13 Maret 2014

Contoh SKIPSI 3



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kejadian 2 dan 3) maka Allah memberikan janji penyelamatan dengan tujuan yang terpenting yaitu untuk membebaskan manusia dari dosa (Kejadian 3:15; Matius 1:21; Galatia 4:4; 1 Timotius 2:5) dan janji penyelamatan-Nya itu ditopang dengan janji berkat-Nya, serta meneguhkan umat-Nya sebagai alat berkat-Nya bagi dunia (Kejadian 12:1-3; Yesaya 49:6) ini menunjukkan bahwa Allah berdaulat atas ciptaan-Nya, dan juga berdaulat atas keselamatan.”[1] Penyelamatan Allah terus dinyatakan dengan memberikan janji kepada Abraham sampai keturunannya bahwa Allah akan membuat Abraham menjadi bangsa yang besar dan akan memberkati kemanapun pergi. Penyelamatan Allah juga dinyatakan melalui pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Allah menginginkan setiap umat-Nya memperoleh keselamatan dari pada-Nya, dan Allah juga melibatkan umat-Nya yang sudah diselamatkan untuk membagikan keselamatan itu bagi manusia yang belum diselamatkan.
Sesuai dengan perintah  yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya pada waktu akan naik ke sorga yaitu “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukaan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Matius 28:19-20). “Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus ini diperuntukkan, agar semua orang percaya pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk bukan merupakan suatu tantangan, melainkan suatu perintah, amanat ini merupakan suatu tanggung jawab yang harus dipikul.”[2] “Setiap orang percaya mengemban amanat untuk membaktikan diri dalam membuat Injil menjadi perhatian seluruh umat manusia, ini merupakan tanggung jawab yang tidak dapat diabaikan.”[3] Penginjilan itu lebih dari sekedar metode, penginjilan adalah sebuah berita Keselamatan. Berita tentang kasih Allah, tentang dosa manusia, tentang kematian Kristus, tentang penguburan-Nya, dan kebangkitan-Nya. Penginjilan adalah berita tentang pengampunan dosa dari Allah, yang menuntut suatu tanggapan menerima Injil itu dengan iman, lalu menjadi murid Yesus.[4] Penginjilan bukan hanya menyampaikan kabar baik dengan penuh kesetiaan tapi juga menuntut keberhasilan membawa jiwa-jiwa baru bagi Tuhan.
 Dalam menjalankan penginjilan ke seluruh dunia, banyak tantangan yang harus dihadapi seperti bahasa, adat-istiadat, politis, dan sistem kepercayaan dalam masyarakat. Tantangan ini sering menjadi penghambat dalam memberitakan Injil.  Melihat permasalahan tersebut dibutuhkan model penginjilan yang sesuai dengan kehidupan masyarakat yang ada. “Injil Kristus harus dibawa dan diberitakan kepada manusia dalam keadaan yang konkrit sebagaimana adanya, karena setiap orang mempunyai pola dan adat istiadat dalam budayanya masing-masing.[5]
Di Indonesia penginjilan itu dilakukan dengan berbagai cara misalnya: mengadakan kebaktian kebangunan rohani di gereja, stadion, sekolah-sekolah, lembaga-lembaga rohani atau fasilitas umum. Cara yang lain yang digunakan adalah membagikan traktat, pemutaran film Tuhan Yesus yang sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, selain itu pelayanan sosial juga digunakan untuk tujuan penginjilan. Pelayanan ini memang sering berhasil, namun tidak maksimal. Misalnya kebaktian kebangunan rohani orang yang hadir hanya menikmati lagu-lagu pujian yang dinyanyikan dan khotbah-khotbah yang indah namun tidak mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Kristus. Pembagian traktat juga kurang berhasil, karena kebanyakan dari traktat tersebut diterjemahkan dari bahasa Inggris yang tidak sesuai dengan konteks lokal.[6]
 Seorang penginjil sering mengalami kesulitan dalam menyampaikan Injil karena hanya mengandalkan pengetahuan dan keberanian tanpa memiliki model penginjilan yang tepat. Seorang penginjil harus dituntut memilki kemampuan dalam menyampaikan berita Injil dan harus memiliki model penginjilan yang baik dan mudah diterima oleh orang atau masyarakat yang sedang dilayani. “Mengkomunikasikan Injil membutuhkan model tepat guna. Suatu model yang dapat dijadikan pedoman baik tentang urutan inti berita, bobot dan kesesuaian berita, cara pendekatan dan penyampaian berita.”[7]
 Melihat permasalahan tersebut, maka dibutuhkan model penginjilan yang tepat yang mudah diterima oleh masyarakat. Penulis tertarik mengkaji model penginjilan Yesus dalam Injil Matius, kajian ini akan dituangkan dalam skripsi dengan judul  MODEL PENGINJILAN YESUS DITINJAU DARI INJIL MATIUS DAN PENERAPANNYA PADA MASA KINI”.

B. Rumusana Masalah
            Untuk memahami model penginjilan Yesus menurut Injil Matius, maka penulis merumuskan pokok-pokok permasalahan dalam penulisan ini yaitu sebagai berikut:
1.        Bagaimanakah ajaran Alkitab tentang penginjilan?
2.        Bagaimanakah model penginjilan Yesus menurut Injil Matius?
3.        Bagaimanakah penerapan model penginjilan Yesus berdasarkan Injil Matius pada masa kini?

C. Tujuan Penelitian
            Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk:
1.        Menjelaskan ajaran Alkitab tentang penginjilan.
2.        Menjelaskan model penginjilan Yesus menurut Injil Matius.
3.        Menguraikan penerapan model penginjilan Yesus berdasarkan Injil Matius pada masa kini.

D. Ruang Lingkup Penelitian
            Ruang lingkup penelitian ini hanya dibatasi pada model penginjilan Yesus menurut Injil Matius dan penerapannya pada masa kini. Pembatasan ini dilakukan karena penulis ingin berfokus pada model penginjilan Yesus menurut Injil Matius dan penerapannya pada masa kini.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis, melalui penelitian ini penulis lebih mengetahui dan memahami model penginjilan Yesus menurut Injil Matius dan dapat menerapkannya ketika masuk dalam pelayanan.
2. Bagi pemberita Injil, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan petunjuk praktis bagi seorang penginjil dalam menjalankan penginjilan.

F. Metode Penelitian
            Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kepustakaan (library research). Jadi tinjauan pustaka memaparkan apakah yang sudah dikerjakan dan ditulis oleh penulis lain sebelumnya, menguraikan teori dan konsep berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti untuk memperoleh kesimpulan atau jawaban sementara dari masalah tersebut. Tinjauan pustaka memberikan tuntutan untuk memperoleh wawasan keilmuan berkaitan dengan masalah yang diteliti.”[8]
            Sumber pustaka yang digunakan adalah menggunakan dua sumber yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer yaitu Alkitab yang menjadi tolak ukur penginjilan, kususnya Injil Matius dalam meninjau dan mengkaji tentang model penginjilan Yesus dan penerapannya pada masa kini, sedangkan sumber sekunder yaitu buku-buku teologi yang dapat membantu dalam pembahasan ini, jurnal-jurnal teologi yang berkaitan dengan penginjilan, artikel-artikel yang dapat mendukung dalam penelitian.

G. Penegasan Istilah
1. Model adalah pola dari segala sesuatu yang akan dibuat; contoh dari segala sesuatu yang akan dibuat.”[9] Jadi model adalah pola atau contoh dari segala sesuatu yang akan dibuat.
2. Penginjilan atau evangelism, berasal dari kata dalam bahasa Yunani yakni “Euangelion” yang berarti good news atau kabar baik. Kabar baik yang dimaksud adalah Injil, The Gospel, yang berisi berita keselamatan, berita pengampunan, berita perdamaian, dan berita pengudusan bagi orang berdosa. Kabar baik adalah anugerah yang dapat diperoleh melalui Yesus Kristus, dan dengan iman kepada-Nya orang berdosa mendapatkan hidup kekal.”[10] Jadi penginjilan adalah menyampaikan kabar baik atau berita keselamatan mengenai kematian dan kebangkitan Yesus Kristus bagi orang berdosa.

