Pelayanan dan penggembalaan dan resensi buku "Saksi Bagi Kristus dari
Jhon de Gruchy".
MASYARAKAT DAN KEKERISTENAN
Kondisi masyarakat Kecamatan Katapang, Soreang Bandung Jawa
Barat yang beraneka ragam, baik agama, suku (pribumi,pendatang),
budaya dan pekerjaan, hal tersebut yang menggambarkan keadaan
masyarakat yang ada, dan inilah yang terlebih dahulu dapat di lihat
dan memotifasi pada tahun 2000 pelayanan perintisan pekerjaan Tuhan di
mulai.
Dan dari informasi-informasi, rupanya telah ada terlebih dahulu
beberapa hamba Tuhan yang pernah memulai memberitakan Injil dan
membuka pekerjaan Tuhan bahkan sampai terbentuk beberapa persekutuan
ibadah, namun di perhadapkan dengan berbagai-bagai tantangan dari
masyarakat, aparat, dan pemerintahan setempat, seperti tidak adanya
kebebasan dalam penginjilan, adanya penolakan-penolakan untuk percaya
kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, bahkan sampai dengan
adanya tindakan-tindakan dalam membubarkan persekutuan-persekutuan doa
dan ibadah yang sudah ada, bahkan sampai pada hal yang lain lagi yaitu
bagaimana kehidupan orang-orang Kristen yang merupakan masyarakat atau
penduduk setempat juga mengalami banyak diskriminasi seperti anak-anak
Kristen yang bersekolah di sekolah negeri selalu merasah di pojokkan
baik dari teman-teman atau juga guru-guru mereka di sekolah. Hal
tersebut pun masih terus terjadi sampai sekarang.
Sementara dalam kehidupan orang-orang Kristen yang ada sekarang
mungkin dengan adanya berbagai macam hal yang terjadi bahkan
sepertinya dengan belum adanya kedewasaan rohani juga menyebabkan
kehidupan mereka di warnai dengan berbagai-bagai macam hal, baik dalam
pergaulan, dalam bermasyarakat maupun dalam bagaimana mereka mencari
atau beribadah kepada Tuhan. Seperti bermasah bodoh dgn orang lain,
tidak adanya pendekatan kepada masyarakat atau pemerintah juga belum
adanya tanggung jawab sebagai orang-orang Kristen untuk setia
beribadah maupun melakukan kebenaran Firman Tuhan.
KEHIDUPAN JEMAAT
Kehidupan jemaat dalam pelayanan terdiri dari beberapa suku,
pekerjaan dan kedudukan, sepintas kehidupan mereka dalam Kekeristenan
atau dalam beribadah terkesan tidak ada masalah dalam arti kata semua
baik, namun kenyataan dalam beberapa jemaat yang ada di jumpai
berbagai-bagai macam hal yang bertolak belakang dengan kebenaran
Firman Tuhan, seperti adanya ketidak harmonisannya antara suami dan
isteri dalam rumah tangga, terjadinya perpisahan seperti tinggal di
rumah yang berbeda, adanya pengaruh-pengaruh: kebiasaan, adat istiadat
atau tradisi, masih adanya kepercayaan kepada dukun, adanya pertikaian
atau perbedaan di antara sesama jemaat sehingga ada jemaat yang
mengundurkan diri, belum berhenti dari meminum alkohol dan merokok dan
juga belum setianya jemaat beribadah dan melakukan kebenaran Firman
Tuhan.
SIKAP KEPEMIMPINAN DALAM JEMAAT DAN PELAYANAN
Sebagai sorang hamba Tuhan di tengah-tengah masyarakat dan
pemimpin (gembala) dalam pekerjaan Tuhan melihat kondisi keadaan
masyarakat dan jemaat yang ada tentunya merupakan tantangan dan
pergumulan untuk supaya bisa keluar dari persoalan-persoalan tersebut.
Tindakan-tindakan yang di lakukan adalah dengan adanya
pendekatan-pendekatan dalam membangun hubungan baik kepada masyarakat,
pemerintah terlebih khusus bagi jemaat-jemaat yang ada. Kalau untuk
masyarakat dan pemerintah yang ada selain mendoakannya juga
bersosialisasi dgn baik seperti dengan adanya Kekeristenan atau Gereja
akan menciptakan keindahan dan kebersamaan, hormat dan menghormati,
sedangkan bagi jemaat-jemaat Tuhan yang ada dalam pelayanan adalah
dengan mengajarkan mereka untuk berani hidup sesuai dengan kebenaran
Firman Tuhan, taat dan setia beribadah dan juga berani meninggalkan
kebiasaan-kebiasan buruk dalam kehidupan mereka, sehingga mereka di
berkati dan di selamatkan, seperti yang tertulis dalam Alkitab
1Korintus 15:58 "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih,
berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan
Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih
payahmu tidak sia-sia." 1Korintus 3:23 "Tetapi kamu adalah milik
Kristus dan Kristus adalah milik Allah".
RASUL PAULUS DAN JEMAAT KORINTUS
Dalam memberi nasehat dan pengajaran bagi warga jemaat Korintus
dalam hidupnya sehari-hari, Paulus mengajar melalui pengalaman
hidupnya. Jemaat Kristen di kota Korintus awalnya masih di pengaruhi
kebiasaan-kebiasaan (tabiat) lama sebelum mereka menerima Kristus.
Sesuai fakta sejarah, Paulus banyak menghadapi tekanan, beban yang
berat di tengah pelayanannya di jemaat Korintus, antara lain:
perpecahan, pro-kontra antara pendukung (kelompok), perselisihan dan
perdebatan-perdebatan yang menimbulkan pemahaman yang salah mengenai
penatalayanan jemaat (bandingkan 1Korintus 3:6-7). Di tengah
perjumpaan Paulus dengan jemaat, tak jarang Paulus menulis surat-surat
penggembalaan (Pastoral) berisikan evaluasi secarah menyeluruh,
mencermati kehidupan jemaat secara kuantitas maupun kualitas sebagai
bagian yang tak terpisahkan dari pelayanan Paulus.
Dalam suratnya, Paulus menekankan kesatuan jemaat serta memelihara
iman mereka sebagai bentuk pengenalan yang utuh tentang iman terhadap
Tuhan Yesus. Di sisi lain mengapa Paulus menekankan pentingnya
pemahaman dan pengenalan yang utuh tentang iman percaya mereka kepada
Allah, sebab hanya Allah sumber penghiburan (bdg. 2Korintus 1:3-7).
Walaupun jemaat Korintus harus menderita karena Injil, mereka tidak
boleh goyah karena Allah tidak pernah membiarkan kita di cobai dunia.
2Korintus 1:3-4, kalimat, "terpujlah Allah…" Di sini tampak jelas ada
pengakuan pribadi Paulus yang secara gamblang mengakui bahwa hanya
Allah yang memampukannya memberitakan kabar baik ke tengah-tengah
jemaat. Pengakuan ini sekaligus mengajak jemaat Korintus untuk selalu
memuji Allah, dalam gaya hidup mereka sehari-hari, antara lain:
menjaga persatuan di tengah jemaat agar tidak terjadi perpecahan,
menghindari timbulnya perselisihan agar tidak terjadi pro-kontra.
2Korintus 1:5-7: Allah senantiasa menghibur, menguatkan Paulus dalam
pelayanannya di tengah berbagai tantangan dan situasi yang
berubah-ubah, pesan ini tidak hanya sekedar kata-kata [verbal] tetapi
di buktikan dan nyata dalam gerak hidup jemaat sehari-hari. Dalam
ayat 7, kalimat: "Dan pengharapan kami akan kamu adalah teguh…" yang
berarti Paulus dengan tegas menekankan bahwa walaupun dirinya di
perhadapkan dengan berbagai penderitaan karena Injil, namun tak
sedikitpun hati rohaninya berniat meninggalkan pelayanannya di tengah
jemaat, di balik itu ada persoalan serius yaitu pengharapan Paulus
akan jemaat Korintus adalah teguh, tidak bimbang, tidak ragu, tidak,
goyah tidak ada kata menyerah, tidak sesuatu hal yang mengerikan, atau
menakutkan. Padahal di manapun Paulus menatalayani jemaat, dia selalu
di perhadapkan dengan berbagai tantangan, bahkan harus menderita di
penjara. Tapi, Paulus tidak menggantungkan masa depan pelayanannya
kepada "nasib buruk" dan "nasib baik" semata-mata! Bahkan juga tidak
Cuma menggantungkan diri kepada pertolongan jemaat.
Dilihat dari: Pemikiran Kristen tentang Pribadi dan
pemikiran-pemikiran tentang hubungan-hubungan sosial yang mendasar
Tiap pemikiran tentang persekutuan berhubungan dengan pemikiran
tentang pribadi. Pertanyaan apakah yang membentuk perekutuan hanya
dapat dijawab dengan bertanya apakah yang membentuk pribadi. Oleh
karena tujuan penyelidikan kita adalah untk mengerti satu persekutuan
yang khusus, yaitu Sanctorum Communio, maka kita harus meyelidiki
pemikirannya yang khas tentang pribadi. Secara kongkret ini berarti
bahwa kita harus menyelidiki pemikiran Kristen tentang pribadi. Kalau
kiya mengerti tentang Allah, pemikiran-pemikiran tentang pribadi,
persekutuan dan Allah pada hakikatnya saling berhubungan dengan tak
bisa dilepaskan. Dalam hubungan dengan pribadi-pribadi dan persekutuan
perseorangan pemikiran tentang Allah terbentuk. Sebenarnya sifat
pemikiran sifat Kristen tentang persekutuan dapat dicapai melalui
pemikiran tentang Allah dan juga melalui pemikiran tentang pribadi.
Kalau kita memilih yang terakhir sebagai titik permulaan, kita tidak
bisa mendapat pandangan yang mendasar dengan baik, pun tentang
persekutuan tidak, tanpa selalu menunjuk pada pemikiran tentang Allah.
Pemikiran Kristen tentang pribadi dapat dikatakan sebagai menentukan
dan sudah ada sebelum pemikiran Kristen tentang persekutuan. Kalau
diungkapkan dengan kata-kata teologis berarti: bukan pemikiran tentang
pribadi seperti dilakukan oleh manusia pertama (Mensh), melainkan
seperti dilakukan manusia setelah kejatuhan, dan ini berarti manusi
bukan manusia waktu masih hidup dalam hubungan yang utuh dengan Allah
dan sesamanya, melainkan manusia yang telah mengetahui yang baik dan
yang jahat. Pemikiran ini tentu saja dasarnya adalah sifat rohani,
sifat struktural dan individual manusia. Dalam pemikiran ini,
pemikiran Idealisme harus diatasi oeh konsep yang memelihara pemikiran
individual kongkret dari pribadi yang akhirnya dikehendaki Allah.
