Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

1 November 2012

TUGAS RESENSI BUKU FILSAFAT

Judul : Filsafat Agama
Penulis : Magdalena Pranata Santoso
(Ilustrasi oleh Yessi Mutiara)
Penerbit : Graha ilmu, 2009.
Tebal : 133 halaman
Setelah membaca keseluruhan buku ini saya berpendapat bahwa melalui
buku ini penulis begitu ingin meyakinkan para mahasiswa Kristen bahwa
diantara seluruh agama besar yang ada di Indonesia, agama Kristenlah
yang paling bisa diterima sebagai agama yang benar. Penulis buku ini
sepertinya memang sengaja menulis buku ini sebagai buku acuan untuk
mengajar filsafat agama kepada mahasiswa Kristen sebab sejak mulai
dari halaman 1 sampai 5 penulis memaparkan tentang misi kampus
Kristen, misi pelaksanaan mata kuliah filsafat agama serta tujuan
perkulihan dan disiplin kelas. Selain itu penulis juga menggunakan
bahasa yang cukup rumit untuk dimengerti oleh kaum awam. Mulai dari
halaman awal kita akan menemukan beberapa kata rumit yang hanya bisa
dimengerti oleh kaum terpelajar. Juga dalam halaman 1 sampai 5 jelas
ternulis bahwa mahasiswa menjadi tujuan pokok dari penulisan buku
ini.
Bab satu dalam buku ini cukup menarik sebab sebelum masuk dalam
penjelasan yang agak rumit penulis menstimulasi mahasiswa untuk
berpikir dengan mengajukan beberapa pertanyaan penting yang secara
sadar atau tidak pertanyaan-pertanyaan ini sering muncul dalam pikiran
manusia sekalipun hanya sebagian orang yang benar-benar berusaha
mencari jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut
(halaman 10). Dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan tersebut pada
awal bab ini membuat kita lebih penasaran untuk segera membuka
lembar-lembar selanjutnya dari buku ini karena berharap segera
menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dan benar pada
halaman-halaman selanjutnya dari buku ini kita bisa membaca dengan
jelas tentang jawaban yang kita harapkan. Penulis memaparkan dengan
jelas jawaban atas pertanyaan tersebut dan disertai dengan beberapa
argumen yang menunjang keabsolutan jawabannya (halaman 12-16).
Buku ini juga memaparkan secara lengkap tentang bukti keberadaan
Allah. Untuk membuktikan tentang keberadaan Allah secara rasional,
penulis buku ini menulis beberapa argumentasi dengan pendekatan
induktif yang dikemukakan oleh para filosofi seperti argumentasi
ontologis (oleh Anselmus, Descartes, Samuel Clerke), argumentasi
cosmologis, argumentasi teleologis (oleh Thomas Aquinas), argumentasi
moral (oleh Immanuel Kant) dan argumentasi historis atau etnologis
(halaman 12-16). Argumen-argumen ini sungguh mampu menjawab sebagian
pergumulan rasional manusia. Sekalipun mengemukakan beberapa
argumentasi tersebut tetapi penulis tetap mengajak pembaca untuk
kembali kepada iman dengan menjelaskan dalam bentuk refleksi bahwa
argumentasi-argumentasi tersebut hanya merupakan konfirmasi dari sisi
rasional sebab fakta kebenaran tentang keberadaan Allah yang dapat
diandalakan oleh manusia adalah jikalau Allah sendiri menyatakan
Diri-Nya.
Buku ini juga sangat menambah wawasan kita tentang agama-agama besar
yang banyak dianut di Indonesia dan juga sedikit pengetahuan tentang
agama Yahudi. Dalam buku ini menjelaskan secara singkat tentang latar
belakang lahirnya agama-agama tersebut, konsep keselamatannya, kitab
yang dipakai, tokoh penting sebagai pelopor agama tersebut, serta
prinsip utama doktrinya (halaman 38-56).
Banyak hal baik yang tertuang di dalam buku ini. Namun, disisi
kekurangannya penulis kurang selektif dalam memilih ilustrasi yang
melengkapi setiap judul di setiap bab dalam buku ini. Ilustrasi
gambar seharusnya berpadanan dengan judul, tetapi dalam buku ini ada
beberapa ilustrasi yang dinilai kurang pas dengan judulnya seperti
ilustrasi dalam bab 1 (halaman 9). Bab tersebut berjudul 'Filsafat
Agama' tetap gambar ilustrasinya adalah gambar kedua tangan yang
menggenggam dunia. Saya menilai ini kurang tepat. Mungkin ilustrasi
tersebut bisa diganti dengan gambar otak manusia yang didalam otak itu
ada gambar-gambar rumah ibadah yang mewakili agama-agama yang ada.
Dalam bab 4 juga judulnya adalah 'Agama Kristen' tetapi ilustrasi
gambar yang dipakai adalah balon lampu (tanpa sinar) sekalipun
ditambahi dengan kalimat Firman Tuhan yang tidak lengkap 'Your
word......light for my path'. Gambar ini sama sekali tidak menjadi
lambang agama Kristen, juga tidak ada hubungannya dengan kata-kata
Firman yang dikutip. Firman Allah sangat tidak tepat jika
diilustrasikan seperti balon lampu kecil yang sinarnya sangat
terbatas.
Perlu juga diperhatikan beberapa hal penting khususnya dalam proses
pengeditan. Dalam buku ini ditemukan beberapa kekurangan, yang
sekalipun terlihat kecil tetapi perlu diperhatikan untuk penyempurnaan
karya tulis selanjutnya. Seperti yang berada dalam halaman 29, kata
'sesungguhnya' ditulis tidak lengkap (kurang satu huruf) sehinggah
menjadi 'sesunguhnya', dalam halaman 105 kata 'mencatat' ditulis tidak
lengkap sehinggah menjadi 'mencata'. Kekeliruan serupa juga terdapat
di halaman 108, kata 'murid' ditulis tidak lengkap sehinggah menjadi
'muri'. Dalam halaman 9 juga terjadi pengulangan kalimat pada
penjelasan dalam poin 3 tentang 'manusia terhilang dalam hubungan
dengan dirinya sendiri'. Penulis memenggal poin tiga ini menjadi 6
bagian. Pada bagian ke dua penulis menjelaskan 'manusia mengalami
kematian jasmani. Hidup berakhir di pemakaman.' Tetapi pada bagian
yang ke enam penulis juga memakai kalimat yang sama persis yaitu
'manusia mengalami kematian jasmani. Hidup berakhir di pemakaman.'
Tapi tentunya kekeliruan-kekeliruan kecil ini tidak mengurangi nilai
penting yang dimaksudkan dalam buku ini dan tidak mengurangi
kelayakkan buku ini untuk dibaca.
Sekalipun buku ini berjudul 'Filsafat Agama' tetapi sesungguhnya buku
ini lebih banyak membahas tentang agama Kristen. Mulai dari halaman 60
sampai halaman 126 penulis hanya membahas tentang Kekristenan. Dan
acuan yang dipakai sebagian besar adalah Alkitab. Tentu saja sangat
dimaklumi karena penulis memang bertujuan menulis buku ini untuk dosen
dan mahasiswa yang berada di kampus Kristen. Penjelasan tentang
dasar-dasar Kekristen cukup lengkap dalam buku ini tapi perlu ada
sedikit penambahan tentang penjelasan mengenai 'iman' yang ada dalam
halaman 123. Disitu ditulis ada dua macam pegertian iman Kristen yaitu
'iman yang menyelamatkan' (iman awal kita percaya pada Yesus) dan
'iman dalam kehidupan sehari-hari' (yang membawa perubahan hidup
dengan menghasilkan buah-buah Roh dan membuat orang percaya bertahan
dalam penderitaan). Tetapi sesungguhnya dalam Alkitab ada 4 jenis
iman, selain dua jenis yang dibahas dalam buku ini, ada juga 'karunia
iman' yaitu iman yang diberikan Tuhan kepada orang-orang khusus
sehinggah perkataannya pasti terjadi (seperti Elia yang berkata hujan
tidak akan turun di Israel kecuali dia yang mengatakan) dan juga iman
yang aktif yang bisa dimiliki oleh semua orang percaya untuk
mendemonstrasikan mujizat Tuhan.
Sekian banyak hal yang ditulis dalam buku ini dan bagi saya buku ini
layak dibaca oleh setiap dosen dan mahasiswa Kristen.
Catatan:
• Terima kasih untuk kerja kerasnya, Anda sudah melakukan resensi buku
dengan baik, saya percaya dengan membaca buku ini wawasan Anda akan
semakin diperluas. Saya memberi nilai: 98 (A)

RESENSI BUKU FILSAFAT DAN IMAN KRISTEN

Judul Buku : FILSAFAT DAN IMAN KRISTEN
Pengarang : Colin Brown
Penterjemah : Lena Suryana dan Sutjipto Subeno
Koreksi Peterjemah : Padji Lestari dan Sutjipto Subeno
Editor : Robby Moningka
Cetakan : ke- 5
Tebal : 232 halaman
Ukuran : 14 cm

Filsafat dan iman Kristen, sungguh suatu hal yang bertolak belakang
dalam mencari yang namanya kebenaran. Dalam keadaannya sering terjadi
perbedaan jawaban satu samalain, sehingga terpecah-pecah akan
pemahaman satu dengan yang lain. Karena mereka berfikir dengan rasio,
yang tidak akan terpecahkan, hanya dengan iman maka itu akan
terpecahkan. Sedangkan Alkitab adalah buku kebenaran yang tidak di
ragukan lagi, oleh karena itu filsafat dan iman Kristen itu suatu yang
bertolak belakang sekali. Dan ketika orang-orang percaya berhasil
meyakinkan beberapa filsuf, hal itu lebih sering mereka tempuh dengan
mengorbankan dan mengkompromikan iman.
Buku ini menarik untuk dibaca karena banyak sejarah-sejarah tentang
filsuf terkenal. Buku ini juga mudah untuk dicerna karena memiliki
bahasa yang sederhana dan dapat dimengerti untuk kalangan mahasiswa
yang masih baru belajar. Di masa gereja yang mula-mula terdapat
orang-orang seperti Yustinus Martir dan Clement dari Aleksandria yang
berusaha meyakinkan para pembacanya bahwa banyak orang kafir yang
telah dipimpin kepada agama yang benar melalui filsafat, dan mereka
mengatakan bahwa filsafat bagi orang-orang Yunani kuno semacam
Perjanjian Lama bagi orang-orang Yahudi.
Meskipun buku ini memiliki empat ratus limapuluh filsuf yang
berpendapat namun saat kita memiliki dasar Iman dan Alkitab maka
ketika kita membaca buku filsafat ini , kita tidak akan terpengaruh
akan semua pendapat yang diluar iman Kristen. Walaupun terdapat
banyak sekali buku-buku sejarah mengenai filsafat sekuler, beberapa
pendahuluanberharga yang mengantar kepada maslah-masalah teologi
filsafat, begitu sangat langkanya buku-buku yang memaparkan sejarah
filsafat dari sudut pandang yang lebih luas kepada jaman ini dan
hubungannya dengan kekristenan.
Beberapa pendapat filsafat dan iman kristen yang dibaca pada buku
ini. Plato, seorang filsuf Yunani yang mengajarkan bahwa dunia yang
kitalihat dengan mata kita dan yang kita sentuh dengan tubuh kita,
didalam realita sebenarnya hanyalah sebuah dunia bayang-bayang.
Philo, seorang pemikir Yahudi dari Aleksandria, mengadaptasikan ajaran
Plato kedalam Yudaisme. Plotinus mengembangkan ajaran yang kemudian
dikenal sebagai Neo-Platonisme. Ajaranini percaya akan satu yang
tertinggi ( Ultimate One ) yang berada di balik segala pengalaman atau
peristiwa. Aristoteles percaya bahwa pikiran-pikiran berada hanya
sebagaimana yang dinampakan di dalam obyek-obyek individual. Boethius
menulis karyanya yang paling terkenal, on the consolation of
philosophy, yang menggambarkan bagaimana jiwa manusia mampu mengatasi
kesengsaraan serta mencapai suatu visi mengenai Allah melalui
perenungan filsafih.
Tetapi usaha untuk menyingkat perdebatan itu tidak selamanya mudah.
Sekalipun demikian, bagi kebanyakan kita suatu pola yang dapat
diterima oleh pemikir filsafat berikutnya itu bukannya tidak bernilai
sama sekali. Di dalam buku ini kebanyakan menceritakan sejarah yang
dialami filsuf dari abad pertengahan sampai sekarangini, bahkan
membahas tentang pelajaran teologi di akhir tulisan.
Buku ini memiliki tulisan paragraph dan tidak dibuat dalam tulisan
point – perpoint, namun meski begitu hal itu bisa di mengerti oleh
pembaca, dan membuat pembaca lebih banyak berfikir tentang apa yang
telah di paparkan oleh filsuf-filsuf yang ada dalam buku ini.
Sehingga buku ini bermanfaat untuk pengetahuan bagi sipembaca agar
dapat menyeleksi pemikir-pemikir dan gerakan-gerakan itu, yang penting
untuk dibicarakan.
Terkadang saat kita melihat pendapat seorang filsuf, keduanya serupa,
tetapi kadang-kadang tidak serupa. Itu sebuah masalah dalam buku ini.
Tetapi kalau kita melihat secara keseluruhan, kelebihan dari buku ini
dapat mengantar penulis meningkatkan pemikiran bagi dirinya sendiri,
penemuan mengenai betapa banyaknya pemikiran. Kelemahan dari buku ini,
penulis hanya menulis beberapa gerakan, sehingga buku ini tidak
terlalu lengkap membahas siapa pemikir yang mengikuti
gerakan-gerakanlainnya.
Bab satu berisikan zaman abad pertengahan dimana, disitu mulai
lahirnya filsafat kemudian Agustinus dan Gereja mula-mula, filsafat
Yunani, metafisika, Anselm dan argumentasi Ontologis, Thomas Aquinas
yang berisikan lima jalan, doktrin tentang analogi. Kemudian
signifikasi Filsafat Abad Pertengahan yang berisikan dua pendekatan
terhadap kebenaran dalam agama signifikasi historis dari Aquinas.
Bab dua berisikan reformasi sampai abad pencerahan, yang merupakan
tempat kelahiran pemikiran modern, menceritakan para reformator dan
penerusnya yaitu luther, reformasi di luar Jerman dan filsafat dan
para reformator. Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya, Descrates,
Spinoza, Leibiniz, Pascal. Sedangkan empirisme dengan tokoh Locke,
Barkeley, Hume kemudian orang-orang deistis Inggris dan lawan-lawan
mereka, kebangunan teologi natural, deisme skeptic, dan jawaban
terhadap deisme. Pencerahan dan skeptisisme di Eropah dengan
tokoh-tokohnya Rousseau, Voltaire, Lessing, dan kant.
Bab ketiga berisikan gejolak abad kesembilan belas, scleiermacher
dengan kehidupan dan karya-karyanya, pendekatan Schleiermacher serta
ulasan. Hegel dan idealism, berisikan pengertian idealism, pendapat
hegel, dan perkembangan idealism. Kierkegaard berisikan kehidupan dan
karya-karyanya serta kebenaran dan kekeristenan. Atheism dan
Agnotisisme dengan tokoh Feuerbach, Marx dan Materialisme Dialektikal,
Nietzsche, Comte dan positivism, Mill dan Utilitarianisme, Pierce,
James dan Pragmatisme serta Darwin dan evolusi. Kecenderuan teologi
yang berisikan Teologi Liberal, reaksi katolik, keluasan pengetahuan
konsevatif.
Buku ini sangat baik untuk dibaca, dapat menambah pengetahuan dalam
seputaran filsafat dari awal hingga saat ini.

