P R A K A T A
Laporan buku tentang "HIDUP DI ATAS GELOMBANG" ini ditulis dalam
rangka memenuhi tugas penelitian literature dalam mata kuliah
'Sosiologi'.
Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak Adrianus Pasasa selaku
narasumber materi Sosiologi, keluarga, gembala, serta rekan-rekan
seangkatan yang menginspirasi saya untuk menyelesaikan tugas mata
kuliah ini.
Judul buku "HIDUP DI ATAS GELOMBANG" adalah buku yang di tulis oleh
Romo Markus Tukiman SCJ yang bertugas di daerah Pasang Surut,
Keuskupang Agung Palembang.
Penulis menuangkan pengalamannya dalam melayani di daerah terpencil
dengan prasarana angkutan sungai dan hanya dengan menggunakan speed
boat sebagai sarana transportasi yang bisa digunakan.
Dalam pelayanan tersebut tergambar dengan jelas suatu pelayanan yang
penuh dengan suka duka dengan kondisi geografis dan prasarana yang
tidak dapat diprediksi apakah pelayanan tersebut dapat berjalan sesuai
rencana atau tidak.
BAB I
PENDAHULUAN
Pengalaman beliau saya rangkum dalam bab-bab berikut ini:
Pertengahan bulan Juni tahun 2004, untuk pertama kali Romo Markus
Tukiman SCJ – selanjutnya saya sebut saja dengan inisial Roma MT –
menginjakkan kakinya di daerah Pasang Surut. Tepatnya di Paroki Allah
Mahamurah, desar Purwodadi, Jalur 20, Jembatan dua, Air Sugihan,
Sumatera selatan. Perjalanan ini tidak bisa ditempuh dengan kendaraan
darat, tetapi harus ditempuh melalui jalan air, dengan menggunakan
kendaraan "speed boat".
Dari bawah jembatan Ampera, kota Palembang speed boat menyusuri sungai
Musi menuju daerah sebagaimana tersebut di atas. Dalam perjalanan yang
memacu adrenalin karena baru pertama kali naik speed boat dan akhinya
setelah dua jam maka sampailah ia ke daerah yang dituju.
Dengan perasaan lega dan mengucap syukur kepada Tuhan Romo MT sampai
disambut oleh konfraternya dan beberapa suster Charitas yang sudah
menunggu di dermaga.
BAB II
PENGALAMAN PERJALAN DAN PELAYANAN
Dalam pengalaman pelayanan tersebut Romo MT dapat belajar dari sopir
speed boat, dari alam – sungai dengan segala karaternya – dari
pelayanan, dari kahidupan bermasyarakat.
Berikut pengalaman tersebut:
1. Belajar dari sopir speed boat; dalam perjalanan Romo MT
dengan speed boat dan mengarungi sungai maka dapat ditarik pelajaran
bahwa seorang sopir speed boat harus tahu jenis-jenis gelombang, arus
sungai – ada saatnya sungai surut atau pasang – di mana speed boat
harus melawan atau mengikuti arus maupun gelombang.
Jadi Sopir harus tahu dan mengerti karakter arus maupun gelombang
sehingga mampu mengambil arah untuk speed boatnya agar tidak terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan, semisal speed boat terbalik, rusak
maupun kandas karena pasang surut, juga adanya kotoran atau kayu yang
terbawa hanyut oleh arus air.
2. Belajar dari alam; dalam perjalanan menyusuri sungai Romo
MT dapat mengenal beberapa gelombang sungai, yaitu: gelombang pasang
yang disebabkan atau ditimbulkan oleh air pasang naik.
Ada gelombang surut, gelombang ini ditimbulkan oleh air pasang surut.
Pasang naik jika air mengalir dari muara ke hulu sungai, sedangkan
pasang surut jika air mengalir dari hulu menuju ke muara sungai dan
akhirnya ke laut.
Selain gelombang pasang naik dan gelombang pasang surut juga ada
gelombang yang disebabkan oleh kapal atau speed boat yang lewat – yang
searah yang mendahului atau pun berlawanan arah. Cirri gelombang ini
berirama, kadang besar dan tingginya bisa mencapai 2 meter. Gelombang
ini tidak berbahaya bahkan mengasikan jika sopir sudah berpengalaman
dengan gelombang ini.
Ada jenis gelombang yang berbahaya yang disebabkan oleh angin.
Gelombang yang disebabkan angin ini bisa datang dari depan, dari
belakang, dari samping searah datangnya angin tersebut.
3. Belajar dari pelayanan; dalam pelayanan Romo MT menyusun
rencana dengan hari, waktu, dan desa yang akan dilayani. Namun
ternyata untuk daerah Pasang Surut, bukan rencana yang menentukan,
tetapi bergantung pasang surutnya air sungai; sehingga betapa baiknya
rencana yang dibuat dalam pelaksanaannya bisa gagal total.
Dan begita juga tentang keberadaan umat Katolik/Kristen yang sering
dikucilkan, padahal sebagai manusia tidak bisa hidup sendiri dan harus
bermasyarakat. Ketika ada jemaat yang sakit yang disebabkan kalainan
pada levernya yang memerlukan pengobatan dengan waktu yang lama dan
harus berobat jalan. Karena sudah berbulan-bulan penyakit tidak sembuh
maka jemaat yang sakit ini diobati oleh "orang pintar". Menurut orang
pintar ini, sakit yang dialaminya dikarenakan guna-guna, dan orang
pintar ini sanggup menyembuhkan penyakitnya bila ia dan keluarganya
pindah agama separti agama yang dianut orang pintar ini. Dan Jemaat
yang sakit ini pun pada akhirnya pindah keyakinan atau agama.
Kejadian ini membuat prihatin, dan membuat Romo MT merasa gagal dalam
mendampingi umat dalam menemukan iman sejati dalam diri Yesus
Kristus.Namun keprihatinan dan merasa gagal tersebut tidak membuat
Romo MT, patah semangat, karena Ia telah berbuat semaksimal mungkin
dari apa yang bisa diperbuat – keterbatasan prasarana medis, dokter,
rumah sakit, dan kondisi medan.
4. Dari kehidupan bermasyarakat; Indahnya kebersamaan dalam
hidup bermasyarakat juga dialami oleh Romo MT. Salah satu tradisi
masyarakat Pasang Surut yakni memperingati tanggal satu suro
bersama-sama. Satu suro adalah tahun baru yang didasarkan pada
penanggalan Jawa.
Dalam perkembangannya tradisi ini dimasuki beberapa nilai keagamaan,
sehingga terjadi inkulturasi kebudayaan dalam sebuah agama. Hal yang
menarik dalam pelaksanaannya adalah mengundang semua orang dengan
latar belakang beragama Islam, Katolik, dan Kristen. Masing-masing
orang membawa makanan kemudian dikumpulkan untuk dimakan bersama-sama
pada waktunya.
Pada acara suronan ini yang paling berkesan adalah diadakannya doa
bersama yang melibatkan keberagaman agama, yaitu Islam, Katolik, dan
Kristen. Doa diadakan dakam dua agama secara bergantian, biasanya
dibawakan secara Muslim dan Katolik. Ketika doa dibawakan secara
Katolik, saudara yang beragama lain ikut dalam keheningan dan
ketenangan. Demikian juga ketika doa dibawakan secara Muslim, orang
yang beragama Katolik dan Kristen mengikuti secara khusuk.
Keberterimaan orang Muslim terhadap orang Kristen dan orang Katolik
tidak terlepas dari usaha para Pastur dan Pendeta dalam kegiatan
bermasayakat dengan apa yang dinamakan "gotong royong" dalam membangun
sarana dan prasarana yang ada di daerah di mana masyarakat tinggal.
BAB III
TANGGAPAN
Dari apa yang menjadi pengalaman Romo MT tersebut dapat disimpulkan
bahwa dalam pelayanan kepada jemaat kita tidak boleh menolak di
manapun kita ditempatkan – kondisi tempat dalam segala kondisi,
sarana, dan prasarana – sehingga kita tidak merasa kecewa.
Dalam pelayanan kita juga tidak bisa sepenuhnya mencegah umat yang
kita layani berpindah keyakinan, karena pengaruh situasi dan kondisi
yang ada, namun kita hanya bisa berusaha secara optimal dari yang
dapat kita lakukan, dan menyerahkan semua apa yang telah kita lakukan
kepada Tuhan.
Agar kita diakui dan dianggap sebagai suatu intentitas dari suatu
masyarakat maka kita harus dapat menyesuaikan diri dengan budaya
setempat yang tidak melarutkan keyakinan kita sendiri.
BAB IV
PENERAPAN DALAM PELAYANAN
Kita sebagai Gereja – organnya, gembala, pelayan mimbar, dan
jawatan-jawatan lain – perlu meneladani apa yang telah dilakukan oleh
Romo MT, sehingga kita tahu persis startegi dalam membawa hati
masyarakat bersimpati kepada kita yang pada akhirnya kita bisa
menyampaikan – langsung atau tidak langsung – Injil kepada orang yang
belum mengenal Injil melalui suatu kegiatan yang bersifat
kemasyarakatan, kedaerahan, nasional maupun yang bersifat keagamaan.
Adapun cara atau strategi yang kita lakukan seperti halnya sopir speed
boat yang harus belajar mengetahui sifat arus dan gelombang air sungai
pasang naik dan pasang surut, sehingga dapat menempuh
gelombang-gelombang tersebut dengan berhasil. Demikian pula dalam
pelayanan kita harus tahu karakteristik, budaya atau adat istiadat
daerah di mana kita melayani, sehingga kita dapat beradaptasi, namun
tidak larut dalam budaya itu.
Namum adakalanya juga kita hrus relaistis bila terjadi kegagalan yang
tidak bisa kita capai dikarenakan situasi dan kondisi di luar pikiran
dan kasanggupan kita.
Purwakarta, 12 September 2013
PUSTAKA:
"HIDUP DI ATAS GELOMBANG" Oleh: MARKUS TUKIMAN SCJ
PENERBIT: CHARISSA PUBLISER
Blog ini berisi materi-materi yang berhubungan dengan mata kuliah Misiologi, Filsafat, Liturgika, Sosiologi, Etika Kristen, Teologi Kontekstual, Misi Holistik. Materi dalam blog ini didapat dari berbagai sumber dan juga tugas-tugas penulis selama kuliah serta beberapa tugas mahasiswa yang penulis ajar. Jika mengambil data dari blog ini, mohon mencantumkan blog ini sebagai sumber, dengan demikian kita belajar menghargai karya orang lain. Semoga tulisan dalam blog ini menjadi berkat....
23 September 2013
22 September 2013
Anak-anak dan Remaja dengan ‘Gadget’nya : Tanamkan Iman Sejak Dini | YOSUA | BANDUNG
By Christie Damayanti ... KOMPASIANA.COM
POKOK PIKIRAN
Hampir semua orang hanya melihat satu sisi saja dari kemajuan
teknologi. Jika orang itu berjaya dengan kehidupannya, dan dia
termasuk mau dan ingin tahu dengan gadget dan dunia maya, dia akan
menganggap gadget dan dunia maya merupakan 'sahabat'nya. Tetapi jika
seseorang pernah tersakiti di dunia maya, atau dia tidak mau ambil
bagian dengan kemajuan teknologi, dia akan menganggap bahwa gadget dan
dunia maya hanya membawa masalah dan bencana.
Anak-anak adalah miniatur orang dewasa dan pemikirannya masih sangat
antusias terhadap semua masalah. Dia tidak berpikir tentang bahaya.
Dia tidak berpikir tentang keinginan yang aneh-aneh dan dia tidak
pernah berpikir tentang hukum. Dia akan terus bertanya, bertanya dan
bertanya lagi. Dunia sangat membuat antusias untuk terus bertanya dan
kadang-kadang mencari jawabannya sendiri ketika dia tidak puas dengan
jawaban yang tidak dipahami.
Ketika anak-anak bertanya tentang gadget dan dunia maya, tidak semua
orang tua mampu menjawabnya. Perkembangan dunia anak terhadap gadget
ternyata luar biasa. Dengan sedikit belajar dan melihat dari orang
lain , serta mengutak atik perangkat gadget secara cepat mereka mampu
mempergunakan . Dengan kemajuan ini banyak anak –anak yang menginjak
remaja menyisihkan uang jajan yang biasa di gunakan untuk jajan
makanan di alihkan guna membeli pulsa untuk membeli paket internet.
Ketakutan terhadap pengaruh dunia maya harus di hadapi dengan arif
melalui keterbukaan sesama anggota keluarga termasuk hubungan
teknologi bersama.
Kesenangan terhadap hobi tertentu dapat di padukan dengan teknologi,
misalnya seorang anak yang senang terhadap alat musik , mereka dapat
menggunakan media tekhnologi untukk menolong mencari cord apabila di
butuhkan bahkan untuk informasi yang baru. Orang tua harus terbuka dan
mau untuk masuk kedalam dunia remaja untuk membimbing.
Orang tua harus mampu menanamkan iman dan budi pekerti kepada anak
sejak awal , dengan demikian ada keyakinan apabila diberikan dengan
porsi yang benar maka ketakutan akan pengaruh buruk gadget terhadap
masa depan tidak akan terjadiSebagai remaja, dia pasti tetap berada
pada keingin-tahuan yang besar terhadap segala sesuatu yang
berhubungan dengan hobinya. Itu wajar dan manusiawi. Tetapi, jika kita
tidak peduli dengan keingin-tahuannya yang besar dan kita 'melepaskan'
anak kita di 'hutan belantara' dunia maya yang penuh onak duri, itu
sama saja bunuh diri dan tidak peduli akan masa depannya.
TANGGAPAN
Pada usia anak-anak merupakan masa seseorang membutuhkan
ketergantungan kepada orang tua , kebutuhan sosial yang paling dasar
yaitu untuk memenuhi kebutUhan hidupnya yang bergantung kepada orang
lain. Usia ini pula sangat rentan terhadap pengaruh dunia luar yang
ada disekitarnya. Proses sosial yang timbul adalah proses sosial
karena faktor IMITASI; dimana seorang anak akan meniru gaya orang lain
baik dalam bersikap, berperilaku dan berpenampilan. Pada tahap usia
ini di butuhkan sunguh-sungguh perhatian dari yang bersangkutan untuk
menjaga kontak sosial supaya apa yang dialami oleh anak – anak tidak
berdampak buruk di kemudian hari.
Dalam tingkat usia remaja banyak persoalan yang timbul baik dari dalam
karena pertumbuhan tubuh yang di barengai dengan perubahan –perubahan
hormonal akan berdampak kepada masalh sosial remaja. Pada usia remaja
, mereka akan mencari jati diri , mencari hubungan sosial yang
menurutnya paling tepat, mereka akan terus mencari sampai mendapat
yang paling tepat menurut pandangannya.
Mereka akan mengalami banyak praoses sosial melalui kontak sosial baik
kontak secara langsung maupun menggunakan media. Media gadgetlah yang
saat ini paling disukai oleh para remaja, melaui gadget mereka dapat
berkomunikasi dengan lancar tanpa harus terbatas oleh tempat , waktu
dan jarak , kapanpun mereka bisa bersosialisasi melalui KOMUNIKASI.
Remaja akan mencari IDENTIFIKASI hal ini dapat terjadi secara sadar
dan membutuhkan tipe ideal sehingga akan membentuk pandangan sebagai
prinsip dasar yang di jiwai. Proses SIMPATI mulai ketertarikan keada
orang lain terutama yang berbeda jenis kelamin. Membentuk kelompok
khusus diantara mereka karena mereka merasa saling membutuhkan dan
bahkan ketergantungan.
