Tampilkan postingan dengan label SKRIPSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SKRIPSI. Tampilkan semua postingan

18 Agustus 2014

Contoh Proposal Skripsi-3



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang Permasalahan
Indonesia hingga kini masih diliputi dengan banyak persoalan dalam berbagai dimensi kehidupan. Meski pertumbuhan ekonomi sudah mulai mengalami kemajuan, tetapi tanpaknya masih kesulitan dalam mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Suatu bangsa yang mengalami proses pembangunan ditandai dengan adanya perubahan struktur masyarakatnya. Perubahan ini dapat teruwujud dalam penciptaan kesempatan kerja, perbaikan kesejahteraan, dan perbaikan sarana dan prasarana. Tuntutan perubahan struktur tersebut menunjukkan bahwa pembangunan adalah suatu proses yang harus dilaksanakan bersama-sama antara masyarakat dan pemerintah. Masyarakat sebagai objek dan subjek pembangunan harus berperan aktif dalam pembangunan, menikmati hasil pembangunan dan melestarikan proses pembangunan secara berkesinambungan. Karena itu, proses pembangunan harus muncul dari masyarakat, dilaksanakan oleh masyarakat, dan hasilnya dinikmati oleh masyarakat. Peran pemerintah adalah memperlancar dan mengendalikan pembangunan.
Masalah yang dihadapi dalam mewujudkan proses pembangunan yang benar melalui perubahan struktur adalah masalah fundamental dan masalah schock berupa krisis ekonomi yang berkepanjangan. Masalah fundamental yang terjadi adalah kesenjangan antarmanusia, antardaerah, dan antarsektor kegiatan ekonomi. Masalah kesenjangan meluas ke masalah kemiskinan, pengangguran, dan kesejahteraan sosial, seperti tingkat pendidikan dan kesehatan.
Pendekatan melalui pemberdayaan masyarakat adalah hal yang sangat penting. Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya mempersiapkan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat juga merupakan upaya meningkatkan harkat dan martabat masyarakat yang dalam kondisi sekarang mengalami kesulitan untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain pemberdayaan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat.[1] Selain pemberdayaan masyarakat, Sumber Daya Alam yang ada diupayakan penggunaannya secara optimal dan perbaikan sarana dan prasarana yang kurang memadai. Upaya untuk mempercepat pembangunan melalui pemberdayaan masyarakat perlu mendapat perhatian semua pihak.
Dalam proses pembangunan akan lebih banyak terletak pada Sumber Daya Manusia. Memang Sumber Daya Alam juga perlu, akan tetapi dengan adanya Sumber Daya Manusia yang handal maka kekurangan ketersediaan Sumber Daya Alam bisa diatasi.  Sebaliknya meskipun sumber daya alam tersedia dengan melimpah, akan tetapi bila tidak ada sumber daya manusia untuk memanfaatkannya maka sumber daya alam yang tersedia tersebut hanya merupakan potensi yang tidak diwujudkan dalam kenyataan.
Berdasarkan hal tersebut, perlu dipikirkan cara untuk mengembangkan dan menggali potensi yang ada pada setiap daerah di Indonesia. Dengan demikian daerah-daerah tersebut mengalami kemajuan dan menjadi kuat dalam berbagai aspek, bahkan dapat menjadi contoh untuk perkembangan daerah-daerah lainnya. Semua ini tidak lepas dari peran Yayayasan Mitra Pengembanga Desa (YMPD) - Bandung dalam menyiapkan tenaga-tenaga terampil, terlatih untuk membangun dan memberdayakan masyarakat di daerah pedesaan. Yayasan Mitra Pengembangan Desa Bandung hadir dengan misinya yaitu menyatakan kasih Allah kepada masyarakat di pedesaan yang tingkat spiritual dan tingkat sosial-ekonominya masih rendah, melalui pelayanan holistik.
