16 Oktober 2012

SUSUNAN ACARA NATAL GBT CIMAHI 2008

IBADAH NATAL

16.00-16.30 : Persiapan Panitia

16.30-17.00 : Penyambutan Tamu dan Undangan

1. Bapak Alan dan Ibu Alan
2. Bapak Kalpen dan Ibu Kalpen

17.00-17.10 : MC Opening + Greeting

WL: Apakah makna natal bagi kita tahun ini? Tentu masing-masing kita
akan memiliki makna Natal, tetapi satu hal yang perlu kita ingat bahwa
Tuhan sangat mengasihi saudara dan saya, sehingga sehitam apapun dosa
saudara dan saya, Dia masih mau datang untuk menebus dosa-dosa kita.
Saudaraku, Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus,
Tuhan, di kota Daud. Marilah menyembah Dia, tinggikan namaNya karena
Dialah yang layak disembah sebagai Raja Mulia.

Mulia, sembah Raja Mulia

Mulia, sembah Raja Mulia
Bagi Yesus puji hormat dan kuasa
Mulia, agung krajaanNya
Dari surga datang untuk sgenap umatNya

Dipuji ditinggikan namaNya Yesus
Hormatlah muliakanlah Yesus Raja
Mulia sembah Raja mulia
Dia tlah mati dibangkitkan jadi Raja

17.10-17.15 : Doa Pembukaan (by Kalpen Sahiundaleng)

17.15-17.55 : Praise & Worship ( 4 Lagu )

Dia lahir untuk kami

Dia lahir untuk kami Dia mati untuk kami
Dia bangkit untuk kami semua
Dia itu Tuhan kami Dia itu Allah kami
Dia Raja di atas sgala Raja
Dia itu firman Allah yang turun ke bumi
Dan jadi sama dengan manusia
Dia Yesus sobat kami
Dia Yesus Tuhan kami
Sang penebus juruslamat dunia

HATIKU PERCAYA

TUHANLAH KEKUATAN DAN MAZMURKU
DIA GUNUNG BATU DAN KES'LAMATANKU
HANYA PADAMU HATIKU PERCAYA
KAULAH MENARA DAN KOTA PERLINDUNGAN

REFF :

KUMAU SLALU BERSYUKUR
S'BAB CINTAMU PADAKU
TAKKAN PERNAH BERUBAH HATIKU PERCAYA
WALAU BUMI BERGONCANG
GUNUNG-GUNUNG BERANJAK
NAMUN KASIH SETIAMU
TAK PERGI DARIKU

Rayakan

Rayakan Yesus rayakan 4x
Dia bangkit Dia bangkit
Dan hidup selamanya
Dia bangkit Dia bangkit
Marilah rayakan
Kebangkitan Tuhan kita

Nyanyi Glory

Nyanyi glory, glory
Glory bagi sang Raja
Mari rayakan dan nyanyi (3x)

Mari serukan hei, serukan hei
Bahwa Yesuslah raja
Mari rayakan dan nyanyi (3x)

Kita akan merasa bahagia
Bila kita menyembah Dia
Kita akan merasa sukacita
Bila kita semua….
Nyanyi glory, glory
Glory bagi sang Raja
Mari rayakan dan nyanyi (3x)


Betapa Hebat

Berkuasa di bumi di surga
Bertahta dalam kemuliaan..
Dialah Tuhan Allah kita
NamaNya berkuasa
Pembebas umatNya

Reff :
Betapa hebat betapa kuat
Dahsyatnya Allah kita
Dia berjaya atas semua perbuatanNya
Betapa hebat, betapa kuat
Dahsyatnya Allah kita
Dia ternama Yesus Raja s'gala Raja
Tuhan Allah Kita


17.55-18.00 : Penyembahan ( Firman Tuhan )

Kaulah Segalanya
Kau Bapa yang mengasihiku
Kuasamu memulihkanku
Hati yang baru kau berikan
Tuk dapat aku melihat

RencanaMu indah bagiku
Kau slalu distiap jalanku
Hatiku haus dan lapar
Akan Engkau

Kaulah segalanya, di dalam hidupku
kerajaanMu, kebenaranmu, itu bagianku
kaulah yang kupandang, selama hidupku
mengasihiMu, memuliakanMu Bapa dan Rajaku


18.00-18.30 : Firman Tuhan ( by Pdt. Hans Martosono, S.Th)
Doa sebelum dan sesudah diserahkan kepada Pembicara

18.30-18.35 : Doa Kolekte (by Hebry Woran)

Datang Ke Hadirat Tuhan

Datang ke hadirat Tuhan dengan hati yang penuh suka cita
Datang ke hadirat Tuhan dengan senyum dan muka yang gembira
Tanggalkan beban dan kesedihan yang ada di dalam hatimu
Kenakan jubah pujian, sambut hadirnya Sang Raja

Dan gunung-gunung pun bersorak-sorai memuji Dia
Dan pohon-pohon pun bertepuk tangan memuji Dia
S'kalian kita di sini berkumpul dan memuji Dia
Yesus Tuhan Raja. Dia-lah yang bertahta di atas pujian


Dan burung-burung pun bersorak-sorai memuji Dia
Dan pohon-pohon pun bertepuk tangan memuji Dia
S'kalian kita di sini berkumpul dan memuji Dia
Yesus Tuhan Raja. Dia-lah yang bertahta di atas pujian

Kolektan:
1. Ibu Kalpen
2. Ibu Wiwin
3. Ibu Yanet
4. Ibu Merlin

18.35-18.50 : Candle Light Service

Instrumen musik berjalan, WL mempersilahkan nama-nama berikut untuk
maju kedepan:
1. Gembala sidang
2. PJ dan Istri
3. Ketua Panitia
4. Wakil tua-tua Sidang
5. Ketua Komisi Pemuda
6. Ketua Komisi SM

Sebelum lagu malam kudus WL membaca puisi ini:

O Holy Night (by singers yang nyanyikan dengan suara lembut)

O Holy night, the stars are brightly shining
It is the night of our dear Savior's birth
Long lay the world in sin and error pining
Til He appeared and the soul felt it's worth
A thrill of hope the weary world rejoyces
For yonder breaks a new and glorious morn
Fall on your knees

O hear the angel voices
O night divine!
O night when Christ was born
O night divine!
O night, O night divine!

Puisi : dibaca oleh WL

Ya Tuhan,
Terang sudah tiba,
Lilin di Betlehem menyala.
Tolonglah kami untuk bersukacita dalam terang
dan dalam cahaya itu melihat sesama kami apa adanya.
Tolonglah kami untuk tetap mengenal dia
sementara Natal tiba, dan cakrawala malam,
sekali lagi dipenuhi dengan terang kelahiran-Mu.


MALAM KUDUS

Malam kudus
Sunyi senyap
bintangMu gemerlap
Jurus'lamat manusia
T'lah datang di dunia
Kristus Anak Daud (2x)

Anak kecil
Anak Kudus
Tuhanku penebus
Tentra surga menyanyi merdu
Bawa kabar kedatanganMu
Kristus Anak Daud (2x)

Malam kudus
Sunyi senyap
bintangMu gemerlap
s'krang ku datang ya Tuhanku
dan menyembah dihadiratMu
dan mengucap syukur (2x)


18.50-18.55 : Doa Syafaat (by Reynold Laoh)

18.55-19.00 : Doa Berkat (by Pdt. Altje Woran)


PERAYAAN NATAL


19.00-19.05 : Dancer (By Yoel dkk)

19.05-19.10 : Sambutan Ketua Panitia (By. Boy Losung)

19.10-19.40 : Praise & Worship (3 Lagu)

HATIKU PERCAYA

TUHANLAH KEKUATAN DAN MAZMURKU
DIA GUNUNG BATU DAN KES'LAMATANKU
HANYA PADAMU HATIKU PERCAYA
KAULAH MENARA DAN KOTA PERLINDUNGAN

REFF :

KUMAU SLALU BERSYUKUR
S'BAB CINTAMU PADAKU
TAKKAN PERNAH BERUBAH HATIKU PERCAYA
WALAU BUMI BERGONCANG
GUNUNG-GUNUNG BERANJAK
NAMUN KASIH SETIAMU
TAK PERGI DARIKU


Hai Mari Berhimpun

Hai mari berhimpun dan bersukaria
Mari semua ke Betlehem
Lihat yang lahir Raja Bala Surga
Sembah dan puji Dia (3x) Tuhanmu

Terang yang Ilahi Allah yang sejati
T'lah turun menjadi manusia
Allah sendiri dalam rupa insan
Sembah dan puji Dia (3x) Tuhanmu


DARI PULAU DAN BENUA

DARI PULAU DAN BENUA
TERDENGAR SELALU T'RUS
LAGU PUJIAN SEMUA
BAGI NAMA PENEBUS

REFF:
GLO------------------------RIA, MULIAKAN TUHAN
GLO------------------------RIA, IN EXELSIS DEO
GLO------------------------RIA, MULIAKAN TUHAN
GLO------------------------RIA, IN EXELSIS DEO

TINGGI TINGGI DALAM SURGA
TENT'RA TUHAN YANG KUDUS
TAK LELAH MENYANYI JUGA
DI HADAPAN PENEBUS



Dia lahir untuk kami

Dia lahir untuk kami Dia mati untuk kami
Dia bangkit untuk kami semua
Dia itu Tuhan kami Dia itu Allah kami
Dia Raja di atas sgala Raja
Dia itu firman Allah yang turun ke bumi
Dan jadi sama dengan manusia
Dia Yesus sobat kami
Dia Yesus Tuhan kami
Sang penebus juruslamat dunia


Lagu cadangan

KITA DIPILIH

Kita dipilih dari s'gala bangsa
Ya kita dipilih jadi umatNya
Kita dipilih dan dikuduskanNya
Bawa kemuliaan hanya bagi Dia

T'rimalah kemuliaan dan hormat kami
T'rimalah sembah kami pujian kami
T'rimalah kemuliaan dan hormat kami
T'rimalah sembah dan pujian kami

Tuhan Raja Maha Besar

Tuhan raja maha besar
mari datang menyembah Dia
Tuhan raja maha besar
mari datang menyembah Dia
Dia pencipta dunia ini
Dia membentuk gunung gunung
kehadiratNya datanglah
nyanyi bersyukur padaNya
dengan bersuka bernyanyilah
Dia batu keselamatan puji Dia
Tuhan raja maha besar

Segala Puji Syukur

Segala puji syukur
Hanya bagiMu Tuhan
S'bab kaulah yang layak dipuja,ohh....
Kami mau bersorak,tinggikan namaMu
Haleluyah..

Soraklah Haleluyah
Soraklah Haleluyah
Haleluyah..Haleluyah..ohh...

19.40-20.00 : Persembahan Lagu

Masing-masing 5 menit:
1. Sekolah Minggu Eks Mubes
2. Persembahan Pujian Kaum Bapak/Ibu
3. Vokal Group Putri Sion GBT Cimahi
4. Vokal Group Kaum Muda GBT Cimahi
5. Dari Undangan

20.00-End : Penutup & Ramah Tamah


Merry Christmas 2008………

15 Oktober 2012

POKOK DOA

POKOK DOA:
Ibadah Misi MInggu, 20 Februari 2011
1. Berdoa untuk jemaat GPDI Pasirnangka supaya Tuhan menaruh hati yang
selalu rindu untuk menyaksikan kasih Tuhan kepada setiap orang.
2. Berdoa untuk Gereja GPDI Pasirnangka supaya Tuhan pakai untuk
menjadi alat-Nya guna menjangkau jiwa-jiwa bagi kerajaan-Nya.
3. Berdoa supaya GPDI Pasirnangka dapat bersinergi/bekerjasama dengan
gereja-gereja yang ada di kecamatan Ciranjang untuk menjangkau
jiwa-jiwa yang belum mengenal Tuhan Yesus.
4. Berdoa untuk kerukunan beragama di daerah Ciranjang, khususnya desa
Sindangjaya dan Kertajaya. Doakan supaya orang-orang Kristen dapat
menjadi berkat bukan menjadi batu sandungan.
5. Berdoa supaya Roh Kudus menginsafkan orang-orang yang belum
mengenal Injil, dan Tuhan pakai jemaat-jemaat GPDI untuk menyaksikan
berita keselamatan, dan melalui kesaksian jemaat dapat menambah
jiwa-jiwa baru di GPDI Pasirnangka.
6. Berdoa untuk penginjilan bagi suku-suku di Indonesia yang belum
mengenal Injil Kristus. Berdoa untuk hamba-hamba Tuhan yang sedang
merintis untuk masuk kedaerah-daerah tersebut Tuhan yang mampukan
mereka.
7. Berdoa untuk bangsa dan Negara tercinta, biar Tuhan yang campur
tangan sehingga bangsa ini tidak dihancurkan oleh kelompok-kelompok
yang hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Berdoa Tuhan
mampukan pemimpin bangsa kita, biar mereka memiliki hati yang takut
akan Tuhan.
8. Berdoa untuk kelompok-kelompok garis keras, biar kuasa Tuhan yang
mencelikkan hati mereka untuk mengenal dan datang kepada kebenaran
yang sesungguhnya yaitu Yesus Kristus. Belajar dari Paulus.


