Tampilkan postingan dengan label Paper. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Paper. Tampilkan semua postingan

25 April 2013

KEPECAYAAN TERHADAP PARA ROH PADA SUKU BIAK, PAPUA

Tugas Makalah Teologi Kontestual
Nama : Michael Morino
Asal : Papua
Kuliah : STT SAPPI Cianjur


BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang

Masyarakat Biak masih memiliki kebudayaan kuno yang berkisar pada
kepercayaan animisme bahkan kepercayaan tersebut lebih ditonjolkan
melalui upacara ritual yang lebih dikenal dengan WOR. Kata Wor sudah
berarti lagu dan tari tradisional. Semua anak yang terkena wabah
penyakit dianggap bernasib malang sehingga harus diadakan upacara
adat.
Wor dapat mengekspresikan semua aspek kehidupan orang Biak, seperti
halnya upacara tradisional para leluhur berupa ukiran kayu, dan lebih
khusus pada motif atribut yang digunakan mereka pada saat menyanyi dan
menari; berupa motif pada pakaian. Semua barang yang digunakan untuk
upacara adat dapat disakralkan atau dikeramatkan.

Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang di atas maka rumusan masalahnya
adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah proses Wor berlangsung?
2. Apa tujuan suku Biak melakukan Wor?
3. Bagaimanakah upacara pesta adat ini berlangsung?

Tujuan Penulis
Bertitik tolak dari rumusan masalah maka tujuannya penulis ingin
menjelaskan masalahnya sebagai berikut:
1. Penulis ingin menjelaskan bagaimanakah proses Wor ini berlangsung
2. Penulis ingin menjelaskan apa tujuan suku Biak melakukan Wor
3. Penulis ingin menjelaskan bagaimanakah upacara pesta adat berlangsung


BAB II
KEPECAYAAN TERHADAP PARA ROH PADA SUKU BIAK, PAPUA

Pengertian wor
Dalam agama tradisional orang Biak, Wor merupakan suatu kewajiban yang
harus diselenggarakan oleh setiap keluarga batih/inti mereka. Wor
mempunyai dua arti :
(a) Wor sebagai upacara adat (upacara taradisional);
(b) Wor sebagai nyanyian adat .

Jika kita uraikan kedua konsep atau istilah munara dan wor atas struktur
atau bentuk katanya, maka akan jelas konsep-konsep utama yang berkaitan erat
dengan kedua kata kompleks tersebut. Kata munara terdiri atas dua kata
yaitu mun yang artinya penggal bagian atau bayar ganti sedangkan ara
artinya kasihan, ibah hati, penggugah, pemancing, motivasi, penyebab,
sesuatu terjadi. Wor terdiri atas dua kata w/ aw artinya engkau
sedangkang or panggilan, mengundang; pesta lagu nyanyian yang disebut
wor.

Dengan demikian kata munara atau wor itu dapat diformulasikan menjadi:
undangan keluarga untuk mengambil bagian dalam pesta: menari dan bernyanyi,
makan-minum bersama, dan diakhiri dengan acara transaksi ekonomi bersama
berupa hasil ladang seperti: talas, keladi, sagu, dan hasil buruan
seperti: daging
babi, ikan, dengan transaksi hasil barteran berupa: piring, gelang, parang,
tombak dan sebagainya antar keluarga tuan pesta dengan pihak keluarga paman
(mother brother), yang dikenal dalam adat Vyak dengan istilah munsasu dan
maidofa (take and give) secara kolektif.

Dengan demikian, munara atau wor dapat diartikan secara bebas sebagai pesta
atau upacara akbar yang tentunya dibarengi dengan acara jamuan makan,
bernyanyi dan menari, yang diakhiri dengan transaksi ekonomi, yang
terselenggara sebagai puncak dari seluruh rangkaian pesta adat
yang mengikuti lingkaran atau daur hidup seseorang, mulai dari kehadirannya
dalam kandungan (janin), kelahiran, kanak-kanak, remaja, akilbalik, dewasa, tua,
hingga ia masuk liang kubur.

3. Jenis Munara atau Wor Biak
Munara atau wor Vyak dibagi atas dua bagian besar, yaitu wor sraw 'pesta kecil'
dan munara atau wor veyeren 'pesta akabar'. Seterusnya wor sraw atau secabik
pesta (kecil) kurang lebih terbagi lagi atas 18 wor, yakni pesta 'wor':
1. Kakfo ikoibur 'meramal kelamin janin.
2. Anunbesop 'diturunkannya bayi darirumah ke halaman/bawah sekitar kampong.
3. Anansus 'tetekan bayi.
4. Raikarkir 'pelobangan telinga dan hidung.
5. Ananmam 'makan kunyahan.
6. Marandak 'jalan pertama kali.
7. Andomankun ' makan sendiri tanpa disuap.
8. Papaf 'penyapihan anak.
9. Kapanaknik 'cukur rambut anak.
10. Famamarwark 'pemberian cawat/pakain
11. Mansorandak 'pertama kali pergi dan kembali dari negeri orang.
12. Amfudum 'pengatapan rumah baru.
13. Sunavrdado 'memasuki/hunian rumah tinggal baru.
14. Sunsram 'memasukipendidikan di lembaga rumsram.
15. Sarsram 'pesta tamat lembaga rumsram.
16. Sarwai babo uji-pakai perahu baru.
17. Kper-roemun lepas dari bahaya.
18. Avovs-farbey pelepasan atribut perkabungan.

Sedangkan munara pesta akbar kurang lebih terbagi pula atas 11 wor, yakni
pesta wor.
1. beyeren atau wor kabor insos 'pesta inisiasi keluarga inti
(anak-anak).
2. ramrem pesta peminyakan bagi pengantin laki-laki yang akan
memasuki rumah tangga baru;
3. fakoker pesta pemotongan atau pelepasantali (adat) pingitan
(keperawanan) orang tua atau keluarga bagi seseorang.pengantin
perempuan yang hendak berumah tangga baru;
4. umbambin pesta prosesi antar-arakan dari keluarga luas pengantin
wanita kepada keluarga luas
pengantin pria;
5. yakyaker pesta pengantaran wanita disertai perabot rumah tangganya
dari keluarga dekat pihak perempuan (orang tua terdekat: bapak-ibu,
saudara-saudara, paman-bibi) untuk seterusnya tinggal bersama suaminya
atau memasuki keluarga pihak keluarga laki-laki;
6. akekdofnan (yaf) 'pesta panenraya).
7. faduren pesta sarat muatan perahu niaga atau keberhasilan
perbarteran antar pulau;
8 samsom pesta permohonan maaf.
9. samsyom syukur puji.
10. fannangki pesta pemberian persembahan hasil panen kepada Tuhan
penguasa langit-bumi.
11. rakmamun pesta kemenanganperang.

4. Wor sebagai Fokus dan Dinamika Hidup Orang Biak
Istilah fokus kebudayaan, seperti yang digunakan untuk mengarahkan diskusi
ini, sesungguhnya mengandung arti bahwa dalam kehidupan setiap suku bangsa
(etnik di mana pun, telah pasti mempunyai kebudayaan inti (culture core). Pada
hakekatnya garis besar konsep kebudayaan itu dapat dilihat sebagai pengetahuan
yang dapat diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan yang dipakai untuk
mengartikan pengalamannya dan menghasilkan tingkah laku social. Untuk
diskusi ini, kita akan melihat kebudayaan itu dari segi perilaku dalam
segi
kognitif (struktur). Berdasarkan pemahaman ini, kebudayaan dapat diartikan
dengan sejumlah perilaku manusia yang berpola sebagai hasil dari suatu
kegiatan (munara-wor). Kebudayaan juga adalah keseluruhan gagasan, ide,
kepercayaan dan pengetahuan manusia dalam suatu masyarakat. Karena itu,
perilaku budaya pada dasarnya ditentukan oleh segi kognisi atau pengetahuan
dan pengalaman manusia dalam suatu masyarakat. Karena itu, perilaku budaya
pada dasarnya ditentukan oleh segi kognisi atau pengetahuan dan pengalaman
manusia. Setiap kebudayaan mengandung berbagai kategori perilaku yang
digunakan manusia untuk memilah-milah dan menggolong-golongkan
pengalaman Sehubungan dengan itu, penulis akan
mencoba mengemukakan wor atau pesta sebagai fokus dalam kebudayaan
Biak. Upacara religi secara universal danpada dasarnya berfungsi
sebagai aktivitas untuk merekonstruksikan kembalaisemangat kehidupan
sosial antar warga masyarakat.
Menrut pengetahuan emik penulis bahwa bila diteliti secara mendalam tentang
rusaknya tatanan atau struktur sosial orang Biak yang terpaket dalam upacara
adat (munara/wor), karena telah dirusak oleh pranata lain. Diduga semangat
membangun dalam kebudayaan Biak menjadi rusak dan renggang oleh karena
beberapa sistem pranata adat Biak diputuskan secara sepihak oleh intervensi
kebudayaan luar sehingga dinamika kehidupan sosial orang Biak tak berdaya
lagi. Oleh karena wor sebagai pranata dan sekaligus menjadi dinamisator atas
prestasi maksimal bagi seseorang, keluarga, kelompok keret atau etnis Biak
sengaja diputuskan maka dinamika hidup orang Biak telah berada di ambang
kepunahan (Kamma, 1981, 1982; Kapissa, 1994; Rumbrawer, 1995). Lihat
struktur struktur Wor sebagai berikut


Hakekat dan Makna Wor Biak
Sebagai mana telah disinggung sepintas pada awal diskusi kita di atas, bahwa
hakekat wor atau pesta Biak adalah pusat kehidupan suku bangsa Biak (culture
core). Mengapa pernyataan hipotesis ini cenderung diabsahkan. Oleh karena jika
kita diskusikan secara mendalam tentang wor maka akan kita jumpai hakekat
dan arti makna hidup seutuhnya dalam terselenggaranya upacara ritual Biak.
Dalam filsafat ekonomi orang Biak telah ditegaskan bahwa " Nko wor va ido, na
nko mar" (Kami akan mati, jika kami tidak bernyanyi). Orang Biak dahulu, telah
menyadari bahwa lagu dan pesta adalah aset kehidupan. Jika melaksanakan
upacara wor akan mendatangkan rejeki dan berkah bagi keluarga dan
masyarakat sekitar. Pernyataan seperti ini telah dinyatakan dalam tema dan syair
lagu beberapa wor Biak kurang lebih dinyatakan sebagai berikut: Ada lagu ada
kehidupan (wor isya kenm isya); ada kehidupan ada makanan (kenm isya anan
isya); ada makanan ada nilai (anan isya vave snonsnon / maseren isya); dan
dapat diakhiri dengan: ada nilai ada pesta inisiasi (vave sno manseren isya
munara isya), dan ada persta akbar ada seberkas kasih dan persatuan klen atau
kampung (munara isya vave oser er mnu isya kako).

