17 Juni 2013

TUGAS LAPORAN BUKU | TIRSA MONU | STTC
Judul Buku : Alkitan dan Liturgi
Pengarang : E.H. van OLST
Tahun Penrbit : 1999
Penerbit : Gunung Mulia
Cetakan : 3
Tebal Buku : 171 Halaman

Buku ini menekankan tentang pentingnya liturgi dalam ibadah sebab
liturgi bertolak dari Akitab. Penulis buku ini berusaha mengembalikan
pola pikir Gereja tentang pentingnya memahami liturgi dengan benar
untuk meluruskan kekeliruan pola pikir gereja masa kini yang mulai
menganggap bahwa hanya unsur-unsur liturgi tertentu saja yang penting
sementara unsur-unsur yang lainnya hanya sebagai pelengkap saja.
Contohnya: beberapa pengunjung gereja menganggap bahwa yang terpenting
mengapa pergi ke Gereja adalah untuk mendengarkan khotbah,
bagian-bagian lain dari upacara ibadah itu umumnya dianggap sebagai
introduksi (pembukaan) atau tambahan saja. Akibatnya banyak pengunjung
gereja yang datang ke gereja tidak tepat waktu, ada yang datang
setelah doa pembukaan bahkan ada juga yang datang setelah doa untuk
masuk dalam liturgi penyampaian Firman Tuhan. Semakin berkembangnya
teologi, unsur-unsur liturgi juga mulai mengalami pergeseran, misalnya
Calvin menghapus tata pembacaan klasik yang berdasarkan pada tahun
gereja.
Dari pendahuluannya dalam buku ini terlihat jelas bahwa penulis
menentang tentang paham individualistis. Dalam bahasan ini yang
dimaksud dengan paham individualistis adalah pemilihan bacaan Alkitab
setiap minggunya ditentukan oleh pengkhotbah secara pribadi. Penulis
menganggap bahwa jenis individualisme ini berarti mempertahankan
keadaan yang tidak melibatkan anggota-anggota jemaat dalam ibadah.
Penulis menolak pendapat yang mengatakan bahwa struktur yang teratur
khususnya mengenai penggunaan daftar pembacaan Alkitab (leksionari),
mengimplikasikan suatu pembatasan kebebasan tidak dapat diterima,
sebab menurut penulis praktik mengizinkan pribadi pengkhotbah secara
bebas memilih teks pada umumnya membawa kepada suatu jajaran tema
yang jauh lebih sempit.
Tesis pokok dari buku ini ialah bahwa struktur perayaan adalah
sesuatu yang telah diberikan bersamaan dengan munculnya Kitab Suci itu
sendiri sehinggah dari pengertian baik sumber maupun penggunaannya,
Alkitab dapat disebut buku liturgis. Menurut penulis fakta ini dapat
dilihat dari kelima penggolongan kitab Mazmur, selain kitab mazmur
terdapat juga sekitar tujuh puluhan nyanyian tambahan lainya
diantaranya nyanyian madah dari Maryam, Hizkia, Simeon, Zakharia, dll.
Juga banyak cerita yang sebenarnya mempunyai latar belakang cerita
liturgis seperti cerita keluaran, cerita masuknya umat Israel ke
Kanaan (Yosua), dan banyak peristiwa liturgis (dan fragmen-fragmen)
dalam kitab Wahyu. Selain itu buku ini juga menaruh perhatian terhadap
tradisi Yahudi, tradisi Kristen purba sebagaimana dia pada akhirnya
mengambil bentuk dalam tahun gereja klasik dan tradisi calvinis. Dalam
buku ini juga menyorot fakta tentang kemunduran liturgis dalam tradisi
dikaitkan dengan munculnya subyektivitas dan individuaisme dan
penilaian yang rendah akan tubuh jasmani manusia yang sedang populer
saat ini. Menurut penulis, ibadah berdasarkan perspektif Alkitab tidak
hanya menyangkut pikiran manusia, tetapi keseluruhan keberadaan
manusia terlibat di dalamnya termasuk kejasmanian.
Dari apa yang dibahas dalam buku ini dan dari tulisan dari penulis
sendiri menyatakan bahwa buku ini sebenarnya diperuntukkan bagi
orang-orang yang tertarik dengan apa yang terjadi di dalam suatu
upaara ibadah dan yang mungkin ikut berperan serta dalam
kelompok-kelompok kerja di bidang liturgi. Buku ini juga mengindari
banyaknya catatan-catatan kaki dan sesuatu yang teoritis atau yang
bersifat terminologis. Fokus dari buku ini adalah sebuah pertanyaan
yaitu apakah hakikat dan struktur pengalaman dari orang-orang yang
sedang merayakan liturgis itu sendiri?
Penulis buku ini membahas tentang srtuktur liturgis dari Alkitab
mulai dari asal-usul liturgis yang tentu saja bersumber dari banyak
bagian Alkitab misalnya yang paling menyolok adalah kitab Mazmur,
kitab nyanyian, tetapi khusus kitab doa dari Israel dan gereja. Dari
kitab Mazmur penulis menyimpulkan bahwa di dalam liturgis kitab
Mazmur, seluruh ciptaan berfungsi dalam puji-pujian dan di sana mereka
menemukan makna keberadaannya. Namun Mazmur bukanlah satu-satunya
nyanyian liturgis dalam Alkitab sebab masih ada bagian-bagian tertentu
dalam Alkitab yang membahas tentang nyanyian liturgis seperti nyanyian
Musa (Kel. 15), nyanyian Debora (Hak. 5), nyanyian Hana (1 Sam. 2) dan
dalam Perjanjian Baru ada nyanyian Zakharia, Maria, dan Simeon.
Liturgis nyanyian sudah dimulai dari sinagoge-sinagoge. Bahkan semua
pembacaan Torah dan Kitab Nabi-Nabi dilantunkan oleh pemimpin
penyanyi. Jadi nyanyian doa merupakan salah satu unsur liturgis yang
Alkitabiah sehinggah dapat disimpulkan bahwa doa, nyanyian dan
puji-pujian bukanlah hanya sekedar unsur liturgis pelengkap melainkan
sejak dalam Perjanjian Lama puji-pujian merupakan suatu komponen yang
sentral. Dalam Wahyu Pasal 5 menerangkan tentang suatu peristiwa/
kegiatan liturgis yang akbar dimana keempat makhluk dan dua puluh
empat tua-tua menyanyikan satu lagu baru diikuti dengan suatu
puji-pujian agung untuk sang Anak Domba.
Selain puji-pujian, penulis buku juga mengangkat tentang pentingnya
liturgi doa didasarkan pada doa-doa dalam kisah para rasul dan tentu
saja doa 'Bapa Kami' yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri.
Kitab lain dalam Alkitab yang diangkat oleh penulis sebagai sebagai
kitab liturgis juga adalah kitab Yosua yang memperlihatkan suatu
perayaan dan upacara peringatan melalui cerita penyeberangan sungai
Yordan. Setelah umat Tuhan sampai ke tepi Sungai Yordan, dalam
arak-arakan di belakang tabut perjanjian dan para imam, mereka
menyeberangi Sungai Yordan. Dalam kitab Yosua juga terdapat kisah
Paskah pertama bangsa Israel di tanah Kanaan dan di tanah Kanaan juga
mereka yang belum disunat karena perjalanan di padang gurun mendapat
kesempatan untuk bisa di sunat.
Penulis menekankan pentingnya liturgi sebab liturgi bukan hanya
sekedar suatu isu spiritual saja melainkan sesuatu yang menyangkut
keseluruhan diri manusia baik tubuh, jiwa dan roh yang dibawa di
hadapan Allah. Penulis juga masih menekankan pentingnya
perayaan-perayaan seperti masa Advent yang diikuti masa Epifani,
siklus Paskah dengan suatu periode persiapan yang disebut puasa atau
masa empat puluh hari dan suatu masa pelanjutan Paskah yang berakhir
sampai pada Pentakosta. Dan dari semua liturgi yang di bahas dalam
buku ini, penulis menekankan bahwa mulai dari awal, Paskah merupakan
pusat dari liturgi Kristen sebab Paskah menjadi dasar kelayakkan orang
peraya untuk masuk dalam perjanjian dengan Allah dan merayakan liturgi
yang lainnya.
TANGGAPAN SAYA
Pembahasan penulis dalam buku ini mengenai liturgi sangat memberkati
saya sebab memberikan pemahaman yang baru kepada saya mengenai
beberapa Liturgi gereja yang tidak saya mengerti bahkan tidak pernah
diterapkan dalam Gereja tempat dimana saya bertumbuh secara rohani
seperti liturgi minggu Advent dan periode persiapan menjelang Paskah.
Saya juga setuju dengan penulis yang berpendapat bahwa setiap unsur
liturgi dalam peribadatan merupakan unsur yang penting. Jadi bukan
hanya penyampaian Firman Tuhan saja yang penting melainkan puji-pujian
dan doa juga merupakan unsur yang penting dan Alkitabiah. Hanya satu
hal yang saya tidak sependapat dengan penulis yaitu mengenai penetapan
ayat bacaan setiap minggunya. Menurut penulis penetapan ayat bacaan
secara individual oleh pengkhotbah merupakan hal yang keliru dan
membawa pada jajaran tema yang terlalu sempit. Tapi menurut pendapat
saya penetapan tema dan bacaaan Alkitab oleh pengkotbah justru sangat
efektif untuk mendorong pertumbuhan rohani jemaat Tuhan yang beliau
gembalakan sebab beliau sebagai gembala jemaat tentu memahami kondisi
dan kebutuhan rohani jemaat setempat. Selain itu tentu seorang
pengkhotbah akan berdoa dengan lebih sungguh-sungguh kepada Tuhan
untuk memperoleh ilham baru dari Roh Kudus mengenai apa yang akan
disampaikan kepada jemaat.
Jika kelak saya diperayakan oleh Tuhan untuk melayani jemaat Tuhan
sebagai gembala atau pendamping gembala, saya akan berusaha menerapkan
liturgi yang Alkitabiah di dalam gereja tempat saya melayani dan
sebisa mungkin mengembalikan liturgi-liturgi yang sudah hilang karena
perkembangan gereja masa kini yang cenderung menyukai moderenisasi
dibandingkan hal-hal yang bersifat klasik. Selain itu saya juga akan
berusaha untuk membuat jemaat memahami bahwa liturgi gereja memiliki
makna yang dalam sehinggah jemaat Tuhan lebih menghargai dan
menghayati ketika menjalankan peribadatan di gereja maupun merayakan
ketika hari-hari raya besar Kristiani seperti Paskah dan hari
Pentakosta.