POKOK DOA:
Ibadah Misi MInggu, 1 April 2011
1. Berdoa untuk jemaat GPDI Pasirnangka supaya Tuhan menaruh hati yang
selalu rindu untuk menyaksikan kasih Tuhan kepada setiap orang.
2. Berdoa untuk Gereja GPDI Pasirnangka supaya Tuhan pakai untuk
menjadi alat-Nya guna menjangkau jiwa-jiwa bagi kerajaan-Nya.
3. Berdoa supaya Roh Kudus menginsafkan orang-orang yang belum
mengenal Injil, dan Tuhan pakai jemaat-jemaat GPDI untuk menyaksikan
berita keselamatan, dan melalui kesaksian jemaat dapat menambah
jiwa-jiwa baru di GPDI Pasirnangka.
4. Berdoa untuk gereja-gereja Tuhan di Indonesia supaya Tuhan menaruh
beban untuk mengambil bagian dalam mengutus misionaris ke
daerah-daerah yang belum terjangkau Injil.
5. Berdoa untuk orang-orang Kristen di daerah Ciranjang Tuhan terus
kuatkan iman mereka dan terus berharap kepada Tuhan. Berdoa mereka
tidak meningalkan imannya karena kondisi ekonomi.
6. Berdoa untuk orang-orang yang sudah meninggalkan imannya, Roh Kudus
menggerakkan hati mereka untuk kembali ke jalan yang benar.
7. Berdoa untuk saudara seiman yang sedang berjuang mempertahankan
imannya di Negara-negara dimana kekristenan masih mengalami
penganiayaan. Berdoa Tuhan terus menguatkan mereka walaupun harus
dibayar dengan penyiksaan, bahkan nyawa mereka.
8. Berdoa untuk penginjilan bagi suku-suku di Indonesia yang belum
mengenal Injil Kristus. Supaya Tuhan mengutus orang-orang yang
memiliki beban untuk menjangkau suku-suku tersebut, dan berdoa untuk
hamba-hamba Tuhan yang sedang merintis untuk masuk kedaerah-daerah
tersebut Tuhan yang mampukan mereka.
9. Berdoa untuk bangsa dan Negara tercinta, biar Tuhan yang campur
tangan sehingga bangsa ini tidak dihancurkan oleh kelompok-kelompok
yang hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Berdoa Tuhan
mampukan pemimpin bangsa kita, biar mereka memiliki hati yang takut
akan Tuhan.
10. Berdoa untuk kelompok-kelompok garis keras, biar kuasa Tuhan yang
mencelikkan hati mereka untuk mengenal dan datang kepada kebenaran
yang sesungguhnya yaitu Yesus Kristus.



POKOK DOA:
Ibadah Misi MInggu, 26 Juni 2011
1. Berdoa untuk jemaat GPDI Pasirnangka supaya Tuhan menaruh hati yang
selalu rindu untuk menjadi saksi Tuhan di tengah-tengah masyarakat
dimanapun kita berada.
2. Berdoa untuk Gereja GPDI Pasirnangka supaya Tuhan pakai untuk
menjadi alat-Nya guna menjangkau jiwa-jiwa bagi kerajaan-Nya.
3. Berdoa supaya Roh Kudus memampukan orang-orang percaya supaya terus
melakukan panggilan mereka sebagai bangsa yang terpilih, imamat yang
rajani, bangsa yang kudus, dan milik kepunyaan Allah. melalui semua
itu mereka dapat menjadi saksi bagi orang-orang yang belum mengenal
Tuhan.
4. Berdoa untuk orang-orang Kristen di daerah Ciranjang Tuhan terus
kuatkan iman mereka dan terus berharap kepada Tuhan. Doakan supaya
orang-orang percaya yang ada di Ciranjang benar-benar mengalami
perjumpaan dengan Yesus, sehingga mereka tidak meningalkan imannya
hanya karena kondisi ekonomi.
5. Berdoa untuk orang-orang yang sudah meninggalkan imannya, Roh Kudus
menggerakkan hati mereka supaya mereka sadar dan kembali ke jalan yang
benar, yaitu Yesus Kristus.
6. Berdoa untuk saudara seiman yang sedang berjuang mempertahankan
imannya di Negara-negara di mana kekristenan masih mengalami
penganiayaan. Berdoa Tuhan terus menguatkan mereka walaupun harus
dibayar dengan harga yang mahal yaitu kehilangan nyawa mereka.
7. Berdoa untuk penginjilan bagi suku-suku di Indonesia yang belum
mengenal Injil Kristus. Supaya Tuhan mengutus orang-orang yang
memiliki beban untuk menjangkau suku-suku tersebut, dan berdoa untuk
hamba-hamba Tuhan yang sedang merintis untuk masuk kedaerah-daerah
tersebut Tuhan yang mampukan mereka.
8. Berdoa untuk bangsa dan Negara tercinta, supaya Tuhan campur tangan
sehingga bangsa ini tidak dihancurkan oleh kelompok-kelompok yang
hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Berdoa Tuhan mampukan
pemimpin bangsa kita, supaya mereka memiliki hati yang takut akan
Tuhan. Peka melihat konsidi masyarakat yang terpuruk dalam segala
aspek kehidupan.
9. Berdoa untuk para TKI yang ada di luar negeri, Tuhan pakai
anak-anak Tuhan yang tergabung dalam lembaga-lembaga Kristen yang ada,
sehingga para TKI yang ada di luar negeri dapat berjumpa dengan Yesus
Kristus.


POKOK DOA:
Ibadah Misi MInggu, 23 Oktober 2011
1. Berdoa untuk jemaat GPDI Pasirnangka supaya Tuhan menaruh hati yang
selalu rindu untuk menjadi saksi Tuhan di tengah-tengah masyarakat
dimanapun kita berada.
2. Berdoa supaya Roh Kudus menggerakkan hati setiap jemaat GPdI Pasir
Nangka untuk memperhatikan keadaan kerohanian mereka. Kita berdoa
supaya setiap keluarga memiliki kerinduan untuk membangun keluarga
mereka dalam takut akan Tuhan. Berdoa supaya setiap keluarga
mengutamakan Tuhan di atas segalanya.
3. Berdoa untuk bapak ibu gembala, kiranya Tuhan selalu memampukan di
dalam menuntun dan menjaga domba-domba yang Tuhan telah percayakan.
4. Berdoa untuk setiap pemuda/pemudi, Tuhan mampukan setiap Pembina
untuk mengarahkan pemuda remaja, khususnya di dalam menghadapi
tantangan kemajuan zaman yang penuh dengan tawaran-tawaran yang
menjerumuskan.
5. Berdoa untuk orang-orang Kristen di daerah Ciranjang Tuhan terus
kuatkan iman mereka dan terus berharap kepada Tuhan. Doakan supaya
orang-orang percaya yang ada di Ciranjang benar-benar mengalami
perjumpaan dengan Yesus, sehingga mereka tidak meninggalkan imannya
hanya karena kondisi ekonomi.
6. Berdoa untuk orang-orang yang sudah meninggalkan imannya, Roh Kudus
menggerakkan hati mereka supaya mereka sadar dan kembali ke jalan yang
benar, yaitu Yesus Kristus.
7. Berdoa untuk saudara seiman yang sedang berjuang mempertahankan
imannya di Negara-negara di mana kekristenan masih mengalami
penganiayaan. Berdoa Tuhan terus menguatkan mereka walaupun harus
dibayar dengan harga yang mahal yaitu kehilangan nyawa mereka.
8. Berdoa untuk penginjilan bagi suku-suku di Indonesia yang belum
mengenal Injil Kristus. Supaya Tuhan mengutus orang-orang yang
memiliki beban untuk menjangkau suku-suku tersebut, dan berdoa untuk
hamba-hamba Tuhan yang sedang merintis untuk masuk kedaerah-daerah
tersebut Tuhan yang mampukan mereka.
9. Berdoa untuk bangsa dan Negara tercinta, supaya Tuhan campur tangan
sehingga bangsa ini tidak dihancurkan oleh kelompok-kelompok yang
hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Berdoa Tuhan mampukan
pemimpin bangsa kita, supaya mereka memiliki hati yang takut akan
Tuhan. Peka melihat kondisi masyarakat yang terpuruk dalam segala
aspek kehidupan.
10. Berdoa untuk gereja-gereja yang mengalami permasalahan dalam
beribadah, secara khusus GKI Yasmin yang ada di Bogor. Doakan Tuhan
lembutkan hati orang-orang yang menolak keberadaan gereja ini,
sehingga jemaat bebas lagi untuk beribadah kepada Tuhan.
POKOK DOA:
Ibadah Misi MInggu, 20 Mei 2012
1. Berdoa untuk jemaat GPDI Pasirnangka supaya Tuhan menaruh hati yang
selalu rindu untuk menyaksikan kasih Tuhan kepada setiap orang.
2. Berdoa untuk Gereja GPDI Pasirnangka supaya Tuhan pakai untuk
menjadi alat-Nya guna menjangkau jiwa-jiwa bagi kerajaan-Nya.
3. Berdoa supaya GPDI Pasirnangka dapat bersinergi/bekerjasama dengan
gereja-gereja yang ada di kecamatan Ciranjang untuk menjangkau
jiwa-jiwa yang belum mengenal Tuhan Yesus.
4. Berdoa untuk kerukunan beragama di daerah Ciranjang, khususnya desa
Sindangjaya dan Kertajaya. Doakan supaya orang-orang Kristen dapat
menjadi berkat bukan menjadi batu sandungan.
5. Berdoa untuk setiap pelayanan yang sudah berjalan di gereja GPdI
Pasir Nangka, Sekolah minggu, pemuda remaja, kaum bapak, kaum ibu,
supaya semakin hari semakin terus bertumbuh di dalam pengenalan akan
Tuhan.
6. Berdoa untuk anggota jemaat yang sudah lama tidak beribadah, kita
berdoa roh kudus menggerakan hati mereka untuk kembali memiliki
kerinduan untuk bersekutu di tempat ini.
7. Berdoa untuk keluarga pastori, Tuhan yang terus mampukan mereka
dalam segala hal yang Tuhan telah percayakan kepada mereka.
8. Berdoa untuk penginjilan bagi suku-suku di Indonesia yang belum
mengenal Injil Kristus. Berdoa untuk hamba-hamba Tuhan yang sedang
merintis untuk masuk kedaerah-daerah tersebut Tuhan yang mampukan
mereka.
9. Berdoa untuk bangsa dan Negara tercinta, biar Tuhan yang campur
tangan sehingga bangsa ini tidak dihancurkan oleh kelompok-kelompok
yang hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Berdoa Tuhan
mampukan pemimpin bangsa kita, biar mereka memiliki hati yang takut
akan Tuhan. Berdoa juga untuk setiap anggota DPR yang selalu menjadi
sorotan karena kelakuan mereka yang korupsi, kita berdoa bangsa ini
tidak dihancurkan oleh budaya korupsi dalam segala bidang.
10. Berdoa untuk kelompok-kelompok garis keras, yang selalu
mengatasnamakan Tuhan, biar kuasa Tuhan yang mencelikkan mata dan hati
mereka untuk mengenal dan datang kepada kebenaran yang sesungguhnya
yaitu Yesus Kristus. Belajar dari Paulus.