Dari pemikiran kita tentang waktu muncul gagasan yang sama sekali
tidak berarti bagi seorang idealis: pribadi selalu timbul dan hilang
dalam waktu. Ia tidak ada tanpa waktu, ia adalah selalu dinamis dan
tidak statis, ia hanya ada kalau seseorang bertanggung jawab moral; ia
selalu diciptakan kembali dalam perubahan yang terus-menerus yang
pasti melekat pada semua hidup. Setiap pemikiran lain merusak kekayaan
hidup orang itu. Sebab yang menentukan bagi ketidakmampuan filsafat
idealis untuk mendapatkan pemikiran tentang pribadi adalah karena
filsafat itu tidak mempunyai pemikiran voluntaris tentang Allah dan
tidak mempunyai pemikiran yang dalam tentang dosa: bersama dengan
kekurangan-kekurangan ini adalah sikapnya terhadap masalah sejarah.
Pemikiran idealitis tentang pribadi tidak menunjuk pada adanya
kekurangan logis yang kenetulan, tetapi adalah melekat pada sistemnya.
Idealisme tidak mempunyai pemikiran tentang gerakan dialektis. Rasio
adalah abstrak dan metafisis, padahal gerakan etika adalah kongkret.
Selanjutnya: idealisme tidak mempunyai pengertiann tentang saat
pribadi diancam oleh tuntunan yang absolut. Seorang moralis yang
idealis apa yang seharusnya ia perbuat, dan malahan pada asasnya ia
selalu dapat melakukannya, justru karena ia seharusnya berbuat. Di
mana tempatnya bagi penderitaan hati nurani, bagi Angst yang tanpa
batas dalam menghadapi suatu penentuan?
Ia membawa kita dekat pada soal realitas, pada halangan yang
sungguh-sungguh dan oleh karena itu pada hubungan-hubungan sosial yang
mendasar. Inilah pengakuan Kirsten, bahwa pribadi sebagai pribadi yang
sadar barulah tercipta pada saat seseorang digerakkan, saat dia
dihadapkan dengan tanggungjawab, saat dia dengan segala nafsunya
terlibat dalam pergumulan moral dan dihadapkan dengan tuntunan yang
melandanya. Pribadi yang berada secara kongkret timbul dari situasi
yang kongkret. Di sini juga seperti dalam idealisme, perjumpaannya
sama sekali dalam rasio (Geist). Tetapi rasio mempunya arti yang
berbeda dalam tiap kejadian. Bagi filsafat Kristen, pribadi orang
terjadi hanya berhubungan dengan pribadi ilahi yang lebih tinggi dari
padanya, yang menentang dan menaklukan dia. Otonomi rasio dalam arti
orang idealis individualistis adalah kristiani, karena itumencakup
bahwa rasio manudia penuh dengan nilai absolut yang hanya dimiliki
rasio ilahi. Pribadi kristen semata-mata timbul dari perbedaan mutlak
antara Allah dan manusia; hanya dari pengalamannya dengan halangan itu
diketahui semakin dalam pribadi masuk ke dalam pertanggung jawab.
Pribadi kristen bukan yang mempunyai nilai yang tertinggi, tetapi
pemikiran tentang nilai harus dihubungkan dengan eksistensinya sebagai
pribadi, artinya dengan hal bahwa ia adalah makhluk.
Lebih-lebih. Orang-perseorangan hanya berada karena "orang Lain".
Orang-perseorangan tidak sendirian. Agar orang-perseorangan ada
"orang-orang lain" juga harus ada. Tetapi siapakah"orang lain" itu?
Kalau saya menyebut orang-perseorang Akau yang kongkret, maka orang
lain adalah Engkau yang kongkret. Tetapi status filsafat apakah
dimiliki "engkau'? Pertama, tiap Engkau agaknya mengandaikan suatu
Aku, yang adalah imanen dalam Engkau dan tanpe itu suatu Engkau tidak
bisa dibedakan dari benda-benda. Jadi kelihatannya Engkau sama dengan
"Aku yang lain". Tetapi ini hanya tepat dalam batasan-batasan
tertentu, Kecuali batasan etimologi ada batasan selanjutnya, karena
pengetahuan etis dan sosial. Orang ain mungkin dialami senagai Aku,
yatu dalam arti Akua yang telah menjadi Aku karena tuntutan Engkau.
Dalam suasana realitas moral bentuk Engkau secarafundamental berbeda
dari bentuk Aku.
Kita mengenal Allah sebagai yang mutlak, artinya juga sebagai kehendak
aktif yang mengenal diri dan spontan. Ini secara formal dan metafisis
mengatakan bahwa hakikat pribadi Allah adalah semata-mata roh, yang
gambarnya ada pada tiap orang sebagai sisa dari keserupaan dengan
Allah. Jadi tidak bertentangan dengan pemikiran tentang Allah bahwa ia
dapat kita alami sebagai Engkau, jadi sebagai halangan etis.
Selanjutnya pengalaman tentang Allah sebagai engkau a priori tidak
mengakibatkan sesuatu apapun terhadap Aku- Nya, entah dalam hal yang
membatasi perseorangan-Nya ataupun dalam hal yang ia disapa secara
etis. Kalau Allah itu suatu Engkau bagi kita – artinya: kehendak yang
aktif berhadapan dengan kita- ini tidak berarti bahwa kita adalah
halangan bagi Allah. Ini mempunyai pengenaannyabagi pemikiran tentang
Allah. Allah adalah Engkau yang tidak dapat dimengerti dan pribadi-Nya
yang metafisik dimengerti sebagai kesadaran mutlak dan aktivitas pada
diri- Nya, tidak mempengaruhi apa yang telah kita katakan tentang
berada-Nya sebagai Aku.
Persoalannya adalah hubungan antara pribadi, Allahdan keadaan sosial.
Ku timbul hanya dengan Engkau: tanggung jawab mengikuti tuntutan.
"Engkau" tidak mengatakan apa-apa tentang beradanya sendiri, tetapi
hanya tentang tuntutannya. Tuntunan ini mutlak. Apakah artinya ini? Ia
menuntut segenap orang yang tidak mempunyai tuntutan itu. Tetapi ini
seolah-olah menjadikan seseorang menjadi pencipta dari pribadi moral
orang lain, dan ini adalah pikiran yang tak dapat diterima. Dapatkah
itu dihindari? Aktivitas Engkau dalam membentuk pribadi tidak
bergantung pada beradanya secara pribadi. Sekarang kita tambahkan
bahwa berada itu juga tidak tergantung pada kehendak Engkau menusia.
Tidak ada seorangpun dapat membuat orang lain menjadi aku, menjadikan
pribadi moral sadar akan tanggung jawabnya. Allah atau Roh Kudus
mendatangi Engkau yang kongkret. Hanya karena perbuatannya orang lain
menjadi Engkau bagiku dan dari ini Aku timbul. Dengan kata lain, tiap
Engkau manusia adalah gambar dari Engkau ilahi. Sifat Engkau
sebenarnya bentuk pengalaman yang akan ilahi; tiap Engkau manusia
mempunyai sifatnya dari Engkau ilahi. Ini tidak berarti bahwa ini
bukan Engkau, tetapi sifat yang teralirkan dari Allah. Tetapi Engkau
ilahi menciptakan Engkau manusia. Dan karena Allah menghendakinya dan
membuatnya, maka Engkau manusia adalah real, nyata,mutlak dan suci
seperti Engkau ilahi. Disini kita mungkin berkata bahwa manusia adalah
gambar Allah karena akibatnya terhadap orang lain. Tetapi karena kalau
satu orang menjadi Engkau bagi orang lain pada dasarnya tidak mengubah
apapun tentang Engkau sebagai pribadi, maka bukan pribadinya sebagai
Aku yang suci, melainkan Engkau Allah yang nampak dalam Engkau yang
kongkret dari hidup sosial. Orang lain adalah Engkau hanya sepanjang
Allah membuatnya demikian. Hanya dalam Allah tuntutan orang lain
mengena; tetapi justru karena inilah hal itu merupakan tuntutan orang
lain.
Kesimpulannya: pribadi dalam hidupnya yang kongkret, utuh dan khas itu
dikehendaki Allah sebagai kesatuan yang pasti. Oleh karena itu
hubungan-hubungan sosial harus dimengerti bahwa itu berdiri
antar-pribadi. Pribadi tidak bisa dikalahkan oleh roh yang bukan
pribadi, atau oleh "kesatuan" apa pun yang mungkin meniadakan
keanekaragaman pribadi. Kategori sosial yang menjadi dasar adalah
hubungan Aku-Engkau. Engkau orang lain adalah Engkau ilahi. Jadi jalan
ke orang lain adalah juga jalan ke Engkau ilahi, jalan pengenalan dan
penolakan. Pada "saatnya" individu berkali-kali menjadi pribadi karena
"orang lain". Orang lain memberikan kita persoalan kita persoalan yang
sama tentang pengenalan seperti Allah sendiri juga demikian. Hubungan
saya nyata dengan orang lain berdasarkan hubungan saya dengan Allah.
Tetapi seperti saya pertama-tama mengenal "Aku" Allah dalam penyataan
kasih-Nya, demikian juga orang lain : di sini pemikiran tentang
gereja mendapat tempat. Maka akan menjadi terang bahwa pribadi Kristen
mancapai yang benar kalau Allah tidak berhadapan dengan dia sebagai
engkau, tetapi "masuk ke dalamnya" sebagai "Aku".
KESIMPULAN
Sejarah menunjukkan bahwa proses Pekabaran Injil di tengah dunia
selalu di tandai dengan tantangan, hambatan dan masa-masa sulit.
Demikian juga saat ini umat Kristen tidak luput dari berbagai
persoalan, hambatan dan tantangan dalam perjumpaan dengan dunia
sekitarnya, antara lain: penutupan dan pembakaran gereja, sulitnya
mendirikan serta mengurus ijin Pembangunan Rumah Ibadah, munculnya
berbagai konflik internal, pro-kontra di tengah jemaat yang menjurus
pada perpecahan gereja. Dengan kata lain, persekutuan orang-orang
percaya kepada Allah tak pernah luput dari masalah. Jika kita cermati
di tengah kehidupan berbangsa yang pluralis ini, ada banyak fenomena
sosial, ekonomi dan politik yang dengan sendirinya mempengaruhi
pertumbuhan iman dan teologi gereja.
