22 Oktober 2012

KARL BARTH

Karl Barth dilahirkan di Eropa daratan (Basel, 1886; meninggal 1968),
dia dibesarkan di dalam gereja Reformed dan berada di sayap liberal.
Barth belajar dibawah guru liberal yang cukup penting pada zamannya.
Semasa hidupnya Barth telah menulis lebih dari 500 buku, artikel dan
makalah-makalah. Tetapi karyanya yang terbesar di sepanjang hidupnya
adalah Chruch Dogmatics. Karya ini terdiri dari 4 jilid utama, yang
masing-masing terbagi lagi menjadi 4 bagian, karya ini membicarkan
tentang Firman Allah, Allah pencipta dan pendamaian.

Sejak tahun 1859 iman Kristen sudah menghadapi gempuran yang berat.
Terbitnya "The Origin of Species" dari Charles Darwin telah mengubah
konsep dan sikap manusia terhadap agama dan hal-hal yang metaphysical.
Evolusi bukan hanya dimengerti dalam hubungan dengan kontinuitas
antara manusia dengan makhluk-makhluk lain. Evolusi bahkan menjadi
pusat dari proses perkembangan kebudayaan manusia. Dari manusia yang
immature, yang hidupnya beroritentasi pada agama, kepada manusia yang
dewasa dengan orientasi lain (science) dan ilmu pengetahuan. Dengan
kata lain, agama tidak lagi merupakan kebutuhan manusia zaman sain dan
teknologi ini. Mulai sejak itu umat Kristen kehilangan keberanian
untuk membela agama mereka. Umat Kristen dipaksa untuk membela iman
(bukan agama) dengan penjelasan-penjelasan yang ilmiah. Akibatnya
unsur metaphysical disingkirkan dari iman Kristen dan lahirlah iman
Kristen tanpa Allah yang supranatural.

Keadaan ini sangat tidak menyenangkan. Karl Barth melihat bahwa
kematian agama Kristen sudah di ambang pintu. Sebagai pendeta Reformed
ia sangat peka dengan apa yang sedang terjadi. Tahun 1918 ia
menerbitkan "The Epistle to the Romans," suatu usaha untuk membela
iman Kristen di tengah dunia yang sinis terhadap hal-hal yang
metaphysical dan transendental. Ia menekankan bahwa agama tidak sama
dengan iman. Agama (termasuk agama Kristen) adalah manifestasi dari
natur manusia "homo religiousus." Dalam agama tak ada ruang untuk
Allah yang hidup atau sesuatu yang supranatural dan transendental.
Agama hanyalah usaha manusia untuk membenarkan dirinya sendiri. Lain
halnya dengan iman Kristen yang sejati. Iman adalah pengalaman
"encountering" dengan Allah yang tak mungkin dapat diterangkan dengan
bahasa apapun juga. Sesuatu yang hanya dapat diimani dan diamini.

Suatu penjelasan yang seolah-olah benar. Tetapi tanpa sadar natur iman
Kristen sudah bergeser. Allah yang sudah menyatakan diri di dalam
Anak-Nya Yesus Kristus sekarang kembali menjadi Allah yang "tidak
dikenal." Alkitab sebagai wahyu Allah kehilangan otoritasnya sebagai
kebenaran Allah yang objective. Apa yang tertulis tidak begitu saja
dapat dipercaya sebagai kebenaran firman Allah. Alkitab "hanya"
menjadi firman Allah kalau, pada saat membaca, manusia mengalami
"encountering" dengan Roh Allah. Umat Kristen tidak lagi menyebut
Alkitab sebagai firman Allah. Alkitab hanyalah buku yang "berisi
firman Allah." Lalu siapakah yang mempunyai otoritas menentukan bahwa
pengalaman tertentu adalah pengalaman encountering dengan Allah?

Usaha dari Barth untuk membela iman Kristen pada akhirnya justru
memasukkan iman Kristen dalam jerat "pengalaman existencial" tiap
pribadi. Judgement dari tiap individulah yang pada akhirnya menjadi
otoritas tertinggi. Karl Barth, yang juga berasal dari tradisi
liberal, mengkritik pandangan liberal mengenai manusia, khususnya
kedangkalannya dalam mengerti dosa manusia dan optimisme yang palsu
mengenai sejarah manusia.

Dalam pandangannya yang lain, Barth melihat Allah sebagai yang sama
sekali transenden. Ia sama sekali tidak boleh diidentifikasikan
langsung dengan apapun yang ada di dunia ini, bahkan dengan firman
dalam Alkitab.

Teologi Barth adalah teologi firman. Firman Allahlah, penyataan Allah
yang menjadi pokok persoalan Teologi. Barth sangat menitikberatkan
penyataan Allah dan Alkitab. Bagi Barth, Firman Allah lebih dilihat
dalam kerangka dinamis daripada statis. Firman Allah adalah peristiwa
Allah yang berbicara kepada manusia dalam Yesus Kristus, ialah
penyataan pribadi Allah kepada kita. Menurut Barth Ortodoksi yang
lama telah khilaf karena membuat firman menjadi benda yang statis.
Yang bisa dianalisis dan dibedah seperti tubuh orang mati.

Bagi Barth teologi harus didasarkan atas firman Allah saja, bukan atas
filsafat manusia. Bart menolak semua teologi alamiah yaitu teologi
yang berdasarkan ciptaan atau akal manusia, lepas dari pernyataan
Kristiani. Barth menandaskan bahwa hanya firman Allah yang harus
menjadi satu-satunya dasar teologi. Penolakan Bart terhadap semua
pengetahuan alamiah mengenai Allah berarti bahwa Allah agama Kristen
sama sekali tidak dikenal di luar Yesus Kristus.

Menurut Karl Barth, Alkitab adalah firman Allah sejauh Allah berbicara
melaluinya. Alkitab dengan demikian menjadi Firman Allah di dalam
peristiwa ini. Sebelum Alkitab berbicara secara pribadi, sebelum nyata
dan terpancar di dalam kehidupan, maka Alkitab bukanlah firman Allah,
melainkan sebuah catatan penyataan Allah pada masa lalu sekaligus
menjadi janji untuk penyataan masa mendatang. Jadi Kitab Suci adalah
Firman Allah secara subyektif, bukan secara obyektif.

Satu rumusan yang dipakai Karl Barth tentang Firman Allah, ialah
konsepnya bahwa Firman Allah mempunyai bentuk rangkap-tiga.
Bentuk-primer Firman Allah ialah Yesus Kristus sendiri, Sang Firman
yang dinyatakan. Bentuk-sekunder Firman Allah adalah skriptura dalam
bentuk tertulisnya. Sedangkan bentuk ketiga ialah Firman yang berupa
kerygma gereja, firman dalam bentuk khotbah. Ketiga bentuk tersebut
adalah berhubungan-erat satu sama lain. Sang Firman, Yesus Kristus,
hanya berbicara bilamana Ia disaksikan oleh skriptura dan diberitakan
dengan iman oleh gereja. Alkitab merupakan Firman Allah hanya sebagai
kesaksian tentang Allah yang menyatakan Diri dalam Yesus Kristus itu.
Bahkan Alkitab hanya merupakan Firman Allah, bilamana diterima dengan
penuh iman dan diberitakan dalam gereja dan oleh gereja. Di pihak
lain, pemberitaan gereja hanyalah merupakan Firman Allah bilamana
pemberitaannya itu sungguh-sungguh mengabdi kepada Firman Allah di
dalam Yesus Kristus, dan mendasarkan diri pada Alkitab yang
menyaksikan (memberi kesaksian tentang) Yesus Kristus itu.

Suatu konsep lain yang sering muncul dalam hubungan dengan ide-ide
Karl Barth, ialah konsep bahwa skriptura tidak "merupakan" Firman
Allah melainkan "menjadi" Firman Allah. Dengan perkataan lain, Alkitab
tidak merupakan suatu eksistensi yang statis, yang identik dengan
Firman Allah, melainkan sesuatu yang dapat menjadi dinamis, yang dapat
menjadi hidup, dan oleh karena itu menjadi Firman Allah. Rumusan yang
demikian memberikan gambaran yang lebih bersifat eksistensialis, yaitu
bahwa Alkitab memang bersatu dengan Firman Allah, namun tidak identik
dengan Firman Allah itu.

Meskipun konsep Karl Barth ternyata mengandung kelemahan dan
kekurangan, namun patut kita sadari juga bahwa pada periode tertentu
konsep itu mempunyai pengaruh yang positif sekali. Bahkan masih banyak
orang Kristen yang belum berhadapan dengan konsep "Firman Allah,"
seperti yang diuraikan dalam teologia Karl Barth. Kita akan merasakan
manfaatnya, serta mengalami pembebasan melaluinya/dengannya, kalau
kita sungguh-sungguh menggumulinya. Dapat dikatakan bahwa teologia
neo-orthodox, seperti teologia Karl Barth, akhirnya nampak lebih
konservatif. Justru karena itu, teologia neo-orthodox telah berhasil
membentuk jembatan, yang membantu menyeberang golongan-golongan
Kristen yang sangat konservatif, sampai mereka dapat mengejar cara
berpikir dan berteologia yang sudah menjadi lazim di gereja Protestan
modern.