7 Oktober 2012

Janji-Janji yang Terlupakan: Ismail Selayang Pandang dari Alkitab

INSTITUT ALKITAB TIRANUS
Mata Kuliah : Perjumpaan Umat Kristiani dengan Umat Islam
Dosen : Jon Culver, Ph.D.
Tugas : Resensi Buku
Janji-Janji yang Terlupakan: Ismail Selayang Pandang dari Alkitab
Nama : Adrianus
NIM : 09 21 5763


Wawasan Baru
Setelah membaca buku Janji-Janji Yang Terlupakan, wawasan saya
dibukakan dan juga memberi inspirasi baru bagi saya, berikut ini
komentar tentang hal-hal yang saya dapatkan setelah membaca buku ini:
1. Buku ini telah mengubah pandangan saya yang dulunya memiliki
pandangan seperti orang Kristen pada umumnya, melupakan janji-janji
yang diberikan Tuhan kepada Ismail. Sebelum membaca buku ini, saya
memiliki pandangan yang kurang simpati dan menganggap orang-orang
keturunan Ismail adalah orang-orang yang tersesat, pemberontak, musuh
orang Kristen, dan tidak mungkin diselamatkan. Sebagai orang Kristen
saya merasa yang paling benar, namun setelah membaca dan menyimak
pembahasan dalam buku ini, saya menyadari bahwa janji-janji yang
diberikan kepada Ismael dan keturunannya bukanlah janji-janji biasa,
tetapi Allah sendiri yang telah memberikan janji-janji itu melalui
malaikat-Nya. Saya yakin dan percaya lewat janji-janji itu Tuhan
memiliki rencana yang indah buat Ismael dan keturunannya. Jadi janji
itu jangan dianggap sepele atau murahan, tetapi harus dilihat lebih
dalam lagi apa yang menjadi maksud dan rencana Allah dibalik
janji-janji itu bagi keturunan Ismael.

2. Pola pikir saya diubahkan, yang tadinya saya menutup diri, tidak
peduli, menjauhkan diri dan tidak pernah ada inisiatif untuk membangun
dialog dengan saudara sepupu (Islam), karena adanya
prasangka-prasangka buruk terhadap mereka. Buku ini telah menyadarkan
saya, ternyata apa yang saya lakukan selama ini telah melumpuhkan
kesaksian saya sebagai orang Kristen. Prasangka buruk itu telah
membentengi dan memadamkan rasa kasih saya kepada keturunan Ismael
(Islam).

3. Meskipun janji-janji yang diberikan kepada Ismael bukan janji
biasa, tetapi dalam hal ini tetap harus dipahami bahwa janji-janji
yang diberikan kepada Ismael karena Abraham memintanya kepada Tuhan.
Jadi janji itu masih erat kaitannya dengan Abraham sebagai bapak orang
beriman. Selain itu saya juga semakin memahami antara janji yang
diberikan kepada Ismael dan janji yang diberikan kepada Ishak. Ismael
tidak pernah mendapat janji Mesianis, yaitu: olehmu semua kaum akan
mendapat berkat, tetapi Allah telah memilih Ishak dan keturunannya
sebagai pewaris perjanjian itu. Ishak dan Ismael merupakan gambaran
misiologis, Ishak melambangkan orang-orang percaya yang menjadi terang
bagi bangsa-bangsa, sedangkan Ismael melambangkan bangsa-bangsa yang
akan datang kepada terang itu. Sebagai orang yang telah percaya kepada
Tuhan Yesus, maka orang Kristen adalah pewaris perjanjian Mesianis
itu. Orang-orang percaya harus terbeban untuk berdoa supaya semakin
banyak keturunan Ismael yang datang kepada terang itu.

4. Hal lain yang saya dapatkan dari buku ini adalah: bahwa apa yang
manusia rancangkan belum tentu sesuai dengan apa yang Tuhan
rancangkan. Manusia yang berdosa selalu mencari jalannya sendiri yang
pada akhirnya tindakan yang diambil bertolak belakang dengan rencana
Tuhan. Ketika Tuhan mempersiapkan seseorang untuk tujuan-Nya yang
mulia, tentu membutuhkan proses, dan dalam proses inilah Tuhan
membentuk seseorang. Inilah yang dialami Abraham ketika dipersiapkan
menjadi bapak orang-orang beriman, tetapi dalam proses itu Abraham dan
Sara istrinya tidak tekun menantikan penggenapan janji Allah itu.
Akibatnya Sara mencari jalan untuk mendapatkan pewaris bagi suaminya,
hal inilah yang menimbulkan persoalan baru di dalam keluarga Abraham
selanjutnya. Pelajaran yang saya ambil dari kisah ini bahwa ketika
Tuhan membentuk kita pasti melalui suatu proses, apakah dalam proses
itu kita sabar menanti jawaban Tuhan, ataukah mengambil tindakan
sendiri. hal inilah yang sering kali terjadi dalam hidup seseorang
akibatnya, munculah persoalan baru dalam hidupnya.

5. Dengan memahami benar kebenaran-kebanaran tentang jani-janji kepada
Ismael dan keturunannya, maka hal ini merupakan jembatan yang cukup
efektif dipakai untuk menyatakan kasih dan menjangkau saudara-saudara
sepupu (Islam) untuk membawa mereka masuk ke dalam terang Injil.

6. Dengan membaca buku ini kita diingatkan lagi bahwa ladang misi
khususnya di Indonesia begitu terbuka. Hal ini harusnya memberi
gambaran dan masukan bagi gereja dan orang-orang percaya untuk
memberikan waktu yang lebih dalam menjangkau saudara sepupu (Islam).
Kenyataan yang terjadi selama ini gereja-gereja, lembaga misi maupun
orang-orang percaya sedikit sekali memberi perhatian dan tenaga untuk
menjangkau dan membawa keturunan Ismail masuk ke dalam terang Injil.
Semoga dengan membaca buku ini akan memotivasi gereja, lembaga misi
dan orang-orang percaya untuk lebih melihat ke depan bahwa keturunan
Ismail juga membutuhkan keselamatan

Tinjauan Kritis

1. Tujuan buku ini tercapai yaitu memberikan pemahaman kepada
pembacanya bahwa janji-janji yang diberikan kepada Ismael bukanlah
janji-janji biasa, tetapi janji-janji yang berasal dari Allah sendiri,
oleh karena itu janji-janji kepada Ismael dan keturunannya jangan
dianggap remeh. Namun harus dilihat dari sudut pandang Allah bahwa
dibalik semua peristiwa itu Allah juga memiliki rencana bagi Ismael
dan keturunannya.

2. Buku ini mengupas secara tuntas tentang janji-janji kepada Ismael
dan keturunannya dari sudut pandang Alkitab. Bahasanya mudah
dimengerti dan semua fakta tentang janji-janji kepada Ismael tidak
terlepas dari konteks Alkitab dan didukung oleh penelitian.

3. Pada bab 6: untuk apa keturunan Ismael harus menjadi besar? Bagi
saya pokok bahasan ini belum tuntas karena belum ada jawaban yang
memuaskan. Jawaban penulis mengacu pada nubuatan nabi Yesaya 60:1-7,
yang bagi penulis akan digenapi menjelang hari-hari terakhir. Namun
hal ini tidak menjawab pertanyaan tentang mengapa keturunan Ismael
harus menjadi besar.

4. Saya juga belum melihat bagaimana penulis menghubungkan janji-janji
yang diberikan kepada Ismael dan Ishak. Bagaimana kedua janji-janji
ini dipertemukan? Jika hanya mengerti janji-janji yang terlupakan
tanpa mengerti maksud dibalik janji-janji terlupakan itu, bagi saya
ada susuatu yang kurang.

Implikasi Misi terhadap kaum Muslim

1. Jika seorang Muslim membaca buku ini, ada dua kemungkinan yaitu
kemungkinan pertama: mereka bisa saja merasa bahwa merekalah yang
paling benar, buktinya apa yang dibahas dalam buku ini memberi fakta
dan dukungan bahwa mereka juga mendapat janji-janji langsung dari
Allah. Secara tidak langsung buku ini akan mengukuhkan pandangan bahwa
agama merekalah yang paling sempurna. Kemungkinan kedua adalah, pola
pikir mereka tentang orang Kristen akan berubah, pembahasan-pembahasan
dalam buku ini sangat menolong untuk membuka hati keturunan Ismael
(Islam) untuk menyadari bahwa Islam maupun Kristen sama-sama berasal
dari keturunan Abraham dan masing-masing menerima janji dari Allah.
Dengan adanya pemahaman tersebut akan sangat menolong untuk
meminimalkan konflik antara Islam dan Kristen.

2. Buku ini dapat dijadikan sebagai jembatan untuk berdialog dengan
orang-orang Muslim. Melalui pemahaman-pemahaman tentang adanya
persamaan-persamaan antara Ismael dan Ishak, hal ini sangat menolong
untuk menumbuhkan rasa saling percaya, saling menghargai dan
menghormati, serta rasa saling mengasihi. Dengan adanya pemahaman yang
sama bahwa keduanya berasal dari keturunan Abraham dan masing-masing
mendapat janji dari Allah, hal ini akan membuka jalan untuk Injil
bisa disampaikan kepada keturunan Ismael (Islam).

Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam

INSTITUT ALKITAB TIRANUS
Mata Kuliah : Perjumpaan Umat Kristiani dengan Umat Islam
Dosen : Jon Culver, Ph.D.
Tugas : Resensi Buku
Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam
Nama : Adrianus
NIM : 09 21 5763

Buku ini bertujuan memberi gambaran singkat kepada pembaca untuk
melihat dan memahami tentang sejarah perjumpaan antara Gereja dan
Islam.
Tinjauan Kritis
1. Buku ini cukup memberi keterangan tentang sejarah perjumpaan Islam
dan Kristen. Bab pertama dari buku ini memberi penjelasan tentang
sejarah masuknya pengaruh Islam ke dalam kekaisaran Romawi Timur yang
merupakan negara Kristen. Masuknya pengaruh Islam ke dalam kekaisaran
Romawi Timur tidak terlepas dari munculnya perpecahan dalam gereja itu
sendiri. Perselisihan yang hebat antara penganut Nestorian dan
Monofisit mengenai tabiat Ilahi dan tabiat manusiawi di dalam diri
Yesus. Akibat perbedaan ini memunculkan perselisihan antara
orang-orang Nestorian dan orang-orang Monofisit. Pada konsili
Chalcedon pendapat dari Nestorian dan Monofisit di tolak oleh kaisar
Kontantinus dan negara mulai menindak kedua golongan ini. Kesempatan
inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang Islam untuk menarik simpati
dari orang-orang Nestorian dan Monofisit, akhirnya mereka semakin
membenci kaisar dan memandang orang-orang Islam sebagai pembebas.
Walaupun setelah Islam menguasai daerah mereka kedua kelompok ini
tetap di perlakukan sebagai warga kelas dua dan mereka harus menaati
perjanjian-perjanjian yang membatasi hidup mereka.

