yang menjadi Kristen tetapi ketika upacara ini diadakan mereka tetap melakukannya seakan-akan mereka tidak percaya dengan Injil yang telah mereka terima karena takut mendapatkan kutuk dari para Leluhur. Ini menjadi tugas bagi setiap hamba-hamba Tuhan yang melayani di suku Toraja ini, untuk memberi pemahaman kepada masyarakat Toraja bahwa yang memberikan kehidupan, berkat, kesejahteraan, musibah di dunia ini hanyalah Tuhan karena Dialah yang berkuasa atas dunia ini.
 

Rambu Solo sebagai gerbang memasuki Alam Kekal
Suku Toraja merupakan suku yang memiliki kekayaan alam dan budaya yang masih sangat kental, terus dipelihara sampai saat ini. Menurut kepercayaan orang Toraja, kehidupan di dunia ini hanya sementara saja setelah mereka meninggal maka mereka akan kembali ke atas yaitu tempat mereka berasal. Sehingga menurut kepercayaan ada tiga dewa yang mereka percayai yaitu Gaun Tikembong, Pong Banggairante dan Pong Tulakpadang. Puang Matua tinggal di Zenit, pusat atau puncak langit. Dialah yang menciptakan ritus-ritus dan manusia pertama bersama nenek moyangnya, tanaman-tanaman, binatang dan benda-benda mati. Penciptaan itu dilakukan di langit, kemudian barulah ciptaan itu diturunkan ke dunia tengah (bumi).
Menurut kepercayaan orang Toraja, setelah meninggal ia akan kembali kekehidupan semua. Kembalinya kesana dijamin oleh pelaksanaan ritus-ritus yang diwajibkan mulai dar kehidupan sampai kematian. Ritus kematian atau Rambu solo yaitu cara orang Toraja menguburkan orang mati. Dalam upacara Rambu Solo ada beberapa faseyang dilakukan sebelum yang meninggal dikuburkan. Fase-fase itu antara lain: yang pertama dinamakan Ma’karudusan, dimana akan dipotong dua ekor kerbau, yang kedua Ma’pasa’tedong dimana semua kerbau yang telah disepakati untuk dijadikan korban akan dikumpulkan di halaman tongkonan tempat jenazah dimakamkan. Puncak acara ialah semua kerbau yang akan dikorbankan dipotong dan dibagikan sesuai adat yang berlaku.
Kepercayaan ini terus dilakukan karena menurut mereka jika seseorang yang meninggal belum diupacarakan, maka ia akan menjadi arwah dalam wujud setengah dewa. Upacara rambu solo tidak bisa dipisahkan dengan kebudayaan masyarakat Toraja, sehingga akan terus diturunkan sampai ke semua keturunan.. ini yang menjadi pergumulan bagi setiap orang-orang suku Toraja untuk memenuhi setiap ritual dari kebudayaan mereka. Karena ini ada kewajiban bagi setiap keluarga suku Toraja untuk menjalankan upacara ritual ini, sehingga tidak heran jika upacara ini diadakan banyak keluarga yang berhutang karena tidak mampu membiayai pelaksanaan upacara ini. Bertemunya Injil dan Budaya tentu akan menjadi suatu pertentanga bagi setiap suku yang sudah hidup dalam kebudayaan mereka masing-masing, termasuk suku Toraja ini. Meskipun banyak sudah menjadi Kristen tetapi yang namanya kebudayaan tidak pernah lepas bahkan hilang dari kehidupan mereka. Sehingga mereka masih mengutamakan kebiasaan dari budaya mereka. Dengan adanya pengetahuan dan wawasan dari setiap anak-anak Tuhan yang melayani di suku Toraja ini dapat membuka wawasn mereka untuk membedakan mana yang harus dilakukan dan mana yang harus dibuang meskipun banyak pertentangan dan penolakan. Tetapi dengan penyertaan Kristus dan Kasih-Nya memampukan setiap kita yang melayani di berbagai suku dengan baik dan tanpa adanya perselisihan.