Hubungan Filsafat dan Teologi

Masalah tentang hubungan antara rasio dan wahyu adalah suatu masalah
yang sering dipersoalkan. Ada yang menyatakan pendapat bahwa filsafat
hendak menyaingi wahyu, demikian pula sebaliknya. Akhirnya, terjadi
saling curiga mencurigai, yang tak jarang merugikan bagi kepentingan
pencarian akan kebenaran itu sendiri.
Pengertian
a. Filsafat; Kita menilik dahulu kata "filsafat" ini dari akar
katanya, dari mana kata ini datang. Kata "filsafat" berasal dari
bahasa Yunani, philosophia: philein artinya cinta, mencintai, philos
pecinta, sophia kebijaksanaan atau hikmat. Jadi filsafat artinya
"cinta akan kebijaksanaan". Cinta artinya hasrat yang besar atau yang
berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya
kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Filsafat berarti
hasrat atau keinginan yang sungguh akan kebenaran sejati. Demikian
arti filsafat pada mulanya.
Dari arti di atas, kita kemudian dapat mengerti filsafat secara umum.
Filsafat adalah suatu ilmu, meskipun bukan ilmu vak biasa, yang
berusaha menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh
kebenaran. Bolehlah filsafat disebut sebagai: suatu usaha untuk
berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang
mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Hal yang membawa usahanya itu
kepada suatu kesimpulan universal dari kenyataan partikular atau
khusus, dari hal yang tersederhana sampai yang terkompleks. Filsafat,
"Ilmu tentang hakikat". Di sinilah kita memahami perbedaan mendasar
antara "filsafat" dan "ilmu (spesial)" atau "sains". Ilmu membatasi
wilayahnya sejauh alam yang dapat dialami, dapat diindera, atau alam
empiris. Ilmu menghadapi soalnya dengan pertanyaan "bagaimana" dan
"apa sebabnya". Filsafat mencakup pertanyaan-pertanyaan mengenai
makna, kebenaran, dan hubungan logis di antara ide-ide dasar
(keyakinan, asumsi dan konsep) yang tidak dapat dipecahkan dengan ilmu
empiris. Philosophy: Inquiry into the nature of things based on
logical reasoning rather than empirical methods (The Grolier Int.
Dict.). Filsafat meninjau dengan pertanyaan "apa itu", "dari mana" dan
"ke mana". Di sini orang tidak mencari pengetahuan sebab dan akibat
dari suatu masalah, seperti yang diselidiki ilmu, melainkan orang
mencari tahu tentang apa yang sebenarnya pada barang atau masalah itu,
dari mana terjadinya dan ke mana tujuannya. Maka, jika para filsuf
ditanyai, "Mengapa A percaya akan Allah", mereka tidak akan menjawab,
"Karena A telah dikondisikan oleh pendidikan di sekolahnya untuk
percaya kepada Allah," atau "Karena A kebetulan sedang gelisah, dan
ide tentang suatu figur bapak membuatnya tenteram." Dalam hal ini,
para filsuf tidak berurusan dengan sebab-sebab, melainkan dengan
dasar-dasar yang mendukung atau menyangkal pendapat tentang keberadaan
Allah. Tugas filsafat menurut Sokrates (470-399 S.M.) bukan menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam kehidupan, melainkan
mempersoalkan jawaban yang diberikan.
b. Teologi; Asal kata Teologi (Yunani: "Theos": Allah dan "Logos":
Ilmu, akal, kata, dan penalaran. Jadi Teologi adalah sains yang
mempelajari tentang pribadi dan karya Allah dalam hubungannya dengan
alam semesta, termasuk manusia, alam, dll, sebagaimana yang dinyatakan
Alkitab. Istilah teologi itu sendiri mengimplikasikan suatu sains
tentang Allah. kata "logi" mengindikasikan adanya penalaran, pemikiran
yang mempunyai sistimnya sendiri, dimana setiap sistim mengandung
metodologi yang didalamnya ada asumsi keilmuannya sendiri.
i. Hubungan teologi dengan disiplin ilmu-ilmu lain; teologi disebut
ilmu integral karena meliputi semua ilmu khusus yang bersifat
sebagian-sebagian, karena membatasi diri pada bidang dan taraf
kehidupan tertentu. Misalnya ilmu kedokteran, biologi, dll.
ii. Hubungannya dengan Filsafat; zaman Skolastik akhir filsafat
dinyatakan sebagai Ratunya ilmu pengetahuan atau "Queen of Science",
sedangkan sebelumnya teologi dikatakan ratunya ilmu pengetahuan,
karena cakupan ilmunya yang berdasarkan Alkitab meliputi seluruh
seluruh yang ada di alam ini (wahyu umum dan wahyu khusus). Teologi
berusaha merefleksikan kehidupan manusia sekelilingnya berdasarkan
wahyu serta berpusat pada karya dan pribadi Kristus yang
menyelamatkan. Namun secara umum hubungan filsafat dengan teologi
sangat dekat, yaitu menjadi penghubung teologi dengan ilmu-ilmu
khusus. Filsafat menjadi kerangka refleksi bagi teologi, hal ini
dimungkinkan karena kedua-duannya adalah ilmu integral.
Ketegangan-ketegangan antara Teologi dan Filsafat
a. Zaman Bapak gereja da rasuli kecenderungan teologi di atas rasio (filsafat).
b. Zaman pertengahan awal Wahyu masih berada di atas akan.
c. Zaman renasan (pertengahan abad ke dua) rasio diangkat ke atas
hampir, bahkan sejajar dengan wahyu dalam kedudukan dan fungsi,
disinilah awal terbukanya jalan pada abad berikutnya untuk
mengunggulkan rasio di atas wahyu atau filsafat di atas teologi.
d. Zaman reformasi mengembalikan pada fungsinya amsing-masing secara
proporsional, dimana keduannya berasal dari Allah yang satu harus
dipakai secara proporsional dan tidak saling mendominasi.
e. Zaman rasionalisme dimana rasio mengunguli wahyu dan sampai
membuang wahyu dari kehidupan manusia. Hanya berdasarkan akal.
f. Zaman pencerahan, prinsip hanya akal saja yang berkembang, namun
tidak membawa makna yang baik bagi kehidupan karena wahyu telah
dibuang dari kehidupan manusia.
g. Pasca pencerahan, akalpun mengalami nasib yang sama dibuang dari
arena pemikiran Kristen. Tidak ada akal sedangkan wahyu yang telah
dibuang pada zaman sebelumnya tidak diambil lagi, yang tersisa hanya
perasaan dan pengalaman agamawi saja. Agama kehilangan isi objektif
dan orang Kristen kehilangan makna intelektual dari iman tersebut,
kemudian melahirkan teologi liberal.
h. Pada abad 20 ternyata perasaanpun tidak memuaskan dan tidak membawa
hal-hal yang objektif dan bertanggungjawab dalam kehidupan manusia.
Pada abad ini kaum protestan konservatif mengambil kembali wahyu dan
iman ortodoks berdasarkan wahyunya dengan mempertimbangkan juga akal
dan perasaan secara benar berdasarkan wahyu Allah dalam teologinya.
Telah dibahas di atas bahwa dari masa kemasa filsafat dan teologi
selalu mengalami ketegangan-ketegangan. Tetapi harus disadari bahwa
keduanya mencari kebenaran, filsafat mencari kebenaran berdasarkan
akal. Teologi mencari kebenaran berdasarkan iman. Kebenaran dalam
filsafat adalah "kebenaran akal", sedangkan kebenaran menurut Teologi
adalah "kebenaran wahyu" (Alkitab). Kita tidak akan berusaha mencari
mana yang benar atau lebih benar di antara keduanya, akan tetapi kita
akan melihat apakah keduanya dapat dihubungkan.
Kedudukan Filsafat dalam Teologi
Apakah keduanya dapat bekerjasama satu sama lain. Meskipun filsafat
mencari kebenaran dengan akal. Filsafat membantu dalam memastikan arti
objektif tulisan wahyu. Filsafat menyediakan metode-metode pemikiran
untuk teologi. Selain itu filsafat adalah fungsi kritis dalam
berteologi, dimana filsafat berfungsi memeriksa dan menguji kembali
asumsi-asumsi dasar suatu kepercayaan secara sistematis-logis. Dengan
demikian filsafat akan mengguncangkan kembali asumsi kepercayaan kita,
dan berharap akan tiba pada kepercayaan yang sama sehingga kita
semakin kuat dalam kepercayaan. Secara spesifik filsafat berfungsi
konstruktif juga bagi teologi dengan memakainya sebagai kerangka
berpikir filosofis untuk mencari penyelesaian pada masalah-masalah
etis, moral, kejahatan, dan penderitaan manusia. Misalnya,
mengusahakan mendapat anak dengan in vitro fertilization ("bayi
tabung") dapat dibenarkan bagi orang Kristen atau tidak? Padahal Kitab
Suci diam seribu bahasa tentang bayi tabung. Filsafatlah, dalam hal
ini etika, yang dapat merumuskan permasalahan etis sedemikian rupa
sehingga agama dapat menjawabnya berdasarkan prinsip-prinsip
moralitasnya sendiri.
Jika demikian, apakah teologi harus sesuai dengan akal? Boleh
dikatakan ya, dalam hal ini teologi harus sesuai dengan logika yang
tegas berdasarkan kriteria yang benar, yaitu Kitab Suci yang
memberikan inspirasi.
Dengan cara menyadari keadaan serta kedudukan masing-masing, maka
antara filsafat dan teologi dapat terjalin hubungan yang harmonis dan
saling mendukung. Karena, semakin jelas pula bahwa seringkali
pertanyaan, fakta atau realita yang dihadapi seseorang adalah hal yang
sama, namun dapat dijawab secara berbeda sesuai dengan proporsi yang
dimiliki masing-masing bidang kajian, baik itu, filsafat maupun
teologi. Keduanya dapat saling menunjang dalam menyelesaikan persoalan
yang timbul dalam kehidupan.
Kesimpulan
1) Secara umum dapat dikatakan bahwa filsafat tidak pernah dapat
membawa manusia kepada kebenaran, dalam artikata kebenaran "mutlak".
Kebenaran relatip dan subjektip mungkin ada, tetapi kebenaran objektip
dan mutlak? Tidak ada filsuf yang berani claim bahwa ia telah mendapat
kebenaran mutlak dan objektip.
2) Teologi seseorang sesungguhnya adalah tafsiran orang itu akan
Alkitab. Teologi atau tafsiran Alkitab manusia manapun tidak pernah
dapat dibuktikan benar. Teologi manusia manapun dibiaskan oleh
asumsi-asumsi mulanya, oleh prasangka-prasangkanya, intuisi, perasaan
dan pengalaman-pengalamannya, oleh teori-teori, filsafat-filsafat yang
dibacanya. Yang mutlak benar hanyalah Allah. Kebenaran Allah adalah
mutlak dan tak terbatas. Alkitab adalah Firman Allah, tetapi ditulis,
diteruskan, dikutip, diterjemahkan, dicetak dan dibaca oleh manusia
yang serba terbatas. Manusia yang terbatas berusaha mengerti Allah
yang tak terbatas. Allah tidak dapat salah, tetapi manusia dapat
salah.
3) Seorang pemikir Kristen (filsuf, ilmuwan teolog) tidak dapat
menghindarkan diri dari pengaruh para filsuf lain dari zaman Yunani
sampai sekarang. Tetapi terutama bagi seorang teolog hendaknyalah ia
menaruh Alkitab jauh diatas filsafat-filsafat, teori-teori serta
spekulasi-spekulasi manusia.
4) Ketika filsafat dinaikkan menjadi "Queen of Science" harus tetap
diingat bahwa teologi tetap sebagai "King" yang harus dilayani juga
sebagai tuan. Dan ketika filsafat fungsinya tidak pada tempatnya maka
akan membingungkan, karena filsafat hanya bisa bertanya dan teologi
menjawabnya. Teologi berfungsi sebagai pembuat keputusan dan
kesimpulan yang didasarkan pada Firman Allah.

Etika Rumah Sakit

Etika Rumah Sakit : Tentang identifikasi masalah dan mekanisme untuk
pemecahannya

Etika rumah sakit adalah etika terapan (applied ethics) atau etika
praktis (practical ethics), yaitu moralitas atau etika umum yang
diterapkan pada isu-isu praktis, seperti perlakuan terhadap
etnik-etnik minoritas, keadilan untuk kaum perempuan, penggunaan hewan
untuk bahan makanan atau penelitian, pelestarian lingkungan hidup,
aborsi, etanasia, kewajiban bagi yang mampu untuk membantu yang tidak
mampu, dan sebagainya.

Jadi, etika rumah sakit adalah etika umum yang diterpakan pada
(pengoperasian) rumah sakit. Oleh karena itu, mendahului diskusi
tentang etika rumah sakit perlu ada uraian singkat tentang etika umum.
Baru kemudian tentang etika institusional rumah sakit dan potensi
masalahnya. Uraian pendahuluan itu perlu untuk landasan identifikasi
dan kemudian upaya pemecahan masalah-masalah etika rumha sakit.

Etika (Umum)

Etika (umum) ; Istilah dengan aneka ragam arti
Etika punya arti yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang
pengguna yang berbeda dari istilah itu. Bagi ahli falsafah, etika
adalah ilmu atau kajian formal tentang moralitas. Moralitas adalah
ha-hal yang menyangkut moral, dan moral adalah sistem tentang
motivasi, perilaku dan perbuatan manusia yang dianggap baik atau
buruk. Franz Magnis Suseno menyebut etika sebagai ilmu yang mencari
orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab pertanyaan yang amat
fundamental : bagaimana saya harus hidup dan bertindak ? Peter Singer,
filusf kontemporer dari Australia menilai kata etika dan moralitas
sama artinya, karena itu dalam buku-bukunya ia menggunakan keduanya
secara tertukar-tukar.

Bagi sosiolog, etika adalah adat, kebiasaan dan perilaku orang-orang
dari lingkungan budaya tertentu. Bagi praktisi profesional termasuk
dokter dan tenaga kesehatan lainnya etika berarti kewajiban dan
tanggung jawab memenuhi harapan (ekspekatasi) profesi dan amsyarakat,
serta bertindak dengan cara-cara yang profesional, etika adalah salah
satu kaidah yang menjaga terjalinnya interaksi antara pemberi dan
penerima jasa profesi secara wajar, jujur, adil, profesional dan
terhormat.

Bagi eksekutif puncak rumah sakit, etika seharusnya berarti kewajiban
dan tanggung jawab khusus terhadap pasien dan klien lain, terhadap
organisasi dan staff, terhadap diri sendiri dan profesi, terhadap
pemrintah dan pada tingkat akhir walaupun tidak langsung terhadap
masyarakat. Kriteria wajar, jujur, adil, profesional dan terhormat
tentu berlaku juga untuk eksekutif lain di rumah sakit.

Bagi asosiasi profesi, etika adalah kesepakatan bersamadan pedoman
untuk diterapkan dan dipatuhi semua anggota asosiasi tentang apa yang
dinilai baik dan buruk dalam pelaksanaan dan pelayanan profesi itu.