Dalam pergaulannya mereka membentuk interaksi sosial AKOMODASI dimana
berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kelompoknya guna memperkecil
perbedaan pandangan guna berkoordinasi dalam kelompok. Namun dalam
praktek sosial remaja sering muncul PROSES DISOSIATIF yang mengarah
kepad bentuk pertentangan terhadap kelompok atau pandangan yang mereka
tidak sukai, bahkan dari kalangan keluarganya sendiri.
Demikian pula kehidupan remaja akan banyak diwarnai dengan KONTRAVERSI
secara khusus tipe KONTRAVERRSI UMUM dimana terjadi perbedaan
pandangan antar generasi . Kelompok generasi dibawah mereka anggap
tidak bisa dan generasi di atasnya mereka anggap sudah kuno. Bahkan
tidak sedikit menimbulkan pertentangan karena perbedaan individu, ras
, kebudayaan , golongan dan lain-lain.
Pembinaan budi pekerti dan menanamkan iman yang benar adalah suatu
sarana yang tepat untuk mengarahkan anak-anak dan remaja menuju kepada
kehidupan sosial yang benar dan berguna bagi masa depan diri sendiri ,
keluarga dan orang lain. Kewajiban dari orang tua untuk mendidik dalam
interaksi sosial untuk menjadikan anak –anak yang berkenan kepada
Tuhan dan sesama seperti tertulis dalam Amsal 29:7 : Didiklah anakmu
maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu dan mendatangkan
sukacita kepadamu.
Tuhan Yesus Membeerkati
POKOK PIKIRAN
Hampir semua orang hanya melihat satu sisi saja dari kemajuan
teknologi. Jika orang itu berjaya dengan kehidupannya, dan dia
termasuk mau dan ingin tahu dengan gadget dan dunia maya, dia akan
menganggap gadget dan dunia maya merupakan 'sahabat'nya. Tetapi jika
seseorang pernah tersakiti di dunia maya, atau dia tidak mau ambil
bagian dengan kemajuan teknologi, dia akan menganggap bahwa gadget dan
dunia maya hanya membawa masalah dan bencana.
Anak-anak adalah miniatur orang dewasa dan pemikirannya masih sangat
antusias terhadap semua masalah. Dia tidak berpikir tentang bahaya.
Dia tidak berpikir tentang keinginan yang aneh-aneh dan dia tidak
pernah berpikir tentang hukum. Dia akan terus bertanya, bertanya dan
bertanya lagi. Dunia sangat membuat antusias untuk terus bertanya dan
kadang-kadang mencari jawabannya sendiri ketika dia tidak puas dengan
jawaban yang tidak dipahami.
Ketika anak-anak bertanya tentang gadget dan dunia maya, tidak semua
orang tua mampu menjawabnya. Perkembangan dunia anak terhadap gadget
ternyata luar biasa. Dengan sedikit belajar dan melihat dari orang
lain , serta mengutak atik perangkat gadget secara cepat mereka mampu
mempergunakan . Dengan kemajuan ini banyak anak –anak yang menginjak
remaja menyisihkan uang jajan yang biasa di gunakan untuk jajan
makanan di alihkan guna membeli pulsa untuk membeli paket internet.
Ketakutan terhadap pengaruh dunia maya harus di hadapi dengan arif
melalui keterbukaan sesama anggota keluarga termasuk hubungan
teknologi bersama.
Kesenangan terhadap hobi tertentu dapat di padukan dengan teknologi,
misalnya seorang anak yang senang terhadap alat musik , mereka dapat
menggunakan media tekhnologi untukk menolong mencari cord apabila di
butuhkan bahkan untuk informasi yang baru. Orang tua harus terbuka dan
mau untuk masuk kedalam dunia remaja untuk membimbing.
Orang tua harus mampu menanamkan iman dan budi pekerti kepada anak
sejak awal , dengan demikian ada keyakinan apabila diberikan dengan
porsi yang benar maka ketakutan akan pengaruh buruk gadget terhadap
masa depan tidak akan terjadiSebagai remaja, dia pasti tetap berada
pada keingin-tahuan yang besar terhadap segala sesuatu yang
berhubungan dengan hobinya. Itu wajar dan manusiawi. Tetapi, jika kita
tidak peduli dengan keingin-tahuannya yang besar dan kita 'melepaskan'
anak kita di 'hutan belantara' dunia maya yang penuh onak duri, itu
sama saja bunuh diri dan tidak peduli akan masa depannya.
TANGGAPAN
Pada usia anak-anak merupakan masa seseorang membutuhkan
ketergantungan kepada orang tua , kebutuhan sosial yang paling dasar
yaitu untuk memenuhi kebutUhan hidupnya yang bergantung kepada orang
lain. Usia ini pula sangat rentan terhadap pengaruh dunia luar yang
ada disekitarnya. Proses sosial yang timbul adalah proses sosial
karena faktor IMITASI; dimana seorang anak akan meniru gaya orang lain
baik dalam bersikap, berperilaku dan berpenampilan. Pada tahap usia
ini di butuhkan sunguh-sungguh perhatian dari yang bersangkutan untuk
menjaga kontak sosial supaya apa yang dialami oleh anak – anak tidak
berdampak buruk di kemudian hari.
Dalam tingkat usia remaja banyak persoalan yang timbul baik dari dalam
karena pertumbuhan tubuh yang di barengai dengan perubahan –perubahan
hormonal akan berdampak kepada masalh sosial remaja. Pada usia remaja
, mereka akan mencari jati diri , mencari hubungan sosial yang
menurutnya paling tepat, mereka akan terus mencari sampai mendapat
yang paling tepat menurut pandangannya.
Mereka akan mengalami banyak praoses sosial melalui kontak sosial baik
kontak secara langsung maupun menggunakan media. Media gadgetlah yang
saat ini paling disukai oleh para remaja, melaui gadget mereka dapat
berkomunikasi dengan lancar tanpa harus terbatas oleh tempat , waktu
dan jarak , kapanpun mereka bisa bersosialisasi melalui KOMUNIKASI.
Remaja akan mencari IDENTIFIKASI hal ini dapat terjadi secara sadar
dan membutuhkan tipe ideal sehingga akan membentuk pandangan sebagai
prinsip dasar yang di jiwai. Proses SIMPATI mulai ketertarikan keada
orang lain terutama yang berbeda jenis kelamin. Membentuk kelompok
khusus diantara mereka karena mereka merasa saling membutuhkan dan
bahkan ketergantungan.
Dalam pergaulannya mereka membentuk interaksi sosial AKOMODASI dimana
berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kelompoknya guna memperkecil
perbedaan pandangan guna berkoordinasi dalam kelompok. Namun dalam
praktek sosial remaja sering muncul PROSES DISOSIATIF yang mengarah
kepad bentuk pertentangan terhadap kelompok atau pandangan yang mereka
tidak sukai, bahkan dari kalangan keluarganya sendiri.
Demikian pula kehidupan remaja akan banyak diwarnai dengan KONTRAVERSI
secara khusus tipe KONTRAVERRSI UMUM dimana terjadi perbedaan
pandangan antar generasi . Kelompok generasi dibawah mereka anggap
tidak bisa dan generasi di atasnya mereka anggap sudah kuno. Bahkan
tidak sedikit menimbulkan pertentangan karena perbedaan individu, ras
, kebudayaan , golongan dan lain-lain.
Pembinaan budi pekerti dan menanamkan iman yang benar adalah suatu
sarana yang tepat untuk mengarahkan anak-anak dan remaja menuju kepada
kehidupan sosial yang benar dan berguna bagi masa depan diri sendiri ,
keluarga dan orang lain. Kewajiban dari orang tua untuk mendidik dalam
interaksi sosial untuk menjadikan anak –anak yang berkenan kepada
Tuhan dan sesama seperti tertulis dalam Amsal 29:7 : Didiklah anakmu
maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu dan mendatangkan
sukacita kepadamu.
Tuhan Yesus Membeerkati
Ayat-Ayat MISI | YOSI DARMAWAN | STT SAPPI | PART 2
*1. **Kejadian 22:9-12*
*Refleksi* : mengikut Tuhan tidak hanya di tuntut kepintaraan dan segala
kemampuan diri, tetapi bagaiman kita dengan rendah hati mengikuti
perintahnya. Sekalipun hal tersebut tidak masuk diakal kita.
Mempersembahkan ishak adalah hal yang di luar rasio, begitu pula di dalam
hidup ini banyak hal-hal yang diluar rasio untuk mengikuti Allah.
*2. **Kejadian 24:1-9*
*Refleksi :* di dalam menentukan pilihan serta tujuan, harus dilihat apakah
sesuai dengan Firman Allah. Jika hal tersebut sesuai dan tidak ada motivasi
kepentingan diri sendiri, melainkan menghormati Allah, maka jalani dengan
iman.
*3. **Kejadian 33:1-20*
*Refleksi* : melakukan penginjilan untuk mendatangi seseorang kita harus
mempunyai hal-hal yang jitu sehingga bisa untuk diterima terlebih dahulu,
sekalipun hal tersebut dengan orang yang pernah membenci kita. Pelajaran
yang Yakub berikan dimana dia mau untuk mengampuni dan dengan rendah hati
dengan segala trik-trik jitu agar diterima terlebih dahulu oleh kakaknya.
*4. **Kejadian 40:6-7*
*Refleksi :* kita harus bisa bergaul dimana saja, sekalipun di dalam
kesusahan. Kesusahan bukan berarti kita harus berjuang untuk keluar dari
sana untuk menyelamatkan diri sendiri, tetapi memanfaatkan setiap keadaan
untuk bergaul dan menjadi penolong bagi setiap orang yang kesusahan.
*5. **Keluaran 1:17*
*Refleksi* : menjalankan misi ataupun tugas-tugas, kita harus melihat
hal-hal yang baik dan tetap bertahan sekalipun ada orang-orang yang
menghendaki keuntungan dari kita dan dengan demikian mau menghancurkan
pekerjaan bahkan mengancam akan keselamatan kita.
*6. **Keluaran 3:13-14*
*Refleksi* : sebagai orang yang percaya kepada Yesus, kita tidak boleh
untuk menutup-nutupi siapa diri kita, biarkan orang lain mengetahuinya.
Maka segala pelaksanaan pekerjaan dan berbagai kegiatan akan mereka lihat
bahwa penyertaan Yesus ada bersama dengan kita. Membiarkan nama Yesus
dipermuliakan oleh orang lain melalui perilaku kehidupan kita, untuk
menjadi berkat bagi mereka.
*7. **Keluaran 4:25*
*Refleksi* : menjalankan segala kegiatan kita harus diresmikan terdahulu,
sehingga pekerjaan tersebut resmi. Begitu pula dengan pengabaran injil
perlu untuk lahir baru terlebih dahulu sehingga kita bukanlah pengabar yang
tidak resemi, dan mendapat dukungan dari Roh Kudus yang akan menyertai
setiap pelyanan tersebut.
*8. **Keluaran 5:22*
*Refleksi :* di dalam pelayanan akan banyak sekali hal-hal yang tidak
sesuai dan akan menindas kita, ketika hal tersebut datang maka yang kita
harus lakukan adalah menghadap kepada Tuhan dengan membawa segala
permaslahan tersbut. Hal tersebut menunjukkan kerandahan hari serta
ketundukan kita kepada Allah di dalam berbgai pelayanan kita.
*9. **Keluaran 18:1-23*
*Refleksi :* perencanaan dan kerjasama di dalam menjalankan penginjilan
memerlukan bantuan Allah yang terutama dan orang lain untuk meringankan
beban yang akan kita pikul, baik pada saat penginjilan dan terutama ketika
telah berhasil, dimana untuk tindak lanjut dari pelayanan mereka yang telah
percaya memerlukan kelanjutan dan bantuan dari mereka-mereka yang
berkompeten di dalamnya. Sehingga mereka tidak terlantar, dan terus
berkembang.
*10. **Keluaran 33:15*
*Refleksi :* sebelum menjalankan misi yang paling terpenting adalah apakah
Allah menghendakinya. Misi tersebut bukanlah misi kita, melainkan Allah
yang merancangnya dan kita hanyalah alat yang akan dipakai oleh-Nya.
*Refleksi* : mengikut Tuhan tidak hanya di tuntut kepintaraan dan segala
kemampuan diri, tetapi bagaiman kita dengan rendah hati mengikuti
perintahnya. Sekalipun hal tersebut tidak masuk diakal kita.
Mempersembahkan ishak adalah hal yang di luar rasio, begitu pula di dalam
hidup ini banyak hal-hal yang diluar rasio untuk mengikuti Allah.
*2. **Kejadian 24:1-9*
*Refleksi :* di dalam menentukan pilihan serta tujuan, harus dilihat apakah
sesuai dengan Firman Allah. Jika hal tersebut sesuai dan tidak ada motivasi
kepentingan diri sendiri, melainkan menghormati Allah, maka jalani dengan
iman.
*3. **Kejadian 33:1-20*
*Refleksi* : melakukan penginjilan untuk mendatangi seseorang kita harus
mempunyai hal-hal yang jitu sehingga bisa untuk diterima terlebih dahulu,
sekalipun hal tersebut dengan orang yang pernah membenci kita. Pelajaran
yang Yakub berikan dimana dia mau untuk mengampuni dan dengan rendah hati
dengan segala trik-trik jitu agar diterima terlebih dahulu oleh kakaknya.
*4. **Kejadian 40:6-7*
*Refleksi :* kita harus bisa bergaul dimana saja, sekalipun di dalam
kesusahan. Kesusahan bukan berarti kita harus berjuang untuk keluar dari
sana untuk menyelamatkan diri sendiri, tetapi memanfaatkan setiap keadaan
untuk bergaul dan menjadi penolong bagi setiap orang yang kesusahan.
*5. **Keluaran 1:17*
*Refleksi* : menjalankan misi ataupun tugas-tugas, kita harus melihat
hal-hal yang baik dan tetap bertahan sekalipun ada orang-orang yang
menghendaki keuntungan dari kita dan dengan demikian mau menghancurkan
pekerjaan bahkan mengancam akan keselamatan kita.
*6. **Keluaran 3:13-14*
*Refleksi* : sebagai orang yang percaya kepada Yesus, kita tidak boleh
untuk menutup-nutupi siapa diri kita, biarkan orang lain mengetahuinya.
Maka segala pelaksanaan pekerjaan dan berbagai kegiatan akan mereka lihat
bahwa penyertaan Yesus ada bersama dengan kita. Membiarkan nama Yesus
dipermuliakan oleh orang lain melalui perilaku kehidupan kita, untuk
menjadi berkat bagi mereka.
*7. **Keluaran 4:25*
*Refleksi* : menjalankan segala kegiatan kita harus diresmikan terdahulu,
sehingga pekerjaan tersebut resmi. Begitu pula dengan pengabaran injil
perlu untuk lahir baru terlebih dahulu sehingga kita bukanlah pengabar yang
tidak resemi, dan mendapat dukungan dari Roh Kudus yang akan menyertai
setiap pelyanan tersebut.
*8. **Keluaran 5:22*
*Refleksi :* di dalam pelayanan akan banyak sekali hal-hal yang tidak
sesuai dan akan menindas kita, ketika hal tersebut datang maka yang kita
harus lakukan adalah menghadap kepada Tuhan dengan membawa segala
permaslahan tersbut. Hal tersebut menunjukkan kerandahan hari serta
ketundukan kita kepada Allah di dalam berbgai pelayanan kita.