Kampung Palalangon adalah salah satu daerah pelayanan Yayasan Mitra Pengembangan Desa (YMPD) - Bandung. Palalangon merupakan sebuah kampung yang terletak dalam wilayah hukum Desa Kertajaya, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Dalam bahasa Sunda, Palalangon berasal dari kata “buhun” yang artinya suatu tempat yang tinggi. Sebelum ada Waduk Cirata pada tahun 1987, Kampung Palalangon memang tampak terletak di tempat yang tinggi, dikelilingi oleh lembah. Akan tetapi, dengan adanya penggenangan air Waduk Cirata sejak tahun 1987, maka nama itu terasa menjadi kurang menggambarkan kondisi yang sebenarnya bahwa Palalangon ada di tempat yang tinggi. Tetapi bagi masyarakat Palalangon Waduk Cirata justru membawa berkah tambahan, sebab masyarakat Palalangon yang awalnya hidup dari bertani, makin lama menjadi makin sulit jika hanya mengandalkan ini untuk tetap survive. Mengapa? Karena pemilikan lahan per keluarga semakin lama semakin sempit karena sistim pembagian tanah warisan yang kini rata-rata kurang dari 0,5 ha. Belum lagi karena tekanan ekonomi, yang membuat masyarakat Palalangon terpaksa menjual lahannya kepada orang lain (umumnya dari luar Palalangon) untuk mendapatkan uang tunai dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga yang mendesak. Bila tanah yang dijual masih digunakan untuk kepentingan pertanian maka hal tersebut akan memberi dampak  penyerapan tenaga kerja bagi penduduk desa. Namun bila tanah yang dibeli oleh orang luar desa itu menjadi tanah tidur atau dikoversi menjadi bangunan tempat tinggal maka penduduk desa akan kehilangan peluang untuk bekerja dan kehilangan mata pencaharian dalam bidang pertanian. Oleh karena itu, tidak mengherankan, apabila pada generasi awal masyarakat Palalangon seluruhnya sebagai petani pemilik lahan, kini menjadi 80% sebagai petani. Namun dari seluruh petani di Palalangon saat ini hanya sekitar 15 % sebagai petani pemilik lahan. Sisanya hanya merupakan petani penggarap atau buruh tani. Selain itu Sebagian lahan masih merupakan lahan tadah hujan atau lahan kering. Kegiatan pertanian di lahan seperti ini cukup terbatas dan sulit dikembangkan. Sejauh ini orientasi kegiatan di lahan seperti ini hanya untuk tanaman palawija. Alternatif lain, umpamanya memelihara ternak, belum dipikirkan pengembangannya.
Dengan adanya waduk Cirata, sebagian masayarakat Palalangon khususnya dan masyarakat Kerta Jaya dan Sindang Jaya pada umumnya dapat memperoleh tambahan pendapatan dari usaha tani ikan, atau menjadi buruh kerja di jaring apung. Meskipun sebagian wilayah waduk Cirata adalah bagian desa Palalangon. Sayangnya sangat sedikit masyarakat Palalangon yang memanfaatkan waduk ini untuk mata pencaharian mereka. Kegiatan ekonomi karamba jaring apung hanya berlokasi di Palalangon tapi tidak berbasis di desa ini, dalam arti bahwa penduduk desa tidak terlibat. Input kegiatan budidaya ikan didatangkan dari luar desa, demikian pula ikan hasil budidaya dipasarkan ke luar desa, dari kegiatan budidaya ikan di Waduk Cirata ini hampir tidak ada dampaknya bagi masyarakat desa Palalangon. Kegiatan perikanan lain di Waduk Cirata yang dilakukan untuk sekedar hobi adalah kegiatan pemancingan. Namun lagi-lagi, kegiatan ini dilakukan oleh orang luar desa. Peluang usaha pemancingan di waduk melalui pengelolaan dan penataan ruang dan tempat secara lebih baik belum bisa dilakukan oleh masyarakat Palalangon.
Kendala lain yaitu lapangan kerja. Karena kurangnya lapangan kerja, maka umumnya usia produktif penduduk palalangon tidak memiliki pekerjaan, jika ada itupun bekerja secara tidak teratur, atau bahkan migrasi ke luar desa. Migrasi ini dilakukan selain untuk mencari pekerjaan, juga untuk menempuh sekolah yang lebih tinggi. Yang menjadi pertanyaan adalah penduduk dari luar yang datang ke Palalangon, pada umumnya mereka mendapat atau memiliki pekerjaan dengan lebih mudah dan lebih baik. Banyak pendatang di Palalangon yang bekerja sebagai buruh di perikanan jaring apung yang berlokasi