Kisah Penginjilan di Afrika

Pada tahun 1921, dua pasang suami istri dari Stockholm ( Swedia ),
menjawab panggilan Allah untuk melayani misi penginjilan di Afrika.
Kedua pasang suami istri ini menyerahkan hidupnya untuk mengabarkan
Injil dalam suatu kebaktian pengutusan Injil. Mereka terbeban untuk
melayani negara Belgian Kongo, yang sekarang bernama Zaire. Mereka
adalah David & Svea Flood, serta Joel & Bertha Erickson.
Setelah tiba di Zaire, mereka melapor ke kantor Misi setempat. Lalu
dengan menggunakan parang, mereka membuka jalan melalui hutan
pedalaman yang dipenuhi nyamuk malaria. David dan Svea membawa anaknya
David Jr. yang masih berumur 2 tahun. Dalam perjalanan, David Jr.
terkena penyakit malaria. Namun mereka pantang menyerah dan rela mati
untuk Pekerjaan Injil. Tiba di tengah hutan, mereka menemukan sebuah
desa di pedalaman. Namun penduduk desa ini tidak mengijinkan mereka
memasuki desanya. "Tak boleh ada orang kulit putih yang boleh masuk ke
desa. Dewa-dewa kami akan marah," demikian kata penduduk desa itu.
Karena tidak menemukan desa lain, mereka akhirnya terpaksa tinggal di
hutan dekat desa tersebut. Setelah beberapa bulan tinggal di tempat
itu, mereka menderita kesepian dan kekurangan gizi. Selain itu, mereka
juga jarang mendapat kesempatan untuk berhubungan dengan penduduk
desa. Setelah enam bulan berlalu, keluarga Erickson memutuskan untuk
kembali ke kantor misi. Namun keluarga Flood memilih untuk tetap
tinggal, apalagi karena saat itu Svea baru hamil dan sedang menderita
malaria yang cukup buruk. Di samping itu David juga menginginkan agar
anaknya lahir di Afrika dan ia sudah bertekad untuk memberikan
hidupnya untuk melayani di tempat tersebut.
Selama beberapa bulan Svea mencoba bertahan melawan demamnya yang
emakin memburuk. Namun di tengah keadaan seperti itu ia masih
menyediakan waktunya untuk melakukan bimbingan rohani kepada seorang
anak kecil penduduk asli dari desa tersebut. Dapat dikatakan anak
kecil itu adalah satu-satunya hasil pelayanan Injil melalui keluarga
Flood ini. Saat Svea melayaninya, anak kecil ini hanya tersenyum
kepadanya. Penyakit malaria yang diderita Svea semakin memburuk sampai
ia hanya bisa berbaring saja. Tapi bersyukur bayi perempuannya
berhasil lahir dengan selamat tidak kurang suatu apa. Namun Svea tidak
mampu bertahan. Seminggu kemudian keadaannya sangat buruk dan
menjelang kepergiannya, ia berbisik kepada David, "Berikan nama Aina
pada anak kita," lalu ia meninggal.
David amat sangat terpukul dengan kematian istrinya. Ia membuat peti
mati buat Svea, lalu menguburkannya. Saat dia berdiri di samping
kuburan, ia memandang pada anak laki-lakinya sambil mendengar tangis
bayi perempuannya dari dalam gubuk yang terbuat dari lumpur. Timbul
kekecewaan yang sangat dalam di hatinya. Dengan emosi yang tidak
terkontrol David berseru, "Tuhan, mengapa Kau ijinkan hal ini terjadi
? Bukankah kami datang kemari untuk memberikan hidup kami dan melayani
Engkau ?! Istriku yang cantik dan pandai, sekarang telah tiada. Anak
sulungku kini baru berumur 3 tahun dan nyaris tidak terurus, apalagi
si kecil yang baru lahir. Setahun lebih kami ada di hutan ini dan kami
hanya memenangkan seorang anak kecil yang bahkan mungkin belum cukup
memahami berita Injil yang kami ceritakan. Kau telah mengecewakan aku,
Tuhan. Betapa sia-sianya hidupku !"
Kemudian David kembali ke kantor misi Afrika. Saat itu David bertemu
lagi dengan keluarga Erickson. David berteriak dengan penuh
kejengkelan, "Saya akan kembali ke Swedia ! Saya tidak mampu lagi
mengurus anak ini. Saya ingin titipkan bayi perempuanku kepadamu."
Kemudian David memberikan Aina kepada keluarga Erickson untuk
dibesarkan. Sepanjang perjalanan ke Stockholm, David Flood berdiri di
atas dek kapal. Ia merasa sangat kesal kepada Allah. Ia menceritakan
kepada semua orang tentang pengalaman pahitnya, bahwa ia telah
mengorbankan segalanya tetapi berakhir dengan kekecewaan. Ia yakin
bahwa ia sudah berlaku setia tetapi Tuhan membalas hal itu dengan cara
tidak mempedulikannya.
Setelah tiba di Stockholm, David Flood memutuskan untuk memulai usaha
di bidang import. Ia mengingatkan semua orang untuk tidak menyebut
nama Tuhan di depannya. Jika mereka melakukan itu, segera ia naik
pitam dan marah. David akhirnya terjatuh pada kebiasaan minum-minuman
keras.
Tidak lama setelah David Flood meninggalkan Afrika, pasangan
suami-istri Erickson yang merawat Aina meninggal karena diracun oleh
kepala suku dari daerah dimana mereka layani. Selanjutnya si kecil
Aina diasuh oleh Arthur & Anna Berg. Keluarga ini membawa Aina ke
sebuah desa yang bernama Masisi, Utara Kongo. Di sana Aina dipanggil
"Aggie". Si kecil Aggie segera belajar bahasa Swahili dan bermain
dengan anak-anak Kongo. Pada saat-saat sendirian si Aggie sering
bermain dengan khayalan. Ia sering membayangkan bahwa ia memiliki
empat saudara laki-laki dan satu saudara perempuan, dan ia memberi
nama kepada masing-masing saudara khayalannya. Kadang-kadang ia
menyediakan meja untuk bercakap-cakap dengan saudara khayalannya.
Dalam khayalannya, ia melihat bahwa saudara perempuannya selalu
memandang dirinya.
Keluarga Berg akhirnya kembali ke Amerika dan menetap di Minneapolis.
Setelah dewasa, Aggie berusaha mencari ayahnya tapi sia-sia. Aggie
menikah dengan Dewey Hurst, yang kemudian menjadi presiden dari
sekolah Alkitab Northwest Bible College. Sampai saat itu Aggie tidak
mengetahui bahwa ayahnya telah menikah lagi dengan adik Svea, yang
tidak mengasihi Allah dan telah mempunyai anak lima, empat putra dan
satu putri Tepat seperti khayalan Aggie ).
Suatu ketika Sekolah Alkitab memberikan tiket kepada Aggie dan
suaminya untuk pergi ke Swedia. Ini merupakan kesempatan bagi Aggie
untuk mencari ayahnya. Saat tiba di London, Aggie dan suaminya
berjalan kaki di dekat Royal Albert Hall. Di tengah jalan mereka
melihat ada suatu pertemuan penginjilan. Lalu mereka masuk dan
mendengarkan seorang pengkotbah kulit hitam yang sedang bersaksi bahwa
Tuhan sedang melakukan perkara besar di Zaire. Hati Aggie terperanjat.
Setelah selesai acara, ia mendekati pengkotbah itu dan bertanya,
"Pernahkah anda mengetahui pasangan penginjil yang bernama David dan
Svea Flood ?" Pengkotbah kulit hitam ini menjawab, "Ya, Svea adalah
orang yang membimbing saya kepada Tuhan waktu saya masih anak-anak.
Mereka memiliki bayi perempuan tetapi saya tidak tahu bagaimana
keadaannya sekarang." Aggie segera berseru, "Sayalah bayi perempuan
itu ! Saya adalah Aggie – Aina !"
Mendengar seruan itu si Pengkotbah segera menggenggam tangan Aggie dan
memeluk sambil menangis dengan sukacita. Aggie tidak percaya bahwa
orang ini adalah bocah yang dilayani ibunya. Ia bertumbuh menjadi
seorang penginjil yang melayani bangsanya dan pekerjaan Tuhan
berkembang pesat dengan 110.000 orang Kristen, 32 Pos penginjilan,
beberapa sekolah Alkitab dan sebuah rumah sakit dengan 120 tempat
tidur.
Esok harinya Aggie meneruskan perjalanan ke Stockholm dan berita telah
tersebar luas bahwa mereka akan datang. Setibanya di hotel, ketiga
saudaranya telah menunggu mereka di sana dan akhirnya Aggie mengetahui
bahwa ia benar-benar memiliki saudara lima orang. Ia bertanya kepada
mereka, "Dimana David kakakku ?" Mereka menunjuk seorang laki-laki
yang duduk sendirian di lobi.
David Jr. adalah pria yang nampak kering, lesu dan berambut putih.
Seperti ayahnya, iapun dipenuhi oleh kekecewaan, kepahitan dan hidup
yang berantakan karena alkohol. Ketika Aggie bertanya tentang kabar
ayahnya, David Jr. menjadi marah. Ternyata semua saudaranya membenci
ayahnya dan sudah bertahun-tahun tidak membicarakan ayahnya. Lalu
Aggie bertanya, "Bagaimana dengan saudaraku perempuan ?" Tak lama
kemudian saudara perempuannya datang ke hotel itu dan memeluk Aggie
dan berkata, "Sepanjang hidupku aku telah merindukanmu. Biasanya aku
membuka peta dunia dan menaruh sebuah mobil mainan yang berjalan di
atasnya, seolah-olah aku sedang mengendarai mobil itu untuk mencarimu
kemana-mana." Saudara perempuannya itu juga telah menjauhi ayahnya,
tetapi ia berjanji untuk membantu Aggie mencari ayahnya.
Lalu mereka memasuki sebuah bangunan tidak terawat. Setelah mengetuk
pintu, datanglah seorang wanita dan mempersilakan mereka masuk. Di
dalam ruangan itu penuh dengan botol minuman, tapi di sudut ruangan
nampak seorang terbaring di ranjang kecil, yaitu ayahnya yang dulunya
seorang penginjil. Ia berumur 73 tahun dan menderita diabetes, stroke
dan katarak yang menutupi kedua matanya. Aggie jatuh di sisinya dan
menangis, "Ayah, aku adalah si kecil yang kau tinggalkan di Afrika."
Sesaat orang tua itu menoleh dan memandangnya. Air mata membasahi
matanya, lalu ia menjawab, "Aku tak pernah bermaksud membuangmu, aku
hanya tidak mampu untuk mengasuhnya lagi." Aggie menjawab, "Tidak
apa-apa, Ayah. Tuhan telah memelihara aku."
Tiba-tiba, wajah ayahnya menjadi gelap, "Tuhan tidak memeliharamu !"
Ia mengamuk. "Ia telah menghancurkan seluruh keluarga kita ! Ia
membawa kita ke Afrika lalu meninggalkan kita. Tidak ada satupun hasil
di sana. Semuanya sia-sia belaka !" Aggie kemudian menceritakan
pertemuannya dengan seorang pengkotbah kulit hitam dan bagaimana
perkembangan penginjilan di Zaire. Penginjil itulah si anak kecil yang
dahulu pernah dilayani oleh ayah dan ibunya. "Sekarang semua orang
mengenal anak kecil, si pengkotbah itu. Dan kisahnya telah dimuat di
semua surat kabar." Saat itu Roh Kudus turun ke atas David Flood. Ia
sadar dan tidak sanggup menahan air mata lalu bertobat.
Tak lama setelah pertemuan itu, David Flood meninggal, tetapi Allah
telah memulihkan semuanya, kepahitan hatinya dan kekecewaannya.