7 Januari 2013

MATA KULIAH PERILAKU BERKARYA


NAMA MATA KULIAH : TEOLOGI KONTEKSTUAL
KODE :
BOBOT : 2 sks
SEMESTER :
PRASYARAT : 1. MISIOLOGI
PERTEMUAN
: 16 X 2 X 50 menit

STANDAR KOMPETENSI
Mahasiswa mempunyai pengetahuan yang memadai tentang Teologi
Kontekstual, menghayati prinsip-prinsipnya, serta sanggup
mengaplikasikan Teologi kontekstual dan yang Alkitabiah dalam
kehidupannya.


KOMPETENSI DASAR
1. Mahasiswa mampu menjelaskan dasar-dasar pelaksanaan Teologi kontekstual.
2. Mahasiswa mampu menjelaskan keterkaitan misi dan kebudayaan.
3. Mahasiswa mampu menyebutkan isu-isu pelaksanaan Teologi kontekstual.
4. Mahasiswa mampu menyebutkan metode-metode dalam kontekstualisasi.
5. Mahasiswa mampu menguraikan tentang spektrum kontekstualisasi.
6. Mahasiswa mampu mengidentifikasi model-model pendekatan misi kontekstual.
7. Mahasiswa dapat menganalisis usaha-usaha misi kontekstual yang
sudah dilakukan.
8. Mahasiswa mampu mempraktekkan misi yang Alkitabiah sesuai konteks
budaya setempat
9. Mahasiswa mampu memperlihatkan kesenangannya untuk melakukan misi
kontektual dalam konteks Indonesia sebagai masyaarkat majemuk.


URUTAN DAN RINCIAN MATERI
1. Latar Belakang dan pengertian Teologi Kontekstual.
2. Landasan Alkitab untuk Teologi Kontekstualisasi.
3. Sekilas perkembangan upaya berteologi secara kontestual.
4. Hubungan Misi dan Kebudayaan
5. Isu-isu Pelaksanaan Misi Kontekstual: sosial politik, keragaman
budaya dan agama, kesenjangan ekonomi, lingkungan hidup.
6. Metode Kontekstualisasi.
7. Spektrum Kontekstualisasi.
8. Model-Model Pendekatan Misi Kontekstual.
9. Sikap kritis dalam penerapan teologi konttekstual.
10. Studi Kasus tentang Misi Kontekstual.
11. Praktik Misi Kontekstualisasi.

INDIKATOR HASIL BELAJAR
1. Mampu menjelaskan dasar-dasar pelaksanaan misi kontekstual.
2. Mampu menunjukkan hubungan misi dengan kebudayaan.
3. Mampu menganalisis isu-isu pelaksanaan misi kontekstual.
4. Mampu menjelaskan metode kontekstualisasi.
5. Mampu menjabarkan spektrum kontekstualisasi
6. Mampu menyebutkan model-model pendekatan misi kontekstual
7. Mampu menganalisis berbagai studi kasus misi kontekstual.
8. Mampu menyadari perlunya pelaksanaan misi secara kontekstual
9. Mampu menyusun laporan pengamatan lapangan tentang budaya setempat
dan cara-cara pelaksanaan Misi Kontekstualnya.


STANDAR PROSES PEMBELAJARAN


PENDEKATAN
:
Kolektif dan Partisipatoris


PENGALAMAN BELAJAR
:
1. Mahasiswa mendengarkan kuliah yang disampaikan dosen
2. Mahasiswa membaca buku-buku.
3. Mahasiswa mendiskusikan hasil bacaan buku tentang usaha misi
kontekstual yang telah dilakukan.
4. Mahasiswa mengamati budaya setempat melalui pengamatan lapangan.
5. Mahasiswa menyusun rancangan usaha untuk pelaksanaan misi kontekstual.
6. Mahasiswa melaporkan hasil pengamatannya

METODA
:

Diskusi, pengamatan, ceramah, studi kepustakaan, praktek


TUGAS

:
1. Tinjauan buku-buku tentang usaha misi kontekstual yang telah dilakukan.
2. Pengamatan lapangan tentang budaya setempat dan merancangkan usaha
misi kontekstual yang dapat dilakukan.
3. Membuat laporan bacaan dari buku-buku yang dipilih dosen.
4. Mempresentasikan bacaan buku dan laporan proyek penelitian.