H. Sistematika Penulisan
            Sistematika penulisan skripsi ini dapat disusun sebagai berikut:
            Bab pertama, akan dipaparkan tentang pendahuluan yang meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, ruang lingkup penelitian, metode penelitian, penegasan istilah, sistematika penulisan.
            Bab kedua, akan dipaparkan tentang dasar-dasar Alkitab tentang penginjilan yaitu pandangan Perjanjian Lama dan pandangan Perjanjian Baru.
            Bab ketiga, akan dipaparkan tentang ekposisi model penginjilan Yesus berdasarkan Injil Matius.
            Bab keempat, akan dipaparkan tentang penerapan model penginjilan Yesus menurut Injil Matius pada masa kini.
            Bab kelima, akan ditutup dengan kesimpulan dan saran sebagai hasil kajian dari skripsi ini.


[1]  Y. Tomatala, Penginjilan Masa Kini (Malang: Gandum Mas, 2004) 8.
[2]  Murray W. Downey, Cara-cara Memenangkan Jiwa (Bandung: Kalam Hidup, 1957) 5.
[3]  J. I. Packer, Penginjilan Dan Kedaulatan Allah Evangelism And The Sovereignty Of God (Surabaya: Momentum, 2003) 16.
[4]  Billy Graham, Berita Injil Standar Alkitabiah Bagi Penginjil (Bandung: Lembaga Literatur Baptis & Yayasan Andi, 2002) 17.
[5]  H. Venema, Injil Untuk Semua Orang, Pembimbing ke Dalam Ilmu Misiologi, Jilid I (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1997) 32.
[6]  Makmur Halim, Model-model Penginjilan Yesus Suatu Penerapan Masa Kini (Malang: Gandum Mas, 2003) 21.
[7]  D.W. Ellis, Metode Penginjilan (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2005) 6.
[8] Sunarto, Materi Pembelajaran Metodologi Penelitian (Cianjur: STT SAPPI, 2011) 34.
[9]  Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Gitamedia Press, tnp. thn) 535.
[10] Halim, Model-model Penginjilan Yesus Suatu Penerapan Masa Kini, 25.

25 September 2013

Petunjuk Menikmati Hidup dan Pekerjaan Anda | SYAMSER SIMANJUNTAK | Purwakarta

Ada satu buku yang di karang oleh Dale Carnegie dengan judul :
Petunjuk Menikmati Hidup dan Pekerjaan Anda. Banyak pokok - pokok
pikiran penulis yang dapat di bagikan kepada para pembaca. Beberapa
pokok pikiran yang menjadi perhatian saya dan dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari - hari. Dale Carnegie mengatakan bahwa : kita harus
memberi perhatian yang tulus kepada orang lain, karena orang yang
mengalami kesulitan terbesar dalam hidupnya dan paling menyulitkan
orang-orang lain adalah orang yang tidak mempunyai perhatian pada
orang lain, kegagalan manusia muncul dari orang-orang semacam ini.
Dunia ini memang penuh dengan orang, yang hanya memikirkan
kepentingannya sendiri, maka orang yang mencoba melayani orang lain
dengan melupakan dirinya sendiri dan dapat menempatkan posisinya
seperti orang lain adalah mempunyai kelebihan yang luar biasa. Dale
Carnegie mengatakan jangan mengaduk-aduk sarang lebah, kalau kita
tidak ingin mengambil madu. Sikap suka mengkritik itu berbahaya,
karena melukai kebanggaan orang yang amat berharga, melukai
perasaannya sebagai orang penting, dan menimbulkan sikap sentimen.
Perasaan sentimen yang di timbulkan kritik dapat melumpuhkan semangat
orang lain dan sangat sulit untuk mememperbaiki kembali keadaan yang
dikritik itu. Dale Carnegie menyampaikan kepada para anak muda, bahwa
secara psikologi kita perlu mendorong diri kita setiap hari. Kita
perlu berolah raga setiap pagi, tetapi yang lebih penting dan lebih
kita perlukan adalah olah jiwa setiap pagi agar kita giat bertindak.
Inilah hakekat dari psikologi yang sehat, bahwa hidup kita ditentukan
oleh apa yang kita pikirkan dan profil kehidupan kita persis sama
dengan apa yang kita pikirkan. Dengan berbicara pada diri kita sendiri
tentang hal-hal yang patut kita syukuri, maka kita mengisi benak
dengan pikiran- pikiran yang unggul dan ceria, sehingga kita
berbahagia atas pekerjaan kita, kemudian kita tertarik pada pekerjaan
kita, apapun tantangan yang menghalangi akan dilenyapkan dan dapat
teratasi, dalam jangka waktu yang tidak ditentukan akan mempromosikan
dan meningkatkan penghasilan kita.
Dale Carnegie menyampaikan bagaimana memperoleh kerja sama, memang
betul bahwa setiap orang yakin pada gagasan yang ditemukan sendiri
daripada gagasan orang lain. Kalau demikian, tidak bijaksana
memaksakan pendapat kita kepada orang lain, kemudian tidak bijaksana
pula, kalau kita yang mengajukan usulan, lalu orang lain yang
mengambil kesimpulan dan keputusan. Tidak ada seorang pun yang merasa
senang kalau diberi tahu untuk melakukan sesuatu atau disuruh membeli
sesuatu menurut kemauan orang lain. Kita jauh lebih suka melakukan
sesuatu atau membeli sesuatu atas kemauan sendiri atau bertindak atas
dasar pikiran kita sendiri. Kita suka ditanya apa keinginan, pendapat,
komentar dan harapan kita. Dalam kerja sama kita perlu membiarkan
orang lain menyampaikan apa gagasan mereka dan apa pendapat mereka
atas gagasan itu.
Tanggapan saya terhadap pokok-pokok pikiran Dale Carnegie :
Sangat bermanfaat dalam kehidupan sosiologi, apa yang disampaikan
melalui tulisannya karena menyentuh bagi kehidupan masyarakat dan
masuk untuk semua kalangan. Pertama, saya ambil pokok pikirannya
adalah bahwa kita ada dalam dunia yang majemuk, terdiri dari berbagai
macam agama, bangsa, suku, status ekonomi, pendidikan, kultur yang
berbeda-beda dan banyak lagi kalau disebut satu persatu, dan kita
tidak dapat menghindar dari kemajemukan ini, oleh sebab itu sosiologi
dapat memberikan pemahaman, agar dapat mengerti dan menerima antara
satu dengan yang lain dan saling membutuhkan. Dengan memberi perhatian
kepada orang lain dan tidak memandang status, maka terciptalah
kerukunan dan perdamaian. Orang yang hanya mementingkan dirinya
sendiri atau kelompoknya sendiri, akan menimbulkan perselisihan karena
keegoisan masing-masing dan tidak menerima masyarakat yang lain.
Kedua, saya ambil pokok pikirannya yang mengatakan, bahwa sikap
mengkritik dengan tujuan untuk menjatuhkan orang lain adalah hal yang
sangat berbahaya. Ada banyak orang tidak menyadari, dengan mengkritik
orang lain, sebenarnya sedang mendorong dan mengangkat yang dikritik
itu keatas, sehingga yang mengkritik itu tetap dibawah, karena
seyogianya bahwa orang yang posisinya sedang diatas tidak mungkin
mengkritik bawahannya, yang ada adalah menegur bawahan. Pemikiran Dale
Carnegie sangat bagus bagi saya, dan dapat diterapkan dalam kehidupan
berorganisasi. Ketiga, saya ambil pokok pikirannya yang mengatakan,
bahwa profil kehidupan kita ditentukan dari apa yang kita pikirkan,
agar dapat menumbuhkan semangat dan memotivasi kita, dalam melakukan
pekerjaan kita, karena tanpa kita memiliki semangat dan motivasi maka
bisa kehilangan arah atau tidak menemukan tujuan dari hidup kita.
Kalau kita memikirkan apa yang kita kerjakan, maka itu menunjukkan
kita tertarik dan serius pada pekerjaan kita. Saya sangat setuju bahwa
dalam bertindak harus dipikirkan terlebih dahulu dengan matang, agar
mendapatkan hasil yang maksimal. Keempat, saya mengambil pokok
pikirannya yang mengatakan, bagaimana memperoleh kerja sama. Kerja
sama adalah situasi yang sangat diinginkan semua orang, apalagi dalam
satu kelompok yang terdiri dari berbagai macam orang, karakter yang
berbeda-beda dan pemikiran yang berbeda-beda, perlu kerja sama agar
dapat mencapai tujuan, memang tidak mudah untuk menyatukan hati dan
pikiran, tetapi kalau sudah masuk dalam satu kumpulan, mau atau tidak
mau, suka atau tidak suka, harus bekerja sama dengan orang lain. Saya
menyimak pokok pikiran Dale Carnegie, bahwa jangan memaksa orang lain
agar menyetujui apa yang menjadi, usul dan gagasan kita, dan jangan
hanya dapat mengusulkan tetapi tidak bertanggungjawab atas gagasannya.
Pendapat saya dalam kumpulan atau kelompok, bahwa kerja sama adalah
harga mati dan yang harus dipahami oleh setiap anggota.