*9. **Keluaran 18:1-23*
*Refleksi :* perencanaan dan kerjasama di dalam menjalankan penginjilan
memerlukan bantuan Allah yang terutama dan orang lain untuk meringankan
beban yang akan kita pikul, baik pada saat penginjilan dan terutama ketika
telah berhasil, dimana untuk tindak lanjut dari pelayanan mereka yang telah
percaya memerlukan kelanjutan dan bantuan dari mereka-mereka yang
berkompeten di dalamnya. Sehingga mereka tidak terlantar, dan terus
berkembang.
*10. **Keluaran 33:15*
*Refleksi :* sebelum menjalankan misi yang paling terpenting adalah apakah
Allah menghendakinya. Misi tersebut bukanlah misi kita, melainkan Allah
yang merancangnya dan kita hanyalah alat yang akan dipakai oleh-Nya.
Ayat-Ayat MISI | YOSI DARMAWAN | STT SAPPI
1. Kejadian 1:28
Relfeksi : berkat yang di dapatkan dari Allah harus dipergunakan
keluar dan berhubungan dengan semua yang ada dengan segala
kemampuan tersebut untuk kemuliaan-Nya.
2. Kejadian 1:29
Refleksi : makanan yang telah disediakan oleh Allah untuk dijaga dan
di usahakan, sehingga makanan tersebut berkesinambungan untuk
kehidupan bagi semua mahluk hidup dan terutama manusia. Dalam hal
makanan ini juga firman dapat di beritakan, sebab stiap manusia
memiliki peruntungannya yang berbeda-beda. Sehingga mealui makanan
dapat memberitakan firman.
3. Kejadian 2:18
Refleksi : dalam kehidupan manusia tidak bisa untuk berdiri sendiri,
sehingga manusia yang hidup dalam kesenrian akan memiliki masalah.
Perhatian Allah harus menjadi perhatian kita juga di dalam menghadpi
kehidupan ini bersama-sama. Melihat orang-orang yang tersendiri bisa
dalam artian yang luas, sudah menjdai tugas kita untuk hadir mengisi
kesndirian mereka yang bisa menghancurkan kehidupannya tersebut.
4. Kejadian 3:15
Refleksi : setiap orang yang percaya kepada Allah akan meremukkan
segala hal-hal yang tidak berkenan kepada Allah, terutama menghadapi
Iblis. Juga untuk menghadpi berbagai pergumulan yang harus dihadapi.
5. Kejadain 3:17-19
Refleksi : tugas ini harus dilakukan oleh setiap manusia, terlebih
mereka yang percaya kepada Yesus Kristus. Setiap usaha harus dilakukan
dengan serius dan berpeluh. Hal tersebut dapat diartikan bahwa kita
harus memikirkan berbagai tantangan yang telah di ijinkan tersebut
untuk di hadapi.
6. Kejadian 6:13-14
Refleksi : segala hal-hal yang jahat harus kita jauhkan dari diri
sendiri dan di sekitar kita. Dan tidak lupa kita harus membangun
benteng untuk mempertahankan diri, sehingga hal-hal tersebut yang
jahat tidak memasuki dan mengacaukan kehidupan ini.
7. Kejadian 7:1
Refleksi : usahakan untuk mengajak orang-orang yang ada beserta kita
untuk hidup dalam keluarga kerajaan Allah. Untuk bisa menikmati
kehadiratnya.
8. Kejadian 9:1
Orang-orang yang telah mendapatkan karunia Allah, harus melihat ke
depan. Bahwa banyak sekali tantangan dan yang harus diisi, oleh mereka
yang telah di berkati. Hal-hal tersebut tidak hanya melalui keturunan
jasmani, melainkan melahirkan keturunan-keturunan rohani.
9. Kejadian 9:2-3
Refleksi : dengan kuasa yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada kita,
tertama orang-orang yang sudah percaya kepadanya untuk di ketahui
bahwa kegentaran meliputi bumi jika kita memberitakan firman-Nya.
Kegentaran tersebut dapat dilihat saat ini dimana firman selalu di
halang-halangi oleg orang-orang yang tidak mau mengenal akan Tuhan.
Penderitaan dan sengsara sdah pasti akan ada, tetapi Allah sudah
memberikan janji akan menyertai dan memelihara kita semua.
10. Kejadian 9:9
Refleksi : perjanjian dengan manusia pasti ada batasnya, perjanjian
dengan manusia bisa mendapatkan permaslahan jik a ada hal-hal yang
mengganggunya. Lain halnya dengan Allah yang berjanji. Janji Allah
pasti digenapi sekalipun manusia berbuat yang tidak sesuai dengan
kehendak-Nya. Janji tersebut untuk memberi kepastian kepada manusia
untuk berkarya dengan leluasa. Berkarya tersebut melingkupi banyak
hal.
11. Kejadian 9:16-17
Refleksi : perjanjian Allah mengikat diri-Nya sendiri untuk tidak
menghukum manusia dengan air bah lagi. Perjanjian ini menunjukkan
kepada kita untuk tetap berjuang di dalam segala kesesakan, di dalam
pergumulan mengikut dia. Bahwa Allah saja tetap berpegang dengan janji
tersebut dan melaksanakan perinth-Nya. Maka dengan demikian kita juga
harus mengambil gambar tersebut untuk menjadi bagian diri di dalam
melayani Tuhan, berpegang kepada janji-janji-Nya untuk tetap
bersemangat di dalam keputus asaan memberitakan firmannya.
12. Kijadian 12:1-3
Refleksi : sebagai pemberita firman harus siap dengan segala perintah
Tuhan. Dalam hal tersebut adalah siap untuk meninggalkan hal-hal yang
membuat kita nyaman. Allah mengajar kepada kita untuk tetap bergantung
dan bersandar kepada-Nya di dalam berbagai perkara untuk menjadi
berkat bagi orang lain.
13. Kejadian 13:9
Refleksi : di dalam mengikuti perintah Allah jangan kita sandarkan
diri ini kepada pengertian sendiri, hal-hal yang buruk bisa terjadi
setiap saat. Dimana hal-hal tersebut sangat merugikan di dalam
pandangan mata kita oleh karena orang lain yang mendesak kita. Allah
disini melihatkan bahwa segala sesuatu yang kelihatan tersebut dapat
di rubah oleh-Nya untuk menjadi berkat bagi diri sendiri dan juga
orang lain.
14. Kejadian 14:20
Refleksi : kejadian ini menunjukkan kepada kita untuk selalu ingat
kepada Allah di dalam segala perjuangan untuk tidak melupakan Dia.
Keberhasilan-keberhasilan tersebut bisa dipakai untuk menunjukkan
kepada manusia bahwa orang-orang yang percaya seperti demikian.
Memberi kepada Allah dan tidak serakah dengan berkat-berkat tersebut.
15. Kejadian 14:22-23
Refleksi : di dalam memberitakan injil, jangan pernah sekali-kali kita
berfikiran untuk menjadi kaya dan memiliki hal-hal yang baik-baik dari
banyak hal. Hal tersebut berguna untuk melindungi kita dari setiap
permasalahan yang akan disebabkan olehnya. Hal tersebut juga memberi
contoh kepada para penginjil lainnya dan kepada masyarakat yang
melihat bahwa, kita benar-benar tulus dan tanpa motivasi yang salah di
dalam memberitakan firman Tuhan.
16. Kejadian 15:5
Refleksi : banyak tantangan dan permasalahan yang akan dihadapi di
dalam menjalani kehidupan, terutama hidup di dalam menjalani perintah
Yesus. Seakan-akan tiada pengharapan, tetapi marilah kita melihat
kepada Abraham yang menaruh pengharapan kepada Allah di dalam segala
ketidak mungkinannya dia tetap bertahan.
17. Kejadian 16:9
Refleksi : kejadian-kejadian di dalam kehidupan ini terus datang silih
berganti, ada hal-hal yang tidak menyenangkan sering menimpa kita.
Ternyata hal tersebut dapat dirubah oleh Tuhan menjadi rencana-Nya.
Oleh karena itu bukan berarti kita harus bertahan di dalam segala
kemelaratan ataupun penindasan. Ketika kita berusaha untuk keluar dari
semua itu harus melibatkan Tuhan, dan dengan cara-cara yang di
kehendaki-Nya.
18. Kejadian 17:10-12
Refleksi : perintah ini dikhususkan kepada semua orang yang percaya
kepada Allah, bahwa mereka semua harus disunatkan kulit khatannya.
Maksud dari hal tersebut adalah kita yang sudah mengadakan janji
percaya kepada Allah harus mulai untuk menyunat hati. Menyunat hati
berarti mulai menyingkurkan hal-hal yang tidak sesuai dengan
kehenadak-Nya. Apa yang kita lakukan juga harus dicerminkan di dalam
kehidupan terhadap sesama orang percaya, dan terutama mereka yang
belum percaya. Maka mereka melihat hal-hla yang baik dari Allah ada
pada kita, sehingga mereka juga bisa ikut untuk di sunat hatinya.
19. Kejadian 18:16-33
Refleksi : Allah tidak senang dengan dosa manusia, oleh karenanya kita
yang sudah diterangi oleh firman Allah berkewajiban untuk memberitakan
kebenaran. Berusaha dan tersus berusaha sehingga mereka mendengar dan
mau untuk berubah, sebelum Allah menghukum mereka di dalam dunia ini
dengan berbagai bencana.
20. Kejadian 20:16
Refleksi : berhubungan dengan Allah sangat perlu untuk dijaga, bukan
saja dengan kegiatan-kegiatan rutin kita yang menunjukkan ketundukan
tersebut. Di dalam kehidupan sehari-hari kita juga harus tunduk,
sekalipun hal tersebut di dalam fikiran kita sangat membahayakan
kehidupan ini. Perintah Allah membawa kita kemana Dia kehendaki,
perjalanan kita berhdapan dengan manusia dan memerlukan ketaatan.
Kelakuan kita haruslah jujur di dalam dan diluar.
Relfeksi : berkat yang di dapatkan dari Allah harus dipergunakan
keluar dan berhubungan dengan semua yang ada dengan segala
kemampuan tersebut untuk kemuliaan-Nya.
2. Kejadian 1:29
Refleksi : makanan yang telah disediakan oleh Allah untuk dijaga dan
di usahakan, sehingga makanan tersebut berkesinambungan untuk
kehidupan bagi semua mahluk hidup dan terutama manusia. Dalam hal
makanan ini juga firman dapat di beritakan, sebab stiap manusia
memiliki peruntungannya yang berbeda-beda. Sehingga mealui makanan
dapat memberitakan firman.
3. Kejadian 2:18
Refleksi : dalam kehidupan manusia tidak bisa untuk berdiri sendiri,
sehingga manusia yang hidup dalam kesenrian akan memiliki masalah.
Perhatian Allah harus menjadi perhatian kita juga di dalam menghadpi
kehidupan ini bersama-sama. Melihat orang-orang yang tersendiri bisa
dalam artian yang luas, sudah menjdai tugas kita untuk hadir mengisi
kesndirian mereka yang bisa menghancurkan kehidupannya tersebut.
4. Kejadian 3:15
Refleksi : setiap orang yang percaya kepada Allah akan meremukkan
segala hal-hal yang tidak berkenan kepada Allah, terutama menghadapi
Iblis. Juga untuk menghadpi berbagai pergumulan yang harus dihadapi.
5. Kejadain 3:17-19
Refleksi : tugas ini harus dilakukan oleh setiap manusia, terlebih
mereka yang percaya kepada Yesus Kristus. Setiap usaha harus dilakukan
dengan serius dan berpeluh. Hal tersebut dapat diartikan bahwa kita
harus memikirkan berbagai tantangan yang telah di ijinkan tersebut
untuk di hadapi.
6. Kejadian 6:13-14
Refleksi : segala hal-hal yang jahat harus kita jauhkan dari diri
sendiri dan di sekitar kita. Dan tidak lupa kita harus membangun
benteng untuk mempertahankan diri, sehingga hal-hal tersebut yang
jahat tidak memasuki dan mengacaukan kehidupan ini.
7. Kejadian 7:1
Refleksi : usahakan untuk mengajak orang-orang yang ada beserta kita
untuk hidup dalam keluarga kerajaan Allah. Untuk bisa menikmati
kehadiratnya.
8. Kejadian 9:1
Orang-orang yang telah mendapatkan karunia Allah, harus melihat ke
depan. Bahwa banyak sekali tantangan dan yang harus diisi, oleh mereka
yang telah di berkati. Hal-hal tersebut tidak hanya melalui keturunan
jasmani, melainkan melahirkan keturunan-keturunan rohani.
9. Kejadian 9:2-3
Refleksi : dengan kuasa yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada kita,
tertama orang-orang yang sudah percaya kepadanya untuk di ketahui
bahwa kegentaran meliputi bumi jika kita memberitakan firman-Nya.
Kegentaran tersebut dapat dilihat saat ini dimana firman selalu di
halang-halangi oleg orang-orang yang tidak mau mengenal akan Tuhan.
Penderitaan dan sengsara sdah pasti akan ada, tetapi Allah sudah
memberikan janji akan menyertai dan memelihara kita semua.
10. Kejadian 9:9
Refleksi : perjanjian dengan manusia pasti ada batasnya, perjanjian
dengan manusia bisa mendapatkan permaslahan jik a ada hal-hal yang
mengganggunya. Lain halnya dengan Allah yang berjanji. Janji Allah
pasti digenapi sekalipun manusia berbuat yang tidak sesuai dengan
kehendak-Nya. Janji tersebut untuk memberi kepastian kepada manusia
untuk berkarya dengan leluasa. Berkarya tersebut melingkupi banyak
hal.
11. Kejadian 9:16-17
Refleksi : perjanjian Allah mengikat diri-Nya sendiri untuk tidak
menghukum manusia dengan air bah lagi. Perjanjian ini menunjukkan
kepada kita untuk tetap berjuang di dalam segala kesesakan, di dalam
pergumulan mengikut dia. Bahwa Allah saja tetap berpegang dengan janji
tersebut dan melaksanakan perinth-Nya. Maka dengan demikian kita juga
harus mengambil gambar tersebut untuk menjadi bagian diri di dalam
melayani Tuhan, berpegang kepada janji-janji-Nya untuk tetap
bersemangat di dalam keputus asaan memberitakan firmannya.
12. Kijadian 12:1-3
Refleksi : sebagai pemberita firman harus siap dengan segala perintah
Tuhan. Dalam hal tersebut adalah siap untuk meninggalkan hal-hal yang
membuat kita nyaman. Allah mengajar kepada kita untuk tetap bergantung
dan bersandar kepada-Nya di dalam berbagai perkara untuk menjadi
berkat bagi orang lain.
13. Kejadian 13:9
Refleksi : di dalam mengikuti perintah Allah jangan kita sandarkan
diri ini kepada pengertian sendiri, hal-hal yang buruk bisa terjadi
setiap saat. Dimana hal-hal tersebut sangat merugikan di dalam
pandangan mata kita oleh karena orang lain yang mendesak kita. Allah
disini melihatkan bahwa segala sesuatu yang kelihatan tersebut dapat
di rubah oleh-Nya untuk menjadi berkat bagi diri sendiri dan juga
orang lain.
14. Kejadian 14:20
Refleksi : kejadian ini menunjukkan kepada kita untuk selalu ingat
kepada Allah di dalam segala perjuangan untuk tidak melupakan Dia.