STANDAR PENILAIAN
:
1. Partisipasi dan kehadiran : 05%
2. Tugas Kelompok (Presentasi) : 15%
3. Laporan bacaan buku : 20%
4. Proyek Pengamatan Lapangan : 30%
5. Laporan Penelitian Artikel : 15%
6. UAS : 15%

TEKNIK
:
Essay, Laporan bacaan, Laporan Proyek


BENTUK SOAL

:
Tes Tertulis, , proyek, unjuk kerja

MEDIA

:
Laptop, LCD Proyektor, VCD , Papan Tulis / White board,

SUMBER BELAJAR
1. Keluarga
2. Media elektronik (internet)
3. Narasumber,
4. Lingkungan alam,
5. Lingkungan sosial,
6. Teman di kampus
7. Teman di masyarakat setempat
8. Komunitas gereja
9. Literatur:
1. Salabai, Bastian. Babi Perdamaian: Penginjilan Kontekstual Suku
Arfak. Yogyakarta: Pustaka Therasia, 2009.
2. Hesselgrave, David J. dan Edward Rommen. Kontekstualisasi: Makna,
Metode, dan Model. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.
3. Hiebert, Paul G., Antropological Insight for Missionaries,
Michigan: Baker Books House, Grand Rapids, 2000.
4. Hesselgrave, David G., Communicating Christ Cross-Culturally;
Mengkomunikasikan Kristus secara Lintas Budaya, Malang: Literature
Saat, 2005.
5. Russell, William P., Contextualization: Origins, Meaning and
Implication, Universita Gregoriana, Roma, 1995.
6. Scherer, James A., Stephen B. Bevans, New Directions in Mission and
Evangelization 3, New York: Orbis Books, 1999.
7. Bevans, Stephen B., Models of Contextual Theology, Maryknoll, New
York: Orbis Books, 1992.
8. Singgih, E.G., Berteologi dalam Konteks, Kanisius, Yogyakarta, 2000.
9. Widyatmarta, Siman. Sikap Gereja terhadap Budaya dan Adat
Istiadat. Yogyakarta: BMG, 2007
10. Scriven, C., The Transformation of Culture: Christian Social
Ethics after H. Richard Niebuhr, Herald Press, Scottdale, 1988.
11. Tomatala, Yakob. Teologi Kontekstualisasi: Suatu Pengantar.
Malang: Gandum Mas.
12. Newbigin, Leslie. Injil dalam Masyarakat Majemuk. Jakarta: BPK, 2006.
13. Schreiter, Robert J. Rancang bangun Teologi Lokal. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1996.
14. Elwood, Douglas J. Teologi Kristen Asia: Tema-tema yang Tampil ke
Permukaan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992.
15. Stults, Donald Leroy. Developing An Asian Evangelical Theology.
Metro Manila, Philippines: OMF, 1989.
16. Koyama, Kosuke. Injil dalam Pandangan Asia: Bertelogi dalam
Konteks Sejarah dan Kebudayaan Asia (Waterbuffalo Theology). Jakarta:
Yayasan Satya Karya.
17. Akkeren, Philip van. Dewi Sri dan Kristus: Sebuah Kajian tentang
Gereja Pribumi di Jawa Timur. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995.
18. Budiman. Pelayanan Lintas Budaya dan Kontekstualisasi.
19. England, John C. (edt.). Living Theology in Asia. Maryknoll: Orbis
Books, 1982.
20. Eilers, Franz Josef. Berkomunikasi antara Budaya. Flores: Nusa Indah, 1995.
21. Guillot, C. Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa. Jakarta:
PT Temprint, 1985.
22. Kaunang, Kapahang. Perempuan: Pemahaman Teologis tentang Perempuan
dalam Kontekd Budaya Minahasa. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
23. Noorsena, Bambang. Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman
Kristen dan Kejawen. Yogyakarta: ANDI, 2003.
24. Partonadi, Soetarman Soediman. Komunitas Sadrach dan Akar
Kontekstualnya: Suatu Ekspresis Kekristenan Jawa pada Abad XIX.
Jakarta: BPK Gunung Mulia & TPK, 2001.
25. Suseno, Franz Magnis. Beriman dalam Masyarakat: Butir-Butir
Teologi Kontekstual. Yogyakarta: Kanisius, 1993.
26. Singgih, Emanuel Gerrit. Berteologi dalam Konteks:
Pemikiran-pemikiran mengenai Kontekstualisasi Teologi di Indonesia.
Jakarta: BPK Gunung Mulia & Kanisius, 2000.
27. Takenaka, Masao. Nasi dan Allah. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
28. Banawiratma, J.B., Teologi Fungsional-Teologi Kontekstual", dalam
Eka Darmaputera (ed.), Konteks Berteologi di Indonesia, BPK Gunung
Mulia, Jakarta, 1991.
29. Bosch, David J., Transformasi Misi Kristen. Sejarah Teologi Misi
yang Mengubah dan Berubah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.
30. Byun, Changuk Ed., A New Heart for the Evangelization of Asia,
Seoul: Mission Academy, 2007.
31. Campbell-Nelson; Souk, Bendalina & Suleeman, Stephen, Mengupayakan
Misi Gereja yang Kontekstual: Studi Institut Misiologi Persetia 1992,
Jakarta: Persetia, 1995.
32. Darmaputera, E., "Masalah Injil dan Kebudayaan: Masalah Bagaimana
Seharusnya Kita Hidup," dalam Penuntun, GKI Jawa Barat, Jakarta, (Vol.
1, No. 4, Juli-September), 1995.