Liturgi Ibadah Umum di GPdI

Tugas MK LITURGIKA STTC
TIRSA MONU

Liturgi Ibadah Umum di GPdI
1. Doa Pembukaan
Maknanya: Seluruh peserta ibadah mempersiapkan diri untuk mencari
Tuhan dan melepaskan apa yang menjadi beban kita untuk menghadap
Tuhan.
2. Puji-Pujian
Maknanya: Menyatakan bahwa Tuhanlah yang patut dipuji dan menyambut
Allah sebagai Raja di tengah-tengah umat-Nya sehinggah jemaat
bersorak-sorak karena Raja diatas segala raja hadir dalam puji-pujian.
3. Kesaksian
Maknanya: Kesempatan bagi jemaat untuk menyaksikan pengalaman pribadi
bersama Tuhan, seperti mengalami mujizat kesembuhan, berkat keluputan
dari kecelakaan atau tentang kebaikan Tuhan lainnya.
4. Doa Firman
Makna: mempersiapkan hati untuk menerima Firman sebagai penuntun kehidupan.
5. Penyampaian Firman Tuhan
Makna: Penyampaian isi hati Tuhan melalui Pendeta untuk menjadi cermin
dalam kehidupan. Firman yang disampaikan melalui Pendeta sama dengan
suara Tuhan sendiri sehinggah jemaat harus menerimanya dengan iman
sebagai tuntunan langsung dari Tuhan untuk menjalani hidup dalam
terang Tuhan. Firman Tuhan menyadarkan jemaat akan kelemahan dan
kekurangannya sebagai manusia serta mendidik dan mengarahkan jemaat
bagaimana cara hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.
6. Doa sesudah Firman Tuhan
Merespon Firman Tuhan dan memita kekuatan dari Roh Kudus untuk dapat
menjalankan Firman Tuhan itu.
7. Persembahan
Maknanya: memberikan persembahan yang berisi sebuah ikrar bahwa segala
sesuatu dari Tuhan dan kita kembalikan kepada Tuhan melalui
persembahan.
8. Doa persembahan
Makna: Permohonan kepada Allah karena Dia adalah sumber segala berkat
supaya memberkati apa yang sudah dipersembahkan kepada-Nya.
9. Pengumuman
Makna: Informasi yang berisi segala kegiatan di Gereja tersebut yang
dibacakan langsung.
10. Doa syafaat
Makna: Mendoakan pemerintah mulai dari pusat sampai kepada
pelosok-pelosok desa supaya diberikan hikmat dalam memerintah. Dalam
doa syafaat juga harus mendoakan jiwa-jiwa supaya percaya kepada
Tuhan.
11. Doa Berkat
Makna: menyadari bahwa Tuhan memberkati umat-Nya lewat hamba-Nya
karena Dia yang empunya kuasa, kemuliaan, kekal hinggah kekal, dan
Trinitas Allah yang menyempurnakan berkat itu.
12. Pintu Gereja dibuka dan bersalam-salaman
Makna: Mengawali pembaharuan hidup kembali dan siap melangkah
menghadapi dunia luar dengan membawa kasih Kristus dalam hati setiap
jemaat.

25 April 2013

KEPECAYAAN TERHADAP PARA ROH PADA SUKU BIAK, PAPUA

Tugas Makalah Teologi Kontestual
Nama : Michael Morino
Asal : Papua
Kuliah : STT SAPPI Cianjur


BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang

Masyarakat Biak masih memiliki kebudayaan kuno yang berkisar pada
kepercayaan animisme bahkan kepercayaan tersebut lebih ditonjolkan
melalui upacara ritual yang lebih dikenal dengan WOR. Kata Wor sudah
berarti lagu dan tari tradisional. Semua anak yang terkena wabah
penyakit dianggap bernasib malang sehingga harus diadakan upacara
adat.
Wor dapat mengekspresikan semua aspek kehidupan orang Biak, seperti
halnya upacara tradisional para leluhur berupa ukiran kayu, dan lebih
khusus pada motif atribut yang digunakan mereka pada saat menyanyi dan
menari; berupa motif pada pakaian. Semua barang yang digunakan untuk
upacara adat dapat disakralkan atau dikeramatkan.

Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang di atas maka rumusan masalahnya
adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah proses Wor berlangsung?
2. Apa tujuan suku Biak melakukan Wor?
3. Bagaimanakah upacara pesta adat ini berlangsung?

Tujuan Penulis
Bertitik tolak dari rumusan masalah maka tujuannya penulis ingin
menjelaskan masalahnya sebagai berikut:
1. Penulis ingin menjelaskan bagaimanakah proses Wor ini berlangsung
2. Penulis ingin menjelaskan apa tujuan suku Biak melakukan Wor
3. Penulis ingin menjelaskan bagaimanakah upacara pesta adat berlangsung


BAB II
KEPECAYAAN TERHADAP PARA ROH PADA SUKU BIAK, PAPUA

Pengertian wor
Dalam agama tradisional orang Biak, Wor merupakan suatu kewajiban yang
harus diselenggarakan oleh setiap keluarga batih/inti mereka. Wor
mempunyai dua arti :
(a) Wor sebagai upacara adat (upacara taradisional);
(b) Wor sebagai nyanyian adat .

Jika kita uraikan kedua konsep atau istilah munara dan wor atas struktur
atau bentuk katanya, maka akan jelas konsep-konsep utama yang berkaitan erat
dengan kedua kata kompleks tersebut. Kata munara terdiri atas dua kata
yaitu mun yang artinya penggal bagian atau bayar ganti sedangkan ara
artinya kasihan, ibah hati, penggugah, pemancing, motivasi, penyebab,
sesuatu terjadi. Wor terdiri atas dua kata w/ aw artinya engkau
sedangkang or panggilan, mengundang; pesta lagu nyanyian yang disebut
wor.

Dengan demikian kata munara atau wor itu dapat diformulasikan menjadi:
undangan keluarga untuk mengambil bagian dalam pesta: menari dan bernyanyi,
makan-minum bersama, dan diakhiri dengan acara transaksi ekonomi bersama
berupa hasil ladang seperti: talas, keladi, sagu, dan hasil buruan
seperti: daging
babi, ikan, dengan transaksi hasil barteran berupa: piring, gelang, parang,
tombak dan sebagainya antar keluarga tuan pesta dengan pihak keluarga paman
(mother brother), yang dikenal dalam adat Vyak dengan istilah munsasu dan
maidofa (take and give) secara kolektif.

Dengan demikian, munara atau wor dapat diartikan secara bebas sebagai pesta
atau upacara akbar yang tentunya dibarengi dengan acara jamuan makan,
bernyanyi dan menari, yang diakhiri dengan transaksi ekonomi, yang
terselenggara sebagai puncak dari seluruh rangkaian pesta adat
yang mengikuti lingkaran atau daur hidup seseorang, mulai dari kehadirannya
dalam kandungan (janin), kelahiran, kanak-kanak, remaja, akilbalik, dewasa, tua,
hingga ia masuk liang kubur.