Paulus melihat bahwa hidup, karya dan teologinya mutlak hanya untuk
menatalayani jemaat. Perselisihan, perpecahan, pro-kontra di tengah
jemaat bukan sesuatu yang harus di takutkan, melainkan bagi Paulus hal
itu harus di cari akar masalahnya dengan cepat, tepat dan transparan
agar tidak mengganggu pertumbuhan iman jemaat. Paulus memberi petunjuk
mengenai bagaimana cara hidup jemaat yang benar sebagai anak-anak
Allah, antara lain: hidup saling menguatkan, hidup saling menopang,
saling menghibur sesama jemaat. Penghiburan dari Allah menguatkan dan
memampukan Paulus untuk tetap bertahan dan kuat, tidak goyah untuk
menatalayani jemaat, memberitakan Kabar Baik keseluruh tempat tanpa di
batasi waktu.
(Sumber dari buku: Saksi Bagi Kristus, Oleh Jhon de Gruchy, ditambah
dengan pemikiran pribadi).
Blog ini berisi materi-materi yang berhubungan dengan mata kuliah Misiologi, Filsafat, Liturgika, Sosiologi, Etika Kristen, Teologi Kontekstual, Misi Holistik. Materi dalam blog ini didapat dari berbagai sumber dan juga tugas-tugas penulis selama kuliah serta beberapa tugas mahasiswa yang penulis ajar. Jika mengambil data dari blog ini, mohon mencantumkan blog ini sebagai sumber, dengan demikian kita belajar menghargai karya orang lain. Semoga tulisan dalam blog ini menjadi berkat....
22 September 2013
CONTOH PROPOSAL TESIS
KEEFEKTIFAN PELAYANAN YAYASAN MITRA
PENGEMBANGAN DESA DALAM MEMBERDAYAKAN
JEMAAT PEDESAAN
( Studi Kasus di Desa Sindangjaya
dan desa Kertajaya)
Sebaiknya diberi
periodesasi dari tahun berapa sampai tahun berapa. Coba pertimbangkan apakah
kata KEEFEKTIFAN perlu dimasukkan? Kalau saran saya, ditiadakan saja, karena
sudah tertampung dalam: Studi Kasus....
TESIS
Diajukan
Untuk Melengkapi Persyaratan dan Memenuhi
Tugas
Akademik untuk Mencapai Gelar
MAGISTER
OF TEOLOGI (M.Th)
Dalam
Bidang Misi dan Penginjilan
Oleh:
ADRIANUS
09 21 5763
09 21 5763
SEKOLAH
TINGGI ALKITAB TIRANUS
BANDUNG
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
Bab
pendahuluan ini membahas latar belakang masalah, rumusan masalah, pertanyaan
penelitian, tujuan penelitian, tesis, ruang lingkup penelitian, metode dan
prosedur penelitian, manfaat penelitian dan penulisan, penjelasan istilah,
sistematika penulisan.
Latar
Belakang Masalah
Secara umum lembaga swadaya masyarakat
(LSM) dapat diartikan sebagai suatu organisasi yang didirikan oleh perorangan
atau sekelompok orang yang secara sukarela memberikan pelayanan kepada
masyarakat umum tanpa bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatannya.
Keberadaan LSM yang beroperasi di Indonesia saat ini diperkirakan lebih dari
10.000, baik ditingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota, di mana dari tahun
ke tahun jumlah ini semakin bertambah[1].
Bergulirnya era reformasi turut mempengaruhi pertumbuhan LSM.Jika pada tahun
1997 ditaksir ada sekitar 4000-7000 LMS, maka pada tahun 2002 jumlah LSM
menurut Departemen Dalam Negeri menjadi sekitar 13.500 LSM[2].Dengan
dimulainya era kebebasan, organisasi-organisasi social politik termasuk LSM,
baik yang berasaskan Kristen maupun non Kristen tumbuh dengan subur.Menurut
Budi Setyono, LSM merupakan lembaga/organisasi non partisan yang berbasis pada
gerakan moral (moral force) yang memiliki peran penting dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan politik. LSM dipandang mempunyai peran
signifikan dalam proses demokratisasi. Jenis organisasi ini diyakini memiliki
fungsi dan karakteristik khusus dan berbeda dengan organisasi pada sektor
politik-pemerintah maupun swasta (private sector), sehingga mampu
menjalankan tugas tertentu yang tidak dapat dilaksanakan oleh organisasi pada
dua sektor tersebut[3].
Berbeda dengan organisasi politik yang
berorientasi kekuasaan dan swasta yang berorientasi komersial, secara
konsepsional, LSM memiliki karakteristik yang bercirikan: nonpartisan, tidak
mencari keuntungan ekonomi, bersifat sukarela, dan bersendi pada gerakan moral.
Ciri-ciri ini menjadikan LSM dapat bergerak secara luwes tanpa dibatasi oleh
ikatan-ikatan motif politik dan ekonomi.Ciri-ciri LSM tersebut juga membuat LSM
dapat menyuarakan aspirasi dan melayani kepentingan masyarakat yang tidak
begitu diperhatikan oleh sector politik dan swasta.
Berawal dari kondisi bangsa yang memprihatinkan, seharusnya
LSM dapat mengambil peran untuk memperbaiki kondisi yang ada. Meskipun dari
sisi kuantitatif jumlah LSM di Indonesia relative besar, namun berdasarkan
pengamatan dilapangan belum tampak adanya kontribusi yang signifikan dari
usaha-usaha yang telah dilakukan oleh LSM.Berbagai problematika yang melibatkan
LSM-LSM di Indonesia ini bisa saja memunculkan degradasi kepercayaan publik,
karena sesungguhnya banyak sekali tantangan yang harus dihadapi oleh LSM baik
internal maupun eksternal.Dari sisi internal misalnya inefesiensi manajemen,
pertikaian antar aktivis, transparansi dan sebagainya. Selain itu masalah
sumber dana merupakan tantangan utama yang harus dihadapi LSM, dan sudah
terlihat ditingkat nasional bahwa ada LSM yang memilih merubah arah ideologis
sesuai dengan penyandang dananya. Profesionalisme LSM juga patut dipertanyakan
karena sudah bukan rahasia lagi bahwa banyak LSM yang tidak memiliki kantor dan
sekretariat tetap yang jelas. Belum lagi standar gaji yang minimalis, sehingga
banyak kalangan LSM yang memilih berkompromi dengan pemerintah ketika peluang
politik tersedia.Mereka umumnya membuat agenda-agenda yang diklaim
merepresentasikan masyarakat, namun ketika muncul godaan dari pembuat kebijakan
mereka dapat dengan mudah meninggalkan masyarakat.
Uraian di atas, disimpan utnuk bahan pembahasan di Bab 2 saja.
Sebaiknya latar belakang masalah dimulai di sini, namun harus
focus pada Yayasan yang hendak diteliti. Misalnya, menurut pra-penelitian,
masalah-masalah apa nyang terjadi di yayasan tersebut. Contoh, tata bkelola
organisasi, keuangan, dll. Hal ini harus
bertolak bdari pengatakan, penelitian terhadap Anggaran dasar dan Anggaran
Rumah tangga. Dan juga dampak dari tata kelola yang tidak sesuai AD/ART.
Di
tengah kondisi bangsa yang sedang mengalami krisis multidimensional, patutlah
bersyukur dengan kehadiran lembaga-lembaga pelayanan kristiani, setidaknya turut
memberikan sumbangsih dalam mewujudkan bangsa Indonesia menuju masyarakat yang
adil dan sejahtera.Namun tidak jauh berbeda dengan lembaga-lembaga non-Kristen,
berdasarkan pengamatan dilapangan belum tampak adanya kontribusi yang
signifikan dari usaha-usaha yang telah dilakukan. Beberapa
penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan LSM Kristiani yang penulis amati dan
temui dilapangan.Misalnya, ada lembaga kristiani yang mencari dana dengan
tujuan membangun tempat rehabilitasi, namun setelah dananya ada, dana tersebut
digunakan untuk membangun rumah pribadi. Ada yang mendapat sumbangan dari
pemerintah, tetapi dana itu digunakan untuk kepentingan pribadi. Ada lembaga
yang aktif mencari daerah-daerah yang miskin untuk dijadikan objek pencariandana,
tetapi dana yang diperoleh tidak pernah menyentuh daerah tersebut. Ada lembaga
yang pelayananya telah dicemarkan oleh pola dan prinsip-prinsip dunia, pengaruh
dunia lebih menguasai dibanding pengaruh rohani. Akibatnya muncul sikap saling
menjatuhkan demi jabatan, yang pada akhirnya
membawa pada perselisihan, perpecahan dan kehancuran. Muncul pertanyaan,
mengapa?Ada banyak hal yang dapat menjadi penyebabnya.Apabila ditinjau dari segi teologis, apakah
pendiriannya sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab? Dan jika ditinjau dari segi
ekonomi apakah sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan benar untuk mencapai
tujuannya yaitu meningkatkan perekonomian masyarakat atau apakah kegiatannya
membawa pengaruh terhadap tingkat perekonomian masyarakat.Kondisi ini sejalan
dengan istilah yang diangkat oleh Indra J. Piliang yang menggambarkan kondisi
LSM yang carut-marut, sehingga diperlukan adanya evaluasi atas kinerja LSM[4].Penelitian
ini dimaksudkan untuk mengetahui keefektifan pelayanan Yayasan Mitra Pengembangan Desa sebagai salah
satu LSM yang bergerak dalam memberdayakan
jemaat pedesaan, khususnya di desa
Sindangjaya dan Desa Kertajaya Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur.
Sekali lagi, sebaiknya
lebih focus kepada hal-hal yang diduga menimbulkan masalah, disertai
contoh konkrit.
Rumusan
Masalah
Setelah
memperhatikan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan masalah pokok
dalam penelitian ini yaitu: Apakah pelayanan yang dilakukan oleh Yayasan Mitra
Pengembangan Desa sudah efektif (ada efeknya) baik secara teologis maupun
secara ekonomis. Berarti latar belakang masalah
harus bertolak dari hal-hal yang dianggap sebagai penyebab ketidakefektifan Yayasan.
Fakto penyebab, belum terungkap/belum dipaparkan dalam latar belakang masalah.
Pertanyaan
Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah, penulis membagi dalam tiga pertanyaan penelitian, yaitu:
1. Bagaimana
prinsip-prinsip pelayanan yang Alkitabiah?
2.
Bagaimanakah kondisi jemaat
yang ada di desa Sindangjaya dan desa Kertajaya di tinjau dari segi Teologis
dan ekonomis? Tidak tampak di judul maupun dalam
penjelasan latar belakang masalah.
3. Bagaimana
UpayaYayasan Mitra Pengembangan Desa dalam melakukan pelayanan pemberdayaan
jemaat pedesaan dari sudut teologis dan ekonomis?