2. Demikian juga dengan pergumulan antara Kristen dan Islam dalam
bidang politik dan militer, buku ini telah memberikan gambaran yang
cukup, sehingga pembacanya mengerti kondisi politik dan militer pada
abad ketujuh dan kesembilan di mana saat itu sedang terjadi perluasan
Kerajaan Arab. Buku ini juga memberi penjelasan dan membuka wawasan
pembaca tentang sepak terjang nabi Muhammad sebelum wafat serta
hal-hal yang memotivasi orang-orang Arabia untuk menginvasi
daerah-daerah sekitarnya setelah Muhammad wafat. Pada zaman Muhammad
Arabia belum merupakan suatu kesatuan di bidang politik dan religius.
Disemenanjung Arabia sudah tersebar orang-orang Kristen, di gurun
terdapat banyak biara. Banyak orang Arab dan bahkan Muhammad sendiri
mengadakan perjalanan ke Syria dan tentu banyak berkenalan bersentuhan
dengan orang-orang Kristen. Bukti lain bahwa Muhammad banyak
bersentuhan dengan orang Kristen adalah beberapa saudara dari istri
Muhammad adalah orang Kristen. Keterangan ini memberi informasi bahwa
pemikiran orang-orang Arab sebenarnya banyak diresapi oleh
gagasan-gagasan agama Kristen. Namun sayang ke-Kristenan yang dikenal
oleh Muhammad saat itu adalah ke-Kristenan yang mutunya agak merosot.
Mungkin hal inilah yang membuat Muhammad tidak menjadi orang Kristen
tetapi membuat agama sendiri.
Sebelum wafat, Muhammad telah menaklukkan seluruh Arabia ke dalam
agama Islam. Karena kondisi Arabia yang miskin dengan penduduk yang
besar, mendorong mereka untuk mengadakan invasi ke daerah tetangga
mereka. Agama Islam telah menjadi alat pemersatu di antara orang-orang
Arabia dan membuat serangan mereka begitu kuat. Daerah-daerah yang
ditaklukkan diberi pilihan apakah mau masuk Islam atau tetap memeluk
kepercayaannya tetapi dengan persyaratan-persyaratan, misalnya: mereka
harus bayar pajak dan cara hidupnya serba diatur. Hal-hal seperti
inilah yang menyebabkan orang-orang percaya mengalami penurunan.
Kemampuan orang-orang Islam dalam memperluas wilayahnya sangat
fantastik, dalam waktu yang singkat mereka dapat menaklukan
semenanjung Arabia sampai ke Spanyol. Dapat dikatakan bahwa Islam pada
abad ketujuh sampai abad ke sembilan, mereka sangat maju dalam bidang
politik dan militer, dan dapat disimpulkan bahwa kemajuan yang mereka
alami karena agama Islam telah mempersatukan mereka.
Dan sebaliknya pada abad ini ke-Kristenan mengalami kemerosotan baik
dalam bidang politik, kebudayaan dan kegerejaan. Keberadaannya sangat
memprihatinkan, luas wilayah berkurang, kemerosotan moral dan korupsi
merajalela dalam gereja. Karena adanya perlakuan yang kurang baik dari
penguasa Islam kepada orang-orang Kristen yang melakukan ziarah ke
Yerusalem maka Paus Urbanus menyerukan untuk melakukan perang salib.
Hasil perang salib dibidang politik dan militer sebenarnya lebih
bersifat negatif dari pada positif. Perang salib ini telah membawa
dampak yang panjang dalam sejarah Kristen dan Islam. Perang salib ini
telah memperburuk hubungan antara orang Islam dan Kristen dalam jangka
yang panjang. Kepahitan akibat perang salib begitu dalam merusak hati
sehingga untuk memulihkan hubungan antara Kristen dan Islam memerlukan
kesabaran dan waktu yang panjang.
3. Apa yang penulis bahas pada bab 3 tentang kedudukan orang Kristen
di bawah kekuasaan Islam cukup menarik dan memberi masukan-masukan
kepada pembaca mengenai peristiwa apa yang terjadi pada masa
pemerintahan khalifat Arab. Pada masa ini daerah Kristen yang
ditaklukkan oleh orang Islam diperlakukan semakin ketat dengan bebagai
macam ketentuan dan pada masa ini juga kebijakan-kebijakan yang
diambil Khalifat lebih mengarah kepada peng-Islaman. Kedudukan
orang-orang Kristen dibawah kekuasaan Islam mengalami kemerosotan.
Hubungan antara orang Kristen dan Islam terungkap dalam 12 ketentuan
yang harus ditaati secara mutlak; pelanggarannya diganjar hukuman
mati. Walaupun disatu pihak ketentuan ini memperlihatkan toleransi, di
mana orang Kristen diberi kebebasan untuk tetap menyelenggarakan
ibadah, tetapi tetap ada anggapan bahwa agama Kristen lebih rendah
dari agama Islam, bukan itu saja dalam segala hal harus menjadi nyata
bahwa orang Kristen lebih rendah tingkatannya dari orang Muslim baik
dalam berpakaian, rumah dan kenderaan mereka. Satu hal yang sangat
menghambat orang Kristen adalah adanya larangan untuk penginjilan, hal
ini telah merongrong hakekat gereja, karena bagi orang Kristen
mustahil untuk tidak menginjili, larangan ini sangat merugikan pihak
Kristen, demikian juga dengan gereja kehilangan suatu rangsangan
rohani yang vital dan daya tahannya diperlemah. Dalam pemerintahan
kalifat Al-Hakim orang-orang Kristen semakin tidak berdaya, gereja
banyak dibongkar, dan puluhan ribu orang Kristen dipaksa masuk Islam.
Dapat dikatakan bahwa selama masa periode Kalifat ada periode-periode
yang ketat, namun ada juga periode-periode yang penuh dengan
toleransi. Dalam hal ini penulis buku ini berpendapat bahwa
orang-orang Kristen dibawah pemerintahan Kalifah-Kalifah sudah
lumayan. Saya tidak sependapat dengan penulis, alasannya dengan
perlakuan dan pembatasan dalam segala kehidupan, dengan perlakuan
sebagai warga negara kelas dua, gereja harus menyesuaikan diri
terhadap pandangan Islam. Hal ini bukan suatu yang lumayan tetapi
suatu kemunduran dan perlakuan tidak adil bagi orang-orang Kristen.
Jika dikatakan ada toleransi, tetapi toleransi tersebut tetaplah ada
ketentuan-ketentuan yang mengikat, jadi toleransi yang tidak memberi
kebebasan penuh. Demikian juga halnya dengan kedudukan orang-orang
Islam di bawah kekuasaan Kristen dapat dikatakan tidak terlalu ditekan
dan cukup toleran, walaupun harus diakui dibeberapa tempat juga ada
persyaratan-persyaratan yang orang Islam harus ikuti dan bahkan ada
pemaksaan untuk masuk ke agama Kristen. Ke-Kristenan cukup toleran
karena misi utama mereka bukan untuk menaklukan suatu daerah ke dalam
kekristenan, tetapi misi mereka berkaitan dengan alasan ekonomi. Jadi
tidak heran pada zaman Kolonial misi-misi Kristen sering kali
menghadapi tantangan dari pemerintah kolonial itu sendiri. Walaupun
bangsa-bangsa Eropa memiliki identitas Kristen, tetapi di dalamnya
selalu terdapat aliran-aliran yang melawan gereja.
4. Pada bab 4 pemaparan penulis tentang penilaian terhadap Islam
dalam sejarah teologi Kristen. Pemaparan penulis ini cukup memberi
gambaran tentang pandangan-pandangan dan penilaian para teolog Kristen
terhadap agama Islam.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dan disimak oleh orang-orang Kristen
di Indonesia sekarang ini berkaitan dengan pendekatan umat Kristen
terhadap Islam.
1. Salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk pendekatan umat
Kristen kepada umat Islam adalah adanya persamaan-persmaan antara
kedua agama tersebut. Persamaan-persamaan ini perlu diperhatikan
karena dapat dimanfaatkan sebagai pendekatan untuk berdialog dengan
orang-orang Islam. Persamaan-persamaan itu dapat terlihat dalam hal:
sama-sama mempertahankan keesaan Allah, sama-sama mendasarkan diri
atas wahyu, sama-sama mengajarkan bahwa manusia adalah mahluk Allah,
dan sama-sama percaya bahwa pada hari kiamat masing-masing orang harus
mempertanggungjawabkan perbuatannya. Selain itu juga terdapat
tokoh-tokoh yang dikenal dalam dalam Kitab Suci Islam maupun Kitab
Suci Kristen, seperti: Adam, Nuh, Musa, Daud, Malaikat-malaikat,
setan-setan dan terutama Yesus sendiri.
2. Kita juga dapat belajar dari pola-pola pendekatan yang dilakukan
oleh beberapa kelompok teolog, seperti: teolog Nestorian yaitu
Timotius I dan Al-Kindi. Pola yang digunakan oleh Timotius adalah
membangun persahabatan. Sebelum berdialog dengan orang Islam, Timotius
terlebih dahulu membangun hubungan dengan pemerintahan Muslim. Dengan
membangun hubungan yang baik, Timotius sangat dihormati oleh
Khalifah-Khalifah dan hubungan antara mereka cukup akrab. Hubungan
yang baik ini telah membuka jalan bagi Timotius untuk berdialog dengan
para Khalifah. Dalam berdialog pun Timotius tetap menghargai dan tidak
menghina orang Muslim, dia tetap mengakui keberadaan Muhammad.
Demikian juga dengan Al-Kindi dengan membangun hubungan yang akrab
dengan seorang teman Arab yang beragama Muslim menolong dia untuk
menyampaikan ajaran Kristiani dan meluruskan anggapan-anggapan orang
Islam yang salah tentang ke-Kristenan. Pola membangun hubungan sangat
menolong dalam melakukan pendekatan kepada orang-orang Muslim.
3. Demikian juga dengan pola-pola yang digunakan oleh para teolog
gereja timur yang terlalu ekstrin. Pola seperti ini dapat menjadi
penghalang untuk bersaksi di tengah-tengah orang Muslim. Misalnya apa
yang dilakukan Johannes Damascenus salah seorang teolog Gereja Timur
yang tidak ragu-ragu menyerang agama Islam, dia melihat secara umum
bahwa agama Islam tidak lebih daripada suatu bidat Kristen, suatu
cabang Arianisme, yang keliru khususnya kristologi dan harus ditolak,
tanpa bersedia memberi penilaian yang positif terhadap beberapa unsur
dalam agama Islam. Jadi sikap beberapa teolog Gereja Timur dilihat
dari tulisan-tulisannya mereka kurang misioner karena tujuan dari
tulisan-tulisan itu bukannya membuat orang Islam datang kepada Yesus,
tetapi pola-pola yang mereka gunakan adalah menghancurkan Islam yang
dipandang sebagai lawan mereka.
4. Pola-pola pendekatan para teolog Gereja Eropa Barat Abad
Pertengahan penting juga untuk diperhatikan, dan bisa diterapkan dalam
pendekatan kepada orang Islam di Indonesia. Misalnya aliran teologi
skolastik yang berusaha menjawab tantangan dari agama Islam secara
ilmiah. Mereka menganggap begitu penting untuk mempelajari agama
Islam. Salah seorang di antara teolog skolastik adalah Petrus
Venerabilis, Ia melihat bahwa polemik yang dapat dipertanggungjawabkan
barulah bisa dilakukan setelah diadakan penelitian-penelitian yang
mendalam. Jadi sangatlah penting untuk memahami agama Islam dengan
baik sebelum mengusahakan pekabaran Injil kepada orang-orang Islam.
Dengan memahami Islam secara baik, maka kita pun akan belajar untuk
mendengar dan menghormati mereka tanpa ada unsur mempersalahkan. Pola
seperti ini akan memudahkan pendekatan kepada orang Islam.
Hal yang sama juga dilakukan oleh para tokoh reformasi yaitu Luther
dan Calvin, di mana mereka tidak dengan penggunaan kekerasan untuk
melakukan pendekatan kepada orang-orang Islam. Dalam tulisannya Luther
megenai Islam, Luther tidak memandang penganutnya sebagai musuh yang
harus dibasmi (dalam suatu perang salib), melainkan sebagai manusia,
kepada siapa Injil harus dikabarkan. Walaupun Luther tetap menolak
agama Islam. Demikian juga dengan Calvin dalam menghadapi orang-orang
Islam menganjurkan di dalam memberitakan ajaran Kristen harus dengan
sikap lemah-lembut dan mendoakan mereka kepada Allah, agar mereka
bertobat.

Persepsi orang Kristen terhadap Islam dan pengaruhnya terhadap
kesaksian orang kristen
1. Adanya persepsi terhadap nabi Muhammad sebagai pendiri agama Islam
bahwa sebelum mendirikan agama Islam Muhammad telah mengenal agama
Kristen dan tahu mengenai Yesus. Hal ini menimbulkan persepsi orang
kristen bahwa agama Islam adalah agama orang-orang sesat. Agama Islam
adalah suatu sekte dalam ke-Kristenan, suatu aliran sesat dalam
lingkungan Kristen, oleh karena itu pengikut-pengikut aliran sesat ini
harus dihukum. Persepsi demikian telah menutup kesaksian orang
Kristen.
2. Adanya persepsi bahwa agama Islam adalah "pihak lawan" atau musuh
kebenaran dan adanya persepsi bahwa pokok-pokok ajaran dalam Islam
adalah palsu, karena tidak sesuai dengan akal sehat atau pemikiran
yang rasional. Jadi pandangan seperti ini sangat mempengaruhi
kesaksian Kristen kepada orang Islam. Bagaimana mungkin bisa mengasihi
dan melayani orang-orang Muslim kalau orang Kristen masih punya
persepsi seperti itu. Hendaknya orang Kristen memandang orang-orang
Islam sebagai orang-orang berdosa yang sesat, yang dikasihi oleh Allah
dan mereka membutuhkan Injil.

Yesus dalam Qur’an

INSTITUT ALKITAB TIRANUS
Mata Kuliah : Perjumpaan Umat Kristiani dengan Umat Islam
Dosen : Jon Culver, Ph.D.
Tugas : Resensi Buku
Yesus dalam Qur'an
Nama : Adrianus
NIM : 09 21 5763