Keberhasilan-keberhasilan tersebut bisa dipakai untuk menunjukkan
kepada manusia bahwa orang-orang yang percaya seperti demikian.
Memberi kepada Allah dan tidak serakah dengan berkat-berkat tersebut.
15. Kejadian 14:22-23
Refleksi : di dalam memberitakan injil, jangan pernah sekali-kali kita
berfikiran untuk menjadi kaya dan memiliki hal-hal yang baik-baik dari
banyak hal. Hal tersebut berguna untuk melindungi kita dari setiap
permasalahan yang akan disebabkan olehnya. Hal tersebut juga memberi
contoh kepada para penginjil lainnya dan kepada masyarakat yang
melihat bahwa, kita benar-benar tulus dan tanpa motivasi yang salah di
dalam memberitakan firman Tuhan.
16. Kejadian 15:5
Refleksi : banyak tantangan dan permasalahan yang akan dihadapi di
dalam menjalani kehidupan, terutama hidup di dalam menjalani perintah
Yesus. Seakan-akan tiada pengharapan, tetapi marilah kita melihat
kepada Abraham yang menaruh pengharapan kepada Allah di dalam segala
ketidak mungkinannya dia tetap bertahan.
17. Kejadian 16:9
Refleksi : kejadian-kejadian di dalam kehidupan ini terus datang silih
berganti, ada hal-hal yang tidak menyenangkan sering menimpa kita.
Ternyata hal tersebut dapat dirubah oleh Tuhan menjadi rencana-Nya.
Oleh karena itu bukan berarti kita harus bertahan di dalam segala
kemelaratan ataupun penindasan. Ketika kita berusaha untuk keluar dari
semua itu harus melibatkan Tuhan, dan dengan cara-cara yang di
kehendaki-Nya.
18. Kejadian 17:10-12
Refleksi : perintah ini dikhususkan kepada semua orang yang percaya
kepada Allah, bahwa mereka semua harus disunatkan kulit khatannya.
Maksud dari hal tersebut adalah kita yang sudah mengadakan janji
percaya kepada Allah harus mulai untuk menyunat hati. Menyunat hati
berarti mulai menyingkurkan hal-hal yang tidak sesuai dengan
kehenadak-Nya. Apa yang kita lakukan juga harus dicerminkan di dalam
kehidupan terhadap sesama orang percaya, dan terutama mereka yang
belum percaya. Maka mereka melihat hal-hla yang baik dari Allah ada
pada kita, sehingga mereka juga bisa ikut untuk di sunat hatinya.
19. Kejadian 18:16-33
Refleksi : Allah tidak senang dengan dosa manusia, oleh karenanya kita
yang sudah diterangi oleh firman Allah berkewajiban untuk memberitakan
kebenaran. Berusaha dan tersus berusaha sehingga mereka mendengar dan
mau untuk berubah, sebelum Allah menghukum mereka di dalam dunia ini
dengan berbagai bencana.
20. Kejadian 20:16
Refleksi : berhubungan dengan Allah sangat perlu untuk dijaga, bukan
saja dengan kegiatan-kegiatan rutin kita yang menunjukkan ketundukan
tersebut. Di dalam kehidupan sehari-hari kita juga harus tunduk,
sekalipun hal tersebut di dalam fikiran kita sangat membahayakan
kehidupan ini. Perintah Allah membawa kita kemana Dia kehendaki,
perjalanan kita berhdapan dengan manusia dan memerlukan ketaatan.
Kelakuan kita haruslah jujur di dalam dan diluar.
Tata cara ibadah pemberkatan nikah
Langsung dipimpin oleh Gembala Sidang Jemaat/Hamba Tuhan yang ditugaskan.
1. Kedua mempelai memasuki pintu Gereja
2. Gembala Sidang Jemaat mengundang hadirin berdiri untuk menyambut
kedatangan mempelai.
3. Gembala Sidang Jemaat memaklumkan bahwa upacara peneguhan dan
pemberkatan nikah antara Sdr..... dengan Sdri... segera dimulaikan,
kemudian langsung berdoa.
4. Kedua mempelai dan hadirin di persilahkan duduk
5. Khotbah
6. Pertanyaan kepada mempelai
7. Janji mempelai ( dapat diikuti dengan pemasangan cincin )
8. Peneguhan/pemberkatan nikah (dapat diakhiri dengan pembukaan
kerudung oleh mempelai pria)
9. Ucapan selamat oleh Gembala Sidang Jemaat (dapat diikuti dengan
pemberian Alkitab)
10. Doa penutup.
Contoh-contoh pertanyaan ucapan janji, ucapan pemasangan cincin,
ucapan peneguhan nikah, ucapan pemberkatan nikah
1. Contoh pertanyaan:
A. Kepada mempelai pria:
Sdr. ......., maukah saudara menerima wanita ini sebagai istri yang
dijodohkan oleh Tuhan di dalam pernikahan yang kudus? Maukah saudara
mengasihi dia, menghibur dia, Menghormati dia dan memelihara dia baik
pada waktu dia sakit maupun pada waktu dia sehat, serta melupakan
orang-orang lain tetapi hanya mengasihi dia saja, selama saudara
berdua hidup di dunia ini?
Mempelai pria menjawab : " Ya, saya mau!"
b. kepada mempelai wanita :
sdri. ..., maukah saudari menerima pria ini sebagai suami yang
dijodohkan Tuhan bagi saudari, untuk hidup bersama menurut Firman
Tuhan di dalam pernikahan yang kudus? Maukah saudari mengasihi dia,
menghormati dia dan memelihara dia baik pada waktu dia sakit maupun
pada waktu dia sehat, serta melupakan orang-orang lain tetapi hanya
mengasihi dia saja selama saudara berdua hidup di dunia ini?
mempelai wanita menjawab: "Ya saya mau!"
2. Contoh ucapan janji:
a. Ucapan janji mempelai pria:
" saya....(nama pria) mengambil engkau......(nama wanita) menjadi
isteri saya, dengan mengasihi dan menghormati engkau sampai maut
memisahkan kita, menurut Firman Tuhan, ini janjiku padamu!"
b. b. Ucapan janji mempelai wanita:
" saya....(nama wanita) mengambil engkau......(nama pria) sebagai
suami saya, dengan mengasihi dan menghormati engkau sampai maut
memisahkan kita, menurut Firman Tuhan, ini janjiku padamu!"
3. contoh ucapan pemasangan cincin
a. Ucapan mempelai pria:
" dengan cincin ini saya mengambil engkau sebagai isteri saya, di
dalam Nama Bapa, Anak Laki-laki dan Roh Kudus, yaitu Tuhan Yesus
Kristus, Amin".
b. Ucapan mempelai wanita:
" dengan cincin ini saya menerima engkau sebagai suami saya, di dalam
Nama Bapa, Anak Laki-laki dan Roh Kudus, yaitu Tuhan Yesus Kristus,
Amin".
4. Contoh ucapan peneguhan nikah oleh Gembala Sidang Jemaat:
Dihadapan Tuhan dan keluarga serta jemaat Tuhan, hari ini, saya
meneguhkan pernikahan Saudara berdua menjadi suami-isteri yang sah,
dalam Nama Bapa, Anak Laki-laki dan Roh Kudus, yaitu, Tuhan Yesus
Kristus dan apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan
manusia, Amin!"
5. Contoh ucapan pemberkatan nikah oleh Gembala Sidang Jemaat:
" kiranya berkat anugrah Allah Bapa, Kasih Yesus Kristus dan bimbingan
serta pertolongan Roh Kudus melimpah dan menyertai pernikahanmu dari
sekarang ini sampai Maranatha. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Amin!".
PENJELASAN
Pernikahan berasal dari kata "nikah" yang berarti perjanjian antara
laki-laki dan perempuan untuk menjadi suami isteri dalam suatu upacara
resmi.
Pernikahan yang berkenan kepada Allah adalah pernikahan antar sesama
orang percaya yang di dasarkan pada cinta kasih dalam melaksanakan
kewajibanya masing-masing. 2 Korintus 6:14-15; efesus 5:22-29
bandingkan dengan UU perkawinan No.1 th 1974 Pasal 1.
Sebelum pernikahan kedua calon mempelai harus mengikuti pra-nikah
karena didalamnya akan di jelaskan apa makna dari pernikahan tersebut.
Persyaratan pra-nikah
1. Bimbingan Pastoral
a. Pernikahan kristen adalah kudus dan monogami. 1 Kor 7:2, 10-11, 39;
efesus 5:32; Ibr 13:4; 1Tes 4:3-5; Kej 1: 26-28.
b. Pernikahan kristen tidak mengenal perceraian. Mat 19:3-6; Mark
10:1-2; Roma 7:2-3.
c. Pernikahan Kristen adalah wahana untuk melahirkan keturunan sebagai
penerus generasi( secara jasmani dan Rohani). Kej 1:26-28; Yes 54:13;
Mal 2:15; Efesus 2:19.
d. Pernikahan juga mengatur hak-hak dan kewajiban suami isteri dan
anak-anak. Efesus 5:22-33; 6:1-9; 1 Petrus 3:1-7; kol 3:18-21.
e. Pengarahan-pengarahan praktis yang berhubungan dengan keuangan,
kehidupan sexual, hubungan dengan orangtua, dan keluarga, ibadah,
hidup bermasyarakat dan sebagainya.
2. Pengisian Formulir.
1. Kedua mempelai memasuki pintu Gereja
2. Gembala Sidang Jemaat mengundang hadirin berdiri untuk menyambut
kedatangan mempelai.
3. Gembala Sidang Jemaat memaklumkan bahwa upacara peneguhan dan
pemberkatan nikah antara Sdr..... dengan Sdri... segera dimulaikan,
kemudian langsung berdoa.
4. Kedua mempelai dan hadirin di persilahkan duduk
5. Khotbah
6. Pertanyaan kepada mempelai
7. Janji mempelai ( dapat diikuti dengan pemasangan cincin )
8. Peneguhan/pemberkatan nikah (dapat diakhiri dengan pembukaan
kerudung oleh mempelai pria)
9. Ucapan selamat oleh Gembala Sidang Jemaat (dapat diikuti dengan
pemberian Alkitab)
10. Doa penutup.
Contoh-contoh pertanyaan ucapan janji, ucapan pemasangan cincin,
ucapan peneguhan nikah, ucapan pemberkatan nikah
1. Contoh pertanyaan:
A. Kepada mempelai pria:
Sdr. ......., maukah saudara menerima wanita ini sebagai istri yang
dijodohkan oleh Tuhan di dalam pernikahan yang kudus? Maukah saudara
mengasihi dia, menghibur dia, Menghormati dia dan memelihara dia baik
pada waktu dia sakit maupun pada waktu dia sehat, serta melupakan
orang-orang lain tetapi hanya mengasihi dia saja, selama saudara
berdua hidup di dunia ini?
Mempelai pria menjawab : " Ya, saya mau!"
b. kepada mempelai wanita :
sdri. ..., maukah saudari menerima pria ini sebagai suami yang
dijodohkan Tuhan bagi saudari, untuk hidup bersama menurut Firman
Tuhan di dalam pernikahan yang kudus? Maukah saudari mengasihi dia,
menghormati dia dan memelihara dia baik pada waktu dia sakit maupun
pada waktu dia sehat, serta melupakan orang-orang lain tetapi hanya
mengasihi dia saja selama saudara berdua hidup di dunia ini?
mempelai wanita menjawab: "Ya saya mau!"
2. Contoh ucapan janji:
a. Ucapan janji mempelai pria:
" saya....(nama pria) mengambil engkau......(nama wanita) menjadi
isteri saya, dengan mengasihi dan menghormati engkau sampai maut
memisahkan kita, menurut Firman Tuhan, ini janjiku padamu!"
b. b. Ucapan janji mempelai wanita:
" saya....(nama wanita) mengambil engkau......(nama pria) sebagai
suami saya, dengan mengasihi dan menghormati engkau sampai maut
memisahkan kita, menurut Firman Tuhan, ini janjiku padamu!"
3. contoh ucapan pemasangan cincin
a. Ucapan mempelai pria:
" dengan cincin ini saya mengambil engkau sebagai isteri saya, di
dalam Nama Bapa, Anak Laki-laki dan Roh Kudus, yaitu Tuhan Yesus
Kristus, Amin".
b. Ucapan mempelai wanita:
" dengan cincin ini saya menerima engkau sebagai suami saya, di dalam
Nama Bapa, Anak Laki-laki dan Roh Kudus, yaitu Tuhan Yesus Kristus,
Amin".
4. Contoh ucapan peneguhan nikah oleh Gembala Sidang Jemaat:
Dihadapan Tuhan dan keluarga serta jemaat Tuhan, hari ini, saya
meneguhkan pernikahan Saudara berdua menjadi suami-isteri yang sah,
dalam Nama Bapa, Anak Laki-laki dan Roh Kudus, yaitu, Tuhan Yesus
Kristus dan apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan
manusia, Amin!"
5. Contoh ucapan pemberkatan nikah oleh Gembala Sidang Jemaat:
" kiranya berkat anugrah Allah Bapa, Kasih Yesus Kristus dan bimbingan
serta pertolongan Roh Kudus melimpah dan menyertai pernikahanmu dari
sekarang ini sampai Maranatha. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Amin!".
PENJELASAN
Pernikahan berasal dari kata "nikah" yang berarti perjanjian antara
laki-laki dan perempuan untuk menjadi suami isteri dalam suatu upacara
resmi.
Pernikahan yang berkenan kepada Allah adalah pernikahan antar sesama
orang percaya yang di dasarkan pada cinta kasih dalam melaksanakan
kewajibanya masing-masing. 2 Korintus 6:14-15; efesus 5:22-29
bandingkan dengan UU perkawinan No.1 th 1974 Pasal 1.
Sebelum pernikahan kedua calon mempelai harus mengikuti pra-nikah
karena didalamnya akan di jelaskan apa makna dari pernikahan tersebut.
Persyaratan pra-nikah
1. Bimbingan Pastoral
a. Pernikahan kristen adalah kudus dan monogami. 1 Kor 7:2, 10-11, 39;
efesus 5:32; Ibr 13:4; 1Tes 4:3-5; Kej 1: 26-28.
b. Pernikahan kristen tidak mengenal perceraian. Mat 19:3-6; Mark
10:1-2; Roma 7:2-3.
c. Pernikahan Kristen adalah wahana untuk melahirkan keturunan sebagai
penerus generasi( secara jasmani dan Rohani). Kej 1:26-28; Yes 54:13;
Mal 2:15; Efesus 2:19.
d. Pernikahan juga mengatur hak-hak dan kewajiban suami isteri dan
anak-anak. Efesus 5:22-33; 6:1-9; 1 Petrus 3:1-7; kol 3:18-21.
e. Pengarahan-pengarahan praktis yang berhubungan dengan keuangan,
kehidupan sexual, hubungan dengan orangtua, dan keluarga, ibadah,
hidup bermasyarakat dan sebagainya.
2. Pengisian Formulir.
PERANAN ILMU SOSIOLOGI DALAM BERADAPTASI DENGAN LINGKUNGAN | Franky Loing | BANDUNG
"PERANAN ILMU SOSIOLOGI DALAM BERADAPTASI DENGAN LINGKUNGAN
Di Tengah Pelayanan Gereja lokal sendiri."
Nama Mahasiswa: Franky Loing (201211006) Study Club Bandung
Pelayanan GPdI Bumi Adipura telah berjalan sekitar 12 tahun.