Catatan:
Tugas yang harus di buat:
1. Tugas Kelompok. Pilih 4 buku dalam daftar literature di atas yang
perlu disimak secara kritis, dipresentasikan, dan didiskusikan. Tiap
kelompok sekitar 2-3 orang. Masing-masing kelompok menuangkan hasil
penelitiannya dalam 2-3 halaman, diketik 1,5 spasi, difoto copy
sebanyak peserta kuliah. Tugas ini berbobot 15%
2. Penelitian literature:
a. Pilih 3 artikel yang disediakan dalam mata kuliah ini. Kemukakan
tanggapan dan refleksi anda untuk masing-masing artikel 2-3 halaman,
spasi 1,5. Jangan lupa cantumkan judul artikel yang disimak. Tugas ini
berbobot 10%
b. Laporan Buku. Simak salah satu buku di daftar literature. Tuangkan
penelitian anda dalam 3-4 halaman, diketik 1,5 spasi, meliputi:
pokok-pokok pikiran penulis, pendapat/tanggapan anda, penerapannya
dalam pelayanan anda. Tugas ini berbobot 20%
3. Penelitian lapangan. Selidiki salah satu unsur dalam budaya suku
anda atau budaya suku lain yang berkaitan dengan pelayanan anda.
Kemukakan alas an anda memilih unsur tersebut. Jelaskan celah-celah
yang anda dapat manfaatkan untuk menjelaskan Injil kepada masyarakat
yang memiliki budaya tersebut. Tugas ini memakai bibliografi dengan
format buku yang berlaku di STT SAPPI. Tuangkan hasil penelitian anda
antara 10-15 halaman, spasi 1,5. Tugas ini berbobot 30%

KUMPULAN KOTBAH DAN PUJIAN PENYEMBAHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA

  LINK KUMPULAN KOTBAH / RENUNGAN FIRMAN TUHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA (PAS)   1.        HIDUP YANG SUDAH DIBAHARUI https://www.youtu...