Buku ini menawarkan kajian baru tentang apa yang Qur'an katakan
mengenai Yesus, dan dibandingkan dengan uraian-uraian yang sama dari
Injil. Buku ini berupaya untuk membantu memberikan penjelasan supaya
beberapa kesalah-pahaman dari kalangan Muslim dan Kristen tentang
Yesus, karena akibat dari kesalapaman ini telah mengarah pada
penghinaan Yesus dan Injil.
Dalam Qur'an Yesus diberi sejumlah gelar kehormatan. Dalam Quran Yesus
dikenal dengan sebutan Isa, Qur'an menyebut nama Isa sebanyak 25 kali.
Selain itu Yesus juga disebut Anak Maryam (Ibnu Maryam), gelar ini
ditambahkan untuk menunjukkan bahwa Yesus juga mengalami kematian
seperti nabi-nabi Tuhan yang lain. Dalam gelar ini Yesus menggunakan
nama ibunya karena, Quran sendiri percaya bahwa Yesus dilahirkan tanpa
seorang ayah, Quran tidak menyebut Yusuf, berbeda dengan Alkitab PL
dan PB yang menyebut Yusuf sebagai ayah angkat Yesus. Dalam hal ini
Quran percaya bahwa Yesus dilahirkan dari seorang perawan, seorang
perempuan yang beriman yang menjaga kesuciannya serta seorang
perempuan yang taat kepada Tuhan dan Tuhan telah memilihnya dari
antara para wanita dunia. Dalam hal ini Quran tidak mengkritik.
Yesus menerima gelar Al-Masih (Kristus) sebanyak 7 kali dalam Quran.
Tidak ada penjelasan tentang gelar ini, kelihatannya gelar ini
memiliki pengertian khusus yaitu ingin menjelaskan bahwa Yesus bukan
Tuhan tetapi hanya seorang rasul Tuhan. sehingga dikatakan telah kafir
orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan adalah Al-Masih, anak Maryam
(5:17; 5:72). Ada beberapa hal yang dilakukan Yesus juga terdapat di
dalam Quran dan adalah eskplisit dalam Injil. Quran juga mengisahkan
Yesus sebagai seorang pengembara atau pergi haji. orang-orang muslim
kemudian menjadikan Yesus model orang naik haji dan contoh bagi pada
sufi, bahkan aliran Ahmadiyah menerapkan pengembaraan Yesus pada
kepercayaan mereka.
Quran juga menyebut Yesus sebagai hamba Tuhan. Yesus juga disebut Nabi
(19:30), Quran memandang nabi sebagai utusan Tuhan yang membawa pesan
khusus. Quran mencatat bahwa kitab Taurat, Zabur, dan Injil adalah
wahyu Tuhan yang dibawah oleh para Nabi, dan pada saat yang sama
muhammad diutus Tuhan untuk membawa Quran yang berbahasa Arab, untuk
membuat orang-orang Arab menjadi masyarakat kitab. Quran juga menyebut
orang-orang Yahudi sebagai ahli kitab, selain itu muhammad juga pernah
menegur orang Yahudi yang tidak mengakui Yesus sebagai seorang Nabi.
Dalam hadis Bukhari dikatakan bahwa Rasululah bersabda Aku adalah
orang yang paling dekat kepada anak Maryam. Antara Yesus dan Aku tidak
ada seorang pun Nabi. Jadi dapat disimpulkan bahwa muhammad pada
intinya mengakui keberadaan Yesus sebagai Nabi. Yesus tidak hanya
dianggap Nabi, tetapi Utusan dan Al-Masih, Tanda bagi seluruh alam.
Quran dan Islam belakangan menyebut Yesus, Ruh Tuhan (Ruh Allah).
Dalam dunia Islam Yesus dihormati sebagai model kesucian dan
kemelaratan.
Quran juga memberi gelar utusan (rasul) kepada Yesus, gelar ini
dipakai 10 kali dalam Quran. Menurut Quran Yesus diutus sebagai
seorang rasul, sama dengan muhammad hanya seorang rasul. Namun Quran
menyebutkan Yesus sebagai nabi dan sekaligus rasul yang memeiliki
kelebihan yaitu Dia memiliki Injil dan bukti-buksti sekaligus lewat
ajaranNya. Lebih jauh Quran menyebutkan bahwa Yesus didukung atau
dikuatkan oleh Ruh Kudus. Jadi dapat dikatakan Quran mengakui pesan
Yesus dan Injil. Quran juga membicarakan tentang Yesus sebagai
perkataan (Logos), Yesus adalah perkataan dari Tuhan, dalam surat
4:171 dikatakan bahwa Al-Masih, Yesus, Anak Maryam hanyalah utusan
Tuhan dan perkataanNya yang dilemparkan kepada Maryam dan Ruh
dariNYa. Quran mencatat bahwa Yesus diberikan dukungan ruh, mulai dari
saat masih dalam ayunan, saat muda, dan saat tumbuh berkembang sebagai
manusia, Ruh suci mendukung Yesus. Dalam surat 4:171 Yesus dikatakan
sebagai ruh dari Tuhan. Masih banyak gelar-selar yang lain yang
diberikan Quran kepada Yesus seperti Saksi (syahid), Rahmat (rahma),
Terkenal (wajih). Dapat disimpulkan bahwa Quran sangat menghargai dan
memberi penghormatan kepada Yesus.
Sama dengan Injil, Quran juga mencatat tentang Yohanes pembatis anak
Zakaria, namun Quran memberikan penjelasan yang samar-samar tidak
seakurat yang dituliskan oleh Injil, kemungkinan besar apa yang
ditulis dalam Quran cenderung dipengaruhi oleh cerita orang-orang
kristen yang bersentuhan dengan orang-orang muslim. Tetapai menarik
kisah Yohanes dalam Quran tidak terlepas mariam ibu Yesus. Quran
memberi penghargaan khusus kepada maryam karena menjadi ibu Yesus.
Belakangan Islam memandang Maryam sebagai seorang yang tak berdosa,
sama dengan para nabi. Namun pada bagian lain Quran menolak untuk
menyebut maryam sebagai ibu Tuhan hal ini juga terjadi pada pengikut
kristen Nestorius yang menolak menyebut Maryam sebagai ibu Tuhan.
Demikian juga dengan Nabi Muhammad yang memiliki rasa penghormatan
yang mendalam kepada Maryam sebagai ibu Yesus.
Quran juga menguraikan tentang kelahiran Yesus melalui Maryam. Quran
percaya bahwa Yesus dilahirkan tanpa ayah, dan pembetukannya melalui
peniupan roh Tuhan. Pada intinya Quran mencatat tentang kelahiran
Yesus sebagai yang berasal dari Allah, meskipun dalam proses
kelahirannya ada yang sejalan dengan Injil tetapi lebih banyak yang
bertolak belakang dengan apa yang dituliskan dalan Injil. Selain
kelahiran Yesus, Quran juga mengkonfirmasikan pekerjaan-pekerjaan
Yesus. Quran mencatat bahwa Yesus melakukan mujizat-mujizat sebagai
tanda kenabiannya, dan Quran menyaksikan bahwa semua mujizat yang
dilakukan Yesus adalah atas kehendak Allah. Beberapa mujizat yang
dilakukan Yesus dan ditulis dalam Quran, juga ditulis dalam Injil,
seperti menyembuhkan orang buta, menyembuhkan orang sakit,
membangkitkan orang mati. Quran hanya memaparkan tentang
penyembuhan-penyembuhan tetapi tidak menceritakan tentang
mijizat-mujizat seperti yang dipaparkan di dalam Injil. Namun mujizat
tentang penciptaan burung yang bisa terbang dari tanah, ini tidak di
dapati di dalam Injil. Mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus masih
menjadi perdebatan diantara orang Islam, ada yang percaya namun ada
yang menafsirkan dalam arti yang lain.
Demikian juga dengan kata-kata Yesus, sebagian kata-kataNya yang
aktual juga dikisahkan di dalam Quran meskipun dengan gaya yang agak
berlainan dengan yang terdapat di dalam Injil. Yang menarik banyak
kata-kata dalam Quran yang merujuk kepada kata-kata yang ada di dalam
Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru baik dari segi
ajaran agama maupun segi etika. Namun, ada juga yang sangat bertolah
belakang dengan Injil. Misalnya, pernyataan Quran bahwa apa yang Yesus
janjikan tentang penghibur ditafsirkan bahwa yang dimaksud adalah
Muhammad, tetapi inipun masih menjadi perdebatan diantara para
penafsir Islam sendiri.
Kematian Yesus pun menjadi perdebatan antara Islam dan Kristen
sepanjang sejarah. Dikalangan penafsir Islam sendiri terdapat
perbedaan tentang kematian Yesus, mereka pada umumnya berpendapat
bahwa Yesus tidak mengalami penyiksaan karena Tuhan telah menggantinya
dengan orang yang menyerupai Yesus, sementara Yesus sendiri diangkat
oleh Tuhan ke sorga. Namun Quran sendiri dalam ayat-ayatnya tidak
mengatakan bahwa Yesus disiksa dalam keadaan tubuhnya yang rusak dan
juga Quran tidak menyatakan bahwa ada seorang penggantinya. Jelas hal
ini bertentangan dengan Quran sendiri, karena setiap tambahan
keterangan pada ayat Quran tidak dibenarkan. Kelihatannya sebagian
penulis Muslim telah mencoba mengangkat masalah kematian Yesus
melampaui batas-batas interprestasi. Meskipun Quran tidak menuliskan
tetapi Islam tradisional percaya bahwa Yesus telah diangkat ke sorga
bersama jasadnya, dan juga dalam tradisi muslim muncul pendapat bahwa
Yesus akan datang kembali untuk memperbaiki segala kerusakan dan
memerintah sebagai seorang penguasa yang adil. demikian juga Bukhari
dalam haditsnya menyebutkan bahwa putra maryam akan turun
ditengah-tengah masyarakat sebagai hakim yang adil.
Pernyataan tentang Yesus sebagai anak Tuhan, Quran menolak pernyataan
ini. Pada dasarnya Quran menegaskan keesaan Allah bahwa Tuhan tidak
mungkin melahirkan anak seperti manusia, Tuhan tidak dapat disamakan
dengan yang lain. Quran menolak keras pandangan bahwa Tuhan memiliki
anak. Dengan kata lain Quran menegaskan bahwa Yesus bukanlah Tuhan
tambahan yang berkedudukan sebagai anak. Karena bagi kaum muslim
kepercayaan akan adanya anak Tuhan merupakan sebuah penghinaan
terhadap keesaan Tuhan. Demikian juga dengan Trinitas juga Quran
menolak, kaum muslim memahami trinitas sebagai tiga Allah. Jika
demikian halnya pandangan tiga Alllah sangat tercela di dalam ajaran
kristen, karena kristen mengklaim dirinya sebagai monoteis. Untuk
memahami trinitas kaum muslim hendaknya melihat atau memahami trinitas
dalam ajaran kristen.
Quran juga memberi penghargaan yang tinggi kepada kitab suci Taurat
dan Injil dan ini disebutkan berkali-kali. Dijelaskan bahwa Quran
menjelaskan apa yang ada sebelumnya dan tidak menghapus kitab
sebelumnya tetapi mengukuhkan dan sebagai batu uji kebenaran yang
memperjelas apa yang dimaksudkan kitab-kitab sebelumnya. Jika demikian
Quran sendiri memberi kesaksian bahwa jika ada kesulitan mengenai isi
Quran maka kitab-kitab sebelumnya dapat dijadikan rujukan (surat
10:94). Quran juga tidak memberi keterangan bahwa Injil yang menjadi
pegangan orang-orang kristen berbeda dengan Injil yang dimaksud Quran.
Zaman modern ini muncul polemik yang menyalakan orang-orang kristen
karena merubah Injil, tetapi ada sejumlah komentator muslim yang
berpendapat bahwa Injil tetap dalam keadaannya yang asli, hanya
tafsirannya yang dikelirukan, bukan teksnya. Demikian juga dengan
orang-orang Kristen dimuliahkan dalam beberapa ayat Quran karena Quran
menempatkan orang-orang Kristen lebih dekat persahabatannya dengan
kaum muslim.

Tinjauan Kritis
1. Tujuan buku ini tercapai dimana dijelaskan bagaimana pandangan
Islam tentang Isa yang pada intinya dikalangan Islam sendiri sangat
menghargai keberadaan-Nya. Melalui buku ini para pembaca dapat
memiliki pemahaman yang baru untuk menghindari kesalapahaman yang
terjadi selama ini antara Islam dan Kristen.
2. Buku ini cukup di gemari karena dapat dijadikan bahan pembanding
mengenai Isa dari sudut pandang Quran dan Alkitab. Dengan melihat
Yesus dari sudut pandang Quran akan semakin mengokohkan pendapat
mereka dan membantah pemahaman orang Kristen tentang Isa. Namun dilain
sisi penulis juga membahas Yesus dari sudut pandang Alkitab, hal ini
jelas akan memunculkan pertentangan dalam pikiran orang Islam dan akan
membuat orang-orang Muslim mencari jawaban, siapa Isa yang sebenarnya.
3. Buku ini juga akan memberi wawasan baru kepada orang Kristen, bahwa
Quran pun menulis tentang Isa. Tugas orang-orang Kristen adalah
menjalaskan kepada orang-orang Muslim tentang Isa dari sudut pandang
Alkitab. Jembatan sudah ada tinggal bagaimana memanfaatkan jembatan
itu.
4. Banyak istilah-istilah asing dalam Quran masuk ke dalam bahasa arab
melalui bahasa Syria dan Aramia, banyak istilah-istilah yang sudah
dikenal oleh orang Arab sebelum masa nabi Muhammad. Sebelum agama
Islam lahir ada kemungkinan Muhammad sendiri sering berdiskusi dengan
orang-orang Kristen Nestoria, selain itu Muhammad juga mengembara ke
Syria di mana di sana banyak bertemu dan bersinggungan dengan
orang-orang Kristen Syria.
5. Quran sendiri sangat menghormati dan mendukung Yesus, seandainya
setiap orang Islam memahami dan mendalami ajaran Quran pada akhirnya
akan menyadari siapa Yesus itu. Nabi Muhammad sendiri memberikan
penghormatan yang mendalam kepada Yesus dan ibunya.
6. Penulis melihat bahwa kitab agama Yahudi, Kristen dan Islam sebagai
sebuah rangkaian kitab suci. Mereka tidak saling menghapuskan tetapi
semuannya membawa kebenaran ilahi untuk menjadi petunjuk bagi manusia.
Saya tidak sepaham dengan pendapat ini, kalau Injil merupakan
penggenapan dari Taurat, tetapi kalau berbicara Quran tidak bisa
dikatakan saling melengkapi, karena pada intinya banyak ajaran Quran
yang berasal dari Taurat dan Ajaran Kristen, hal ini dimungkinkan
karena Muhammad banyak bertemu dan bersahabat dengan rahib-rahib
Kristen pada masanya, dari pergaulan mereka mungkin saja Muhammad
terinpirasi dengan ajaran-ajaran rahib Kristen sehingga dia
mengajarkan kepada pengikutnya, dan kemudian hari dituliskan
pengikutnya dalam Quran..

Implikasi
Buku ini sangat memberkati saya, membuka wawasan saya sehingga
pemahaman saya tentang ajaran Islam selama ini semakin dimengerti dan
dipahami. Selain itu saya semakin menyadari bahwa saya tidak salah
memilih Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi saya.

30 September 2012

Tak Mengembang dan Tak Meleset/Diselamatkan oleh Anugerah

SEKOLAH TINGGI ALKITAB TIRANUS
Mata Kuliah : Soteriologi dan Kehidupan Kristen
Dosen : Mika Sulistiono
Tugas : Analisis Buku
Nama : Adrianus