Keberadaan tempat pelayanan ini, ada di lingkungan perumahan Bumi
Adipura Gedebage Bandung. Dilihat dari sudut pandang sosiologi,
gereja Adipura tidak mungkin berjalan, bertahan dan apalagi berkembang
ditengah-tengah masyarakat yang multi budaya seperti etnis, asal,
agama, dll. Khususnya karena berada di lingkungan mayoritas agama
muslim.
Di buktikan di awal pelayanan , pelayanan GPdI Bumi Adipura sangat
ditentang dan ditolak keberadaannya. Tapi Puji Tuhan dengan
pertolongan Tuhan, memberi hikmat bagaimana untuk kami tetap ada
berjalan, serta mengembangkan pelayanan yang ada, yaitu
bersosialisasi dengan baik ditengah-tengah lingkungan dan masyarakat
sekitar.
Ini menunjukkan bahwa pelayanan gereja akan dapat
diterima, ketika gereja memperhatikan hal-hal yang bersifat sosiologi
itu, sebagi suatu hal yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan
gereja lokal yang ada di lingkungan multi budaya ini, karena banyak
hal gereja mengalami kemudahan untuk berjalan secara fisik
keberadaannya.
Ada beberapa hal secara pendekatan sosiologis, yang dilakukan
dilingkungan masyarakat sekitar pelayan GPdI Bumi Adipura ini. Antara
lain melalui kegiatan kebersihan lingkungan perumahan , bergabung
dengan komunitas kegiatan olah raga yang diadakan seminggu sekali.
Juga dalam kegiatan bersama seperti bakti sosial, mengumpulkan koran,
baju bekas. Sumbangan baju muslim, kambing,dll . Bantuan dana pada
kegiatan rt rw desa kecamatan, perbaikan jalan, dll. Meminjamkan
fasilitas pelayanan gereja seperti kursi, alat musik, dll pada
kegiatan lingkungan masyarakat.
Keterlibatan aktif juga dalam Pertemuan Rutin di
lingkungan masyarakat misalnya Arisan RT, arisan Rw, Pos Yandu,
Kegiatan perlombaan 17 agustus¸ dll. Pembagian parcel di hari-hari
besar kepada tetangga juga keamanan seperti satpam, polisi, rt rw,
dll.
Dalam hal ini ilmu sosiologi sangat besar peranannya dalam
mewujudkan gereja bagi penjangkauan jiwa-jiwa baru di lingkungan
masyarakat yang multi budaya dengan latar belakang yang berbeda-beda.
Namun hal yang terpenting dalam mempelajari bidang ilmu
sosiologi bukanlah bagaimana menguasai secara teori tetapi
penerapannya dan aplikasinya di lingkungan pelayanan dimana kita
berada.
Di Tengah Pelayanan Gereja lokal sendiri."
Nama Mahasiswa: Franky Loing (201211006) Study Club Bandung
Pelayanan GPdI Bumi Adipura telah berjalan sekitar 12 tahun.
Keberadaan tempat pelayanan ini, ada di lingkungan perumahan Bumi
Adipura Gedebage Bandung. Dilihat dari sudut pandang sosiologi,
gereja Adipura tidak mungkin berjalan, bertahan dan apalagi berkembang
ditengah-tengah masyarakat yang multi budaya seperti etnis, asal,
agama, dll. Khususnya karena berada di lingkungan mayoritas agama
muslim.
Di buktikan di awal pelayanan , pelayanan GPdI Bumi Adipura sangat
ditentang dan ditolak keberadaannya. Tapi Puji Tuhan dengan
pertolongan Tuhan, memberi hikmat bagaimana untuk kami tetap ada
berjalan, serta mengembangkan pelayanan yang ada, yaitu
bersosialisasi dengan baik ditengah-tengah lingkungan dan masyarakat
sekitar.
Ini menunjukkan bahwa pelayanan gereja akan dapat
diterima, ketika gereja memperhatikan hal-hal yang bersifat sosiologi
itu, sebagi suatu hal yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan
gereja lokal yang ada di lingkungan multi budaya ini, karena banyak
hal gereja mengalami kemudahan untuk berjalan secara fisik
keberadaannya.
Ada beberapa hal secara pendekatan sosiologis, yang dilakukan
dilingkungan masyarakat sekitar pelayan GPdI Bumi Adipura ini. Antara
lain melalui kegiatan kebersihan lingkungan perumahan , bergabung
dengan komunitas kegiatan olah raga yang diadakan seminggu sekali.
Juga dalam kegiatan bersama seperti bakti sosial, mengumpulkan koran,
baju bekas. Sumbangan baju muslim, kambing,dll . Bantuan dana pada
kegiatan rt rw desa kecamatan, perbaikan jalan, dll. Meminjamkan
fasilitas pelayanan gereja seperti kursi, alat musik, dll pada
kegiatan lingkungan masyarakat.
Keterlibatan aktif juga dalam Pertemuan Rutin di
lingkungan masyarakat misalnya Arisan RT, arisan Rw, Pos Yandu,
Kegiatan perlombaan 17 agustus¸ dll. Pembagian parcel di hari-hari
besar kepada tetangga juga keamanan seperti satpam, polisi, rt rw,
dll.
Dalam hal ini ilmu sosiologi sangat besar peranannya dalam
mewujudkan gereja bagi penjangkauan jiwa-jiwa baru di lingkungan
masyarakat yang multi budaya dengan latar belakang yang berbeda-beda.
Namun hal yang terpenting dalam mempelajari bidang ilmu
sosiologi bukanlah bagaimana menguasai secara teori tetapi
penerapannya dan aplikasinya di lingkungan pelayanan dimana kita
berada.
Gereja dan Sosiologi | HEIN MOKODASER | BANDUNG
PENDAHULUAN:
Perkembangan penduduk dan khususnya penduduk perkotaan yang melanda
dunia sesudah perang dunia kedua yang dampaknya juga terasa di
Indonesia telah mengubah banyak tatanan sosial termasuk tatanan
kehidupan berjemaat, khususnya jemaat perkotaan (urban parish). Di
tengah-tengah perubahan cepat demikian yang menimbulkan dampak luar
biasa, mau tidak mau gereja juga diperhadapkan dengan perubahan
strategi dan misi pelayanannya yang membutuhkan penyesuaian dan juga
antisipasi menghadapi hal itu.
Masalah perkotaan yang timbul belakangan ini seperti soal kejahatan
kerah putih (white collar crime) semacam kasus Bapindo, masalah jurang
kaya miskin di kota besar, Lingkungan Hidup, PHK,
demonstrasi-demonstrasi perburuhan, bahkan pengrusakan pabrik semacam
yang banyak terjadi di Tangerang dan Medan, telah menjadi topik
liputan utama surat-surat kabar dan majalah maupun mass media lainnya,
tetapi sayang sekali perhatian dan tanggapan gereja pada umumnya sepi
kalau tidak mau dibilang sebagai tidak ada sama sekali.
Apakah masalah itu bukan masalah gereja? Ataukah gereja yang belum
peka akan lingkungannya? Topik inilah yang menjadi salah satu bahasan
dalam "Minister Convention 1994" yang menantang para Hamba Tuhan
maupun Pengerja Kristen agar mulai menggumuli nisbah antara Gereja,
Teologi dan Masyarakat.
PERKEMBANGAN PERKOTAAN
Pada tahun 1990 PBB mengeluarkan laporan kegiatannya selama 45 tahun
(1945-1990), laporan mana menonjolkan masalah-masalah global yang
cukup serius yang menantang umat manusia. Di antaranya
tantangan-tantangan yang menonjol disebut masalah Urbanisasi sebagai
tantangan yang berjalan sama cepatnya dengan kemajuan Era Informasi di
akhir abad ke-20 ini, di mana disebutkan:
"Ledakan Perkotaan": Lebih dari 40 persen penduduk dunia bertempat
tinggal di kota-kota - sebelumnya tak pernah sebesar ini. Begitu
penduduk berduyun-duyun mengalir ke kota-kota untuk mencari pekerjaan,
tempat tinggal dan pelayanan sosial yang lebih baik, maka lingkungan
pedesaan dan perkotaan berubah secara drastis. Di akhir abad ini,
lebih separuh dari penduduk dunia berada di kota-kota. Sebagian besar
dari penduduk kota yang baru ini akan berada di negara-negara yang
sedang berkembang. Akibat urbanisasi yang berlangsung dengan cepat
sudah terasa dalam bentuk kota yang penuh sesak, persediaan air dan
sanitasi yang tidak memadai, pencemaran lingkungan, pengangguran,
kemiskinan yang endemis dan keputusasaan yang bertambah luas.
Ledakan penduduk perkotaan merupakan tantangan serius di seluruh dunia
baik di negara-negara maju dan terutama di negara-negara yang
berkembang, bahkan dalam laporan PBB berjudul "Prospect of World
Urbanization" (1987) disebutkan bahwa pada tahun 2000 akan terdapat 23
kota-kota Metropolis dengan penduduk di atas 10 juta orang di mana
Jakarta termasuk sebagai kota terpadat ke sebelas dengan penduduk 14
juta orang, dan di antaranya, 6 kota berada di atas 15 juta penduduk
di mana 4 kota di antaranya berada di negara-negara sedang berkembang!
Sekarang ini dunia menghadapi perkembangan kota-kota yang bukan lagi
jutaan penduduknya tetapi belasan juta bahkan puluhan juta
penduduknya!
Memang masalah perkotaan merupakan topik hangat di akhir abad ini,
bahkan dalam Kongres Metropolis Sedunia terakhir, dibahas 6 masalah
pokok yang dihadapi kota-kota besar dunia yang cukup memusingkan para
penata dan pengelola kota pada umumnya yaitu masalah-masalah berikut:
1. Masalah Pertumbuhan Penduduk Perkotaan yang tidak terkendali
2. Masalah Perumahan Rakyat dan Sarana Fisik dan Sosial yang makin tidak memadai
3. Masalah Lingkungan Hidup dan Kesehatan yang makin merosot
4. Masalah Lalu lintas dan Transportasi yang makin langka
5. Masalah Organisasi dan Manajemen Perkotaan yang makin tidak mampu
Masalah-masalah mana memang makin sulit diatasi dalam kehidupan
kota-kota modern karena pertumbuhan penyediaan prasarana dan sarana
lebih lambat dari tuntutan kebutuhan, hal mana mengakibatkan
dampak-dampak negatif perkotaan yang makin sulit ditanggulangi dan
akan berdampak berat bagi penduduk perkotaan.
Memang harus diakui bahwa kota-kota besar merupakan simbol kemajuan
ekonomi, tetapi harga apakah yang harus dibayar darinya? Asian
Business, dalam artikelnya menyebutkan bahwa:
"This is what Asian countries are learning as their major urban
centres suffer the symptons of their economics success: Traffic
congestion, air pollution, inadequate sanitation and infrastructure
that has been stretched to breaking point by rapid urban growth ...
Many of Asia's cities are degrading faster than the region's robust
economies are growing."
Sudah jelas bahwa gejala-gejala fisik itu berpengaruh pada perilaku
penghuninya seperti apa yang pernah diucapkan oleh Winston Churchill
bahwa, "We build our cities and it will build our way of life."
Mengenai kesan masyarakat kota terhadap kotanya, majalah Newsweek
dalam artikelnya mengemukakan hasil penelitiannya di kota-kota di
Amerika Serikat dan menghasilkan kesimpulan berikut:
Tiga puluh dua persen Amerika tinggal di kota-kota -- tetapi hanya 13
persen yang menganggap kota sebagai tempat hunian yang paling
diingini. Tiga puluh tujuh persen orang-orang Amerika menganggap
kota-kota besar di Amerika sebagai "sakit parah" atau "kritis" ...
Penduduk perkotaan menyalahkan situasi ekonomi dan birokrasi sama-sama
menjadi penyebab timbulnya masalah-masalah perkotaan.
MASALAH PERKOTAAN DI INDONESIA
Indonesia juga menghadapi masalah perkotaan yang cukup menekan
khususnya sejak Pemerintahan Orde Baru tahun 1970-an di mana keamanan
hidup di perkotaan makin meningkat dan pembangunan di kota-kota makin
menggebu-gebu, ini merangsang urbanisasi berjalan dengan pesat dan
tidak terkendali.
Dalam sensus tahun 1961 tercatat bahwa dari 97 juta penduduk
Indonesia, 14 juta tinggal di kota (=15 persen). Angka ini meningkat
dalam sensus tahun 1971 di mana terlihat bahwa dari 119 juta penduduk,
21 juta tinggal di kota (=18 persen), dan dalam sensus tahun 1980
tercatat dari 148 juta penduduk Indonesia, 33 juta tinggal di kota
(=22 persen). Dalam sensus terakhir tahun 1990 diketahui bahwa
penduduk Indonesia sudah mencapai 180 juta orang di mana 56 juta di
antaranya tinggal di kota-kota (=31 persen) dan diperkirakan pada
tahun 2000, 40 persen penduduk Indonesia akan tinggal di kota-kota.
Bayangkan bahwa dalam kurun waktu 30 tahun terakhir (1961-1990)
kenaikan jumlah penduduk Indonesia hanya meningkat menjadi kurang dari
2 kali, tetapi kenaikan jumlah penduduk kotanya meningkat menjadi 4
kali lipat! Hal ini memang sesuai dengan hasil sensus 1990 di mana
ditemukan fakta bahwa pertumbuhan penduduk Indonesia sekarang telah
bisa ditekan menjadi 1,9 persen pertahun tetapi angka urbanisasi
perkotaan pertahun mencapai 5,7 persen! Kota Bandung sebagai kota
terbesar di Jawa Barat sekarang dihuni lebih dari 2 juta penduduk dan
kota Jakarta sebagai Ibukota Negara telah berpenduduk 9 juta lebih.
Persentase penduduk kota yang meningkat itu menghasilkan kepadatan
bangunan dan hunian yang makin tinggi di kota-kota yang berdampak
serius terhadap penduduk perkotaan itu sendiri. Perumahan kelompok
berpenghasilan rendah di kampung-kampung kota makin tinggi
kepadatannya bahkan bisa mencapai 1000 orang per hektar tingkat
huniannya, kenyataan mana menimbulkan masalah kemerosotan lingkungan
perumahan menjadi kumuh, yang benar-benar makin tidak layak huni
karena kepadatan bangunan dan kepadatan hunian. Banyak rumah-rumah di
kampung-kampung kota dihuni lebih dari satu keluarga bahkan sering
pula dihuni beberapa keluarga.
Di Indonesia masalah perumahan makin sulit dijangkau oleh penduduk
berpenghasilan rendah. Gejala makin langkanya perumahan di kota
mengakibatkan makin banyaknya para gepeng (gelandangan pengemis) yang
berkeliaran di kota-kota termasuk anak-anak jalanan (street children).
Makin padatnya penduduk perkotaan makin menyulitkan penyediaan
prasarana dan sarana fisik dan sosial dan kondisi lingkungan hidup
makin merosot. Days dukung lingkungan bukan saja makin tidak memadai
tetapi rusak akibat adanya polusi yang sekarang mengotori
sungai-sungai di kota, dan udara kota penuh dengan polusi udara karena
asap pabrik dan kendaraan. Kenyataan ini mendatangkan kerawanan
kesehatan di kota-kota.
