28 November 2012

SUKU BANYUMASAN

TUGAS MISIOLOGI | WIWIT | STT SAPPI |

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Wilayah Banyumas memiliki luas wilayah keseluruhan 1.329,02 km. Secara
administratif terbagi menjadi 27 Kecamatan dan 331 Desa, wilayah ini
berbatasan langsung dengan Kabupaten Brebes di sebelah utara,
Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen di sebelah timur,
Kabupaten Cilacap disebelah selatan dan barat. Gunung Slamet Gunung
tertinggi di Jawa Tengah terdapat di ujung utara wilayah Kabupaten
ini, Banyumas merupakan bagian wilayah budaya banyumasan dimana budaya
ini berada di bagian barat Jawa Tengah, bahasa yang dituturkan adalah
bahasa Banyumasan yakni salah satu dialek bahasa Jawa yang cukup
berbeda dengan dialek standar bahasa Jawa yang terkenal dengan
ngapaknya. Inilah profil dari keadaan di Banyumas.
Suku Banyumas adalah suku yang masih terabaikan, karena ada begitu
banyak penduduknya tetapi kurang dari 1% penduduknya belum mengenal
Kristus. Banyak diantara mereka yang menganut agama islam, akan tetapi
jika dikatakan islam mereka juga hanya KTP. Tapi yang lebih
memprihatinkan lagi, selain kekristenan di suku ini sangat sedikit,
Kristen mereka juga hanya Kristen-kristenan saja. Hal inilah yang
mendorong penulis menuliskan makalah ini karena penulis melihat
keadaan suku Banyumas terutama kabupaten Banjarnegara yang masih
memprihatinkan.
Allah telah menciptakan manusia begitu indah, berharga, unik dan
istimewa. Akan tetapi banyak orang yang tidak menyadari akan hal ini.
Bahkan bukan tidak menyadari, tapi orang-orang tidak tahu bahwa hidup
mereka sangat berarti di mata Tuhan. Penulis melihat hal inilah yang
terjadi di suku Banyumas, mereka hanya menjalani hari demi hari dan
kurang memaknai akan hidup ini. Berbeda dengan orang yang benar-benar
sudah hidup di dalam Kristus, mereka dapat memaknai hidup dan
merasakan sukacita yang tidak bisa didapatkan selain di dalam Kristus.
Mungkin secara hidup duniawi, mereka merasa bahagia karena banyak
harta, tapi setelah itu mereka kembali merasakan suatu kekhawatira n.
Sehingga kesenangan itu hanya mereka rasakan sesaat dan bahkan mereka
tidak tahu kemana arah mereka setelah Sang Pencipta memanggil mereka.
Hidup dengan banyak harta, banyak berbuat baik, tidak menjamin
seseorang dapat masuk dalam surga jika tidak percaya kepada Tuhan
Yesus yang adalah satu-satunya Penebus. Akan tetapi, banyak juga orang
yang tidak mempunyai relasi atau pengenalan yang dekat dengan Sang
Pencipta. Itu karena mereka tidak mengenal sehingga mereka menjalani
kehidupan dengan biasa-biasa saja. Dalam hal inilah seseorang yang
sudah mengenal akan Tuhan Yesus harus berperan dalam menjalankan misi
Allah. Adakah suatu kerinduan untuk memenangkan orang-orang yang masih
terikat dalam belenggu dosa supaya mereka dilepaskan dari beban itu
setelah mengenal Kristus? Tidak hanya tinggal diam, tapi bagaimana
harus berperan aktif.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana keadaan masyarakat di kabupaten Banjarnegara ?
2. Bagaimana kekristenan di kabupaten Banjarnegara ?
3. Apa yang akan dilakukan jika melayani di kabupaten Banjarnegara ?