Penerapan dalam pelayanan :
Saya sebagai hamba Tuhan dan melayani sidang jemaat Tuhan, bahwa
apa yang dikatakan oleh Dale Carnegie, tentang memberi perhatian
kepada orang lain adalah sebuah kunci yang saya pegang, untuk melayani
jemaat. Tanpa saya memperhatikan jemaat yang Tuhan sudah percayakan,
maka mereka akan kabur, tatapi Puji Tuhan dengan perhatian yang tulus
saya lakukan, baik memberi makan Fiman Tuhan setiap minggu dan
mengajarkan pelajaran Alkitab setiap hari kamis, kemudian mengunjungi
jemaat ke rumah mereka, maka kami terjalin hubungan dan komunikasi
yang baik. Jemaat tetap setia beribadah dan semakin bertambah
jiwa-jiwa, semua oleh karena Anugerah Tuhan dan Kuasa Tuhan yang
berkarya. Perhatian dengan hati yang tulus melayani jemaat adalah
kunci keberhasilan dalam pekerjaan Tuhan. Saya mengalami dalam
merintis pelayanan, pada waktu memulai pelayanan yang hanya dimulai
dengan 2 keluarga dan pelayanan anak-anak belum ada waktu 11 tahun
yang lalu, Puji Tuhan sekarang sudah ada 12 keluarga dan 60 an
anak-anak.
Saya mengalami penerapan dalam pelayanan, jamaat Tuhan saya ajar
dengan Firman Tuhan, agar jangan mau mengkritik orang lain, kecuali
kritik yang membangun, dan Puji Tuhan sampai hari ini jemaat menurut
dan tidak ada pengkritik. Pernah saya sampaikan kepada jemaat bahwa
mengkritik orang adalah sama halnya dengan menghakimi orang lain.
Kalau saya mendengar jemaat lagi ngobrol, dan obrolan yang terlalu
memdalam ngomongin orang lain maka saya nasehati, agar jangan
mengurusi dan ngomongin orang.
Saya melakukan penerapan dalam pelayanan, tentang profil
kehidupan kita ditentukan dari apa yang kita pikirkan. Saya katakan
kepada jemaat : Hati-hatilah dengan pikiranmu, karena hal itu akan
menjadi perkataan. Hati-hatilah dengan perkataanmu, karena hal itu
akan menjadi tindakan. Hati-hatilah dengan tindakanmu, karena hal itu
akan menjadi kebiasaan. Hati-hatilah dengan kebiasaanmu, karena hal
itu akan menjadi karakter. Hati-hatilah dengan karaktermu, karena hal
itu akan menjadi masa depanmu. Ungkapan ini di katakan oleh Joice
Mayer. Sesuai dengan Firman Tuhan dalam filipi 4:8 dan kolose 3:1-4,
maka kita akan mengalami pembaharuan pikiran kalau kita mengisi
pikiran kita dengan kebenaran Firman Tuhan.
Saya melakukan penerapan dalam pelayanan, bagaimana memperoleh
kerja sama. Pengalaman bersama dengan jemaat, bahwa ada yang sudah
kami kerjakan bersama dengan kerja sama, misalnya : pada waktu
merayakan natal, merayakan paskah, merenovasi tempat ibadah, pada saat
ada jemaat yang berduka, dan banyak hal lainnya. Kerja sama sangat
penting dalam kehidupan berjemaat, karena saling membutuhkan satu
dengan yang lain. Oleh karena orang lain membutuhkan kita maka kitapun
membutuhkan orang lain, kebutuhan kita terpenuhi melalui orang lain.
Dalam kehidupan sosiologi, bahwa kita tidak tidak bisa hidup sendiri
tanpa orang lain, kita perlu membangun hubungan dengan banyak orang,
dalam segala segi kehidupan dan lapisan masyarakat. Tuhan Yesus datang
ke dunia ini untuk menyelamatkan semua orang, tidak memandang apa
bangsanya, sukunya, agamanya, negaranya dan apa benuanya, yang jelas
bahwa manusia memerlukan keselamatan dan memerlukan Juru Selamat yaitu
YESUS.
TUHAN YESUS KRISTUS MEMBERKATI