Budaya
Orang Biak sebagian besar telah menganut agama Kristen. Tetapi, orang
Biak masih banyak memiliki kepercayaan terhadap para roh, yaitu suatu
kepercayaan yang telah terbentuk dari nenek moyang mereka. Mereka
percaya akan adanya penguasa yang melebihi kekuatan atau kekuasaaan
manusia biasa yang menurut mereka penguasa tersebut mendiami Nanggi
(surga) yang berada di Mandep (langit).
Selain itu, mereka percaya akan adanya penguasa-penguasa yang mendiami
Farsyos (Jagad raya) dan ada juga yang menghuni abyab (gua), karui
beba (batu besar), bon bekaki (gunung tinggi), soren (dasar laut), war
besyab (sungai), ai beba (pohon besar), dan lain-lainnya.

Penguasa yang mendiami Nanggi merupakan pusat kekuatan atau kekuasaan
yang mengatur alam semesta. Penguasa Nanggi (Sang Langit) dikenal
dengan sebutan Manggundi (Dia sendiri). Penguasa-penguasa yang
mendiami Farsyos, abyab, karui beba (batu besar), bon bekaki, dan
lain-lainnya yang disebutkan di atas adalah bersifat roh (spirit).
Roh-roh ini diklasifikasikan menjadi dua, yaitu roh-roh/arwah-arwah
nenek moyang dan kerabat mereka yang telah meninggal dunia yang
dikenal dengan istilah bahasa Biak yaitu Karwar. Karwar ini mendiami
Farsyos (jagad raya), sup/meos aibui (wilayah/tempat atau pulau yang
merupakan tempat berkumpulnya arwah-arwah itu) dan juga Amfyanir.
Selain itu, roh-roh itu mendiami wilayah-wilayah yang tidak ada
penghuninya (sup bebewursba), seperti lautan luas atau hutan-hutan
belan-tara.

Kedua, roh-roh halus jin. Roh-roh ini dibagi menjadi tiga, yaitu : (a)
roh-roh halus/jin yang mendiami pohon-pohon besar yang dalam istilah
bahasa Biak disebut Arbur; (b) roh-roh halus/jin yang mendiami gua,
gunung, batu, hutan rimba, sungai disebut dabyor, yang dikenal juga
dengan sebutan Manggun (pemilik); dan roh-roh halu /jin yang mendiami
laut atau lautan disebut Faknik.

Hal ini menunjukkan bahwa orang Biak percaya adanya makhluk
supranatural. Agama tradisional mereka mempunyai hubungan erat dengan
mitologi mereka. Tokoh mitologi mereka adalah Manarmakeri yang telah
pergi ke sebelah barat dan dia akan datang kembali untuk memberikan
kebahagian atau kekayaan bagi mereka yang telah lama ditinggalkan.
Mereka percaya bahwa Manggundi yang menjelma sebagai manusia biasa,
yaitu Manarmakeri yang pernah melakukan karya Koreri di Meokbundi
(salah satu pulau di Biak Timur).

Namun, ia tidak diterima oleh masyarakatnya (Orang Biak), sehingga ia
pergi ke bagian barat yaitu Eropa, dan Ia akan kembali kepada mereka
dengan membawa kembali koreri, yaitu dunia Kando Mob Oser, artinya
dunia yang tidak ada kesusahan lagi/dunia bahagia. Selain itu, Wor
merupakan unsur penting dalam agama tradisonal mereka. Dengan demikian
mempunyai sifat religius cukup tinggi.

Oleh karena itu, Wor merupakan suatu perwujudan dari kehidupan
religius yang menurut mereka sangat penting. Dikatakan sangat penting
karena Wor mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas
orang Biak dan merupakan simbol hubungan mereka dengan Penguasa
(Manggundi) dan kerabat-kerabat mereka yang meninggal (Arwah-arwah
nenek moyang).

Dalam kehidupan beragama orang Biak, Wor merupakan suatu kewajiban
yang diatur berdasarkan sistem kekerabatan (patrilineal) dan sistem
perkawinan mereka, sehingga apabila ada keluarga batih yang lalai
melakukannya, maka keluarga tersebut akan mendapat sanksi dari
Manggundi atau arwah-arwah nenek moyang mereka



BAB III
PEMAHAMAN SUKU BIAK TERHADAP MUSIK WOR

Musik Wor dalam kehidupan masyarakat Biak berhubungan erat dengan
upacara keagamaan. Dengan upacara-upacara keagamaan, orang Biak
menyatakan hubungannya dengan "penguasa" yang disembah. Sebelum
masuknya pengaruh agama Kristen, orang Biak percaya akan adanya
penguasa yang melebihi kekuatan atau kekuasaan manusia biasa yang
menurut mereka penguasa tersebut mendiami Nanggi (surga) yang berada
di Mandep (langit). Selain itu, mereka percaya akan adanya
penguasa-penguasa yang mendiami Farscyos (jagad raya) dan ada juga
yang menghuni abyab (gua), karui beba (batu besar), bon bebaki (gunung
tinggi), soren (dasar laut), ai beba (pohon besar), dan lain-lainnya.
Penguasa yang mendiami Nanggi merupakan pusat kekuatan atau kekuasaan
tertinggi yang mengatur alam semesta. Penguasa Nanggi (Sang langit)
dikenal dengan sebutan Mangundi (Dia sendiri). Penguasa-penguasa yang
mendiami Farscyos (jagad raya), abyab (gua), karui beba (batu besar),
bon bebaki (gunung tinggi), soren (dasar laut), ai beba (pohon besar)
, dan lain-lainnya yang disebutkan di atas adalah bersifat roh
(spirit). Roh-roh ini diklasifikasikan menjadi dua, yaitu : (1)
Roh-roh/arwah-arwah nenek moyang dan kerabat mereka yang telah
meninggal dunia yang dikenal dengan istilah bahasa Biak yaitu Karwar.
Agama tradisional mereka mempunyai hubungan erat dengan mitologi
mereka. Tokoh mitologi mereka adalah Manarmakeri yang telah pergi ke
sebelah barat dan dia akan datang kembali
1. II. Deskripsi Masyarakat Biak.
Orang Biak adalah salah satu dari 250 suku bangsa di Tanah Papua.
Sekitar 96.000 penduduk tinggal di kabupaten Biak Numfor, yang
meliputi kepulauan Biak, Supiori, dan Numfor, dengan luas 3130 km².
Separuh dari penduduk tinggal di Biak kota. Ibukota kabupaten ini,
yang secara etnis penduduknya campuran, merupakan pusat pemerintahan
dan perekonomian, serta lokasi pelabuhan udara internasional. Biak
Numfor adalah kabupaten yang paling padat penduduknya di Irian Jaya,
dan satu-satunya wilayah yang penduduknya memiliki bahasa dan budaya
yang sama.
Sebelum perang dunia II, Biak terkenal sebagai sarang bajak laut.
Pemerintah Belanda meramalkan bahwa para bajak laut ini akan pindah
atau punah, kalau serangan-serangan meraka talah diberantas.
Kenyataannya, perdagangan merupakan sumber yang lebih jauh penting
dalam menopang kehidupan mereka daripada penjarahan, meski reputasi
Biak yang mengerikan itu sebagian tetap benar. Orang-orang Biak pada
masa lalu adalah pandai besi yang berpindah-pindah, pedagang dan
sewaktu-waktu menjadi pengikut Sultan Tidore. Sekarang kebanyakan
masyarakat menjadi nelayan, pemburu, dan petani yang berpindah-pindah
dengan mudah antara darat dan laut.

Pelaut selalu mendapat posisi yang khusus dalam masyarakat Biak.
Diceritakan bagaimana nenek moyang orang Biak mendayung perahu ke
barat atau selatan manuju Seram, Timor, dan bahkan ke Singapura untuk
mencari harta karun dan budak. Melancong ke "tanah asing' masih
menjadi kebanggaan sekarang dan kualifikasi terbaik untuk menjadi
pemimpin lokal seringkali berupa "pengalamannya di luar". Namun, lebih
penting lagi dari sekedar melancong, adalah bagaimana pengalaman ini
dapat "diterjemahkan" untuk konteks lokal. Para pelancong harus
membuktikan petualangan-petualangan mereka dengan benda-benda,
gelar-gelar, dan teks-teks: porselin China dan Eropa digunakan untuk
mas kawin dan alat tukar menukar dalam upacara; gelar yang diberikan
oleh Sultan Tidore diwariskan, ditukar, dan dijual oleh sanak keluarga
dari yang menerima gelar; kata-kata asing, frasa-frasa, dan
potongan-potongan dari khotbah (yang dihafal dalam kunjungan ke tempat
misionaris) dapat dimasukkan ke dalam cerita-cerita atau lagu-lagu.
Seorang misionaris dan antropolog belanda, F.C. Kamma, menulis:
"orang-orang biak menganggap sesuatu sebagai hal yang aneh hanya bila
hal itu belum menjadi milik mereka. Tetapi, begitu benda tersebut
'dikuasai', pemiliknya itu dianggap memiliki harkat yang sama seperti
yang dimiliki oleh pembajak laut pada masa lampau". Dalam pencarian
status, masyarakat Biak memberikan nilai positif kepada semua elemen
asing, dan benar- benar menyerap elemen-elemen itu, bukanlah hanya
menempelkannya.