C. TujuanPenulisan
1. Penulis ingin menjabarkan tentang keadaan masyarakat di suku Banyumas.
2. Penulis ingin menjelaskan bagaimana kekristenan di suku Banyumas.
3. Penulis ingin menggambarkan hal-hal apa yang akan dilakukan, jika
penulis melayani di suku tersebut
BAB II
ANALISA SUKU BANYUMAS

1. Letak Geografis
Wilayah Banyumas terbentang dari sisi barat daya propinsi Jawa Tengah
secara adminitrasi pemerintah, wilayah Banyumas terbagi menjadi empat
kabupaten: Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara. Bagian
tengah merupakan tanah pegunungan kapur yang membujur dari barat ke
timur, yang disebut pegunungan kendeng. Batas bagian pegunungan perahu
dengan puncak tertingginya Gunung Slamet dan Gunung perahu di dataran
tinggi Dieng. Wilayah ini terbelah menjadi beberapa lembah karena
adanya beberapa aliran sungai. Di daerah paling barat mengalir aliran
sungai Citanduy yang menjadi batas dengan wilayah Jawa barat dan
sungai bermuara ke Samudera Hindia.
Kabupaten Banjarnegara, adalah sebuah kabupaten di Propinsi Jawa
Tengah, Indonesia. Ibukotanya namanya juga Banjarnegara. Kabupaten
Banjarnegara terletak di antara 7° 12' - 7° 31' Lintang Selatan dan
109° 29' - 109° 45'50" Bujur Timur. Luas Wilayah Kabupaten
Banjarnegara adalah 106.970,997 ha atau 3,10 % dari luas seluruh
Wilayah Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten ini berbatasan dengan
Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Batang di Utara, Kabupaten Wonosobo
di Timur, Kabupaten Kebumen di Selatan, dan Kabupaten Banyumas dan
Kabupaten Purbalingga di Barat.

2. Keadaan Perekonomian
Pekerjaan penduduk sudah cukup baik dan beraneka ragam. Akan tetapi
bukan berarti semua sama penghasilannya, tapi ada yang memang
berpenghasilan tinggi seperti para pegawai negeri. Tetapi ada juga
masyarakat yang penghasilannya hanya sedang-sedang saja dan hanya
cukup untuk kehidupan sehari-hari. Pada umumnya, mata pencaharian
penduduk adalah petani atau buruh. Terutama masyarakat desa, pada
umumnya pekerjaan mereka adalah bertani, baik di ladang atau di sawah.
Dengan kehidupan bertani seperti ini, maka penghasilan yang didapatkan
hanya untuk mencukupi kehidupan mereka saja. Jika pertanian mereka
berhasil, maka mereka dapat menikmati hasil panen dan jika cuaca tidak
baik dan banyak hama maka petani mengalami kerugian. Walaupun ada
beberapa petani yang sukses, tapi kebanyakan mereka hanya
berpenghasilan sedang-sedang saja.
Berbeda halnya dengan para pegawai negeri, mereka menjadi orang
kantoran dan gaji mereka cukup tinggi. Keadaan ekonomi yang cukup
membuat anak mereka dapat menempuh pendidikan yang tinggi. Pada
umumnya, anak para petani jarang ada yang menempuh pendidikan tinggi,
kecuali yang mendapatkan beasiswa. Keadaan ekonomi seperti inilah yang
membuat penulis merasakan keprihatinan terhadap kabupaten ini.

3. Pendidikan
Pendidikan seharusnya semakin maju seiring zaman yang semakin maju.
Tapi tidak semua pemuda remaja mau untuk melanjutkan pendidikannya.
Jika ada mereka yang melanjutkan pendidikannya sampai tinggi, yaitu
karena mereka mampu secara ekonomi. Ada yang memiliki kerinduan
menempuh pendidikan tinggi, tapi mereka tidak memiliki dana sehingga
mengambil keputusan untuk bekerja. Akan tetapi faktor utama banyak
yang tidak menempuh pendidikan adalah faktor biaya. Karena hal ini
biasa maka menjadi kebiasaan dan pola pikir masyarakat tidak pernah
maju karena tidak mempunyai wawasan. Berbeda dengan orang yang
berpendidikan, mereka mempunyai pola pikir yang lebih maju dan
berpikir untuk jangka panjang.
Hal yang memprihatinkan lagi adalah banyak diantara mereka yang
menikah muda. Entah itu karena terjadi hamil di luar nikah ataupun
karena mereka yang memang keluarganya menyuruhnya untuk nikah usia
muda. Pada umumnya mereka sekolah tidak sampai pada perguruan tinggi,
hanya yang sampai SD saja. Lalu mereka bekerja, dan ketika mereka
mendapatkan pacar lalu mereka menikah. Pola pemikiran mereka
pendidikan tidaklah penting, yang lebih penting adalah harta yang
kelihatan.
Kehidupan seperti ini masih banyak terjadi pada masyarakat pedesaan,
dan seolah-olah mereka hanya hidup dalam lingkaran hidup seperti itu
saja. Seorang anak dilahirkan, lalu besar dan disekolahkan. Setelah
disekolahkan, mereka bekerja dan uangnya untuk membantu orangtua. Jika
mereka sudah ingin menikah dan mempunyai calon, maka mereka menikah.
Mereka tidak berpikir maju ke depan, sehingga beputar seperti itu
terus. Padahal semakin banyak wawasan akan merubah pola pikir
seseorang, sehingga kehidupan mereka dapat lebih maju.