Pelayanan Masyarakat | SYAMSER SIMANJUNTAK | Purwakarta

Pelayanan masyarakat sangat luas dan ada banyak bidang yang
berbeda-beda, sesuai dengan urusan masing-masing dan tempat yang
berbeda pula. Mulai dari lingkungan tempat kita berada sampai sejauh
perjalanan kemana kaki kita melangkah, pelayanan masyarakat tetap ada,
yang ditangani oleh perorangan, kelompok, baik pemerintah diberbagai
instansi, dan juga pihak swasta atau yayasan, yang tidak terhitung
banyaknya.
Saya melakukan salah satu pelayanan masyarakat, yang sangat kecil
atau tidak di pandang orang, tetapi berdampak dan sangat menolong
sebagian kecil masyarakat disekitar saya. Kurang lebih 5 tahun yang
lalu, saya melakukan pengurusan akte kelahiran dan akte perkawinan ke
kantor catatan sipil karawang. Awalnya ada keponakan saya, sudah yatim
piatu dan mau lulus sekolah menengah kejuruan di purwakarta, tetapi
tidak ada surat akte kelahirannya, maka saya mengaurus sendiri,
ternyata tidak sulit asal kita mau mengikuti prosedurnya. Setelah
beberapa bulan kemudian, saya mendengar keluhan para ibu-ibu yang mau
menyekolahkan anak-anaknya masuk sekolah dasar, ternyata ada banyak
keluarga yang sudah punya anak, tetapi belum memiliki akte kelahiran,
karena salah satu persyaratan untuk masuk sekolah dasar harus ada
surat akte kelahiran, ada juga jemaat bahwa anaknya belum ada akte
lahirnya. Dengan senang hati saya melakukan pengurusan secara kolektif
dan bertahap, para orang tua anak-anak sangat senang. Seiring
berjalannya waktu, maka ada orang-orang disekitar perumahan yang
mengetahui, bahwa saya pernah mengurus akte kelahiran, mereka pada
datang dan ternyata ada banyak yang tidak memiliki akte kelahiran,
bukan hanya kalangan orang Kristen saja, tetapi orang Islampun datang
minta tolong. Saya dengan senang hati mau menolong mereka.
Ada banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengetahui prosedur
dalam pelayanan masyarakat, sehingga kesan dalam kehidupan masyarakat,
sebagian besar masih merasa takut dalam pengurusan pelayanan publik,
oleh sebab itu masyarakat tidak mau mengurus sendiri, ahirnya tidak
mengerti peraturan hukum dinegeri ini, maka ada orang-orang tertentu
yang nota bene pejabat dalam pelayanan masyarakat dan tahu prosedur,
menyalahgunakan situasi, sehingga menjadi lahan korupsi dan membuat
pembodohan bagi masyarakat. Saya memberitahukan kepada masyarakat,
bahwa prosedur untuk mengurus akte kelahiran dan akte perkawinan,
tidak sulit dan tidak mahal. Pada masyarakat umum, sudah menjadi
suatu budaya di negeri republik Indonesia ini, segala sesuatu apapun
urusannya, diatur oleh uang dan uang yang bicara, yang penting
selesai, tidak mau tahu seperti apa dan bagaimana caranya. Pekerjaan
yang tidak mudah untuk merubah paradigma masyarakat ini.
Sampai tugas makalah ini saya tulis bahwa masih banyak orang
datang minta tolong, untuk mengurus surat akte kelahiran dan akte
perkawinan, saya memberitahukan cara pengurusan dan persyaratan yang
harus di lengkapi, saya mendorong mereka bahwa lebih baik mengurus
sendiri agar mengerti caranya dan mengetahui dimana kantor desa,
kecamatan dan kantor catatan sipil, kemudian mengenal siapa kepala
desanya, ada banyak masyarakat mengetahui nama kepala desanya tetapi
tidak kenal orangnya, karena tidak pernah datang ke kantor desa dan
urusan apapun diserahkan kepada RT atau orang lain. Setelah masuk
tahun 2013, saya tidak pernah lagi mengurus akte kelahiran dan akte
perkawinan, karena mengikuti pekuliahan di sekolah tinggi teologia
cianjur, dan waktunya tidak sempat lagi. Pada waktu saya mengurus
ditahun-tahun yang lalu, saya mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan
bahkan uang, sebab mereka ada yang kurang mampu, memang ada juga yang
mampu, tetapi tidak mengerti dan sayapun tidak meminta bayaran, saya
anggap pelayanan ini sosial, dimana saya sebagai hamba Tuhan dengan
senang hati menolong mereka, dengan apa yang saya bisa dapat lakukan.
Dengan pengurusan akte kelahiran dan akte perkawinan ini, maka saya
dapat berinteraksi dengan banyak orang, dan mengenal lebih banyak
orang, kemudian mengerti sedikit tentang pelayanan publik.
Saya punya prinsip, untuk melakukan pelayanan masyarakat harus
dimulai dari yang terdekat lebih dulu, yaitu lingkungan kita sendiri,
sangatlah kurang tepat bahwa pelayanan masyarakat kita lakukan jauh
dari tempat tinggal kita, sementara keberadaan kita tidak berdampak di
lingkungan tetangga, bisa kita sebut RT/RW, padahal ada begitu banyak
pelayanan masyarakat yang perlu kita lakukan disekitar kita. Sejak
saya tinggal diperumahan, maka yang pertama sekali saya lakukan adalah
kebersihan lingkungan, sampai kedepan rumah tetangga, satu gang dengan
saya ada 26 rumah dan yang berisi hanya 8 rumah, warga hanya mau
mengurusi depan rumah mereka sendiri, bagi saya ini kesempatan yang
sangat baik untuk melakukan pelayanan masyarakat, walaupun lingkup
kecil tetapi berdampak kepada lingkungan sekitar saya, kemudian
kehadiran saya diperumahan dapat diterima oleh masyarakat setempat dan
kami dapat melakukan kegiatan kebaktian. Warga masyarakat sangat
senang karena saya peduli terhadap lingkungan sekitar, terutama
masalah kebersihan sehingga rumput tidak sempat melanda gang tempat
kami tinggal.
Dalam lingkungan RT, saya terlibat bagian pengurus yaitu sebagai
koordinator penagihan iuran warga setiap bulan dan seksi kerohanian
bagi umat Kristen, saya tidak pernah minta untuk ikut dalam pengurus
RT, tetapi dilibatkan oleh ketua RT karena saya mau bersosialisasi
dengan masyarakat, bagi saya hal inipun kesempatan untuk pelayanan
masyarakat, agar semakin dikenal dan diterima oleh masyarakat.
Kegiatan RT pun saya ikut, misalnya ronda pada malam minggu sesuai
dengan jadwal yang sudah ditentukan, rapat RT yang rutin dilakukan
setiap 6 bulan sekali, kemudian acara hari kemerdekaan Republik
Indonesia setiap bulan agustus. Pokok-pokok pikiranpun saya sampaikan
pada waktu rapat RT, karena diberikan kesempatan untuk bicara, sungguh
saya sangat bersyukur kepada Tuhan, semua oleh karena AnugerahNya dan
campur tangan Tuhan.
Saya memikirkan bagaimana agar lingkungan bersih dan indah, ada
pohon-pohon yang tumbuh digang tersebut, pernah saya tanami berbagai
macam pohon, disepanjang gang kurang lebih 75 meter, sebanyak 15 pohon
dan semua mati, ada yang dirusak oleh anak-anak, ada yang dimakan
kambing, tetapi saya tidak menyerah. Pada tahun yang lalu, saya tanami
lagi pohon pucuk merah 11 pohon dan 2 pohon ketapang, 1 pohon pucuk
merah sudah mati dirusak orang. Puji Tuhan kelihatan bagus dan indah,
maka setiap orang yang lewat dari gang itu, selalu bertanya ini pohon
apa? rupanya mereka belum pada tahu dan mereka senang melewati gang
tersebut kerena pohonnya sudah mulai besar dan enak kelihatannya. Saya
sedang mempersiapkan bibit pohon pucuk merah dipolibek
sebanyak-banyaknya, untuk kami bagikan kepada orang-orang yang lewat
dari gang tersebut, jadi siapa yang mau menanam, kami akan berikan
untuk mereka bawa dan tanam di dekat rumahnya, sehingga nantinya
terjadilah penghijaun diperumahan tempat kami tinggal. Kami suami
istri mau melakukan hal ini karena kami senang melayani masyarakat.
Melakukan pelayanan masyarakat adalah pekerjaan yang tidak
mudah, perlu kesediaan hati yang tulus, kesiapan mental yang kuat dan
bahkan membutuhkan dana. Saya dengan beberapa rekan-rekan hamba Tuhan
yang masih dalam perintisan, membentuk satu komunitas, yang bergerak
dalam pelayanan dipenjara dan sudah berjalan kurang lebih 8 tahun,
kami melakukan hanya berdasarkan kepedulian dengan hati yang tergerak
dan terbeban, padahal kami tidak punya sponsor untuk mendanai.
Pelayanan dipenjara bukan mencari uang, justru kami membawa sesuatu
yang menjadi kebutuhaan para napi itu, disamping kebutuhaan rohani
mereka, kami juga memikirkan kebutuhaan jasmani mereka, karena ada
banyak napi tidak pernah dikunjungi oleh keluarganya. Kadang saya
pribadi sedih, kerena sering juga kami tidak bawa apa-apa dan hanya
kebaktian saja, karena tidak cukup untuk membeli kebutuhaan mereka,
tetapi Puji Tuhan mereka juga senang bisa kami layani dalam ibadah.
Sangat menyedihkan bagi saya, ketika saya menyampaikan kepada orang
lain tentang pelayanan ini dan saya berharap mereka memberi sumbangan
dana, karena mereka punya uang, tetapi tidak ada respon sama sekali,
sungguh sangat miris hati saya, apa yang mau dikata memang inilah
tantangan. Kami terus maju, walaupun ada tantangan, yang menjadi
sukacita kami adalah bahwa para napi ada yang mengalami perubahan
hidup.
Pelayanan masyarakat yang sangat luas, dan kita dapat mengambil
bidang apa yang bisa kita kerjakan, menurut kemampuan kita, manusia
sebagai makluk sosial tidak bisa hidup sendiri, tanpa dukungan orang
lain. Dunia yang majemuk ini, diikat dengan berbagai macam perbedaan,
sehingga terjalin persatuan dan kesatuan untuk dapat melangsungkan
kelanjutan kehidupan. Kehadiran gereja Tuhan didalam dunia ini, bahwa
dengan tegas Tuhan Yesus menyatakan dalam matius 5 : 13-16, agar
menjadi garam dunia dan terang dunia. Kita sebagai orang percaya,
memiliki tugas dan tanggungjawab yang harus kita kerjakan, walaupun
ada tantangan dan rintangan, itu tidak menjadi soal atau tidak dapat
menghalangi kita untuk menjadi saksi Kristus. Dengan berbagai macam
cara dan strategi, kita pakai untuk memberitakan Injil sehingga
semakin banyak jiwa-jiwa diselamatkan, salah satu cara adalah kita
pakai ilmu sosiologi. Tuhan Yesus pasti menolong kita, melalui karya
Roh Kudus yang tetap sama dan tidak pernah berubah dahulu, sekarang
dan sampai selama-lamanya.