Pada jaman ini, orang-orang Biak banyak yang menjadi pilot, ilmuwan,
rektor universitas, dan bintang-bintang sepakbola. Banyak di antara
mereka adalah keturunan dari guru-guru pribumi. Pada tahun 1950-an,
saat usaha-usaha awal untuk mengembangkan daerah tersebut secara
serius, orang Belanda sudah menganggap penduduk Biak sebagai
"orang-orang papua yang paling terpengaruh Barat". Namun orang Biak
masih mempertahankan nilai-nilai dan gaya berpikir lokal mereka. Mas
kawin masih mencerminkan dan menciptakan hubungan-hubungan sosial.
Seorang pegawai negri masih akan meliburkan diri untuk menunggu di
bandara dengan satu kotak umbi taro bagi sanak familinya yang
melancong, oleh-oleh yang bersifat feminin ini melambangkan ikatan
hubungan antara seorang laki-laki dengan saudara petempuan serta
ikatan antara keturunan-keturunan mereka. Seorang paman di Jayapura
mungkin masih bisa memberikan "gelar" pada keponakannya dengan
membiayai kuliahnya di Universitas. Batas-batas antara perkotaan dan
pedesaan Biak tetap dapat ditembus. Penduduk kota kerap kali
mengunjungi sanak keluarganya di desa dan banyak menyumbang pada
proyek-proyek desa. Orang-orang desa gemar sekali berkunjung ke kota
Biak untuk berjualan di pasar, mengunjungi sanak keluarga dan
berbelanja. Namun kedua lingkungan ini tetap mempertahankan
kualitasnya masing-masing. Tidak banyak uang beredar di desa-desa,
dimana mata pencaharian mereka tergantung pada pengaturan barter dan
produksi secara tradisional.

Pesta-pesta megah yang pernah menandai kehidupan sosial masyarakat
Biak sekarang merupakan sesuatu yang telah lampau. Namun, upacara
perkawinan, ulang tahun atau keselamatan pulang dari perjalanan masih
dirayakan dengan kegiatan makan dan minum, menari dan menyanyi
sepanjang malam. Pada masa lalu, nyanyiannya adalah wor. Sekarang
lagu-lagu gereja dan yospan telah menggantikan fungsi wor dalam
kebanyakan perayaan yang diadakan. Tidak mengherankan dengan
kemunduran yang terjadi dalam waktu yang panjang dari genre yang tua
ini; yang lebih mengherankan adalah kehidupannya yang tetap hadir
selama berpuluh-puluh tahun, atau bahkan abad, meskipun ia dilarang
keras. Misionaris yang datang ke teluk Cendrawasih tahun 1855
menemukan "orang-orang kasar tanpa agama","yang membuat pantai-pantai
bergema dengan lagu-lagu perang mereka dan dengan gemuruh gendang dan
suara yang berat, yang mengumandangkan bait-bait kemenangan mereka".
Para misionaris bekerjasama untuk menghapus bentuk-bentuk nyanyian
asli , yang mereka anggap terikat dengan peperangan antar kelompok.
Kalau bisa tetap selamat dari peperangan ini, wor pasti telah memiliki
kedudukan yang kokoh dalam masyarakat lokal, sebagaimana kita akan
melihat jika sekarang kita beralih ke masalah musik masyarakat biak
pada masa lampau.


BAB IV
STRATEGI MEMBAWA INJIL KE SUKU BIAK

Suku biak adalah suku yang memiliki budaya yang disebut Wor. Wor ini
sangat terkenal, wor ini adalah upacara yang biasa di lakukan oleh
suku biak sebagai satu ucapan syukur. Melihat dari latar belakang maka
penulis mengambil kesimpulan bahwa ketika penulis akanmelakukan
pelayanan disana engan mengunakan stratagi wor ssebagai jembatan untuk
memberitakan injil.


BAB V
PENUTUP

A. kesimpulan
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kebudayaan inti atau fokus
kebudayaan orang Biak sesungguhnya adalah pelaksanaan wor. Jika wor tidak
dilaksanakan berarti semua sistem kehidupan dan aktivitas hidup orang Biak
akan menjadi lumpuh total, tidak akan bergairah lagi dan akhirnya totalitas
kebudayaan Biak akan punah.
Makna tersirat dalam diskusi ini adalah bahwa akibat dari intervensi
kebudayaan-kebudayaan dominan dan adanya larangan untuk membatasi
berbagai upacara ritual wor Biak, maka fokus dan dinamika kebudayaan Biak
pun punah. Hilanglah makna upacara yang mempertebal perasaan kolektif dan
integrasi sosial orang Biak.

B. Saran
Biarlah dari makalah ini dapat memberikan satu inspirasi bagi setiap
orang yang punya hati dalam pelayanan kontekstual. untuk masuk kedalam
budaya suatu daerah harus melalui konteks budaya setempat.

22 April 2013

PELAYANAN HOLISTIK BAGI ANAK PUTUS SEKOLAH

PELAYANAN HOLISTIK BAGI ANAK PUTUS SEKOLAH DISEBABKAN KARENA
KEMISKINANA DI DAERAH PINRANG,


DISUSUN
MARNI
NPM: 20100111


TUGAS INI DIBUAT UNTUK MEMENUHI TUGAS MAKALAH MISIHOLISTIK YANG
DIBIMBING OLEH ADRIANUS PASASA





SEKOLAH TINGGI TEOLOGI
SEKOLAH ALKITAB PENGEMBANGAN PEDESAAN INDONESIA
( STT SAPPI )
Cianjur, Maret 2013


BAB 1

PENDAHULUAN


1. Latar belakang pendidikan orang tua
Latar belakang pendidikan orang tua, adalah hampir dikatakan rata-rata
orang tua mereka adalah semua petani dan tidak ada pekerjaan bahkan
ada yang tidak mempunyai lahan sendiri, tidak sekolah. Sehingga banyak
dari anak-anak tidak dapat sekolah disebabkan latar belakang orang
tua yang tidak mempunyai kemampuan untuk membiayai anak-anaknya dalam
bangku pendidikan.

2. Tujuan Masalah
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui dan bagaimana
peranan pemerintah daerah dan hamba Tuhan dalam pemberdayaan masyarkat
khususnya dalam pengentasan anak putus sekolah, di Kecamatan Lembang
Kabupaten Pinrang. Anak putus sekolah di Kecamatan Lembang Kabupaten
Pinrang, ada begitu banyak sehingga penulis mempunyai kerinduan untuk
dapat melihat anak yang putus sekolah, disebabkan oleh karena
kurangnya biaya, atau karena keadaan ekonomi.

3. Rumusan masalah
Untuk mencapai derajat anak yang putus sekolah dan bisa sekolah
kembali yang sertinggi-tingginya, sangat diperlukan perhatian dan
tanggung jawab dari Pemerintah terhadap pelaksanaan pelayanan.
Masyarakat merupakan komponen yang sangat penting dalam pencapaian
tujuan dan hasil dari pelakasanaan kebijakan pelayanan kepada anak
putus sekolah. Olehnya itu Penulis membatasi permasalahan dengan
lingkup sebagai berikut :
1. Bagaimana persepsi Masyarakat terhadap Kebijakan pelayanan anak
putus sekolah Masyarakat Pinrang ?
2. Apa faktor yang mempengaruhi pelayanan anak putus sekolah di Pusat
Masyarakat Pinrang ?


Bab II

KEMISKINAN


1. Pengertian Kemiskinan
"Kemiskinan adalah kekurangan dana untuk biaya hidup, misalnya,
kekurangan dana untuk membeli makanan, membayar sewa rumah tinggal,
membeli pakaian, membiayai pelayanan, kesehatan dan pendidikan, serta
kepentingan hidup lainnya".
Kemiskinan yang terjadi karena pendapatan yang rendah yang di sebabkan
oleh berbagai macama soal hidup, misalnya lahan tidak ada/kecil, tidak
ada pendidikan, tidak ada keterampilan, pekerjaan, menjadi
pengangguran. Dan disebabkan karena malas. Banyak anak-anak yang
menjadi depresi oleh karena tidak sekolah mereka sedang sekolah tetapi
karena biaya tidak cukup menjadi malu,dan tertekan disebabkan karena
biaya hidup sekolah kurang, pendapatan orang tua tidak menjamin
sekolah anak-anak.