Buku tak mengembang dan tak meleset memberikan informasi yang sangat
penting, supaya setiap orang percaya tidak hanya puas karena sudah
diselamatkan, tetapi orang percaya juga harus memahami dengan benar
kepercayaannya di dalam Kristus. Dengan memiliki pemahaman yang benar
akan membuat imannya semakin teguh dan dapat menyaksikan imannya itu
kepada orang lain.
Dalam penguraiannya, penulis selalu berangkat dan berpatokan pada
Alkitab. Penulis menguraikan dari hal-hal yang paling dasar yaitu
bagaimana sikap seseorang supaya Kristus bisa masuk ke dalam hatinya.
Sikap pertama yaitu harus terbuka, penulis menguraikan hal ini dengan
mengambil peristiwa dalam Lukas 23. Sikap terbuka sangat penting,
karena Yesus hanya mau berbicara kepada orang yang terbuka. Contoh
dalam hal ini adalah dua penjahat yang disalib bersama Yesus mengalami
nasib yang berbeda, satu binasa karena tertutup dan satunya selamat
karena hatinya terbuka dan bersedia mendengarkan Yesus, mengaku orang
berdosa yang tidak mampu menyelamatkan dirinya dan membutuhkan
keselamatan dari Yesus. Lebih dalam lagi penulis menjelaskan bahwa
sikap membuka hati tidak cukup, tetapi yang lebih utama adalah
mengenal siapa Yesus, kita harus sadar bahwa Yesus di salib untuk
menanggung dosa kita dan merelakan Yesus masuk ke dalam kehidupan
kita.
Langkah awal untuk menuju keselamatan adalah pertobatan. Pertobatan
berarti menyesali perbuatan yang buruk dan mengambil suatu keputusan
untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Penyesalan harus
benar-benar dilakukan bukan dengan kepura-puraan, karena penyesalan
yang hanya pura-pura sama dengan menipu diri sendiri. Pertobatan yang
dipenuhi dengan kepura-puraan bukan pertobatan yang menyelamatkan.
Pertobatan yang benar adalah menyadari bahwa dirinya sudah rusak total
karena dosa, tidak lagi melihat sesuatu faedah dalam dirinya yang
berguna bagi Allah. Pertobatan yang benar adalah pertobatan yang tidak
menuntut syarat. Jadi langkah pertama untuk menuju keselamatan bukan
perbaikan hidup, melainkan pertobatan yaitu kesadaran bahwa seluruh
hidupnya telah ternoda oleh dosa. Tetapi harus diingat bahwa
pertobatan dengan sendirinya tidak dapat menyelamatkan. Pertobatan
barulah langkah awal menuju keselamatan.
Untuk memperoleh keselamatan/hidup kekal seseorang harus mengalami
kelahiran baru. Kelahiran baru mutlak dibutuhkan oleh siapapun juga,
tak peduli betapa salehnya seseorang. Kelahiran baru tidak dapat
dilakukan oleh manusia, tetapi sesuatu pemberian Allah atau kelahiran
baru datangnya dari Allah dan dikaruniakan oleh Allah. Untuk menerima
kelahiran baru syaratnya hanya menerima dan percaya kepada Yesus
Kristus. Dengan menerima dan percaya kepada Yesus maka Allah akan
mengubahkan tabiat kita yang lama menjadi manusia baru yang didiami
oleh Roh Allah. Jadi keselamatan hanya anugerah dari Allah, kebaikan
pribadi dan perbuatan-perbuatan baik tidak akan pernah menyelamatkan.
Usaha apapun yang kita lakukan tidak akan pernah mencapai norma yang
ditentukan oleh Allah. Kita diselamatkan oleh iman, bukan atas
kebaikan kita, dan juga bukan atas perbuatan baik kita. Kita
diselamatkan karena kekayaan kasih Allah yang dilimpahkan kepada kita
dalam Yesus Kristus. Tidak ada seorang manusia, siapapun yang memenuhi
persyaratan Allah. Keselamatan kita terjamin oleh iman, bukan
berdasarkan perbuatan.
Orang yang sudah diselamatkan oleh anugerah wajib melakukan perbuatan
baik dan perbuatan baik harus menjadi kebiasaan hidup orang yang sudah
lahir baru. Seseorang yang sudah percaya dan dilahirbarukan mempunyai
segala hak sebagai anak Allah. Pertanyaannya, apakah seseorang yang
sudah dilahirbarukan masih memiliki kemungkinan untuk jatuh?,
kemungkinan itu ada, tetapi tidak akan mempengaruhi statusnya sebagai
orang yang sudah diselamatkan. Harus dipahami bahwa rohani kita sudah
diselamatkan, tetapi tubuh kita masih bertempat tinggal dalam dunia
yang penuh dosa. Hati kita telah disucikan, tetapi lingkungan kita
masih tetap sama.
Untuk mengetahui kepastian keselamatan, maka seseorang harus menguji
dirinya berdasarkan Firman Allah (Alkitab) bukan berdasarkan perasaan.
Alkitab mengatakan bahwa satu-satunya syarat untuk diselamatkan adalah
percaya kepada Yesus Kristus. Syarat Alkitab hanyalah percaya dengan
pengakuan aktif. Seseorang yang percaya Yesus adalah Juruselamat
satu-satunya dan menyambut Yesus dalam kehidupannya, orang itu sudah
selamat walaupun belum menyatakan buah kemenangan dan kesucian hidup.
Jadi tidak ada syarat dalam Alkitab bahwa seseorang harus berhenti
berdosa supaya diselamatkan. Kesucian merupakan buah iman bukan syarat
supaya selamat. Hanya Alkitab yang layak dijadikan dasar penilaian
kebenaran. Jika kita mendalami Firman Allah pasti kita tidak akan ragu
akan keselamatan kita, tetapi sebaliknya memiliki kepastian
keselamatan.
Tanda bahwa seseorang telah diselamatkan adalah Orang tersebut
mengalami perubahan hidup. Perubahan itu terjadi tidak terlepas dari
peranan dari Roh Kudus. Ketika kita percaya Yesus maka kita
dimateraikan dengan Roh Kudus. Roh Kudus bekerja tetap bertalian
dengan Alkitab, setiap kita membaca Alkitab Roh Kudus bersaksi dalam
hati kita. Bukti bahwa kita telah diselamatkan tidak dilihat dari
kesempurnaan hidup, melainkan pembaharuan hidup. Dasar kepastian
satu-satunya adalah Alkitab yang dimateraikan dalam hati kita oleh Roh
Kudus. Jika kita meragukan dan tidak mempercayai Alkitab, berarti kita
juga memperlakukan Allah sebagai pendusta karena memberi berita bohong
dalam Alkitab.
Orang yang sudah mendapatkan keselamatan dalam Yesus tidak secara
otomatis hidupnya tanpa tantangan. Justru orang Kristen yang mau
menikmati kemenangan dalam Kristus harus belajar menghadapi kenyataan
hidup. Kunci untuk memperoleh kemenangan yaitu haruslah kita bersandar
sepenuhnya pada Yesus.
Bagi saya, apa yang dikemukakan oleh penulis dalam buku ini, akan
sangat menolong dalam membimbing pembaca untuk memiliki pemahaman yang
benar tentang imannya kepada Yesus Kristus. Apa yang dibahas dalam
buku ini sangat relevan dengan kondisi yang dialami oleh orang-orang
Kristen pada umumnya. Jika kita berbicara tentang kepastian
keselamatan masih banyak orang Kristen yang masih ragu-ragu tentang
keselamatannya. Umumnya mereka membandingkan keselamatan dengan pola
hidupnya yang masih "tidak hidup suci", atau sebaliknya mengukur
keselamatannya berdasarkan hasil perbuatannya. Dengan membaca buku
ini, pemahaman-pemahaman seperti itu akan terjawab. Saya menilai apa
yang diungkapkan penulis dalam buku ini sangat Alkitabiah karena
setiap persoalan selalu dikaitkan dengan Alkitab.

Buku: Diselamatkan Oleh Anugerah
Oleh: Anthony A. Hoekema
Buku ini membahas tentang soteorologi atau doktrin keselamatan.
Soteorologi yang dibahas dalam buku ini lebih ke arah teologi Injili,
di mana penekanannya ke perspektif Reformed atau Calvinistis. Beberapa
penekanan-penekanan di dalam teologi Reformed yaitu: walaupun
keputusan manusia memainkan peranan yang signifikan dalam proses
keselamatan, tetapi faktor utama yang menentukan seseorang
diselamatkan bukanlah keputusan seseorang tetapi kedaulatan anugerah
Allah. Keselamatan seseorang tidak diukur berdasarkan kebaikan, tetapi
semata-mata berdasarkan kerelaan kehendak-Nya. Anugerah Allah yang
menyelamatkan tidak bersifat universal, tetapi partikular (tertentu) ,
yaitu dikaruniakan hanya kepada kaum pilihan Allah (mereka yang telah
dipilih-Nya di dalam Kristus untuk beroleh keselamatan). Keselamatan
bersifat efektif dan tidak akan hilang, dalam arti Allah tidak akan
membiarkan orang-rang pilihan-Nya kehilangan keselamatan mereka,
dengan kata lain Allah yang memegang orang-orang percaya, bukan orang
percaya yang berpegang pada Allah. Hal-hal inilah yang akan membentuk
seluruh alur pemikiran dalam teologi Reformed.
Manusia adalah ciptaan yang secara mutlak bergantung kepada Allah,
tetapi manusia juga pribadi yang membuat keputusan yang bertanggung
jawab. Orang-orang percaya yang telah mendapat anugerah keselamatan
memiliki tanggung jawab di dalam proses keselamatan mereka. Jika
demikian halnya, akan muncul suatu persoalan, bagaimana menyelaraskan
kedua hal ini yaitu: di satu sisi Allah yang harus menguduskan kita
secara keseluruhan, tetapi di sisi lain kita harus mengerjakan
keselamatan kita. Allah yang memiliki kedaulatan atas hidup kita,
mengarahkannya sesuai kehendak-Nya, tetapi kita juga diharuskan untuk
membuat keputusan kita sendiri dan harus bertanggung jawab atasnya.
Untuk menjawab persoalan seperti ini, kita harus kembali ke Alkitab
sebagai titik ukur pemikiran kita. Alkitab mengajarkan kedua-duanya,
misalnya: Alkitab dengan jelas mengajarkan mengenai kedaulatan Allah
(Amsal 21:1; Ef. 1:11; Rm. 9:21). Alkitab juga dengan jelas
mengajarkan mengenai tanggung jawab manusia (Yoh.3:36; Mat.16:2;
Why.22:12). Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah kita dapat
dikatakan setia kepada ajaran Alkitab jika kita berpegang kepada
keduanya, tetapi karena Allah adalah pencipta dan kita ciptaan-Nya,
maka Allah-lah yang lebih utama, kita harus menyadari bahwa faktor
yang paling menentukan di dalam proses keselamatan kita adalah
anugerah Allah yang berdaulat. Seringkali pemahaman kita yang terbatas
tentang Allah, membuat kita bersikap berat sebelah yang hanya
menekankan semata-mata pada kedaulatan Allah yang akan menimbulkan
kesan bahwa Allah menyelamatkan umat-Nya seperti komputer
mengendalikan robot-robot. Demikian juga sebaliknya penekanan yang
semata-mata hanya ditujukan pada tanggung jawab manusia akan
menghasilkan Allah yang sepenuhnya bergantung pada keputusan manusia,
tanpa memiliki kendali sedikitpun atas manusia. Pemahaman soteorologi
seperti ini tidak sesuai dengan ajaran Alkitab.
Jika Soteorologi dikaitkan dengan doktrin mengenai manusia, maka akan
muncul pandangan yang berbeda, seperti Seteorologi Palagian, yang
mengajarkan bahwa manusia dilahirkan di dalam suatu kondisi moral dan
rohani yang netral sehingga mereka tidak perlu diregenerasi, dan hanya
perlu dilatih dengan benar dan diberikan teladan-teladan yang benar.
Lain halnya dengan soteriologi Semi-Pelagian, yang mengajarkan bahwa
natur manusia setelah jatuh hanya bobrok sebagian, di mana manusia
tidak mati di dalam dosa dan hanya sakit, sehingga manusialah yang
harus mengambil langkah awal di dalam regenerasi, dan dapat kehilangan
keselamatan setelah menerimanya. Kedua pandangan ini tidak melihat
natur manusia yang sudah jatuh rusak total, berbeda dengan pandangan
Soteorologi Reformed, yang mengajarkan bahwa natur manusia setelah
kejatuhan mengalami kerusakan total dan menyeluruh, dan perlu
diregenerasi atau diberikan kehidupan rohani yang baru oleh tindakan
anugerah yang merupakan karya Allah semata, dan keselamatan yang
dikaruniakan oleh Allah tidak mungkin hilang.
Roh Kudus sangat berperan dalam proses keselamatan kita yaitu untuk
menyatukan kita dengan Kristus. Regenerasi atau kelahiran baru yang
kita alami adalah karya Roh Kudus. Dalam Efesus 4:30, Roh Kudus adalah
materai final dari keselamatan kita. Untuk lebih jauh memahami
bagaimana peranan Roh Kudus dalam proses keselamatan, maka harus
dihubungkan dengan pengajaran Alkitab tentang karunia Roh dan buah
Roh. Masalah karunia Roh ini memunculkan beberapa perbedaan pandangan
di antara teolog, semua setuju bahwa karunia-karunia non mujizat masih
ada saat ini, tetapi karunia-karunia yang bersifat mujizat ada yang
mengatakan masih terjadi, dan ada juga yang mempertanyakan. Para
teolog yang mempertanyakan, mereka memberi alasan bahwa
karunia-karunia mujizat seperti penyembuhan dan berbahasa lidah tidak
disebutkan dalam daftar karunia-karunia Roh (Rom.12:6-8) yang
dinasehati oleh Paulus. Perbedaan pandangan seperti ini masih menjadi
polemik dalam gereja masa kini. Para teolog dapat mengatakan bahwa
tidak ada lagi karunia-karunia yang berbentuk mujizat, tetapi tidak
dapat disangkal Allah terkadang menjawab doa-doa umatnya dengan cara
mujizat. Apa yang terjadi di gereja-gereja di Amerika Latin, di mana
terjadi banyak mujizat penyembuhan yang menjadi jawaban doa. Bagaiman
kita menjawab kejadian seperti ini?
Demikian juga halnya dengan peran medis dalam proses kesembuhan, kita
harus memahami bahwa terjadi kombinasi antar medis dan doa untuk
meperoleh kesembuhan, kalau kita mengabaikan medis berarti kita
mengabaikan apa yang telah disediakan Allah, dan ini merupakan
ketidaktaatan kepada Allah. Paradigma yang selalu menghubungkan
penyakit dengan dosa, perlu pencerahan karena tidak semua penyakit
disebabkan oleh dosa tertentu yang dipernah dilakukan. Jadi ketika
kita mendoakan orang sakit dan tidak sembuh, kita tidak boleh berkata,
dia tidak cukup beriman. Perlu kita pahami bahwa tujuan utama dari doa
adalah untuk keselamatan jiwanya, menguatkan dia supaya tetap teguh
dalam menghadapi penyakitnya, apakah sembuh atau tidak keputusan semua
di tangan Tuhan, kehendak Tuhan yang jadi.
Karunia-karunia Roh dengan buah Roh saling berhubungan dan tidak
terpisah. Orang yang sudah dimerdekakan harus menghasilkan buah-buah
Roh. Buah Roh memiliki peran yang penting dalam kehidupan orang
percaya. Menarik apa yang dikatakan penulis dalam buku ini, kita dapat
diselamatkan tanpa mendapatkan banyak karunia, tetapi kita tidak dapat
diselamatkan tanpa buah Roh. Ini jelas memeperlihatkan bahwa buah Roh
memiliki peran yang sangat penting. Dapat disimpulkan bahwa, kita
memerlukan baik karunia-karunia maupun buah Roh, tetapi kita tidak
pernah boleh mencari karunia-karunia tersebut terpisah dari buah Roh.
Terdapat perbedaan pandangan yang berbeda dikalangan orang Kristen
tentang babtisan Roh, ada yang berpandangan bahwa babtisan Roh berbeda
dengan proses regenerasi, babtisan Roh baru terjadi setelah
regenerasi. Itu sah-sah saja, tetapi kita harus melihat apa yang
Alkitab katakan, tentang doktrin babtisan Roh Kudus tidak ada dasar
Alkitabiah untuk mendukungnya. Apa yang dikatakan Alkitab bahwa
babtisan Roh identik dengan regenerasi, kita telah dibabtis dengan Roh
Kudus saat kita mengalami regenerasi. Orang yang sudah dibabtis dengan
Roh, hidupnya harus dipenuhi dengan Roh, dalam arti semakin sempurna,
hidup oleh kekuatan Roh, dan bersandar kepada Tuhan.
Alkitab mengajarkan bahwa hanya melalui Roh Kudus kita dapat menjadi
satu dengan Kristus, tanpa kita menjadi satu dengan Kristus kita belum
diselamatkan dan belum berada di dalam kesatuan denganNya. Pemilihan
Allah atas umatNya sudah terjadi sebelum alam semesta diciptakan.
Allah memilih kita untuk diselamatkan bukan karena perbuatan baik yang
dilihatNya di dalam diri kita sebelumnya, tetapi hanya berdasarkan
kesatuan kita dengan Kristus yang telah ditetapkan sebelumnya oleh
Dia. Kesatuan antara Kristus dan umatNya telah direncanakan di dalam
kekekalan, dengan kata lain, mereka yang dipilih untuk diselamatkan
tidak pernah dipikirkan oleh Bapa terpisah dari Kristus. Jadi Kristus
tidak bisa dipikirkan terpisah dari umatNya, demikian juga umatNya
terpisah dariNya. Kesatuan dengan Kristus dimulai pada saat regenerasi
terjadi, di mana kesatuan antara Kristus dan umatNya secara aktual
dibangun.
Setelah mengalami regenerasi dan menjadi satu dengan Kristus, maka
tugas kita sebagai umatNya adalah menjalankan Amanat Agung Tuhan
Yesus. salah satu sarana yang dipakai Tuhan untuk membawa orang-orang
kepada keselamatan adalah penyampaian Injil. walaupun terdapat
perbedaan pandangan di antara denominasi, tetapi satu hal yang harus
tetap dipegang bahwa di dalam menyampaikan Injil kita harus tetap
setia kepada Alkitab. Tugas kita menyampaikan Injil, Allah sendiri
yang memampukan pendengar Injil untuk bertobat dan percaya. Panggilan
Injil bersifat universal, Perjanjian Baru dengan jelas mengajarkan
bahwa panggilan atau seruan Injil datang kepada semua orang (Luk.
14:16-24; Mat. 28:19-20; Mat.11:28; Kis 1:30; Why. 22:1). Hoeksema
berpendapat lain yaitu panggilan Injil bukan tawaran anugerah dan
keselamatan secara universal, tetapi partikuler, panggilan Injil hanya
berlaku bagi kaum pilihan. Hoeksema melihat adanya inkonsistensi
antara ajaran mengenai tawaran Injil dan doktrin penebusan terbatas.
Disatu sisi percaya pada penebusan terbatas dan bahwa Kristus hanya
mati bagi orang pilihan, akan tetapi disisi lain, mereka juga
menegaskan bahwa Allah secara tulus dan dengan maksud baik menawarkan
keselamatan bagi semua manusia. Bagi Hoeksema, mustahil untuk
menggabungkan kedua doktrin ini, karena keduanya saling
berkontradiksi. Apa yang Alkitab katakan tentang panggilan Injil:
Allah serius dan sungguh-sungguh menginginkan keselamatan semua orang
yang mendengarkan Injil, termasuk mereka yang tidak termasuk kaum
pilihanNya. Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan
supaya semua orang berbalik dan bertobat. Allah ingin supaya semua
orang yang mendengarkan Injil datang dan diselamatkan. Namun Alkitab
juga mengajarkan bahwa Allah telah menetapkan atau memilih umatNya di
dalam Kristus sebelum penciptaan dunia. Keduanya harus kita pegang
karena itulah yang Alkitab katakan, walaupun dari kacamata kita
sebagai manusia terbatas tidak mungkin menyatukan keduannya.
Bagaimana respon seseorang setelah mendengar panggilan Injil. Fakta
menyatakan bahwa ketika kita menyampaikan Injil, tidak semua orang
menyambut keselamatan ini, sejumlah orang menerimanya, tetapi lainnya
menolak. Dalam hal ini kita yang perlu ditanyakan adalah, apakah dalam
merespon panggilan Injil manusia punya andil atau hanya semat-mata
karena campur tangan Tuhan untuk memilih seseorang. Alkitab
mengajarkan tentang panggilan efektif, di mana Allah secara efektif
memapukan kita untuk menanggapi panggilan Injil. Namun, persoalan ini
telah menimbulkan sejumlah keberatan, misalnya: jika hanya orang yang
dipanggil secara efektif yang dapat menanggapi panggilan Injil, buat
apa lagi kita berkotbah dan bermisi? Keberatan lain, jika Allah telah
menentukan orang yang diselamatkan, orang yang menolak Injil akan
memberi alasan dengan mengatakan bahwa mereka tidak dipanggil yang
pada akhirnya mereka akan menyalahkan Allah, karena Allah dianggap
tidak adil. Jika hanya Allah yang berperan dalam keselamatan kita,
bukankah Allah memperlakukan kita seperti robot? Untuk menjawab
keberatan-keberatan ini kembali kepada pandang seseorang terhadap
kondisi natural manusia setelah kejatuhan. Jika seseorang percaya pada
pandangan Pelagian, Semi Pelagian, Armenian, maka panggilan efektif
tidak diperlukan, sebaliknya jika seseorang percaya pada pandangan
Reformed maka akan membutuhkan panggilan efektif dari Allah.
Kejatuhan menyebabkan manusia mengalami kerusakan total, sehingga
memerlukan regenerasi. Regenerasi merupakan karya Allah sendiri yang
berasal dari Allah. Regenerasi sangat diperlukan, jika seseorang ingin
melihat Kerajaan Allah. Seseorang yang telah mengalami regenerasi
tidak akan terus menerus hidup dalam dosa (1 Yoh. 3:9) dan orang yang
telah diregenerasikan akan dijaga sedemikian oleh Kristus, sehingga
tidak akan berpaling dari imannya. Dalam proses regenerasi manusia
hanya bersikap pasif secara total, semua dilakukan oleh Allah. Jadi
regenerasi bukan merupakan hasil kerjasama manusia dengan Allah,
tetapi suatu karya di mana hanya Allah sebagai pelaku tunggalnya.
Konversi adalah tindakan yang dilakukan secara sadar oleh seseorang
yang telah mengalami regenerasi di mana dia berpaling kepada Allah di
dalam pertobatan dan iman. Konversi merupakan langkah di dalam proses
keselamatan. Setiap orang akan mengalami konversi yang berbeda-beda.
Konversi yang dialami oleh Petrus, berbeda dengan konversi yang
dialami oleh Paulus. Jadi kita tidak dapat menetapkan pola konversi
yang sama untuk semua orang, karena ini akan sangat berbahaya dan
bertentangan dengan Alkitab. yang paling penting dari konversi bukan
cara terjadinya atau waktu terjadinya, melainkan kesejatiannya.
Salah satu aspek dari konversi adalah pertobatan. Pertobatan adalah
suatu tindakan yang secara sadar dilakukan oleh seseorang yang telah
diregenerasi untuk berbalik dari dosa kepada Allah di dalam suatu
perubahan kehidupan sepenuhnya. Pertobatan merupakan karya Allah dan
juga sebagai karya manusia. Orang-orang berdosa harus bertobat, dan
dalam pertobatan itu Allah-lah yang memampukan mereka untuk bertobat.
Tugas kita sebagai orang percaya adalah memanggil orang-orang kepada
pertobatan dan konversi, tetapi harus kita sadari bahwa hanya Allah
yang dapat memampukan mereka untuk bertobat. Tugas pokok kita adalah
mendesak orang-orang kepada pertobatan, dan Allah yang berdaulat
mengaruniakan kepada orang tersebut karunia pertobatan yang memampukan
untuk berbalik kepada Allah.
Alkitab mengatakan bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman dan bukan
oleh perbuatan-perbuatan berdasarkan hukum taurat. Tetapi iman yang
sejati adalah iman yang menyatakan dirinya di dalam kasih dan
kehidupan yang benar. Iman adalah sesuatu yang dikaruniakan atau
diberikan secara Cuma-Cuma kepada kita oleh Allah. Jadi kemampuan
seseorang untuk percaya kepada Kristus haruslah dikaruniakan oleh
Bapa, tanpa kemampuan itu, maka tidak ada seorang pun yang mampu untuk
percaya, dan kemampuan itu diberikan melalui kuasa Roh Kudus. Paulus
mengatakan bahwa keselamatan yang kita peroleh adalah karunia Allah
yang diberikan secara Cuma-Cuma, bukan hasil usaha tetapi pemberian
Allah. Seseorang diselamatkan semata-mata oleh anugerah, dan sama
sekali tidak tergantung pada perbuatan baiknya.
Tidak ada orang yang dibenarkan dihadapan Allah dengan jalan menaati
hukum taurat, atau berbuat sesuai dengan hukum taurat, tetapi manusia
dibenarkan hanya oleh karena iman. Pembenaran tidak didapatkan dengan
perbuatan, melainkan hanya oleh iman kepada Yesus Kristus. Jika
demikian halnya, apakah yang dimaksud oleh Yakobus bahwa iman tanpa
perbuatan adalah nol. Disini dapat kita lihat bahwa Yakobus mengatakan
bahwa iman disempurnakan atau dibawa mencapai sasarannya oleh
perbuatan. Jadi seseorang tidak akan dibenarkan hanya oleh iman
semata, melainkan hanya oleh iman yang menyatakan kesejatiannya di
dalam perbuatan-perbuatan. Oleh karena itu, hanya iman saja yang
membenarkan, akan tetapi iman yang membenarkan itu bukanlah iman yang
tanpa perbuatan. Proses pembenaran terjadi satu kali untuk selamanya
ketika seseorang menerima Kristus dengan iman, dan anugerah pembenaran
ini tidak akan hilang. Muncul pertanyaan jika kita dibenarkan satu
kali untuk selamanya, mengapa kita harus mengakui dosa-dosa kita? Jadi
memang pembenaran hanya terjadi satu kali untuk selamanya, tetapi
pengakuan dosa dan doa permohonan bagi pengampunan harus diulangi.
Pengudusan berarti sedang diperbaharui supaya kita semakin meyerupai
Allah, dengan cara mengikuti teladan-Nya. Keserupaan dalam hal
sifat-sifat Allah, bukan dalam hal kemahatahuan, kemahahadiran dan
kemahakuasaan-Nya. Pengudusan bukanlah hal yang kita kerjakan sendiri,
dengan usaha kita sendiri atau dengan kekuatan kita sendiri.
Pengudusan bukanlah aktivitas manusia, melainkan suatu karunia ilahi.
Walaupun demikian, pengudusan juga meliputi partisipasi penuh tanggung
jawab dari kita. Allah tidak akan pernah mengizinkan orang-orang yang
telah dikarunia iman sejati untuk meninggalkan iman-Nya. Kenyataan
banyak orang yang dianggap sebagai orang Kristen yang sejati tetapi
kemudian menjadi murtad, namun kita harus berasumsi bahwa kelak Allah
akan membawa mereka kembali, jika memang dipilih Allah.
Setelah membaca buku diselamatkan oleh anugerah saya dapat
menyimpulkan bahwa pembahasan dalam buku ini selalu berangkat dari
Alkitab. Setiap persoalan yang dibahas selalu mengacu kepada Alkitab
sebagai dasar untuk mengambil suatu kesimpulan. Dari 13 bab, semua
persoalan yang dibahas, penuis selalu melakukan studi kata untuk
meneliti apa yang Alkitab katakan untuk mendukung kebenaran dari suatu
persoalan yang dibahas. Namun ada juga beberapa persoalan yang
kelihatan kontradiksi sehingga terkadang argumentasi penulis
seakan-akan tidak menjawab suatu persoalan. Kondisi demikian akhirnya
membawa penulis untuk kembali melihat apa yang Alkitab katakan. Jadi
bagi saya buku diselamatkan oleh Anugerah ini pembahasannya sangat
Alkitabiah, karena pembahasan-pembahasannya selalu berangkat dari
Alkitab sebagai dasar pembenaran suatu persoalan.
Dari kedua buku ini, saya menilai bahwa keduanya selalu berdasarkan
Alkitab dalam setiap pembahasannya. Buku Tak Mengembang dan Tak
Meleset lebih simpel dan lebih mudah dipahami, sedangkan buku
Diselamatkan oleh Anugerah pembahasannya lebih mendalam, tetapi kedua
buku ini sama-sama menekankan Allah sebagai pemeran utama dalam proses
keselamatan umat manusia.

