Tampilkan postingan dengan label Liturgika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liturgika. Tampilkan semua postingan

29 April 2014

PERBEDAAN LITURGI GEREJA BALA KESELAMATAN DAN GPdI

LITURGI GPdI
- Ucapan selamat datang oleh gembala sekaligus dengan doa pembukaan.
- Puji-pujian dipimpin oleh song leader-singer's dan dapat di isi
dengan kesaksian dan kata-kata dorongan rohani apabila di perlukan.
- Pujian dari kaum pria, wanita dan pemuda-remaja.
- Doa Firman Allah
- Doa sesudah Firman Allah sekaligus dengan doa persembahan.
- Persembahan
- Pengunguman
- Doa penutup, doa syafaat sekaligus doa berkat oleh gembala.
- Bila di perlukan masih ada kegiatan latihan baik song leader maupun
singer's sekaligus latihan untuk kaum pria-wanita dan pemuda-remaja.


PERBEDAAN LITURGI GEREJA BALA KESELAMATAN DAN GPdI
- Gereja Bala Keselamatan: Pendeta sampai kepada pengurusnya
mengenakan pangkat dan pangkat tersebut sesuai urutannya.
- GPdI: Pendetanya memakai jas/tergantung situasi dan kondisi.

- Gereja Bala Keselamatan: bagian-bagian lagu pujian ada yang tepuk
tangan, ada yang tidak tepuk tangan.
- GPdI: semua lagu pujian harus tepuk tangan.

- Gereja Bala Keselamatan: doa syafaat di doakan secara khusus.
- GPdI: doa syafaat di bawa langsung oleh gembala sekaligus menutup ibadah.

5 Februari 2013

Silabus Liturgika

KELOMPOK : MATA KULIAH PERILAKU BERKARYA

NAMA MATA KULIAH : LITURGIKA
BOBOT : 2 sks
SEMESTER :
PRASYARAT :
BANYAKNYA PERTEMUAN/ WAKTU TIAP PERTEMUAN : 14 X 2 X 50 MENIT

STANDAR KOMPETENSI
Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang liturgi, menghayati liturgi
sebagai perayaan kehidupan, dan mampu merancang liturgi secara
kontekstual.

KOMPETENSI DASAR
1. Mampu menguraikan pengertian liturgi secara etimologis, teologis
dan sebagai ilmu.
2. Mampu memaknai liturgi sebagai perayaan kehidupan
3. Mampu menganalisis liturgi dalam masa gereja mula-mula, Abad
Pertengahan, Reformasi dan Pasca Reformasi
4. Mampu menguraikan unsur-unsur Liturgi
5. Mampu menguraikan fungsi pelayanan firman dalam Liturgi
6. Mampu menguraikan fungsi Ruang/Arsitektur dalam Liturgi
7. Mampu menguraikan fungsi Aksesori dalam Liturgi
8. Mampu menguraikan fungsi Simbol dalam Liturgi
9. Mampu menguraikan fungsi Sikap dan Gerakan dalam Liturgi
10. Mampu menguraikan fungsi Musik dan Nyanyian dalam liturgi
11. Mampu menguraikan fungsi Tari dan Teater dalam liturgi
12. Mampu mencermati perubahan dalam Liturgi dari masa ke masa
13. Mampu mengembangkan liturgi secara kontekstual.
14. Mampu membuat presentasi Liturgi yang kontekstual

URUTAN DAN RINCIAN MATERI
1. Pengertian liturgika secara etimologis, teologis dan sebagai Ilmu.
2. Liturgi sebagai Perayaan Kehidupan.
3. Liturgi pada masa Gereja Mula-mula, Abad Pertengahan, Reformasi dan Pasca
Reformasi.
4. Unsur-unsur Liturgi
5. Pelayanan Firman dan Liturgi
6. Arsitektur dan Liturgi
7. Aksesoris Liturgis
8. Simbol dan Makna Teologisnya dalam liturgi.
9. Sikap dan Gerakan dalam Liturgi.
10. Musik dan Nyanyian dalam Liturgi.
11. Tari dan Teater dalam Liturgi.
12. Pengembangan Liturgi secara kontekstual.