2. Kondisi obyektif anak putus sekolah
Kondisi obyektif anak putus sekolah di Kecamatan Lembang " mencapai
angka 979 anak, terdiri dari tingkat SD berjumlah 166 anak, SMP 372,
dan SMA 441 anak" . Begitu menyedihkan kalau kita dapat melihat
keadaan seperti ini. Pertanyaannya ini tanggungjawab siapa? Dimana
masa depan anak sangat berkurang oleh karena kondisi dari keluarga
mereka.
Dengan adanya penelitian penulis berharap akan adanya perkembangan
yang akan diperoleh dan dapat membantu bagi anak putus sekolah karena
keadaan ekonomi. Masa depan anak menjadi terhambat, bahkan boleh
dikatakan bahwa masa depan anak adalah suram. Merupakan sangat
menyedihkan anak-anak ini mereka hanya dapat berputus asa dan banyak
yang menjadi pengangguran, dan membantu orang tua, bahkan ada begitu
banyak menjadi anak jalanan.
'Berusia sekitar dua sampai 15 tahun. Mereka umumnya tidak lagi
mengenal dunia pendidikan dan dunia keluarga. Mereka tidak mengenal
dunia pendidikan. Mereka tidak mengenal lagi dunia bermain dan
sebagainya. Mereka berhadapan dengan kekerasan di jalanan setiap hari.
Kita bisa bayangkan anak-anak pada usia dua tahun terpaksa harus
menghidupi diri sendiri dan keluarganya dengan menghadapi kekerasan
yang begitu luar biasa.

3. faktor penyebab anak putus sekolah
'Situasi anak putus sekolah cukup memprihatinkan karena sampai hari
ini masalah-masalah anak, khususnya pada anak-anak yang berada di
jalanan ini yang tidak mempunyai keluarga,dan bahkan menjadi tulang
punggung keluarganya sendiri, belum mendapat perhatian yang serius
dari pemerintah. Jumlahnya terus-menerus meningkat. Bahkan pemerintah
sendiri tidak punya data.



BAB III
JAWABAN PELAYANAN HOLISTIK ANAK PUTUS SEEKOLAH


Berdasarkan 4 kasus yang ditemukan penulis, faktor yang menjadi
penyebab anak tidak atau putus sekolah adalah:

1. Lemahnya ekonomi keluarga
Orang yang jujur biarpun miskinnya ia adalah raja karena kejujurannya.
Dari ketulusan hatinya ia dapat membuktikan, dari sikapnya, namun yang
sering kali terjadi adalah orang yang miskin semakin ditindas dan dari
kepolosannya orang kya dapat memanfaatkan mereka, sehingga yang
terjadi adalah orang miskin semakin miskin dan orang kaya akan semakin
kaya. Karena dari kekayaannya ia dapat berkuaasa.
Orang miskin sering kelaparan dan tidak dapat makan dan kita sering
melihat banyak orang miskin banyak meninggal karena kelaparan. seperti
dalam " Lazarus, orang miskin, berbaring sakit didepan pintu seorang
kaya dan berharap mendapat sesuatu yang jatuh dari meja orang kaya
itu, untuk sekedar menghilangkan rasa laparnya itu (Luk. 16:20).
Gambaran tentang orang miskin dapat kita lihat di dalam, " Perjanjian
Baru kemiskinan pada dasarnya, orang-orang miskin itu sangat miskin,
mereka hidup begitu saja diujung batas hidup , mereka sering disamakan
dengan orang-orang yang sakit para tidak bisa ngapain-ngapain lagi,
cacat, hanya dapat berpakaian seadanya dan hanya dapat membutuhkan
orang lain" . Itulah yang sering di samakan dengan orang miskin tidak
dapat berbuat apa-apa hanya mereka bisa menantikan pertolongan. Inilah
yang membuat anak-anak banyak putus sekolah.
"Salah satu sifat yang dipuji dan dihargai orang ialah kejujuran. Jika
kita berterusterang dan tulus kemungkinan besar orang-orang menaruh
kepercayaan. Tak seorangpun mau mempercayai orang yang ia tidak rasa
tidak jujur. Apabila seorang merasa bahwa kita adalah seorang yang
jujur sehingga ia dapat empercayai kita. Keadaan dapat dipercayai
merupakan suatu faktor yang penting sekali dalam menimbulkan
kepercayaan diantara sesama manusia.

2. Kondisi lingkungan tempat tinggal,dan teman bergaul
Lingkungan sosial, ekonomi masyarakat yang tidak kondusif dapat
menjadi biang keladi dari kegagalan kinerja kebijakan. Karena itu
upaya untuk meningkatkan masyarakat untuk dapat bangkit dari
hidupnya,kebijakan harus pula memperhatikan kondisi lingkungan agar
eksternal.
Oleh karena itu kaum miskin kebanyakan menjadi korban keadaan atau
juga menyumbang terhadap kemiskinan mereka. Sehingga dapat pula
terpengaruh dari teman sepergaulannya. Oleh karena itu pandangan kita
dalam dunia pendidikan mereka sangat rendah sehingga banyak anak-anak
putus sekolah.
Oleh pengaruh dari lingkungan sehingga membuat anak-anak tidak sekolah
dan biaya/dana tidak cukup. Dan pengaruhnya dari sini kebanyak
orang-orang miskin menjadi minder menjadi malu karena tetangga.
Sehingga banyak mengalami saat putus asa. " Setiap orang pernah
mengalami saat-saat dimana ia merasa bingung atau putus asa. Mungkin
kita semua pernah mengalami saat dimana segala sesuatu tampaknya serba
salah".
Orang yang mengalami putus asah bukan hanya karena masalah banyak atau
di kagetkan, tetapi bisa juga karena dari kemiskinan atau putus
sekolah. " Orang yang mengalami putus asah sehingga depresi tidak
hanya mengalami ketidakbahagiaan secara pribadi tetapi
ketidakmampuannya untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan atau
menggerogoti dari kehidupannya ".
Sukar sekali bagi kita untuk dapat memahami orang yang sedang putus
asa, apabila kita sendiri tidak pernah mengalami hal yang demikian.
Orang-orang tersebut sering mengkritik tetapi mereka sesungguhnya
tidak tahu apa yang mereka lakukan, dan mereka merasa sudah
bersukacita karena sudah mengalami kesenangan dan tidak pernah tahu
bagaimana sesungguhnya kehidupannya.

3. Pandangan masyarakat mengenai pendidikan.
Pandangan masyarakat megenai pendidikan adalah sangat bagus namun
mereka hanya berpasra diri karena mereka sudah melihat keadaan mereka.
Dari sinilah kita dapat memperhatikan sebenarnya apa yang menjadi
tugas dan tangungjawab dan Peranan pemerintah daerah Kabupaten Pinrang
dan hamba Tuhan. Dalam mengatasi, sulusi untuk mencari jalan keluar
agar masyarakat dapat terbuka dalam dunia pendidikan. Dan membantu
masyarakat untuk keluar dari masalahnya.

4. Membuat suatu kebijakan untuk mengentaskan anak putus sekolah.
Salah satu langkah strategi yang harus penulis lakukan dalam
mengetaskan/menyelesaikan anak putus sekolah yang disebabkan oleh
karena kemiskinan, dalam upaya untuk memotong mata rantai lingkaran
setan, kemiskinan adalah dengan meningkatkan pendidikan anak keluarga
miskin.
Bantuan kepada mereka yang akan diberikan, penulis tidak akan langsung
untuk memberikan dalam pembebasan biaya/dana, disisi lain penulis
tidak mempunyai modal tetapi penulis akan melakukan. Pertama
mengumpulkan anak-anak ,Mencari dana, melalui media juga, dalam
melakukan pembinaan, les anak-anak, untuk pembelian buku, dan
peralatan sampai mereka akan selesai. Anak-anak keluarga miskin akan
diberikan keterampilan yang memadai, sehingga setelah lulus mereka
dapat bekerja. Dan meminta bantuan kepada aparat pemerintah setempat.
Penulis juga bisa masuk dalam berbagai keterampilan, dalam bentuk
pencarian dana dan melalui membuat produk yang akan penulis lakukan
dan supaya penulis dapat membantu. Dengan adanya program bantuan yang
dibuat diharapkan dapat berjalan dengan baik.


BAB IV

PENUTUP

1. Kesimpulan

Yang menjadi kesimpulan saya adalah banyak hal yang harus kita lakukan
dalam melayani,seperti Optimalisasi dalam melakukan pelayan bagian
pendidikan bagi masyarakat msikin, dan anak putus sekolah. Pelayanan
yang dilakukan bukan hanya dimibar, tetapi, Pelayanan pada hakikatnya
adalah serangkaian kegiatan, karena itu ia merupakan suatu proses.
sebagai proses pelayanan berlangsung secara rutin dan
berkesinambungan, meliputi seluruh kehidupan orang dalam masyarakat.
Pelayanan adalah usaha melayani kebutuhan orang lain dengan penuh
kerelaan tanpa mengaharapkan imbalan.

2. Saran
Melalui makalah yang penulis buat, maka penulis akan memberikan saran:
a. Pemerintah dan hamba Tuhan
Pemerintah dan hamba Tuhan agar dapat lebih aktif atau memperhatikan
bagi anak yang putus sekolah. Supaya anak-anak tidak putus sekolah
hanya karena factor biaya, tetapi mereka juga dapat menikmati
pendidikan.
b. Orang tua
Melalui pelayanan holistik yang dilakukan penulis berharap agar orang
tua tidak lagi merasa minder/malu, oleh karena keadaan yang
menyebabkan mereka merasa tidak mampu, tetapi mereka dapat bangkit
memikirkan apa harus dilakukan dalam masalah keluarganya, dan dapat
menyekolahkan anak-anaknya. Supaya anak-anak dapat sekolah kembali dan
tidak mudah putus asah, tetapi anak-anak ini dapat terbuka dan melihat
masa depan mereka.

2 Februari 2012

STRATEGI DON RICHARSON Dalam Menjangkau Suku Sawi

Oleh: Adrianus Pasasa,S.T, M.A

I.      PENDAHULUAN
Dalam bagian pendahuluan ini akan dibahas: pokok masalah, tujuan penulisan, pentingnya penulisan, lingkup penulisan.
           