4. Kebudayaan Masyarakat
Suku Banyumas masih sangat kental dengan adat dan budaya sejak dari
zaman nenek moyang mereka. Ada beranekaragam kebudayaan dalam
kehidupan bermasyarakat dan sampai saat ini masih sering dipakai.
Walaupun kehidupan mereka sudah beragama, tetapi kebiasaan mereka
sangat sulit untuk dilepaskan. Adapun seni dan kebudayaan masyarakat
sebagai berikut :
a. Calung yaitu perangkat musik khas Banyumas yang terbuat dari bambu
wulung mirip dengan gamelan jawa, terdiri atas gambang barung, gambang
penerus, dhendhem, kenong, gong & kendang. Dalam penya-jiannya calung
diiringi vokalis yang lazim disebut sinden.
Dalam kehidupan mereka, calung ini tidak hanya suatu alat musik yang
sekedar disimpan saja. Akan tetapi, pemilik dari alat calung ini harus
memberikan sesajen untuk menjaga keamanan. Mereka mempercayai bahwa di
dalam alat musik tersebut ada isinya, dalam arti ada setannya yang
membuat suara musik menjadi indah. Jadi, pada malam-malam tertentu
pemilik calung harus memberikan sesajen. Hal-hal seperti ini masih
melekat dalam kehidupan masyarakat dan mereka masih suka memakai
benda-benda yang berkaitan dengan okultisme.
b. Ebeg adalah bentuk tari tradisional khas Banyumas dengan Properti
utama berupa ebeg atau kuda kepang. Kesenian ini menggambarkan
kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya dan dibawakan oleh
8 penari pria. Biasanya dalam pertunjukkan ebeg dilengkapi dengan
atraksi barongan, penthul & cepet. Dalam pertunjukkannya ebeg diiringi
oleh gamelan yang lazim disebut bendhe. Ebeg masih tumbuh subur di
seluruh wilayah Kabupaten Banjarnegara. Pada bagian akhir kesenian
ini, ada saat dimana mereka sengaja memanggil setan dan akan merasuk
kepada pemain yang sudah mempunyai pegangan akan hal tersebut.
Biasanya disediakan makanan yang aneh-aneh, seperti dedak,
daun-daunan, bahkan ada yang makan beling (pecahan gelas). Para pemain
ebeg mampu makan makanan yang demikian, karena mereka kerasukan, lalu
setelah itu mereka dilepaskan dan kembali normal.
c. Lengger yaitu jenis tarian tradisional yang tumbuh subur diwilayah
se-baran budaya Banyumas. Kesenian ini umunya disajikan oleh dua orang
wanita atau lebih. Pada pertengahan pertunjukkan hadir seorang penari
pria yang lazim disebut badhud, Lengger disajikan diatas panggung pada
malam hari atau siang hari , dan diiringi olah perangkat musik calung.
Pada saat acara ini berlangsung, para pemain musik diberi makanan dan
biasanya ada minuman yang dicampur dengan bunga-bunga. Pada bagian
akhir, terkadang pemain laki-laki yang disebut badhud juga kesurupan.
Tapi, segala sesuatunya yang menjadi kebutuhan saat ada kesenian ini,
pasti sudah disiapkan oleh tuan rumah. Acara ini ada ketika sebuah
kelurga mengadakan pernikahan.
Ini hanyalah beberapa contoh dari kesenian dan budaya yang ada di suku
Banyumas. Jika masyarakat yang ada di perkotaan, sudah tidak begitu
antusias dengan kebudayaan ini. Tetapi masih sangat melekat kuat pada
kehidupan orang-orang di desa. Pada umumnya orang-orang yang masih
termasuk dalam kelompok seni adalah mereka yang memang memiliki
keluarga seni. Dalam arti, mereka turun temurun dan terus menerus
sampai generasi seterusnya.
Ketika pameran seni ini diadakan, biasanya banyak orang-orang yang
datang dan sengaja menonton. Kesenian ini sudah ada sejak dulu,
sehingga sulit untuk dilepaskan. Akan tetapi, karena keadaan yang
sudah semkin maju para pemuda remaja sekarang sudah sangat jarang yang
bisa memainkan kesenian ini. Bukan berarti mereka tidak mencintai
kebudayaan sendiri, tapi karena mereka sekarang tidak pernah terlibat
dalam kesenian tersebut. Kecuali orang-orang yang memang senang dengan
kesenian tersebut, maka merekalah yang masih bisa memainkan kesenian
itu ataupun keturunan dari para pemain kesenian tersebut yang sudah
senior. Jadi, budaya dan kesenian ini masih melekat pada orang-orang
yang masih suka dan mulai tidak dikenal oleh para pemuda remaja yang
sudah mengikuti dunia modern ini.