di Waduk Cirata. Hal ini mengindikasikan bahwa peluang kerja yang tersedia secara lokal tidak bisa dimanfaatkan oleh penduduk setempat. Tentu saja hal ini karena rendahnya keahlian dan ketrampilan yang dimiliki, atau karena rendahnya etos kerja. Hal ini juga turut dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan yang umumnya penduduk hanya tamat SD. Dengan porsi tenaga tamatan SD yang lebih banyak ini maka pengembangan kegiatan ekonomi yang berbasis sumberdaya manusia juga mengalami kendala. Salah satu penyebab mengapa penduduk Palalangan pada umumnya hanya tamatan SD adalah terbatasnya sekolah lanjutan sehingga banyak anak-anak usia sekolah yang tidak melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Selain itu perangkat lunak seperti pengajar, pegawai, metode pengajaran dan kurikulum, serta bahan-bahan yang diperlukan dalam proses belajar mengajar belum memadai. Semua itu turut mempengaruhi ketersediaan Sumber Daya Manusia desa Palalangon yang handal dalam mengelolah daerahnya.
Dari segi kerohanian, meskipun Kampung Palalangon memiliki keunikan yaitu sebagai satu-satunya desa di Jawa Barat yang persentase penduduknya mayoritas beragama Kristen dan intensitas pembinaan kerohanian juga cukup tinggi di banding desa-desa yang lain di Jawa Barat.  Namun ada beberapa masalah yang perlu mendapat perhatian meliputi kebaktian umum di beberapa gereja kebanyakan dipimpin oleh majelis gereja yang pada umumnya mempunyai latar belakang pendidikan Theologia yang sangat terbatas. Hal ini kemungkinan merupakan alasan rendahnya tingkat kehadiran jemaat pada kebaktian umum. Tingkat kehadiran anak disekolah minggu juga dipengaruhi oleh pembina dan guru sekolah minggu, jika yang mengajar adalah mahasiswa praktik dari sekolah teologia tingkat kehadiran anak relatif tinggi. Kebaktian keluarga, kebaktian rumah tangga, atau ibadah kategorial yang dilakukan di rumah jemaat umumnya memiliki tingkat kehadiran yang rendah, faktor-faktor yang mempengaruhi adalah penyampaian materi, tema bahasan, waktu pelaksanaan, serta pengajar atau pemberita firman.
Hal yang menjadi perhatian penulis adalah: pertama masyarakat Palalangon harusnya menjadi tuan di daerahnya sendiri, tetapi kenyataan yang terjadi mereka menjadi buruh bahkan hanya menjadi “penonton”, jika ini dibiarkan terus terjadi, secara perlahan komunitas masyarakat Palalangon akan tergusur oleh pendatang dari daerah sekitarnya yang memiliki SDM yang terampil dan lebih memadai. Kedua ialah karena kesulitan ekonomi, SDM-nya tidak memiliki keterampilan yang memadai, apabila muncul tawaran-tawaran yang bisa mengubah taraf hidup yang lebih baik, karena pengajaran firman yang kurang mendalam akibatnya dasar iman yang tidak kuat kepada Kristus, sehingga banyak yang meninggalkan keyakinannya.
Setelah memperhatikan permasalahan di atas, maka penulis merumuskan permasalahan menjadi satu pertanyaan inti: Bagaimana memberdayakan gereja-gereja di Palalangon sehingga daerah  yang mayoritas Kristen ini  dapat mengalami kemajuan dan menjadi saluran berkat untuk daerah sekitarnya?. Dalam membahas permasalahan tersebut, penulis membagi permasalahan dalam beberapa pertanyaan.
1.      Seberapa penting pelayanan STT SAPPI bagi gereja-gereja pedesaan di Indonesia?
2.      Bagaimana konsep pelayanan yang digunakan STT SAPPI dalam memberdayakan gereja-gereja di Pedesaan di Indonesia?
3.      Sejauh mana dampak dari konsep pelayanan yang digunakan STT SAPPI dalam memberdayakan gereja-gereja di pedesaan di Indonesia?
4.      Bagaimana pendekatan yang digunakan YMPD dalam memberdayakan potensi alam dan SDM gereja-gereja di Palalangon.
5.      Bagaimana peran YMPD dalam menghadapi perubahan-perubahan yang begitu cepat dalam mempertahankan desa Palalangon sebagai daerah mayoritas Kristen.