23 September 2013

PENGINJILAN KONTEKSTUAL TERHADAP SUKU SUNDA | BERNATH HUTAGAOL | BANDUNG

BAB. I

PENDAHULUAN.

Banyak orang beranggapan bahwa mengkomunikasikan injil berarti
mendekati orang yang tidak mereka kenal,lalu mengajaknya
bercakap-cakap dan menyodorkan atau memaksakan Injil kepadanya.

Bersaksi tentang iman kita dan mengkomunikasikan injil kepada sesama
sangatlah penting,karena Allah,menginginkan kita menjadi mitra
kerja-Nya dalam penginjilan dan kita juga sebagai pengikut Kristus
yang disebut orang Kristen perlu bersaksi ,yaitu mengutarakan imannya
melalui kata-kata dan kehidupan kita. Memang sedikit sekali anggota
gereja yang benar-benar mau bersaksi memberitakan injil atau menjadi
penjala jiwa.

Hal ini dikarenakan gambaran yang sumbang tentang penginjilan.Banyak
orang beranggapan bahwa mengkomunikasikan injil berarti mendekati
orang yang tidak mereka kenal,lalu mengajaknya bercakap-cakap dan
menyodorkan atau memaksakan Injil kepadanya.

Kesaksian kita tidak tergantung pada pesona kepribadian kita atau pada
kekuatan kita sendiri.Adanya perasaan takut bersaksi dan adanya
kelemahan-kelemahan pada diri kita justru mendorong kita untuk
dipenuhi Roh Kudus dan bergantung kepada Tuhan Yesus.Ketika kita
menyerah kepada Kristus,kita dilingkupi olehNya.Ia berjanji,"Aku
menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman…Aku sekali-kali
tidak akan meninggalkan engkau ."(Mat.28:20;Ibrani 13:5)

Memberi kesaksian melalui kehidupan kita penting,tetapi kita juga
harus memberi kesaksian melalui kata-kata juga.Perlu ada
keseimbangan.Kesaksian melalui kehidupan atau melalui kata-kata perlu
nyata kedua-duanya.


LATAR BELAKANG
Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau
Jawa, Indonesia. Dengan istilah Tatar Pasundan yang mencakup wilayah
administrasi provinsi Jawa Barat, Banten, Jakarta, Lampung dan wilayah
barat Jawa Tengah (Banyumasan). Suku Sunda merupakan etnis kedua
terbesar di Indonesia. Sekurang-kurangnya 15,2% penduduk Indonesia
merupakan orang Sunda. Jika Suku Banten dikategorikan sebagai sub suku
Sunda maka 17,8% penduduk Indonesia merupakan orang Sunda. Mayoritas
orang Sunda beragama Islam, akan tetapi ada juga sebagian kecil yang
beragama kristen, Hindu, dan Sunda Wiwitan/Jati Sunda. Agama Sunda
Wiwitan masih bertahan di beberapa komunitas pedesaan suku Sunda,
seperti di Kuningan dan masyarakat suku Baduy di Lebak Banten yang
berkerabat dekat dan dapat dikategorikan sebagai suku Sunda.

Menurut Rouffaer (1905: 16) menyatakan bahwa kata Sunda berasal dari
akar kata sund atau kata suddha dalam bahasa Sansekerta yang mempunyai
pengertian bersinar, terang, berkilau, putih (Williams, 1872: 1128,
Eringa, 1949: 289). Dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali pun
terdapat kata sunda, dengan pengertian: bersih, suci, murni, tak
tercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, waspada (Anandakusuma, 1986:
185-186; Mardiwarsito, 1990: 569-570; Winter, 1928: 219).

Orang Sunda meyakini bahwa memiliki etos atau karakter Kasundaan,
sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Karakter Sunda yang dimaksud
adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas
diri), dan pinter (cerdas). Karakter ini telah dijalankan oleh
masyarakat yang bermukim di Jawa bagian barat sejak zaman kerajaan
Kerajaan Salakanagara, Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sunda-Galuh,
Kerajaan Pajajaran hingga sekarang .

Suku Sunda merupakan suku kedua terbesar di Pulau Jawa. Menurut sensus
tahun 1994 orang Sunda ada sekitar 31 juta jiwa yang tersebar di 20
Kabupaten dan 4 kotamadya di Jawa Barat dan DKI Jakarta..Suku Sunda
adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau
Jawa,Indonesia,dengan istilah Tatar Pasundan .

Sosial Budaya Suku Sunda.

Orang Sunda dikenal memiliki sifat optimistis, ramah, sopan, dan
riang. Orang-orang sunda umumnya hidup bercocok tanam. Kebanyakan
tidak suka merantau atau hidup berpisah dengan orang-orang
sekerabatnya. Hubungan antara manusia dengan sesama manusia dalam
masyarakat Sunda pada dasarnya harus dilandasi oleh sikap "silih asih,
silih asah, dan silih asuh", artinya harus saling mengasihi, saling
mengasah atau mengajari, dan saling mengasuh sehingga tercipta suasana
kehidupan masyarakat yang diwarnai keakraban, kerukunan, kedamaian,
ketentraman, dan kekeluargaan.Adat istiadat mewarnai seluruh sendi
kehidupan orang Sunda. Bahasa.Dalam percakapan sehari-hari, etnis
Sunda banyak menggunakan bahasa Sunda atau bahasa daerah lokal.

Agama Kepercayaan Suku Sunda.

Apa bila diperahatikan dan diselidiki dengan seksama, hampir semua
orang Sunda beragama Islam. Hanya sebagian kecil yang tidak beragama
Islam, Praktek-praktek sinkretisme dan mistik masih dilakukan, seperti
memberi tumbal kepala kerbau atau kambing sebelum mengolah tanah atau
mendirikan bangunan, kebiasaan para nelayan memberi sesajen pada Nyai
Roro Kidul pada hari Kliwon dibulan Maulid, dan lain-lain. Pada
dasarnya seluruh kehidupan orang Sunda ditujukan untuk memelihara
keseimbangan alam semesta.