INDIKATOR HASIL BELAJAR
1. Menguraikan pengertian Liturgi secara etimologis, teologis dan sebagai Ilmu.
2. Memaknai Liturgi sebagai perayaan lehidupan
3. Menganalisis Liturgi dalam masa Gereja Mula-mula, Abad
Pertengahan, Reformasi
dan Pasca Reformasi
4. Menguraikan unsur-unsur Liturgi
5. Menguraikan fungsi Pelayanan Firman dalam Liturgi
6. Menguraikan fungsi Ruang/Arsitektur dalam Liturgi
7. Menguraikan fungsi Aksesori dalam Liturgi
8. Menguraikan fungsi Simbol dalam Liturgi
9. Menguraikan fungsi Sikap dan Gerakan dalam Liturgi
10. Menguraikan fungsi Musik dan Nyanyian dalam liturgi
11. Menguraikan fungsi Tari dan Teater dalam liturgi
12. Mencermati perubahan dalam Liturgi dari masa ke masa
13. Mengembangkan liturgi secara kontekstual.
14. Membuat Liturgi yang kontekstual dan mempresentasikannya dalam kelas

STANDAR PROSES PEMBELAJARAN


PENDEKATAN : Kontekstual dan partisipatoris


PENGALAMAN BELAJAR :
1. Mahasiswa mendengar kuliah
2. Mengakses informasi mengenai Liturgika dari internet.
3. Mahasiswa berdiskusi
4. Mahasiswa membuat liturgi
5. Mahasiswa berpresentasi
6. Mahasiswa berlatih memimpin liturgi

METODA :

Ceramah, diskusi, learning experience.

TUGAS :
1. Membuat koleksi dokumentasi tentang berbagai liturgi gereja
2. Membuat presentasi liturgi yang kontekstual

STANDAR PENILAIAN :
1. Partisipasi dan kehadiran : 10%
2. Presentasi : 25%
3. Tugas Kelompok : 20%
4. UTS : 20%
5. UAS : 25%

TEKNIK :
Tertulis dan pengamatan


BENTUK SOAL :
Essei, Tes Sikap, Porto Folio, proyek, unjuk kerja


MEDIA :
Laptop, LCD Proyektor, VCD , Papan Tulis / White board,

SUMBER BELAJAR
1. Keluarga
2. Media elektronik (internet)
3. Narasumber,
4. Lingkungan alam,
5. Lingkungan sosial,
6. Teman di kampus
7. Teman di masyarakat setempat
8. Komunitas gereja