Jenjang perkembangan dari ajaran moral sampai kode etik
1. Ajaran moral : Ajaran tentang bagaimana manusia harus hidup dan
berbuat agar menjadi manusia yang baik
2. Moral : Sistem nilai atau konsensus sosial tentang motivasi,
perilaku dan perbuatan tertentu dinilai baik atau buruk.
3. Falsafah moral : Falsafah atau penalaran moral yang menjelaskan
mengapa perbuatan tertentu dinilai baik, sedangkan perbuatan lain
buruk.
4. Falsafah moral menghasilkan teori-teori etika.
5. Teori-teori etika : Kerangka untuk berpikir tentang apakah suatu
perbuatan dapat diterima dinilai dari pendekatan moral. Dua teori
etika klasik yang paling terkenal adalah Utilitiarisme dan Deontologi.
Teori utilitiarisme menilai baik-buruknya suatu tindakan dari hasil
atau dampak tindakan itu. Jika hasilnya baik (the greatest good for
the greates number), secara moral tindakan itu adalah baik. Teori
Deontologi berkata lain ; lakukan kewajiban (Deon = Kewajiban), jangan
lihat hasil atau dampaknya.
6. Asas-asas etika : Penerapan teori-teori etika dalam praktek. Dua
asas etika klasik adalah beneficence (kewajiban untuk berbuat baik)
dan normaleficence (kewajiban untuk tidak melakukan hal-hal yang
merugikan oranglain). Dua asas etika kontemporer adalah menghormati
manusia (respect for reason) dan keadilan (justice).
7. Aturan-aturan etika : Seperangkat standar atau norma yang
diturunkan dari asas-asas etika dan bertujuan mengatur perilaku
perbuatan manusia.
8. Kode etik profesi : Seperangkat aturan etika khusus sebagai
consensus semua anggota asosiasi profesi, yang memuat amar dan
larangan yang wajib ditaati dan dilaksanakan oleh semua anggota
asosiasi dalam menjalankan fungsi dan kegiatan profesionalnya. Perlu
pemahaman tentang jenjang dan hubungan antara konsep-konsep seperti
yang ditayangkan pada bagian di atas, terutama tentang beberapa teori
etika yang utama, tentang asas-asas etika, dan kode etik.
Oleh karena -seperti akan di elaborasi lebih lanjut di belakang nanti-
terutama asas-asas etika dan kode etik profesi adalah alat pengukur
untuk menilai apakah dalam kasus tertentu di Rumah Sakit terjadi
pelanggaran etika atau tidak.


Kelahiran Etika Rumah Sakit
Etika Rumah Sakit yaitu etika praktis yang dikembangkan untuk Rumah
Sakit sebagai suatu institusi lahir pada waktu yang hampir bersamaan
dengan kehadiran etika biomedis. Atau dapat juga dikatakan etika
institusional rumah sakit adalah pengembangan dari etika biomedika
(bioetika). Karena masalah-masalah atau dilema etika yang baru sama
sekali sebagai dampak atau akibat dari penerapan kemajuan pesat ilmu
dan teknologi biomedis, justru terjadi di rumah sakit. Sebagai contoh,
dapat disebut kegiatan reproduksi dibantu transplantasi organ.

Penggunaan alat-alat medis teknologi tinggi untuk menunjang hidup,
operasi ganti kelamin, penelitian serta uji-coba klinis, dan beberapa
terobosan baru lain dari revolusi biomedis sejak tahun 1960-an yang
semuanya dilaksanakan di Rumah Sakit.

Komponen-komponen etika Rumah Sakit

Etika rumah sakit terdiri atas dua komponen :
• Etika administratif
• Etika biomedis
Klasifikasi ini sesuai dengan dua bidang governance di rumah sakit
:corporate governance dan clinical governance dengan wilayah tumpang
tindih di antara keduanya. Dapat dikatakan pada banyak masalah etika
biomedis ada aspek etika administratifnya dan pada semua kegiatan
klinis ada potensi isu etisnya.

Isu-isu etika administratif
• Potensi isu etika administratif yang pertama terkait dengan
kepemimpinan dan manajemen di rumah sakit. Fungsi manajemen mencakup
antara lain kegiatan menentukan obyektif, menentikna arah dan memberi
pedoman pada organisasi. kegiatan-kegiatan kepemimpinan dan manajemen
ini paling sensitif secara etis. Artinya dalam pelaksanaannya seorang
pemimpin yang manajer puncak sangat mudah-disadari atau tidak
melanggar asas-asas etika beneficence, nonmaleficence, menghormati
manusia dan berlaku adil.
Apalagi jika Direktur Rumah Sakit berprilaku diskrimatif dan
menerapkan standar ganda; ia menuntut orang lain mematuhi
standar-standar yang ditetapkan. Sedangkan ia sendiri tidak mau
memberi teladan sesuai dengan standar-standar itu
• Potensi isu etika administratif berikutnya adalah tentang privasi.
Privasi menyangkut hal-hal konfidensial tentang pasien, seperti
rahasia pribadi, kelainan atau penyakit yang diderita, keadaan
keuangan, dan terjaminnya pasien dari gangguan terhadap ketersendirian
yang menjadi haknya. Adalah kewajiban etis rumah sakit untuk menjaga
dan melindungi privasi dan kerahasiaan pasiennya. Harus diakui, hal
itu tidak selalu mudah.

Misalnya kerahasiaan rekam medis pasien sukar dijaga, karena rumah
sakit modern data dan informasi yang terdapat di dalamnya terbuka bagi
begitu banyak petugas yang karena kewajibannya memang berhak punya
akses terhadap dokumen tersebut. Dapat juga terjadi dilema etika
administratif, jika terjadi keterpaksaan membuka kerahasiaan karena
suatu sebab di satu pihak lain kewajiban moral untuk menjaganya
• Persetujuan tindakan medis (Informed consent). Masalah etika
administratif dapat terjadi, jika informed consent tidak dilaksanakan
sebagaimana seharusnya, yaitu persetujuan yang diberikan secara
sukarela oleh pasien yang kompeten kepada dokter untuk melakukan
tindakan medis tertentu pada dirinya, setelah ia diberi informasi yang
lengkap dan dimengerti olehnya tentang semua dampak dan resiko yang
mungkin terjadi sebagai akibat tindakan itu atau sebagai akibat
sebagai tidak dilakukan tindakan itu. Dalam banyak hal, memang tidak
terjadi banyak masalah etika, jika intervensi medis berjalan aman dan
outcome klinis sesuai dengan apa yang diharapkan semua pihak.

Tetapi, dapat saja terjadi suatu tindakan invansif ringan yang rutin
dikerjakan sehari-hari- misalnya-apendektomi- berakibat fatal. Kasus
demikian dapat menjadi penyesalan berkepanjangan. Dapat juga terjadi
dilema etik pada dokter dirumah sakit, yang tega mengungkapkan
informasi yang selengkapnya kepada pasien, karena ia tahu jika itu
dilakukan pasien akan jadi bingung, fanik, dan takut sehingga ia minta
dipulangkan saja untuk mencari pengobatan alternatif. padahal dokter
percaya bahwa tindakan medik yang direncanakan masih besar
kemungkinannya untuk menyelamatkan pasien.
Dilema etika administratif berikutnya di rumah sakit dapat terjadi
berhubung dengan faktor-faktor situasi keuangan. Contoh-contoh berikut
ini terjadi sehari-hari.
1. Apakah kemampuan pasien membayar uang muka adalah faktor yang
mutlak bagi rumah sakit untuk memberikan pertolongan kepadanya. karena
pertimbangan tertentu, pemilik atau manajeman rumah sakit
mengalokasikan dana yang terbatas untuk proyek tertentu, dan dengan
demikian mengakibatkan kebutuhan lain yang mungkin lebih mendesak,
lebih besar manfaatnya, dan lebih efektif biaya.
2. Bagaimana sikap rumah sakit terhadap dokter tertentu sangat tinggi
tarif jasanya. Jika ditegur ia pasti akan marah, dan mungkin akan
hengkang kerumah sakit lain. padahal ia patient getter yang merupakan
'telur emas' bagi rumah sakit.
3. Bagaimana sikap terhadap pasien yang kurang tepat waktu melunasi
piutang periodiknya, padahal ia sangat memerlukan tindakan khusus
lanjutan.
4. Untuk rumah sakit milik pemodal, bagaimana sikap manajemen jika ada
konflik kepentingan antara kebutuhan pasien dengan keingginan pemegang
saham yang melihat sesuatu hanya dari perhitungan bisnis.
5. Bagaimana jika ada konflik kepentingan antara pemilik, manajemen
dan para klinis yang akar masalahnya adalah soal keuangan dan
pendapatan. Bagaimana sikap manajemen terhadap dokter tertentu yang
dapat diduga melakukan moral hazard dengan berkolusi dengan PBF.
6. Bagaimana sikap rumah sakit terhadap teknologi mahal; disatu pihak
diperlukan untuk meningkatkan posisi dan citra rumah sakit, di pihak
lain potensi moral hazard juga tinggi demi untuk membayar cicilan
kredit atau/easing.


Isu-isu Etika Biomeidis
Isu etika biomedis di rumah sakit menyangkut persepsi dan perilaku
profesional dan instutisional terhadap hidup dan kesehatan manusia
dari sejak sebelum kelahiran, pada saat-saaat sejak lahir, selama
pertumbuhan, jika terjadi penyakit atau cidera, menjadi tua, sampai
saat-saat menjelang akhir hidup, kematian, dan malah beberapa waktu
setelah itu.

Sebenarnya pengertian etika biomedis dalam hal ini masih perlu dipilah
lagi dalam:
Isu-isu etika biomedis atau bioetika yang lahir sebagai dampak
revolusi biomedis sejak tahun 1960-an, yang antara lain berakibat
masalah dan dilema baru sama sekali bagi para dokter dalam menjalankan
propesinya. Etika biomedis dalam arti ini didefinisikan oleh
International association of bioethics sebagai berikut; Bioetika
adalah studi tentang isu-isu etis, sosial, hukum, dan isu-isu lain
yang timbul dalam pelayanan kesehatan dan ilmu-ilmu biolagi.
• Isu-isu etika medis'tradisional' yang sudah dikenal sejak ribuan
tahun, dan lebih banyak menyangkut hubungan individual dalam interaksi
terapeutik antara dokter dan pasien. Kemungkinan adanya masalah etika
medis demikianlah yang dalam pelayanan di rumah sakit sekarang cepat
oleh masyarakat (dan media masa) ditunding sebagai malpraktek.
Isu-Isu Bioetika
Beberapa contoh yang dapat dikemukakan tentang isu etika biomedis
dalam arti pertama (bioetika) adalah antara lain terkait dengan:
kegiatan rekayasa genetik, teknologi reproduksi, eksperimen medis,
donasi dan transpalasi organ, penggantian kelamin, eutanasia, isu-isu
pada akhir hidup, kloning terapeutik dan kloning repraduktif. Sesuai
dengan definisi di atas tentang bioetika oleh International
Association of Bioethics, kegiatan-kegiatan di atas dalam pelayanan
kesehatan dan ilmu-ilmu biologi tidak hanya menimbulkan isu-isu etika,
tapi juga isu-isu sosial, hukum, agama, politik, pemerintahan,
ekonomi, kependudukan, lingkungan hidup, dan mungikin juga isu-isu di
bidang lain.

Dengan demikian, identifikasi dan pemecahan masalah etika biomedis
dalam arti tidak hanya terbatas pada kepedulian internal rumah sakit
saja-misalnya Komite Etika Rumah Sakit dan para dokter saja seperti
halnya pada penanganan masalah etika medis 'tradisional'- melainkan
kepedulian dan bidang kajian banyak ahlimulti- dan inter-displiner
tentang masalah-masalah yang timbul karena perkembangan bidang
biomedis pada skala mikro dan makro, dan tentang dampaknya atas
masyarakat luas dan system nilainya, kini dan dimasa mendatang
(F.Abel, terjemahan K. Bertens).

Studi formal inter-disipliner dilakukan pada pusat-pusat kajian
bioetika yang sekarang sudah banyak jumlahnya terbesar di seluruh
dunia. Dengan demikian, identifikasi dan pemecahan masalah etika
biomedis dalam arti pertama tidak dibicarakan lebih lanjut, yang perlu
diketahui dan diikuti perkembangannya oleh pimpinan rumah sakit adalah
tentang 'fatwa' pusat-pusat kajian nasional dan internasional,
deklarasi badan-badan internasional seperti PBB, WHO, Amnesty
International, atau 'fatwa' Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional
(diIndonesia;AIPI) tentang isu-isu bioetika tertentu, agar rumah sakit
sebagai institusi tidak melanggar kaidah-kaidah yang sudah
dikonsesuskan oleh lembaga-lembaga nasional atau supranasional yang
terhormat itu. Dan jika terjadi masalah bioetika dirumah sakit yang
belum diketahui solusinya, pendapat lembaga-lembaga demikian tentu
dapat diminta.

Isu-Isu Etika Medis
Seperti sudah disinggung diatas, masalah etika medis tradisional dalam
pelayanan medis dirumah sakit kita lebih banyak dikaitkan dengan
kemungkinan terjadinya malpraktek, terutama oleh dokter. Padahal,
etika disini terutama diartikan kewajiban dan tanggung jawab
institusional rumah sakit. Kewajiban dan tanggung jawab itu dapat
berdasar pada ketentuan hukum (Perdata, Pidana, atau Tata Usaha
Negara) atau pada norma-norma etika.