Keseimbangan magis dipertahankan dengan upacara-upacara adat,
sedangkan keseimbangan sosial dipertahankan dengan kegiatan saling
memberi (gotong royong).Konsekuensinya, meninggalkan agama berarti
melepaskan diri dari/memutuskan diri dari suku bangsa dan adatnya,
dengan demikian juga diputuskan dari hubungan keluarga.

Kesenian Tradisional Suku Sunda.

Dalam kehidupan bermasyarakat sehari hari, Seni tari utama dalam Suku
Sunda adalah tari jaipongan, tari merak, dan tari topeng. Tanah Sunda
(Priangan) dikenal memiliki aneka budaya yang unik dan menarik. Tari
Jaipong ini dibawakan dengan iringan musik yang khas pula, yaitu
degung. Tanah Sunda terkenal dengan kesenian Wayang Golek-nya.

lagu lagu Sunda : Bubuy Bulan Es Lilin Manuk Dadali Tokecang Warung
Pojok Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe dari
angklung yang terbuat dari bambu. Angklung adalah sebuah alat atau
waditra kesenian yang terbuat dari bambu khusus yang ditemukan oleh
Bapak Daeng Sutigna sekitar tahun 1938. Ketika awal penggunaannya
angklung masih sebatas kepentingan kesenian lokal.

Profesi Suku Sunda

Bila diperhatikan sampai kepada masyarakat yang paling dalam mayoritas
masyarakat Sunda berprofesi sebagai petani, dan berladang, ini
disebabkan tanah Sunda yang subur.Selain bertani, masyarakat Sunda
seringkali memilih untuk menjadi pengusaha dan pedagang sebagai mata
pencariannya.


BAB II. ISI

CARA MENGKOMUNIKASIKAN INJIL ( BERITA KESELAMATAN ) KEPADA SUKU SUNDA

Mengerti dan memahami bahasa suku Sunda.

Untuk dapat berkomunikasi dengan masyarakat, maka kita terlebih dahulu
harus mengerti bahasa yang mereka pakai untuk berkomunikasi. Bagaimana
komunikasi kita akan berlangsung dengan lancar,kalau kita tidak
mengerti dan memahami bahasa sunda,karena bahasa sunda sendiri ada
tingkatannya.Berbicara kepada orang yang lebih tua usianya ,maka
bahasa yang akan digunakan bahsa sunda yang lembut,beda dengan ketika
kita bercakap-cakap dengan yang sebaya dengan kita.

Oleh sebab itu kita harus mengkomunikasikan injil kepada mereka harus
menggunakan Alkitab berbahasa sunda,dengan jalan membagikan Alkitab
yang berbahasa sunda kepada mereka.Sehingga mereka mudah untuk
mengerti dan memahami Injil.Menceritakan Injil dengan sabar serta
santun,tentang Tuhan Yesus. Serta dapat juga menceritakan Injil
melalui cerita rakyat yang mungkin ada hubungannya dengan tokoh-tokoh
penyelamat mereka. Tetapi hanya sebagai kontekstualisasi.

Mengadakan pendekatan (bermasyarakat ) terhadapa suku Sunda

Ada beberapa media dan fasilitas yang bisa digunakan dalam
mengkomunikasikan Injil kepada suku sunda,diantaranya: Membangun
hubungan dalam pergaulan,kita harus berbaur dengan mereka,sehingga
kita dapat memberi teladan melalui prilaku kita yang sopan,tutur kata
ramah, dan sikap kita sehingga menjadi kesaksian yang hidup .Dalam
komunikasi dengan mereka kita harus memiliki:

Keterampilan Mendengar Bukan sekedar mendengar dengan telinga tapi
dengan mata juga,kontak mata memang penting,juga mendengar dengan
hati.Bukan hanya mendengarkan kata-kata ,melainkan juga
perasaan,emosi,dan nada dibalik kata-kata tersebut.

Empati Kita harus menyelami keadaan mereka.Bukan berarti kita setuju
dengan mereka,melainkan memahami latar belakang atau sejarah
kehidupannya.Jika mereka memiliki keberatan yang kuat tentang Kristus
atau mempunyai konsep yang keliru,kita harus mengerti apa yang mereka
katakan.

Keterampilan berkata-kata, Kita harus tahu dalam berkata – kata bukan
hanya apa yang kita katakan ,melainkan kapan kita mengatakannya dan
bagaimana kita mengatakannya. Contoh,Rasul Paulus memakai kesaksian
pribadinya.Paulus memiliki tekad yang bulat untuk bersaksi(KIS
17:16),Paulus bersaksi setiap waktu(KIS 17:2)dan kapan saja(KIS
17:16-34)Paulus menciptakan untuk bersaksi melalui kata-kata(KIS 17)

Bahasa Tubuh Bahasa Tubuh sangat penting dan merupakan sarana
komunikasi yang sangat kuat.Ketika kita bersaksi tentang
Injil,hendaknya kita tidak menyalurkan gelagat
kemarahan,ketidaksabaran,cemoohan,ataupun kesan sombong,merasa lebih
baik dari orang lain.

Memberikan pelayanan

Untuk menjangkau masyarakat yang tidak ada biaya untuk pergi
berobat,maka diadakan,penyuluhan kesehatan,lewat hal ini kita dapat
menceritakan Injil keselamatan.

Pendidikan Dengan mendirikan sekolah-sekolah dengan biaya yang sangat
ringan bagi masyarakat yang tidak mampu,melalui hal ini juga dapat
dikomunikasikan tentang Injil kepada mereka(melalui buku cerita
rohani,lagu-lagu rohani anak-anak,dll)

Kesenian Berbagai macam jenis kesenian yang ada di suku sunda,ini
dapat dipakai untuk penginjilan juga,contohnya melalui kesenian
calung,angklung yang memainkan musik rohani serta pementasan wayang
golek dengan mengambil cerita yang berhubungan dengan sikap hidup yang
memuliakan Tuhan.Tarian- tarian yang berbagai jenisnya juga,dapat
dipakai untuk sarana penginjilan.

BAB III .

KESIMPULAN
Dengan demikian ,dapatlah dikatakan bahwa manusia diselamatkan untuk
menjalankan mandat budaya bagi pembebasan segala makhluk,menaklukan
konteks bagi Kristus. Setiap orang diselamatkan untuk melaksanakan
mandat penginjilan dan mandat budaya secara baru dan untuh dalam
konteks hidupnya.

Jadi mengkomunikasikan Injil kepada orang – orang yang ada dalam
budaya Sunda bukan hanya sekedar penyampaian berita saja tetapi, dalam
menyampaikan kesaksian kita , kita bersaksi berarti Allah bekerja
dalam diri kita sementara kita menginjil bersama Allah. Kebenaran yang
paling memerdekakan dalam bersaksi ialah: ketika kita melakukannnya
dengan pimpinan dan penyertaan Roh Allah.

Dalam halini kita harus menyadari bahwa Kita yang ada di sekitar suku
sunda yang masih banyak belum mengenal Yesus, maka lewat paper ini
dapat memotivasi kita untuk dapat mengkomunikasikan Injil kepada
mereka, Sehingga banyak orang yangdiselamatkan dan dimenangkan dan
percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat dalam hidupnya,
terlebih lagi mereka mampu membawa anggota keluarga mereka juga
menjadi percaya.

DAFTAR PUSTAKA :

1. Buku Teologi Kontekstualisasi,Dr.Y.Tomatala,D.Mis.

2. Buku Penginjilan Bersama Allah,Danny Daniels

3. Alkitab. LAI. Jakarta 2005

“PERAN GURU DALAM BIMBINGAN KONSELING” | SLAMET | PURWAKARTA

P R A K A T A

Saya mengucapkan terimakasih kepada narasumber materi sosiologi bapak
Adrianus Pasasa, keluarga, Gembala Sidang GPdI "Yesus Kristus", dan
teman-teman hamba Tuhan yang menginspirasi saya untuk dapat
menyelesaikan tugas ini.