3. Jenis Munara atau Wor Biak
Munara atau wor Vyak dibagi atas dua bagian besar, yaitu wor sraw 'pesta kecil'
dan munara atau wor veyeren 'pesta akabar'. Seterusnya wor sraw atau secabik
pesta (kecil) kurang lebih terbagi lagi atas 18 wor, yakni pesta 'wor':
1. Kakfo ikoibur 'meramal kelamin janin.
2. Anunbesop 'diturunkannya bayi darirumah ke halaman/bawah sekitar kampong.
3. Anansus 'tetekan bayi.
4. Raikarkir 'pelobangan telinga dan hidung.
5. Ananmam 'makan kunyahan.
6. Marandak 'jalan pertama kali.
7. Andomankun ' makan sendiri tanpa disuap.
8. Papaf 'penyapihan anak.
9. Kapanaknik 'cukur rambut anak.
10. Famamarwark 'pemberian cawat/pakain
11. Mansorandak 'pertama kali pergi dan kembali dari negeri orang.
12. Amfudum 'pengatapan rumah baru.
13. Sunavrdado 'memasuki/hunian rumah tinggal baru.
14. Sunsram 'memasukipendidikan di lembaga rumsram.
15. Sarsram 'pesta tamat lembaga rumsram.
16. Sarwai babo uji-pakai perahu baru.
17. Kper-roemun lepas dari bahaya.
18. Avovs-farbey pelepasan atribut perkabungan.

Sedangkan munara pesta akbar kurang lebih terbagi pula atas 11 wor, yakni
pesta wor.
1. beyeren atau wor kabor insos 'pesta inisiasi keluarga inti
(anak-anak).
2. ramrem pesta peminyakan bagi pengantin laki-laki yang akan
memasuki rumah tangga baru;
3. fakoker pesta pemotongan atau pelepasantali (adat) pingitan
(keperawanan) orang tua atau keluarga bagi seseorang.pengantin
perempuan yang hendak berumah tangga baru;
4. umbambin pesta prosesi antar-arakan dari keluarga luas pengantin
wanita kepada keluarga luas
pengantin pria;
5. yakyaker pesta pengantaran wanita disertai perabot rumah tangganya
dari keluarga dekat pihak perempuan (orang tua terdekat: bapak-ibu,
saudara-saudara, paman-bibi) untuk seterusnya tinggal bersama suaminya
atau memasuki keluarga pihak keluarga laki-laki;
6. akekdofnan (yaf) 'pesta panenraya).
7. faduren pesta sarat muatan perahu niaga atau keberhasilan
perbarteran antar pulau;
8 samsom pesta permohonan maaf.
9. samsyom syukur puji.
10. fannangki pesta pemberian persembahan hasil panen kepada Tuhan
penguasa langit-bumi.
11. rakmamun pesta kemenanganperang.

4. Wor sebagai Fokus dan Dinamika Hidup Orang Biak
Istilah fokus kebudayaan, seperti yang digunakan untuk mengarahkan diskusi
ini, sesungguhnya mengandung arti bahwa dalam kehidupan setiap suku bangsa
(etnik di mana pun, telah pasti mempunyai kebudayaan inti (culture core). Pada
hakekatnya garis besar konsep kebudayaan itu dapat dilihat sebagai pengetahuan
yang dapat diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan yang dipakai untuk
mengartikan pengalamannya dan menghasilkan tingkah laku social. Untuk
diskusi ini, kita akan melihat kebudayaan itu dari segi perilaku dalam
segi
kognitif (struktur). Berdasarkan pemahaman ini, kebudayaan dapat diartikan
dengan sejumlah perilaku manusia yang berpola sebagai hasil dari suatu
kegiatan (munara-wor). Kebudayaan juga adalah keseluruhan gagasan, ide,
kepercayaan dan pengetahuan manusia dalam suatu masyarakat. Karena itu,
perilaku budaya pada dasarnya ditentukan oleh segi kognisi atau pengetahuan
dan pengalaman manusia dalam suatu masyarakat. Karena itu, perilaku budaya
pada dasarnya ditentukan oleh segi kognisi atau pengetahuan dan pengalaman
manusia. Setiap kebudayaan mengandung berbagai kategori perilaku yang
digunakan manusia untuk memilah-milah dan menggolong-golongkan
pengalaman Sehubungan dengan itu, penulis akan
mencoba mengemukakan wor atau pesta sebagai fokus dalam kebudayaan
Biak. Upacara religi secara universal danpada dasarnya berfungsi
sebagai aktivitas untuk merekonstruksikan kembalaisemangat kehidupan
sosial antar warga masyarakat.
Menrut pengetahuan emik penulis bahwa bila diteliti secara mendalam tentang
rusaknya tatanan atau struktur sosial orang Biak yang terpaket dalam upacara
adat (munara/wor), karena telah dirusak oleh pranata lain. Diduga semangat
membangun dalam kebudayaan Biak menjadi rusak dan renggang oleh karena
beberapa sistem pranata adat Biak diputuskan secara sepihak oleh intervensi
kebudayaan luar sehingga dinamika kehidupan sosial orang Biak tak berdaya
lagi. Oleh karena wor sebagai pranata dan sekaligus menjadi dinamisator atas
prestasi maksimal bagi seseorang, keluarga, kelompok keret atau etnis Biak
sengaja diputuskan maka dinamika hidup orang Biak telah berada di ambang
kepunahan (Kamma, 1981, 1982; Kapissa, 1994; Rumbrawer, 1995). Lihat
struktur struktur Wor sebagai berikut


Hakekat dan Makna Wor Biak
Sebagai mana telah disinggung sepintas pada awal diskusi kita di atas, bahwa
hakekat wor atau pesta Biak adalah pusat kehidupan suku bangsa Biak (culture
core). Mengapa pernyataan hipotesis ini cenderung diabsahkan. Oleh karena jika
kita diskusikan secara mendalam tentang wor maka akan kita jumpai hakekat
dan arti makna hidup seutuhnya dalam terselenggaranya upacara ritual Biak.
Dalam filsafat ekonomi orang Biak telah ditegaskan bahwa " Nko wor va ido, na
nko mar" (Kami akan mati, jika kami tidak bernyanyi). Orang Biak dahulu, telah
menyadari bahwa lagu dan pesta adalah aset kehidupan. Jika melaksanakan
upacara wor akan mendatangkan rejeki dan berkah bagi keluarga dan
masyarakat sekitar. Pernyataan seperti ini telah dinyatakan dalam tema dan syair
lagu beberapa wor Biak kurang lebih dinyatakan sebagai berikut: Ada lagu ada
kehidupan (wor isya kenm isya); ada kehidupan ada makanan (kenm isya anan
isya); ada makanan ada nilai (anan isya vave snonsnon / maseren isya); dan
dapat diakhiri dengan: ada nilai ada pesta inisiasi (vave sno manseren isya
munara isya), dan ada persta akbar ada seberkas kasih dan persatuan klen atau
kampung (munara isya vave oser er mnu isya kako).

Budaya
Orang Biak sebagian besar telah menganut agama Kristen. Tetapi, orang
Biak masih banyak memiliki kepercayaan terhadap para roh, yaitu suatu
kepercayaan yang telah terbentuk dari nenek moyang mereka. Mereka
percaya akan adanya penguasa yang melebihi kekuatan atau kekuasaaan
manusia biasa yang menurut mereka penguasa tersebut mendiami Nanggi
(surga) yang berada di Mandep (langit).
Selain itu, mereka percaya akan adanya penguasa-penguasa yang mendiami
Farsyos (Jagad raya) dan ada juga yang menghuni abyab (gua), karui
beba (batu besar), bon bekaki (gunung tinggi), soren (dasar laut), war
besyab (sungai), ai beba (pohon besar), dan lain-lainnya.

Penguasa yang mendiami Nanggi merupakan pusat kekuatan atau kekuasaan
yang mengatur alam semesta. Penguasa Nanggi (Sang Langit) dikenal
dengan sebutan Manggundi (Dia sendiri). Penguasa-penguasa yang
mendiami Farsyos, abyab, karui beba (batu besar), bon bekaki, dan
lain-lainnya yang disebutkan di atas adalah bersifat roh (spirit).
Roh-roh ini diklasifikasikan menjadi dua, yaitu roh-roh/arwah-arwah
nenek moyang dan kerabat mereka yang telah meninggal dunia yang
dikenal dengan istilah bahasa Biak yaitu Karwar. Karwar ini mendiami
Farsyos (jagad raya), sup/meos aibui (wilayah/tempat atau pulau yang
merupakan tempat berkumpulnya arwah-arwah itu) dan juga Amfyanir.
Selain itu, roh-roh itu mendiami wilayah-wilayah yang tidak ada
penghuninya (sup bebewursba), seperti lautan luas atau hutan-hutan
belan-tara.