Pokok Masalah
Don Richardson adalah seorang tokoh misi yang memiliki beban untuk melayani suku-suku di pedalaman Irian Jaya (Papua). Don Richardson mempersembahkan hidupnya untuk memberitakan Injil kepada beberapa wilayah yang paling terpencil dan terabaikan di dunia. Dalam sebuah kebaktian di Prairie Bible Institute tahun 1955, Don Richarson, seorang pemuda yang saat itu masih berusia 20 tahun, mengambil suatu keputusan untuk terlibat dalam pelayanan misi ke luar negeri. Panggilannya saat itu bukanlah panggilan yang samar-samar, tetapi suatu panggilan yang sangat jelas dan penuh dengan kepastian yaitu melayani suku-suku pengayauan (pemburu kepala manusia) di Irian Jaya (Papua). Suku-suku yang akan dilayani memiliki cara hidup yang tidak wajar, di mana kekejaman merupakan cara hidup mereka.
Setelah menyelesaikan kursus di Summer Institut of Linguistics pada tahun 1962, sambil menunggu kelahiran anak pertama mereka, Don dan Carol berlayar menuju Papua, di mana nantinya mereka akan bergabung dengan pelayanan misionari RBMU (Regions Beyond Missionary Union). Setelah sampai di Papua, Don dan Carol ditugaskan untuk melayani suku Sawi. Suku Sawi adalah salah satu suku yang memiliki budaya yang merupakan gabungan antara kanibalisme dan pengayauan. Selain penduduknya yang menakutkan, wilayah yang diduduki oleh suku Sawi juga menjadi tempat yang menakutkan, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Don, istri dan anaknya. Walaupun kondisinya demikian, Don tetap maju dalam pelayanannya karena Don selalu yakin dan tidak pernah meragukan panggilannya. Mengingat kondisi suku Sawi yang sangat berat dan menyeramkan, Don tidak patah semangat tetapi mulai menyusun strategi-strategi yang akan dipakai untuk dapat menjangkau orang-orang Sawi bagi Yesus Kristus.
                                       
Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan paper ini adalah (1) Untuk memaparkan pelayanan yang dilakukan oleh Don Richarson dalam menjangkau suku Sawi bagi Kristus (2) Untuk menjelaskan strategi-strategi yang digunakan oleh Don Richardson dalam memberi solusi atau jawaban bagi harapan-harapan yang tidak terpenuhi oleh budaya suku Sawi.; (3) untuk menjelaskan pola mengkomunikasikan Injil sebagai jawaban bagi harapan-harapan mereka, di mana budaya suku Sawi tersebut tidak bisa memberi jawaban.

Lingkup Penulisan
Penulisan paper ini terfokus dalam menganalisa pelayanan Don Richardson yang berhubungan dengan strategi dalam menjangkau suku Sawi yang memiliki budaya Pangayauan (kanibal), mengubahkan pola pikir mereka untuk meninggalkan budaya mereka yang kejam dan mengganti dengan kasih Yesus Kristus.

II.      MENGENAL DAN MEMAHAMI  BUDAYA DAN HARAPAN-HARAPAN SUKU SAWI

Sekilas tentang Suku Sawi
            Suku Sawi adalah salah satu suku yang tertinggal di pulau Papua. Suku Sawi terbagi menjadi dua bagian yaitu: bagian utara dan bagian selatan. Don Richardson melakukan pelayanannya pada suku Sawi bagian Selatan. Sebelum Don Richardson masuk ke suku Sawi, mereka memelihara budaya secara turun temurun. Kehidupan Suku Sawi sangat dipengaruhi oleh budaya nenek moyang mereka, hal ini Nampak dalam budaya mereka antara lain: budaya Pangayauan dan Kanibalisme, budaya Penghianatan, budaya Aumaway.

Budaya Pangayauan
Suku Sawi, salah satu suku yang memiliki budaya yang merupakan gabungan antara kanibalisme dan pengayauan. Sangat berbahaya! Tidak hanya penduduknya yang menakutkan, wilayah yang didiami suku Sawi juga merupakan tempat yang menakutkan. Budaya Pangayau sering kali dihubungkan dengan simbol keberanian dan kejantanan. Kepala-kepala yang telah dipenggal direbus dan dikeringkan, seringkali bergantungan di rumah dan  sering dipakai sebagai bantal kepala.

Budaya Penghianatan
Budaya pemujaan penghianatan ini berujung pada maut dan yang lebih mengerikan lagi mereka juga memakan daging musuh mereka yang dikalahkan. Dampak dari budaya penghianatan ini telah menyebabkan suku Sawi menjadi kanibal. Menurut kepercayaan mereka yang telah diwarisi secara turun temurun, makan daging manusia (kanibal) merupakan salah satu ambang pintu utama yang harus mereka lewati untuk mengenal hakekat tertinggi dari kehidupan Sawi. Mereka memiliki pemahaman bahwa ketika seseorang makan daging manusia, tampaknya seolah-olah matanya terbuka untuk mengerti kebaikan dan kejahatan. Budaya ini tidak akan pernah habis karena disebabkan oleh rasa dendam yang terus membara untuk membalas kematian anggota kelompoknya. Dan dendam itu tidak pernah mereka lupakan, bagi mereka membalas dendam itu pasti terlaksana, hanya menunggu waktu saja. Dan lebih tidak masuk akal lagi adalah strategi yang mereka gunakan adalah jebakan ”musuh dalam selimut”, seperti teman tetapi teman yang akan membawa maut.
Di dalam menyusun strategi penghianatan itu tidak pandang bulu sanak keluarga pun dapat dimanfaatkan untuk melakukan penghianatan itu. Hal ini membuat kehidupan suku sawi tidak pernah tenang dan selalu was-was karena ancaman dari kelompok lain akan muncul setiap saat. Karena pengaruh pemujaan terhadap penghianatan itulah, ketika mendengar kisah penghianatan Yudas, mereka mengaggap Yudas adalah pahlawan, mereka kagum akan penghianatan yang dilakukan Yudas, dan Kristus yang menjadi korban penghianatan tidak berarti apa-apa. Istilah Tuwi asonai man telah mendarah daging dalam kehidupan suku Sawi. Mereka bersahabat dan bersikap baik terhadap seseorang, namun suatu saat bisa menyembelinya. Pembunuhan secara terang-terangan sudah tidak mendatangkan kesenangan lagi bagi mereka, musuh mereka kadang dibiarkan melarikan diri, kemudian dikejar dan diburu menuruti ideal Tuwi asonai man yang lebih menggairakan. Orang-orang Sawi bukan saja kejam, tetapi juga menghormati kekejaman. Puncak kesenangan mereka didasarkan atas kesengsaraan dan keputusasaan orang lain, penghianatan dipuja-puja sebagai suatu kebajikan dan tujuan hidup. Sangat bertolak belakang dengan Injil yang akan disampaikan kepada mereka, namun hanya kuasa Injil yang dapat menghentikan kebiadaban mereka.
Budaya Aumaway
Selain pemujaan terhadap penghianatan, yang lebih mengerikan lagi ialah kepercayaan kepada Aumaway. Kepercayaan ini sangat kuat menguasai orang-orang Sawi. Kepercayaan ini telah menyebabkan ribuan orang yang sakit dan tidak berdaya dipaksa mati sebelum waktunya. Orang yang pinsan, tidak sadarkan diri atau dalam keadaan koma sudah dianggap mati. Dalam kondisi tidak berdaya orang yang sudah dianggap mati masih diperlakukan dengan kasar bahkan disulut dengan bara api. Tidak sampai di situ dalam keadaan tak berdaya mereka membungkus si sakit dengan tikar dan menggantung mereka di tiang-tiang yang telah disiapkan sebagai kuburan. Selanjutnya si sakit yang sudah mati karena perlakuan yang tidak manusiawi itu diupacarakan yang disebut gefam ason. Dalam upacara ini mereka meratapi mayat yang sudah berbau busuk itu. Tujuan dari gefam ason ini adalah supaya mereka mengalami pembaharuan tubuh, dan mereka tidak mengalami kematian lagi.

Harapan-Harapan yang terkandung dalam Upacara
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa dalam budaya suku Sawi mereka menaruh suatu pengharapan. Budaya pengayau terus dipelihara oleh suku Sawi karena budaya ini memberikan suatu penghargaan yang tinggi jika mereka dapat mengalahkan musuhnya dan membawa kepala musuhnya pulang. Ini akan menjadi suatu kebanggaan dan memberi status sebagai seorang pemberani. Budaya penghianatan terus dipelihara secara turun temurun karena didalamnya juga terkandung suatu pengharapan untuk membalas dendam kepada musuh. Mereka memuja-muja budaya penghianatan sebagai suatu kebajikan dan tujuan hidup. Demikian juga dengan budaya Aumaway yang mereka lakukan supaya mengalami pembaharuan tubuh dan tidak mengalami kematian lagi. 
Persoalan yang sedang dihadapi oleh suku Sawi adalah persoalan rohani yang belum mereka temukan jawabannya. Selama ribuan tahun kebudayaan Sawi telah berjuang tanpa dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Hanya Injil yang bisa menghentikan kebiasaan/budaya suku Sawi.