5. Kekristenan
Keadaan kekristenan masih sangat kurang di suku ini, yang walaupun
mereka beragama Kristen tapi hanya Kristen KTP. Inilah yang sangat
memprihatinkan, dalam keadaan yang minimum tapi mereka belum semuanya
mengalami kelahiran baru. Pada umumnya, banyak penganut Kristen karena
dari neneknya memang sudah Kristen. Tapi jika dicari orang-orang yang
benar-benar hidup di dalam Kristus, amat susah didapatkan.
Kehidupan orang Kristen dengan orang duniawi sama saja, sehingga
kehidupan mereka belum bisa memberi garam pada lingkungan dimana
mereka tinggal. Seandainya kehidupan mereka sudah menjadi saksi
Krisus, bisa saja mereka membawa orang-orang untuk akhirnya mengenal
Kristus.
Para penganut agama Kristen masih sangat membutuhkan bimbingan yang
lebih lagi tentang kekristenan. Dengan persekutuan yang lbih lagi maka
mereka akan mempunyai doktrin yang kuat. Sehingga mereka tidak hanya
sekedar rajin pergi beribadah tanpa mengenal siapa yang mereka sembah.
Terlebih lagi mereka sibuk denga pekerjaan, seharusnya mereka
dibimbing bagaimana di tengah kesibukan mereka tapi mereka tetap
mempunyai waktu persekutuan. Sehingga mereka terus bertumbuh di dalam
Tuhan, dan hidup mereka dapat menjadi saksi Kristus.












BAB III
PENERAPAN

Jika penulis melayani di suku Banyumas tepatnya di kabupaten
Banjarnegara, penulis rindu melakukan hal-hal berikut :
1. Membuat suatu usaha
Pembuatan usaha ini bukan bertujuan untuk berbisnis atau mencari
keuntungan buat pribadi. Tapi, melalui usaha yang dibuat bertujuan
untuk mendapatkan karyawan dari masyarakat. Masyarakat yang menganggur
diberi lapangan pekerjaan melalui usaha tadi, dan ketika mereka sedang
bekerja dapat dipakai juga dengan bercerita-cerita. Ketika sudah
saling mengenal, maka sedikit demi sedikit Injil mulai diberitakan.
Selain itu, hasil usaha dapat dipakai untuk mensejahterakan
masyarakat. Misalnya uang tersebut dapat dipakai untuk membeli
kebutuhan makanan atau gizi dalam masyarakat. Maka masyarakat
mendapatkan gizi yang baik, dan membuat mereka dapat bekerja dengan
baik terlebih untuk anak-anak yang masih sangat membutuhkan kecukupan
gizi. Selain itu dana tidak untuk kesehatan masyarakat dapat juga
dipakai untuk membeli perlengkapan sekolah untuk anak-anak yang masih
dalam bangku pendidikan.
Dengan pendidikan yang baik, maka pola pikir seseorang dapat menjadi
lebih baik. Mereka akan mampu untuk berpikir jangka panjang dan dengan
demikian maka pernikahan di usia muda dapat berkurang. Karena mereka
mempunyai pengalaman dan mendorong mereka untuk menjadi orang yang
lebih maju.