Kedua, roh-roh halus jin. Roh-roh ini dibagi menjadi tiga, yaitu : (a)
roh-roh halus/jin yang mendiami pohon-pohon besar yang dalam istilah
bahasa Biak disebut Arbur; (b) roh-roh halus/jin yang mendiami gua,
gunung, batu, hutan rimba, sungai disebut dabyor, yang dikenal juga
dengan sebutan Manggun (pemilik); dan roh-roh halu /jin yang mendiami
laut atau lautan disebut Faknik.

Hal ini menunjukkan bahwa orang Biak percaya adanya makhluk
supranatural. Agama tradisional mereka mempunyai hubungan erat dengan
mitologi mereka. Tokoh mitologi mereka adalah Manarmakeri yang telah
pergi ke sebelah barat dan dia akan datang kembali untuk memberikan
kebahagian atau kekayaan bagi mereka yang telah lama ditinggalkan.
Mereka percaya bahwa Manggundi yang menjelma sebagai manusia biasa,
yaitu Manarmakeri yang pernah melakukan karya Koreri di Meokbundi
(salah satu pulau di Biak Timur).

Namun, ia tidak diterima oleh masyarakatnya (Orang Biak), sehingga ia
pergi ke bagian barat yaitu Eropa, dan Ia akan kembali kepada mereka
dengan membawa kembali koreri, yaitu dunia Kando Mob Oser, artinya
dunia yang tidak ada kesusahan lagi/dunia bahagia. Selain itu, Wor
merupakan unsur penting dalam agama tradisonal mereka. Dengan demikian
mempunyai sifat religius cukup tinggi.

Oleh karena itu, Wor merupakan suatu perwujudan dari kehidupan
religius yang menurut mereka sangat penting. Dikatakan sangat penting
karena Wor mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas
orang Biak dan merupakan simbol hubungan mereka dengan Penguasa
(Manggundi) dan kerabat-kerabat mereka yang meninggal (Arwah-arwah
nenek moyang).

Dalam kehidupan beragama orang Biak, Wor merupakan suatu kewajiban
yang diatur berdasarkan sistem kekerabatan (patrilineal) dan sistem
perkawinan mereka, sehingga apabila ada keluarga batih yang lalai
melakukannya, maka keluarga tersebut akan mendapat sanksi dari
Manggundi atau arwah-arwah nenek moyang mereka



BAB III
PEMAHAMAN SUKU BIAK TERHADAP MUSIK WOR

Musik Wor dalam kehidupan masyarakat Biak berhubungan erat dengan
upacara keagamaan. Dengan upacara-upacara keagamaan, orang Biak
menyatakan hubungannya dengan "penguasa" yang disembah. Sebelum
masuknya pengaruh agama Kristen, orang Biak percaya akan adanya
penguasa yang melebihi kekuatan atau kekuasaan manusia biasa yang
menurut mereka penguasa tersebut mendiami Nanggi (surga) yang berada
di Mandep (langit). Selain itu, mereka percaya akan adanya
penguasa-penguasa yang mendiami Farscyos (jagad raya) dan ada juga
yang menghuni abyab (gua), karui beba (batu besar), bon bebaki (gunung
tinggi), soren (dasar laut), ai beba (pohon besar), dan lain-lainnya.
Penguasa yang mendiami Nanggi merupakan pusat kekuatan atau kekuasaan
tertinggi yang mengatur alam semesta. Penguasa Nanggi (Sang langit)
dikenal dengan sebutan Mangundi (Dia sendiri). Penguasa-penguasa yang
mendiami Farscyos (jagad raya), abyab (gua), karui beba (batu besar),
bon bebaki (gunung tinggi), soren (dasar laut), ai beba (pohon besar)
, dan lain-lainnya yang disebutkan di atas adalah bersifat roh
(spirit). Roh-roh ini diklasifikasikan menjadi dua, yaitu : (1)
Roh-roh/arwah-arwah nenek moyang dan kerabat mereka yang telah
meninggal dunia yang dikenal dengan istilah bahasa Biak yaitu Karwar.
Agama tradisional mereka mempunyai hubungan erat dengan mitologi
mereka. Tokoh mitologi mereka adalah Manarmakeri yang telah pergi ke
sebelah barat dan dia akan datang kembali
1. II. Deskripsi Masyarakat Biak.
Orang Biak adalah salah satu dari 250 suku bangsa di Tanah Papua.
Sekitar 96.000 penduduk tinggal di kabupaten Biak Numfor, yang
meliputi kepulauan Biak, Supiori, dan Numfor, dengan luas 3130 km².
Separuh dari penduduk tinggal di Biak kota. Ibukota kabupaten ini,
yang secara etnis penduduknya campuran, merupakan pusat pemerintahan
dan perekonomian, serta lokasi pelabuhan udara internasional. Biak
Numfor adalah kabupaten yang paling padat penduduknya di Irian Jaya,
dan satu-satunya wilayah yang penduduknya memiliki bahasa dan budaya
yang sama.
Sebelum perang dunia II, Biak terkenal sebagai sarang bajak laut.
Pemerintah Belanda meramalkan bahwa para bajak laut ini akan pindah
atau punah, kalau serangan-serangan meraka talah diberantas.
Kenyataannya, perdagangan merupakan sumber yang lebih jauh penting
dalam menopang kehidupan mereka daripada penjarahan, meski reputasi
Biak yang mengerikan itu sebagian tetap benar. Orang-orang Biak pada
masa lalu adalah pandai besi yang berpindah-pindah, pedagang dan
sewaktu-waktu menjadi pengikut Sultan Tidore. Sekarang kebanyakan
masyarakat menjadi nelayan, pemburu, dan petani yang berpindah-pindah
dengan mudah antara darat dan laut.

Pelaut selalu mendapat posisi yang khusus dalam masyarakat Biak.
Diceritakan bagaimana nenek moyang orang Biak mendayung perahu ke
barat atau selatan manuju Seram, Timor, dan bahkan ke Singapura untuk
mencari harta karun dan budak. Melancong ke "tanah asing' masih
menjadi kebanggaan sekarang dan kualifikasi terbaik untuk menjadi
pemimpin lokal seringkali berupa "pengalamannya di luar". Namun, lebih
penting lagi dari sekedar melancong, adalah bagaimana pengalaman ini
dapat "diterjemahkan" untuk konteks lokal. Para pelancong harus
membuktikan petualangan-petualangan mereka dengan benda-benda,
gelar-gelar, dan teks-teks: porselin China dan Eropa digunakan untuk
mas kawin dan alat tukar menukar dalam upacara; gelar yang diberikan
oleh Sultan Tidore diwariskan, ditukar, dan dijual oleh sanak keluarga
dari yang menerima gelar; kata-kata asing, frasa-frasa, dan
potongan-potongan dari khotbah (yang dihafal dalam kunjungan ke tempat
misionaris) dapat dimasukkan ke dalam cerita-cerita atau lagu-lagu.
Seorang misionaris dan antropolog belanda, F.C. Kamma, menulis:
"orang-orang biak menganggap sesuatu sebagai hal yang aneh hanya bila
hal itu belum menjadi milik mereka. Tetapi, begitu benda tersebut
'dikuasai', pemiliknya itu dianggap memiliki harkat yang sama seperti
yang dimiliki oleh pembajak laut pada masa lampau". Dalam pencarian
status, masyarakat Biak memberikan nilai positif kepada semua elemen
asing, dan benar- benar menyerap elemen-elemen itu, bukanlah hanya
menempelkannya.

Pada jaman ini, orang-orang Biak banyak yang menjadi pilot, ilmuwan,
rektor universitas, dan bintang-bintang sepakbola. Banyak di antara
mereka adalah keturunan dari guru-guru pribumi. Pada tahun 1950-an,
saat usaha-usaha awal untuk mengembangkan daerah tersebut secara
serius, orang Belanda sudah menganggap penduduk Biak sebagai
"orang-orang papua yang paling terpengaruh Barat". Namun orang Biak
masih mempertahankan nilai-nilai dan gaya berpikir lokal mereka. Mas
kawin masih mencerminkan dan menciptakan hubungan-hubungan sosial.
Seorang pegawai negri masih akan meliburkan diri untuk menunggu di
bandara dengan satu kotak umbi taro bagi sanak familinya yang
melancong, oleh-oleh yang bersifat feminin ini melambangkan ikatan
hubungan antara seorang laki-laki dengan saudara petempuan serta
ikatan antara keturunan-keturunan mereka. Seorang paman di Jayapura
mungkin masih bisa memberikan "gelar" pada keponakannya dengan
membiayai kuliahnya di Universitas. Batas-batas antara perkotaan dan
pedesaan Biak tetap dapat ditembus. Penduduk kota kerap kali
mengunjungi sanak keluarganya di desa dan banyak menyumbang pada
proyek-proyek desa. Orang-orang desa gemar sekali berkunjung ke kota
Biak untuk berjualan di pasar, mengunjungi sanak keluarga dan
berbelanja. Namun kedua lingkungan ini tetap mempertahankan
kualitasnya masing-masing. Tidak banyak uang beredar di desa-desa,
dimana mata pencaharian mereka tergantung pada pengaturan barter dan
produksi secara tradisional.