1.3.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulis dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1.      Memberikan gambaran tentang konsep pelayanan YMPD dalam menjangkau daerah pedesaan dan perannya dalam memberdayakan gereja-gereja di pedesaan khususnya daerah Palalangon.
2.      Memberikan gambaran  apa saja yang telah dilakukan oleh YMPD dalam meningkatkan SDM gereja-gereja di desa Palalangon.
3.      Membuka wawasan untuk melihat kondisi real dari kehidupan masyarakat/jemaat Tuhan di desa Palalangon. Apa sesungguhnya yang terjadi dengan kehidupan saudara-saudari seiman kita yang hidup di pedesaan.

1.4.  Pembatasan Masalah
Melihat cukup banyak dan luasnya permasalahan yang berkait pelayanan pedesaan yang ditangani oleh Yayayasan Mitra Pengembangan Desa (YMPD) Bandung, maka di dalam penulisan ini penulis akan membatasi yaitu pelayanan Yayasan Mitra Pengembangan Desa (YMPD) Bandung di daerah Palalangon.



1.5 Sistematika Penulisan
Dalam penulisan tesis ini penulis membuat sistematika penulisan dalam bab-bab sebagai berikut:
Bab I, penulis akan menyajikan bahasan antara lain: latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, batasan masalah, dan sistematika penulisan.
Bab II, Pengertian desa dan gambaran umum daerah Jawa Barat khusus Kampung Palalangon serta sejarah masuknya kekristenan di daerah Palalangon.
Bab III, penulis akan membahas konsep pelayanan holistik dalam mengemban dwi mandat Tuhan yakni Mandat Injil dan Mandat Budaya
Bab IV, penulis akan mengimplementasikan model pelayanan dwimandat Tuhan dalam satu wadah sebagai contoh palayanan Yayasan Mitra Pengembangan Desa (YMPD) Bandung
Bab V, terdiri dari dua sub, yang pertama berisi kesimpulan dari penulisan, sedangkan sub bab kedua berisi saran-saran yang memuat pertimbangan penulis.


Secara keseluruhan judul tesis ini adalah:
SIGNIFIKANSI PELAYANAN
STT SAPPI DALAM MEMBERDAYAKAN
GEREJA PEDESAAN DI INDONESIA
(Studi Kasus STT SAPPI Cianjur Periode 2005-2012)



[1] Gunawan Sumodinigrat, “Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat”, PT.Bina Rena Pariwara, Jakarta, 1997

Proposal Skripsi Teologi



BAB I
PENDAHULUAN




1.1.  Latar Belakang Masalah

            Kesan yang muncul ketika kita mendengar kata desa adalah hamparan sawah, ladang, bukit-bukit dan gunung-gunung yang hijau, perkampungan yang jauh dari kota serta kehidupan yang serba tradisionil. Kesan orang yang pernah berkunjung ke desa bahwa sesederhana apapun makanan di sana, selalu terasa enak dan dimakan lahap.  Banyak orang memang senang ke desa, tetapi berapa banyak orang yang mau pergi dan tinggal di sana? Berapa banyak orang yang mau membangun desa, bukan sekedar menikmatinya? Berapa banyak orang yang mau menjangkau desa bagi Kristus? Dan berapa banyak lembaga pelayanan kristen yang peduli dengan masalah pedesaan?.
            Ironisnya desa yang kata orang menyenangkan itu, justru banyak ditinggal penduduknya. Berbekal hasil penjualan sebidang tanah, sawah atau hewan ternak, para pemuda pergi ke kota untuk tujuan yang tidak pasti. Tidak sedikit orang tua meninggalkan keluarganya untuk mencari kerja ke kota bahkan ke luar negeri sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Memang ada yang membuahkan hasil. Tetapi bagaimana  dengan nasib ratusan ribu TKI (illegal) di luar negeri saat ini?
            Tidak di pungkiri desa-desa di Indonesia menghadapi masalah yang cukup kompleks. Penyebab munculnya masalah tersebut antara lain rendahnya tingkat pendidikan (SDM) dan perekonomian serta kurangnya sarana pendukung. Bukanlah hal yang mudah, hal lain yang menjadi penghambat adalah rendahnya taraf kehidupan masyarakat Indonesia, atau lebih dikenal dengan istilah kemiskinan. Dan salah satu pemicu rendanya taraf kehidupan masyarakat Indonesia adalah rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Pada umumnya desa-desa di Indonesia masih bersifat agraris belum maju dan industri pedesaannya belum berkembang.
            Mengingat tujuan pembangunan Indonesia terpusat pada peningkatan kehidupan perekonomian yang adil dan makmur, berarti hasil pembangunan ini harus dapat dinikmati secara merata. Hasil pembangunan tidak hanya dinikmati kelompok tertentu saja, tetapi oleh seluruh warga negara baik di desa maupun di kota. Tetapi yang terjadi saat ini belum seimbang masih terjadi kesenjangan antara masyarakat kota dan desa padahal 80 persen penduduk Indonesia tersebar di desa-desa di seluruh Nusantara.
            Banyak usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah kesenjangan yang terjadi. Seperti program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan . Namun masalah kemiskinan tetap merupakan problem besar bagi bangsa ini. Angka kemiskinan tiap penduduk masih kelihatan mencolok pada setiap daerah. Dan hal ini juga menimbulkan kesenjangan yang semakin jauh. Kesenjangan ini juga terlihat jelas antara tingkat kehidupan masayarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan.
            Jika ditinjau dari segi pendapatan, masyarakat kota jauh lebih besar pendapatannya dari pada pendapatan masyarakat desa. Dan dari segi pertumbuhan pendapatan, penduduk kotapun jauh lebih pesat pendapatannya ketimbang penduduk yang berada di pedesaan. Memang benar apa yang dinyatakan oleh  Prof. Mubiyanto yang pernah menjadi salah satu Asisten Ketua Bappenas Urusan Pemerataan dan Kemiskinan, demikian:
Bahwa jumlah orang miskin di pedesaan jauh lebih banyak (dua kali lipat) dibanding dengan mereka yang tinggal di kota.
           