4.
Sejauh mana keefektifan pelayanan Yayasan
Mitra Pengembangan Desa dalam melakukan pemberdayaan jemaat pedesaan ditinjau
dari sudut teologis dan ekonomis?
Perlu ada pertanyaan tentang apa yang sudah dikerjakan oleh
Yayasan mulai tahun ….sampai tahun….. Tujuannya untuk tahu apakah efektif atau
tidak. Juga harus ada alat ukur tentang efekti atau tidak efektif. Apakah alat
ukurnya adalah program? AD/ART? Atau….?
Tujuan
Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
pertama, untuk menjelaskan prinsip-prinsip pelayanan yang alkitabiah. Kedua,
untuk menjelaskan kondisi jemaat yang ada di desa Sindangjaya dan Kertajaya.Ketiga,
untuk menjelaskan upaya yang dilakuakan Yayasan Mitra Pengembangan Desa dalam
dalam melakukan pemberdayaan jemaat pedesaan. Keempat,untukmemaparkan tingkat
keefektifan pelayanan Yayasan Mitra Pengembangan Desa ditinjau dari sudut
pandang teologis maupun ekonomis.
Karena ada pertanyaan mengenai jemaat, maka perlu dijelaskan dalam
latar belakang masalah tentang jemaat. Sebab judul tesis hanya mengacu kepada
Yayasan.
Tesis
Pelayanan Yayasan Mitra Pengembangan
Desa akanefektif apabila di dibangun secara holistic (secara utuh baik dalam
hal teologis maupun ekonomis).
Ruang
Lingkup Penelitian
Melihat cukup banyak dan luasnya permasalahan
yang berkait pelayanan pedesaan
yang dilakukan oleh Yayasan Mitra Pengembangan Desa, maka
di dalam penelitian ini penulis akan membatasinya dalam hal pelayanan yang dilakukan Yayasan Mitra Pengembangan Desa melalui Sekolah
Tinggi Teologi Studi Alkitab untuk Pengembangan Pedesaan Indonesia STT SAPPI), di desa Sidangjaya dan Desa Kertajaya
Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur.
Metode
dan Prosedur Penelitian
Apa jenis penelitiannya? Kualitatif atau kuantitatif? Seharusnya
kualitatif. Dari sinilah metode bisa dipertimbangkan. Sebab metode adalah
kendaraan yg akan ditumpangi untuk memperoleh data. Harus pilih kendaraan yang
tepat, sesuai jenis penelitian. Metode yang penulis gunakan dalam penelitian
ini adalah metode deskriptif (descriptive
research) yaitu penelitian untuk mendeskripsikan suatu situasi atau area
populasi tertentu yang bersifat faktual secara sistematis dan akurat.Tujuan
penelitian deskriptif adalah mendeskripsikan seperangkat peristiwa atau kondisi
populasi saat ini (Danim, 2005:41).Penelitian ini menggunakan dua sumber yaitu
perpustakaan dan hasil penelitian lapangan.Perpustakaaan yaitu bahan-bahan
literatur, baik berupa buku-buku teologia, dokumen-dokumen lembaga pelayanan
kristiani, maupun buku-buku umum.
Metode pengumpulan data dalam
penelitian ini adalah melalui wawancara dan angket untuk mengetahuiprinsip-prinsip yang
diterapkan didalam pelayanan lembaga kristiani. Teknik wawancara yang digunakan
dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (in-dept interview) yaitu proses memperoleh keterangan untuk tujuan
penelitian dengan caratanya jawab sambil bertatap muka dengan orang yang
diwawancarai.Wawancara akan menolong untuk mendapatkan informasi yang jelas dan
lengkap langsung dari sumbernya, dan untuk memperjelas informasi atau data yang
masih “kabur.”Selain wawancara data juga diperoleh dari dokumentasi yaitu
pengumpulan data dengan cara meminta data yang sudah ada sebelumnya (Djarwanto,
1990:23).Angket atau kuisioner adalah seperangkat penyataan atau pertanyaan
tertulis dalam lembaran kertas atau sejenisnya dan disampaikan kepada responden
penelitian untuk diisi olehnya tanpa intervensidari peneliti atau pihak lain
(Danim, 2005:138).Pengumpulan data dengan angket yaitu memberikan instrument
angket kepada responden. Instrument angket meliputi pertanyaan tentang standard
an prinsip-prinsip pelayanan yang dilakukan oleh lembaga pelayanan kristiani
baik dari sudut pandang teologis maupun ekonomis.
Untuk menganalisis permasalahan
dalam penelitian ini, digunakan metode deskriptif kualitatif yaitu hasil
penelitian beserta analisisnya diuraikan dalam suatu tulisan ilmiah yang
berbentuk narasi, kemudian dari analisa yang telah dilakukan diambil suatu
kesimpulan.
Manfaat
Penelitian dan Penulisan
Ada dua
manfaat, yakni manfaat teoritis dan manfaat praktis. Teoritis maksudnya
bermanfaat bagi bbidang misi. Sedangkan praktis mengacu kepada manfaat untuk
pelayanan dan untuk penulis sendiri.
Harapan penulis
penelitian ini akan bermanfaat bagi: (1) penulis sendiri, penelitian ini akan
menambah wawasan dan juga menolong untuk memahamiprinsip-prinsip pelayanan
lembaga kristiani yang membawa pengaruh. (2) Untuk menemukan prinsip-prinsip
pelaksanaan lembaga pelayanan kristiani,
dan memberi jawaban terhadap prinsip Alkitabih dalam membangun sebuah lembaga
pelayanan. (3) Penelitian ini akan menambah karya ilmiah bagi jurusan misi dan
penginjilan yang akan berguna bagi pembaca yang akan meneliti hal-hal yang
berhubungan dengan pelayanan yang dilakukan oleh lembaga kristiani. (4)
Penelitian ini diharapkan akan bermanfaat untuk membuka wacana penelitian lebih
lanjut terutama kajian tentang Lembaga Swadaya Masyarakat secara umum dan
khususnya LSM yang bergerak dalam pelayanan pedesaan, dalam mengkaji strategi
lebih lanjut guna mewujudkan masyarakat yang lebih baik dalam konteks masyarakat pedesaan.
Penjelasan
Istilah
Keefektifanberasal
dari kata dasar efektif yang artinya ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya,
kesannya), (KBBI, 2003:595).Jadi kefektifan adalah keadaan yang
berpengaruh.Pelayanan adalah perihal atau cara melayani. Lembaga adalah badan
(organisasi) yg tujuannya melakukan suatu penyelidikan keilmuan atau melakukan
suatu usaha.Lembaga kristiani adalah badan atau organisasi yang memiliki tujuan
untuk melakukan suatu usaha yang bersifat atau berciri Kristen.Teologis adalah
berhubungan dengan teologi; berdasar pada teologi, berdasarkan pada Kitab Suci.Ekonomis
adalah pengaruh suatu penyelenggaraan kegiatan
terhadap perekonomian;
Penjelasan istilah
maksudnya menjelaskan makna khusus dari istilah-istilah yang digunakan dalam
judul tesis. Jika istilah yang digunakan tidak ada makna khusus, maka tidak
perlu ada penjelasan istilah. Dengan kata lain, penjelasan istilah tidak sama
dengan pembuatan kamus mini. Penjelasan istilah berkenaan dengan maksud penulis
dalam menggunakan istilah-istilah pada judul tesis, atau istilah yang menjadi
kata kunci dalam tesis.
Sistematika Penulisan
Sistematika sifatnya sementara.
Nanti kalau tesis sudah rampaung, maka dengan sendirinya sistematika baku dapat
dibuat. Artinya yang ada ini sifatnya sementara agar menjadi penduan.
Tulisan ini akan disusun dalam sistematika sebagai berikut:
I.
Bab I Pendahuluan. Dalam bagian
ini penulis membahas tentang latar belakang pemilihan judul, perumusan masalah,
tujuan penulisan, pembatasan masalah, dan sistematika penulisan.
II.
Bab II Membahas tentang
prinsip-prinsip pelayanan yang Alkitabiah.
III.
Bab III Membahas kondisi jemaat di desa Sindangjaya dan desa
Kertajaya dan upaya yang dilakukan Yayasan Mitra Pengembangan Desa dalam memberdayakan
jemaat pedesaan di tinjau dari sudut
teologis maupun ekonomis.
IV.
Bab IV Menganalisa pelayanan Yayasan Mitra Pengembangan Desa (secara
Teologis dan Ekonomis)
V.
Bab V Kesimpulan dan Saran (Teologis dan Ekonomis)
Demikianlah catatan saya. Harap diperbaiki, dipertajam latar
belakang masalahnya.
Tolong baca buku-buku penelitian kualitatif, misalnya bukunya
Prof. Sugoyono, Moleong dll. Baca juga buku2 Gorys Keraf: Komposisi, Arumentasi
dan Narasi, Gaya dan Diksi. Tiga buku ini menolong dalam membuat paragraph, dan
ide-ide yang logis dan sistemati.
Selamat berjuang. Tuhan yesus memberkati.
Saya mohon maaf, karena kesibukan mengajar Medio sehingga
terlambat mengembalikannya. Terima kasih
atas pengertiannya.
Selamat melayani, Tuhan yesus memberkati.
Shalom,
[1]Muhammad AS
Hikam, Demokrasi dan Civil Society, LP3ES, Jakarta, 1999, Hal. 6.
[2]Kompas 13 Januari
2003 dalam NGO ditengah Kepungan Kepentingan Global,
http://lafadl.wordpress.com/2006/07/15/ngo-di-tengah-kepungan-kepentingan-global/.
[3]Budi Setiyono,
Pengawasan Pemilu oleh LSM, Suara merdeka, 15 oktober 2003
[4]Indra J. Piliang,
Otokritik Terhadap LSM, Suara Pembaruan, 15 September 2006
REVITALISASI NILAI-NILAI BUDAYA BETAWI | WINDY SUAWAH | BANDUNG
Kebudayaan Betawi merupakan kelompok budaya yang has yang secara
filososfis merupakan kausa materialis bangsa Indonesia. Kebudayaan
Betawi dapat dikatakan sebagai potret miniatur bangsa Indonesia. Tidak
berlebihan kiranya bila mana dikatakan percampuran antar suku proses
akulturasi kebudayaan, penduduk asli Batavia dan daerah-daerah
sekitarnya merupakan prototipe bangsa Indonesia dewasa ini.
Percampuran antara suku berlangsung kurang lebih dua abad lamanya.
Dari percampuran antar suku tersebut terbentuklah suatu tipe
masyarakat baru yang kemudian dikenal sebagai kaum Betawi.