Pesta-pesta megah yang pernah menandai kehidupan sosial masyarakat
Biak sekarang merupakan sesuatu yang telah lampau. Namun, upacara
perkawinan, ulang tahun atau keselamatan pulang dari perjalanan masih
dirayakan dengan kegiatan makan dan minum, menari dan menyanyi
sepanjang malam. Pada masa lalu, nyanyiannya adalah wor. Sekarang
lagu-lagu gereja dan yospan telah menggantikan fungsi wor dalam
kebanyakan perayaan yang diadakan. Tidak mengherankan dengan
kemunduran yang terjadi dalam waktu yang panjang dari genre yang tua
ini; yang lebih mengherankan adalah kehidupannya yang tetap hadir
selama berpuluh-puluh tahun, atau bahkan abad, meskipun ia dilarang
keras. Misionaris yang datang ke teluk Cendrawasih tahun 1855
menemukan "orang-orang kasar tanpa agama","yang membuat pantai-pantai
bergema dengan lagu-lagu perang mereka dan dengan gemuruh gendang dan
suara yang berat, yang mengumandangkan bait-bait kemenangan mereka".
Para misionaris bekerjasama untuk menghapus bentuk-bentuk nyanyian
asli , yang mereka anggap terikat dengan peperangan antar kelompok.
Kalau bisa tetap selamat dari peperangan ini, wor pasti telah memiliki
kedudukan yang kokoh dalam masyarakat lokal, sebagaimana kita akan
melihat jika sekarang kita beralih ke masalah musik masyarakat biak
pada masa lampau.


BAB IV
STRATEGI MEMBAWA INJIL KE SUKU BIAK

Suku biak adalah suku yang memiliki budaya yang disebut Wor. Wor ini
sangat terkenal, wor ini adalah upacara yang biasa di lakukan oleh
suku biak sebagai satu ucapan syukur. Melihat dari latar belakang maka
penulis mengambil kesimpulan bahwa ketika penulis akanmelakukan
pelayanan disana engan mengunakan stratagi wor ssebagai jembatan untuk
memberitakan injil.


BAB V
PENUTUP

A. kesimpulan
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kebudayaan inti atau fokus
kebudayaan orang Biak sesungguhnya adalah pelaksanaan wor. Jika wor tidak
dilaksanakan berarti semua sistem kehidupan dan aktivitas hidup orang Biak
akan menjadi lumpuh total, tidak akan bergairah lagi dan akhirnya totalitas
kebudayaan Biak akan punah.
Makna tersirat dalam diskusi ini adalah bahwa akibat dari intervensi
kebudayaan-kebudayaan dominan dan adanya larangan untuk membatasi
berbagai upacara ritual wor Biak, maka fokus dan dinamika kebudayaan Biak
pun punah. Hilanglah makna upacara yang mempertebal perasaan kolektif dan
integrasi sosial orang Biak.

B. Saran
Biarlah dari makalah ini dapat memberikan satu inspirasi bagi setiap
orang yang punya hati dalam pelayanan kontekstual. untuk masuk kedalam
budaya suatu daerah harus melalui konteks budaya setempat.

PERTOLONGAN DI SETIAP PERSIMPANGAN JALAN

Tugas Kelopok : Artikel
Nama : Martinus, Marni, Railon
Sumber : majalah Bahana hlm. 12-13

PERTOLONGAN DI SETIAP PERSIMPANGAN JALAN

Kesulitan hidup mengajar Berliana Renta Simangunsong tak bosan
berjuang. Berjalan berkilo-kilo meter mendatangi rumah-rumah, mencari
dan membeli pakaian bekas. Menjualnya kembali ke pasar tanah Abang.
Setelah 11 tahun, tiga tahun lalu, Renta memiliki 2 kios yang saban
hari didatangi orang-orang yang bekerja seperti dirinya beberapa tahun
lalu.

Sering peristiwa buruk datang tak terduga. Keadaan yang nyaman,
tiba-tiba berubah menjadi sebaliknya. Setelah menika tiga tahun, suami
Renta Samuel Lewerissa yang bekerja dibagian perusahaan minyak di
Dumai tersandung PHK tanpa sebab yang jelas. Yang melakukan
ketidakjujuran temannya, tetapi suaminya yang kena imbas. Oleh
beberapa orang suaminya disuruh klarifikasi dan minta maaf tapi dia
tidak mau. Dia tidak mau minta maaf untuk kesalahan yang tak
dilakukannya. Keuangan keluarga ini terguncang karena selama ini
penghasilan Samuel lumayan besar. Sedangkan istrinya tidak bekerja
Karena dia hanya sebagai ibu rumah tangga.

Kemudian keluarga ibu Renta pindah ke Jakarta dengan maksud mencari
kehidupan yang lebih baik. Mereka tinggal bersama-sama kakak laki-laki
Samuel, suaminya. Keadaan ekonomi saudara Samuel lumayan baik. Samuel
dicarikan saudaranya pekerjaan tetapi selalu tidak betah dan akhirnya
dia selalu bertengkar dengan istrinya. Karena Renta berputus asa,
Renta nekat bunuh diri dengan cara minum racun.Tetapi syukur jiwa
Renta tertolong oleh seorang yang mengenalinya pada saat melihat renta
sedang pingsan. Kemudian Renta dilarikan kerumah sakit Cipto
Mangunkusumo selama 3 minggu. Kulit dan bibirnya mengelupas serta
pipinya terasa panas kemudian renta meminta ampun kepada Tuhan karena
ia menyadari apa dia lakukan adalah tindakan yang bodoh.

Ketika keadaan sudah mulai membaik, ibu Renta mengambil komitmen
untuk berjualan dengan modal seadanya. Setelah itu suami dan
anak-anaknya datang lagi karena sakit komplikasi diusus, ginjal, dan
liver, pada akhirnya suaminya meninggal. Renta berpikir akan pulang
kampung, tetapi kakak dari suaminya menawarkan untuk tetap tinggal di
Jakarta dan mereka bersedia untuk membiayai kehidupan seharai-hari dan
biaya sekolah anak-anaknya. Tetapi, kenyataan yang dihadapi oleh Renta
dan anak-anaknya tidak seperti yang dijanjikan. Kemudian Renta dan
anak-anaknya pamit dari keluarga Samuel, dengan berjalan kaki melewati
jembatan kalisari air matanya terus jatuh, anak-anaknya mengeluh
lapar. Kemudian dia mengajak kelima anaknya untuk berhenti dan
berpikir untuk menyuburkan diri bersama kelima anaknya. Namun
terdengar suara yang mencegah tidakan nekat itu dan ia ingat pada
Tuhan. Kemudian mereka naik bus karena tempat duduk penuh mereka
berdiri serta anak-anaknya terus meminta makan. Renta terus menangis
sesenggukan.

Penumpang mulai turun, seorang ibu Parubaya menawari duduk
disebelahnya dan bertanya kenapa kamu menangis? Renta bercerita.
Kemudian ibu itu berkata jangan kamu menangis, disinilah kita
dipertemukan Tuhan. Percaya saja kamu pada Tuhan, Dia pasti menolong.
Kemudian mereka turun ibu Renta dan anak-anaknya, diajak makan oleh
seorang ibu tadi dan mereka diberi uang taksi Rp 300.000.
Dengan uang yang mereka dapatkan dari ibu itu, mereka pakai untuk
membeli baju-baju bekas,kemudian berkembang sampai ibu Renta bisa
membeli 2 kios seharga Rp. 60 juta. Dia beryukus atas pertolongan
Tuhan. Anak-naknya semua sekolah bahkan sudah ada yang bekerja.

Penderitaan apapun yang kita alami kita harus tahu bahwa Tuhan tidak
pernah meninggalkan kita sedetik pun, dan satu hal yang harus kita
tahu bahwa Tuhan mengijinkan masalah terjadi dalam kehidupan kita.
Namun Ia tidak pernah memberikan masalah diluar kemampuan kita. Dan
Tuhan dapat memakai siapa saja untuk dapat menolong kita.