            Krisis moneter yang terjadi sejak bulan Oktober 1998 membawa dampak yang besar bagi kehidupan bangsa ini. Penderitaan semakin banyak dirasakan oleh rakyat Indonesia, banyak orang kehilangan pekerjaan, harga-harga kebutuhan pokok dipasaran naik, pupuk untuk kebutuhan pertanian harganya melambung tinggi sehingga tidak terjangkau oleh petani, hal ini mengakibatkan harga kebutuhan pokok juga naik. Dan yang lebih parah lagi keadaan ini makin lama makin tidak menentu. Dengan kondisi bangsa seperti ini yang paling terkena dampaknya adalah masyarakat miskin – termasuk di dalamnya masyarakat yang sebagian besar tinggal di pedesaan yang taraf  kehidupan dan pendidikannya rendah..
            Seiring dengan krisis yang terjadi, jumlah penduduk yang miskin pun meningkat cukup drastis pada periode 1996-1999 sebesar 13,96 juta karena krisis moneter, yaitu dari 34,01 juta pada tahun 1996 menjadi 47,97 pada tahun 1999. Dengan kata  lain, presentase penduduk miskin meningkat dari 17,47 persen menjadi 23,43 persen pada periode sama yaitu 1996-1999.[1]
            Sepuluh tahun sudah berlalu sejak krisis moneter Oktober 1998 melanda bangsa ini, tetapi krisis belum juga berlalu. Badan Pusat Statistik secara resmi menerbitkan artikel dengan judul “Tingkat Kemiskinan di Indonesia Tahun 2005-2006“ yang mengatakan:

Jumlah penduduk Indonesia yang miskin (penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan) pada bulan Maret 2006 sebesar 39,05 juta jiwa (17,75 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Februari 2005 yang berjumlah 35,10 juta (15,97 persen), berarti jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta.  Presentase kemiskinan antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan pada bulan Maret 2006, sebagian besar (63,41 persen) penduduk miskin berada di wilayah pedesaan[2].
           
            Berkaitan dengan hal di atas, timbullah kerinduan dan harapan penulis yaitu:  saatnya kini Lembaga Pelayanan Kristen juga harus proaktif mengambil bagian dalam memulihkan keadaan negara ini dan ikut serta dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya (jasmani dan rohani). Karena hal ini bukan semata tugas pemerintah, tetapi Lembaga Pelayanan Kristen sebagai bagian dari bangsa ini juga harus berperan aktif di dalamnya.
            Jadi selayaknyalah Lembaga Pelayanan Kristen dapat menerapkan prinsip:
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab pada nabi (Matius 22:37-40)

            Artinya kehadiran Lembaga Pelayanan Kristiani mampu memenuhi harapan Tuhan Yesus yaitu memberi makan kepada mereka yang lapar, memberi pakaian kepada mereka yang telanjang, memberikan tumpangan kepada mereka yang membutuhkan tumpangan dan mengunjungi mereka yang dipenjara - kerena “sesungguhnya segala sesuatu yang kami lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku“ (Matius 25:40)
            Berdasarkan masalah dan krisis yang sedang dialami bangsa Indonesia, maka sudah selayaknya Lembaga Pelayanan Kristen yang ada mampu menjadi saksi dengan menghadirkan pelayanan yang konstektual sesuai dengan situasi yang mengharuskannya.
           


1.2.  Rumusan Masalah

Setelah memperhatikan keadaan bangsa Indonesia sekarang ini, maka penulis ingin memaparkan:
1.      Peran dan pelayanan apa saja yang harus di lakukan oleh lembaga pelayanan kristen dalam membantu mengentaskan kemiskinan dan ketertinggalan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat pedesaan dan langkah-langkah apa yang akan ditempuh untuk mempersempit kesenjangan yang terdapat antara masyarakat kota dan masyarakat pedesaan.
2.      Sejauh mana pendekatan prinsip-prinsip teologis dapat diterapkan dalam menyelesaikan problem masyarakat pedesaan?