Malpraktek (medis) sebenarnya adalah istilah hukum yang berarti
kesalahan dalam menjalankan profesi. Berkhouwer dan Borstman (dikutip
oleh Veronica Komalawati) mengatakan, seorang dokter melakukan
kesalahan profesi, apabila ia tidak memeriksa, tidak membuat
penilaian, tidak melakukan tindakan atau tidak menghindari tindakan
(tertentu), sedangkan dokter-dokter yang baik pada umumnya pada
situasi yang sama akan melakukan pemeriksaan, membuat penilaian,
melakukan tindakan atau menghindari tindakan (tertentu).

Kita dapat melihat: Pertama, bahwa definisi ini bersifat relatif baik
buruknya seorang dokter menjalankan profesinya dibandingkan dengan
rata-rata dokter lain. Tentu ini ada kelemahan-kelemahannya; dapat
saja seorang dokter yang inovatif di tuduh melakukan malpraktek karena
ia melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan kebanyakan dokter
lain, padahal yang ia lakukan adalah baik dan bermanfaat bagi pasien.
Soal standar profesi tidak disinggung dalam devinisi itu, mungkin
karena belum ada, karena buku dua ahli hukum Belanda itu diterbitkan
lebih daripada setengah abad yang lalu dalam tahun 1950.

Kedua. Walaupun tidak secara eksplisit dinyatakan, dalam definisi ini
dengan kesalahan profesional ditonjolkan tentang kelainan; dokter
tentu tidak melakukan pemeriksaan. tidak membuat penilaian, tidak
melakukan tindakan, dan tidak menghindari tindakan tertentu. Ini
sesuai dengan pemahaman, bahwa malpraktek adalah sama dengan
negligence.

Sesuai dengan konteks makalah ini, tentang malpraktek dengan latar
belakang pelanggaran hukum tidak dibicarakan lebih jauh. Fokus utama
adalah pada masalah etika medis di rumah sakit. Terkait dengan itu,
untuk kejelasan wacana uraian rekapulatiif berikut ini kiranya
diperlukan:
1. Etika dalam hal ini diartikan sebagai kewajiban dan tanggung jawab.
2. Etika rumah sakit adalah etika institusi, jadi kewajiban dan
tanggng jawab itu adalah institusional, bukan individual.
3. Namun, eksekutif puncak rumah sakit- sebagai yang oleh pemilik
melalui Governing Body (Dewan Pembina, atau nama jenis yang lain)
diberi kekuasaan mengelola dan tanggung jawab rumah sakit, dengan
sendirinya juga adalah penanggung jawab moral dan etika institusional.
4. Etika medis berhubungan dengan hidup dan kesehatan. Objek kewajiban
dan tanggung jawab pada etika medis adalah hidup dan kesehatan manusia
dan kelompok manusia dilingkungan luar rumah sakit. itu berarti pasien
staf serta karyawan rumah sakit,dan masyarakat.
5. Masalah etika rumah sakit timbul apabila terjadi pelanggaran
terhadap asas-asas etika (umum) dan Kode Etik Rumah Sakit, yang adalah
uraian lebih operasional dari asas-asas etika.
6. Asas-asas etika yang diterapkan pada etika rumah sakit sebagai
etika praktis adalah:
o Rumah sakit berbuat kebaikan (benifecence) dan tidak menimbulkan
cidera (nonmalifecence) pada pasien, staf dan karyawan, masyarakat
umum, serta lingkungan hidup.
Dua asas etika klasik ini sudah ada dalam lafal Sumpah Hipprokrates
sejak lebih 23 abad yang lalu. Dua asas ini adalah juga ajaran semua
agama.
o Asas menghormati manusia (respect for persons) berarti menghormati
pasien, staf dan karyawan, serta masyarakat dalam hal hidup dan
kesehatan mereka. itu berarti menghormati otonomi (hak untuk mengambil
keputusan tentang diri sendiri), hak-hak asasi sebagai warga negara,
hak atas informasi, hak atas privasi, hak atas kerahasiaan, serta
harkat dan mertabat mereka sebagai manusia dan lain-lain.
o Asas keadilan (justice): keadilan sosial, keadilan ekonomi, dan
perlakuan yang 'fair' terhadap pasien, staf dan karyawan, serta
masyarakat umum.
Identifikasi Masalah Etika Di Rumah Sakit
Kurt Darr mengatakan, bahwa seorang eksekutuf rumah sakit tidak perlu
sampai mengikuti kursus tentang pilosofi atau etika untuk dapat
mengidentifikasikan masalah etika, walaupun kursus-kursus demikian
akan banyak menolong. yang penting, harus ada kepekaan, kebiasaan
melakukan refleksi (an inquiring mind), dan etika pribadi (personal
etics) yang cukup baik. tiga pertanyaan berikut ini dianjurkan
diajukan pada diri sendiri untuk mengidentifikasikan kemungkinan
adanya etika pada kasus tertentu.
• Apakah pasien, staf dan karyawan, atau masyarakat umum dalam kasus
tertentu itu diperlakukan seperti saya ingin diperlakukan dalam kasus
seperti itu? ini dinamakan The Golden Rule.
• Apakah pasien, staf dan karyawan, serta masyarakat umum cukup
dilindungi terhadap kemungkinan cidera dalam keberadaan dan pelayanan
di rumah sakit?
• Apakah penjelasan tentang informed conset kepada pasien cukup
memberi informasi baginya tentang apa yang akan dilakukan pada
dirinya?
Jika salah satu atau lebih dari tiga pertanyaan itu terjawab dengan
"tidak", ada indikasi masalah etika pada kasus yang dihadapi.
Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya adalah:
• Adakah pasal-pasal dalam Kode Etik Rumah Sakit yang dilanggar?
• Adakah asas-asas etika umum yang dilanggar?
• Jika masih perlu untuk lebih memastikan: Teori etika mana yang dapat
dipakai untuk pembenaran keputusan atau tindakan rumah sakit yang
menimbulkan masalah etika administratif atau etika biomedis.
Sama halnya dengan proses pemecahan masalah secara umum, mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang tepat adalah bagian penting proses itu.

Pemecahan Masalah Etika Di Rumah Sakit
Setelah berhasil mengidentifikasikan adanya masalah etika
administratif, masalah bioetika, masalah medis tradisional, atau
gabungan berbagai masalah etika itu dirumah sakit, langkah berikutnya
adalah mencari solusi untuk masalah-masalah itu. Perlu segera
ditambahkan, bahwa pemecahan masalah etika secara umum tidak mudah.
Pada dasarnya ada dua model untuk pemecahan masalah secara umum; model
terprogram (rasional) dan model tak terprogram.

Model rasional terprogram mungkin dapat diterapkan pada pemecahan
banyak masalah manajemen umum, tetapi rasio saja tidak selalu berhasil
diterapkan pada pemecahan masalah etika. Masalah etika administratif
tertentu di rumah sakit yang menyangkut proses atau prosedur mungkin
dapat lebih mudah dipecahkan secara rasional. Tetapi, masalah etika
biomedis yang menyangkut substansi atau prinsif sering kali sangat
sensitif, karena itu rasio saja tidak selalu efektif. Diperlukan
kebijaksanaan yang umumnya tidak dapt diprogramkan.

Dianjurkan langkah langkah umum sebagai berikut untuk pemecahan
masalah etika rumah sakit:
1. Memecahkan struktur masalah yang sudah teridentifikasi kedalam
komponen-komponennya, menganalisis komponen-komponen itu sehingga
ditemukan akar masalah.Akar masalah adalah penyebab paling dasar dari
masalah etika yang terjadi. Ia dapat berupa kelemahan pada manusia,
kepemimpinan,manajemen, budaya organisasi, sarana, alat, sistem,
prosedur, atau faktor-faktor lain.
2. Melakukan analisis lebih dalam tentang akar masalah yang sudah
ditemukan (root cause analysis), untuk menetapkan arah pemecahannya.
3. Menetapkan beberapa alternatif untuk pemecahan akar masalah.
4. Memilih alternatif yang situasional terbaik untuk pemecahan masalah itu.
5. Memantau dan mengevaluasi penerapan upaya pemecahan yang sudah dilaksanakan.
6. Melakukan tindakan koreksi jika masalah etika belum terpecahkan
atau terulang lagi terjadi. Tindakan koreksi yang dapat menimbulkan
masalah etika baru adalah jika manusia sebagai penyebab akar masalah
yang berulang-ulang dikeluarkan dari rumah sakit.
Kesimpulan
Telah disampaikan tentang etika umum dan etika rumah sakit sebagai
etika terapan atau etika praktis. Juga uraian tentang jenis atau
kelompok etika di rumah sakit, mekanisme untuk mengidentifikasi
masalah-masalah etika, serta langkah-langkah umum untuk pemecahanya.
Pemecahan masalah etika lebih rumit dan sulit daripada pemecahan
masalah manajemen umum.

Etika Feminis dan Aborsi

Etika merupakan pembahasan filsafat moralitas, bersama dengan estetika
masuk dalam wilayah filsafat yang disebut aksiologi (teori tentang
nilai). Etika selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut
cara bertindak yang benar dan salah, hakikat kewajiban moral, dan apa
yang disebut kebaikan hidup. Pertanyaan mendasar dari Aristoteles
dalam etika adalah "kehidupan baik yang bagaimanakah yang harus saya
jalani?"
Etika feminis menganggap bahwa pertanyaan dasar Aristoteles tersebut
dijawab oleh teori-teori etika melalui sudut pandang laki-laki, yakni
kehidupan yang baik menurut laki-laki. Para filsuf feminis bersikeras
bahwa cara pandang etika tersebut menganut filsafat "berhaluan
laki-laki" (male stream philosophy), yang tidak memasukkan persoalan
perempuan di dalamnya. Seperti yang dikatakan Simone de Beauvoir,
perempuan selalu saja menjadi obyek dan bukan subyek. Maksudnya, de
Beauvoir adalah bahwa perempuan selalu ditolak untuk menjadi agen
moral yang otonom, perempuan tidak pernah dibiarkan untuk "memilih
kehidupan yang baik untuk dirinya sendiri".
Etika feminis dengan demikian mengajukan pertanyaan yang lain: "apakah
yang baik untuk perempuan?" Etika feminis di sini melakukan revisi
terhadap filsafat moral. Para filsuf feminis menantang hegemoni teori
etika patriarkal dan menuntut adanya "suara perempuan".
Etika feminis mengemuka dan beranjak dari kehidupan perempuan dan
isu-isu perempuan. Misalnya, dalam persoalan hak reproduksi, persoalan
ini adalah refleksi dari penuntutan perempuan terhadap hak mereka
untuk melakukan kontrol terhadap tubuhnya sendiri, "yang menentukan
tubuh kita adalah diri kita sendiri (our bodies, ourselves)".
Pengertian Etika Secara umum ; Istilah dengan aneka ragam arti
Etika punya arti yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang
pengguna yang berbeda dari istilah itu. Bagi ahli falsafah, etika
adalah ilmu atau kajian formal tentang moralitas. Moralitas adalah
ha-hal yang menyangkut moral, dan moral adalah sistem tentang
motivasi, perilaku dan perbuatan manusia yang dianggap baik atau
buruk. Franz Magnis Suseno menyebut etika sebagai ilmu yang mencari
orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab pertanyaan yang amat
fundamental: bagaimana saya harus hidup dan bertindak? Peter Singer,
filsuf kontemporer dari Australia menilai kata etika dan moralitas
sama artinya, karena itu dalam buku-bukunya ia menggunakan keduanya
secara tertukar-tukar.

Bagi sosiolog, etika adalah adat, kebiasaan dan perilaku orang-orang
dari lingkungan budaya tertentu. Bagi praktisi profesional termasuk
dokter dan tenaga kesehatan lainnya etika berarti kewajiban dan
tanggung jawab memenuhi harapan (ekspekatasi) profesi dan masyarakat,
serta bertindak dengan cara-cara yang profesional, etika adalah salah
satu kaidah yang menjaga terjalinnya interaksi antara pemberi dan
penerima jasa profesi secara wajar, jujur, adil, profesional dan
terhormat.