Percampuran antar suku tersebut selalu disertai dengan proses
akulturasi kebudayaan. Akibatnya, munculah kebudayaan campuran yang
kadangg kala beberapa unsurnya menunjukan daerah asalnya. Misalnya
bahasa Indonesia dialoknya Betawi. Dialek betawi merupakan bahasa
melayu yang dipengaruhi unsur-unsur bahasa Sunda, Jawa, Bali, Arab,
Cina, Portugis, dan Belanda. Kebudayaan betawi tidak bisa dilepaskan
dari subyek penukung kebudayaan tersebut, yaitu orang Betawi.
Suku bangsa lain, misalnya suku Batak, umumnya memiliki sebutan Batak
asli. Untuk menyebutkan seorang yang bukan merupakan hasil percampuran
dua suku. Bagi orang Betawi sebutan "asli" tidaklah berlaku. Sulit
mengindentifikasikan kaslian suku Betawi. Mereka merupakan hasil
percampuran darah atau proses asimilasi antara penduduk pribumi daerah
Jakarta dan suku-suku bangsa pendatang, misalnya orang Sunda, Banten,
Jawa, Bugis, dan Madura. Kemudian terjadi juga proses asimilasi antara
pernduduk pribumi dengan pendatang dari bangsa asing seperti bangsa
Cina, Arap, India, Belanda, Portugis, dan India.
Masyarakat Betawi secara turun temurun mengembangkan "wolklor"
kemudian secara filosofi merupakan budaya Betawi. Ada tiga jenis
woklor yang dimiliki masyarakat betawi, yaitu wiklor lisan, dan tidak
lisan.
Pertama woklor lisan misalnya bahasa rakyat betawi, yang meliputi
logat, julukan, dan sindiran : ungkapan tradisional Betawi, meliputi
peribahasa dan pepatah : puisi rakyat Betawi, meliputi pantun dan
syair : nyanyian rakyat Betawi misalnya jali-jali, lenggang kangkung,
dan surilang : cerita prosa rakyat betawi meliputi mite, legenda, dan
dongeng misalnya cerita prosa rakyat Nyai Dasima, Sipitung, Mat Item
dan siJampang. Cerita prosa meliputi cerita asal mula nama tempat,
sepertiasal mula nama Rawa Bangke "Matraman Tanjung Priuk, Pasar
Rumput, Marunda dan lain-lain sebagainya.
Kedua woklor setengah lisan, meliputi kepercayaan rakyat Betawi,
permainan rakyat dan hiburan rakyat Betawi, tari Betawi, adat
kebiasaan rakyat Betawi upacara-upacara tradisi rakyat Betawi
tradisional Betawi serta pesta-pesta rakyat Betawi. Drama rakyat
Betawi misalnya Lenong, Topeng, dan tari cokek.
Ketiga woklor tidak lisan Betawi meliputi, arsitektur rakyat Betawi,
seni kerajinan tangan Betawi, pakaian serat periasan adat Betawi,
makanan dan minuman rakyat betawi, alat-alat musik Betawi peralatan
dan senjata orang Betawi, serta mainan Betawi.
Kami berpendapat :
Hal-hal yang mungkin dapat terjadi :
- Dalam rangka revitalisasi nilai-nilai filosofis budaya Betawi
kenyataan yang kita hadapi saat ini adalah pengaruh budaya moderen
sebagai tuntutan modernisasi kota metropolitan. Hal ini merupakan
konsekwensi dari perkembangan kebudayaan yang mencapai tahapan
fungsional. Akibat lokal genius budaya Betawi pun tidak lagi
menampakan pengaruh budayanya semakin terdesak. Kepunahan budaya bisa
saja terjadi.
- Demikian juga wujud kebudayaan sistim sosial juga akan mengalami
nasib yang sama mengingat urbanisasi secara besar-besaran ke Jakarta,
akibatnya, jika masyarakat Betawi tidak mampu menguasai kapital mereka
juga akan mengalami tekanan dan kepunahan.
Yang dapat dipertanyakan juga :
- Mengapa harus kebudayaan Betawi yang merupakan potret miniatur
bangsa Indonesia? Harus menyadari bahwa letak yang sangat strategis di
Ibu kota negara yang menjadi panutan dan contoh.
- Ada kekuatiran dengan berkaitan adanya merdenisasi. Kalau budaya
lokal mempertahankan dengan baik adanya sosialisasi bagi
generasi-genarasi maka pasati tetap eksis.
- Akan menjadi pelajaran dan pengalaman kiranya bagi budaya-budaya
yang terdapat di daerah-daerah yang lainnya untuk melestarikan
kealamiahan sehingga keaslian budaya tetap terjaga.
- Adanya perbedaan budaya yang ada dapat terciptanya kebersamaan dan
persatuan bagi masyarakat Indonesia, karna berbeda-beda tetapi satu
(Bhineka Tunggal Ika).
Kutipan :
Buku sosiologi Kls SMA . oleh Kun Maryati – Juju Suryawati. PT Gedora
Aksara Pratama
filososfis merupakan kausa materialis bangsa Indonesia. Kebudayaan
Betawi dapat dikatakan sebagai potret miniatur bangsa Indonesia. Tidak
berlebihan kiranya bila mana dikatakan percampuran antar suku proses
akulturasi kebudayaan, penduduk asli Batavia dan daerah-daerah
sekitarnya merupakan prototipe bangsa Indonesia dewasa ini.
Percampuran antara suku berlangsung kurang lebih dua abad lamanya.
Dari percampuran antar suku tersebut terbentuklah suatu tipe
masyarakat baru yang kemudian dikenal sebagai kaum Betawi.
Percampuran antar suku tersebut selalu disertai dengan proses
akulturasi kebudayaan. Akibatnya, munculah kebudayaan campuran yang
kadangg kala beberapa unsurnya menunjukan daerah asalnya. Misalnya
bahasa Indonesia dialoknya Betawi. Dialek betawi merupakan bahasa
melayu yang dipengaruhi unsur-unsur bahasa Sunda, Jawa, Bali, Arab,
Cina, Portugis, dan Belanda. Kebudayaan betawi tidak bisa dilepaskan
dari subyek penukung kebudayaan tersebut, yaitu orang Betawi.
Suku bangsa lain, misalnya suku Batak, umumnya memiliki sebutan Batak
asli. Untuk menyebutkan seorang yang bukan merupakan hasil percampuran
dua suku. Bagi orang Betawi sebutan "asli" tidaklah berlaku. Sulit
mengindentifikasikan kaslian suku Betawi. Mereka merupakan hasil
percampuran darah atau proses asimilasi antara penduduk pribumi daerah
Jakarta dan suku-suku bangsa pendatang, misalnya orang Sunda, Banten,
Jawa, Bugis, dan Madura. Kemudian terjadi juga proses asimilasi antara
pernduduk pribumi dengan pendatang dari bangsa asing seperti bangsa
Cina, Arap, India, Belanda, Portugis, dan India.
Masyarakat Betawi secara turun temurun mengembangkan "wolklor"
kemudian secara filosofi merupakan budaya Betawi. Ada tiga jenis
woklor yang dimiliki masyarakat betawi, yaitu wiklor lisan, dan tidak
lisan.
Pertama woklor lisan misalnya bahasa rakyat betawi, yang meliputi
logat, julukan, dan sindiran : ungkapan tradisional Betawi, meliputi
peribahasa dan pepatah : puisi rakyat Betawi, meliputi pantun dan
syair : nyanyian rakyat Betawi misalnya jali-jali, lenggang kangkung,
dan surilang : cerita prosa rakyat betawi meliputi mite, legenda, dan
dongeng misalnya cerita prosa rakyat Nyai Dasima, Sipitung, Mat Item
dan siJampang. Cerita prosa meliputi cerita asal mula nama tempat,
sepertiasal mula nama Rawa Bangke "Matraman Tanjung Priuk, Pasar
Rumput, Marunda dan lain-lain sebagainya.
Kedua woklor setengah lisan, meliputi kepercayaan rakyat Betawi,
permainan rakyat dan hiburan rakyat Betawi, tari Betawi, adat
kebiasaan rakyat Betawi upacara-upacara tradisi rakyat Betawi
tradisional Betawi serta pesta-pesta rakyat Betawi. Drama rakyat
Betawi misalnya Lenong, Topeng, dan tari cokek.
Ketiga woklor tidak lisan Betawi meliputi, arsitektur rakyat Betawi,
seni kerajinan tangan Betawi, pakaian serat periasan adat Betawi,
makanan dan minuman rakyat betawi, alat-alat musik Betawi peralatan
dan senjata orang Betawi, serta mainan Betawi.
Kami berpendapat :
Hal-hal yang mungkin dapat terjadi :
- Dalam rangka revitalisasi nilai-nilai filosofis budaya Betawi
kenyataan yang kita hadapi saat ini adalah pengaruh budaya moderen
sebagai tuntutan modernisasi kota metropolitan. Hal ini merupakan
konsekwensi dari perkembangan kebudayaan yang mencapai tahapan
fungsional. Akibat lokal genius budaya Betawi pun tidak lagi
menampakan pengaruh budayanya semakin terdesak. Kepunahan budaya bisa
saja terjadi.
- Demikian juga wujud kebudayaan sistim sosial juga akan mengalami
nasib yang sama mengingat urbanisasi secara besar-besaran ke Jakarta,
akibatnya, jika masyarakat Betawi tidak mampu menguasai kapital mereka
juga akan mengalami tekanan dan kepunahan.
Yang dapat dipertanyakan juga :
- Mengapa harus kebudayaan Betawi yang merupakan potret miniatur
bangsa Indonesia? Harus menyadari bahwa letak yang sangat strategis di
Ibu kota negara yang menjadi panutan dan contoh.
- Ada kekuatiran dengan berkaitan adanya merdenisasi. Kalau budaya
lokal mempertahankan dengan baik adanya sosialisasi bagi
generasi-genarasi maka pasati tetap eksis.
- Akan menjadi pelajaran dan pengalaman kiranya bagi budaya-budaya
yang terdapat di daerah-daerah yang lainnya untuk melestarikan
kealamiahan sehingga keaslian budaya tetap terjaga.
- Adanya perbedaan budaya yang ada dapat terciptanya kebersamaan dan
persatuan bagi masyarakat Indonesia, karna berbeda-beda tetapi satu
(Bhineka Tunggal Ika).