STANDAR ALKITABIAH BAGI PENGINJIL

Konferensi Internasional bagi Penginjil Keliling -- Amsterdam `83 --
tidak hanya merupakan kejadian penting dalam kehidupan saya sebagai
penginjil, tetapi juga merupakan konferensi yang bersejarah. Baru
pertama kali dalam sejarah, konferensi semacam itu diselenggarakan.
Pada puncak konferensi itu, terjadilah saat-saat yang khidmat, yaitu
janji penyerahan diri. Rekan-rekan sepanggilan -- para penginjil dari
berbagai benua -- termasuk saya, menyerahkan diri kembali untuk
melayani Tuhan kita, Yesus Kristus. Dengan bersuara, kami mengucapkan
kata-kata yang sangat berarti, yang kami sebut sebagai
"Pengukuhan-Pengukuhan Amsterdam".
Kelima Belas Pengukuhan itu memuat patokan alkitabiah bagi mereka yang
dikhususkan Tuhan untuk "melakukan pekerjaan seorang penginjil". Lebih
daripada itu, Kelima Belas Pengukuhan tersebut juga ada hubungannya
dengan seluruh keluarga besar Allah. Bukankah kita semua dipanggil
untuk menjadi saksi-saksi-Nya? Oleh karena itulah buku ini, yang
berisi ulasan tentang Kelima Belas Pengukuhan tersebut, ditulis untuk
menjangkau kalangan yang lebih luas.
Perkenankan saya mengenang sejenak. Bertahun-tahun yang lalu, Tuhan
memberi visi kepada saya untuk menghimpun penginjil-penginjil dari
berbagai penjuru dunia dalam sebuah konferensi. Pada waktu itu, hal
tersebut tampaknya tidak mungkin terjadi. Saya masih terlalu muda.
Penginjil-penginjil yang lebih tua dan yang lebih berpengalaman
daripada saya mungkin saja tidak menyukai prakarsa saya itu. Namun,
gagasan itu tidak pernah memudar. Saya tidak pernah meragukan bahwa
pada suatu hari, konferensi itu akan terlaksana. Hanya saja, saya
harus peka terhadap "waktu" Tuhan, kapan Ia menghendaki konferensi itu
diselenggarakan. Kalau kami mengenang kembali, kami dapat merasakan
bimbingan-Nya langkah demi langkah sampai konferensi tersebut
terselenggara.
Sementara itu, Lembaga Penginjilan Billy Graham sering mengadakan dan
membiayai berbagai kegiatan serupa lainnya. Kongres Pekabaran Injil
se-Dunia diadakan di Berlin pada tahun 1966. Setelah itu, berbagai
konferensi regional, termasuk konferensi untuk para pemimpin injili
se-Asia diadakan di Singapura pada tahun 1968. Konferensi Pekabaran
Injil se-Eropa diadakan pada tahun 1971. Setelah itu, kami
menyelenggarakan konferensi sedunia lagi di Laussane, Swis, pada tahun
1974. Walaupun semua konferensi itu diorganisasikan dan dibiayai oleh
Lembaga Penginjilan Billy Graham, dan sebagian besar tanggung jawab
jatuh di bahu saya, sebagai ketua kehormatan, saya mengangkat ketua-
ketua rapat dan ketua-ketua panitia sebagai orang-orang yang
bertanggung jawab atas kelangsungan konferensi itu.
Pertemuan-pertemuan itu menghimpun para teolog, para pakar pendidikan,
ketua-ketua badan zending, pendeta-pendeta, pemimpin-pemimpin gereja
dan para penginjil, sangat mengesankan dan bermanfaat. Kalau kami
tinjau kembali, rupanya mereka telah menjadi peletak dasar terwujudnya
Konferensi Amsterdam `83. Namun, dalam benak dan hati saya, selalu
terbayang visi konferensi khusus bagi para penginjil. Masalahnya:
Bagaimana kita dapat membedakan antara pendeta yang memunyai karunia
sebagai penginjil, dengan orang yang seperti saya, berkeliling
mewartakan Injil dari satu tempat ke tempat yang lain? Kami
berpendapat kata "keliling" ini telah memperjelas perbedaannya.
Anehnya, waktu kami membicarakan kemungkinan dilaksanakannya
konferensi itu, ternyata hanya sedikit orang saja yang memunyai visi
yang sama. Namun, sementara waktu berjalan, kami heran bahwa ada
antusias yang kian meningkat selagi publikasi tentang konferensi itu
beredar. Pada masa itu, anggaran yang kami perkirakan tidak lebih dari
sejuta dolar. Kami tidak pernah menduga bahwa anggaran yang diperlukan
dapat melonjak sampai delapan juta dolar! Pada waktu itu, kami juga
tidak dapat memperkirakan berapa banyak penginjil yang akan turut
berperan serta, dan dari mana saja mereka akan berdatangan. Kendati
biayanya sampai mencapai delapan juta dolar, saya yakin setiap dolar
yang dikeluarkan tidaklah sia-sia. Bagaimana Tuhan menyediakan dana --
hal itu menakjubkan sekali. Orang-orang dari seluruh dunia mengirim
sumbangan. Sementara masa persiapan terus bergerak maju, orang-orang
Kristen di berbagai negara terus berdoa. Tuhan mengabulkan doa-doa
mereka -- lebih dari apa yang kami harapkan.
Di mana konferensi akan diselenggarakan? Maka Amsterdamlah yang
terpilih menjadi tuan tamu. Bangsa Belanda dikenal sebagai orang-orang
yang suka menerima tamu. Dan kami mengetahui bahwa tidak ada kesulitan
untuk mendapatkan visa bagi para peserta dari berbagai negara. Ada
fasilitas istimewa yang membuat Amsterdam menjadi salah satu tempat
konferensi yang terbaik di dunia -- sanggup menyediakan seratus
delapan puluh tempat lokakarya (dengan banyak ruang cadangan).
Maskapai Penerbangan Belanda, KLM, berjanji untuk membantu, tidak saja
dalam hal transportasi tetapi juga mau menyediakan makanan bagi setiap
peserta selama konferensi berlangsung. Mereka menepati janji dengan
memberi makan lima ribu orang secara serentak dalam waktu kurang dari
lima puluh menit.
Tuhan menyediakan beberapa orang untuk menjabat sebagai pemimpin.
Walter H. Smyth, yang bertugas menangani urusan internasional. Orang
yang diangkat menjadi direktur adalah teman lama saya. Dia juga teman
sejawat saya dan menjabat sebagai ketua dari pelayanan organisasi kami
di Jerman, yaitu Werner Burklin. Ia membawa timnya yang terdiri dari
orang-orang yang melayani tanpa pamrih. Leighton Ford diminta menjadi
ketua rapat. Campus Crusade for Christ mengutus Paul Eshleman untuk
melayani sebagai ketua acara. Saya ingat, pada suatu rapat panitia,
Paul mengutarakan garis besar dari visinya; ia meluaskan pikiran saya
seribu kali lipat tentang kemungkinan-kemungkinan jangka panjang yang
dapat lahir dari konferensi itu.
Bob William, dari staf kami, diminta untuk memimpin bagian
penyeleksian para peserta. Mula-mula kami mengira hanya ada beberapa
ratus Penginjil Keliling saja yang akan hadir. Kami tidak mengira
bahwa ada begitu banyak Penginjil Keliling di dunia ini. Selama
beberapa tahun, kami mengumpulkan nama-nama Penginjil Keliling. Itu
merupakan pekerjaan yang belum pernah kami lakukan. Besarnya jumlah
penginjil melebihi perkiraan kami. Formulir-formulir pendaftaran
peserta terus mengalir masuk, melebihi jumlah kursi yang tersedia.
Sekitar dua ratus panitia di seluruh dunia membantu untuk menyeleksi
pesertanya. Kami memerhatikan secara khusus agar para penginjil yang
tidak terkenal namanya, yang setia melayani di bagian bumi yang paling
jauh dari kami, jangan sampai terlewat.
Saya tidak dapat melupakan hari pembukaan konferensi itu. Hari itu
adalah hari yang terpanas di Amsterdam. Ruangan konferensi bagaikan
sebuah oven raksasa. Dengan mengenakan jas biru, seratus lima puluh
penerima tamu dari universitas Kristen dan berbagai organisasi Kristen
mengantar sekitar empat ribu hadirin (ditambah dengan seribu orang
lainnya yang terdiri dari para pemantau, tamu, wartawan, dll.) ke
tempat duduk mereka masing-masing.
Sementara saya menatap lautan manusia itu dari panggung, hati saya
penuh dengan rasa terima kasih kepada Tuhan. Visi yang Ia berikan
kepada saya bertahun-tahun yang lalu telah digenapi pada waktu-Nya
yang tepat.
Dalam upacara pembukaan diadakan pawai dengan membawa bendera dari
seratus tiga puluh tiga negara yang diwakilinya. Di hadapan saya
terhimpun penginjil-penginjil yang menjadi bagian dari pasukan Allah.
Mereka adalah orang-orang yang bertekad melaksanakan Amanat Agung
Yesus Kristus. Dari wajah mereka dan dari sinar mata mereka tercermin
bahwa mereka datang dengan penuh antusias. Banyak di antara mereka ada
yang baru pertama kali bepergian keluar dari negara mereka, bahkan ada
yang baru kali itu bepergian keluar dari provinsinya! Sebagian ada
yang baru pertama kali menumpang pesawat udara. Kedatangan mereka di
Amsterdam merupakan pengalaman yang istimewa. Segala sesuatunya baru.
Melalui pantulan sinar mata mereka, tercerminlah sekilas pandangan
baru tentang dunia ini. Kesungguhan mereka dalam menyimak apa yang
kami sampaikan merupakan tanda betapa dalamnya pengabdian mereka.
Di dalam buku karangan Dave Foster mengenai konferensi itu yang
berjudul Billy Graham, "A Vision Imparted", ia menggambarkan saat-saat
saya mengakhiri sidang pembukaan itu:
"Pada waktu ia mengakhiri kata-kata pembukaannya dan memimpin doa
pengabdian dan penyerahan diri, konferensi itu seakan-akan `tersulut
api`. Di situ dapat dirasakan sudah terjadi pembaharuan rohani dalam
hati para peserta. Hal itu nampak jelas dari ungkapan hati mereka
waktu menyanyikan lagu penutup yang berbunyi:
Tuhanku Allahku -- penuh kasih karunia, Tolonglah hamba mewartakan,
Memberitakan ke seluruh penjuru bumi, Kemuliaan nama-Mu.
"Ketika Walter Smyth turun dari panggung, ... ia berkata bahwa
kehadiran Roh Kudus dan persatuan di dalam kasih Kristus sudah terasa.
Suasana dipenuhi puji-pujian dan penyembahan kepada Tuhan. Konferensi
ini tampaknya dimulai dengan suasana yang pada umumnya terjadi pada
penutupan suatu konferensi."
Sahabat karib saya, yang juga teman sejawat saya, Cliff Barrows,
adalah seorang yang sangat besar peran sertanya dalam konferensi
tersebut sehingga tercipta suasana yang seperti itu. Dialah yang
bertugas mengurus panggung selama konferensi berlangsung. Sepanjang
masa pelayanan saya, saya belum pernah menemukan orang lain yang dapat
lebih baik melakukan pekerjaan semacam itu daripada dia. Acara musik
yang dipimpinnya di Amsterdam betul-betul mengagumkan. Lagu-lagu
rohani yang telah dipilihnya dengan baik, berikut refrein-refreinnya
sangat berkaitan dengan peristiwa besar itu. Setiap kali saya
mendengar atau menyanyi lagu "Emmanuel, God with us" atau "Freely,
freely, you have received ...", saya pasti terkenang akan konferensi
di Amsterdam.
Konferensi itu lebih daripada sekadar kesempatan istimewa untuk
bersekutu dan berbakti bersama para penginjil -- rekan-rekan
sepanggilan. Konferensi itu merupakan kesempatan untuk berpikir dengan
sungguh-sungguh mengenai strategi penginjilan, kesempatan untuk berdoa
bagi terlaksananya Amanat Agung. Umpamanya, banyak gagasan berbobot
telah terkumpul untuk menerbitkan sebuah buku penuntun bagi para
Penginjil Keliling di seluruh dunia. Banyak sekali penginjil yang
berminat akan hal itu. Dr. Lewis Drummond, seorang profesor bidang
penginjilan di Southern Baptist Theological Seminary, Louisville,
Kentucky, yang diberi tanggung jawab untuk menyusun buku penuntun itu
berkata, "Saya mengira, saya datang di Amsterdam ini untuk bekerja
sama dengan tidak lebih dari dua puluh profesor dari bidang
penginjilan yang akan menyiapkan buku penuntun tersebut. Saya tidak
mengira sama sekali bahwa begitu banyak penginjil yang berminat untuk
menyusun kurikulum Penginjil Keliling." Kalau begitu, bagaimanapun
juga, Amsterdam `83 akan tetap merupakan sarana yang melahirkan banyak
cara untuk melaksanakan PI yang berkesinambungan.
Lagi pula, Amsterdam `83 juga merupakan motor penggerak bagi kegiatan
penginjilan selama konferensi itu berlangsung. Supaya mereka
mempraktikkan penginjilan berdasarkan berbagai ketentuan yang
alkitabiah, para penginjil yang datang ke Amsterdam mengkhususkan
suatu sore untuk bersaksi di jalan-jalan, di pantai Laut Utara Negeri
Belanda, di taman-taman, dan di mana saja mereka dapat menjumpai
orang-orang.
Saya ingin sekali turut mengambil bagian dalam kegiatan bersaksi sore
itu, tetapi ada masalah. Setiap kali media massa memublikasikan
kehadiran saya di suatu tempat, tidak mungkin saya dapat berjalan
dengan bebas karena mereka semua mengenali saya. Maka dari itu,
sebelum saya pergi dengan rekan saya, T.W. Wilson, ke taman yang ada
banyak orang, saya mengenakan celana jins yang sudah usang, topi, dan
kaca mata hitam. Saya membagi-bagikan traktat "Empat Langkah Menuju
Perdamaian dengan Allah", dan saya mencoba bersaksi. Tanggapan yang
saya terima tidak begitu menggembirakan. Rasanya saya tidak mencapai
sasaran!
Pada waktu itu saya melihat sekelompok kecil orang Kristen Afrika dari
Pantai Gading. Mereka sedang bersaksi kepada seorang mahasiswa
Belanda. Pada mulanya mahasiswa itu kelihatan hendak mengelak. Akan
tetapi, orang-orang Afrika itu begitu ramah dan manis budi sehingga
mahasiswa itu tidak jadi menghindar! Mereka membuka Alkitab dan
menunjukkan beberapa ayat kepadanya. Saya bergabung dengan mereka dan
duduk mendengarkan. Saya belum pernah mendengar kesaksian yang
semantap itu!
Di Amsterdam, Tuhan membuka kemungkinan bagi kami untuk saling
belajar. Satu hal yang saya pelajari dari orang-orang yang kami
jangkau ialah mereka lebih tertarik kepada Pribadi Yesus Kristus
daripada kepada agama atau organisasi Kristen atau gereja. Pribadi
Kristuslah yang menarik perhatian mereka.
Ketika kami sedang berusaha menentukan siapa yang hendak kami undang
ke Amsterdam, kami terlebih dahulu harus membuat ketentuan dengan
membahas pertanyaan dasar, "Seorang penginjil itu apa?" Memang kita
mengetahui bahwa setiap orang Kristen adalah seorang saksi Kristus.
Akan tetapi, kita juga menyadari bahwa Tuhan memanggil orang- orang
tertentu untuk melaksanakan pelayanan khusus, yaitu pelayanan
penginjilan.
Penginjil adalah orang yang diberi karunia khusus dari Roh Kudus untuk
memberitakan Kabar Baik. Metode-metode yang dipakai akan berbeda-beda.
Hal itu bergantung pada kesempatan dan panggilan yang dimiliki setiap
penginjil. Namun, ada satu hal pokok yang sama: seorang penginjil
dipanggil dan diperlengkapi secara khusus oleh Tuhan untuk
memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum percaya kepada
Kristus. Tujuannya agar mereka berpaling kepada Kristus, bertobat dari
dosa-dosa mereka, serta beriman kepada-Nya. Dalam Perjanjian Baru,
kata "pemberita Injil" dalam bahasa Yunani berarti "seseorang yang
memberitakan kabar baik". Bentuk kata kerja yang berarti "memberitakan
kabar baik" itu muncul lebih dari lima puluh kali. Kata benda