Jenjang perkembangan dari ajaran moral sampai kode etik
1. Ajaran moral: Ajaran tentang bagaimana manusia harus hidup dan
berbuat agar menjadi manusia yang baik
2. Moral: Sistem nilai atau konsensus sosial tentang motivasi,
perilaku dan perbuatan tertentu dinilai baik atau buruk.
3. Falsafah moral: Falsafah atau penalaran moral yang menjelaskan
mengapa perbuatan tertentu dinilai baik, sedangkan perbuatan lain
buruk.
4. Falsafah moral menghasilkan teori-teori etika.
5. Teori-teori etika: Kerangka untuk berpikir tentang apakah suatu
perbuatan dapat diterima dinilai dari pendekatan moral. Dua teori
etika klasik yang paling terkenal adalah Utilitiarisme dan Deontologi.
Teori utilitiarisme menilai baik-buruknya suatu tindakan dari hasil
atau dampak tindakan itu. Jika hasilnya baik (the greatest good for
the greates number), secara moral tindakan itu adalah baik. Teori
Deontologi berkata lain; lakukan kewajiban (Deon = Kewajiban), jangan
lihat hasil atau dampaknya.
6. Asas-asas etika : Penerapan teori-teori etika dalam praktek. Dua
asas etika klasik adalah beneficence (kewajiban untuk berbuat baik)
dan normaleficence (kewajiban untuk tidak melakukan hal-hal yang
merugikan orang ain). Dua asas etika kontemporer adalah menghormati
manusia (respect for reason) dan keadilan (justice).
7. Aturan-aturan etika: Seperangkat standar atau norma yang diturunkan
dari asas-asas etika dan bertujuan mengatur perilaku perbuatan
manusia.
Isu moral dalam aborsi
Isu-isu moral dalam aborsi telah lama menjadi perhatian para filsuf
feminis. Judith Thomson merupakan filsuf feminis pertama yang menyusun
argumentasi aborsi dengan analisa-analisa yang sistematis. Pandangan
anti-aborsi didasarkan pada pemahaman bahwa sebuah janin adalah
manusia sejak saat terkonsepsi. Pandangan anti-aborsi ini, sama sekali
tidak mengikuti penjelasan-penjelasan medis tentang perkembangan janin
yang menunjukkan bahwa saat terkonsepsi, janin tersebut masih berupa
kumpulan sel-sel.
Menurut ilmu kedokteran baru pada minggu ke-4 denyut jantung berdetak
dan pada minggu ke-10 janin tersebut mempunyai bentuk muka, tangan,
kaki, jari, dan sebagainya. Oleh sebab itu, bila kita mengatakan bahwa
sejak terkonsepsi janin sudah menjadi manusia adalah sama saja dengan
mengatakan bahwa biji durian sebelum ditanam sudah menjadi pohon
durian.
Filsuf feminis lain seperti Mary Anne Warren menegaskan bahwa memang
benar persoalan kapan manusia dianggap manusia (personhood), merupakan
pertanyaan yang penting dalam persoalan aborsi. Faham agama Kristen
tentang "kesucian kehidupan" (seperti yang dijelaskan panjang lebar
oleh K Bertens), menunjukkan bahwa harus ada penghormatan terhadap
kehidupan dan kemanusiaan dan bila prinsip ini dilanggar menurut K
Bertens, kita menghancurkan kebudayaan kita sendiri. (Kompas, 1/10/01)
Dalam mendefinisikan "kapan manusia disebut manusia" sepanjang masa
selalu ada perbedaan pendapat antara anti-aborsi yang mendefinisikan
manusia sejak awal terkonsepsi dan yang pro-choice aborsi sejak
jantung manusia berdetak (empat minggu).
Oleh sebab itu, argumen kelompok pro-choice aborsi adalah bahwa di
bawah empat minggu aborsi masih dapat dilakukan. Argumen Warren
lainnya yang cukup menarik adalah bahwa bila janin dianggap sebagai
manusia apakah ia dapat dikatakan memiliki moralitas kemanusiaan?
Apakah moralitas kemanusiaan dibentuk saat terkonsepsi ataukah saat
"manusia" tersebut mempunyai konsep kesadaran diri, aktivitas dan
komunikasi?
Para pakar biologi telah lama mempertentangkan kapan kehidupan manusia
dimulai. Kini ilmu pengetahuan modern telah sampai pada suatu
kesimpulan bahwa kehidupan manusia dimulai pada saat terjadinya
pembuahan. Ini merupakan fakta ilmiah, bukan pernyataan filosofis,
dugaan spekulatif ataupun sebuah teori. Fakta bahwa kehidupan manusia
dimulai pada saat terjadi pembuahan adalah kenyataan yang telah
terbukti dan tak dapat disangkal.

Pada bulan Oktober 1971, sebuah kelompok terdiri dari 220 dokter
terkemuka dan para guru besar menyampaikan laporan ilmiah amicus
curiae kepada Dewan Pengadilan Tinggi Amerika Serikat. Laporan
tersebut menunjukkan bahwa suatu siklus pembentukan pribadi manusia
terjadi saat pembuahan. Laporan ilmiah ini menunjukkan bahwa ilmu
pengetahuan modern yang meliputi embriologi, fetologi, genetika,
perinatologi dan biologi telah membuktikan terbentuknya kepribadian
dari seorang manusia yang masih berada dalam kandungan.

Pernyataan ilmiah ini didukung oleh fakta, di mana sebuah janin saat
memasuki minggu ketujuh sudah menunjukkan bentuk dan bagian organ
tubuh dari manusia dewasa. Susunan otak janin telah menyerupai stuktur
otak manusia dewasa yang dapat mengirimkan rangsangan untuk
mengkoordinasi fungsi organ tubuh lainnya. Jantungnya mulai berdenyut
dengan kuat. Perutnya sudah dapat memproduksi cairan pencernaan.
Hatinya membuat sel-sel darah dan ginjalnya mulai berfungsi menyaring
asam urine dari darah janin. Otot-otot lengan dan tubuhnya juga sudah
dapat bergerak. Setelah minggu kedelapan sudah sepenuhnya menjadi
bayi.