1.3.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulis dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1.      Memberikan dasar Alkitabiah kepada lembaga pelayanan kristiani di Indonesia tentang peranannya sebagai umat Allah dalam membantu mengatasi problem masyarakat pedesaan.
2.      Memberikan wawasan dan sumbangsih kepada lembaga pelayanan Kristen untuk tanggap terhadap krisis yang sedang melanda bangsa ini khususnya dalam menangani kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat pedesaan.


1.4.  Pembatasan Masalah
Melihat cukup banyak dan luasnya permasalahan yang berkait pelayanan pedesaan, maka di dalam penulisan ini penulis akan membatasinya dalam hal bagaimana lembaga pelayanan kristen mengambil peran dalam penanggulangan krisis kemiskinan di wilayah pedesaan khususnya dalam hal peningkatan sumber daya manusia, dengan menyiapkan tenaga-tenaga terampil, terlatih untuk membangun dan memberdayakan masyarakatnya dalam hal jasmani dan rohani. Karena dengan meningkatnya kualitas sumber daya manusia diharapkan dapat merubah semua sendi kehidupan masyarakat pedesaan.

1.5.  Metode Penulisan

Penelitian dan pengumpulan data-data yang diperlukan dalam tesis ini dilakukan berdasarkan kajian pustaka, penelitian langsung di lokasi dan dari nara sumber yang bisa dipertanggung jawabkan keakuratannya.

1.6 Sistematika Penulisan
Dalam penulisan tesis ini penulis membuat sistematika penulisan dalam bab-bab sebagai berikut:
Bab I, penulis akan menyajikan bahasan antara lain: alasan pemilihan judul, rumusan masalah, tujuan penulisan, batasan masalah, metode penulisan, dan sistematika penulisan dari tesis ini.
Bab II, penulis akan menyajikan berbagai pengertian dan potret pedesaan dan permasalahan yang dihadapai masayarakatnya,  dari segi jasmani dan rohani.
Bab III, penulis akan membahas tinjauan Alkitab tentang orang miskin, sejarah gereja dalam melayani orang miskin dan pelayanan holistik Lembaga Pelayanan Kristiani, bagaimana pelayanannya, dasar-dasar pelayanan serta tujuan pelayanan. Dan menganalisa secara umum strategi pelayanan lembaga kristen yang sudah ada.
Bab IV, penulis akan menjabarkan beberapa strategi untuk membantu lembaga pelayanan kristen dalam menjangkau, membangun dan meningkatkan taraf kehidupan masyarakat pedesaan.
Bab V, terdiri dari dua sub, yang pertama berisi kesimpulan dari penulisan, sedangkan sub bab kedua berisi saran-saran yang memuat pertimbangan penulis.


[1] Anonimus, “Perkembangan Tingkat Kemiskinan di Indonesia, 1996-2005,” Berita Resmi Statistik, No.47/IX/1 Sepetember 2006, 2 (www.bps.go.id/releases/files/kemiskinan-01 sep06.pdf.)
[2] Anonimus, “Perkembangan Tingkat Kemiskinan”, 1.