"pemberita Injil" yang dipakai untuk menyebutkan seseorang yang
membawa kabar baik, agaknya merupakan kata yang jarang dipakai pada
zaman dahulu, kendati kata itu dipakai sebanyak tiga kali dalam
Perjanjian Baru. Marilah kita tinjau sejenak ketiga ayat itu, agar
kita dapat memahami apa yang dimaksudkan Alkitab dengan kata
"pemberita Injil".
Acuan yang paling umum bagi kata "pemberita Injil" dapat kita temukan
dalam Efesus 4:11. Dalam ayat itu, Rasul Paulus menyatakan bahwa
Tuhanlah yang "memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik
pemberita-pemberita Injil maupun gembala gembala dan
pengajar-pengajar". Karunia dan jabatan penginjil yang terdapat dalam
Perjanjian Baru ini tidak pernah dicabut dari gereja. Itu bukan saja
merupakan pelayanan yang penting, tetapi juga merupakan pelayanan yang
Tuhan berikan untuk dipakai -- seperti halnya dengan karunia-karunia
lainnya -- "bagi pembangunan tubuh Kristus" (Efesus 4:12).
Tragis sekali, ada kalanya gereja tidak lagi menyadari pentingnya
pelayanan seorang penginjil. Lebih buruk lagi, kadang-kadang para
penginjil itu sendiri menambah runyam persoalan karena mereka gagal
untuk bekerja sama sepenuhnya dengan gereja-gereja. Bagaimanapun juga,
tentu salah satu kebutuhan utama gereja masa kini ialah menemukan
kembali pentingnya penginjilan; gereja juga perlu memunyai keyakinan
kembali tentang perlu adanya seorang penginjil. Berikut ini adalah
kutipan perkataan mantan Uskup Besar Anglikan di Sidney, Sir Marcus
Loane yang memberi ceramah di Amsterdam.
"Mudah sekali kita mengira bahwa zaman penginjilan ... telah berakhir.
Dugaan itu menimbulkan wabah yang menjangkiti gereja yang visi
penginjilannya sudah kabur .... Bilamana visi penginjilan dan usaha
penjangkauan itu mandek, gereja akan menghadapi masalah serius: Para
anggotanya terdiri dari orang-orang Kristen KTP saja. Masalah itu
timbul dari dalam; gereja menjadi suam-suam kuku."
Dua ayat lainnya dalam Perjanjian Baru mengacu kepada orang-orang yang
secara khusus melayani bidang penginjilan. Dalam Kisah Para Rasul
21:8, Filipus disebut "pemberita Injil". Dalam 2Timotius 4:5 Rasul
Paulus berkata kepada Timotius, "Lakukanlah pekerjaan pemberita Injil"
(2 Timotius 4:5). Kami mengangkat nasihat itu menjadi tema Amsterdam
`83.
Pekerjaan seorang penginjil dengan jelas digambarkan oleh Filipus dan
Timotius. Menurut Kisah Para Rasul 8:12, kita mengetahui bahwa
"Filipus ... memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang
nama Yesus Kristus, ... " Dalam Konferensi Amsterdam, Dr. Stephen F.
Olford menyoroti tiga ciri Filipus -- ciri-ciri itu harus ada pada
tiap penginjil. Pertama, Filipus adalah seorang pelayan Tuhan di
gereja, dan penginjilan harus selalu ditanamkan sebanyak mungkin di
dalam gereja. Kedua, Filipus juga seorang pengkhotbah di dunia; ia
beranjak dari tempat yang satu ke tempat yang lain, menemui orang-
orang yang belum mendengar Injil atau yang belum mengenal Kristus.
Ketiga, Filipus tidak mengabaikan tanggung jawab atas keluarganya. Ia
memunyai empat anak perempuan yang dikenal sebagai orang-orang yang
memiliki karunia Roh; dan mereka adalah pelayan Tuhan. Begitu pula
dengan Timotius. Rasul Paulus menulis tentang Timotius sebagai
berikut, "Ia seorang pelayan Allah yang bekerja bersama kami untuk
memberitakan Kabar Baik tentang Kristus" (1Tesalonika 3:2, BIS).
Itulah yang dinamakan penginjilan, "memberitakan Kabar Baik tentang
Kristus". Penginjilan itu lebih daripada sekadar metode; penginjilan
adalah sebuah BERITA. Berita tentang kasih Allah, tentang dosa
manusia, tentang kematian Kristus, tentang penguburan-Nya, dan
kebangkitan-Nya. Penginjilan adalah berita tentang pengampunan dosa
dari Allah. Penginjilan adalah berita yang menuntut suatu tanggapan --
menerima Injil itu dengan iman, lalu menjadi murid Yesus. Istilah
"penginjilan" mencakup segala usaha untuk memberitakan Kabar Baik
tentang Yesus Kristus. Tujuannya ialah supaya orang-orang mengerti
bahwa Allah menawarkan keselamatan dan supaya mereka menerima
keselamatan itu dengan iman, lalu hidup sebagai murid Yesus. Seperti
yang ditetapkan dalam Perjanjian Lausanne, "Menginjili ialah
memberitakan Kabar Baik bahwa Yesus Kristus mati bagi dosa-dosa kita,
dan Ia sudah dibangkitkan dari antara orang mati, menurut Kitab Suci.
Yesus Kristus adalah Tuhan yang memerintah, Ia sekarang menawarkan
pengampunan dosa dan mengaruniakan Roh Kudus kepada semua orang yang
bertobat dan yang percaya. ... Penginjilan itu sendiri ialah
pemberitaan bahwa Kristus yang dikenal dalam sejarah dan dari Kitab
Suci adalah Juru Selamat dan Tuhan. Adapun tujuan pemberitaan itu
ialah supaya orang-orang mau datang kepada-Nya secara pribadi dan
dengan demikian mereka diperdamaikan dengan Allah. Waktu kita
mengundang agar orang mau menerima Kristus, kita tidak boleh
menyembunyikan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang murid
Yesus. ... Hasil dari penginjilan mencakup hidup patuh kepada Kristus,
menggabungkan diri dengan gereja-Nya, dan melayani Tuhan dengan penuh
tanggung jawab di dunia ini." [Butir ke-4, dalam Perjanjian Lausanne,
(c)1974 World Wide Publication, Minneapolis, Minnesota]
Semangat dan pengabdian dalam bidang penginjilan merupakan ciri khas
orang-orang Kristen abad pertama. Itu seharusnya juga tercermin dalam
kehidupan gereja masa kini. Pekerjaan menginjil tetap tidak berubah.
Kebutuhan rohani umat manusia tetap tidak berubah. Berita penginjilan
tetap tidak berubah. Dan karunia Allah kepada gereja-Nya -- termasuk
karunia seorang penginjil -- tetap tidak berubah.
Amsterdam `83 memberi kesan yang berbeda-beda kepada setiap peserta
yang hadir. Bagi sebagian peserta, mungkin hal yang sangat mengesankan
tentang Konferensi Amsterdam `83 itu ialah adanya penegasan tentang
peranan seorang penginjil. Bagi peserta lainnya, mungkin saja yang
sangat mengesankan adalah saat-saat mengabdikan diri kembali kepada
pelayanan pemberitaan Injil yang diwarnai dengan suasana khusyuk dan
khidmat. Akan tetapi, apa pun yang menjadi kesan dalam diri setiap
peserta, saya yakin bahwa setelah tiap peserta pulang dan meresapi
betapa pentingnya pelayanan memberitakan Injil, dan betapa besarnya
kuasa Allah yang bekerja untuk mencapai tujuan-Nya, mereka pasti akan
mengalami perubahan.
Sebagai tanda pengenal dan menyangkut keamanan, peserta konferensi
diberi gelang plastik. Gelang plastik itu dipakai siang-malam selama
konferensi itu berlangsung, dan tidak dapat dilepaskan tanpa
memotongnya. Peserta diminta untuk tetap memakai gelang plastik itu
sampai mereka meninggalkan Amsterdam. Cukup menarik. Sebagian
penginjil merasa bahwa gelang plastik yang sederhana itu memunyai arti
lebih daripada sekadar tanda pengenal. Walau konferensi sudah lama
berlalu, banyak di antara mereka masih memakai gelang plastik itu
untuk mengingat kembali janji mereka yang diteguhkan di hadapan Tuhan,
di Amsterdam, khususnya ketika mereka menyuarakan Kelima Belas
Pengukuhan. Buku ini ditulis untuk memberi ulasan tentang pengukuhan-
pengukuhan tersebut. Beberapa penginjil masih memakai gelang plastik
itu sampai saat ini, misalnya di Afrika, Asia, Amerika Latin, dan di
berbagai belahan bumi ini!
Sementara membuat persiapan Amsterdam `83, banyak orang dari berbagai
negara menanyakan, apakah akan ada semacam "Keputusan Bersama" yang
akan dikeluarkan oleh konferensi itu, seperti halnya Perjanjian
Lausanne. Perjanjian itu adalah hasil dari Konferensi Lausanne pada
tahun 1974 yang membahas tema pekabaran Injil sedunia. Setelah
dipertimbangkan dengan saksama, diputuskan bahwa Amsterdam `83 tidak
akan mengeluarkan keputusan bersama yang meringkaskan hasil dari
konferensi karena tujuan utama Konferensi Amsterdam ialah berkenaan
dengan hal-hal praktis, yaitu pelaksanaan PI. Bersamaan dengan itu,
banyak penginjil dari latar belakang yang lain mengutarakan harapannya
agar patokan-patokan bagi para penginjil dapat disusun. Akhirnya,
panitia internasional yang sudah diseleksi, yang diketuai oleh Dr.
Kenneth Kantzer, ditunjuk untuk menyusunnya. Mereka bekerja keras
selama konferensi berlangsung. Naskah kasar mereka disampaikan kepada
kelompok yang mewakili para penginjil dari berbagai penjuru dunia;
mereka memberi banyak usulan yang berharga kepada panitia
internasional itu. Naskah akhir mereka -- Pengukuhan- Pengukuhan
Amsterdam -- disusun dengan singkat dan saksama, merangkum dasar-dasar
alkitabiah, pekerjaan serta integritas seorang penginjil. Pada upacara
penutupan, peserta konferensi serentak menyuarakan janji mereka
terhadap setiap pengukuhan itu yang berjumlah lima belas butir.
Disarankan, agar saya menulis ulasan yang bersifat interpretatif
tentang Kelima Belas Pengukuhan Amsterdam. Saya menyetujui. Agar saya
dapat melakukan hal itu, saya menghubungi teman-teman saya, John
Akers, Art Johnston, Dave Foster, dan Stephen F. Olford. Dalam
menyiapkan khotbah, menulis artikel dan menyusun buku, saya sering
bergantung pada pertolongan tim saya dan sahabat-sahabat saya itu.
Saya sangat berterima kasih atas kesediaan mereka menolong dan memberi
anjuran sementara saya menyelesaikan pekerjaan ini.
Doa saya ialah supaya Tuhan tidak hanya memakai buku ulasan tentang
Kelima Belas Pengukuhan Amsterdam ini untuk menolong para Penginjil
Keliling, tetapi juga untuk menolong banyak orang Kristen lainnya agar
mereka mendapat visi yang lebih luas lagi tentang pekerjaan Tuhan di
dunia ini. Allah telah menempatkan kita pada zaman yang unik ini dan
yang mendesak waktunya bagi penginjilan. Ladang-ladang sudah
"menguning dan siap untuk dituai". Memang sebagian orang dipilih
khusus untuk menjadi penginjil, tetapi bukankah semua umat Allah
adalah saksi-saksi-Nya. Oleh karena itu, saya berharap agar daya
jangkau buku ini melebihi mereka yang hadir dalam Konferensi Amsterdam
`83, dan supaya mereka melaksanakan apa yang tertuang dalam
Pengukuhan-Pengukuhan itu. Saya berharap, kita akan melihat adanya
pembaharuan pengabdian dan semangat penginjilan dalam diri setiap anak
Tuhan dalam generasi ini.
15 PENGUKUHAN AMSTERDAM `83
PENGUKUHAN I
Kita mengakui, Yesus Kristus itu Allah, Tuhan, dan Juru Selamat kita,
yang dinyatakan di dalam Alkitab -- firman Allah yang sempurna, tanpa
kesalahan.
PENGUKUHAN II
Kita bersama-sama mengukuhkan komitmen kita terhadap Amanat Agung dari
Tuhan kita, dan menyatakan bersedia untuk pergi ke mana saja,
melakukan apa saja, dan mengorbankan apa saja yang Tuhan kehendaki
dami terpenuhinya Amanat itu.
PENGUKUHAN III
Kita bersama-sama menyambut panggilan Allah untuk melaksanakan
penginjilan yang alkitabiah, dan menerima tanggung jawab untuk
memberitakan firman Allah kepada semua orang, sesuai dengan kesempatan
yang Allah berikan.
PENGUKUHAN IV
Allah mengasihi setiap orang. Orang yang tidak beriman kepada Kristus,
berada di bawah hukuman Allah, dan dengan sendirinya akan masuk
neraka.
PENGUKUHAN V
Inti pesan alkitabiah ialah Kabar Baik tentang keselamatan yang dari
Allah: keselamatan itu diterima karena kasih karunia semata-mata
melalui iman dalam Tuhan Yesus Kristus yang sudah bangkit; keselamatan
itu diterima melalui iman pada kematian-Nya di kayu salib, yang
menebus dosa-dosa kita.
PENGUKUHAN VI
Dalam memberitakan Injil, kita menyadari pentingnya memanggil semua
orang supaya mereka mengambil keputusan untuk mengikut Yesus sebagai
Tuhan dan Juru Selamat mereka; kita harus melakukan dengan kasih,
tanpa memaksa atau membujuk.
PENGUKUHAN VII
Kita perlu dan rindu dipenuhi serta dikuasai oleh Roh Kudus sementara
kita membawakan kesaksian tentang Injil Yesus Kristus karena hanya
Tuhan sajalah yang dapat membuat orang-orang berdosa bertobat dan
memperoleh kehidupan yang kekal.
PENGUKUHAN VIII
Kita mengakui kewajiban kita sebagai hamba-hamba Tuhan: kita harus
hidup suci, dan bermoral bersih karena kita tahu bahwa kita adalah
saksi-saksi Kristus kepada jemaat dan kepada dunia ini.
PENGUKUHAN IX
Kesetiaan dalam doa dan pemahaman Alkitab itu diperlukan bagi
pertumbuhan rohani kita pribadi dan bagi kekuatan kita dalam
pelayanan.
PENGUKUHAN X
Kita akan menjadi abdi yang setia dalam segala pekerjaan yang Allah
berikan kepada kita. Kita akan bertanggung jawab dalam bidang keuangan
yang dipercayakan bagi pelayanan kita, dan dengan jujur memberi
laporan data pelayanan kita.
PENGUKUHAN XI
Keluarga adalah suatu tanggung jawab yang Allah berikan kepada kita,
dan merupakan pemberian Allah yang dipercayakan-Nya kepada kita; oleh
karena itu kita harus setia kepada panggilan untuk melayani sesama.
PENGUKUHAN XII
Kita bertanggung jawab kepada gereja, dan akan selalu gigih
melaksanakan pelayanan, membangun gereja setempat dan melayani umat
Kristen pada umumnya.
PENGUKUHAN XIII
Kita bertanggung jawab untuk memelihara kerohanian orang-orang yang
menerima Yesus melalui pelayanan kita; kita bertanggung jawab untuk
menganjurkan, agar mereka menggabungkan diri dengan gereja setempat;
kita juga harus mendorong gereja agar mereka dapat membimbing para
petobat itu dan memberi petunjuk bagaimana bersaksi tentang Injil.
PENGUKUHAN XIV
Kita sehati dengan Kristus yang sangat memedulikan penderitaan manusia
secara pribadi maupun penderitaan seluruh umat manusia; sebagai orang
Kristen dan sebagai penginjil, kita menerima tanggung jawab untuk
sedapat mungkin mengurangi penderitaan manusia dengan berusaha untuk
mencukupi kebutuhan mereka.
PENGUKUHAN XV
Kita memohon agar seluruh Tubuh Kristus sehati di dalam doa dan
bekerja untuk perdamaian di dunia ini, untuk membangun kehidupan
rohani, untuk memperbaharui pengabdian dan mengutamakan Alkitab dalam
penginjilan di gereja, untuk memelihara kesatuan dan persatuan
orang-orang percaya di dalam Kristus, dan untuk melaksanakan Amanat
Agung, sampai Kristus datang kembali.
Dikutip dari:
Judul buku : Beritakan Injil; Standar Alkitabiah bagi Penginjil
Penulis : Billy Graham
Penerbit : Lembaga Literatur Baptis, Bandung dan Yayasan Andi,
Yogyakarta 1995
Halaman : 7 -- 20