Masalah polusi pabrik bukan hanya soal kesehatan dan lingkungan hidup
saja, tetapi masalah moral mengenai ketidakadilan dan hak azasi
penduduk dalam menuntut kehidupan yang asri, demikian juga kotornya
sungai-sungai karena zat buangan pabrik-pabrik industri mematikan
banyak ikan dan tidak memberi kesempatan banyak orang bergantung dari
pengusahaan ikan sungai, bahkan penggunaan lain untuk air minum,
mandi, atau mencuci makin tidak mungkin.
Perkembangan kota dan industrinya memang menumbuhkan ekonomi kota, hal
ini terlihat dengan lajunya pembangunan fisik gedung-gedung
perkantoran, pusat-pusat pertokoan, dan pabrik-pabrik, tetapi sejalan
dengan ini masalah lowongan pekerjaan, PHK, dan pengangguran makin
menekan. Sekarang makin banyak kasus-kasus kita baca mengenai
pemogokan buruh industri karena upah buruh di bawah standar dan
perlakuan majikan yang tidak adil terhadap buruhnya, masalah PHK
karena rasionalisasi dan otomatisasi perusahaan menjadi peristiwa yang
makin sering terjadi di pabrik-pabrik dalam kota.
Tidak dapat disangkal bahwa pengangguran makin meningkat yang akan
berdampak luas terhadap kenaikan angka kejahatan atau kriminalitas.
Kasus-kasus demonstrasi dan pemogokan buruh sudah menjadi agenda rutin
di Tangerang dan bahkan di Medan belum lama ini telah menjurus kepada
SARA yang mendatangkan korban jiwa!
Jurang kaya miskin di kota antara mereka yang memperoleh kesempatan
dan yang tidak makin menganga, dan kesenjangan sosial antara
konglomerat dan yang melarat makin mustahil dijembatani. Di kota-kota
besar kita melihat makin banyak villa-villa eksklusif dengan taman dan
kolamnya yang lebar, tetapi kawasan kumuh tanpa air minum juga makin
meluas. Makin banyak penduduk kota naik mobil mewah bahkan di kawasan
elit satu rumah sering mempunyai mobil lebih dari dua, sedangkan
masyarakat umum makin berhimpit-himpitan di bis-bis kota.
Dibandingkan dengan situasi sosial di pedesaan (rural), kemelut sosial
di perkotaan makin menghantui masyarakat kota, sebab kriminalitas
menjadi berita sehari-hari pos kota, perkelahian antar pelajar makin
menjadi hobi anak-anak sekolah, penyalahgunaan alkohol dan narkotika
sudah menjadi masalah serius yang berdampak negatif terhadap masa
depan generasi muda, dari masalah anak-anak jalanan dan pelacuran yang
juga menimpa anak-anak makin menjadi isu sehari-hari di kota-kota yang
membutuhkan uluran tangan mendesak.
BAGAIMANA SIKAP GEREJA?
Secara psikis dan spiritual kita melihat bahwa masyarakat perkotaan
makin individualistis dan kepeduliannya kepada tetangga makin menipis,
rumah tangga banyak yang berantakan dan kurangnya ikatan kasih antar
orang tua dan anak menimbulkan banyak korban. Pelayanan rohani makin
kurang dirasakan menggigit karena tekanan karir menimbulkan kurangnya
perhatian manusia pada agama, tetapi stress karir dan kejenuhan hidup
modern cenderung menghasilkan masyarakat kota yang kosong rohani yang
menjadi sasaran empuk ibadat-ibadat emosional dan yang bersifat
eskapis tanpa dampak, berarti bagi kehidupan spiritual.
Di samping banyak "gereja", yang makin suam dan kosong, memang banyak
"persekutuan" menjamur di kota-kota besar termasuk di kantor-kantor,
restoran-restoran, dan gedung-gedung umum lainnya, dan banyak
pengusaha dan orang modern menghadirinya, tetapi apakah kegairahan
spiritual perkotaan itu menghasilkan kehidupan yang bertobat? Hal ini
perlu dipertanyakan, sebab sekalipun banyak orang hadir dalam
persekutuan-persekutuan demikian kelihatannya para pengusaha itu
umumnya tetap tidak menunjukkan perubahan dalam cara dagangnya
sekalipun ia mulai rajin memberikan persembahan atau persepuluhan.
Kasus-kasus PHK dan pemogokan masih banyak terjadi di perusahaan yang
manajernya aktif di "praise center" atau menjadi "majelis gereja",
bahkan banyak perusahaan masih menjalankan cara-cara dagang yang
"mengabdi mamon" padahal banyak eksekutifnya yang rajin menghadiri
pertemuan-pertemuan demikian. Banyak direktur bank dikatakan bertobat
melalui persekutuan-persekutuan doa, tetapi kenyataannya tidak ada
perubahan terjadi dalam praktik bank itu yang menunjukkan sifat
Kristianinya. Sistem hadiah undian bank yang tidak mendidik tidak juga
berubah sekalipun direkturnya dikatakan sebagai bertobat.
Banyak konglomerat sekarang dielu-elukan sebagai "orang yang diberkati
Tuhan" karena sumbangannya kepada gereja dan persekutuan tetapi orang
lupa bahwa pengusaha demikian perlu diajak bertobat dan mentaati
Firman Tuhan agar tidak dikritik masyarakat umum karena ulahnya yang
entah merusak hutan tropis, pabriknya mencemari lingkungan, atau
menjadi mafia tanah yang ikut mempersulit penduduk miskin di kota.
Moralitas kota makin merosot tajam, hukum rimba makin menjadi etika
kota dan etika bisnis makin menjadi nostalgia, dan manusia kota akan
makin menjadi alat produksi dan makin kehilangan identitas diri dan
sadar hukumnya lemah. Gejala demikian menunjukkan fakta spiritualitas
perkotaan yang semu di mana agama memang dicari dan bermanfaat secara
"emosional" tetapi tidak berdaya men"transformasi"kan manusia modern
di kota. Agama bertumbuh secara kuantitatif tetapi secara kualitatif
masih dipertanyakan.
Jim Rohwer dalam tulisannya berjudul "What's in a nationality?"
mengatakan mengenai gejala dunia di tahun 1993 antara lain sebagai
berikut:
The growing integration of the world economy is pushing human society
into a borderless future... capital first, then goods and at last
services will be ever inclined to flow to places where they earn the
best returns, not necessarilly where governments would like them to
go; the companies and people who provide all these things are
increasingly following suit... But not so fast. The attachments of
blood, race, religion and language will be lessened hardly a jot by
all these developments. Indeed, they mill continue to weigh more
heavily in the worlds emotional scaleshan economic cosmopolitanism
does; and they will be the root cause of most of 1993's rows.
Komentar di atas senafas dengan analisis John Naisbitt dalam bukunya
mengenai dilema "High Tech-High Touch" di mana kehidupan modern
dikatakan sering mengalami dua kecenderungan komplementer yang saling
bertentangan. Kenyataannya kecenderungan yang diamati para pakar
tersebut kelihatannya berlaku pula di kehidupan perkotaan dan dalam
kaitannya dengan agama.
Penduduk kota modern makin sekular, individualistis dan materialistis
tetapi mereka cenderung mencari kelompok-kelompok "primordial" semula
seperti SARA, itulah sebabnya di kota-kota besar kecenderungan untuk
berkelompok secara kesukuan atau sekampung menjadi lebih kuat sebagai
rem pengaman kecenderungan modernisasi yang makin menghilangkan
identitas diri manusia.
Dalam kehidupan kegerejaan kita melihat gejala yang sama di mana
banyak umat mencari kembali primodialisme agama dalam bentuk kehidupan
bergereja di samping mencari pelarian emosional sebagai kompensasi
kejenuhan kehidupan modern. Di satu segi kelihatannya gereja ada
manfaatnya untuk mengisi kehausan emosional dan kebutuhan
primordialisme, tetapi sebagai "Hamba Allah" jelas gereja demikian
tidak menjadi "berkat" bagi masyarakat bila ia tidak mempunyai
kepekaan lingkungan dan kepedulian sosial.
LALU BAGAIMANA?
Dapat di kata menghadapi tantangan permasalahan yang ditimbulkan
perkembangan kota-kota besar, gereja kelihatannya masih mandul dan
nyaris tidak berbuat apa-apa!
Melihat perkembangan pembangunan gereja-gereja di kota-kota besar,
sepintas lalu kita dapat melihat adanya pertambahan kuantitatif, baik
dalam jumlah gedung gereja baru yang dibangun maupun dalam biaya
pembangunan yang berlomba-lomba, tetapi di balik itu kita melihat
bahwa umumnya jemaat perkotaan lebih bersifat individualistis, di mana
sekalipun banyak gereja-gereja besar dibangun dengan mahal dan mewah,
ternyata kepedulian gereja-gereja besar kepada gereja-gereja miskin
boleh di kata hampir tidak ada. Harta gereja umumnya lebih
diprioritaskan untuk keperluan sendiri dalam bentuk gedung maupun
mobil, dan sangat sedikit diarahkan sebagai buah-buah kasih ke luar.
Di balik mercu-mercu gedung gereja yang bergemerlapan, kota-kota besar
juga menyimpan ribuan gedung-gedung gereja di kampung-kampung yang
miskin dan bahkan reyot. Di sini kita melihat bahwa dampak kepedulian
misi gereja-gereja kota kepada sesama gerejanya saja masih kecil,
lebih-lebih kepeduliannya kepada orang-orang di luar gereja. Kenyataan
ini dapat dilihat dari hasil penelitian STT Jakarta (1985), di mana
dijumpai fakta bahwa dari 226 gereja responden, hanya 15 gereja yang
mempunyai program pelayanan sosial yang bisa disebut sebagai
"pelayanan perkotaan" (urban ministry), ini jumlahnya hanya 6 persen
saja!
Dari hasil penelitian itu, termasuk penelitian yang dilakukan oleh
World Vision International bekerja sama dengan yayasan-yayasan Kristen
di Jakarta, Semarang dan Surabaya, juga ditemukan fakta bahwa
setidaknya ada tiga sikap gereja dalam kepeduliannya pada masyarakat
penyandang masalah di perkotaan, yaitu:
1. Sikap yang menganggap bahwa tugas gereja atau persekutuan hanya
untuk mengabarkan "Injil", sedang urusan sosial adalah tanggung jawab
pemerintah.
2. Sikap yang menganggap bahwa pelayanan diakonia hanya perlu
diberikan kepada anggota jemaat sendiri saja yang kebetulan
membutuhkan.
3. Sikap yang mulai menyadari bahwa pelayanan sosial termasuk tugas
gereja atau persekutuan Kristen dan menjadi bagian tak terpisahkan
dari pemberitaan Injil.
Dari gambaran di atas kita dapat melihat bahwa kesadaran Gereja atau
persekutuan Kristen di kota-kota besar masih bervariasi, sehingga
"misi" yang mereka lakukan juga diwarnai oleh konsep pengertian
tentang "Injil" yang belum seragam. Sebenarnya, apakah Injil yang
sebenarnya?
Tuhan Yesus pada waktu mengutus murid-muridnya yang ditulia Matius 28
mengatakan:
19 "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan
baptiskanlah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah
Kuperintahkan kepadamu."
Bukanlah kita cenderung hanya menyempitkan Injil sekedar menjadi tugas
Mat 28:19 dan mengabaikan Mat 28:20? Bukankah "kasih" yang vertikal
(kepada Allah) dan yang horisontal (kepada sesama manusia) merupakan
perintah Allah? Kasih kepada sesama yang diumpamakan dengan "orang
Samaria yang baik hati secara sosial?" Luk 10:25-37.
Ketika memulai pekerjaannya setelah berpuasa 40 hari lamanya, Yesus
meneguhkan kitab Yesaya dan mengatakan:
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk
menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah
mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan,
dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang
yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."
Luk 4:18-19.
Dari ayat di atas kita dapat melihat bahwa Yesus sendiri mengabarkan
Injil yang mendatangkan Shalom bagi manusia, baik secara spiritual,
fisis, psikis, maupun sosial. Karena itu patut dipertanyakan sampai di
mana kesetiaan dan iman yang sudah ditunjukkan oleh gereja atau
persekutuan di kota-kota besar mengenai kepeduliannya menjalankan misi
kemasyarakatan yang disuruh Tuhan itu, bahkan pada saat kedatangannya
kelak, kelihatannya pelayanan sosial mendapat bobot yang besar pula:
Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang
telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar,
kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum;
ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku
telanjang kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat
Aku; ketika aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku... sesungguhnya
segala sesuatu yang kamu lalaikan untuk salah seorang dari
saudara-saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk
Aku. Mat 25:34-40.
Kelihatannya dari terang beberapa ayat-ayat di atas saja kita dapat
berintrospeksi sampai di manakah kita sudah "melakukan kehendak Allah"
dalam hidup kita?
Berbicara mengenai "Gereja, Teologi dan Masyarakat" kita harus sadar
bahwa gereja tidak terlepaskan dari teologi yang benar yang
alkitabiah, tetapi lebih lagi perlu disadari bahwa teologi yang
alkitabiah itu justru teologi yang mengakar ke bawah, yang
memasyarakat. Teologi bukanlah "obat bius" yang membuai kita pada
pemikiran-pemikiran yang melambung di angkasa berupa perdebatan
doktrin-doktrin rumit yang tidak mendarat, dan teologi juga bukan
ekstatisme "kompensasi keresahan jiwa", tetapi teologi sepatutnya
merupakan sesuatu yang hidup yang mengakar ke bawah sekaligus
memasyarakat.
MENYIAPKAN SDM KRISTEN
Penyiapan SDM yang peka akan lingkungan perkotaan dan punya kepedulian
sosial perlu dimulai sedini mungkin di sekolah-sekolah Teologia. Perlu
digali kembali teologia alkitabiah yang seutuhnya yang tidak hanya
bersifat vertikalis tetapi juga tidak hanya bersifat horisontalis,
tetapi yang sekaligus bersifat vertikalis dan horisontalis.
Mata kuliah-mata kuliah yang menunjang termasuk Sosiologi, Pelayanan
Perkotaan (Urban Ministry), maupun studi mengenai Yayasan-Yayasan
Sosial Kristen perlu dikembangkan dan dipelajari agar dapat ditemukan
pelayanan seutuhnya mencakup pelayanan sosial yang merupakan buah-buah
kasih Kristiani.
Mata kuliah Konseling Kristen selama ini hanya dibatasi pada konseling
dan bimbingan psikologi saja, padahal masalah manusia yang perlu
dibimbing, bukan sekedar bimbingan kejiwaan, tetapi termasuk juga
bimbingan sosial, ekonomi, bahkan hukum. Konseling Kristen perlu
dikembangkan mencakup apa yang disebut dengan "advocacy" termasuk
bantuan hukum. Bimbingan untuk mengatasi masalah ekonomi keluarga,
mencari pekerjaan, masalah PHK dan masalah pengadilan perlu
diantisipasi dalam pelayanan Konseling.
Pelayanan gereja perlu diperluas bukan hanya terbatas pada pelayanan
diakonia untuk lingkungan sendiri saja, tetapi perlu mencakup pelayan
kasih kepada sesama manusia, termasuk kepada non jemaat.
Pelayanan-pelayanan Kasih dapat berbentuk:
1. Pelayanan "karitatif", yang memberikan pertolongan pertama dan
darurat bagi mereka yang membutuhkan pertolongan. Berikan ikan pada
yang lapar.
2. Pelayanan "pengembangan", yang memberikan ketrampilan dan bekal
agar seseorang dibekali dengan kemampuan untuk memperoleh hasil.
Berikan kail agar ia dapat mengail ikan.