III.      STRATEGI UNTUK MENYAMPAIKAN INJIL SEBAGAI JAWABAN ATAS HARAPAN-HARAPAN YANG TIDAK TERJAWAB OLEH BUDAYA.
Untuk membawa orang-orang berbalik dari kegelapan kepada terang prasyarat pertama yang harus dilakukan adalah ”membuka mata mereka”. Paulus ketika masuk ke dalam bangsa-bangsa yang Allahnya samar-samar, misalnya sikap Paulus ketika menjumpai bangsa Athena yang penuh sesak dengan patung dewa-dewa, Paulus tidak mengutuki tetapi Paulus berjalan-jalan di kota dan melihat-lihat (Kis. 17:23) dan Ia menjumpai sebuah altar dengan tulisan ”kepada Allah yang tidak dikenal” yang dibangun oleh Epimedines sebagai penghormatan kepada ”Allah yang tidak dikenal” yang telah menolong bangsa Atena dari wabah. Altar inilah yang menjadi kunci komunikasi yang dipakai Paulus untuk membuka gembok-gembok pada hati dan pikiran ahli-ahli pikir Stoa dan Epikuros.
            Paulus mengungkapkan kepada bangsa Atena Allah yang mereka tidak kenal itu, ”Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu (Kis. 17:22,23)”. Setelah membuka mata mereka, Paulus berusaha untuk membuat orang-orang Atena berbalik dari kegelapan kepada terang. Don Richardson memberikan contoh pengalamannya ketika diutus di suku Sawi di Papua. Don Richardson menemukan kunci komunikasi lewat kepercayaan suku Sawi tentang konsep ”anak perdamaian” yang bisa menghapus dendam.
Strategi pertama yang digunakan Don Richardson adalah mempelajari bahasa dan budaya orang Sawi. Saat Don mempelajari bahasa Sawi dan semakin mengenal penduduk Sawi, dia mulai menyadari adanya rintangan-rintangan yang dihadapinya untuk mengenalkan kekristenan kepada mereka. Jurang yang memisahkan antara kekristenannya yang alkitabiah dengan keganasan suku Sawi tampaknya terlalu sulit untuk dijembatani. Bagaimana mereka dapat menceritakan tentang Juruselamat yang maha kasih, dan yang bersedia mati bagi mereka? Strategi kedua setelah memahami bahasa mereka, Don dan istrinya mengajar orang-orang Sawi untuk membaca dalam bahasa ibu mereka, dan menerjemahkan seluruh Perjanjian Baru ke dalam bahasa orang Sawi. Strategi ketiga mencari analogi untuk menjadi jembatan Injil. Don menemukan "Redemptive Analogy" (Analogi Penebusan) konsep dari suku Sawi mengenai "Peace Child" (Anak Perdamaian). Don Richardson akhirnya memahami konsep anak perdamaian yang dilakukan suku Sawi. Kepala suku memberikan putranya sendiri kepada musuh, tindakan kepala suku ini, walaupun menyakitkan tetapi tindakan ini akan mengakhiri semua kecurigaan antar suku Sawi dan musuhnya. Dengan persetujuan bersama, sepanjang anak itu hidup tidak akan ada lagi perang antara kedua suku. Konsep anak perdamaian ini digunakan oleh Don Richardson untuk menyampaikan pekabaran tentang Allah yang pengampun. Don mengumpulkan semua orang Sawi dan membacakan kepada mereka kitab Yesaya 9:5: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”. Allah telah mengutus Putranya untuk menjadi pendamai dan mengakhiri perang terhadap dosa dan kematian.
Suku Sawi dan Haeman membutuhkan anak perdamaian untuk menemukan kedamaian. Sama seperti mereka, anak perdamaian datang sebagai seorang bayi dan tumbuh sebagai Mesias. Dia adalah Putra Allah yang Maha Kuasa yang datang untuk menawarkan damai yang melampaui pengertian manusia. Kedamaian itu dapat dimiliki hanya jika hidup dan mencintai sama seperti Dia yang telah memanggil umatnya. Hidup dan mencitai Dia bukan hanya akan membawa damai di dalam hati. Ini juga akan membawa damai antara diri sendiri dan orang lain, dalam rumah tangga, dalam masyarakat, dan bahkan di antara bangsa-bangsa. Kuncinya adalah anak Perdamaian Allah, Tuhan kita Yesus Kristus.

IV.      PENUTUP
Melalui pemaparan di atas, akhirnya penulis sampai pada penutup yang terdiri dari kesimpulan.
Kesimpulan
            Dari penguraian di atas penulis mengambil kesimpulan bahwa strategi yang digunakan oleh Don Richarson dalam menjangkau suku Sawi yang masih hidup terisolasi dan  menganut budaya nenen moyang mereka tidak terlepas dari peran Allah. Allah telah merancang analogi anak perdamaian sebagai jembatan supaya orang-orang Sawi dapat memahami kasih-Nya. Terlepas dari itu, faktor bahasa dan budaya juga memegang peran penting. Don Richardson dapat menjangkau suku Sawi tidak terlepas dari usahanya untuk memahami bahasa suku Sawi, supaya dapat berkomunikasi dengan mereka. Dengan menguasai bahasa mereka akan memudahkan untuk mengenal budaya mereka. Dengan memahami bahasa dan budaya mereka, akan memudahkan Don untuk mencari analogi-analogi yang dapat dijadikan jembatan untuk mengenalkan Injil bagi orang-orang Sawi.

Daftar Pustaka
Richardson, Don
            1996    Kerinduan akan Allah yang sejati, Bandung: Kalam Hidup.
Smith, Oswald. J.
            Tt         Merindukan Jiwa yang sesat, Surabaya: Yakin
Richardson, Don
            Tt         Penguasa—penguasa Bumi, Bandung: Kalam Hidup

Stott, John R.W
                        Misi Menurut Perspektif Alkitab
Hesselgrave, David J.
                        Communicating Christ Cross-Culturally
Richardson, Don
            1978    Anak Perdamaian, Bandung: Kalam Hidup

Dasar Alkitab Tentang Misi Dalam Konteks Perkotaan

Oleh: Adrianus Pasasa, S.T, M.A
I.      MISI DALAM ALKITAB
Dalam bagian ini akan dibahas misi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Misi dalam Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama belum ditegaskan tentang penugasan untuk menjangkau segala bangsa untuk pekabaran Injil. Missions bukanlah sebuah tambahan yang diperintahkan Allah melalui Yesus kepada murid-muridNya untuk dilaksanakan beberapa saat sebelum meninggalkan dunia ini. Sebaliknya, pekabaran Injil berasal dari hati Allah (Mission Dei). Keinginan untuk pekabaran Injil dari semula sudah berada di dalam hati Allah. Pekabaran Injil bukanlah sebuah gagasan Perjanjian Baru, tetapi pekabaran Injil terdapat di seluruh Alkitab.[1] David Howard salah seorang pemimpin misi menjelaskan dasar alkitabiah dari pekabaran Injil sebagai berikut:
Kegiatan gereja untuk mengabarkan Injil bukanlah sebuah piramid yang dibangun terbalik dan bertumpuh pada satu ayat dalam kitab Perjanjian Baru yang terlepas dari ayat-ayat lain, lalu di atasnya kita membangun sebuah bangunan yang sangat besar yang dikenal sebagai “pengabaran injil”.kegiatan gereja untuk mengabarkan Injil merupakan sebuah pyramid besar yang dibangun tegak dengan ujungnya di atas dan dasarnya mulai dari kitab Kejadian pasal 1 sampai dengan kitab Wahyu pasal 22. Seluruh isi Alkitab membentuk dasar untuk pengabaran Injil ke seluruh dunia.[2]

            Allah telah mempersiapkan misiNya lewat umatNya, Israel sebagai anak-anak Abraham, untuk menjadi berkat bagi segala Bangsa. William Dyrness dalam pengamatannya berpendapat: “Perjanjian Lama mempersiapkan sebuah berita universal yang dalam Perjanjian Baru akan menjadi misi universal.”[3]. Misi dalam Perjanjian Lama bersifat sentripetal (dari luar ke pusat), dalam pengertian bangsa-bangsa datang kepada Israel dan  mereka dapat mengenal serta menyembah Tuhan yang benar.
Misi dalam Perjanjian Baru[4]
Allah Perjanjian Lama yang mengabarkan Injil melanjutkan karya penyelamatanNya melalui anakNya dan gerejaNya dengan kuasa Roh Kudus. Seperti yang diamati oleh Stott, tema mengenai pengabaran Injil semakin meningkat dalam Perjanjian Baru, “Misi pertama adalah milik Allah, karena Dialah yang mengutus nabi-nabiNya, AnakNya, RohNya. Dari antara misi-misi ini, misi Anak Allah merupakan pusat, karena misi Anak Allah merupakan puncak dari pelayanan nabi-nabi, dan dalam misi ini tercakup pengutusan Roh Kudus sebagai klimaknya.
Berita perjanjian baru adalah bahwa Allah Perjanjian Lama yang mengabarkan Injil itu telah datang, dalam rupa seorang manusia, sehingga Ia dapat memberikan keselamatan kepada ciptaan yang dahulu memilih untuk tidak taat kepadaNya. Tetapi ada lebih dari itu. Kepada mereka yang menerima keselamatan dari Penebus Ilahi yang diutus Allah, diberikan satu tugas untuk mengabarkan berita itu keseluruh dunia. Misi dalam Perjanjian Baru bersifat sentrifugal (dari pusat ke luar), yang berarti bahwa dari gereja atau dari Israel kabar keselamatan akan disampaikan kepada semua suku-suku bangsa.
Tidak ada keselamatan tanpa penderitaan Yesus Kristus. Semua ini tergenapi di dalam Yesus Kristus yang bersedia menjadi korban bagi umat manusia  yang berdosa. Misi sedunia adalah kehendak Allah, oleh karena itu setiap orang  Kristen harus terlibat dan mengambil bagian dalam pekerjaan yang  mulia ini.
Perintah Amanat Agung
             Amanat yang diberikan Tuhan Yesus untuk memuridkan segala bangsa akan tetap berlaku sampai akhir Zaman. Tugas kita sebagai orang percaya adalah memberitakan Injil kepada setiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Amanat Agung ini merupakan tugas inti dari misi, yaitu “menjadikan murid” dari segala suku bangsa. Fokus inti misi yaitu ”menjadikan murid” akan melibatkan dan akan menggerakkan umat Allah untuk pergi sebagai proses pelaksanaan srategi dan tanda taat kepada Allah untuk memberitakan Injil, Babtis sebagai proses Inkorporasi ke dalam wadah umat Allah untuk diteguhkan menjadi anggota gereja, dan Ajar sebagai proses konseptualisasi yang menunjang pemahaman, perubahan dan pendewasaan hidup serta peran umat Allah.[5] Beberapa pernyataan Ananat Agung di dalam Perjanjian Baru.
Menurut Matius
Injil Matius 28:18-20, menulis bahwa Amanat Agung dimulai pada saat Tuhan Yesus mengutus muridNya untuk memberitakan Injil. Tugas para murid adalah, menjadikan semua bangsa muridNya, membaptiskan mereka dan mengajar mereka. Tujuan dari amanat agung dan penginjilan  adalah pemuridan supaya manusia menjadi serupa dengan Allah. Unsur dasar dari Amanat Agung di dalam Injil Matius ini adalah “menjadikan semua bangsa murid Tuhan”, pentingnya memuridkan ini ditekankan oleh fakta bahwa menjadikan murid adalah bentuk perintah tunggal dalam bagian tersebut.
Di dalam proses menjadikan murid terkandung dua kegiatan utama yaitu “babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”, dan “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu.” Jika murid-murid harus dijadikan “dari segala bangsa” maka “murid-murid” harus disebarkan di tengah seluruh bangsa.[6]