KAWAN YANG SEJATI

Dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan semakin canggi dari
anak-anak sampai orang tua menikmati alat atau sarana hidup yang
semakin praktis, akses apa saja mudah dapat untuk mendapatkannya
itulah dunia maya. Ada seorang yang mengatakan bahwa dia mempunyai
banyak sekali teman didalam pergaulannya, dalam pekerjaannya, terlebih
di dalam face book, menurut FACE BOOK temannya sudah mencapai 448
orang.
Tetapi jumlah itu masih kalah dengan seberapa orang yang dia kenalnya,
mereka memiliki teman dari dunia maya lebih dari seribuh, dua ribuh
bahkan lima ribuh orang. Sehingga ada yang harus membuat akun kedua.
Hebat zaman sekarang betapa gampangnya memilki seorang teman tingal
add friend (teman), jalin komunikasi lewat comen, lewat chetting,
lantas hanya berlalu begitu saja, setelah dikatakan telah sebelumnya
bahwa teknologi hanya memudahkan segalanya. Yang penting hanya
melontarkan syafaan pembukaan berupa Hei, lagi ngapain?, apa kabar?,
dan syafaan lainnya.

Jika teman yang disapa sedang sibuk, biasanya ia tidak membalas,
tetapi itukan wajar saja, karena masih banyak teman yang bisa diajak
ngobrol sebagian besar orang hanya sebatas kita kenal, kita hanya
ingin menghabiskan waktu tukar pikiran, siapa tahu dapat pencerahan
baru dari interaksi tersebut.

Kehidupan ini seperti perjalanan panjang penuh dengan liku-liku,
tebing disisi dalam jurang disisi luar kadangkala jantung dipacu
sangat cepat ketika melewati belokan tajam,. Atau ketika menanjak
bukit terjal, menuruni lembah kelam. Tidak disangkali bahwa kita
membutuhkan teman yang baik, yang mau diajak ngobrol demi melenyapkan
ketakutan, Namun menyenangkan hati yang risau dan galau. Teman yang
mengajak kita menertawakan kegagalan-kegagagalan masa lalu, stabil
terus memandang optimis ke depan, namun, banyak jenis teman didunia
ini beberapa silih berganti datang dan pergi tanpa dibatasi waktu.

Beberapa menghilang disaat susah atau pergi disaat kita sibuk, ada
juga beberapa orang yang menghapus kita dari hidupnya seperti
segampang menghapus seseorang dari akun facebooknya. Penyebabnya
sangat sederhana hanya karena tidak sehati atau tidak saat
pandangan/pikiran, tapi ada satu Teman yang tetap setia dalam segala
situasi, baik diwaktu senang, susah, sibuk, dan segala aktifitas hidup
kita, waktunya tidak terbatas untuk selalu setia untuk menemani kita
Ia adalah Tuhan Yesus. Dialah yang setia penuh kasih, lemah lembut,
dan memberikan keselamatan hidup kita.

Sudahkah Anda menjadi teman-Nya? Cara sangat sederahana berdiam diri,
berdoa, dan menerimah Dia untuk menjadi pemimpin hidup kita.
















SETIA MELAYANI WALAU DALAM KETERBATASAN


Kitab suci mengatakan,"sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk
dilayani, melainkan untuk melayani untuk memberikan nyawanya menjadi
tebusan bagi banyak orang". (Mat. 20:28), dengan Firman Tuhan ini
sangat jelas bahwa kita orang percaya memiliki tugas untuk mewartakan
kabar baik.
Melayani di daerah terpencil memang butuh kesiapan dan keberanian.
Selain itu, kepercayaan dan penyerahan total kepada Sang khalik, jadi
modal utama. Sejarah mencatat, meski terdengar banyak Martir yang
gugur, namun selalu ada beni-beni yang bertumbuh subur. Orang-orang
baru yang mengenal Tuhan bermunculan dimana-mana, lewat korban nyawa
yang telah dibayar mahal, banyak jiwa yang mengenal Dia yaitu Yesus
Kristus yang adalah tokoh sentral pembertaan Injil.
Sebuah kesaksian yang menarik dari seorang penulis artikel ini ketika
tahun 2001 setelah ia menyelesaikan kulia regular, dia diutus Yayan
Pelayanan di Desa Terpadu (PESAT), untuk pelayanan tahunan, yang
merupakan salah satu prasyarat untuk lulus program diploma 2. Tuhan
berkenan membuka tempat baginya di sebuah suku yang terletak di
perbatasan di Sulaweli tengah dan Provensi Gorontalo. Dia bersama
dengan tiga rekannya, masuk ke suku itu.
Mereka masuk suatu Desa yang sangat sepi jauh dari kota dan keramaian
transportasi sangat sulit MCK tidak tersedia, di tambah pemadaman
lampu yang terjadi setiap malam, setelah surya tenggelam semua
aktifitas harus berhenti, pada suatu malam, seperti hari-hari
sebelumnya dengan hawa dingin gelap gulita tanpa menyala lampu dia dan
seorang rekan perempuan memilih istirahat lebih awal.
Tiba-tiba, ketukan keras dan kasar dari luar di pintu depan , sangat
keras membuat mereka terbangun, muncul beberapa orang pemuda yang
belum pernah kenal sebelumnya. Dengan hitung menit saja, tiba-tiba
jumlah banyak orang yang berada di luar rumah bertambah banyak, entah
dari mana mereka berasal, situasi dan panik dan takut memenuhi
perasaan mereka seorang aparat desa mengatakan bahwa kami akan
melakukan pemeriksaan di rumah ini.saat kegaduhan terjadi dalam
kegelapan, terdengar suara dari luar bakar, bakar, bakar……..,
bakar..... terbersit diangannya, apakah ini akhir dari pelayananku
kepada Tuhan dalam langkah, dengan langkah, konta gontai,
tertatih-tatih, hati saat berteriak dalam kegelapan mengapa ini
terjadi? Lari………. Ada kata yang muncul dari dibenaknya. dia dan
seorang temannya keluar dari pintu belakang rumah. Tanpa menggunakan
sandalpun sudah tak terasa lagi. Melewati hutan kecil, semak beluk dan
pagar kawat menjadi pilihan kami.
Namun kekuatan dari Tuhan melingkupinya , sehingga timbul keberanian
dan kesanggupan yang luar biasa. Kemudian mereka kembali memutuskan
kembali ke rumah kontrakan itu, banyak orang disana, menanggu kedangan
mereka. Mereka diintrogasi didalam ruang tertutup, supaya massa jangan
masuk. Dalam situasi pelik seperti ini, Tuhan memakai salah seorang
perangkap Desa yang berpengaruh di desa itu sehingga dia menjadi
penengah diantara mereka.
Situasi panas dan mencekam dapat diredahkan atas pertolongan Tuhan
melalui bapak itu. Dengan situasi mereka mulai mencari solusi keluar
untuk mencari tempat lain di desa-desa sekitar.
kesimpulannya
Degan adanya cobaan yang kita alami banyak sekali pengalaman dan
pelajaran yang dapat kita petik. Bila melihat pelajaran dan peristiwa
yang dialami oleh penulis artikel ini kita dapat belajar bahwa Tuhan
hendak memperluas pelayanan kita dalam menjangkau jiwa-jiwa, untuk itu
jangan pernah mundur hanya karena tantangan.
Dalam situasi yang terjadi kesempatan untuk memberitakan injil tidak
pernah putus. Dengan demikian Tuhan pemberitaan injil dapat
disampaikan melalui apa yang menjadi keputusan kita.


Sumber : Majala Bahana
Halaman : 27.

Pasang Lambek “Kotoran bisa menjadi emas”

Nama kelompok : Marni & Theresia Tutik

Amati suatu daerah pelayanan, kembangkan daya pikir holistic saudara
kemudian rancangkan suatu model pelayanan holistik untuk menjawab
kebutuhan daerah pelayanan yang saudara amati.

Pasang Lambek "Kotoran bisa menjadi emas"
Daerah yang kami amati adalah daerah kami sendiri yaitu Kampung Pasang
Lambek. Arti dari nama Pasang Lambek Yaitu "Pasang" artinya lahan
kosong yang luas, sedangkan "Lambek" artinya panjang. Jadi dari arti
nama kampung tersebut sudah sangat jelas mempunyai potensi yang baik
untuk dikembangkan.

Kampung Pasang Lambek ini berada di lembah yang dikelilingi dengan
hutan dan gunung yang sangat subur. Hutan yang ada disekitar kampung
ini sangat kaya dengan sumber daya alam dan itu sudah dimanfaatkan
dengan baik. Dengan bercocoktanam misalnya, kopi, coklat, durian,
kemiri, langsat, jagung, padi ladang.
Namun di dalam kampung itu sendiri seperti dari arti namanya kurang
dimanfaatkan dengan baik karena masih banyak lahan yang sebenarnya
bisa dimanfaatkan namun tidak diolah dengan baik.