3. Pelayanan "pembebasan", yang membantu melepaskan seseorang dari
penindasan dan keterikatan yang berada di luar kemampuan mereka.
Seseorang bisa mempunyai kail tetapi tidak dapat mengail karena air
sungai sudah dikotori polusi pabrik industri.
Gereja-gereja dapat membuka klinik pelayanan, lembaga-lembaga bantuan
maupun yayasan-yayasan sosial Kristen sebagai perpanjangan gereja.
Dengan demikian gereja melayani bukan hanya dengan kata-kata tetapi
juga dengan perbuatan. Khotbah-khotbah harus berani membicarakan
secara terus terang isu-isu kontemporer yang dihadapi masyarakat
perkotaan secara umum dan anggota jemaat secara khusus, dengan
demikian isi khotbah tidak hanya melayang-layang di udara, tetapi
mendarat di bumi yang nyata. Ada kalanya masalah ekonomi sosial justru
ditimbulkan oleh pelaku yang adalah anggota gereja, dalam hal ini
gereja perlu berani ikut berbicara menegakkan kebenaran dan
mengingatkan yang salah.
Berita Injil perlu diterjemahkan dalam konteks kontemporer, sehingga
Injil bahkan merupakan "kabar baik" yang hanya bersifat puitis, tetapi
juga perlu bersifat "aksi". Dalam sidang Dewan Gereja Dunia di Upsala
(1968) ada demonstran membawa poster berbunyi "No Tracts but Tractor".
Traktat tanpa traktor itu ibarat roh tanpa tubuh, sedang traktor tanpa
traktat itu ibarat tubuh tanpa roh (Yak 2), tetapi manusia membutuhkan
baik traktat berisi kabar baik sekaligus traktor untuk mengisi
perutnya. Benar bahwa Yesus mengatakan bahwa "Manusia hidup bukan dari
roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah",Mat
4:4, tetapi ingat bahwa Yesus tidak mengatakan bahwa kita "tidak
membutuhkan roti", artinya roti juga dibutuhkan!
Sudah saatnya gereja tidak hanya membentuk "kerajaan dunia dengan
segala isinya" (gedung dan aset gereja, mobil, sekolah dan lain-lain),
tetapi perlu menyisihkan sebagian harta miliknya untuk pelayanan
kepada sesama kita, dan menyisihkan dana yang cukup untuk pengembangan
Sumber Daya Manusia.
(Sumber dari internet yang dilengkapi dengan pemikiran pribadi).
Perkembangan penduduk dan khususnya penduduk perkotaan yang melanda
dunia sesudah perang dunia kedua yang dampaknya juga terasa di
Indonesia telah mengubah banyak tatanan sosial termasuk tatanan
kehidupan berjemaat, khususnya jemaat perkotaan (urban parish). Di
tengah-tengah perubahan cepat demikian yang menimbulkan dampak luar
biasa, mau tidak mau gereja juga diperhadapkan dengan perubahan
strategi dan misi pelayanannya yang membutuhkan penyesuaian dan juga
antisipasi menghadapi hal itu.
Masalah perkotaan yang timbul belakangan ini seperti soal kejahatan
kerah putih (white collar crime) semacam kasus Bapindo, masalah jurang
kaya miskin di kota besar, Lingkungan Hidup, PHK,
demonstrasi-demonstrasi perburuhan, bahkan pengrusakan pabrik semacam
yang banyak terjadi di Tangerang dan Medan, telah menjadi topik
liputan utama surat-surat kabar dan majalah maupun mass media lainnya,
tetapi sayang sekali perhatian dan tanggapan gereja pada umumnya sepi
kalau tidak mau dibilang sebagai tidak ada sama sekali.
Apakah masalah itu bukan masalah gereja? Ataukah gereja yang belum
peka akan lingkungannya? Topik inilah yang menjadi salah satu bahasan
dalam "Minister Convention 1994" yang menantang para Hamba Tuhan
maupun Pengerja Kristen agar mulai menggumuli nisbah antara Gereja,
Teologi dan Masyarakat.
PERKEMBANGAN PERKOTAAN
Pada tahun 1990 PBB mengeluarkan laporan kegiatannya selama 45 tahun
(1945-1990), laporan mana menonjolkan masalah-masalah global yang
cukup serius yang menantang umat manusia. Di antaranya
tantangan-tantangan yang menonjol disebut masalah Urbanisasi sebagai
tantangan yang berjalan sama cepatnya dengan kemajuan Era Informasi di
akhir abad ke-20 ini, di mana disebutkan:
"Ledakan Perkotaan": Lebih dari 40 persen penduduk dunia bertempat
tinggal di kota-kota - sebelumnya tak pernah sebesar ini. Begitu
penduduk berduyun-duyun mengalir ke kota-kota untuk mencari pekerjaan,
tempat tinggal dan pelayanan sosial yang lebih baik, maka lingkungan
pedesaan dan perkotaan berubah secara drastis. Di akhir abad ini,
lebih separuh dari penduduk dunia berada di kota-kota. Sebagian besar
dari penduduk kota yang baru ini akan berada di negara-negara yang
sedang berkembang. Akibat urbanisasi yang berlangsung dengan cepat
sudah terasa dalam bentuk kota yang penuh sesak, persediaan air dan
sanitasi yang tidak memadai, pencemaran lingkungan, pengangguran,
kemiskinan yang endemis dan keputusasaan yang bertambah luas.
Ledakan penduduk perkotaan merupakan tantangan serius di seluruh dunia
baik di negara-negara maju dan terutama di negara-negara yang
berkembang, bahkan dalam laporan PBB berjudul "Prospect of World
Urbanization" (1987) disebutkan bahwa pada tahun 2000 akan terdapat 23
kota-kota Metropolis dengan penduduk di atas 10 juta orang di mana
Jakarta termasuk sebagai kota terpadat ke sebelas dengan penduduk 14
juta orang, dan di antaranya, 6 kota berada di atas 15 juta penduduk
di mana 4 kota di antaranya berada di negara-negara sedang berkembang!
Sekarang ini dunia menghadapi perkembangan kota-kota yang bukan lagi
jutaan penduduknya tetapi belasan juta bahkan puluhan juta
penduduknya!
Memang masalah perkotaan merupakan topik hangat di akhir abad ini,
bahkan dalam Kongres Metropolis Sedunia terakhir, dibahas 6 masalah
pokok yang dihadapi kota-kota besar dunia yang cukup memusingkan para
penata dan pengelola kota pada umumnya yaitu masalah-masalah berikut:
1. Masalah Pertumbuhan Penduduk Perkotaan yang tidak terkendali
2. Masalah Perumahan Rakyat dan Sarana Fisik dan Sosial yang makin tidak memadai
3. Masalah Lingkungan Hidup dan Kesehatan yang makin merosot
4. Masalah Lalu lintas dan Transportasi yang makin langka
5. Masalah Organisasi dan Manajemen Perkotaan yang makin tidak mampu
Masalah-masalah mana memang makin sulit diatasi dalam kehidupan
kota-kota modern karena pertumbuhan penyediaan prasarana dan sarana
lebih lambat dari tuntutan kebutuhan, hal mana mengakibatkan
dampak-dampak negatif perkotaan yang makin sulit ditanggulangi dan
akan berdampak berat bagi penduduk perkotaan.
Memang harus diakui bahwa kota-kota besar merupakan simbol kemajuan
ekonomi, tetapi harga apakah yang harus dibayar darinya? Asian
Business, dalam artikelnya menyebutkan bahwa:
"This is what Asian countries are learning as their major urban
centres suffer the symptons of their economics success: Traffic
congestion, air pollution, inadequate sanitation and infrastructure
that has been stretched to breaking point by rapid urban growth ...
Many of Asia's cities are degrading faster than the region's robust
economies are growing."
Sudah jelas bahwa gejala-gejala fisik itu berpengaruh pada perilaku
penghuninya seperti apa yang pernah diucapkan oleh Winston Churchill
bahwa, "We build our cities and it will build our way of life."
Mengenai kesan masyarakat kota terhadap kotanya, majalah Newsweek
dalam artikelnya mengemukakan hasil penelitiannya di kota-kota di
Amerika Serikat dan menghasilkan kesimpulan berikut:
Tiga puluh dua persen Amerika tinggal di kota-kota -- tetapi hanya 13
persen yang menganggap kota sebagai tempat hunian yang paling
diingini. Tiga puluh tujuh persen orang-orang Amerika menganggap
kota-kota besar di Amerika sebagai "sakit parah" atau "kritis" ...
Penduduk perkotaan menyalahkan situasi ekonomi dan birokrasi sama-sama
menjadi penyebab timbulnya masalah-masalah perkotaan.
MASALAH PERKOTAAN DI INDONESIA
Indonesia juga menghadapi masalah perkotaan yang cukup menekan
khususnya sejak Pemerintahan Orde Baru tahun 1970-an di mana keamanan
hidup di perkotaan makin meningkat dan pembangunan di kota-kota makin
menggebu-gebu, ini merangsang urbanisasi berjalan dengan pesat dan
tidak terkendali.
Dalam sensus tahun 1961 tercatat bahwa dari 97 juta penduduk
Indonesia, 14 juta tinggal di kota (=15 persen). Angka ini meningkat
dalam sensus tahun 1971 di mana terlihat bahwa dari 119 juta penduduk,
21 juta tinggal di kota (=18 persen), dan dalam sensus tahun 1980
tercatat dari 148 juta penduduk Indonesia, 33 juta tinggal di kota
(=22 persen). Dalam sensus terakhir tahun 1990 diketahui bahwa
penduduk Indonesia sudah mencapai 180 juta orang di mana 56 juta di
antaranya tinggal di kota-kota (=31 persen) dan diperkirakan pada
tahun 2000, 40 persen penduduk Indonesia akan tinggal di kota-kota.
Bayangkan bahwa dalam kurun waktu 30 tahun terakhir (1961-1990)
kenaikan jumlah penduduk Indonesia hanya meningkat menjadi kurang dari
2 kali, tetapi kenaikan jumlah penduduk kotanya meningkat menjadi 4
kali lipat! Hal ini memang sesuai dengan hasil sensus 1990 di mana
ditemukan fakta bahwa pertumbuhan penduduk Indonesia sekarang telah
bisa ditekan menjadi 1,9 persen pertahun tetapi angka urbanisasi
perkotaan pertahun mencapai 5,7 persen! Kota Bandung sebagai kota
terbesar di Jawa Barat sekarang dihuni lebih dari 2 juta penduduk dan
kota Jakarta sebagai Ibukota Negara telah berpenduduk 9 juta lebih.
Persentase penduduk kota yang meningkat itu menghasilkan kepadatan
bangunan dan hunian yang makin tinggi di kota-kota yang berdampak
serius terhadap penduduk perkotaan itu sendiri. Perumahan kelompok
berpenghasilan rendah di kampung-kampung kota makin tinggi
kepadatannya bahkan bisa mencapai 1000 orang per hektar tingkat
huniannya, kenyataan mana menimbulkan masalah kemerosotan lingkungan
perumahan menjadi kumuh, yang benar-benar makin tidak layak huni
karena kepadatan bangunan dan kepadatan hunian. Banyak rumah-rumah di
kampung-kampung kota dihuni lebih dari satu keluarga bahkan sering
pula dihuni beberapa keluarga.
Di Indonesia masalah perumahan makin sulit dijangkau oleh penduduk
berpenghasilan rendah. Gejala makin langkanya perumahan di kota
mengakibatkan makin banyaknya para gepeng (gelandangan pengemis) yang
berkeliaran di kota-kota termasuk anak-anak jalanan (street children).
Makin padatnya penduduk perkotaan makin menyulitkan penyediaan
prasarana dan sarana fisik dan sosial dan kondisi lingkungan hidup
makin merosot. Days dukung lingkungan bukan saja makin tidak memadai
tetapi rusak akibat adanya polusi yang sekarang mengotori
sungai-sungai di kota, dan udara kota penuh dengan polusi udara karena
asap pabrik dan kendaraan. Kenyataan ini mendatangkan kerawanan
kesehatan di kota-kota.
Masalah polusi pabrik bukan hanya soal kesehatan dan lingkungan hidup
saja, tetapi masalah moral mengenai ketidakadilan dan hak azasi
penduduk dalam menuntut kehidupan yang asri, demikian juga kotornya
sungai-sungai karena zat buangan pabrik-pabrik industri mematikan
banyak ikan dan tidak memberi kesempatan banyak orang bergantung dari
pengusahaan ikan sungai, bahkan penggunaan lain untuk air minum,
mandi, atau mencuci makin tidak mungkin.
Perkembangan kota dan industrinya memang menumbuhkan ekonomi kota, hal
ini terlihat dengan lajunya pembangunan fisik gedung-gedung
perkantoran, pusat-pusat pertokoan, dan pabrik-pabrik, tetapi sejalan
dengan ini masalah lowongan pekerjaan, PHK, dan pengangguran makin
menekan. Sekarang makin banyak kasus-kasus kita baca mengenai
pemogokan buruh industri karena upah buruh di bawah standar dan
perlakuan majikan yang tidak adil terhadap buruhnya, masalah PHK
karena rasionalisasi dan otomatisasi perusahaan menjadi peristiwa yang
makin sering terjadi di pabrik-pabrik dalam kota.
Tidak dapat disangkal bahwa pengangguran makin meningkat yang akan
berdampak luas terhadap kenaikan angka kejahatan atau kriminalitas.
Kasus-kasus demonstrasi dan pemogokan buruh sudah menjadi agenda rutin
di Tangerang dan bahkan di Medan belum lama ini telah menjurus kepada
SARA yang mendatangkan korban jiwa!
Jurang kaya miskin di kota antara mereka yang memperoleh kesempatan
dan yang tidak makin menganga, dan kesenjangan sosial antara
konglomerat dan yang melarat makin mustahil dijembatani. Di kota-kota
besar kita melihat makin banyak villa-villa eksklusif dengan taman dan
kolamnya yang lebar, tetapi kawasan kumuh tanpa air minum juga makin
meluas. Makin banyak penduduk kota naik mobil mewah bahkan di kawasan
elit satu rumah sering mempunyai mobil lebih dari dua, sedangkan
masyarakat umum makin berhimpit-himpitan di bis-bis kota.
Dibandingkan dengan situasi sosial di pedesaan (rural), kemelut sosial
di perkotaan makin menghantui masyarakat kota, sebab kriminalitas
menjadi berita sehari-hari pos kota, perkelahian antar pelajar makin
menjadi hobi anak-anak sekolah, penyalahgunaan alkohol dan narkotika
sudah menjadi masalah serius yang berdampak negatif terhadap masa
depan generasi muda, dari masalah anak-anak jalanan dan pelacuran yang
juga menimpa anak-anak makin menjadi isu sehari-hari di kota-kota yang
membutuhkan uluran tangan mendesak.
BAGAIMANA SIKAP GEREJA?
Secara psikis dan spiritual kita melihat bahwa masyarakat perkotaan
makin individualistis dan kepeduliannya kepada tetangga makin menipis,
rumah tangga banyak yang berantakan dan kurangnya ikatan kasih antar
orang tua dan anak menimbulkan banyak korban. Pelayanan rohani makin
kurang dirasakan menggigit karena tekanan karir menimbulkan kurangnya
perhatian manusia pada agama, tetapi stress karir dan kejenuhan hidup
modern cenderung menghasilkan masyarakat kota yang kosong rohani yang
menjadi sasaran empuk ibadat-ibadat emosional dan yang bersifat
eskapis tanpa dampak, berarti bagi kehidupan spiritual.