Makalah ini saya tulis dilatar belakangi oleh belum adanya bimbingan
dan konseling anak-anak sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA yang
beragama Kristen di Purwakarta ini.

Kiranya tulisan ini saya bermanfaat bagi pembaca, khususnya
teman-teman guru agama Kristen yang mengajar di sekolah di Kapupaten
Purwakarta ini.

Tuhan Yesus memberkati kita sekalian. Amin



BAB I

PENDAHULUAN

Menurut Sertzer dan Stone, bimbingan merupakan proses membantu orang
perorangan untuk memahami dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya.
Sedangkan konseling sendiri berasal dari kata latin "Consilum" yang
berarti "dengan" atau "bersama" dan "mengambil atau "memegang". Maka
dapat dirumuskan sebagai memegang atau mengambil bersama.'

Pada dasarnya guru adalah jabatan profesional yang harus
dipertanggungjawabkan secara profesional pula dan tak kalah penting
kepada Tuhan. Guru adalah jabatan yang memerlukan keahlian khusus.
Sikap, perilaku dan pemikiran seorang guru harus tercermin dalam
idealismenya.



Definisi Bimbingan dan Konseling

A. Definisi Bimbingan menurut Para Ahli sebagai berikut:

Menurut Prayitno dan Erman Amti (2004: 99), bimbingan adalah proses
pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang
atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang
dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan
dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan
sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang
berlaku.

Menurut Arthur J. Jones (1970) mengartikan bimbingan sebagai "The help
given by one person to another in making choices and adjustment and in
solving problems". Pengertian bimbingan yang dikemukakan Arthur ini
amat sederhana yaitu bahwa dalam proses bimbingan ada dua orang yakni
pembimbing dan yang dibimbing, dimana pembimbing membantu si
terbimbing sehingga si terbimbing mampu membuat pilihan-pilihan,
menyesuaikan diri, dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya
(Sofyan S. Willis 2009:11).

B. Definisi Konseling Menurut Para Ahli sebagai berikut :

Menurut Berdnard & Fullmer ,1969, Konseling meliputi pemahaman dan
hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan,motivasi,dan
potensi-potensi yang yang unik dari individu dan membantu individu
yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketige hal tersebut.

Menurut Bimo Walgito (1982:11) menyatakan bahwa konseling adalah
bantuan yang diberikan kepada individhu dalam memecahkan masalah
kehidupanya dengan wawancara, dengan cara yang sesuai dengan keadaan
individhu yang dihadapinya unuk mencapai hidupnya.) dan menyetir (to
steer). Beberapa ahli menyatakan bahwa konseling merupakan inti atau
jantung hati dari kegiatan bimbingan. Ada pula yang menyatakan bahwa
konseling merupakan salah atu jenis layanan bimbingan.

Jadi disini saya simpulkan bahwa pengertian bimbingan dan konseling
yaitu suatu bantuan yang diberikan oleh konselor kepada konseli agar
konseli mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya dan juga mampu
mengembangkan potensi yang dimilikinya se_optimal mungkin secara
mandiri.



BAB II

TUJUAN, ASAS, JENIS, TUGAS, DAN PERAN GURU

A. Tujuan Bimbingan dan Konseling

Dalam hubungan ini pelayanan bimbingan dan konseling diberikan kepada
siswa "dalam rangka upaya agar siswa dapat menemukan pribadi, mengenal
lingkungan, dan merencanakan masa depan". (Prayitno. 1997:23).
Bimbingan dalam rangka menemukan pribadi, ditujukan agar peserta didik
mengenal kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri serta menerimanya
secara positif dan dinamis sebagai modal pengembangan diri lebih
lanjut. Sebagai manusia yang normal di dalam setiap diri individu
selain memiliki hal-hal yang positif tentu ada yang negatif. Pribadi
yang sehat ialah apabila ia mampu menerima dirinya sebagaimana adanya
dan mampu mewujudkan hal-hal positif sehubungan dengan penerimaan
dirinya itu. Bimbingan dalam rangka mengenal lingkungan ditujukan agar
peserta mengenal lingkungannya secara objektif, baik lingkungan sosial
dan ekonomi, lingkungan budaya yang sangat sarat dengan nliai-nilai
dan norma-norma, maupun lingkungan fisik dan menerima berbagai kondisi
lingkungan itu secara positif dan dinamis pula.

Sedangkan bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan ditujukan
agar peserta didik mampu mempertimbangkan dan mengabil keputusan
tentang masa depan dirinya, baik yang menyangkkut bidang pendidikan,
bidnag karir, maupun bidnag budaya, keluarga dan masyarakat (Prayitno,
1998: 24). Melalui perencanaan masa depan ini individu diharapkan
mampu mawujudkan dirinya sendiri dengan bakat, minat, intelegensi dan
kemungkinan-kemungkinan yang dimilikinya. Dan perlu pula diingat bahwa
diri haruslah sejalan dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku
dalam masyarakat. Apabila kemampuan mewujudkan diri ini benar-benar
telah ada pada diri seseorang, maka akan mampu berdiri sendiri sebagai
pribadi yang mandiri, bebas dan mantap.

B. Asas Bimbingan Konseling

Betapa pentingnya asas-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan
sebagai jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan layanan bimbingan dan
konseling. Apabila asas-asas ini tidak dijalankan dengan baik, maka
penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat
atau bahkan terhenti sama sekali.

Asas- asas bimbingan dan konseling tersebut adalah :

1. Asas Kerahasiaan (confidential); yaitu asas yang menuntut
dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien)
yang menjadi sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak
boleh dan tidak layak diketahui orang lain. Dalam hal ini, guru
pembimbing (konselor) berkewajiban memelihara dan menjaga semua data
dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin,

2. Asas Kesukarelaan; yaitu asas yang menghendaki adanya kesukaan
dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani
layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. Guru Pembimbing
(konselor) berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti
itu.

3. Asas Keterbukaan; yaitu asas yang menghendaki agar peserta
didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka
dan tidak berpura-pura, baik dalam memberikan keterangan tentang
dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi
dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Guru pembimbing
(konselor) berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik
(klien). Agar peserta didik (klien) mau terbuka, guru pembimbing
(konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.
Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan
kekarelaan.

4. Asas Kegiatan; yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik
(klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di
dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan. Guru Pembimbing (konselor)
perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam
setiap layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya.

5. Asas Kemandirian; yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum
bimbingan dan konseling; yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran
layanan/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi
individu-individu yang mandiri, dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri
dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan, serta
mewujudkan diri sendiri. Guru Pembimbing (konselor) hendaknya mampu
mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berkembangnya
kemandirian peserta didik.

6. Asas Kekinian; yaitu asas yang menghendaki agar obyek sasaran
layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang dihadapi
peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. Kondisi masa lampau dan
masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa
yang ada dan diperbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang.

7. Asas Kedinamisan; yaitu asas yang menghendaki agar isi layanan
terhadap sasaran layanan (peserta didik/klien) hendaknya selalu
bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan
sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.

8. Asas Keterpaduan; yaitu asas yang menghendaki agar berbagai
layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh
guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis dan
terpadukan. Dalam hal ini, kerja sama dan koordinasi dengan berbagai
pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting
dan harus dilaksanakan sebaik-baiknya.

9. Asas Kenormatifan; yaitu asas yang menghendaki agar segenap
layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada
norma-norma, baik norma agama, hukum, peraturan, adat istiadat, ilmu
pengetahuan, dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. Bahkan lebih
jauh lagi, melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling
ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam
memahami, menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut.