2. Membimbing dalam hal Kerohanian
Supaya orang percaya semakin bertumbuh maka mereka harus benar-benar
mempunyai relasi dengan Tuhan dan mengenal siapa Allahnya. Tidak hanya
cukup mereka bersekutu di gereja, tapi perlu ada bimbingan atau
kelompok yang lebih kecil untuk mereka bertumbuh. Dalam kelompok kecil
ini, dapat saling terbuka sehingga dapat mengenal setiap pribadi cukup
dalam.
Dalam setiap pribadi seseorang pasti mempunyai pergumulan terlebih
dalam masa lalu mereka. Melalui kelompok kecil ini, dapat juga dipakai
untuk saling menolong dan membimbing mereka melepaskan luka batin
mereka. Dengan demikian, mereka bisa sepenuhnya hidup di dalam Kristus
karena sudah membereskan pribadi mereka. Dengan demikian mereka dapat
terus bertumbuh dan menjadi peribadi-pribadi yang sungguh-sungguh
cinta Tuhan. Sangat dirindukan jika mereka memiliki kerinduan untuk
melayani Tuhan.
Lain halnya dengan anak-anak ataupun mereka yang masih pemuda remaja.
Bagi anak-anak dibimbing dengan firman Tuhan, maka mereka sejak kecil
sudah dibimbing dengan firman Tuhan. Mereka dibimbing benar-benar
melalui sekolah minggu. Begitu juga dengan pemuda-pemudi yang ada,
selain mereka belajar saat sekolah minggu mereka harus terus dibimbing
terlebih dalam hal pergulan mereka. Mereka juga harus dibimbing supaya
benar-benar mempunyai relasi dengan Tuhan dan kuat di dalam Tuhan.
Mereka harus diberi pandangan yang benar tentang adat dan budaya,
supaya mereka tidak masuk dalam adat budaya yang banyak mengandung
hal-hal okultisme. Dalam arti, mereka dapat memilah-milah mana yang
baik dan yang Tuhan kehendaki. Melalui bimbingan yang lebih kepada
pemuda-pemudi inilah dapat membuat mereka kuat di dalam Tuhan.
Sehingga unsur-unsur kebudayaan atau adat yang berbau okultisme tidak
melekat dalam diri mereka.



BAB IV
PENUTUP

A. Saran
Dimanapun Tuhan utus, maka Tuhan punya rencana bagi kita untuk kita
disana dapat bertumbuh dan membawa kabar baik itu. Selama Tuhan masih
memberikan kita kesempatan untuk melayani, maka pakailah waktu yang
ada. Lakukanlah setiap pekerjaan dengan sukacita, walaupun menurut
kita sangat berat ketika memulainya. Tapi, Tuhan yang menyertai dan
pasti menjamin segala sesuatunya . Karena itu, tetap bergantung kepada
Tuhan dan terus hidup sungguh-sungguh di dalam Dia.

B. Kesimpulan
Lakukan segala sesuatu dengan baik dan berikan yang terbaik bagi
Tuhan. Tetap setia melayani Tuhan dimanapun Tuhan akan tempatkan.

Catatan:
1. Setelah saya membaca paper anda, anda sudah bagus dalam menggali
setiap persoalan yang ada di suku banyumasan, hanya saja tidak semua
persoalan yang anda munculkan terjawab dalam bab penerapan.
Kelihatannya anda kurang terstruktur dalam pembuatan pepar ini,
sehingga terkesan kurang sistematis. Jadi yang membacanya juga kurang
menikmati..
2. Karena kurang terstruktur, maka anda juga kurang dalam menganalisa
setiap persoalan…walaupun demikian saya tetap menghargai usaha anda.
3. Tetap semangat, maju terus dalam panggilan Tuhan. Saya memberi nilai: 80 (B)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seseorang di segani dan di hormati bukan karena apa yang di perolehnya, Melainkan apa yang telah di berikannya. Tak berhasil bukan karena gagal tapi hanya menunggu waktu yang tepat untuk mencoba lagi menjadi suatu keberhasilan hanya orang gagal yang merasa dirinya selalu berhasil dan tak mau belajar dari kegagalan

BERITA TERKINI

« »
« »
« »
Get this widget

My Blog List

Komentar