Dunia medis telah berhasil pula mengembangkan teknologi kedokteran
modern yang mampu membuktikan bahwa kehidupan manusia dimulai pada
saat terjadi pembuahan. Teknologi ultrasound telah berhasil menjadi
peralatan medis yang mampu memotret keadaan dalam rahim. Teknologi ini
memungkinkan manusia benar-benar dapat melihat bayi dalam kandungan.
Ultrasound memberikan gambar yang jelas dan tepat, memungkinkan untuk
melihat bagaimana bayi menghela nafas, menggerak-gerakkan tubuhnya,
kencing dan segala sesuatu yang terjadi dalam kandungan. Kini
teknologi ultrasound yang lebih canggih, yakni transvaginal sonography
sudah mampu melihat jantung bayi yang berdenyut pada usia sekitar 3-3½
minggu.
Pakar medis kini berhasil membuka mata dunia bahwa janin adalah
manusia yang hidup, dan bukan bagian dari tubuh seorang ibu. Secara
biologis di dalam kehamilan terdapat dua tubuh yang berbeda. Bukti
adanya dua tubuh yang berlainan dapat dilihat dari kenyataan yang
menunjukkan banyak wanita yang golongan darahnya berbeda dengan
golongan darah bayinya. Secara medis tidak mungkin suatu tubuh
mempunyai dua golongan darah yang sama sekali berbeda. Demikian pula
seorang ibu dapat mengandung seorang anak laki- laki. Suatu kenyataan
ilmiah bahwa makhluk kecil dalam rahim ibu memiliki sidik jari,
tangan, kaki, kulit, mata, telinga dan alat kelamin yang bukan milik
ibunya. Ia memiliki sendiri paru-paru, ginjal, darah, jantung dan
sirkulasi yang bukan milik ibunya. Ia memiliki sendiri mulut, perut
dan pencernaan yang bukan milik ibunya. Fakta ini menjelaskan bahwa
janin bukan bagian dari tubuh ibunya. Janin adalah manusia dalam
rahim.
Pengertian Aborsi
Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan
istilah "abortus". Berarti pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel
telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Ini
adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi
kesempatan untuk bertumbuh.
Dalam dunia kedokteran dikenal 3 macam aborsi, yaitu:
1. Aborsi Spontan / Alamiah ; Aborsi spontan / alamiah berlangsung
tanpa tindakan apapun. Kebanyakan disebabkan karena kurang baiknya
kualitas sel telur dan sel sperma, sedangkan.
2. Aborsi Buatan / Sengaja; Aborsi buatan / sengaja adalah pengakhiran
kehamilan sebelum usia kandungan 28 minggu sebagai suatu akibat
tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si
pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter, bidan atau dukun beranak).
3. Aborsi Terapeutik / Medis; Aborsi terapeutik / medis adalah
pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas indikasi medik.
Sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil tetapi mempunyai penyakit
darah tinggi menahun atau penyakit jantung yang parah yang dapat
membahayakan baik calon ibu maupun janin yang dikandungnya. Tetapi ini
semua atas pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa.
Identifikasi Masalah (Fakta sosiologis aborsi)
Menurut Buku Fakta yang dikeluarkan oleh UNFPA dan Kantor Menteri
Negara Pemberdayaan Perempuan terbitan tahun 2000, diperkirakan
sekitar 2,3 juta tindakan aborsi dilakukan di Indonesia setiap tahun.
Dikatakan bahwa kebanyakan dari tindakan aborsi tersebut dilakukan
secara tidak aman dan sering kali mengakibatkan kematian ibu sebesar
35-50 persen. Terdapat sebanyak 600.000 kasus kahamilan yang tidak
diinginkan karena kegagalan alat kontrasepsi dan sekitar 700.000 kasus
karena tidak ada akses terhadap alat kontrasepsi.
Survei yang dilakukan di Jakarta, Medan, Surabaya, dan Denpasar
menunjukkan bahwa 89 persen tindakan aborsi dilakukan oleh perempuan
yang telah menikah dan hanya 11 persen dilakukan perempuan yang tidak
menikah.
Alasan-alasan yang sering diutarakan mengapa aborsi dilakukan adalah
karena kegagalan alat kontrasepsi, kehamilan yang tidak diinginkan,
ketakutan akan hukuman orangtua, kehamilan remaja, dan ketidakmampuan
secara ekonomi dan psikologis.
Dimensi isu jender dalam kasus-kasus aborsi menurut buku tersebut
adalah bahwa laki-laki sering kali tidak bertanggung jawab dalam
menanggung beban persoalan kehamilan yang tidak diinginkan, laki-laki
sering kali menolak pasangannya memakai alat kontrasepsi, perempuan
muda sering kali dirayu dan dipaksa untuk berhubungan secara intim
dengan alasan cinta, dan adanya tekanan dari lingkungan untuk mencoba
melakukan hubungan seks.
Berbagai studi juga menunjukkan bahwa perempuan miskin merupakan
kelompok yang paling dirugikan. Status hukum yang mengilegalkan
praktik aborsi mengakibatkan banyak praktik gelap aborsi yang meminta
bayaran tinggi sehingga hanya perempuan mampu yang mendapatkan
pelayanan aborsi dengan aman. Selebihnya, perempuan miskin mendapatkan
pelayanan yang sama sekali tidak aman, misalnya, melakukan aborsi
lewat dukun urut yang sudah barang tentu mengancam jiwa mereka.
Statistik aborsi di Indonesia, frekuensi terjadinya sangat sulit
dihitung secara akurat, karena aborsi buatan sangat sering terjadi
tanpa dilaporkan – kecuali jika terjadi komplikasi, sehingga perlu
perawatan di Rumah Sakit. Akan tetapi, berdasarkan perkiraan dari
BKBN, ada sekitar 2.000.000 kasus aborsi yang terjadi setiap tahunnya
di Indonesia. Berarti ada 2.000.000 nyawa yang dibunuh setiap tahunnya
secara keji tanpa banyak yang tahu.
Pandangan Alkitab tentang Aborsi
Semua umat Kristiani bisa membaca kembali Kitab Sucinya untuk mengerti
dengan jelas, betapa Tuhan sangat tidak berkenan atas pembunuhan
seperti yang dilakukan dalam tindakan aborsi.
1. Jangan pernah berpikir bahwa janin dalam kandungan itu belum memiliki nyawa
a) Kej 16:11 dan Kej 25:21-26 ~ Selanjutnya kata Malaikat Tuhan itu
kepadanya: "Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak
laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab Tuhan telah mendengar
tentang penindasan atasmu itu. ~ Berdoalah Ishak kepada Tuhan untuk
isterinya, sebab isterinya itu mandul; Tuhan mengabulkan doanya,
sehingga Ribka, isterinya itu, mengandung. Tetapi anak-anaknya
bertolak-tolakan di dalam rahimnya dan ia berkata: "Jika demikian
halnya, mengapa aku hidup?" Dan ia pergi meminta petunjuk kepada
Tuhan. Firman Tuhan kepadanya: "Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan
dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang
satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi
hamba kepada anak yang muda." Setelah genap harinya untuk bersalin,
memang anak kembar yang di dalam kandungannya. Keluarlah yang
pertama, warnanya merah, seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu; sebab
itu ia dinamai Esau. Sesudah itu keluarlah adiknya; tangannya
memegang tumit Esau, sebab itu ia dinamai Yakub. Ishak berumur enam
puluh tahun pada waktu mereka lahir.
b) Hos 12:2-3 dan Rom 9:10-13~ Efraim menjaga angin, dan mengejar
angin timur sehari suntuk, memperbanyak dusta dan pemusnahan; mereka
mengadakan perjanjian dengan Asyur, dan membawa minyak kepada Mesir.
Tuhan mempunyai perbantahan dengan Yehuda, Ia akan menghukum Yakub
sesuai dengan tingkah lakunya, dan akan memberi balasan kepadanya
sesuai dengan perbuatan-perbuatannya. ~ Tetapi bukan hanya itu saja.
Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu
dari Ishak, bapa leluhur kita. Sebab waktu anak-anak itu belum
dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya
rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan
perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya – dikatakan kepada Ribka:
"Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda." Seperti ada
tertulis: "Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau."
c) Kel 21-22 ~ pada Bab 21 dan 22 dibahas Tentang hak budak Ibrani
(Kel 21:1-11); Peraturan tentang jaminan nyawa sesama manusia (Kel 21:
12-36) ; Peraturan tentang jaminan harta sesama manusia (Kel 22:1-17);
Peraturan tentang dosa yang keji (Kel 22:18-20); Peraturan tentang
orang-orang yang tidak mampu (Kel 22:21-27); dan Berbagai-bagai
peraturan (Kel 22:28-31)
d) Yer 1:5 ~ "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku
telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku
telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi
bagi bangsa-bangsa."
e) Yes 7:14 ~ Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu
suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan
akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia
Imanuel.
f) Yes 44:2,24 ~ Beginilah firman Tuhan yang menjadikan engkau, yang
membentuk engkau sejak dari kandungan dan yang menolong engkau:
Janganlah takut, hai hambaKu Yakub, dan hai Yesyurun, yang telah
Kupilih! ….Beginilah firman Tuhan, Penebusmu, yang membentuk engkau
sejak dari kandungan; "Akulah Tuhan, yang menjadikan segala sesuatu,
yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi –
siapakah yang mendampingi Aku? –
g) Yes 46:3 ~ "Dengarkanlah Aku, hai kaum keturunan Yakub, hai semua
orang yang masih tinggal dari keturunan Israel, hai orang-orang yang
Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung sejak
dari rahim…."
h) Yes 49:1-2 ~ Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai
bangsa-bangsa yang jauh! Tuhan telah memanggil aku sejak dari
kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku. Ia telah
membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung
dalam naungan tanganNya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang
runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panahNya.
i) Yes 53:6 ~ Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita
mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya
kejahatan kita sekalian.
j) Ayb 3:11-16 ~ Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa
waktu aku keluar dari kandungan? Mengapa pangkuan menerima aku;
mengapa ada buah dada, sehingga aku dapat menyusu? Jikalau tidak, aku
sekarang berbaring dan tenang; aku tertidur dan mendapat istirahat
bersama-sama raja-raja dan penasihat-penasihat di bumi, yang
mendirikan kembali reruntuhan bagi dirinya, atau bersama-sama
pembesar-pembesar yang mempunyai emas, yang memenuhi rumahnya dengan
perak. Atau mengapa aku tidak seperti anak gugur yang disembunyikan,
seperti bayi yang tidak melihat terang?
k) Ayb 10:8-12 ~ TanganMulah yang membentuk dan membuat aku, tetapi
kemudian Engkau berpaling dan hendak membinasakan aku? Ingatlah,
bahwa Engkau yang membuat aku dari tanah liat, tetapi Engkau hendak
menjadikan aku debu kembali? Bukankah Engkau yang mencurahkan aku
seperti air susu, dan mengentalkan aku seperti keju? Engkau
mengenakan kulit dan daging kepadaku, serta menjalin aku dengan tulang
dan urat. Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan
pemeliharaanMu menjaga nyawaku.
l) Ayb 31:15 ~ Bukankah Ia, yang membuat aku dalam kandungan, membuat
orang itu juga? Bukankah satu juga yang membentukkami dalam rahim?
m) Mzm 22:9-10 ~ "Ia menyerah kepada Tuhan; biarlah Dia yang
meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan
kepadanya?" Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan; Engkau
yang membuat aku aman pada dada ibuku.
n) Mzm 139:13-16 ~ Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku,
menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepadaMu oleh karena
kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku
benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagiMu,
ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di
bagian-bagian bumi yang paling bawah; mataMu melihat selagi aku bakal
anak; dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan
dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.
o) Pkh 5:15 dan Pkh 11:5 ~ Inipun kemalangan yang menyedihkan.
Sebagaimana ia datang, demikianpun ia akan pergi. Dan apakah
keuntungan orang tadi yang telah berlelah-lelah menjaring angin? ~
Sebagaimana engkau tidak mengetahui jalan angin dan tulang-tulang
dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau
tidak mengetahui pekerjaan Allah yang melakukan segala sesuatu.
p) Luk 1:13-15 ~ Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: "Jangan takut,
hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu,
akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau
menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan
banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan
besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman
keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya;
q) Luk 1:39-44 ~ mengisahkan kunjungan Maria kepada Elisabet, ibu Yohanes.
r) Mzm 51:5 ~ Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku
senantiasa bergumul dengan dosaku.
s) Luk 1:35-36 ~ Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun
atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu
anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan
sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang
anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia,
yang disebut mandul itu.
t) Mat 1:18-20 ~ Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada
waktu Maria, ibuNya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung
dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena
Yusuf suaminya seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama
isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak
kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf , anak Daud, janganlah
engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam
kandungannya adalah dari Roh Kudus…."
u) Hak 13:3-7 ~ Dan Malaikat Tuhan menampakkan diri kepada perempuan
itu dan berfirman kepadanya demikian: "Memang engkau mandul, tidak
beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak
laki-laki. Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, janganminum anggur
atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram.
Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki;
kepalanya takkan kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibunya
anak itu akan menjadi seorang nazir Allah dan dengan dia akan mulai
penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin."
v) Ef 1:4 ~ …yang telah menyerahkan diriNya karena dosa-dosa kita,
untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut
kehendak Allah dan Bapa kita.
w) Mat 25:34 ~ Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah
kananNya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah
Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
x) Why 13:8 ~ Dan semua orang yang diam di atas bumi akan
menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak
dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah
disembelih.
y) Why 17:8 ~ Adapun binatang yang telah kaulihat itu, telah ada,
namun tidak ada, ia akan muncul dari jurang maut, dan ia menuju kepada
kebinasaan. Dan mereka yang diam di bumi, yaitu mereka yang tidak
tertulis di dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan, akan heran,
apabila mereka melihat, bahwa binatang itu telah ada, namun tidak ada,
dan akan muncul lagi.
2. Hukuman bagi para pelaku aborsi sangat keras.
Kel 21:22-25 ~ Apabila ada orang berkelahi dan seorang dari mereka
tertumbuk kepada seorang perempuan yang sedang mengandung, sehingga
keguguran kandungan, tetapi tidak mendapat kecelakaan yang membawa
maut, maka pastilah ia didenda sebanyak yang dikenakan oleh suami
perempuan itu kepadanya, dan ia harus membayarnya menurut putusan
hakim. Tetapi jika perempuan itu mendapat kecelakaan yang membawa
maut, maka engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata,
gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti
lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak.
3. Aborsi karena alasan janin yang cacat tidak dibenarkan Tuhan.
a) Yoh 9:1-3 ~ Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta
sejak lahirnya. Murid-muridNya bertanya kepadaNya: "Rabi, siapakah
yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia
dilahirkan buta?"" Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang
tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di
dalam dia…"
b) Kis 17:25-29 ~ … dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia,
seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup
dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. Dari satu orang saja
Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami
seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan
batas-batas kediaman mereka supaya mereka mencari Dia dan
mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari
kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak,
kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu:
Sebab kita ini dari keturunan Allah juga. Karena kita berasal dari
keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama
seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian
manusia.
c) Mzm 94:9 ~ Dia yang menanamkan telinga, masakan tidak mendengar?
Dia yang membentuk mata, masakah tidak memandang?
d) Rom 8:28 ~ Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam
segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi
Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
e) Im 19:14 ~ Janganlah kau kutuki orang tuli dan did depan orang buta
janganlah kau taruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan
Allahmu; Akulah Tuhan.
f) Yes 45:9-12 ~ Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya;
dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata
kepada pembentuknya: "Apakah yang kaubuat?" atau yang telah dibuatnya:
"Engkau tidak punya tangan!" Celakalah orang yang berkata kepada
ayahnya: "Apakah yang kauperanakkan?" dan kepada ibunya: "Apakah yang
kaulahirkan?" Beginilah firman Tuhan, Yang Mahakudus, Allah dan
Pembentuk Israel; "Kamukah yang mengajukan pertanyaan kepadaKu
mengenai anak-anakKu, atau memberi perintah kepadaKu mengenai yang
dibuat tanganKu? Akulah yang menjadikan bumi dan yang menciptakan
manusia di atasnya; tanganKulah yang membentangkan langit, dan Akulah
yang memberi perintah kepada seluruh tentaranya.
4. Aborsi karena ingin menyembunyikan aib tidak dibenarkan Tuhan.
a) Kej 19:36-38 ~ Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah
mereka. Yang lebih tua melahirkan seorang anak laki-laki, dan
menamainya Moab; dialah bapa orang Moab yang sekarang. Yang lebih
mudapun melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ben-Ami;
dialah bapa bani Amon yang sekarang.
b) Kej 50:20 ~ Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap
aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan
maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara
hidup suatu bangsa yang besar.
c) Rom 8:28 ~ Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam
segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi
Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
5. Tuhan tidak pernah memperkenankan anak manusia dikorbankan. Apapun alasannya.
a) Yeh 16:20-21 ~ Bahkan, engkau mengambil anak-anakmu lelaki dan
perempuan yang engkau lahirkan bagiKu dan mempersembahkannya kepada
mereka menjadi makanan mereka. Apakah persundalanmu ini masih perkara
enteng bahwa engkau menyembelih anak-anakKu dan menyerahkanNya kepada
mereka dengan mempersembahkannya sebagai korban dalam api?
b) Yer 32:35 ~ Mereka mendirikan bukit-bukit pengorbanan untuk Baal di
Lembah Ben-Hinom, untuk mempersembahkan anak-anak lelaki dan anak-anak
perempuan mereka kepada Molokh sebagai korban dalam api, sekalipun Aku
tidak pernah memerintahkannya kepada mereka dan sekalipun hal itu
tidak pernah timbul dalam hatiKu, yakni hal melakukan kejijikan ini,
sehingga Yehuda tergelincir ke dalam dosa.
c) Kel 1:15-17 ~ Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang
menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama
Pua, katanya: "Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu
bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak
laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan,
bolehlah ia hidup." Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak
melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan
membiarkan bayi-bayi itu hidup.
d) Mzm 106:37-42 ~ Mereka mengorbankan anak-anak lelaki mereka, dan
anak-anak perempuan mereka kepada roh-roh jahat, dan menumpahkan darah
orang yang tak bersalah, darah anak-anak lelaki dan anak-anak
perempuan mereka, yang mereka korbankan kepada berhala-berhala Kanaan,
sehingga negeri itu cemar oleh hutang darah. Mereka menajiskan diri
dengan apa yang mereka lakukan, dan berzinah dalam perbuatan-perbuatan
mereka. Maka menyalalah murka Tuhan terhadap umatNya, dan Ia jijik
kepada milikNya sendiir. DiserahkanNyalah mereka ke tangan
bangsa-bangsa, sehingga orang-orang yang membenci mereka berkuasa atas
mereka. Mereka diimpit oleh musuhnya, sehingga takluk ke bawah
kuasanya.
e) II Raj 16:3; 17:17 dan 21:6 ~ .. tetapi ia hidup menurut kelakuan
raja-raja Israel, bahkan dia mempersembahkan anaknya sebagai korban
dalam api, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah
dihalau Tuhan dari depan orang Israel. ~ Tambahan pula mereka
mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api dan melakukan
tenung dan telaah dan memperbudak diri dengan melakukan yang jahat di
mata Tuhan, sehingga mereka menimbulkan sakit hatiNya. ~ Bahkan ia
mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api, melakukan ramal dan
telaah, dan menghubungi para pemanggil arwah dan para pemanggil roh
peramal. Ia melakukan banyak yang jahat di mata Tuhan, sehingga ia
menimbulkan sakit hatiNya.
f) Ul 12:31 dan 18:10-13 ~ Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap
Tuhan, Allahmu; sebab segala yang menjadi kekejian bagi Tuhan, apa
yang dibenciNya, itulah yang dilakukan mereka bagi allah mereka;
bahkan anak-anaknya lelaku dan anak-anaknya perempuan dibakar mereka
dengan api bagi allah mereka. ~ Di antaramu janganlah didapati
seorangpun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya
perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi
petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir.
Seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau
kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati.
Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi
Tuhan, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah Tuhan, Allahmu,
menghalau mereka dari hadapanmu. Haruslah engkau hidup dengan tidak
bercela di hadapan Tuhan, Allahmu.
g) Im 18:21, 24 dan 30 ~ "Janganlah kauserahkan seorang dari
anak-anakmu untuk dipersembahkan kepada Molokh, supaya jangan engkau
melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah Tuhan. ~ Janganlah kamu
menajiskan dirimu dengan semuanya itu bangsa-bangsa yang akan
Kuhalaukan dari depanmu telah menjadi najis. ~ Dengan demikian kami
harus tetap berpegang pada kewajibanmu terhadap Aku, dan jangan kamu
melakukan sesuatu dari kebiasaan yang keji itu, yang dilakukan sebelum
kamu, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan semuanya itu; Akulah
Tuhan, Allahmu."
6. Anak-anak adalah pemberian Tuhan. Jagalah sebaik-baiknya.
a) Kej 30:1-2 ~ Ketika dilihat Rahel, bahwa ia tidak melahirkan anak
bagi Yakub, cemburulah ia kepada kakaknya itu, lalu berkata kepada
Yakub: "Berikanlah kepadaku anak; kalau tidak, aku akan mati." Maka
bangkitlah amarah Yakub terhadap Rahel dan ia berkata:" Akukah
pengganti Allah, yang telah menghalangi engkau mengandung?"
b) Mzm 127:3-5 ~ Sesungguhnya, anak laki-laki adalah milik pusaka dari
pada Tuhan, dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak
panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.
Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan
semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara
dengan musuh-musuh di pintu gerbang.
Kesimpulan:
a. Bila kita berbicara soal aborsi bukankah selayaknya perdebatan ini
dikembalikan kepada perempuan? Bagaimanapun bila kita membahas
persoalan aborsi, tidak bisa tidak kita harus menghitung peranan
perempuan dan isu-isu yang dihadapi perempuan dalam masalah ini.
Mengapa? Karena sederhana saja penjelasannya, masalah aborsi berkaitan
langsung dengan kehidupan perempuan, dengan demikian membutuhkan teori
nilai feminisme.
b. Apapun alasannya, aborsi bukanlah jalan keluar. Setiap bayi yang
dilahirkan, selalu dipersiapkan Tuhan segala sesuatunya untuk dia.
Jika hanya tidak sanggup membiayai kehidupan yang menjadi alasan,
berdoalah agar Tuhan memberikan jalan keluar. Jika memang benar-benar
tidak menginginkan anak tersebut, carilah orang-orang dekat yang
bersedia untuk menerimanya sebagai anak angkat. Aborsi bukanlah suatu
solusi sama sekali. Aborsi akan membuahkan masalah-masalah baru yang
bahkan lebih besar lagi bagi pelaku – di dunia dan di akhirat.
c. Aborsi adalah pembunuhan yang biadab; Cara apa pun yang digunakan,
anak yang belum lahir tersebut telah mengalami penganiayaan teramat
keji sebelum kehidupan mereka berakhir. Mereka telah mengalami
kesakitan yang mematikan. Namun semua rasa sakit dan penderitaan
mahluk kecil ini tak dapat dilihat langsung dengan mata telanjang,
karenanya tidaklah mengherankan kebiadaban aborsi masih terus
berlanjut. Anak-anak tersebut dibunuh dengan cara yang teramat kejam.
Masalahnya bukan terletak pada penderitaan mereka. Masalah utama yang
sebenarnya, anak-anak tersebut direnggut nyawanya pada saat mereka
baru memulai kehidupannya.
d. Aborsi tidak hanya menimbulkan penderitaan dan kematian janin dalam
rahim. Aborsi juga mengancam keselamatan hidup wanita yang
menggugurkan kandungannya. Sejarah menunjukkan bahwa para wanita yang
pernah melakukan aborsi kini mengalami gangguan psikologis, mental
rohani dan risiko jasmani. Depresi, gangguan kejiwaan dan kematian
sang ibu tak jarang menjadi akhir sebuah upaya aborsi. Aborsi juga
menimbulkan sejumlah cacat tubuh seperti pendarahan, sobeknya leher
rahim, perforasi pada kandungan, usus maupun kandung kemih. Aborsi
adakalanya mendatangkan penyakit-penyakit yang tak terduga sebelumnya,
seperti anemia, radang selaput perut, radang urat darah ataupun radang
panggul yang berkaitan dengan terjadinya kemandulan.