Kutipan :
Buku sosiologi Kls SMA . oleh Kun Maryati – Juju Suryawati. PT Gedora
Aksara Pratama
Sosiologi | LIE YU LUNG | Purwakarta
Sosiologi adalah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara
mengendalikan proses untuk mengembangkan kepribadian individu agar
lebih baik.. Para ahli pendidikan dan ahli sosiologi telah berusaha
untuk memberikan definisi sosiologi , namun definisi-definisi itu
kebanyakan tidak terpakai oleh orang lapangan. Kesukaran untuk
memperoleh definisi yang mantap tentang sosiologi antara lain
disebabkan :
(a) Sukarnya membatasi bidang studi di antara bidang pendidikan dan
bidang sosiologi.
(b) Kurangnya penelitian dalam bidang ini, dan
(c) Belum nyatanya sumbangannya kepada pendidikan umumnya dan pendidikan
guru khususnya.
Jadi sosiologi adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek , baik itu
struktur, dinamika, masalah-masalah ataupun aspek-aspek lainnya
secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis.
Aktivitas masyarakat, merupakan sebuah proses sehingga dapat
dijadikan instrumen oleh individu untuk dapat berinteraksi secara
tepat di komunitas dan masyarakatnya. Pada sisi lain, sosiologi
memberikan penjelasan yang relevan dengan kondisi kekinian masyarakat,
sehingga setiap individu sebagai anggota masyarakat dapat menyesuaikan
diri dengan pertumbuhan dan perkembangan berbagai fenomena yang muncul
dalam masyarakatnya.
KESIMPULAN PIKIRIN PENULIS:
Dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari
seluruh aspek, baik itu struktur, dinamika, masalah-masalah pendidikan
ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau
pendekatan sosiologis.
ciri-ciri sosiologi adalah sebagai berikut:
a. Bersifat empiris yaitu didasarkan pada observasi dan akal sehat
yang hasilnya tidak bersifat spekulatif.
b. Bersifat teoritis yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dan
hasil observasi.
c. Bersifat kumulatif yaitu teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan
teori yang ada kemudian diperbaiki, diperluas dan diperhalus
d. Bersifat nenotis yaitu tidak mempersoalkan baik buruk suatu fakta
tertentu tetapi untuk menjelaskan fakta tersebut.
PENDAPAT ATAU TANGGAPAN SAYA.
Masalah sosiologil muncul akibat terjadinya perbedaan yang
mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang
dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan
bencana alam. Adanya masalah sosiologi dalam masyarakat ditetapkan
oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat,
pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain
sebagainya.
Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 jenis faktor, yakni antara lain :
1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.
Penjelasanya :
1. Faktor Ekonomi
Faktor ini merupakan faktor terbesar terjadinya masalah sosial.
Apalagi setelah terjadinya krisis global PHK mulai terjadi di
mana-mana dan bisa memicu tindak kriminal karena orang sudah sulit
mencari pekerjaan.
2. Faktor Budaya
Kenakalan remaja menjadi masalah sosial yang sampai saat ini sulit
dihilangkan karena remaja sekarang suka mencoba hal-hal baru yang
berdampak negatif seperti narkoba, padahal remaja adalah aset terbesar
suatu bangsa merekalah yang meneruskan perjuangan yang telah dibangun
sejak dahulu.
3. Faktor Biologis
Penyakit menular bisa menimbulkan masalah sosial bila penyakit
tersebut sudah menyebar disuatu wilayah atau menjadi pandemik.
4. Faktor Psikologis
Aliran sesat sudah banyak terjadi di Indonesia dan meresahkan
masyarakat walaupun sudah banyak yang ditangkap dan dibubarkan tapi
aliran serupa masih banyak bermunculan di masyarakat sampai saat ini.
Cara Penyelesaian Masalah Sosiologi
Pengangguran dapat menyebabkan kemiskinan, dan selanjutnya
menimbulkan kejahatan dan permusuhan atau pertikaian dalam masyarakat.
Hal ini merupakan masalah sosial yang harus kita atasi. Pemerintah
selalu berusaha mengatasi berbagai persoalan sosial dengan peran serta
tokoh masyarakat, pengusaha, pemuka agama, tetua adat, dan Iain-Iain.
Berbagai cara yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak dalam membantu
mengatasi masalah sosial antara lain :
A. Menjadi orang tua asuh bagi anak sekolah yang kurang mampu.
B.Tokoh agama memberikan penyuluhan tentang keimanan dan moral dalam
menghadapi persoalan sosial.
C. Para pengusaha dan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan lain ikut
memberikan beasiswa.
D. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Lembaga Sosial Masyarakat (LSM)
membantu dalam berbagai bidang dimulai dengan penyuluhan sampai
bantuan berupa materi.
E. Lembaga-lembaga dari PBB seperti UNESCO, UNICEF, dan WHO memberikan
bantuan kepada pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah sosial.
F. Para dermawan yang secara pribadi banyak memberi bantuan kepada
masyarakat sekitarnya berupa materi.
G. Organisasi pemuda seperti karang taruna yang mendidik dan
mengarahkan para remaja putus sekolah dan pemuda untuk berkarya dan
berusaha mengatasi pengangguran.
H. Perguruan tinggi melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan
memberikan berbagai penyuluhan.
PENERAPAN DALAM PELAYANAN.
Pelayanan harus bisa menjangkau setiap kehidupan masyarakat. Sehingga
bisa membawa dampak yang baik untuk . kehidupan pelayan Tuhan harus
bisa bersosialissasi dalam masyarakat.
mengendalikan proses untuk mengembangkan kepribadian individu agar
lebih baik.. Para ahli pendidikan dan ahli sosiologi telah berusaha
untuk memberikan definisi sosiologi , namun definisi-definisi itu
kebanyakan tidak terpakai oleh orang lapangan. Kesukaran untuk
memperoleh definisi yang mantap tentang sosiologi antara lain
disebabkan :
(a) Sukarnya membatasi bidang studi di antara bidang pendidikan dan
bidang sosiologi.
(b) Kurangnya penelitian dalam bidang ini, dan
(c) Belum nyatanya sumbangannya kepada pendidikan umumnya dan pendidikan
guru khususnya.
Jadi sosiologi adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek , baik itu
struktur, dinamika, masalah-masalah ataupun aspek-aspek lainnya
secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis.
Aktivitas masyarakat, merupakan sebuah proses sehingga dapat
dijadikan instrumen oleh individu untuk dapat berinteraksi secara
tepat di komunitas dan masyarakatnya. Pada sisi lain, sosiologi
memberikan penjelasan yang relevan dengan kondisi kekinian masyarakat,
sehingga setiap individu sebagai anggota masyarakat dapat menyesuaikan
diri dengan pertumbuhan dan perkembangan berbagai fenomena yang muncul
dalam masyarakatnya.
KESIMPULAN PIKIRIN PENULIS:
Dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari
seluruh aspek, baik itu struktur, dinamika, masalah-masalah pendidikan
ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau
pendekatan sosiologis.
ciri-ciri sosiologi adalah sebagai berikut:
a. Bersifat empiris yaitu didasarkan pada observasi dan akal sehat
yang hasilnya tidak bersifat spekulatif.
b. Bersifat teoritis yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dan
hasil observasi.
c. Bersifat kumulatif yaitu teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan
teori yang ada kemudian diperbaiki, diperluas dan diperhalus
d. Bersifat nenotis yaitu tidak mempersoalkan baik buruk suatu fakta
tertentu tetapi untuk menjelaskan fakta tersebut.
PENDAPAT ATAU TANGGAPAN SAYA.
Masalah sosiologil muncul akibat terjadinya perbedaan yang
mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang
dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan
bencana alam. Adanya masalah sosiologi dalam masyarakat ditetapkan
oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat,
pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain
sebagainya.
Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 jenis faktor, yakni antara lain :
1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.
Penjelasanya :
1. Faktor Ekonomi
Faktor ini merupakan faktor terbesar terjadinya masalah sosial.
Apalagi setelah terjadinya krisis global PHK mulai terjadi di
mana-mana dan bisa memicu tindak kriminal karena orang sudah sulit
mencari pekerjaan.
2. Faktor Budaya
Kenakalan remaja menjadi masalah sosial yang sampai saat ini sulit
dihilangkan karena remaja sekarang suka mencoba hal-hal baru yang
berdampak negatif seperti narkoba, padahal remaja adalah aset terbesar
suatu bangsa merekalah yang meneruskan perjuangan yang telah dibangun
sejak dahulu.
3. Faktor Biologis
Penyakit menular bisa menimbulkan masalah sosial bila penyakit
tersebut sudah menyebar disuatu wilayah atau menjadi pandemik.
4. Faktor Psikologis
Aliran sesat sudah banyak terjadi di Indonesia dan meresahkan
masyarakat walaupun sudah banyak yang ditangkap dan dibubarkan tapi
aliran serupa masih banyak bermunculan di masyarakat sampai saat ini.
Cara Penyelesaian Masalah Sosiologi
Pengangguran dapat menyebabkan kemiskinan, dan selanjutnya
menimbulkan kejahatan dan permusuhan atau pertikaian dalam masyarakat.
Hal ini merupakan masalah sosial yang harus kita atasi. Pemerintah
selalu berusaha mengatasi berbagai persoalan sosial dengan peran serta
tokoh masyarakat, pengusaha, pemuka agama, tetua adat, dan Iain-Iain.
Berbagai cara yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak dalam membantu
mengatasi masalah sosial antara lain :
A. Menjadi orang tua asuh bagi anak sekolah yang kurang mampu.
B.Tokoh agama memberikan penyuluhan tentang keimanan dan moral dalam
menghadapi persoalan sosial.
C. Para pengusaha dan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan lain ikut
memberikan beasiswa.
D. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Lembaga Sosial Masyarakat (LSM)
membantu dalam berbagai bidang dimulai dengan penyuluhan sampai
bantuan berupa materi.
E. Lembaga-lembaga dari PBB seperti UNESCO, UNICEF, dan WHO memberikan
bantuan kepada pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah sosial.
F. Para dermawan yang secara pribadi banyak memberi bantuan kepada
masyarakat sekitarnya berupa materi.
G. Organisasi pemuda seperti karang taruna yang mendidik dan
mengarahkan para remaja putus sekolah dan pemuda untuk berkarya dan
berusaha mengatasi pengangguran.
H. Perguruan tinggi melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan
memberikan berbagai penyuluhan.
PENERAPAN DALAM PELAYANAN.
Pelayanan harus bisa menjangkau setiap kehidupan masyarakat. Sehingga
bisa membawa dampak yang baik untuk . kehidupan pelayan Tuhan harus
bisa bersosialissasi dalam masyarakat.