Menurut Markus
Amanat Agung di dalam Injil Markus 16: 15, ditujukan kepada seluruh dunia yaitu seluruh makhluk ciptaan karena Allah adalah pencipta, artinya Yesus meminta jemaat-Nya membawa keselamatan kepada seluruh makhluk di dunia tanpa terkecuali. Kegiatan yang dilakukan adalah pergi dan memberitakan pesan utama yaitu Injil.

Menurut Lukas
Tuhan Yesus menjelaskan rencana misi kepada murid-murid-Nya yaitu misi berdasarkan kitab Taurat Musa, Nabi-nabi dan Mazmur (Lukas 24:44).  Inti dari pada Injil adalah kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus dengan tujuan supaya terjadi pertobatan dan pengampunan. Jadi pemberitaan Injil bagi seluruh bangsa mulai dari Yerusalem (Lukas 24:46-49) dan alat yang dipakai adalah murid-murid-Nya. Kegiatan dilakukan dengan jalan memberitakan dan bersaksi dan dalam melaksanakan pemberitaan Amanat Agung, kuasa dan kekuatan berasal dari Roh Kudus yang sudah dijanjikan (Lukas 24:49).

Menurut Yohanes
Injil Yohanes menulis bahwa Tuhan Yesus mengutus murid-murid-Nya, sama seperti Bapa telah mengutus anak-Nya yang tunggal, yaitu Tuhan Yesus (Yohanes 20:21-23). Murid-murid diutus dengan diperlengkapi oleh kuasa Roh Kudus dan pada hari Pentakosta murid-murid-Nya dipenuhi dengan Roh Kudus untuk melaksanakan misi Amanat Agung Tuhan Yesus.

Menurut Kisah Para Rasul
Kisah Para Rasul 1:8, menguraikan dan menekankan tentang tugas bersaksi tentang Tuhan Yesus Kristus dan ini merupakan pesan utamanya. Dalam melakuan penginjilan itu ada jaminan dari Allah yaitu Kuasa Roh Kudus. Injil harus disampaikan dan ditujukan kepada semua orang berdosa yang dimulai dari Yerusalem, Seluruh Yudea, samaria, dan bahkan sampai ke bagian terpencil dari bumi.

Dari uaraian di atas dapat disimpulkan bahwa Amanat Agung adalah pokok dan penting dalam kekristenan. Dikatakan demikian karena semua kitab Injil dan Kisah Para Rasul menuliskan tentang itu. Jadi fokus Amanat Agung terletak dalam penginjilan dan pemuridan, sasarannya adalah seluruh bangsa dapat memperoleh keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus (2 Korintus 3:18).
 Dalam perintah Amanat Agung juga terdapat wewenang, perintah dan janji. Perintah Tuhan Yesus ini menuntut ketaatan dari setiap orang percaya. Selain ketaatan ada tugas utama dari perintah Amanat Agung yaitu pergi kepada segala bangsa untuk memberitakan Injil dan menjadikan mereka murid Tuhan Yesus. Di dalam melaksanakan Amanat Agung ada suatu jaminan yang pasti yaitu jaminan berkat dan jaminan keberhasilan bagi tugas penginjilan. Isi jaminan itu ialah penyertaan Tuhan Yesus (Matius 28:20).


II.      METODE TUHAN YESUS DALAM MELAKSANAKAN MISI-NYA
Berjalan keliling kota dan desa

Dalam menjalankan misi pelayanannya Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa (Matius 9:35a, Lukas 13:22). Dalam pelayanannya Tuhan Yesus melayani ke semua wilayah misalnya melayani di kota Kapernaum, suatu kota tempat kediaman pemungut cukai dan tempat sebuah pos militer Romawi (Matius 4:13; 8:5). Melayani di Nazaret, melayani di padang Gurun, dan melayani di pesisir-pesisir pantai dan sampai ke lemba-lembah, Tuhan Yesus juga melayani di Betania, dan daerah lainnya. Jadi Tuhan Yesus dalam program pelayananNya mencakup seluruh wilayah kerena seluruh bumi adalah ladang misi penyelamatan-Nya. Tuhan Yesus berkeliling ke semua kota dan desa. Kata ”berkeliling” menggambarkan aktivitas yang disadari dan berjalan terus menerus.

Mengajar di rumah-rumah ibadah, memberitakan Injil kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.
            Dalam rumah-rumah ibadah Yesus memberikan penjelasan  yang akurat dan benar mengenai seluruh rencana dan kehendak Allah yang harus dipenuhi oleh umat manusia. Tuhan Yesus mengajarkan sebuah prinsip hidup yang sejati mengenai hubungan antara manusia terhadap Allah dan manusia terhadap sesamanya (Matius 22:37-39). Yesus juga mengajarkan bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan hidupnya harus selalu bergantung sepenuhnya dan hormat kepada penciptaNya. Tuhan Yesus mengajarkan tentang sedekah, doa, puasa, serta ketaatan total kepada Firman Tuhan.
            Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan harus selalu hidup dalam norma-norma hukum Tuhan dalam hubungannya dengan sesamanya. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa bukan hanya membunuh yang dilarang Tuhan tetapi orang marah tanpa alasan pun tidak dibolehkan. Yesus juga mengajarkan bahwa bukan hanya melakukan perzinahan yang dilarang tetapi orang yang memandang dengan nafsu birahi pun tidak diperbolehkan. Tuhan Yesus juga mengajarkan sama sekali orang Kristen tidak boleh bercerai, orang Kristen juga diajarkan untuk tidak boleh sama sekali bersumpah palsu,  juga diajarkan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Selain itu Tuhan Yesus juga mengajarkan tidak boleh membenci musuh tetapi harus mengasihi musuh dan Tuhan Yesus mengajarkan bahwa segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka, itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 7:12).
            Tuhan Yesus tidak hanya mengajar, Ia juga berkhotbah. Tuhan Yesus berkeliling kemana-mana untuk berkhotbah. Inti berita dalam khotbah-khotbahnya adalah proglamasi Injil Kerajaan Sorga. Injil Kerajaan Sorga adalah suatu berita tentang Kerajaan yang menyelamatkan  dan yang menghukum, yang dinyatakan di dalam dan melalui Yesus Sang Juruselamat dan Tuhan. dalam khotbah-khotbahNya Tuhan Yesus menegaskan bahwa hanya dua pilihan bagi manusia di dunia ini yaitu Percaya atau menolak Tuhan Yesus dan masing-masing pilihan mempunyai konsekuensi. Firman Tuhan berkata ”Barang siapa percaya kepadaNya, ia tidak akan dihukum, barang siapa yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam anak tunggal Allah” (Yohanes 3:18). Inilah inti khotbah Tuhan Yesus ketika melayani di muka bumi ini.
            Tuhan Yesus tidak hanya mengajar dan berkhotbah tetapi Ia juga menyembuhkan berbagai penyakit, bahkan dibagian lain Tuhan Yesus memberikan makan kepada orang banyak yang kelaparan (Matius 14:15-16).

Kontektualisasi
Model kontektualisasi sangat mewarnai pelayanan Tuhan Yesus selama di dunia, misalnya bahasa yang digunakan sesuai dengan konteks masyarakat pada zaman itu, metafora-metafora yang digunakan dalam pemberitaannya cocok untuk kondisi budaya setempat. Yesus juga membawa mandat sosial budaya, politik dan pelayanannya mencakup jasmani dan rohani. Di dalam mengkomunikasikan InjilNya Yesus membangun jembatan-jembatan dan menciptakan jalur komunikasi dengan orang yang sulit didekati.
Model pelayanan yang konstektual cukup efektif, dan dapat diterapkan di dalam segala kondisi dan budaya di mana pun Tuhan Yesus pergi memberitakan Injil Kerajaan Allah. Pendekatan Injil dengan model kontektualisasi yang dilakukan Tuhan Yesus telah berhasil mencapai banyak orang, sehingga dalam waktu yang singkat Tuhan Yesus dapat menghasilkan pelayanan yang sangat maksimal. Misalnya, dalam menyampaikan InjilNya, Tuhan Yesus selalu memanfaatkan kemampuan-Nya untuk berbicara dengan orang-orang dimanapun mereka berada. Ketika berada di padang, Yesus berbicara tentang menanam gandum (Mrk. 4:1-9). Di keluarga, Ia berbicara tentang anak-anak (Mat. 19:13-15). Dengan nelayan, pokok pembicaraanNya adalah ikan (Mrk.1:14-18).