16 Oktober 2012

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB GEREJA BAGI BANGSA

PENDAHULUAN
Gereja dihadirkan Tuhan di dunia ini untuk tujuan tertentu. Tujuan itu
terkandung khusus dalam garis besar program kerja Allah dalam bentuk
perjanjian sentral (Abrahamic Covenant), Kejadian 12 : 1-3. Hampir
semua bagian central dan unilateral itu berhubungan dengan berkat bagi
umat pilihan Allah yang lama (Israel), lalu kemudian pada bagian
terakhir berhubungan dengan berkat bagi dunia ini. Melalui Abrahan dan
keturunannya , Tuhan berjanji memberkati dunia ini (Kejadian 12:3b).
Umat Israel menikmati berkat mereka sepuas-puasnya, namun mengabaikan
program total penyelamatan umat manusia, termasuk non Israel. Akhirnya
Allah membentuk umat pilihanNya yang baru, Ia namakan Eklesia (Matius
16:18) atau Keluarga Allah.(Efesus 2:19-20), yang lebih dikenal dengan
nama gereja. Tujuan eksistensi gereja itu adalah agar ia menjadi
sarana tunggal bagi program penyelamatan manusia yang sesat melalui
program Allah dalam Yesus Kristus yang mati dan bangkit dari antara
orang mati.
Juruselamat dunia mengingatkan Eklesia (baca gereja), disaat proses
pembentukkannya sebelum ia (gereja) melaksanakan misi penyelamatan
itu, di Kalvari bahwa, Anak manusia datang bukan untuk dilayani,
melainkan untuk melayani dan memberikan nyawanya sebagai tebusan ganti
orang banyak." (Matius 20:28; Markus 10:45). Dua hal penting yang
dibicarakan Yesus di sini, yaitu melayani Tuhan dan menerima kematian
Yesus sebagai penebusan dosa. Kata "dan" pada anak kalimat kedua dapat
berarti "bahkan" atau "sama dengan" atau "yang artinya". Jadi seluruh
kalimat kedua berbunyi , "bahkan memberikan nyawaNya sebagai tebusan
ganti orang banyak."Kata" bahkan" menunjukkan bahwa meskipun melayani
Tuhan dalam bidang apapun itu penting, namun menerima Yesus Kristus
sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi lebih penting lagi. Jadi gerakan
pemberitaan Injil adalah tugas dan tanggungjawab terpenting terutama
dari gereja. Inilah tujuan eksistensi dari Eklesia Allah.
Sebelum Ia naik ke surga, Tuhan yang adalah kepala gereja menegaskan
agar tugas pemberitaan Injil keselamatan dalam diriNya menjadi program
utama agenda gereja (Matius 28:18-20; Markus 10:15; Lukas 24:44-48;
Yohanes 20:21, Kisah 1:8), "semua bangsa" (Matius 28:19), "akhir
zaman" (Matius 28:20), "segala makhluk (Markus 16:5), dan "sampai
keujung bumi" (Kisah 1:8) adalah bermakna GLOBALISASI INJIL. Tugas dan
tanggungjawab ini yang terpenting bagi gereja di segala abad, di
segala tempat, di setiap budaya. Inilah unsur yang membuat gereja beda
dan unik.


GEREJA DAN NEGARA
Secara teologis, negara ditempatkan dalam hubungan dengan tindakan
TUHAN untuk memelihara ciptaaan-NYA. Negara tidak diciptakan oleh
TUHAN, tetapi diperkenankan TUHAN untuk menjadi alat dalam
pemeliharaan TUHAN terhadap dunia. Jadi negara tidak diciptakan oleh
TUHAN tetapi merupakan wujud dari kodrat manusia sebagai makhluk
sosial. Naluri alamiahnya mendorong untuk membangun persekutuan
(Calvin: Institutio II.ii.13). Manusia hidup dalam kebersamaan atau
persekutuan dan sadar akan pentingnya tata aturan dan kebiasaan antara
lain dalam hal membentuk negara. Dapat dikatakan hal tersebut
merupakan karunia TUHAN untuk manusia (banding Kejadian 1:28). Dapat
dikatakan bahwa keberadaan negara berhubungan dengan tindakan TUHAN
untuk memelihara ciptaan TUHAN (istilah teologis: providentia). TUHAN
memelihara ciptaan-NYA dengan cara melindungi (conservation), berada
bersama-sama (concursus) dan memerintah (gubernatio).
Dalam rangka itu TUHAN memberikan kuasa kepada negara. Kuasa itu
dijalankan oleh pemerintah sebagai hamba ALLAH. Sebagai hamba,
pemerintah bertugas memberikan perlindungan kepada masyarakat, berada
(bekerja dan berjuang) bersama-sama warganya, serta memerintah dalam
arti mengatur dan menata sehingga ada kesejahteraan bersama serta
masyarakat mengabdi dan memuliakan TUHAN.
Secara Alkitabiah, kita menelaah Firman TUHAN yang terdapat dalam Roma
13:1-17; Markus 12:13-17; Lukas 20:20-26; Yesaya 45:1-25; Wahyu
13:1-18. Walau Gereja sudah berada dalam berbagai ancaman (a.l.
datangnya dari pemerintah Roma) tetapi Rasul Paulus bersikap
menghargai pemerintah sebagai hamba TUHAN. Sikap seperti ini
sesungguhnya berlawanan dengan sikap orang-orang Yahudi yang berjuang
melawan pemerintah dan menebarkan teror yang meresahkan masyarakat.
Orang Kristen diajak untuk menghormati pemerintah. Dengan cara itu
orang-orang Kristen juga menuntut keadilan dari pemerintah, bahkan
mendorong (mengkritik) pemerintah agar melakukan kebenaran dan
menghindari kekejaman dan penindasan.
Orang Kristen tidak dapat melepaskan diri dari ikatan dengan
masyarakat dan bangsa, demikian pendirian YESUS. IA sendiri menyatu
dengan masyarakat Yahudi, tetapi juga dengan orang-orang Yunani dan
Romawi yang bertemu dengan-NYA. Orang-orang Kristen menyatakan
tanggung-jawab dan menjawab panggilan TUHAN tetapi juga terhadap
masyarakat. Ketaatannya kepada TUHAN dialami juga sebagai berkat bagi
masyarakat dan bangsa yang dipimpin oleh pemerintah. Orang-orang
Kristen tidak dapat menghindari kewajiban-kewajibannya terhadap negara
sebagaimana ia mengharapkan kewajiban-kewajiban negara terhadap warga
terwujud dalam masyarakat. Negara yang baik membuat warganya merasa
berhutang atas berbagai perlindungan yang diberikannya dengan menjamin
keamanan dan kerukunan. Negara yang bertanggung-jawab pasti membuat
warganya menghormatinya karena menerapkan hukum yang adil, menyediakan
fasilitas-fasilitas umum (seperti transportasi, pasar, listrik dsb..)
yang baik bagi masyarakat. Pemerintah yang baik akan menjaga keutuhan,
sebab jika terjadi perpecahan, ia sendiri kehilangan wibawa dan Negara
menjadi runtuh, lalu hilanglah juga pemerintah.
Hubungan antara Gereja dan Negara perlu dibangun secara kreatif.
Negara dan Gereja tetap menjaga kemandirian masing-masing. Tidak boleh
saling menguasai karena keduanya otonom dan bebas melakukan tugasnya.
Dalam melaksanakan fungsinya masing-masing perlu dibangun usaha-usaha
untuk saling melengkapi mencapai tujuan bersama yaitu perlindungan dan
kesejahteraan masyarakat. Keduanya selalu berinteraksi baik melalui
kehadiran warga maupun sebagai lembaga, di pusat maupun di daerah
dalam semua aras.
Untuk itu Gereja dan Negara sama-sama berjuang untuk menciptakan
undang-undang dan peraturan yang adil untuk kepentingan bersama
sebagai satu masyarakat yang majemuk. Dengan undang-undang dan
peraturan tersebut semua pihak melaksanakan tugas dalam kebersamaan
yang tertata jelas, rapi tersusun dan membangun masa depan bersama.