ANALISA MASALAH YANG TERJADI PADA KEHIDUPAN GEREJA
STUDY CLUB PURWAKARTA
Wilayah V Purwasuka
MATERI : "SOSIOLOGI"
NARASUMBER : Bpk Adrianus Pasasa
NAMA : Ferdynan Pinontoan
Tugas : ANALISA MASALAH YANG TERJADI PADA KEHIDUPAN GEREJA
ANALISA MASALAH YANG TERJADI PADA KEHIDUPAN GEREJA
Melalui pengamatan dan analisa dari hal kehidupan gereja dan dampak
yang dialami sekarang ini, adalah banyak factor-faktornya dan ada
penyebab yang secara langsung maupun tidak langsung. bukan hal baru,
bila umat seringkali berharap Gereja mengambil sikap tertentu di
hadapan persoalan-persoalan yang terjadi di sekitar atau yang sedang
menjadi wacana publik, terutama yang berkaitan dengan persoalan
kemanusiaan. Haruskah Gereja terlibat dalam masalah
sosial?
"SIKAP GEREJA"
"Bagaimana dan apa sikap Gereja?"
Menjadi pertanyaan yang selalu dinanti-nanti jawabannya. Di balik
pertanyaan itu secara apriori ada keyakinan si penanya, bahwa sikap
yang bakal diambil Gereja pastilah menjadi cerminan kebenaran.
Alasannya, sudah lama, suara Gereja dianggap kritis, bersih dari
kepentingan-kepentingan pragmatis dan bebas dari intrik-intrik
tertentu.
Pilihan sikap Gereja dianggap selalu berangkat dari dan tertuju pada
nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Dalam terminologi Kristiani,
nilai-nilai yang diperjuangkan Gereja terarah pada konkretisasi
Kerajaan Allah.
Namun pesoalannya, apakah Gereja kini masih selalu mau terlibat atau
minimal menyatakan sikap di hadapan sejumlah soal yang muncul di
tengah masyarakat.
Entah diakui atau tidak, kadang ada keengganan pihak Gereja untuk
mengambil sikap tertentu karena takut mengambil resiko yang kadang
memang harus dibayar mahal. Makanya, Gereja terkesan lamban mengambil
sikap. Kalaupun cepat, maka selalu penuh dengan kehati-hatian.
Karena itu pula, sebagian religius atau anggota hirarki yang dalam
arti tertentu boleh dianggap vokal, aktif, berani cenderung dianggap
tidak taat dan bergerak di luar jalur.
Kesan semacam itu mungkin bisa dibenarkan. Tapi, catatannya, jangan
sampai keengganan dalam mengambil sikap membuat kehadiran Gereja tak
lagi mendatangan dampak sosial bagi banyak orang. Jangan sampai Gereja
hanya berkutat pada urusan ritual, meski itu selalu penting.
Padahal, keterlibatan dalam persoalan konkret masyarakat tempat dimana
Gereja hadir perlu dilihat sebagai sebuah imperasi iman juga prasyarat
jika Gereja tidak mau kehilangan relevansi kehadirannya. Ini
mengandaikan juga adanya kemampuan dan kemauan Gereja sendiri untuk
membaca tanda-tanda zaman.
Desakan untuk terlibat juga lahir dari kenyataan, dunia kita makin
jauh dari tatatan ideal. Penyebabnya bermacam-macam. Sekedar menyebut
satu fenomena, globalisasi yang diagung-agungkan ternyata berwajah
ganda, mendatangkan berkah sekaligus kutuk.
Di satu pihak, globalisasi mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Namun, di pihak lain, globalisasi yang juga ditandai
perubahan cara berpikir menjauhkan kita dari tatanan hidup yang baik,
ketika dalam masyarakat terjadi pembalikan nilai.
Misalnya, cita-cita mencapai keadilan sosial gagal ketika yang terjadi
adalah ketidakadilan, ketika gerak ekonomi berada sepenuhnya di tangan
pemodal sedangkan masyarakat kecil terus dililit kemiskinan. Cita-cita
meciptakan perdamaian pun gagal ketika kita berhadapan dengan fakta
permusuhan yang menyebar dimana-mana.
Penghormatan terhadap lingkungan juga makin jauh dari kenyataan.
Sementara itu, pemerintah sebagai penentu kebijakan publik, de facto,
tidak memainkan perannya secara bertanggung jawab.
Kasus-kasus kejahatan datang silih berganti. Dan acapkali persoalan
yang satu belum selesai, lahir lagi persoalan berikut
Kondisi ini makin parah karena dalam tatanan hidup bersama tercipta
sebuah gejala darwinisme sosial, yaitu ideologi dan pola politik yang
menyingkirkan orang miskin dan lemah tanpa mengenal ampun.
Tampaknya prinsip survival of the fittest (yang kuatlah yang bisa
bertahan) sudah sedemikian merasuki ranah kehidupan sosial masyarakat.
Solidaritas luntur. Individualisme pun makin berkembang.
Ini sekilas gambaran situasi kehidupan bersama kita, di mana Gereja
juga adalah bagian yang sama sekali tidak terpisah dari fakta seperti
ini. Tentu saja, Gereja tidak bisa lagi lari dari dunia atau hanya
fokus pada urusan di sekitar altar. Gereja pun tidak bisa lagi
mengajarkan rekonsiliasi di mimbar tanpa komitmen jelas dan pemihakan
tegas pada perjuangan membela mereka yang ditindas, dipinggirkan dan
diperas.
Pembongkaran budaya represif tidak bisa lagi hanya terjadi lewat
khotbah-khotbah. Tetapi pembongkaran itu hanya mungkin berhasil di
tengah perjuangan pemerdekaan masyarakat yang menjadi korban.
Bentuknya, antara lain lewat upaya-upaya nyata yang memberdayakan,
entah karya sosial karitatif maupun advokasi bagi
masyarakat-masyarakat yang haknya dilanggar demi kepentingan
sekelompok orang.
Gereja perlu memadukan altar, tempat ia menimba kekuatan untuk
berkarya dan konteks tempat dimana Gereja mengalami perjumpaan
langsung dengan kehidupan masyarakat.
Tuntutan keterlibatan Gereja perlu diberi catatan berikut: dalam
melibatkan diri, bukan mentalitas proyek yang dibangun. Mentalitas
proyek bisa menggiring perjuangan pada cara-cara pragmatis.
Perjuangan perlu ditempatkan dalam kerangka aktualisasi pilihan untuk
menghadirkan kerajaan Allah. Artinya, keberhasilannya bukan
semata-mata berdasakan parameter kuntitatif, tetapi juga dan terutama
pada kesetiaan dengan komitmen untuk menjalankan peran profetis.
Gereja tidak akan berperan sebagai penggerak pembaruan tanpa terlibat
langsung. Hanya setelah terjun dan melibatkan diri Gereja bisa makin
menemukan arti penting kehadirannya.
Karena itu, tidak ada cara lain selain ia merefleksian dan mengambil
langkah nyata berhadapan dengan persoalan-persoalan konkret kini dan
di sini. Tanpa itu, Gereja akan terus didera oleh persoalan
insignifikansi internal dan irelevansi eksternal. Artinya, ke dalam ia
tak lagi membawa pembaruan dan ke luar pun ia sama sekali tidak
menyumbangkan apa-apa.
Jadi jawaban terhadap judul catatan ini, "Haruskah Gereja Terlibat
Dalam Masalah Sosial?", perlu tegas, "Ya!". Alasannya, itu merupakan
bagian dari peran profetis dan imperasi iman akan Allah yang juga
sudah memilih terlibat dan solider dengan kita sebagai manusia.
TANGGAPAN DAN PENILAIAN
Tentunya sebagaimana pembahasan diatas tentang bagaimana gereja harus
terlibat dalam masalah sosial perlu perkataan yang dibarengi dengan
tindakan perbuatan dengan hati yang tulus ikhlas menyelesaikan masalah
sosial dan Saya sangat setuju dengan komentar-komentar diatas yang
bernada keras dan tegas itu. Hal ini berarti unsur kepemimpinan Gereja
lemah, baik di tingkat hirarkis maupun di tingkat umat. Mereka tidak
mampu mengarahkan dirinya sesuai dengan harapan Sang Guru, kecuali
orang-orang seperti Bunda Teresa, Pater Karim Arbi, Romo Mangun atau
tokoh awam spt pak Kasimo. Padahal mengatasi kelemahan adalah tugas
dan tantangan seumur hidup dari setiap pribadi. Pimpinan Gereja sudah
mengeluarkan berbagai ajaran atau teori. Namun sudahkah setiap pribadi
menyadari peranan masing-masing? Sudahkah setiap umat menghormati
setiap imamnya, karena hanya melalui tangannya mampu menghadirkan
Kristus dalam rupa roti dan anggur? Sudahkah pula seorang imam
percaya akan kemandirian umatnya yang memunyai pangkat imam, raja dan
nabi yang sama oleh sakramen baptis? Menyatunya nilai-nilai dan atau
dalam pribadi seseorang patut kita pertanyakan terus-menerus, karena
saya imani bahwa kesempurnaan itu ada pada saat kematian tiba. Pada
saat itu Sang Hakim Abadi menyambut setiap kita yang dikasihiNya.
SOLUSI DAN PENYELESAIAN
Seperti yang telah dikatakan bahwa pesoalannya, apakah Gereja kini
masih selalu mau terlibat atau minimal menyatakan sikap di hadapan
sejumlah soal yang muncul di tengah masyarakat. entah diakui atau
tidak, kadang ada keengganan pihak Gereja untuk mengambil sikap
tertentu karena takut mengambil resiko yang kadang memang harus
dibayar mahal. Makanya, Gereja terkesan lamban mengambil sikap.
Kalaupun cepat, maka selalu penuh dengan kehati-hatian. karena itu
pula, sebagian religius atau anggota hirarki yang dalam arti tertentu
boleh dianggap vokal, aktif, berani cenderung dianggap tidak taat dan
bergerak di luar jalur. Sebabnya itu marilah kita sama-sama menjaga
keutuhan nilai-nilai saling menghormati satu diantara yang lain supaya
ada keseimbangan tidak saling merugikan dan jangan membuat prilaku
yang berlebihan dapat mendatangkan konflik tetapi buatlah prilaku
ditengah masyarakat yang memiliki keseimbangan saling membutuhkan dan
harus mengarah kepada sinergi untuk melengkapi.
Tuhan Yesus Memberkati.
Wilayah V Purwasuka
MATERI : "SOSIOLOGI"
NARASUMBER : Bpk Adrianus Pasasa
NAMA : Ferdynan Pinontoan
Tugas : ANALISA MASALAH YANG TERJADI PADA KEHIDUPAN GEREJA
ANALISA MASALAH YANG TERJADI PADA KEHIDUPAN GEREJA
Melalui pengamatan dan analisa dari hal kehidupan gereja dan dampak
yang dialami sekarang ini, adalah banyak factor-faktornya dan ada
penyebab yang secara langsung maupun tidak langsung. bukan hal baru,
bila umat seringkali berharap Gereja mengambil sikap tertentu di
hadapan persoalan-persoalan yang terjadi di sekitar atau yang sedang
menjadi wacana publik, terutama yang berkaitan dengan persoalan
kemanusiaan. Haruskah Gereja terlibat dalam masalah
sosial?