Rangkuman Bacaan Alkitab (Ibrani)

SEKOLAH TINGGI ALKITAB TIRANUS
Mata Kuliah : Soteriologi dan Kehidupan Kristen
Dosen : Mika Sulistiono
Tugas : Rangkuman Bacaan Alkitab (Ibrani)
Nama : Adrianus

Dalam kitab Ibrani, Kristus adalah sentralitas dalam menyelamatkan
orang-orang percaya. Pasal pertama menjelaskan bagaimana Allah telah
berfirman dalam berbagai cara kepada nenek moyang kita melalui
perantaraan nabi-nabi-Nya. Pernyataan itu dimulai dari Adam, Tuhan
telah menyatakan bagaimana Kristus akan meremukkan kepala setan (Kej
3:15). Kepada Abraham, Kristus akan datang dari bangsa yang dikepalai
Abraham (Kej 12:1-2). Kepada Yakub, Kristus akan berasal dari suku
Yehuda (Kej 49:10). Kepada Daud, Kristus akan berasal dari keturunan
Daud (Mzm 132:11). Kepada Mikha, Kristus akan lahir di Betlehem (Mi
5:2). Kepada Daniel, Kristus akan disalibkan (Dan 9:26). Kepada
Zakharia, Kristus akan dijual seharga tiga puluh keping perak (Za
11:13). Kepada Yesaya, Kristus akan dianiaya karena dosa kita (Yes
53:7).
Apa yang difirmankan Allah dengan perantraan nabi-nabi dalam
berbagai cara memang benar, tetapi belum genap dan belum sempurna.
Kristus telah dinyatakan dalam Perjanjian Lama dengan ibarat dan
ilustrasi, namun baru digenapi di dalam Perjanjian Baru. Wahyu Allah
menjadi genap dan sempurna di dalam Yesus Kristus. Kristus adalah
sentralitas dari seluruh rencana Allah untuk menyelamatkan umat
manusia. Yesus adalah satu-satunya pengantara antara Allah dan
manusia. Kristus adalah wahyu Allah yang genap dan sempurna dan paling
tinggi di antara segala nabi maupun malaikat-malaikat dan lebih besar
daripada Musa dan Harun. Yesus adalah gambar wujud Allah dan setara
dengan Allah. Nabi-nabi, Musa dan Harun tidak sempurna, tetapi Yesus
sempurna dan tidak bercacat cela. Penulis surat Ibrani meyakinkan
pembacanya bahwa Yesus Kristus adalah pusat dari keselamatan.
Malaikat-malaikat dan nabi-nabi hanya sarana yang dipakai Allah untuk
menyatakan kedatangan Juruselamat yang sempurna yaitu Yesus Kristus.
Yesus datang untuk mengerjakan keselamatan yang besar. Orang yang
percaya kepada-Nya akan diselamatkan dan memasuki hidup berkemenangan
di dalam Yesus Kristus. Orang yang masuk ke tempat perhentian di dalam
Kristus hanya melalui iman kepada Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah
Imam yang lebih tinggi dari pada Imam Harun. Yesus Kristus adalah Imam
Besar yang sempurna. Imamat Harun tidak sempurna dan tidak kekal
karena ia sendiri masih berdosa, tetapi sebaliknya Yesus Kristus tidak
berdosa malah Dia sendiri menjadi "korban karena dosa". Imamat Harun
hanya mengibaratkan pekerjaan Kristus, tetapi pekerjaan Kristus adalah
korban yang benar, sempurna dan kekal. Hanya Yesus Kristus
satu-satunya pintu menuju kepada Bapa dan hanya Yesus Kristus saja
yang memenuhi syarat-syarat untuk menjadi Imam Besar kita.
Yesus adalah Imam Besar menurut peraturan Melkisedek. Yesus adalah
Iman Besar yang kekal dan sempurna yang tidak menurut peraturan Harun,
tetapi menurut peraturan Melkisedek. Yesus adalah Imam yang kekal dan
sempurna, Yesus lebih besar daripada Melkisedek, sebab Melkisedek
menjadi lambang dari suatu Imamat yang kekal yaitu Imamat Yesus
Kristus. Imamat yang kekal dan sempurna tidak terdapat di dalam Imamat
Harun, tetapi terdapat di dalam satu Pribadi yaitu Yesus Kristus.
Yesus Kristus lebih tinggi dari pada Harun dan Imamat-Nya lebih unggul
daripada imamat Lewi. Yesus Kristus adalah imam yang sempurna.
Taurat yang menjadi dasar imamat Harun tidak mempunyai kekuatan dan
tidak dapat membawa kita kepada keadaan dibenarkan dan dikuduskan di
hadapan Allah. Taurat tidak membawa apa-apa kepada kesempurnaan,
karena Taurat hanya lambang pekerjaan Kristus. Hanya di dalam Yesus
Kristus kita mempunyai pengharapan yang lebih baik dan keselamatan
yang sempurna serta kekal selama-lamanya. Imamat Lewi dan Taurat tidak
tetap dan tidak sempurna, karena itu harus dibatalkan.
Perjanjian Lama (Hukum Taurat) merupakan bayangan dari segala berkat
yang akan datang dalam Perjanjian Baru. Segala berkat yang akan datang
diberikan oleh Yesus Kristus. Taurat hanyalah bayangan dari berkat
yang sesungguhnya yang akan dinyatakan di dalam Injil Yesus Kristus.
Yesus adalah pengantara dari perjanjian yang baru. Perjanjian yang
baru digenapkan Yesus di atas kayu salib. Perjanjian yang baru itu
lebih unggul daripada perjanjian yang pertama, karena perjanjian yang
pertama bercacat dan tidak sempurna dan bersifat sementara yang
dinyatakan di dalam perjanjian baru sebagai anugerah Allah untuk
selama-lamanya. Dalam diri Yesus Kristus wahyu dari Allah sudah
disempurnakan.
Tabiat manusia yang berdosa membuat manusia jauh dari Allah dan tidak
dimiliki sepenuhnya oleh Allah. Manusia yang berdosa harus dikuduskan
supaya menjadi milik Allah sepenuhnya. Hanya korban Yesus Kristus yang
dilakukan satu kali untuk selama-lamanya, korban itulah yang dapat
memulihkan hubungan manusia dengan Allah.