13 Maret 2014

Contoh SKIPSI 3



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kejadian 2 dan 3) maka Allah memberikan janji penyelamatan dengan tujuan yang terpenting yaitu untuk membebaskan manusia dari dosa (Kejadian 3:15; Matius 1:21; Galatia 4:4; 1 Timotius 2:5) dan janji penyelamatan-Nya itu ditopang dengan janji berkat-Nya, serta meneguhkan umat-Nya sebagai alat berkat-Nya bagi dunia (Kejadian 12:1-3; Yesaya 49:6) ini menunjukkan bahwa Allah berdaulat atas ciptaan-Nya, dan juga berdaulat atas keselamatan.”[1] Penyelamatan Allah terus dinyatakan dengan memberikan janji kepada Abraham sampai keturunannya bahwa Allah akan membuat Abraham menjadi bangsa yang besar dan akan memberkati kemanapun pergi. Penyelamatan Allah juga dinyatakan melalui pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Allah menginginkan setiap umat-Nya memperoleh keselamatan dari pada-Nya, dan Allah juga melibatkan umat-Nya yang sudah diselamatkan untuk membagikan keselamatan itu bagi manusia yang belum diselamatkan.
Sesuai dengan perintah  yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya pada waktu akan naik ke sorga yaitu “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukaan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Matius 28:19-20). “Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus ini diperuntukkan, agar semua orang percaya pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk bukan merupakan suatu tantangan, melainkan suatu perintah, amanat ini merupakan suatu tanggung jawab yang harus dipikul.”[2] “Setiap orang percaya mengemban amanat untuk membaktikan diri dalam membuat Injil menjadi perhatian seluruh umat manusia, ini merupakan tanggung jawab yang tidak dapat diabaikan.”[3] Penginjilan itu lebih dari sekedar metode, penginjilan adalah sebuah berita Keselamatan. Berita tentang kasih Allah, tentang dosa manusia, tentang kematian Kristus, tentang penguburan-Nya, dan kebangkitan-Nya. Penginjilan adalah berita tentang pengampunan dosa dari Allah, yang menuntut suatu tanggapan menerima Injil itu dengan iman, lalu menjadi murid Yesus.[4] Penginjilan bukan hanya menyampaikan kabar baik dengan penuh kesetiaan tapi juga menuntut keberhasilan membawa jiwa-jiwa baru bagi Tuhan.
 Dalam menjalankan penginjilan ke seluruh dunia, banyak tantangan yang harus dihadapi seperti bahasa, adat-istiadat, politis, dan sistem kepercayaan dalam masyarakat. Tantangan ini sering menjadi penghambat dalam memberitakan Injil.  Melihat permasalahan tersebut dibutuhkan model penginjilan yang sesuai dengan kehidupan masyarakat yang ada. “Injil Kristus harus dibawa dan diberitakan kepada manusia dalam keadaan yang konkrit sebagaimana adanya, karena setiap orang mempunyai pola dan adat istiadat dalam budayanya masing-masing.[5]
Di Indonesia penginjilan itu dilakukan dengan berbagai cara misalnya: mengadakan kebaktian kebangunan rohani di gereja, stadion, sekolah-sekolah, lembaga-lembaga rohani atau fasilitas umum. Cara yang lain yang digunakan adalah membagikan traktat, pemutaran film Tuhan Yesus yang sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, selain itu pelayanan sosial juga digunakan untuk tujuan penginjilan. Pelayanan ini memang sering berhasil, namun tidak maksimal. Misalnya kebaktian kebangunan rohani orang yang hadir hanya menikmati lagu-lagu pujian yang dinyanyikan dan khotbah-khotbah yang indah namun tidak mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Kristus. Pembagian traktat juga kurang berhasil, karena kebanyakan dari traktat tersebut diterjemahkan dari bahasa Inggris yang tidak sesuai dengan konteks lokal.[6]
 Seorang penginjil sering mengalami kesulitan dalam menyampaikan Injil karena hanya mengandalkan pengetahuan dan keberanian tanpa memiliki model penginjilan yang tepat. Seorang penginjil harus dituntut memilki kemampuan dalam menyampaikan berita Injil dan harus memiliki model penginjilan yang baik dan mudah diterima oleh orang atau masyarakat yang sedang dilayani. “Mengkomunikasikan Injil membutuhkan model tepat guna. Suatu model yang dapat dijadikan pedoman baik tentang urutan inti berita, bobot dan kesesuaian berita, cara pendekatan dan penyampaian berita.”[7]
 Melihat permasalahan tersebut, maka dibutuhkan model penginjilan yang tepat yang mudah diterima oleh masyarakat. Penulis tertarik mengkaji model penginjilan Yesus dalam Injil Matius, kajian ini akan dituangkan dalam skripsi dengan judul  “MODEL PENGINJILAN YESUS DITINJAU DARI INJIL MATIUS DAN PENERAPANNYA PADA MASA KINI”.

B. Rumusana Masalah
            Untuk memahami model penginjilan Yesus menurut Injil Matius, maka penulis merumuskan pokok-pokok permasalahan dalam penulisan ini yaitu sebagai berikut:
1.        Bagaimanakah ajaran Alkitab tentang penginjilan?
2.        Bagaimanakah model penginjilan Yesus menurut Injil Matius?
3.        Bagaimanakah penerapan model penginjilan Yesus berdasarkan Injil Matius pada masa kini?

C. Tujuan Penelitian
            Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk:
1.        Menjelaskan ajaran Alkitab tentang penginjilan.
2.        Menjelaskan model penginjilan Yesus menurut Injil Matius.
3.        Menguraikan penerapan model penginjilan Yesus berdasarkan Injil Matius pada masa kini.

D. Ruang Lingkup Penelitian
            Ruang lingkup penelitian ini hanya dibatasi pada model penginjilan Yesus menurut Injil Matius dan penerapannya pada masa kini. Pembatasan ini dilakukan karena penulis ingin berfokus pada model penginjilan Yesus menurut Injil Matius dan penerapannya pada masa kini.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis, melalui penelitian ini penulis lebih mengetahui dan memahami model penginjilan Yesus menurut Injil Matius dan dapat menerapkannya ketika masuk dalam pelayanan.
2. Bagi pemberita Injil, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan petunjuk praktis bagi seorang penginjil dalam menjalankan penginjilan.