7 Oktober 2012

Janji-Janji yang Terlupakan: Ismail Selayang Pandang dari Alkitab

INSTITUT ALKITAB TIRANUS
Mata Kuliah : Perjumpaan Umat Kristiani dengan Umat Islam
Dosen : Jon Culver, Ph.D.
Tugas : Resensi Buku
Janji-Janji yang Terlupakan: Ismail Selayang Pandang dari Alkitab
Nama : Adrianus
NIM : 09 21 5763


Wawasan Baru
Setelah membaca buku Janji-Janji Yang Terlupakan, wawasan saya
dibukakan dan juga memberi inspirasi baru bagi saya, berikut ini
komentar tentang hal-hal yang saya dapatkan setelah membaca buku ini:
1. Buku ini telah mengubah pandangan saya yang dulunya memiliki
pandangan seperti orang Kristen pada umumnya, melupakan janji-janji
yang diberikan Tuhan kepada Ismail. Sebelum membaca buku ini, saya
memiliki pandangan yang kurang simpati dan menganggap orang-orang
keturunan Ismail adalah orang-orang yang tersesat, pemberontak, musuh
orang Kristen, dan tidak mungkin diselamatkan. Sebagai orang Kristen
saya merasa yang paling benar, namun setelah membaca dan menyimak
pembahasan dalam buku ini, saya menyadari bahwa janji-janji yang
diberikan kepada Ismael dan keturunannya bukanlah janji-janji biasa,
tetapi Allah sendiri yang telah memberikan janji-janji itu melalui
malaikat-Nya. Saya yakin dan percaya lewat janji-janji itu Tuhan
memiliki rencana yang indah buat Ismael dan keturunannya. Jadi janji
itu jangan dianggap sepele atau murahan, tetapi harus dilihat lebih
dalam lagi apa yang menjadi maksud dan rencana Allah dibalik
janji-janji itu bagi keturunan Ismael.

2. Pola pikir saya diubahkan, yang tadinya saya menutup diri, tidak
peduli, menjauhkan diri dan tidak pernah ada inisiatif untuk membangun
dialog dengan saudara sepupu (Islam), karena adanya
prasangka-prasangka buruk terhadap mereka. Buku ini telah menyadarkan
saya, ternyata apa yang saya lakukan selama ini telah melumpuhkan
kesaksian saya sebagai orang Kristen. Prasangka buruk itu telah
membentengi dan memadamkan rasa kasih saya kepada keturunan Ismael
(Islam).

3. Meskipun janji-janji yang diberikan kepada Ismael bukan janji
biasa, tetapi dalam hal ini tetap harus dipahami bahwa janji-janji
yang diberikan kepada Ismael karena Abraham memintanya kepada Tuhan.
Jadi janji itu masih erat kaitannya dengan Abraham sebagai bapak orang
beriman. Selain itu saya juga semakin memahami antara janji yang
diberikan kepada Ismael dan janji yang diberikan kepada Ishak. Ismael
tidak pernah mendapat janji Mesianis, yaitu: olehmu semua kaum akan
mendapat berkat, tetapi Allah telah memilih Ishak dan keturunannya
sebagai pewaris perjanjian itu. Ishak dan Ismael merupakan gambaran
misiologis, Ishak melambangkan orang-orang percaya yang menjadi terang
bagi bangsa-bangsa, sedangkan Ismael melambangkan bangsa-bangsa yang
akan datang kepada terang itu. Sebagai orang yang telah percaya kepada
Tuhan Yesus, maka orang Kristen adalah pewaris perjanjian Mesianis
itu. Orang-orang percaya harus terbeban untuk berdoa supaya semakin
banyak keturunan Ismael yang datang kepada terang itu.

4. Hal lain yang saya dapatkan dari buku ini adalah: bahwa apa yang
manusia rancangkan belum tentu sesuai dengan apa yang Tuhan
rancangkan. Manusia yang berdosa selalu mencari jalannya sendiri yang
pada akhirnya tindakan yang diambil bertolak belakang dengan rencana
Tuhan. Ketika Tuhan mempersiapkan seseorang untuk tujuan-Nya yang
mulia, tentu membutuhkan proses, dan dalam proses inilah Tuhan
membentuk seseorang. Inilah yang dialami Abraham ketika dipersiapkan
menjadi bapak orang-orang beriman, tetapi dalam proses itu Abraham dan
Sara istrinya tidak tekun menantikan penggenapan janji Allah itu.
Akibatnya Sara mencari jalan untuk mendapatkan pewaris bagi suaminya,
hal inilah yang menimbulkan persoalan baru di dalam keluarga Abraham
selanjutnya. Pelajaran yang saya ambil dari kisah ini bahwa ketika
Tuhan membentuk kita pasti melalui suatu proses, apakah dalam proses
itu kita sabar menanti jawaban Tuhan, ataukah mengambil tindakan
sendiri. hal inilah yang sering kali terjadi dalam hidup seseorang
akibatnya, munculah persoalan baru dalam hidupnya.

5. Dengan memahami benar kebenaran-kebanaran tentang jani-janji kepada
Ismael dan keturunannya, maka hal ini merupakan jembatan yang cukup
efektif dipakai untuk menyatakan kasih dan menjangkau saudara-saudara
sepupu (Islam) untuk membawa mereka masuk ke dalam terang Injil.

6. Dengan membaca buku ini kita diingatkan lagi bahwa ladang misi
khususnya di Indonesia begitu terbuka. Hal ini harusnya memberi
gambaran dan masukan bagi gereja dan orang-orang percaya untuk
memberikan waktu yang lebih dalam menjangkau saudara sepupu (Islam).
Kenyataan yang terjadi selama ini gereja-gereja, lembaga misi maupun
orang-orang percaya sedikit sekali memberi perhatian dan tenaga untuk
menjangkau dan membawa keturunan Ismail masuk ke dalam terang Injil.
Semoga dengan membaca buku ini akan memotivasi gereja, lembaga misi
dan orang-orang percaya untuk lebih melihat ke depan bahwa keturunan
Ismail juga membutuhkan keselamatan

Tinjauan Kritis

1. Tujuan buku ini tercapai yaitu memberikan pemahaman kepada
pembacanya bahwa janji-janji yang diberikan kepada Ismael bukanlah
janji-janji biasa, tetapi janji-janji yang berasal dari Allah sendiri,
oleh karena itu janji-janji kepada Ismael dan keturunannya jangan
dianggap remeh. Namun harus dilihat dari sudut pandang Allah bahwa
dibalik semua peristiwa itu Allah juga memiliki rencana bagi Ismael
dan keturunannya.

2. Buku ini mengupas secara tuntas tentang janji-janji kepada Ismael
dan keturunannya dari sudut pandang Alkitab. Bahasanya mudah
dimengerti dan semua fakta tentang janji-janji kepada Ismael tidak
terlepas dari konteks Alkitab dan didukung oleh penelitian.

3. Pada bab 6: untuk apa keturunan Ismael harus menjadi besar? Bagi
saya pokok bahasan ini belum tuntas karena belum ada jawaban yang
memuaskan. Jawaban penulis mengacu pada nubuatan nabi Yesaya 60:1-7,
yang bagi penulis akan digenapi menjelang hari-hari terakhir. Namun
hal ini tidak menjawab pertanyaan tentang mengapa keturunan Ismael
harus menjadi besar.

4. Saya juga belum melihat bagaimana penulis menghubungkan janji-janji
yang diberikan kepada Ismael dan Ishak. Bagaimana kedua janji-janji
ini dipertemukan? Jika hanya mengerti janji-janji yang terlupakan
tanpa mengerti maksud dibalik janji-janji terlupakan itu, bagi saya
ada susuatu yang kurang.

Implikasi Misi terhadap kaum Muslim

1. Jika seorang Muslim membaca buku ini, ada dua kemungkinan yaitu
kemungkinan pertama: mereka bisa saja merasa bahwa merekalah yang
paling benar, buktinya apa yang dibahas dalam buku ini memberi fakta
dan dukungan bahwa mereka juga mendapat janji-janji langsung dari
Allah. Secara tidak langsung buku ini akan mengukuhkan pandangan bahwa
agama merekalah yang paling sempurna. Kemungkinan kedua adalah, pola
pikir mereka tentang orang Kristen akan berubah, pembahasan-pembahasan
dalam buku ini sangat menolong untuk membuka hati keturunan Ismael
(Islam) untuk menyadari bahwa Islam maupun Kristen sama-sama berasal
dari keturunan Abraham dan masing-masing menerima janji dari Allah.
Dengan adanya pemahaman tersebut akan sangat menolong untuk
meminimalkan konflik antara Islam dan Kristen.

2. Buku ini dapat dijadikan sebagai jembatan untuk berdialog dengan
orang-orang Muslim. Melalui pemahaman-pemahaman tentang adanya
persamaan-persamaan antara Ismael dan Ishak, hal ini sangat menolong
untuk menumbuhkan rasa saling percaya, saling menghargai dan
menghormati, serta rasa saling mengasihi. Dengan adanya pemahaman yang
sama bahwa keduanya berasal dari keturunan Abraham dan masing-masing
mendapat janji dari Allah, hal ini akan membuka jalan untuk Injil
bisa disampaikan kepada keturunan Ismael (Islam).

Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam

INSTITUT ALKITAB TIRANUS
Mata Kuliah : Perjumpaan Umat Kristiani dengan Umat Islam
Dosen : Jon Culver, Ph.D.
Tugas : Resensi Buku
Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam
Nama : Adrianus
NIM : 09 21 5763

Buku ini bertujuan memberi gambaran singkat kepada pembaca untuk
melihat dan memahami tentang sejarah perjumpaan antara Gereja dan
Islam.
Tinjauan Kritis
1. Buku ini cukup memberi keterangan tentang sejarah perjumpaan Islam
dan Kristen. Bab pertama dari buku ini memberi penjelasan tentang
sejarah masuknya pengaruh Islam ke dalam kekaisaran Romawi Timur yang
merupakan negara Kristen. Masuknya pengaruh Islam ke dalam kekaisaran
Romawi Timur tidak terlepas dari munculnya perpecahan dalam gereja itu
sendiri. Perselisihan yang hebat antara penganut Nestorian dan
Monofisit mengenai tabiat Ilahi dan tabiat manusiawi di dalam diri
Yesus. Akibat perbedaan ini memunculkan perselisihan antara
orang-orang Nestorian dan orang-orang Monofisit. Pada konsili
Chalcedon pendapat dari Nestorian dan Monofisit di tolak oleh kaisar
Kontantinus dan negara mulai menindak kedua golongan ini. Kesempatan
inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang Islam untuk menarik simpati
dari orang-orang Nestorian dan Monofisit, akhirnya mereka semakin
membenci kaisar dan memandang orang-orang Islam sebagai pembebas.
Walaupun setelah Islam menguasai daerah mereka kedua kelompok ini
tetap di perlakukan sebagai warga kelas dua dan mereka harus menaati
perjanjian-perjanjian yang membatasi hidup mereka.

2. Demikian juga dengan pergumulan antara Kristen dan Islam dalam
bidang politik dan militer, buku ini telah memberikan gambaran yang
cukup, sehingga pembacanya mengerti kondisi politik dan militer pada
abad ketujuh dan kesembilan di mana saat itu sedang terjadi perluasan
Kerajaan Arab. Buku ini juga memberi penjelasan dan membuka wawasan
pembaca tentang sepak terjang nabi Muhammad sebelum wafat serta
hal-hal yang memotivasi orang-orang Arabia untuk menginvasi
daerah-daerah sekitarnya setelah Muhammad wafat. Pada zaman Muhammad
Arabia belum merupakan suatu kesatuan di bidang politik dan religius.
Disemenanjung Arabia sudah tersebar orang-orang Kristen, di gurun
terdapat banyak biara. Banyak orang Arab dan bahkan Muhammad sendiri
mengadakan perjalanan ke Syria dan tentu banyak berkenalan bersentuhan
dengan orang-orang Kristen. Bukti lain bahwa Muhammad banyak
bersentuhan dengan orang Kristen adalah beberapa saudara dari istri
Muhammad adalah orang Kristen. Keterangan ini memberi informasi bahwa
pemikiran orang-orang Arab sebenarnya banyak diresapi oleh
gagasan-gagasan agama Kristen. Namun sayang ke-Kristenan yang dikenal
oleh Muhammad saat itu adalah ke-Kristenan yang mutunya agak merosot.
Mungkin hal inilah yang membuat Muhammad tidak menjadi orang Kristen
tetapi membuat agama sendiri.
Sebelum wafat, Muhammad telah menaklukkan seluruh Arabia ke dalam
agama Islam. Karena kondisi Arabia yang miskin dengan penduduk yang
besar, mendorong mereka untuk mengadakan invasi ke daerah tetangga
mereka. Agama Islam telah menjadi alat pemersatu di antara orang-orang
Arabia dan membuat serangan mereka begitu kuat. Daerah-daerah yang
ditaklukkan diberi pilihan apakah mau masuk Islam atau tetap memeluk
kepercayaannya tetapi dengan persyaratan-persyaratan, misalnya: mereka
harus bayar pajak dan cara hidupnya serba diatur. Hal-hal seperti
inilah yang menyebabkan orang-orang percaya mengalami penurunan.
Kemampuan orang-orang Islam dalam memperluas wilayahnya sangat
fantastik, dalam waktu yang singkat mereka dapat menaklukan
semenanjung Arabia sampai ke Spanyol. Dapat dikatakan bahwa Islam pada
abad ketujuh sampai abad ke sembilan, mereka sangat maju dalam bidang
politik dan militer, dan dapat disimpulkan bahwa kemajuan yang mereka
alami karena agama Islam telah mempersatukan mereka.
Dan sebaliknya pada abad ini ke-Kristenan mengalami kemerosotan baik
dalam bidang politik, kebudayaan dan kegerejaan. Keberadaannya sangat
memprihatinkan, luas wilayah berkurang, kemerosotan moral dan korupsi
merajalela dalam gereja. Karena adanya perlakuan yang kurang baik dari
penguasa Islam kepada orang-orang Kristen yang melakukan ziarah ke
Yerusalem maka Paus Urbanus menyerukan untuk melakukan perang salib.
Hasil perang salib dibidang politik dan militer sebenarnya lebih
bersifat negatif dari pada positif. Perang salib ini telah membawa
dampak yang panjang dalam sejarah Kristen dan Islam. Perang salib ini
telah memperburuk hubungan antara orang Islam dan Kristen dalam jangka
yang panjang. Kepahitan akibat perang salib begitu dalam merusak hati
sehingga untuk memulihkan hubungan antara Kristen dan Islam memerlukan
kesabaran dan waktu yang panjang.
3. Apa yang penulis bahas pada bab 3 tentang kedudukan orang Kristen
di bawah kekuasaan Islam cukup menarik dan memberi masukan-masukan
kepada pembaca mengenai peristiwa apa yang terjadi pada masa
pemerintahan khalifat Arab. Pada masa ini daerah Kristen yang
ditaklukkan oleh orang Islam diperlakukan semakin ketat dengan bebagai
macam ketentuan dan pada masa ini juga kebijakan-kebijakan yang
diambil Khalifat lebih mengarah kepada peng-Islaman. Kedudukan
orang-orang Kristen dibawah kekuasaan Islam mengalami kemerosotan.
Hubungan antara orang Kristen dan Islam terungkap dalam 12 ketentuan
yang harus ditaati secara mutlak; pelanggarannya diganjar hukuman
mati. Walaupun disatu pihak ketentuan ini memperlihatkan toleransi, di
mana orang Kristen diberi kebebasan untuk tetap menyelenggarakan
ibadah, tetapi tetap ada anggapan bahwa agama Kristen lebih rendah
dari agama Islam, bukan itu saja dalam segala hal harus menjadi nyata
bahwa orang Kristen lebih rendah tingkatannya dari orang Muslim baik
dalam berpakaian, rumah dan kenderaan mereka. Satu hal yang sangat
menghambat orang Kristen adalah adanya larangan untuk penginjilan, hal
ini telah merongrong hakekat gereja, karena bagi orang Kristen
mustahil untuk tidak menginjili, larangan ini sangat merugikan pihak
Kristen, demikian juga dengan gereja kehilangan suatu rangsangan
rohani yang vital dan daya tahannya diperlemah. Dalam pemerintahan
kalifat Al-Hakim orang-orang Kristen semakin tidak berdaya, gereja
banyak dibongkar, dan puluhan ribu orang Kristen dipaksa masuk Islam.
Dapat dikatakan bahwa selama masa periode Kalifat ada periode-periode
yang ketat, namun ada juga periode-periode yang penuh dengan
toleransi. Dalam hal ini penulis buku ini berpendapat bahwa
orang-orang Kristen dibawah pemerintahan Kalifah-Kalifah sudah
lumayan. Saya tidak sependapat dengan penulis, alasannya dengan
perlakuan dan pembatasan dalam segala kehidupan, dengan perlakuan
sebagai warga negara kelas dua, gereja harus menyesuaikan diri
terhadap pandangan Islam. Hal ini bukan suatu yang lumayan tetapi
suatu kemunduran dan perlakuan tidak adil bagi orang-orang Kristen.
Jika dikatakan ada toleransi, tetapi toleransi tersebut tetaplah ada
ketentuan-ketentuan yang mengikat, jadi toleransi yang tidak memberi
kebebasan penuh. Demikian juga halnya dengan kedudukan orang-orang
Islam di bawah kekuasaan Kristen dapat dikatakan tidak terlalu ditekan
dan cukup toleran, walaupun harus diakui dibeberapa tempat juga ada
persyaratan-persyaratan yang orang Islam harus ikuti dan bahkan ada
pemaksaan untuk masuk ke agama Kristen. Ke-Kristenan cukup toleran
karena misi utama mereka bukan untuk menaklukan suatu daerah ke dalam
kekristenan, tetapi misi mereka berkaitan dengan alasan ekonomi. Jadi
tidak heran pada zaman Kolonial misi-misi Kristen sering kali
menghadapi tantangan dari pemerintah kolonial itu sendiri. Walaupun
bangsa-bangsa Eropa memiliki identitas Kristen, tetapi di dalamnya
selalu terdapat aliran-aliran yang melawan gereja.
4. Pada bab 4 pemaparan penulis tentang penilaian terhadap Islam
dalam sejarah teologi Kristen. Pemaparan penulis ini cukup memberi
gambaran tentang pandangan-pandangan dan penilaian para teolog Kristen
terhadap agama Islam.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dan disimak oleh orang-orang Kristen
di Indonesia sekarang ini berkaitan dengan pendekatan umat Kristen
terhadap Islam.
1. Salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk pendekatan umat
Kristen kepada umat Islam adalah adanya persamaan-persmaan antara
kedua agama tersebut. Persamaan-persamaan ini perlu diperhatikan
karena dapat dimanfaatkan sebagai pendekatan untuk berdialog dengan
orang-orang Islam. Persamaan-persamaan itu dapat terlihat dalam hal:
sama-sama mempertahankan keesaan Allah, sama-sama mendasarkan diri
atas wahyu, sama-sama mengajarkan bahwa manusia adalah mahluk Allah,
dan sama-sama percaya bahwa pada hari kiamat masing-masing orang harus
mempertanggungjawabkan perbuatannya. Selain itu juga terdapat
tokoh-tokoh yang dikenal dalam dalam Kitab Suci Islam maupun Kitab
Suci Kristen, seperti: Adam, Nuh, Musa, Daud, Malaikat-malaikat,
setan-setan dan terutama Yesus sendiri.
2. Kita juga dapat belajar dari pola-pola pendekatan yang dilakukan
oleh beberapa kelompok teolog, seperti: teolog Nestorian yaitu
Timotius I dan Al-Kindi. Pola yang digunakan oleh Timotius adalah
membangun persahabatan. Sebelum berdialog dengan orang Islam, Timotius
terlebih dahulu membangun hubungan dengan pemerintahan Muslim. Dengan
membangun hubungan yang baik, Timotius sangat dihormati oleh
Khalifah-Khalifah dan hubungan antara mereka cukup akrab. Hubungan
yang baik ini telah membuka jalan bagi Timotius untuk berdialog dengan
para Khalifah. Dalam berdialog pun Timotius tetap menghargai dan tidak
menghina orang Muslim, dia tetap mengakui keberadaan Muhammad.
Demikian juga dengan Al-Kindi dengan membangun hubungan yang akrab
dengan seorang teman Arab yang beragama Muslim menolong dia untuk
menyampaikan ajaran Kristiani dan meluruskan anggapan-anggapan orang
Islam yang salah tentang ke-Kristenan. Pola membangun hubungan sangat
menolong dalam melakukan pendekatan kepada orang-orang Muslim.
3. Demikian juga dengan pola-pola yang digunakan oleh para teolog
gereja timur yang terlalu ekstrin. Pola seperti ini dapat menjadi
penghalang untuk bersaksi di tengah-tengah orang Muslim. Misalnya apa
yang dilakukan Johannes Damascenus salah seorang teolog Gereja Timur
yang tidak ragu-ragu menyerang agama Islam, dia melihat secara umum
bahwa agama Islam tidak lebih daripada suatu bidat Kristen, suatu
cabang Arianisme, yang keliru khususnya kristologi dan harus ditolak,
tanpa bersedia memberi penilaian yang positif terhadap beberapa unsur
dalam agama Islam. Jadi sikap beberapa teolog Gereja Timur dilihat
dari tulisan-tulisannya mereka kurang misioner karena tujuan dari
tulisan-tulisan itu bukannya membuat orang Islam datang kepada Yesus,
tetapi pola-pola yang mereka gunakan adalah menghancurkan Islam yang
dipandang sebagai lawan mereka.
4. Pola-pola pendekatan para teolog Gereja Eropa Barat Abad
Pertengahan penting juga untuk diperhatikan, dan bisa diterapkan dalam
pendekatan kepada orang Islam di Indonesia. Misalnya aliran teologi
skolastik yang berusaha menjawab tantangan dari agama Islam secara
ilmiah. Mereka menganggap begitu penting untuk mempelajari agama
Islam. Salah seorang di antara teolog skolastik adalah Petrus
Venerabilis, Ia melihat bahwa polemik yang dapat dipertanggungjawabkan
barulah bisa dilakukan setelah diadakan penelitian-penelitian yang
mendalam. Jadi sangatlah penting untuk memahami agama Islam dengan
baik sebelum mengusahakan pekabaran Injil kepada orang-orang Islam.
Dengan memahami Islam secara baik, maka kita pun akan belajar untuk
mendengar dan menghormati mereka tanpa ada unsur mempersalahkan. Pola
seperti ini akan memudahkan pendekatan kepada orang Islam.
Hal yang sama juga dilakukan oleh para tokoh reformasi yaitu Luther
dan Calvin, di mana mereka tidak dengan penggunaan kekerasan untuk
melakukan pendekatan kepada orang-orang Islam. Dalam tulisannya Luther
megenai Islam, Luther tidak memandang penganutnya sebagai musuh yang
harus dibasmi (dalam suatu perang salib), melainkan sebagai manusia,
kepada siapa Injil harus dikabarkan. Walaupun Luther tetap menolak
agama Islam. Demikian juga dengan Calvin dalam menghadapi orang-orang
Islam menganjurkan di dalam memberitakan ajaran Kristen harus dengan
sikap lemah-lembut dan mendoakan mereka kepada Allah, agar mereka
bertobat.