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB GEREJA
Gereja sebagai persekutuan yang dipanggil TUHAN untuk hadir di tengah
dan bersama masyarakat bekerjasama dengan pemerintah. Walau pemerintah
itu kejam seperti pengalaman Gereja perdana (dalam Wahyu), Gereja
tetap melakukan tanggung-jawabnya. Ada ketegangan-ketegangan dengan
potensi konflik, tetapi Gereja harus berjuang untuk menyadarkan
pemerintah atas kekeliruannya. Ada perlawanan terhadap pemerintah
secara pasif oleh orang-orang Kristen perdana melalui pengorbanan
mereka. Pengorbanan itu menunjukkan bahwa pemerintah telah menyimpang
dan pada saatnya TUHAN menghukumnya. Sebab bukan tidak mungkin TUHAN
memakai pemerintah untuk membebaskan umat-NYA dari penderitaan.
Orang Kristen selaku warga jemaat dan warga Indonesia harus turut
memikul tanggungjawab dalam memperjuangkan martabat, kebebasan,
keadilan sosial dan penggunaan kekuasaan berdasarkan etika Kristen
demi terciptanya situasi bangsa dan negara yang kondusif serta dinamis
melalui sumbangan-sumbangan yang bersifat fisik maupun mental. Pada
akhirnya nanti setiap orang Kristen mampu mempersiapkan diri sebagai
manusia Indonesia modern dalam rangka menyempurnakan atau
memperbaharui struktur pembangunan itu.
Tugas Gereja masa kini di Indonesia adalah Mengutus. Pengutusan.
Mengutus siapa? Mengutus Jemaat seluruh jemaat, yang tua-muda besar,
laki-laki, perempuan secara sosial kaya atau miskin, pintar atau tidak
begitu pintar dst..untuk melayani dan bersaksi di mana-mana, di
berbagai bidang hidup kesehariannya. Tidak cukup bagi Pimpinan Majelis
Gereja mengutus seluruh Jemaat dari mimbar. Tidak cukup hanya lewat
warta gereja, lewat Berkat Pengutusan yang diucapkan lewat Liturgi
Kebaktian, sebelum warga Jemaat aktif bergereja pergi beranjak pulang
meninggalkan gedung gereja di hari Minggu atau hari-hari kebaktian
lainnya.
Gereja Pimpinan Gereja Pucuk pimpinan Gereja Majelis Gereja masa kini
di tanah air, harus lebih ekstra bekerja keras di hari-hari ini. Siapa
yang mengutus, melakukan Tugas Pengutusan Gereja? Para pimpinan
Gereja: Penatua/sintua, Diaken, Gembala Pelayan Tahbisan Non Tahbisan
Bishop penilik overseer, Ketua Dewan Marturia, Koinonia, Diakonia.
Sejatinya jemaat tidaklah diutus ke dalam, tapi ke luar 'hadir' di dan
ke tengah-tengah masyarakat, komunitas, bangsa.. untuk melayani dan
bersaksi.. sesuai dengan bidang minat, kata hati nurani, talenta,
profesi karunia kompetensi sumber daya, pengetahuan.. yang dipunyai
oleh masing-masing anggota/keluarga jemaat tersebut.
Apa tugas Gereja selanjutnya? Bukan hanya sekedar kumpul-kumpul sosial
tanpa mission statement yang jelas. Dr. Martin Luther King Jr
mengatakan kalau hanya demikian, dipastikan Gereja akan hilang makna
daya greget dan power spiritualitasnya. Gereja secara refleks harus
membina memuridkan mengkader merekrut (rekrutmen) 'mereka' yang baru
tersesat' dan ditemukan kembali oleh anggota warga jemaat terutus,
'jemaat yang sudah ada (eksis)'. Tujuannya agar mereka bisa jadi calon
anggota lantas jadi anggota Gereja yang bertumbuh rohaninya,
sosialnya, cara pandangnya serta pemahamannya.
Dengan demikian, dalam rangka pembangunan bangsa menuju tinggal
landas, gereja (persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yesus
Kristus) harus berusaha mengenal Kristus serta situasi dalam rangka
pembangunan bangsa sebagai pengamalan Pancasila dan mengenal dirinya
sebai-baiknya. Oleh sebab itu dalam terang Injil kerajaan Allah,
gereja harus mengambil bagian secara positif, kreatif, kritis dan
realistis dalam pembangunan bangsa. Dalam hubungannya dengan umat
beragama lainnya, gereja diharapkan dapat mengembangkan dialog dan
tanggungjawab bersama untuk meletakkan landasan moral etik dan
spiritual yang kokoh bagi pembangunan bangsa.

KIAT-KIAT MENULIS RENUNGAN

KIAT-KIAT MENULIS RENUNGAN
==========================

Renungan adalah refleksi atas sebuah ayat dalam Alkitab yang
dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan kontekstual bagi pembaca.
Penulis memulai tulisan setelah melihat persoalan-persoalan yang
terjadi dalam realitas kehidupan. Dia lalu mencari jawabannya
melalui permenungan dan penelitian yang mendalam atas ayat-ayat
dalam Firman Tuhan. Setelah itu dia membagikan hasil permenungan itu
kepada pembaca.

Menulis renungan berbeda dengan menulis artikel. Di dalam menulis
artikel, penulis menyajikan dan memberikan pengetahuan serta
ketrampilan (memberi makanan bagi otak), sedangkan dalam menulis
renungan, penulis berbagi iman dan pengalaman kerohanian (memberi
makanan pada jiwa). Artikel berpusat pada satu tema dan menggunakan
lebih dari satu sumber tulisan, sedangkan renungan, berpusat pada
satu tema dan satu ayat Alkitab. Panjang artikel bisa mencapai 500-
2000 kata, sedangkan renungan, antara 250-300 kata. Artikel berasal
dari pengetahuan di kepala (head), sedangkan renungan adalah luapan
dari pengalaman batin (heart).

Tujuan akhir dari sebuah renungan adalah perubahan hidup. Seberapa
pun indah tulisan renungan itu, tetapi jika tidak bisa mendorong
pembaca untuk melakukan tindakan yang membuatnya semakin mengasihi
Tuhan dan sesama, maka tulisan itu tidak layak disebut renungan.

Ada beberapa tipe renungan, yaitu:
1. Renungan yang memberi inspirasi untuk bertindak dengan nyata.
Isinya biasanya berupa dorongan bagi pembaca untuk bertindak
sesuatu.
2. Renungan yang memberi ketenangan. Biasanya berisi kata-kata
penghiburan untuk menguatkan pembaca yang sedang mengalami
pergumulan.
3. Renungan yang memberikan teguran. Renungan ini memperingatkan
pembaca supaya tidak melakukan perbuatan tertentu yang bisa
mendatangkan dosa.
4. Renungan yang memberi paparan tentang suatu perikop tertentu.
Isinya hanya berupa informasi yang menjelaskan makna dari ayat-
ayat tertentu dan relevansinya bagi konteks kekinian.

Rumus 4 C
---------
Ada suatu formula yang dipakai untuk menulis renungan yang disebut
"rumus 4 C", yaitu Contextualize, Connect, Communicate, dan
Conclude. Berikut ini penjelasannya:

1. Contextualize.
"Daratkanlah" isi renungan Anda dengan peristiwa kehidupan
sehari-hari secara nyata. Pembaca renungan adalah manusia biasa
dengan pergumulan kehidupan yang tidak ringan. Mereka membutuhkan
penguatan rohani yang aplikatif. Karena itulah, tulisan Anda
sebaiknya menjawab kebutuhan pembaca secara nyata.

2. Connect.
Hubungkan persoalan kehidupan yang dibahas itu dengan Firman
Tuhan. Temukanlah jawaban Firman Tuhan atas persoalan yang
digumulkan oleh penulis dan pembaca renungan itu. Dalam hal ini,
selain harus berdoa meminta hikmat dari Tuhan, lebih baik lagi
jika Anda memiliki pengetahuan teologi yang memadai.

3. Communicate.
Komunikasikan hasil studi Alkitab itu kepada pembaca.
Komunikasikan tentang kasih dan karunia Tuhan serta penguatan
dari Roh Kudus. Jika diperlukan, pakailah ilustrasi untuk
menjelaskannya.

4. Conclude.
Simpulkan renungan ini dengan sebuah tindakan yang bisa dilakukan
oleh pembaca. Bagian ini sangat penting. Rumuskanlah kata-kata
yang bisa mendorong pembaca untuk membuat keputusan dan melakukan
tindakan. Inilah yang disebut perubahan hidup.

Tips Praktis Menulis Renungan
-----------------------------
Secara lebih praktis, berikut ini adalah kiat-kiat praktis yang
dapat diterapkan di dalam menulis renungan:

1. Siapkan semua bahan-bahan pendukung, seperti ilustrasi, data-
data, Alkitab (kalau ada beberapa versi terjemahan dalam bahasa
Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa lainnya) dan Konkordansi
Alkitab (Kalau punya komputer, lebih enak memakai Program SABDA).

2. Berdoalah meminta pimpinan Tuhan.

3. Bacalah perikop ayat itu berulang-ulang dan jika mungkin, bacalah
juga versi terjemahan dan bahasa yang berbeda. Temukan gagasan
utama yang menjadi pusat dari isi renungan Anda.

4. Tulislah draft tulisan Anda. Tuangkanlah semua isi kepala Anda
dengan bebas. Draft bukanlah tulisan yang sudah jadi. Untuk
itulah, Anda tidak usah memperhitungkan apakah tulisan ini akan
tampak buruk. Yang penting, Anda bisa menuangkan semua gagasan
Anda lebih dulu. Teknik ini disebut curah gagasan (brain
storming).

5. Setelah semua ide tampaknya sudah mengalir keluar, maka langkah
selanjutnya adalah menyusun ide-ide atau pokok pikiran itu supaya
menjadi teratur dan enak dibaca. Dalam bahasa kerennya, supaya
alur logika tulisan mengalir dengan lancar. Jika ada ide-ide yang
tidak relevan, jangan ragu-ragu untuk memangkasnya.

6. Tempatkan ilustrasi renungan yang sesuai. Jika Anda gagal
menemukan ilustrasi yang cocok, jangan cemas. Anda masih bisa
menyiasatinya dengan memasang kalimat pembuka yang menarik.

7. Jika sempat, mintalah tolong orang lain supaya memberikan kritik
dan saran atas tulisan Anda.

8. Perhatikan dengan cermat isi pengajaran atau teologi di dalamnya.
Sedapat mungkin, hindarilah tema-tema yang secara teologis masih
belum ada kata sepakat. Hindari juga pembahasan yang menyinggung
denominasi tertentu. Misalnya soal baptisan atau bahasa lidah.
Jika Anda ragu-ragu terhadap ketepatan Anda dalam merumuskan
pengajaran Alkitab, jangan segan-segan untuk berkonsultasi pada
pendeta atau orang lain yang lebih tahu.

Menulis renungan itu sebenarnya tidak lebih dari sebuah sharing
pengalaman rohani yang dialami oleh penulis. Pengalaman rohani
setiap orang itu unik, karena merupakan hasil dari perjumpaan
pribadinya dengan Allah. Pengalaman rohani seseorang selalu menarik
minat orang lain karena pengalaman rohani tiap-tiap orang berbeda.
Itulah sebabnya, kita tidak akan pernah kehabisan bahan penulisan
renungan.

Jika memang benar bahan-bahannya melimpah, mengapa hanya sedikit
saja orang yang mau menulis renungan? Kebanyakan orang beralasan
karena tidak mampu menulis dengan baik. Alasan ini kurang kuat,
karena kemampuan menulis sebenarnya bisa diasah melalui pelatihan
dan mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh. Tidak ada seorang
penulis yang langsung mampu membuat tulisan yang indah tanpa melalui
latihan.

Diedit dari tulisan "Purnawan Kristanto"
Penulis pernah menjadi jurnalis "BAHANA" dan pernah mengasuh
"Renungan Malam"

KUMPULAN KOTBAH DAN PUJIAN PENYEMBAHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA

  LINK KUMPULAN KOTBAH / RENUNGAN FIRMAN TUHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA (PAS)   1.        HIDUP YANG SUDAH DIBAHARUI https://www.youtu...