Literatur:
1. Abineno, J.L.Ch. Unsur-unsur Liturgia yang dipakai oleh
Gereja-gereja Di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004.
2. -----, Sekitar Teologi Praktika I. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1984.
3. -----, Ibadah Jemaat dalam Abad-abad Pertama. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1985.
4. -----, Doa Menurut Kesaksian Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1997.
5. Adam, A. Foundations of Liturgy: An Introduction to Its History and
Practice, Collegeville-Minnesota: The Liturgical Press, 1992.
6. Barker, Margaret. Pintu Gerbang Sorga – Sejarah dan Simbolisme Bait
Allah di Yerusalem. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.
7. Boehlke, Robert R. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek
Pendidikan Agama Kristen Jilid I. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
8. Boehlke, Robert R. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek
Pendidikan Agama Kristen Jilid II. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.
9. Crichton, J.D. "A Theology of Worship" dalam The Study of Liturgy.
Ed. C. Jones. London: SPCK, 1992.
10. Killinger, John. "Preaching and Worship" dalam Handbook of
Contemporary Preaching. Ed. Michael Duduit. Nashville: Broadman dan
Holman Publishers, 1993.
11. Mailoa, S.J. Peribadahan Kristen: Kumpulan Isu-isuTeologis.
Monografi. Ambon: Fakultas Filsafat UKIM, 2008.
12. Mariyanto, Ernest. Simbol, Maknanya dalam Kehidupan sehari-hari
dan dalam Liturgi. Malang: Penerbit Dioma, 2001.
13. Peterson, D. Engaging with God – A Biblical Theology of Worship.
Leicester: Apolos, 1992.
14. Rachman, Rashid. Pengantar Sejarah Liturgi. Yogyakarta: Bintang Fajar, 2002.
15. Riemer, G. Cermin Injil: Ilmu Liturgi. Jakarta: Yayasan Bina
Kasih/OMF, 1995.
16. Screiter, Robert. Rancang Bangun Teologi Lokal. Jakarta BPK Gunung
Mulia, 2006.
17. Sidjabat, W. B. dan Arlo D. Duba. Azas-azas Kebaktian Alkitabiah
dan Protestan. Jakarta BPK Gunung Mulia, 1986.
18. Sitompul, A. A. Bimbingan Tata Kebaktian Gereja. Pematang Siantar:
HKBP, 1993.
19. Strathmann, R. Meyer. "leitourgeo, leitourgia, leitourgika" dalam
New Testament Theology Volume 3 . Ed. G. Kittel. Grand Rapids,
Michigan: Zondervan Publishing House, 1990.
20. Tisdale, Leonora. Preaching as Local Theology and Folk Art.
Minneapolis: Fortress Press, 1997.
21. Uzukwu, Elochukwu. Worship as Body Language. Collegeville,
Minnesota: The Liturgical Press, 1997.
22. Van Olst, E.H. Alkitab dan Liturgi. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
23. White, James. Pengantar Ibadah Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002.

10 Februari 2012

Materi Kuliah Liturgika


Pengantar
·         Pertanyaan apa yang saudara pahami tentang liturgy…………….?
·         Dalam teologi Ilmu yang membahas tentang peribadahan di sebut ilmu liturgy
·         Liturgy adalah kegiatan ibadah, baik berbentuk seremonial maupun praksis (ibadah yang sejati). Ibadah yang sejati tidak terbatas pada pelayanan di gereja melalui selebrasi, tetapi terwujud pula di dalam sikap huidup orang percaya di dunia sehari-hari selalui aksi. Aksi ibadah meliputi pelayanan, tindakan, tingkah laku, hidup keagamaan, spritualitas, cara berpikir, pola piker, menanggapi, dsb.
·         Ibadah yang sejati menurut paulus …. Roma 12:1, menurut Paulus, inti ibadah Kristen adalah mempersembahkan hidup kepada Tuhan. Tanpa dasar ini, ibadah dalam bentuk apapun tidak bernilai. Ibadah menjadi hambar jika ia terbatas hanya pada perayaan.
·         Ada hubungan antara ibadah dan sikap hidup sehari-hari, yang satu mewarnai yang lain secara timbal balik dan harmonis.