"SIKAP GEREJA"
"Bagaimana dan apa sikap Gereja?"
Menjadi pertanyaan yang selalu dinanti-nanti jawabannya. Di balik
pertanyaan itu secara apriori ada keyakinan si penanya, bahwa sikap
yang bakal diambil Gereja pastilah menjadi cerminan kebenaran.
Alasannya, sudah lama, suara Gereja dianggap kritis, bersih dari
kepentingan-kepentingan pragmatis dan bebas dari intrik-intrik
tertentu.
Pilihan sikap Gereja dianggap selalu berangkat dari dan tertuju pada
nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Dalam terminologi Kristiani,
nilai-nilai yang diperjuangkan Gereja terarah pada konkretisasi
Kerajaan Allah.
Namun pesoalannya, apakah Gereja kini masih selalu mau terlibat atau
minimal menyatakan sikap di hadapan sejumlah soal yang muncul di
tengah masyarakat.
Entah diakui atau tidak, kadang ada keengganan pihak Gereja untuk
mengambil sikap tertentu karena takut mengambil resiko yang kadang
memang harus dibayar mahal. Makanya, Gereja terkesan lamban mengambil
sikap. Kalaupun cepat, maka selalu penuh dengan kehati-hatian.
Karena itu pula, sebagian religius atau anggota hirarki yang dalam
arti tertentu boleh dianggap vokal, aktif, berani cenderung dianggap
tidak taat dan bergerak di luar jalur.
Kesan semacam itu mungkin bisa dibenarkan. Tapi, catatannya, jangan
sampai keengganan dalam mengambil sikap membuat kehadiran Gereja tak
lagi mendatangan dampak sosial bagi banyak orang. Jangan sampai Gereja
hanya berkutat pada urusan ritual, meski itu selalu penting.
Padahal, keterlibatan dalam persoalan konkret masyarakat tempat dimana
Gereja hadir perlu dilihat sebagai sebuah imperasi iman juga prasyarat
jika Gereja tidak mau kehilangan relevansi kehadirannya. Ini
mengandaikan juga adanya kemampuan dan kemauan Gereja sendiri untuk
membaca tanda-tanda zaman.
Desakan untuk terlibat juga lahir dari kenyataan, dunia kita makin
jauh dari tatatan ideal. Penyebabnya bermacam-macam. Sekedar menyebut
satu fenomena, globalisasi yang diagung-agungkan ternyata berwajah
ganda, mendatangkan berkah sekaligus kutuk.
Di satu pihak, globalisasi mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Namun, di pihak lain, globalisasi yang juga ditandai
perubahan cara berpikir menjauhkan kita dari tatanan hidup yang baik,
ketika dalam masyarakat terjadi pembalikan nilai.
Misalnya, cita-cita mencapai keadilan sosial gagal ketika yang terjadi
adalah ketidakadilan, ketika gerak ekonomi berada sepenuhnya di tangan
pemodal sedangkan masyarakat kecil terus dililit kemiskinan. Cita-cita
meciptakan perdamaian pun gagal ketika kita berhadapan dengan fakta
permusuhan yang menyebar dimana-mana.
Penghormatan terhadap lingkungan juga makin jauh dari kenyataan.
Sementara itu, pemerintah sebagai penentu kebijakan publik, de facto,
tidak memainkan perannya secara bertanggung jawab.
Kasus-kasus kejahatan datang silih berganti. Dan acapkali persoalan
yang satu belum selesai, lahir lagi persoalan berikut
Kondisi ini makin parah karena dalam tatanan hidup bersama tercipta
sebuah gejala darwinisme sosial, yaitu ideologi dan pola politik yang
menyingkirkan orang miskin dan lemah tanpa mengenal ampun.
Tampaknya prinsip survival of the fittest (yang kuatlah yang bisa
bertahan) sudah sedemikian merasuki ranah kehidupan sosial masyarakat.
Solidaritas luntur. Individualisme pun makin berkembang.
Ini sekilas gambaran situasi kehidupan bersama kita, di mana Gereja
juga adalah bagian yang sama sekali tidak terpisah dari fakta seperti
ini. Tentu saja, Gereja tidak bisa lagi lari dari dunia atau hanya
fokus pada urusan di sekitar altar. Gereja pun tidak bisa lagi
mengajarkan rekonsiliasi di mimbar tanpa komitmen jelas dan pemihakan
tegas pada perjuangan membela mereka yang ditindas, dipinggirkan dan
diperas.
Pembongkaran budaya represif tidak bisa lagi hanya terjadi lewat
khotbah-khotbah. Tetapi pembongkaran itu hanya mungkin berhasil di
tengah perjuangan pemerdekaan masyarakat yang menjadi korban.
Bentuknya, antara lain lewat upaya-upaya nyata yang memberdayakan,
entah karya sosial karitatif maupun advokasi bagi
masyarakat-masyarakat yang haknya dilanggar demi kepentingan
sekelompok orang.
Gereja perlu memadukan altar, tempat ia menimba kekuatan untuk
berkarya dan konteks tempat dimana Gereja mengalami perjumpaan
langsung dengan kehidupan masyarakat.
Tuntutan keterlibatan Gereja perlu diberi catatan berikut: dalam
melibatkan diri, bukan mentalitas proyek yang dibangun. Mentalitas
proyek bisa menggiring perjuangan pada cara-cara pragmatis.
Perjuangan perlu ditempatkan dalam kerangka aktualisasi pilihan untuk
menghadirkan kerajaan Allah. Artinya, keberhasilannya bukan
semata-mata berdasakan parameter kuntitatif, tetapi juga dan terutama
pada kesetiaan dengan komitmen untuk menjalankan peran profetis.
Gereja tidak akan berperan sebagai penggerak pembaruan tanpa terlibat
langsung. Hanya setelah terjun dan melibatkan diri Gereja bisa makin
menemukan arti penting kehadirannya.
Karena itu, tidak ada cara lain selain ia merefleksian dan mengambil
langkah nyata berhadapan dengan persoalan-persoalan konkret kini dan
di sini. Tanpa itu, Gereja akan terus didera oleh persoalan
insignifikansi internal dan irelevansi eksternal. Artinya, ke dalam ia
tak lagi membawa pembaruan dan ke luar pun ia sama sekali tidak
menyumbangkan apa-apa.
Jadi jawaban terhadap judul catatan ini, "Haruskah Gereja Terlibat
Dalam Masalah Sosial?", perlu tegas, "Ya!". Alasannya, itu merupakan
bagian dari peran profetis dan imperasi iman akan Allah yang juga
sudah memilih terlibat dan solider dengan kita sebagai manusia.
TANGGAPAN DAN PENILAIAN
Tentunya sebagaimana pembahasan diatas tentang bagaimana gereja harus
terlibat dalam masalah sosial perlu perkataan yang dibarengi dengan
tindakan perbuatan dengan hati yang tulus ikhlas menyelesaikan masalah
sosial dan Saya sangat setuju dengan komentar-komentar diatas yang
bernada keras dan tegas itu. Hal ini berarti unsur kepemimpinan Gereja
lemah, baik di tingkat hirarkis maupun di tingkat umat. Mereka tidak
mampu mengarahkan dirinya sesuai dengan harapan Sang Guru, kecuali
orang-orang seperti Bunda Teresa, Pater Karim Arbi, Romo Mangun atau
tokoh awam spt pak Kasimo. Padahal mengatasi kelemahan adalah tugas
dan tantangan seumur hidup dari setiap pribadi. Pimpinan Gereja sudah
mengeluarkan berbagai ajaran atau teori. Namun sudahkah setiap pribadi
menyadari peranan masing-masing? Sudahkah setiap umat menghormati
setiap imamnya, karena hanya melalui tangannya mampu menghadirkan
Kristus dalam rupa roti dan anggur? Sudahkah pula seorang imam
percaya akan kemandirian umatnya yang memunyai pangkat imam, raja dan
nabi yang sama oleh sakramen baptis? Menyatunya nilai-nilai dan atau
dalam pribadi seseorang patut kita pertanyakan terus-menerus, karena
saya imani bahwa kesempurnaan itu ada pada saat kematian tiba. Pada
saat itu Sang Hakim Abadi menyambut setiap kita yang dikasihiNya.
SOLUSI DAN PENYELESAIAN
Seperti yang telah dikatakan bahwa pesoalannya, apakah Gereja kini
masih selalu mau terlibat atau minimal menyatakan sikap di hadapan
sejumlah soal yang muncul di tengah masyarakat. entah diakui atau
tidak, kadang ada keengganan pihak Gereja untuk mengambil sikap
tertentu karena takut mengambil resiko yang kadang memang harus
dibayar mahal. Makanya, Gereja terkesan lamban mengambil sikap.
Kalaupun cepat, maka selalu penuh dengan kehati-hatian. karena itu
pula, sebagian religius atau anggota hirarki yang dalam arti tertentu
boleh dianggap vokal, aktif, berani cenderung dianggap tidak taat dan
bergerak di luar jalur. Sebabnya itu marilah kita sama-sama menjaga
keutuhan nilai-nilai saling menghormati satu diantara yang lain supaya
ada keseimbangan tidak saling merugikan dan jangan membuat prilaku
yang berlebihan dapat mendatangkan konflik tetapi buatlah prilaku
ditengah masyarakat yang memiliki keseimbangan saling membutuhkan dan
harus mengarah kepada sinergi untuk melengkapi.
Tuhan Yesus Memberkati.
Langganan:
Postingan (Atom)
KUMPULAN KOTBAH DAN PUJIAN PENYEMBAHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA
LINK KUMPULAN KOTBAH / RENUNGAN FIRMAN TUHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA (PAS) 1. HIDUP YANG SUDAH DIBAHARUI https://www.youtu...
-
Pengantar · Pertanyaan apa yang saudara pahami tentang liturgy…………….? · Dalam teologi Ilmu yang membahas tentang pe...
-
Interaksi Buku, pilih dan baca salah satu buku di bawah ini kemudian berikan komentar, kritik, dan buat laporan sebanyak dua halaman spasi...
-
Tugas MK LITURGIKA STTC TIRSA MONU Liturgi Ibadah Umum di GPdI 1. Doa Pembukaan Maknanya: Seluruh peserta ibadah mempersiapkan diri un...