Salah satu faktor yang membuat mereka tidak mengolah lahan yang ada
disekitarnya adalah dengan alasan bahwa tanah tersebut kurang subur,
memang dulunya tanah yang ada sangat subur namun karena seringnya
menggunakan pupuk kimia akhirnya lama kelamaan tanah tersebut mulai
bergantung pada pupuk.

Masyarakat yang ada di kampung ini juga sepertinya sangat gengsi untuk
memanfaatkan kotoran-kotoran yang ada seperti kotoran babi dan kerbau.
Sebenarnya kotoran-kotoran ini bisa digunakan sebagai pupuk organic
namun karena gengsi mereka dan juga pemahaman mereka yang sangat
kurang akhirnya mereka tidak bisa melihat potensi yang ada pada
kotoran tersebut.

Dari permasalahan di atas kami merencanakan dengan apa yang sudah kami
dapatkan di SAPPI. Kami akan memulai pelayanan kami dengan
memanfaatkan hal-hal yang tidak dianggap oleh masyarakat, khususnya
dalam pemanfaatan kotoran-kotoran hewan (babi, kerbau) untuk bisa
digunakan sebagai pupuk organik dan juga biogas. Selain itu banyak hal
yang dapat dikembangkan dari hasil pertanian, misalnya pemanfaatan
jahe karena selama ini jahe hanya digunakan sebagai rempah-rempah dan
minuman sara'ba.

Hari Keberuntungan

Penganut budaya ini beranggapan bahwa ada hari-hari tertentu yang bisa
memberikan keberuntungan dan juga ada hari-hari tertentu yang bisa
menimbulkan hal-hal yang tidak baik apabila mereka mulai mengerjakan
sesuatu pada hari tersebut.
Khususnya masyarakat yang kami amati di kampung Salutik, mereka sangat
percaya akan hal tersebut, sehingga ada orang-orang tertentu yang
dipercaya bisa menentukan dan melihat hari/bulan/tahun yang sesuai dan
dianggap bisa memberikan keberuntungan. Misalnya menentukan waktu
pernikahan, bercocok tanam, membangun rumah, panen dll. Semuanya ini
harus sesuai dengan petunjuk dari orang yang dipercaya bisa melihat
waktu yang dianggap bisa memberikan keberuntungan.

Masyarakat yang ada di sana mayoritas beragama Kristen, namun
kehidupan mereka juga masih terlibat dengan hal-hal yang disebutkan di
atas. Bahkan majelis sendiri pun masih mempraktekkan hal-hal yang
demikian.

Pola kehidupan dari masyarakat Salutik yaitu dengan bertani dan
beternak. Ini merupakan suatu kekuatan/potensi yang bisa dikembangkan,
karena mereka hanya mengolah lahan dan beternak dengan alat dan cara
yang masih sangat sederhana dan masih banyak lagi yang bisa
dikembangkan.

Dengan pola kehidupan yang demikian mereka menjalin hubungan sosial
dengan baik. Rasa kekeluargaan bisa terbangun melalui gotong royong.
Metode yang akan digunakan adalah melakukan pendekatan kepada
orang-orang tertentu agar kita dapat mengubah pola pemikiran mereka.
Sebenarnya bukan harinya yang tidak baik tetapi misalnya jika dalam
bercocok tanam mungkin musimnya tidak sesuai. Misalnya seseorang akan
menanam padi sawah pada musim kemarau maka hal ini tentunya tidak
sesuai dengan waktunya.

Sangat penting menekankan bagi mereka bahwa semua hari diciptakan
Tuhan itu baik. Apabila mereka mengalami kegagalan itu tidak
disebabkan oleh waktu/hari di mana memulai pekerjaan tersebut tetapi
ada begitu banyak faktor yang dapat mempengaruhinya.

22 April 2013

PELAYANAN HOLISTIK BAGI ANAK PUTUS SEKOLAH

PELAYANAN HOLISTIK BAGI ANAK PUTUS SEKOLAH DISEBABKAN KARENA
KEMISKINANA DI DAERAH PINRANG,


DISUSUN
MARNI
NPM: 20100111


TUGAS INI DIBUAT UNTUK MEMENUHI TUGAS MAKALAH MISIHOLISTIK YANG
DIBIMBING OLEH ADRIANUS PASASA





SEKOLAH TINGGI TEOLOGI
SEKOLAH ALKITAB PENGEMBANGAN PEDESAAN INDONESIA
( STT SAPPI )
Cianjur, Maret 2013


BAB 1

PENDAHULUAN


1. Latar belakang pendidikan orang tua
Latar belakang pendidikan orang tua, adalah hampir dikatakan rata-rata
orang tua mereka adalah semua petani dan tidak ada pekerjaan bahkan
ada yang tidak mempunyai lahan sendiri, tidak sekolah. Sehingga banyak
dari anak-anak tidak dapat sekolah disebabkan latar belakang orang
tua yang tidak mempunyai kemampuan untuk membiayai anak-anaknya dalam
bangku pendidikan.

2. Tujuan Masalah
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui dan bagaimana
peranan pemerintah daerah dan hamba Tuhan dalam pemberdayaan masyarkat
khususnya dalam pengentasan anak putus sekolah, di Kecamatan Lembang
Kabupaten Pinrang. Anak putus sekolah di Kecamatan Lembang Kabupaten
Pinrang, ada begitu banyak sehingga penulis mempunyai kerinduan untuk
dapat melihat anak yang putus sekolah, disebabkan oleh karena
kurangnya biaya, atau karena keadaan ekonomi.

3. Rumusan masalah
Untuk mencapai derajat anak yang putus sekolah dan bisa sekolah
kembali yang sertinggi-tingginya, sangat diperlukan perhatian dan
tanggung jawab dari Pemerintah terhadap pelaksanaan pelayanan.
Masyarakat merupakan komponen yang sangat penting dalam pencapaian
tujuan dan hasil dari pelakasanaan kebijakan pelayanan kepada anak
putus sekolah. Olehnya itu Penulis membatasi permasalahan dengan
lingkup sebagai berikut :
1. Bagaimana persepsi Masyarakat terhadap Kebijakan pelayanan anak
putus sekolah Masyarakat Pinrang ?
2. Apa faktor yang mempengaruhi pelayanan anak putus sekolah di Pusat
Masyarakat Pinrang ?


Bab II

KEMISKINAN


1. Pengertian Kemiskinan
"Kemiskinan adalah kekurangan dana untuk biaya hidup, misalnya,
kekurangan dana untuk membeli makanan, membayar sewa rumah tinggal,
membeli pakaian, membiayai pelayanan, kesehatan dan pendidikan, serta
kepentingan hidup lainnya".
Kemiskinan yang terjadi karena pendapatan yang rendah yang di sebabkan
oleh berbagai macama soal hidup, misalnya lahan tidak ada/kecil, tidak
ada pendidikan, tidak ada keterampilan, pekerjaan, menjadi
pengangguran. Dan disebabkan karena malas. Banyak anak-anak yang
menjadi depresi oleh karena tidak sekolah mereka sedang sekolah tetapi
karena biaya tidak cukup menjadi malu,dan tertekan disebabkan karena
biaya hidup sekolah kurang, pendapatan orang tua tidak menjamin
sekolah anak-anak.

2. Kondisi obyektif anak putus sekolah
Kondisi obyektif anak putus sekolah di Kecamatan Lembang " mencapai
angka 979 anak, terdiri dari tingkat SD berjumlah 166 anak, SMP 372,
dan SMA 441 anak" . Begitu menyedihkan kalau kita dapat melihat
keadaan seperti ini. Pertanyaannya ini tanggungjawab siapa? Dimana
masa depan anak sangat berkurang oleh karena kondisi dari keluarga
mereka.
Dengan adanya penelitian penulis berharap akan adanya perkembangan
yang akan diperoleh dan dapat membantu bagi anak putus sekolah karena
keadaan ekonomi. Masa depan anak menjadi terhambat, bahkan boleh
dikatakan bahwa masa depan anak adalah suram. Merupakan sangat
menyedihkan anak-anak ini mereka hanya dapat berputus asa dan banyak
yang menjadi pengangguran, dan membantu orang tua, bahkan ada begitu
banyak menjadi anak jalanan.
'Berusia sekitar dua sampai 15 tahun. Mereka umumnya tidak lagi
mengenal dunia pendidikan dan dunia keluarga. Mereka tidak mengenal
dunia pendidikan. Mereka tidak mengenal lagi dunia bermain dan
sebagainya. Mereka berhadapan dengan kekerasan di jalanan setiap hari.
Kita bisa bayangkan anak-anak pada usia dua tahun terpaksa harus
menghidupi diri sendiri dan keluarganya dengan menghadapi kekerasan
yang begitu luar biasa.