F. Metode Penelitian
            Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kepustakaan (library research). Jadi tinjauan pustaka memaparkan apakah yang sudah dikerjakan dan ditulis oleh penulis lain sebelumnya, menguraikan teori dan konsep berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti untuk memperoleh kesimpulan atau jawaban sementara dari masalah tersebut. Tinjauan pustaka memberikan tuntutan untuk memperoleh wawasan keilmuan berkaitan dengan masalah yang diteliti.”[8]
            Sumber pustaka yang digunakan adalah menggunakan dua sumber yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer yaitu Alkitab yang menjadi tolak ukur penginjilan, kususnya Injil Matius dalam meninjau dan mengkaji tentang model penginjilan Yesus dan penerapannya pada masa kini, sedangkan sumber sekunder yaitu buku-buku teologi yang dapat membantu dalam pembahasan ini, jurnal-jurnal teologi yang berkaitan dengan penginjilan, artikel-artikel yang dapat mendukung dalam penelitian.

G. Penegasan Istilah
1. Model adalah pola dari segala sesuatu yang akan dibuat; contoh dari segala sesuatu yang akan dibuat.”[9] Jadi model adalah pola atau contoh dari segala sesuatu yang akan dibuat.
2. Penginjilan atau evangelism, berasal dari kata dalam bahasa Yunani yakni “Euangelion” yang berarti good news atau kabar baik. Kabar baik yang dimaksud adalah Injil, The Gospel, yang berisi berita keselamatan, berita pengampunan, berita perdamaian, dan berita pengudusan bagi orang berdosa. Kabar baik adalah anugerah yang dapat diperoleh melalui Yesus Kristus, dan dengan iman kepada-Nya orang berdosa mendapatkan hidup kekal.”[10] Jadi penginjilan adalah menyampaikan kabar baik atau berita keselamatan mengenai kematian dan kebangkitan Yesus Kristus bagi orang berdosa.

H. Sistematika Penulisan
            Sistematika penulisan skripsi ini dapat disusun sebagai berikut:
            Bab pertama, akan dipaparkan tentang pendahuluan yang meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, ruang lingkup penelitian, metode penelitian, penegasan istilah, sistematika penulisan.
            Bab kedua, akan dipaparkan tentang dasar-dasar Alkitab tentang penginjilan yaitu pandangan Perjanjian Lama dan pandangan Perjanjian Baru.
            Bab ketiga, akan dipaparkan tentang ekposisi model penginjilan Yesus berdasarkan Injil Matius.
            Bab keempat, akan dipaparkan tentang penerapan model penginjilan Yesus menurut Injil Matius pada masa kini.
            Bab kelima, akan ditutup dengan kesimpulan dan saran sebagai hasil kajian dari skripsi ini.


[1]  Y. Tomatala, Penginjilan Masa Kini (Malang: Gandum Mas, 2004) 8.
[2]  Murray W. Downey, Cara-cara Memenangkan Jiwa (Bandung: Kalam Hidup, 1957) 5.
[3]  J. I. Packer, Penginjilan Dan Kedaulatan Allah Evangelism And The Sovereignty Of God (Surabaya: Momentum, 2003) 16.
[4]  Billy Graham, Berita Injil Standar Alkitabiah Bagi Penginjil (Bandung: Lembaga Literatur Baptis & Yayasan Andi, 2002) 17.
[5]  H. Venema, Injil Untuk Semua Orang, Pembimbing ke Dalam Ilmu Misiologi, Jilid I (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1997) 32.
[6]  Makmur Halim, Model-model Penginjilan Yesus Suatu Penerapan Masa Kini (Malang: Gandum Mas, 2003) 21.
[7]  D.W. Ellis, Metode Penginjilan (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2005) 6.
[8] Sunarto, Materi Pembelajaran Metodologi Penelitian (Cianjur: STT SAPPI, 2011) 34.
[9]  Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Gitamedia Press, tnp. thn) 535.
[10] Halim, Model-model Penginjilan Yesus Suatu Penerapan Masa Kini, 25.

KUMPULAN KOTBAH DAN PUJIAN PENYEMBAHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA

  LINK KUMPULAN KOTBAH / RENUNGAN FIRMAN TUHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA (PAS)   1.        HIDUP YANG SUDAH DIBAHARUI https://www.youtu...