Istilah dan Pemahaman Etimologis Liturgi
·         Apa bedanya liturgy, kebaktian, dan ibadah?
·         Kata liturgy berasal dari bahasa Yunani: leitourgia berasal dari dua kata, yaitu ergon, artinya melayani atau bekerja, dan laos, artinya bangsa, masyarakat, persekutuan umat. Kata laos dan ergon diambil dari kehidupan masyarakat Yunani kuno sebagai kerja nyata rakyat kepada bangsa dan Negara. Secara praktis hal ini berupa bayar pajak, membela Negara dari ancaman musuh atau wajib militer.
·         Leitourgia juga digunakan untuk menunjuk pelayan rumah tangga dan pegawai pemerintah, semisalnya penarik pajak.
·         Rasul Paulus menyebut dirinya sebagai pelayan (leitourgos) Kristu Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi (Rm. 15:16). Paulus juga menyebut para penarik pajak sebagai para pelayan (leitourgoi) Allah (Rm 13:6). Paulus juga memahami bahwa liturgy adalah sikap beriman sehari-hari. Liturgy tidak terbatas pada perayaan gereja.
·         Dewasa ini kata liturgy menjadi sebutan khas dan umum untuk perayaan ibadah Kristen. Kata liturgy sudah diterima secara umum untuk menyebut ibadah Kristen.  Kata liturgy sendiri bagu dimasukkan sebagai perayaan ibadah gereja sekitar abad ke-12.
·         Kata yang seajajar dalam bahasa Indonesia adalah “kebaktian”. Bhakti (sansekerta) adalah perbuatan yang menyatakan setia dan hormat, memperhambakan diri, perbuatan baik. Bakti dapat ditujukkan baik untuk seseorang, Negara, maupun untuk Tuhan yang dilakukan dengan sukarela…misalnya sebutan untuk kebaktian natal.
·         Kata ibadah, misalnya ibadah minggu, berasal dari bahasa Arab yaitu ebdu atau abdu (abdi=hamba). Kata ini sejajar dengan kata Ibrani, abodah (ebed=hamba) yang artinya perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Tuhan. Ibadah terkait seerat-eratnya dengan suatu kegiatan manusia kepada Tuhan, dengan pelayanan kepada Tuhan.
·         Pemahaman ibadah atau kebaktian tidak terbatas pada sisi selebrasi (walaupun itu penting), tetapi mengandung arti “perbuatan tunduk dan hormat”. Pada satu pihak kebakti mempunyai makna terbatas pada upacara agama dalam bentuk perayaan, tetapi juga mempunyai makna yang luas, yakni sikap hidup sebagai pelayan Tuhan. Sikap hidup ini menyangkut tabiat, perbuatan, karakter, pola piker yang ditunjukkan secara utuh dan nyata oleh orang percaya did lam dunia.
·         Liturgy, kebaktian, dan ibadah secara resmi digunakan secara sama dan sejajar dalam bahasa Indonesia, tetapi ada perbedaan pemakaian. Misalnya kata liturgy sering dipakai dalam kaitan dengan disiplin ilmu atau tata cara resmi dan agung sebagaimana dalam gereja katolik roma. Kata kebaktian lebih sering digunakan untuk menunjuk kegiatan perayaan peribadahan. Semntara kata ibadah cenderung digunakan secara umumuntuk menunjuk perayaan agama apa pun, bahkan agama-agama tradisi dan agama suku.
·         Respon atau tanggapan umat kepada Allah terjadi melalui tata ibadah, termasuk tata gerak, tata warna, tata ruang, music, dsbnya. Melalui berbagai tata, baik hal keteraturan maupun hal ketertiban, karya keselamatan Allah kepada dunia dirayakan. Hal ini sesuai dengan pemahaman Paulus yaitu segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan tertib (1 Kor. 14:26-40)
·         Respon dalam liturgy manandakan bahwa sifat ibadah adalah dialogis, dalam liturgy terjadi dialog antara umat dan Allah. Dialog ini tidak boleh dikurangi nilainya oleh para pelayan liturgy dengan mengambil alih atau merebut hak umat untuk berdialog dengan Allah.
·         Pusat perhatian umat dalam liturgy adalah Kristus. Inisiatif dan peran Kristus adalah utama antara para pelayan liturgy, gereja, music. Kristuslah pusat perhatian umat, bukan sang mempelai jika dalam kebaktian pernikahan atau calon baptis jika dalam pembaptisan. Daam  disiplin ilmu liturgy ada dua tahap yang harus dilakukan oleh teolog atau pemimpin gereja atau komisi liturgy untuk membuat tata liturgy, yaitu:
1.    Mengadakan penelitian historis dan teologi tentang liturgy dan elemen-elemennya.
2.    Menilai dan memperhatikan relevansinya bagi tata liturgy yang sedang disiapkan.
Jadi liturgy kita dari denominasi apapun berada dalam suatu tradisi tertentu yang dapat ditelusuri dalam sejarah gereja. ...bersambung...selengkapnya download di sini

KUMPULAN KOTBAH DAN PUJIAN PENYEMBAHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA

  LINK KUMPULAN KOTBAH / RENUNGAN FIRMAN TUHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA (PAS)   1.        HIDUP YANG SUDAH DIBAHARUI https://www.youtu...