III.      MISI DALAM KONTEKS PERKOTAAN
KOTA DAN PERSOALANNYA
Sekitar setengah populasi dunia hidup di perkotaan, padahal setengah abad yang lalu hanya sepertiga penduduk tinggal di kota. Diperkirakan sekitar seperempat abad mendatang penduduk perkotaan akan menjadi dua pertiga di seluruh belahan dunia ini. Beban kota akan semakin berat manakala pengangguran dan kemiskinan masih mewarnai kehidupan kota. Urbanisasi dan segala dampaknya (terutama terhadap lingkungan hidup) adalah suatu konsekuensi pilihan pembangunan yang berorientasi pada kota. Urbanisasi adalah konsekuensi logis dari konsep pembangunan yang semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi melalui industrialisasi di mana terjadi akumulasi sentra-sentra pertumbuhan. Belum lagi masih buruknya penanganan sampah; serta banjir yang seringkali menelan banyak korban.
Perkotaan memiliki daya tarik tersendiri sehingga banyak orang yang tertarik untuk mengadu peruntungan di perkotaan. Pertumbuhan penduduk perkotaan pada masa kini menunjukkan peningkatan yang sangat drastis, selain disebabkan oleh pertumbuhan alami juga disebabkan oleh tingkat urbanisasi yang terus meningkat. Hal ini mengakibatkan semakin pesatnya pertumbuhan dan perkembangan kota-kota di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkotaan masih menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, hal ini berimplikasi pada tersediannya saran dan prasarana yang lengkap dan beragam yang merupakan daya tarik perkotaan. Selain fasilitas sarana dan prasaran juga tersedianya keanekaragaman pekerjaan memberi pengharapan untuk mengubah nasib.
 Masalah perkotaan yang timbul belakangan ini seperti soal kejahatan, korupsi, masalah kemiskinan & jurang kaya miskin, Lingkungan Hidup, PHK, masalah HAM, demonstrasi perburuhan, pengrusakan pabrik, bahkan huru-hara perkotaan di banyak kota. Kepadatan penduduk perkotaaan telah membawa dampak kemiskinan baik kemiskinan jasmani maupun kemiskinan rohani. Dalam kenyataannya, walau cukup banyak orang yang miskin materi, tetapi jauh lebih banyak lagi orang-orang perkotaan yang miskin rohani. Orang-orang yang miskin rohani inilah yang sesungguhnya lebih berbahaya keberadaannya dari pada hanya miskin materi. Keadaan akan sangat berbahaya lagi jika terjadi sinergi antara kemiskinan materi dan kemiskinan rohani. Orang-orang yang mengalami kemiskinan ganda ini kehidupannya akan lebih banyak diwarnai dengan segala perbuatan yang merugikan dengan segala bentuknya. Akibatnya tidak saja menyusahkan orang lain tetapi juga menyengsarakan dirinya. Selain dampak kemiskinan, terjadi juga degradasi mental dan moralitas di setiap segi kehidupan di masyarakat dan secara individu.
Paradigma bahwa orang miskin itu merupakan kelompok “the sinned agaisnt” merefleksikan pandangan tentang kemiskinan sebagai masalah hubungan sosial, bukan sekedar masalah pribadi atau individu si miskin. Kemiskinan bukan kesalahan si miskin semata-mata. Mereka menjadi miskin karena hubungan sosial dan ekonomi serta mungkin sekali politik yang salah. Mereka miskin karena sistim yang berdosa dan mereka menjadi “korbannya” atau sinned against. Mereka miskin karena penyelenggaraan kekuasaan yang salah, baik salah menggunakannya atau memang sengaja disalahgunakan. Mereka menjadi miskin karena sistim religi dan spiritualitas yang “mengelabui” mereka.

Relevansi Pelayanan Tuhan Yesus bagi Misi Perkotaan
Allah menghendaki agar kita tidak hanya beribadah secara vertikal,  namun juga secara horisontal. Artinya, selain beribadah dan memuji Tuhan, kita pun wajib mengasihi dan peduli terhadap orang-orang di sekitar kita. Salah satunya adalah dengan misi pelayanan kota, lingkungan yang rentan dengan berbagai masalah sosial. Dalam Alkitab ternyata keadaan yang paling sering disebut sebagai penyebab kemiskinan adalah keserakahan, pemerasan, penindasan, ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan yang banyak dikutuk oleh nabi-nabi Perjanjian Lama. Oleh karenanya Alkitab menampilkan Allah yang sangat radikal pada waktu mengatakan, “Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik terhadap kesengsaraan orang yang tertindas  dan Ia tidak menyembunyikan wajahNya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong.” Mazmur 22:25. Ini adalah suatu dimensi penting dalam pelayanan kepada orang miskin. Mereka membutuhkan “pembelaan”.
Melihat persoalan yang dialami oleh masyarakat perkotaan maka model misi pelayanan Tuhan Yesus sangat relevan sebagai jawaban. Pembenahan moralitas (spiritualitas) tanpa pemenuhan ekonomi sama halnya dengan bicara tanpa kata, tidak ada isinya. Pelayanan Tuhan Yesus tidak hanya sebatas berkotbah dan mengajar, tetapi Tuhan Yesus juga memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan jasmani. Tuhan Yesus dalam pelayanan dan pemberitaan InjilNya, menempatkan kaum miskin sebagai subjek yang sentral. Mereka bukan saja menjadi sasaran pemberitaan Injil, melainkan kaum yang dibelaNya. Bahkan pembelaanNya sering lebih mengedepan daripada pemberitaanNya. Tidak jarang pembelaanNya itu dilakukan dengan “perbuatan baik” yang langsung menjamah masalah kaum papa itu dan juga menyuarakan kepentingan kaum papa itu kepada penguasa dan publik yang lebih luas. Berbagai mujizat penyembuhan orang sakit dan khususnya pada hari Sabat merupakan salah satu contoh model pelayananNya.
Tuhan Yesus memproklamirkan mission statementnya seperti dalam Lukas 4:18-19. Meneguhkan kemesiasanNya dengan karya-karya bagi orang miskin, Lukas 7:18-23, bukan bukti-bukti yang dimintakan dariNya, seperti pameran kuasa, Lukas 4:91-0, 23:35-37. Injilnya adalah injil yang mempunyai dampak transformasi sosial, seperti yang ditunjukkan dalam pertobatan Lazarus, Lukas 19:1-10.

IV.      PENUTUP
Melalui pemaparan di atas, akhirnya penulis sampai pada penutup yang terdiri dari kesimpulan.
Kesimpulan
1.      Dari penguraian di atas penulis mengambil kesimpulan bahwa pada dasarnya masalah kemiskinan dan kepedulian sosial merupakan salah satu benang emas dalam ajaran Alkitab. Rencana keselamatan dan penebusan Allah mencakup segala bidang dalam alam semesta ini, baik berbagai aspek dalam diri manusia maupun dengan berbagai hubungan dengan ciptaan lain di luar dirinya yang telah dirusak oleh dosa.
2.      Pelayanan Tuhan Yesus merupakan model yang sangat relevan dalam segala zaman, di mana dapat menjawab segala aspek persoalan, baik jasmani maupun rohani (holistik). Tuhan Yesus mengabarkan Injil yang utuh yang mendatangkan Shalom bagi manusia, baik secara spiritual, fisis, psikis, maupun sosial.
3.      Keberhasilan dalam menyelesaikan masalah yang kompleks dalam masyarakat perkotaan tidak boleh terlepas dari Alkitab sebagai landasan atau dasar dalam melakukan misi pelayanan perkotaan.
                       
Daftar Pustaka
1.      Paul Borthwick. Pemberitaan Injil Tugas Siapa?. Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1995
2.      Dr. Yakob Tomatala, Teologi Misi,YT Leadership Foundation, Jakarta 2003, hl.55
3.      David J. Hesselgrave, Communicating Christ – Cross Culturally. Malang: Literatur SAAT 2004, hl.77
4.      Simamora, Rianto G. Misi Kemanusiaan dan Globalisasi. Jakarta: Ink Media, 2006
5.      Widyatmadja, Josef P. Yesus dan Wong Cilik. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010
6.      Budiardjo, Tri. Gereja dan Kemiskinan. April, 2002
7.      Hans, Andrias. Model Pelayanan Tuhan Yesus. Buletin Mitra, 2008
8.      Herlianto. Pelayanan Urban. Yabina Ministry
9.      Herlianto. Panggilan Urban. Yabina Ministry
                                                                                                                              

                                               


                                   


[1] Paul Borthwick, Pemberitaan Injil Tugas Siapa?, Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1995
[2] Ibid, hl.17
[3] Paul Bortwick, Pemberitaan Injil Tugas Siapa?, Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1995
[4] Ibid, hl 27-28
[5] Dr. Yakob Tomatala, Teologi Misi,YT Leadership Foundation, Jakarta 2003, hl.55
[6] David J. Hesselgrave, Communicating Christ – Cross Culturally. Malang: Literatur SAAT 2004, hl.77

KUMPULAN KOTBAH DAN PUJIAN PENYEMBAHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA

  LINK KUMPULAN KOTBAH / RENUNGAN FIRMAN TUHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA (PAS)   1.        HIDUP YANG SUDAH DIBAHARUI https://www.youtu...