10. Asas Keahlian; yaitu asas yang menghendaki agar layanan dan
kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar
kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana layanan dan
kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang
benar-benar ahli dalam bimbingan dan konseling. Profesionalitas guru
pembimbing (konselor) harus terwujud baik dalam penyelenggaraaan
jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam
penegakan kode etik bimbingan dan konseling.

11. Asas Alih Tangan Kasus; yaitu asas yang menghendaki agar
pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan
konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta
didik (klien) kiranya dapat mengalih-tangankan kepada pihak yang lebih
ahli. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari
orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain. Demikian pula, sebaliknya
guru pembimbing (konselor), dapat mengalih-tangankan kasus kepada
pihak yang lebih kompeten, baik yang berada di dalam lembaga sekolah
maupun di luar sekolah.

12. Asas Tut Wuri Handayani; yaitu asas yang menghendaki agar
pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan
suasana mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan,
dan memberikan rangsangan dan dorongan, serta kesempatan yang
seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju.


C. Jenis Bimbingan dan Konseling

Jenis – jenis bimbingan di bedakan menjadi tiga, yaitu :

1. Bimbingan Pendidikan (Educational Guidance)

Dalam hal ini bantuan yang dapat diberikan kepada anak dalam
bimbingan pendidikan berupa informasi pendidikan, cara belajar yang
efektif, pemilihan jurusan, lanjutan sekolah, mengatasi masalah
belajar, mengambangkan kemampuan dan kesanggupan secara optimal dalam
pendidikan atau membantu agar para siswa dapat sukses dalm belajar dan
mampu menyesuaikan diri terhadap semua tuntutan sekolah.

2. Bimbingan Pribadi

Bimbingan pribadi merupakan batuan yang diberikan kepada siswa
untuk embangun hidup pribadinya, seperti motivasi, persepsi tentang
diri, gaya hidup, perkembangan nilai-nilai moral / agama dan sosial
dalam diri, kemampuan mengerti dan menerima diri orang lain, serta
membantunya untuk memecahkan masalah pribadi yang ditemuinya.
Ketepatan bimbingan ini lebih terfokus pada pengembangan pribadi,
yaitu membantu para siswa sebagai diri untuk belajar mengenal dirinya,
belajar menerima dirinya, dan belajar menerapkan dirinya dalam proses
penyesuaian yang produktif terhadap lingkunganya.

Dalam bimbingan pribadi ini dapat dirinci menjadi pokok-pokok berikut :

a. Pemantapan sikap dan kebiasaan serta pengembangan wawasan
dalam beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME

Pemantapan pemahaman tentang kekuatan diri dan pengembangan untuk
kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif, baik dalam kehidupan
sehari-hari maupun untuk peranya masa depan
Pemantapan pemahaman tentang kelamahan diri dan usaha penanggulanganya.
Pemantapan kemampuan mengambil keputusan.
Pemantapan kemampuan mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang
diambilnya.
Pemantapan kemampuan berkomunikasi, baik melalui lisan maupun
tulisan secara efektif
Pemantapan kemampuan menerima dan menyampaikan pendapat serta
berargumentasi secara dinamis, kreatif dan produktif.


D. Tugas Guru Bimbingan dan Konseling

Guru bimbingan dan konseling/konselor memiliki tugas, tanggungjawab,
wewenang dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap
peserta didik. Tugas guru bimbingan dan konseling/konselor berkaitan
dengan pengembangan diri peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan,
potensi, bakat, minat, dan kepribadian peserta didik di sekolah.


Tugas guru bimbingan dan konseling/konselor yaitu membantu peserta didik dalam:

1. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang
membantu peserta didik dalam memahami, menilai bakat dan minat.

2. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang
membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan
kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis, dinamis,
berkeadilan dan bermartabat.

3. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang
membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti
pendidikan sekolah secara mandiri.

4. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu
peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan
mengambil keputusan karir.


Dalam melakukan proses pembelajaran dikelas maupun membimbing
anak-anak dan siswa guru harus memperhatikan segala aspek psikologi
,perkembangan, ingatan, memori dan pola berpikir anak. Hal ini penting
untuk menumbuhkan kepercayaan dan mengembangkan potensi yang ada pada
siswa atau anak agar anak dan siswa mampu tumbuh dan perkembang sesuai
dengan harapan orang tua, guru dan masyarakat.

Permasalahan yang ada pada anak hendaknya penyelesaiannya melibatkan
komponen orang tua, guru , masyarakat dan konsuler.

Dalam melakukan proses pembelajaran dikelas maupun membimbing
anak-anak dan siswa guru harus memperhatikan segala aspek psikologi
,perkembangan ,ingatan, memori dan pola berpikir anak. Hal ini penting
untuk menumbuhkan kepercayaan dan mengembangkan potensi yang ada pada
siswa atau anak agar anak dan siswa mampu tumbuh dan perkembang sesuai
dengan harapan orang tua,guru dan masyarakat Permasalahan yang ada
pada anak hendaknya penyelesaiannya melibatkan komponen orang tua,
guru , masyarakat dan konsuler.

Orang tua, guru dan masyarakat harusnya memahami bahwa kesuksesan anak
itu bukan hanya mampu mendapatkan nilai yang tinggi tetapi juga mampu
mengembangan nilai spritual (kecerdasan spritual) dan kecerdasan
emosional yang terkadang yang mampu membawa kesuksesan terhadap anak
dalam kehidupan di masyarakat.



E. Peran Guru Kelas dalam Kegiatan Bimbingan Konseling di Sekolah

Sardiman (2001:142) menyatakan bahwa ada sembilan peran guru dalam
kegiatan bimbingan dan konseling (BK), yaitu:
1. Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajar
informatif, laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi
kegiatan akademik maupun umum.
2. Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik,
silabus, jadwal pelajaran dan lain-lain.
3. Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan
dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa,
menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) sehingga
akan terjadi dinamika di dalam proses belajar-mengajar.
4. Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan
kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.
5. Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-mengajar.
6. Transmitter, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan
dalam pendidikan dan pengetahuan.
7. Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau
kemudahan dalam proses belajar-mengajar.
8. Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.
9. Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi
anak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya,
sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau
tidak.



BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan
konseling ditujukan untuk membimbing dan mengarahkan individu melalui
usahanya sendiri untuk menentukan dan mengembangkan kemampuannya agar
memperoleh kegahagiaan pribadi serta bertujuan agar individu dapat
mengembangkan dirinya secara optimal sesuai dengan potensi yang
dimilikinya.

Bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan ditujukan agar peserta
didik mampu mempertimbangkan dan mengambil keputusan tentang masa
depan dirinya, baik yang menyangkkut bidang pendidikan, bidang karir,
bidang budaya, bidang agama, bidang keluarga, dan bidang
kemasyarakatan.

Keberhasilan setiap individu (peserta didik) dalam menemukan
pribadinya, mengenal lingkungan, memperoleh kebahagiaan pribadi dan
kemanfaatan sosial, maka diperlukan seinergitas dari peserta didik
itu sendiri, guru/konselor, dan orang tua peserta didik.



DAFTAR PUSTAKA


Depdiknas. 2009. Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru dan Pengawas: Jakarta,

buku: DASAR – DASAR KONSELING tinjauan teori dan praktek

Penulis: Drs. Abu Bakar M Luddin, M.Pd., Ph.D



Purwakarta, 12 September 2013

KUMPULAN KOTBAH DAN PUJIAN PENYEMBAHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA

  LINK KUMPULAN KOTBAH / RENUNGAN FIRMAN TUHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA (PAS)   1.        HIDUP YANG SUDAH DIBAHARUI https://www.youtu...