3. faktor penyebab anak putus sekolah
'Situasi anak putus sekolah cukup memprihatinkan karena sampai hari
ini masalah-masalah anak, khususnya pada anak-anak yang berada di
jalanan ini yang tidak mempunyai keluarga,dan bahkan menjadi tulang
punggung keluarganya sendiri, belum mendapat perhatian yang serius
dari pemerintah. Jumlahnya terus-menerus meningkat. Bahkan pemerintah
sendiri tidak punya data.



BAB III
JAWABAN PELAYANAN HOLISTIK ANAK PUTUS SEEKOLAH


Berdasarkan 4 kasus yang ditemukan penulis, faktor yang menjadi
penyebab anak tidak atau putus sekolah adalah:

1. Lemahnya ekonomi keluarga
Orang yang jujur biarpun miskinnya ia adalah raja karena kejujurannya.
Dari ketulusan hatinya ia dapat membuktikan, dari sikapnya, namun yang
sering kali terjadi adalah orang yang miskin semakin ditindas dan dari
kepolosannya orang kya dapat memanfaatkan mereka, sehingga yang
terjadi adalah orang miskin semakin miskin dan orang kaya akan semakin
kaya. Karena dari kekayaannya ia dapat berkuaasa.
Orang miskin sering kelaparan dan tidak dapat makan dan kita sering
melihat banyak orang miskin banyak meninggal karena kelaparan. seperti
dalam " Lazarus, orang miskin, berbaring sakit didepan pintu seorang
kaya dan berharap mendapat sesuatu yang jatuh dari meja orang kaya
itu, untuk sekedar menghilangkan rasa laparnya itu (Luk. 16:20).
Gambaran tentang orang miskin dapat kita lihat di dalam, " Perjanjian
Baru kemiskinan pada dasarnya, orang-orang miskin itu sangat miskin,
mereka hidup begitu saja diujung batas hidup , mereka sering disamakan
dengan orang-orang yang sakit para tidak bisa ngapain-ngapain lagi,
cacat, hanya dapat berpakaian seadanya dan hanya dapat membutuhkan
orang lain" . Itulah yang sering di samakan dengan orang miskin tidak
dapat berbuat apa-apa hanya mereka bisa menantikan pertolongan. Inilah
yang membuat anak-anak banyak putus sekolah.
"Salah satu sifat yang dipuji dan dihargai orang ialah kejujuran. Jika
kita berterusterang dan tulus kemungkinan besar orang-orang menaruh
kepercayaan. Tak seorangpun mau mempercayai orang yang ia tidak rasa
tidak jujur. Apabila seorang merasa bahwa kita adalah seorang yang
jujur sehingga ia dapat empercayai kita. Keadaan dapat dipercayai
merupakan suatu faktor yang penting sekali dalam menimbulkan
kepercayaan diantara sesama manusia.

2. Kondisi lingkungan tempat tinggal,dan teman bergaul
Lingkungan sosial, ekonomi masyarakat yang tidak kondusif dapat
menjadi biang keladi dari kegagalan kinerja kebijakan. Karena itu
upaya untuk meningkatkan masyarakat untuk dapat bangkit dari
hidupnya,kebijakan harus pula memperhatikan kondisi lingkungan agar
eksternal.
Oleh karena itu kaum miskin kebanyakan menjadi korban keadaan atau
juga menyumbang terhadap kemiskinan mereka. Sehingga dapat pula
terpengaruh dari teman sepergaulannya. Oleh karena itu pandangan kita
dalam dunia pendidikan mereka sangat rendah sehingga banyak anak-anak
putus sekolah.
Oleh pengaruh dari lingkungan sehingga membuat anak-anak tidak sekolah
dan biaya/dana tidak cukup. Dan pengaruhnya dari sini kebanyak
orang-orang miskin menjadi minder menjadi malu karena tetangga.
Sehingga banyak mengalami saat putus asa. " Setiap orang pernah
mengalami saat-saat dimana ia merasa bingung atau putus asa. Mungkin
kita semua pernah mengalami saat dimana segala sesuatu tampaknya serba
salah".
Orang yang mengalami putus asah bukan hanya karena masalah banyak atau
di kagetkan, tetapi bisa juga karena dari kemiskinan atau putus
sekolah. " Orang yang mengalami putus asah sehingga depresi tidak
hanya mengalami ketidakbahagiaan secara pribadi tetapi
ketidakmampuannya untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan atau
menggerogoti dari kehidupannya ".
Sukar sekali bagi kita untuk dapat memahami orang yang sedang putus
asa, apabila kita sendiri tidak pernah mengalami hal yang demikian.
Orang-orang tersebut sering mengkritik tetapi mereka sesungguhnya
tidak tahu apa yang mereka lakukan, dan mereka merasa sudah
bersukacita karena sudah mengalami kesenangan dan tidak pernah tahu
bagaimana sesungguhnya kehidupannya.

3. Pandangan masyarakat mengenai pendidikan.
Pandangan masyarakat megenai pendidikan adalah sangat bagus namun
mereka hanya berpasra diri karena mereka sudah melihat keadaan mereka.
Dari sinilah kita dapat memperhatikan sebenarnya apa yang menjadi
tugas dan tangungjawab dan Peranan pemerintah daerah Kabupaten Pinrang
dan hamba Tuhan. Dalam mengatasi, sulusi untuk mencari jalan keluar
agar masyarakat dapat terbuka dalam dunia pendidikan. Dan membantu
masyarakat untuk keluar dari masalahnya.

4. Membuat suatu kebijakan untuk mengentaskan anak putus sekolah.
Salah satu langkah strategi yang harus penulis lakukan dalam
mengetaskan/menyelesaikan anak putus sekolah yang disebabkan oleh
karena kemiskinan, dalam upaya untuk memotong mata rantai lingkaran
setan, kemiskinan adalah dengan meningkatkan pendidikan anak keluarga
miskin.
Bantuan kepada mereka yang akan diberikan, penulis tidak akan langsung
untuk memberikan dalam pembebasan biaya/dana, disisi lain penulis
tidak mempunyai modal tetapi penulis akan melakukan. Pertama
mengumpulkan anak-anak ,Mencari dana, melalui media juga, dalam
melakukan pembinaan, les anak-anak, untuk pembelian buku, dan
peralatan sampai mereka akan selesai. Anak-anak keluarga miskin akan
diberikan keterampilan yang memadai, sehingga setelah lulus mereka
dapat bekerja. Dan meminta bantuan kepada aparat pemerintah setempat.
Penulis juga bisa masuk dalam berbagai keterampilan, dalam bentuk
pencarian dana dan melalui membuat produk yang akan penulis lakukan
dan supaya penulis dapat membantu. Dengan adanya program bantuan yang
dibuat diharapkan dapat berjalan dengan baik.


BAB IV

PENUTUP

1. Kesimpulan

Yang menjadi kesimpulan saya adalah banyak hal yang harus kita lakukan
dalam melayani,seperti Optimalisasi dalam melakukan pelayan bagian
pendidikan bagi masyarakat msikin, dan anak putus sekolah. Pelayanan
yang dilakukan bukan hanya dimibar, tetapi, Pelayanan pada hakikatnya
adalah serangkaian kegiatan, karena itu ia merupakan suatu proses.
sebagai proses pelayanan berlangsung secara rutin dan
berkesinambungan, meliputi seluruh kehidupan orang dalam masyarakat.
Pelayanan adalah usaha melayani kebutuhan orang lain dengan penuh
kerelaan tanpa mengaharapkan imbalan.

2. Saran
Melalui makalah yang penulis buat, maka penulis akan memberikan saran:
a. Pemerintah dan hamba Tuhan
Pemerintah dan hamba Tuhan agar dapat lebih aktif atau memperhatikan
bagi anak yang putus sekolah. Supaya anak-anak tidak putus sekolah
hanya karena factor biaya, tetapi mereka juga dapat menikmati
pendidikan.
b. Orang tua
Melalui pelayanan holistik yang dilakukan penulis berharap agar orang
tua tidak lagi merasa minder/malu, oleh karena keadaan yang
menyebabkan mereka merasa tidak mampu, tetapi mereka dapat bangkit
memikirkan apa harus dilakukan dalam masalah keluarganya, dan dapat
menyekolahkan anak-anaknya. Supaya anak-anak dapat sekolah kembali dan
tidak mudah putus asah, tetapi anak-anak ini dapat terbuka dan melihat
masa depan mereka.

KUMPULAN KOTBAH DAN PUJIAN PENYEMBAHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA

  LINK KUMPULAN KOTBAH / RENUNGAN FIRMAN TUHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA (PAS)   1.        HIDUP YANG SUDAH DIBAHARUI https://www.youtu...