Keunggulan dan kekayaan karya kristus dalam menyelamatkan manusia
Keunggulan pekerjaan Kristus dalam menyelamatkan manusia adalah
sesuatu yang luar biasa. Dalam wujudnya sebagai Allah, Ia menjelma
menjadi manusia dan menyatakan diri-Nya kepada manusia yang berdosa,
Dia yang tidak berdosa mau menjadi korban penebus dosa orang yang
percaya kepada-Nya. Kristus yang adalah Allah yang tidak berdosa telah
merendahkan diri-Nya dan mati di kayu salib demi menebus dosa orang
percaya. Dalam karya penebusannya Kristus tidak menggunakan binatang
sebagai korban penghapus dosa, tetapi Dia mempersembahkan diri-Nya
sendiri untuk menjadi korban penghapus dosa. Kematian-Nya tidak
seperti kematian orang-orang biasa. Kematian-Nya dengan kesakitan yang
hebat, kesengsaraan batin dan jiwa dan kesakitan badani. Kematian-Nya
adalah korban dosa-dosa manusia supaya Ia memenangkan kembali
kemuliaan dan kehormatan bagi manusia yang percaya, yang telah
kehilangan kemuliaan karena Adam.
Karya Kristus untuk menyelamatkan manusia dicapai melalui
penderitaan, dalam ketaatan-Nya keselamatan manusia menjadi sempurna.
Keselamatan dalam Yesus Kristus adalah kekal dan sempurna karena hanya
dilakukan satu kali untuk selamanya melalui pengorbanan Yesus Kristus
di kayu salib. Pengorbanan-Nya telah menyempurnakan untuk
selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan. Sedangkan apa yang dilakukan
oleh imam Harun harus diulangi tiap-tiap tahun dan apa yang dilakukan
imam Harun tidak dapat menghapus dosa atau menghilangkan dosa, tetapi
pengorbanan yang dilakukan oleh Yesus Kristus akan melepaskan orang
dari dosa. Yesus adalah imam yang sempurna, Ia tidak berdosa sehingga
tidak usah mempersembahkan korban untuk diri-Nya, tetapi mengorbankan
diri-Nya untuk orang lain. Iman-imam keturunan Harun mempersembahkan
darah binatang, tetapi Yesus mempersembahkan darah-Nya sendiri. Tanpa
darah Yesus tidak ada pengampunan dosa dan tidak ada penyucian diri
dan hati. Darah Yesus yang tertumpah dari kayu salib, itulah yang
membuat orang yang percaya kepada-Nya dapat menghampiri Allah. Darah
Yesus telah menyucikan sehingga orang yang percaya kepada-Nya dapat
masuk ke tempat yang mahakudus. Oleh darah-Nya, surga disediakan bagi
orang yang percaya kepada-Nya dan oleh darah-Nya orang percaya
dibangkitkan dan tinggal bersama Yesus untuk selama-lamanya. Dengan
demikian Darah Yesus memiliki kekayaan dan jauh lebih unggul daripada
darah binatang yang dipersembahkan oleh imam-imam keturunan Lewi.
Pengorbanan Yesus memiliki keunggulan dibanding dengan korban-korban
yang dilakukan oleh keturunan Harun. Korban yang dilakukan keturunan
Harun hanya menyucikan secara lahir dan tidak sampai kepada batin.
Korban Yesus menyucikan roh dan batin orang. Pengorbanan Yesus untuk
menyelamatkan umat manusia jauh lebih unggul dibanding dengan apa yang
dilakukan oleh imam-imam keturunan Harun. Korban Kristus adalah atas
kehendak-Nya sendiri sedangkan korban-korban Harun bukan atas kehendak
binatang-binatang itu. Korban Kristus adalah korban penghapus dosa,
korban Harun tidak menghapuskan dosa. Karena keunggulan tabiat dan
korban-Nya, maka Allah menetapkan Yesus sebagai pengantara perjanjian
baru.
Perjanjian yang lama (Taurat) bagi segenap kaum secara kelompok
sedangkan perjanjian baru berlaku bagi masing-masing orang secara
pribadi. Perjanjian lama dengan banyak korban dan tidak dapat
menghapus dosa orang, tetapi Yesus Kristus telah menetapkan Perjanjian
Baru dengan hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya untuk
menghapuskan dosa oleh pengorbanan-Nya. Pengorbanan-Nya lewat
kematian di kayu salib berkuasa untuk menghapuskan dosa yang dilakukan
orang sebelum dan sesudah kematian-Nya. Yesus telah mati untuk
orang-orang dalam Perjanjian Lama dan orang-orang dalam Perjanjian
Baru. Pengorbananya mempunyai kuasa untuk menghapus dosa sebelum dan
sesudah kematian-Nya. Pengorbanan Yesus Kristus berlaku bagi semua
orang pada segala masa. Pengorbanan-Nya membuat tiap-tiap orang yang
percaya kepada Yesus dapat menghampiri Allah. Sebelum pengorbanan-Nya
hanya Imam Besar boleh masuk ke tempat Mahakudus.
Dalam Perjanjian Baru hukum Allah ditulis dalam hati umat-Nya untuk
membaharui hati mereka, sehingga dari hati mereka muncul kerinduan
untuk melakukan kehendak Allah. Sedangkan dalam Perjanjian Lama hukum
itu ada di luar mereka, sehingga di dalam hati mereka tidak ada
kerinduan untuk mentaati hukum itu. Puncak dari Perjanjian Baru adalah
persekutuan dengan Allah secara pribadi. Kasih manusia dipusatkan pada
Allah.
Kesempurnaan hanya dapat dicapai melalui iman kepada Yesus Kristus.
Kesempurnaan hanya datang melalui pengorbanan Yesus Kristus. Iman
Yesus Kristus jauh lebih besar daripada imam semua orang dan iman kita
disempurnakan di dalam Yesus Kristus. Pada waktu kita mengalami
kekurangan, kesakitan, penganiayaan dan kesusahan dalam kehidupan,
Tuhan tidak akan meninggalkan kita.
Yesus Kristus adalah Pribadi yang tidak berubah, Ia tetap Allah. Yesus
sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia dalam satu Pribadi

Persoalan-persoalan kritis dalam kitab ini:
Apakah orang yang benar-benar percaya kepada Yesus Kristus tidak akan
murtad? Ketidakpercayaan menyebabkan orang murtad dari Tuhan (3:12)
kata murtad merupakan peringatan kepada jemaat. Jika jemaat tidak
memiliki iman akan mengakibatkan kemurtatan dari Tuhan dan berpaling
dari imannya kepada Yesus Kristus. Penulis surat Ibrani memberitahukan
jalan untuk menghindari kemurtatan, yaitu dengan saling mengasihi dan
saling menasehati setiap hari. Iman kepada Yesus Kristus memberikan
pengharapan sehingga tidak mengalami kebimbangan apakah tetap mengikut
Yesus atau undur dari Dia.
Menolak Yesus sama dengan memutuskan semua pengharapan untuk mendapat
keselamatan. Hanya ada satu "korban karena dosa" yang benar. Jika
seseorang yang telah memperoleh pengenalan dan sungguh-sungguh menjadi
orang Kristen yang benar-benar telah percaya kepada Kristus, kemudian
membuangnya dan berbalik dari Kristus, maka tidak ada lagi korban bagi
dia. Orang demikian telah murtad dari Kristus dan jalan untuk
menghampiri Allah sudah lenyap. Orang yang murtad dari Kristus akan
binasa.
Paulus memberi gambaran teladan-teladan iman dari pahlawan-pahlawan
dari Perjanjian Lama. Mereka telah menderita, bersabar dan tabah
sampai akhirnya. Walaupun mereka mengalami macam-macam penganiayaan
dan siksaan, tetapi mereka tidak menyangkal imannya. Demikian juga
halnya dengan orang-orang percaya di Ibrani yang masih kuat memegang
apa yang menjadi tradisi pendahulu-pendahulu mereka dan takut akan
penderitaan, sehingga mereka tidak melihat keselamatan yang begitu
besar dalam Yesus Kristus. Orang-orang percaya di Ibrani ada yang
ragu-ragu dan tidak percaya kepada pengorbanan Yesus, sehingga mereka
mau kembali ke pola hidup lama mereka yaitu berbalik ke agama Yahudi.
Dalam pasal Pasal 10:14, Apakah orang yang sudah dikuduskan tidak
mungkin berbuat dosa lagi. Kemungkinan untuk berbuat dosa lagi ada,
tetapi tentu sikap hatinya terhadap Allah adalah sempurna. Orang yang
sudah dibenarkan dan dikuduskan harus menanggalkan hal-hal yang
menghalangi kesempurnaan di dalam Yesus Kristus. Hal-hal yang
menghalangi kemajuan dalam kerohanian harus ditanggalkan.
Halangan-halangan dapat berupa kesusahan-kesusahan dalam kehidupan dan
ejekan-ejekan dari dunia ini. Harus diingat bahwa penderitaan yang
kita alami belum ada apa-apanya dibanding dengan penderitaan yang
dialami oleh Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita. Sebagai orang
yang telah dikuduskan harus tetap memandang kepada Yesus Kristus
sebagai pusat sasaran. Yesus adalah penawar bagi setiap persoalan
umat-Nya. Orang percaya jangan putus asa karena penderitaan, ingat
bahwa Yesus Kristus justru disempurnakan oleh penderitaan-Nya.

Batas-Batas Iman

SEKOLAH TINGGI ALKITAB TIRANUS
Mata Kuliah : Soteriologi dan Kehidupan Kristen
Dosen : Mika Sulistiono
Tugas : Analisis Pemikiran
Batas-Batas Iman
Nama : Adrianus