Di samping banyak "gereja", yang makin suam dan kosong, memang banyak
"persekutuan" menjamur di kota-kota besar termasuk di kantor-kantor,
restoran-restoran, dan gedung-gedung umum lainnya, dan banyak
pengusaha dan orang modern menghadirinya, tetapi apakah kegairahan
spiritual perkotaan itu menghasilkan kehidupan yang bertobat? Hal ini
perlu dipertanyakan, sebab sekalipun banyak orang hadir dalam
persekutuan-persekutuan demikian kelihatannya para pengusaha itu
umumnya tetap tidak menunjukkan perubahan dalam cara dagangnya
sekalipun ia mulai rajin memberikan persembahan atau persepuluhan.
Kasus-kasus PHK dan pemogokan masih banyak terjadi di perusahaan yang
manajernya aktif di "praise center" atau menjadi "majelis gereja",
bahkan banyak perusahaan masih menjalankan cara-cara dagang yang
"mengabdi mamon" padahal banyak eksekutifnya yang rajin menghadiri
pertemuan-pertemuan demikian. Banyak direktur bank dikatakan bertobat
melalui persekutuan-persekutuan doa, tetapi kenyataannya tidak ada
perubahan terjadi dalam praktik bank itu yang menunjukkan sifat
Kristianinya. Sistem hadiah undian bank yang tidak mendidik tidak juga
berubah sekalipun direkturnya dikatakan sebagai bertobat.
Banyak konglomerat sekarang dielu-elukan sebagai "orang yang diberkati
Tuhan" karena sumbangannya kepada gereja dan persekutuan tetapi orang
lupa bahwa pengusaha demikian perlu diajak bertobat dan mentaati
Firman Tuhan agar tidak dikritik masyarakat umum karena ulahnya yang
entah merusak hutan tropis, pabriknya mencemari lingkungan, atau
menjadi mafia tanah yang ikut mempersulit penduduk miskin di kota.
Moralitas kota makin merosot tajam, hukum rimba makin menjadi etika
kota dan etika bisnis makin menjadi nostalgia, dan manusia kota akan
makin menjadi alat produksi dan makin kehilangan identitas diri dan
sadar hukumnya lemah. Gejala demikian menunjukkan fakta spiritualitas
perkotaan yang semu di mana agama memang dicari dan bermanfaat secara
"emosional" tetapi tidak berdaya men"transformasi"kan manusia modern
di kota. Agama bertumbuh secara kuantitatif tetapi secara kualitatif
masih dipertanyakan.
Jim Rohwer dalam tulisannya berjudul "What's in a nationality?"
mengatakan mengenai gejala dunia di tahun 1993 antara lain sebagai
berikut:
The growing integration of the world economy is pushing human society
into a borderless future... capital first, then goods and at last
services will be ever inclined to flow to places where they earn the
best returns, not necessarilly where governments would like them to
go; the companies and people who provide all these things are
increasingly following suit... But not so fast. The attachments of
blood, race, religion and language will be lessened hardly a jot by
all these developments. Indeed, they mill continue to weigh more
heavily in the worlds emotional scaleshan economic cosmopolitanism
does; and they will be the root cause of most of 1993's rows.
Komentar di atas senafas dengan analisis John Naisbitt dalam bukunya
mengenai dilema "High Tech-High Touch" di mana kehidupan modern
dikatakan sering mengalami dua kecenderungan komplementer yang saling
bertentangan. Kenyataannya kecenderungan yang diamati para pakar
tersebut kelihatannya berlaku pula di kehidupan perkotaan dan dalam
kaitannya dengan agama.
Penduduk kota modern makin sekular, individualistis dan materialistis
tetapi mereka cenderung mencari kelompok-kelompok "primordial" semula
seperti SARA, itulah sebabnya di kota-kota besar kecenderungan untuk
berkelompok secara kesukuan atau sekampung menjadi lebih kuat sebagai
rem pengaman kecenderungan modernisasi yang makin menghilangkan
identitas diri manusia.
Dalam kehidupan kegerejaan kita melihat gejala yang sama di mana
banyak umat mencari kembali primodialisme agama dalam bentuk kehidupan
bergereja di samping mencari pelarian emosional sebagai kompensasi
kejenuhan kehidupan modern. Di satu segi kelihatannya gereja ada
manfaatnya untuk mengisi kehausan emosional dan kebutuhan
primordialisme, tetapi sebagai "Hamba Allah" jelas gereja demikian
tidak menjadi "berkat" bagi masyarakat bila ia tidak mempunyai
kepekaan lingkungan dan kepedulian sosial.
LALU BAGAIMANA?
Dapat di kata menghadapi tantangan permasalahan yang ditimbulkan
perkembangan kota-kota besar, gereja kelihatannya masih mandul dan
nyaris tidak berbuat apa-apa!
Melihat perkembangan pembangunan gereja-gereja di kota-kota besar,
sepintas lalu kita dapat melihat adanya pertambahan kuantitatif, baik
dalam jumlah gedung gereja baru yang dibangun maupun dalam biaya
pembangunan yang berlomba-lomba, tetapi di balik itu kita melihat
bahwa umumnya jemaat perkotaan lebih bersifat individualistis, di mana
sekalipun banyak gereja-gereja besar dibangun dengan mahal dan mewah,
ternyata kepedulian gereja-gereja besar kepada gereja-gereja miskin
boleh di kata hampir tidak ada. Harta gereja umumnya lebih
diprioritaskan untuk keperluan sendiri dalam bentuk gedung maupun
mobil, dan sangat sedikit diarahkan sebagai buah-buah kasih ke luar.
Di balik mercu-mercu gedung gereja yang bergemerlapan, kota-kota besar
juga menyimpan ribuan gedung-gedung gereja di kampung-kampung yang
miskin dan bahkan reyot. Di sini kita melihat bahwa dampak kepedulian
misi gereja-gereja kota kepada sesama gerejanya saja masih kecil,
lebih-lebih kepeduliannya kepada orang-orang di luar gereja. Kenyataan
ini dapat dilihat dari hasil penelitian STT Jakarta (1985), di mana
dijumpai fakta bahwa dari 226 gereja responden, hanya 15 gereja yang
mempunyai program pelayanan sosial yang bisa disebut sebagai
"pelayanan perkotaan" (urban ministry), ini jumlahnya hanya 6 persen
saja!
Dari hasil penelitian itu, termasuk penelitian yang dilakukan oleh
World Vision International bekerja sama dengan yayasan-yayasan Kristen
di Jakarta, Semarang dan Surabaya, juga ditemukan fakta bahwa
setidaknya ada tiga sikap gereja dalam kepeduliannya pada masyarakat
penyandang masalah di perkotaan, yaitu:
1. Sikap yang menganggap bahwa tugas gereja atau persekutuan hanya
untuk mengabarkan "Injil", sedang urusan sosial adalah tanggung jawab
pemerintah.
2. Sikap yang menganggap bahwa pelayanan diakonia hanya perlu
diberikan kepada anggota jemaat sendiri saja yang kebetulan
membutuhkan.
3. Sikap yang mulai menyadari bahwa pelayanan sosial termasuk tugas
gereja atau persekutuan Kristen dan menjadi bagian tak terpisahkan
dari pemberitaan Injil.
Dari gambaran di atas kita dapat melihat bahwa kesadaran Gereja atau
persekutuan Kristen di kota-kota besar masih bervariasi, sehingga
"misi" yang mereka lakukan juga diwarnai oleh konsep pengertian
tentang "Injil" yang belum seragam. Sebenarnya, apakah Injil yang
sebenarnya?
Tuhan Yesus pada waktu mengutus murid-muridnya yang ditulia Matius 28
mengatakan:
19 "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan
baptiskanlah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah
Kuperintahkan kepadamu."
Bukanlah kita cenderung hanya menyempitkan Injil sekedar menjadi tugas
Mat 28:19 dan mengabaikan Mat 28:20? Bukankah "kasih" yang vertikal
(kepada Allah) dan yang horisontal (kepada sesama manusia) merupakan
perintah Allah? Kasih kepada sesama yang diumpamakan dengan "orang
Samaria yang baik hati secara sosial?" Luk 10:25-37.
Ketika memulai pekerjaannya setelah berpuasa 40 hari lamanya, Yesus
meneguhkan kitab Yesaya dan mengatakan:
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk
menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah
mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan,
dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang
yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."
Luk 4:18-19.
Dari ayat di atas kita dapat melihat bahwa Yesus sendiri mengabarkan
Injil yang mendatangkan Shalom bagi manusia, baik secara spiritual,
fisis, psikis, maupun sosial. Karena itu patut dipertanyakan sampai di
mana kesetiaan dan iman yang sudah ditunjukkan oleh gereja atau
persekutuan di kota-kota besar mengenai kepeduliannya menjalankan misi
kemasyarakatan yang disuruh Tuhan itu, bahkan pada saat kedatangannya
kelak, kelihatannya pelayanan sosial mendapat bobot yang besar pula:
Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang
telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar,
kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum;
ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku
telanjang kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat
Aku; ketika aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku... sesungguhnya
segala sesuatu yang kamu lalaikan untuk salah seorang dari
saudara-saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk
Aku. Mat 25:34-40.
Kelihatannya dari terang beberapa ayat-ayat di atas saja kita dapat
berintrospeksi sampai di manakah kita sudah "melakukan kehendak Allah"
dalam hidup kita?
Berbicara mengenai "Gereja, Teologi dan Masyarakat" kita harus sadar
bahwa gereja tidak terlepaskan dari teologi yang benar yang
alkitabiah, tetapi lebih lagi perlu disadari bahwa teologi yang
alkitabiah itu justru teologi yang mengakar ke bawah, yang
memasyarakat. Teologi bukanlah "obat bius" yang membuai kita pada
pemikiran-pemikiran yang melambung di angkasa berupa perdebatan
doktrin-doktrin rumit yang tidak mendarat, dan teologi juga bukan
ekstatisme "kompensasi keresahan jiwa", tetapi teologi sepatutnya
merupakan sesuatu yang hidup yang mengakar ke bawah sekaligus
memasyarakat.
MENYIAPKAN SDM KRISTEN
Penyiapan SDM yang peka akan lingkungan perkotaan dan punya kepedulian
sosial perlu dimulai sedini mungkin di sekolah-sekolah Teologia. Perlu
digali kembali teologia alkitabiah yang seutuhnya yang tidak hanya
bersifat vertikalis tetapi juga tidak hanya bersifat horisontalis,
tetapi yang sekaligus bersifat vertikalis dan horisontalis.
Mata kuliah-mata kuliah yang menunjang termasuk Sosiologi, Pelayanan
Perkotaan (Urban Ministry), maupun studi mengenai Yayasan-Yayasan
Sosial Kristen perlu dikembangkan dan dipelajari agar dapat ditemukan
pelayanan seutuhnya mencakup pelayanan sosial yang merupakan buah-buah
kasih Kristiani.
Mata kuliah Konseling Kristen selama ini hanya dibatasi pada konseling
dan bimbingan psikologi saja, padahal masalah manusia yang perlu
dibimbing, bukan sekedar bimbingan kejiwaan, tetapi termasuk juga
bimbingan sosial, ekonomi, bahkan hukum. Konseling Kristen perlu
dikembangkan mencakup apa yang disebut dengan "advocacy" termasuk
bantuan hukum. Bimbingan untuk mengatasi masalah ekonomi keluarga,
mencari pekerjaan, masalah PHK dan masalah pengadilan perlu
diantisipasi dalam pelayanan Konseling.
Pelayanan gereja perlu diperluas bukan hanya terbatas pada pelayanan
diakonia untuk lingkungan sendiri saja, tetapi perlu mencakup pelayan
kasih kepada sesama manusia, termasuk kepada non jemaat.
Pelayanan-pelayanan Kasih dapat berbentuk:
1. Pelayanan "karitatif", yang memberikan pertolongan pertama dan
darurat bagi mereka yang membutuhkan pertolongan. Berikan ikan pada
yang lapar.
2. Pelayanan "pengembangan", yang memberikan ketrampilan dan bekal
agar seseorang dibekali dengan kemampuan untuk memperoleh hasil.
Berikan kail agar ia dapat mengail ikan.
3. Pelayanan "pembebasan", yang membantu melepaskan seseorang dari
penindasan dan keterikatan yang berada di luar kemampuan mereka.
Seseorang bisa mempunyai kail tetapi tidak dapat mengail karena air
sungai sudah dikotori polusi pabrik industri.
Gereja-gereja dapat membuka klinik pelayanan, lembaga-lembaga bantuan
maupun yayasan-yayasan sosial Kristen sebagai perpanjangan gereja.
Dengan demikian gereja melayani bukan hanya dengan kata-kata tetapi
juga dengan perbuatan. Khotbah-khotbah harus berani membicarakan
secara terus terang isu-isu kontemporer yang dihadapi masyarakat
perkotaan secara umum dan anggota jemaat secara khusus, dengan
demikian isi khotbah tidak hanya melayang-layang di udara, tetapi
mendarat di bumi yang nyata. Ada kalanya masalah ekonomi sosial justru
ditimbulkan oleh pelaku yang adalah anggota gereja, dalam hal ini
gereja perlu berani ikut berbicara menegakkan kebenaran dan
mengingatkan yang salah.
Berita Injil perlu diterjemahkan dalam konteks kontemporer, sehingga
Injil bahkan merupakan "kabar baik" yang hanya bersifat puitis, tetapi
juga perlu bersifat "aksi". Dalam sidang Dewan Gereja Dunia di Upsala
(1968) ada demonstran membawa poster berbunyi "No Tracts but Tractor".
Traktat tanpa traktor itu ibarat roh tanpa tubuh, sedang traktor tanpa
traktat itu ibarat tubuh tanpa roh (Yak 2), tetapi manusia membutuhkan
baik traktat berisi kabar baik sekaligus traktor untuk mengisi
perutnya. Benar bahwa Yesus mengatakan bahwa "Manusia hidup bukan dari
roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah",Mat
4:4, tetapi ingat bahwa Yesus tidak mengatakan bahwa kita "tidak
membutuhkan roti", artinya roti juga dibutuhkan!
Sudah saatnya gereja tidak hanya membentuk "kerajaan dunia dengan
segala isinya" (gedung dan aset gereja, mobil, sekolah dan lain-lain),
tetapi perlu menyisihkan sebagian harta miliknya untuk pelayanan
kepada sesama kita, dan menyisihkan dana yang cukup untuk pengembangan
Sumber Daya Manusia.
(Sumber dari internet yang dilengkapi dengan pemikiran pribadi).
Langganan:
Postingan (Atom)
KUMPULAN KOTBAH DAN PUJIAN PENYEMBAHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA
LINK KUMPULAN KOTBAH / RENUNGAN FIRMAN TUHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA (PAS) 1. HIDUP YANG SUDAH DIBAHARUI https://www.youtu...
-
Pengantar · Pertanyaan apa yang saudara pahami tentang liturgy…………….? · Dalam teologi Ilmu yang membahas tentang pe...
-
Interaksi Buku, pilih dan baca salah satu buku di bawah ini kemudian berikan komentar, kritik, dan buat laporan sebanyak dua halaman spasi...
-
Tugas MK LITURGIKA STTC TIRSA MONU Liturgi Ibadah Umum di GPdI 1. Doa Pembukaan Maknanya: Seluruh peserta ibadah mempersiapkan diri un...