Buku ini membahas tentang isu-isu teologis yang berkaitan dengan
kepercayaan dan ketidakpercayaan, dan hal-hal yang berhubungan dengan
orang-orang yang meninggalkan imannya kepada Yesus Kristus. Buku ini
lebih memfokuskan kepercayaan dan ketidakpercayaan dari perspektif
kemanusiaan, kisah-kisah yang dibahas dalam buku ini adalah nyata.
Kisah-kisah berasal dari kesaksian orang-orang yang pernah mengaku
sebagai orang Kristen, bahkan banyak di antara mereka pernah terlibat
di dalam pelayanan Kristen untuk kurun waktu yang lama, tetapi
kemudian meninggalkan imannya. Pertanyaan yang perlu kita renungkan,
apakah seseorang yang sudah diselamatkan masih dapat kehilangan
keselamatannya. Kita akan mengatakan tidak akan hilang, namun,
bagaimana kita menyikapi fakta bahwa ada orang yang telah
betahun-tahun dengan setia melayani di gereja tetapi kemudian
meninggalkan imannya. Bagaimana kita memandang hal seperti ini?
Alasan-alasan apa yang mendorong orang-orang percaya meninggalkan
imannya. Bagaimana kita harus menafsirkan kesaksian-kesaksian banyak
pribadi yang telah meninggalkan kepercayaan mereka di masa lalu dan
masa kini?
Sebelum mengambil keputusan meninggalkan imannya, tentu mereka
mengalami pergumulan-pergumulan tentang kepercayaan mereka.
Persoalan-persoalan yang dihadapi oleh mereka yang meninggalkan
imannya adalah keraguan akan doktrinal, seperti meragukan keilahian
Kristus, kelahirannya dari seorang perawan, kebangkitan, dan yang
paling parah adalah keraguan mereka akan keberadaan Allah. Hal ini
semakin didukung oleh penemuan-penemuan ilmiah baru yang menempatkan
Allah semakin jauh dari jangkauan mereka. Selain itu
pengalaman-pengalaman hidup yang mereka rasakan, membuat mereka
semakin merasakan Allah membiarkan dan tidak mencegah hal-hal yang
buruk terjadi dalam kehidupan mereka. Masalah mulai muncul ketika
mereka mulai merasakan kebisuan atau kebungkaman Allah. Apakah
sesungguhnya ada Allah di luar sana atau yang mengatakan Allah ada
hanya tradisi yang dibuat oleh manusia?
Kisah Chuck dan Billy menggambarkan misteri kepercayaan dan
ketidakpercayaan. Apa yang menyebabkan orang menjadi percaya, apakah
seseorang percaya disebabkan oleh suatu gen keluarga, atau kepercayaan
seseorang disebabkan oleh lingkungan keluarga tempat mereka
dibesarkan? Apa yang dialami Chuck dalam keluarganya sangat berbeda
dengan Billy, Chuck hanya mengenyam pendidikan rendah dan menjalani
kehidupan yang duniawi, sedangkan Billy hidup dalam keluarga yang
saleh dan rajin ke gereja. Biily dibentuk menjadi seorang
pelayan/penghotbah melalui universitas, tetapi Chuch menjadi seorang
pelayan/penghotbah dengan belajar sendiri. Walaupun pelayanan Chuck
pertumbuhannya sangat pesat, tetapi keragu-raguannya terhadap imannya
selalu menghantui hidupnya. Chuck berkesimpulan bahwa keragu-raguannya
disebabkan oleh kurangnya pendidikan teologi, akhirnya Chuck
mendaftarkan diri ke sebuah seminari. Keberhasilan Chuck sebagai
seorang penginjil menjadikan popularitasnya naik dan mendapat
pengakuan umum, pelayanan Chuck berkembang luar biasa. Tetapi pada
saat yang sama Chuck justru mengalami masa yang berat, keraguan akan
imannya tidak dapat hilang, ia mengalami kekacauan rohani, keraguannya
terus berlanjut dan menguat, akhirnya Chuck tidak tahan lagi dan
meninggalkan pelayanan. Chuck tidak dapat lagi berpura-pura
mempercayai sesuatu yang ia tidak yakini. Dalam suatu pertemuan dengan
Billy, Chuck mengatakan bahwa ia tidak sependapat dengan semua
pandangan Bily tentang Allah dan kekristenan, Chuck menganggap bahwa
banyak hal yang disampaikan Billy di mimbar adalah omong kosong dan
usang. Tetapi, tidak ada kepura-puraan dalam diri Billy Graham: ia
mempercayai apa yang ia percayai dengan ketulusan yang tak
tergoyahkan.
Kisah keluarga Smith juga mengalami keraguan dan ketidakpercayaan
ketika mengalami berbagai permasalahan dalam hidupnya. Mereka memiliki
tujuh anak namun hanya tiga yang bertahan hidup sampai dewasa. Dari
keluarga besar yang memiliki iman kristen yang dalam, hanya iman
Hannalah yang bertahan, walaupun imannya itu sering diluputi oleh
keragu-raguan. Masa-masa sulit dalam hidupnya, kepedihan-kepedihan
membuat Hannah mulai mempertanyakan Allah. Ujian selanjutnya yang
dialami oleh Hannah adalah dari suaminya sendiri Robert, ia seorang
tokoh internasional yang mempersona banyak pendengar dengan
khotbahnya, Robert menjadi seorang penghotbah terkenal di dunia.
Tetapi badai kembali melanda keluarga Hannah, suaminya diberhentikan
dari tugas berkhotbahnya, akibat laporan dari seorang gadis bahwa
Robert masuk ke kamarnya dan melakukan perbuatan amoral. Robert
akhirnya memutuskan untuk tidak berkhotbah lagi, dengan alasan ia
benar-benar meragukan kepercayaannya, dan akhirnya ia benar-benar
meninggalkan imannya. Dari seorang yang menyelamatkan jiwa-jiwa
menjadi meninggalkan imannya. Alasan yang dijumpai dalam keluarga
Smith, adalah depresi dan penyakit mental, amoralitas, alasan
filosofis, kritisme alkitabiah, dan kekecewaan kepada Allah. Tidak
seperti suami dan anak-anaknya, Hannah tetap memegang imannya dengan
teguh sampai akhir hidupnya.
Kemisterian Allah telah menimbulkan berbagai pertanyaan, siapakah
Allah? Di manakah Allah? Kesamaan apa yang Allah dan manusia miliki?
Pertanyaan inilah yang menjadi isu kepercayaan dan ketidakpercayaan.
Walaupun keberadaan Allah adalah suatu yang misteri, dan Allah yang
tetap tersembunyi membuat orang berpikir bahwa Dia tidak ada, tetapi
Dia tetap melakukan rancangan-rancangannya dalam banyak peristiwa
sejarah. Banyak orang meninggalkan imannya diakibatkan oleh persepsi
yang keliru tentang Allah, mereka tidak dapat memahami keberadaan
Allah. Orang menggunakan berbagai cara untuk mengenal Allah, misalnya:
melalui peziarahan, kontemplasi, meditasi. Namun harus disadari bahwa
apapun cara yang orang gunakan dalam pencarian akan Allah, semua
diawali dengan adanya keragu-raguan terhadap iman. jika hal ini tidak
disikapi dengan baik, maka akan membawa seseorang semakin jauh dari
Tuhan atau semakin kehilangan iman, dan pada akhirnya akan mengalami
kehampaan iman. Walaupun tidak sampai kehilangan iman. Satu prinsip
yang harus kita pegang adalah selalu berpijak pada Alkitab sebagai
firman Allah yang akan mengungkapkan misteri-misteri Allah bagi kita.
Tidak dapat dipungkiri bahwa keraguan dan ketidakpercayaan selalu ada
di setiap masa atau zaman. Sejak kejatuhan umat manusia memiliki
kecenderungan untuk mengarah kepada ketidakpercayaan. Bahkan
orang-orang yang memiliki keyakinana yang kuat terhadap kepercayaan
mereka kepada Allah pun ada kecenderungan untuk mengalami
ketidakpercayaan. Mereka kadang menjalani hidup seperti orang yang
tidak percaya kepada Allah yang personal, Makahkuasa, Mahatahu, dan
Mahahadir. Dalam PB, dapat kita jumpai kasus ketidakpercayaan, siapa
Yesus itu, apakah Dia sungguh Mesias, Anak Allah? Atau, apakah Dia
hanya seorang rabi, seorang anak tukang kayu? Banyak orang meragukan
klaimnya termasuk ibu dan saudara-saudaranya, bahkan Yohanes pembaptis
dan beberapa murid-Nya. Ada banyak pengikut Yesus yang mengalami
kesulitan untuk mengerti sehingga meninggalkan iman mereka. Kita dapat
menemukan bahwa apa yang dialami oleh Yohanes pembaptis, Petrus, dan
Thomas menunjukkan penyebab hilangnya iman mereka bukan karena
penyangkalan yang terburu-buru atau keragu-raguan yang serius.
Walaupun Yohanes Pembaptis mengalami kebimbangan dalam imannya, Petrus
menyangkal dan mengutuk, Tomas menuntut bukti, tetapi keraguan dan
ketidakpercayaan mereka tidak menyebabkan apa yang disebut dosa tidak
terampuni. Allah yang berkuasa dan Dia mengetahui berbagai keraguan
dan penyangkalan kita, bahkan sebelum semua terjadi. Tokoh reformasi
seperti Matin Luther dan Calvin juga pernah mengalami keraguan, tetapi
mereka selalu kembali kepada Alkitab sebagai firman Allah.
Perkembangan teknologi di abad ke-20, menjadi ancaman terbesar
terhadap kekristenan. Ilah teknologi dan kemajuan telah menantang
Allah Alkitab. Umat Kristen jaman sekarang hanya berbasa-basi tentang
kebergantungan kepada Allah, tetapi dalam kenyataannya lebih
tergantung pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, di mana Allah
hanya dipikirkan setelahnya. Selain tantangan Ilmu pengetahuan,
filsafat juga menjadi tantangan orang Kristen. Tidak sedikit orang
Kristen yang goyah imannya setelah mereka belajar filsafat. Banyak
filsuf yang tidak percaya kepada Allah, mereka sampai pada kesimpulan
tentang "kematian Allah". Terdapat ratusan bahkan ribuan kaum lelaki
dan beberapa perempuan yang memainkan peran penting dalam merintis
jalan supaya ketidakpercayaan menjadi sebuah sudut pandang yang dapat
diterima dalam masyarakat modern. Para filsuf agama berusaha untuk
membuktikan keberadaan Allah melalui berbagai garis agrumen yang
rasional, tetapi semuannya mengalami kesia-siaan. Serangan paling
hebat bagi iman Kristen adalah munculnya teori evolusi Charles Darwin
dan sampai saat ini teori evolusi menjadi penguasa ilmu pengetahuan.
Teori evolusi membuka jalan bagi ketidakpercayaan yang semakin keras,
bahkan membawa banyak orang menjadi ateis. Para ilmuwan berpendapat
bahwa apa yang dulu dipercaya berasal dari Allah kini dapat dengan
mudah dijelaskan dengan data ilmiah.
Bebrapa hal yang mempengaruhi seseorang sehingga meninggalkan imannya,
antara lain: adanya kontadiksi-kontadiksi Alkitab yang nyata dan ini
sangat mengganggu kalangan yang memandang Alkitab tidak mungkin salah.
Isu-isu yang berkaitan dengan kebaikan Allah dan persoalan kejahatan,
mengapa Allah yang baik, yang Mahakuasa, membiarkan kejahatan terjadi,
membiarkan kaum teroris menghilangkan nyawa ribuan orang, membiarkan
bencana alam memusnakan jutaan orang. Banyak orang yang dulunya
memiliki hubungan yang intim dengan Allah, namun setelah belajar
tentang teologi, ilmu tentang Allah, sering kali justru merusak
kepercayaan seseorang kepada Allah. Tetapi inilah yang terjadi.
Berusaha memahami Allah melalui pikiran saja merupakan suatu upaya
sia-sia yang telah membuat banyak teolog jatuh ke jalan yang salah.
Tidak sedikit para pelayan Tuhan yang masih aktif dalam pelayanan
sedang bergumul dengan keragu-raguan dan ketidakpercayaan. Tidak
sedikit di antara mereka adalah orang-orang jebolan dari seminari.
F.W. Robertson seorang pengkhotbah yang mampu membuat sidang
pendengarnya terpaku, namun ia pun bergumul dengan keragu-raguan akan
Allah yang dikotbahkannya. Seringkali terbalik, mereka yang tidak
memiliki latar belakang religius, tetapi kemudian menjadi orang-orang
Kristen yang kuat ("orang percaya yang mengagumkan") dan mereka yang
memiliki latar belakang religius yang kuat, tetapi kemudian
meninggalkan iman ("orang murtad yang mengagumkan").
Pergumulan yang banyak membuat orang mengalami keraguan adalah
pertanyaan tentang keberadaan Allah. Apakah Allah itu ada? Kalau ada
mengapa membisu terhadap setiap persoalan, mengapa Allah membiarkan
kejahatan berkembang, kenapa Allah tidak mencurahkan murkanya atas
orang-orang jahat dan membuat orang-orang benar hidup sejahtera.
Dimanakah Allah di tengah penderitaan dan kejahatan? Persoalan
penderitaan dan kejahatan ketika dikaitkan dengan kebisuan Allah,
sering kali menjadi kendala bagi orang Kristen. Cara untuk menanggapi
kebisuan Allah terhadap rasa sakit dan penderitaan adalah meninggalkan
iman. Selain itu, faktor-faktor psikologis dan sosial kadang kala
membuat seseorang cenderung ke arah kepercayaan dan ketidakpercayaan.
Kematian juga merupakan penyebab seseorang meninggalkan imannya, rasa
kehilangan karena orang yang dikasihinya meninggal. Jadi tidak heran
kalau Karl Mark memandang agama sebagai racun yang mesti dihapuskan
dari masyarakat karena bagi Karl agama adalah penindas, senjata
kontrol sosial. Agama tidak memberikan solusi bagi persoalan yang
dihadapi manusia. Bagi Karl Mark Allah tidak ada.
Banyak orang Kristen membayangkan hidup tanpa iman sebagai suatu
kesedihan, ketidakamanan, dan tanpa pengharapan. Tetapi lain halnya
dengan orang yang sudah meninggalkan imannya mengatakan bahwa mereka
telah menemukan damai sejahtera yang sejati setelah meninggalkan iman
mereka. Bagi mereka meninggalkan iman saja belum cukup, mereka terus
berusaha untuk membawa orang lain pada cara berpikir mereka, mereka
menjadi misionaris ketidakpercayaan. Mereka yang dulunya pengijil
Kristen, kini mereka memanfaatkan keterampilan penginjilannya untuk
berbicara dan menulis, untuk mengajak orang meninggalkan iman. Mereka
dulunya mengkotbahkan Yesus sebagai Mesias, kini mengajarkan Yesus
sebagai mitos. Dulu mengajarkan Injil sebagai kabar baik, kini
mengajarkan Injil sebagai kabar buruk. Namun ada juga di antara mereka
akhirnya tidak tahan menjalani hidup tanpa iman kepada Allah, mereka
kemudian kembali kepada Tuhan Yesus.
Setelah membaca buku ini cukup mengagetkan bahwa dari sekian banyak
kisah orang yang mengalami ketidakpercayaan dan berakhir pada
meninggalkan iman, tidak sedikit diantaranya memulai masa kecil mereka
dengan suatu keyakinan yang sangat mantap, bahkan itu terjadi sampai
mereka menginjak masa remaja. Persoalan mulai terjadi ketika mereka
masuk ke seminari/universitas, di mana mereka mulai belajar teologi,
filsafat dan ilmu pengetahuan. Pikiran mereka mulai mempertanyakan apa
yang menjadi keyakinan mereka sejak kecil, keraguan mulai menghantui
pikiran mereka dan itulah yang menghantar mereka kepada
ketidakpercayaan yang berujung pada meninggalkan iman. Lebih
menyedihkan lagi bahwa banyak di antara mereka yang mengambil
keputusan untuk meninggalkan imannya adalah orang-orang yang pernah
eksis dalam pelayanan. Banyak di antara mereka pelayanannya luar biasa
membawa orang-orang bertobat dan datang kepada Yesus.
Menjadi tanda tanya besar, bagaimana mungkin ada orang yang mengalami
kuasa Injil dalam hidupnya dan dalam hidup orang lain dapat berpaling
dan meninggalkan imannya yang pernah diberitakannya kepada khalayak
umum? Apakah mereka memang tidak dipilih dari mulanya? Hanya Tuhan
yang tahu. Satu hal yang perlu kita pegang sebagai orang percaya bahwa
ketika kita memiliki kekayaan pengetahuan, pengalaman, dan hubungan
yang intim dengan Yesus, tentunya kita tidak akan meninggalkan iman.
Kita harus menjadikan Alkitab sebagai dasar iman, penolakan terhadap
Alkitab berarti penolakan terhadap Allah.
Dalam buku ini penulis memaparkan perjalanan orang-orang yang pernah
beriman kepada Tuhan Yesus, tetapi pada akhirnya mereka harus
meninggalkan imannya. Apa yang dipaparkan penulis mengisyaratkan bahwa
iman itu tidak statis. Dari kasus-kasus yang penulis paparkan dapat
kita melihat bahwa banyak di antara mereka yang terlahir dalam
keluarga Kristen dan mereka pada awalnya memilih iman yang begitu
kokoh, tetapi iman yang mereka miliki itu tidak statis. Ketika mereka
mulai menginjak dewasa mereka mulai mempertanyakan iman mereka, bahkan
ada yang sudah terjun bertahun-tahun dalam pelayanan, tetapi iman
mereka juga tidak statis, mereka pada akhirnya meninggalkan iman yang
tadinya kokoh. Dalam buku ini, penulis tidak membahas tentang hubungan
antara iman dan keselamatan, penulis hanya melihat penyebab mereka
meninggalkan. Penulis tidak membahas dari sisi apakah seseorang yang
meninggalkan iman memang sudah ditentukan dari semula untuk tidak
diselamatkan. Tentang kealkitabiah buku ini, penulis kurang
menggunakan ayat-ayat Alkitab sebagai pendukung. Akan lebih menguatkan
lagi, jika setiap kasus yang dibahas didukung dengan kebenaran
Alkitab, sehingga pembaca mengambil suatu kesimpulan berdasarkan
kebenaran Alkitab.
Bagi saya pribadi buku ini mengingatkan bahwa tanpa kita memiliki
pemahaman (pribadi dan karya) dan hubungan pribadi yang benar dengan
Tuhan Yesus, maka tidak menutup kemungkinan kita pun akan mengalami
hal yang sama dengan orang-orang yang meninggalkan imannya.

KUMPULAN KOTBAH DAN PUJIAN PENYEMBAHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA

  LINK KUMPULAN KOTBAH / RENUNGAN FIRMAN TUHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA (PAS)   1.        HIDUP YANG SUDAH DIBAHARUI https://www.youtu...