Persepsi orang Kristen terhadap Islam dan pengaruhnya terhadap
kesaksian orang kristen
1. Adanya persepsi terhadap nabi Muhammad sebagai pendiri agama Islam
bahwa sebelum mendirikan agama Islam Muhammad telah mengenal agama
Kristen dan tahu mengenai Yesus. Hal ini menimbulkan persepsi orang
kristen bahwa agama Islam adalah agama orang-orang sesat. Agama Islam
adalah suatu sekte dalam ke-Kristenan, suatu aliran sesat dalam
lingkungan Kristen, oleh karena itu pengikut-pengikut aliran sesat ini
harus dihukum. Persepsi demikian telah menutup kesaksian orang
Kristen.
2. Adanya persepsi bahwa agama Islam adalah "pihak lawan" atau musuh
kebenaran dan adanya persepsi bahwa pokok-pokok ajaran dalam Islam
adalah palsu, karena tidak sesuai dengan akal sehat atau pemikiran
yang rasional. Jadi pandangan seperti ini sangat mempengaruhi
kesaksian Kristen kepada orang Islam. Bagaimana mungkin bisa mengasihi
dan melayani orang-orang Muslim kalau orang Kristen masih punya
persepsi seperti itu. Hendaknya orang Kristen memandang orang-orang
Islam sebagai orang-orang berdosa yang sesat, yang dikasihi oleh Allah
dan mereka membutuhkan Injil.

Yesus dalam Qur’an

INSTITUT ALKITAB TIRANUS
Mata Kuliah : Perjumpaan Umat Kristiani dengan Umat Islam
Dosen : Jon Culver, Ph.D.
Tugas : Resensi Buku
Yesus dalam Qur'an
Nama : Adrianus
NIM : 09 21 5763

Buku ini menawarkan kajian baru tentang apa yang Qur'an katakan
mengenai Yesus, dan dibandingkan dengan uraian-uraian yang sama dari
Injil. Buku ini berupaya untuk membantu memberikan penjelasan supaya
beberapa kesalah-pahaman dari kalangan Muslim dan Kristen tentang
Yesus, karena akibat dari kesalapaman ini telah mengarah pada
penghinaan Yesus dan Injil.
Dalam Qur'an Yesus diberi sejumlah gelar kehormatan. Dalam Quran Yesus
dikenal dengan sebutan Isa, Qur'an menyebut nama Isa sebanyak 25 kali.
Selain itu Yesus juga disebut Anak Maryam (Ibnu Maryam), gelar ini
ditambahkan untuk menunjukkan bahwa Yesus juga mengalami kematian
seperti nabi-nabi Tuhan yang lain. Dalam gelar ini Yesus menggunakan
nama ibunya karena, Quran sendiri percaya bahwa Yesus dilahirkan tanpa
seorang ayah, Quran tidak menyebut Yusuf, berbeda dengan Alkitab PL
dan PB yang menyebut Yusuf sebagai ayah angkat Yesus. Dalam hal ini
Quran percaya bahwa Yesus dilahirkan dari seorang perawan, seorang
perempuan yang beriman yang menjaga kesuciannya serta seorang
perempuan yang taat kepada Tuhan dan Tuhan telah memilihnya dari
antara para wanita dunia. Dalam hal ini Quran tidak mengkritik.
Yesus menerima gelar Al-Masih (Kristus) sebanyak 7 kali dalam Quran.
Tidak ada penjelasan tentang gelar ini, kelihatannya gelar ini
memiliki pengertian khusus yaitu ingin menjelaskan bahwa Yesus bukan
Tuhan tetapi hanya seorang rasul Tuhan. sehingga dikatakan telah kafir
orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan adalah Al-Masih, anak Maryam
(5:17; 5:72). Ada beberapa hal yang dilakukan Yesus juga terdapat di
dalam Quran dan adalah eskplisit dalam Injil. Quran juga mengisahkan
Yesus sebagai seorang pengembara atau pergi haji. orang-orang muslim
kemudian menjadikan Yesus model orang naik haji dan contoh bagi pada
sufi, bahkan aliran Ahmadiyah menerapkan pengembaraan Yesus pada
kepercayaan mereka.
Quran juga menyebut Yesus sebagai hamba Tuhan. Yesus juga disebut Nabi
(19:30), Quran memandang nabi sebagai utusan Tuhan yang membawa pesan
khusus. Quran mencatat bahwa kitab Taurat, Zabur, dan Injil adalah
wahyu Tuhan yang dibawah oleh para Nabi, dan pada saat yang sama
muhammad diutus Tuhan untuk membawa Quran yang berbahasa Arab, untuk
membuat orang-orang Arab menjadi masyarakat kitab. Quran juga menyebut
orang-orang Yahudi sebagai ahli kitab, selain itu muhammad juga pernah
menegur orang Yahudi yang tidak mengakui Yesus sebagai seorang Nabi.
Dalam hadis Bukhari dikatakan bahwa Rasululah bersabda Aku adalah
orang yang paling dekat kepada anak Maryam. Antara Yesus dan Aku tidak
ada seorang pun Nabi. Jadi dapat disimpulkan bahwa muhammad pada
intinya mengakui keberadaan Yesus sebagai Nabi. Yesus tidak hanya
dianggap Nabi, tetapi Utusan dan Al-Masih, Tanda bagi seluruh alam.
Quran dan Islam belakangan menyebut Yesus, Ruh Tuhan (Ruh Allah).
Dalam dunia Islam Yesus dihormati sebagai model kesucian dan
kemelaratan.
Quran juga memberi gelar utusan (rasul) kepada Yesus, gelar ini
dipakai 10 kali dalam Quran. Menurut Quran Yesus diutus sebagai
seorang rasul, sama dengan muhammad hanya seorang rasul. Namun Quran
menyebutkan Yesus sebagai nabi dan sekaligus rasul yang memeiliki
kelebihan yaitu Dia memiliki Injil dan bukti-buksti sekaligus lewat
ajaranNya. Lebih jauh Quran menyebutkan bahwa Yesus didukung atau
dikuatkan oleh Ruh Kudus. Jadi dapat dikatakan Quran mengakui pesan
Yesus dan Injil. Quran juga membicarakan tentang Yesus sebagai
perkataan (Logos), Yesus adalah perkataan dari Tuhan, dalam surat
4:171 dikatakan bahwa Al-Masih, Yesus, Anak Maryam hanyalah utusan
Tuhan dan perkataanNya yang dilemparkan kepada Maryam dan Ruh
dariNYa. Quran mencatat bahwa Yesus diberikan dukungan ruh, mulai dari
saat masih dalam ayunan, saat muda, dan saat tumbuh berkembang sebagai
manusia, Ruh suci mendukung Yesus. Dalam surat 4:171 Yesus dikatakan
sebagai ruh dari Tuhan. Masih banyak gelar-selar yang lain yang
diberikan Quran kepada Yesus seperti Saksi (syahid), Rahmat (rahma),
Terkenal (wajih). Dapat disimpulkan bahwa Quran sangat menghargai dan
memberi penghormatan kepada Yesus.
Sama dengan Injil, Quran juga mencatat tentang Yohanes pembatis anak
Zakaria, namun Quran memberikan penjelasan yang samar-samar tidak
seakurat yang dituliskan oleh Injil, kemungkinan besar apa yang
ditulis dalam Quran cenderung dipengaruhi oleh cerita orang-orang
kristen yang bersentuhan dengan orang-orang muslim. Tetapai menarik
kisah Yohanes dalam Quran tidak terlepas mariam ibu Yesus. Quran
memberi penghargaan khusus kepada maryam karena menjadi ibu Yesus.
Belakangan Islam memandang Maryam sebagai seorang yang tak berdosa,
sama dengan para nabi. Namun pada bagian lain Quran menolak untuk
menyebut maryam sebagai ibu Tuhan hal ini juga terjadi pada pengikut
kristen Nestorius yang menolak menyebut Maryam sebagai ibu Tuhan.
Demikian juga dengan Nabi Muhammad yang memiliki rasa penghormatan
yang mendalam kepada Maryam sebagai ibu Yesus.
Quran juga menguraikan tentang kelahiran Yesus melalui Maryam. Quran
percaya bahwa Yesus dilahirkan tanpa ayah, dan pembetukannya melalui
peniupan roh Tuhan. Pada intinya Quran mencatat tentang kelahiran
Yesus sebagai yang berasal dari Allah, meskipun dalam proses
kelahirannya ada yang sejalan dengan Injil tetapi lebih banyak yang
bertolak belakang dengan apa yang dituliskan dalan Injil. Selain
kelahiran Yesus, Quran juga mengkonfirmasikan pekerjaan-pekerjaan
Yesus. Quran mencatat bahwa Yesus melakukan mujizat-mujizat sebagai
tanda kenabiannya, dan Quran menyaksikan bahwa semua mujizat yang
dilakukan Yesus adalah atas kehendak Allah. Beberapa mujizat yang
dilakukan Yesus dan ditulis dalam Quran, juga ditulis dalam Injil,
seperti menyembuhkan orang buta, menyembuhkan orang sakit,
membangkitkan orang mati. Quran hanya memaparkan tentang
penyembuhan-penyembuhan tetapi tidak menceritakan tentang
mijizat-mujizat seperti yang dipaparkan di dalam Injil. Namun mujizat
tentang penciptaan burung yang bisa terbang dari tanah, ini tidak di
dapati di dalam Injil. Mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus masih
menjadi perdebatan diantara orang Islam, ada yang percaya namun ada
yang menafsirkan dalam arti yang lain.
Demikian juga dengan kata-kata Yesus, sebagian kata-kataNya yang
aktual juga dikisahkan di dalam Quran meskipun dengan gaya yang agak
berlainan dengan yang terdapat di dalam Injil. Yang menarik banyak
kata-kata dalam Quran yang merujuk kepada kata-kata yang ada di dalam
Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru baik dari segi
ajaran agama maupun segi etika. Namun, ada juga yang sangat bertolah
belakang dengan Injil. Misalnya, pernyataan Quran bahwa apa yang Yesus
janjikan tentang penghibur ditafsirkan bahwa yang dimaksud adalah
Muhammad, tetapi inipun masih menjadi perdebatan diantara para
penafsir Islam sendiri.
Kematian Yesus pun menjadi perdebatan antara Islam dan Kristen
sepanjang sejarah. Dikalangan penafsir Islam sendiri terdapat
perbedaan tentang kematian Yesus, mereka pada umumnya berpendapat
bahwa Yesus tidak mengalami penyiksaan karena Tuhan telah menggantinya
dengan orang yang menyerupai Yesus, sementara Yesus sendiri diangkat
oleh Tuhan ke sorga. Namun Quran sendiri dalam ayat-ayatnya tidak
mengatakan bahwa Yesus disiksa dalam keadaan tubuhnya yang rusak dan
juga Quran tidak menyatakan bahwa ada seorang penggantinya. Jelas hal
ini bertentangan dengan Quran sendiri, karena setiap tambahan
keterangan pada ayat Quran tidak dibenarkan. Kelihatannya sebagian
penulis Muslim telah mencoba mengangkat masalah kematian Yesus
melampaui batas-batas interprestasi. Meskipun Quran tidak menuliskan
tetapi Islam tradisional percaya bahwa Yesus telah diangkat ke sorga
bersama jasadnya, dan juga dalam tradisi muslim muncul pendapat bahwa
Yesus akan datang kembali untuk memperbaiki segala kerusakan dan
memerintah sebagai seorang penguasa yang adil. demikian juga Bukhari
dalam haditsnya menyebutkan bahwa putra maryam akan turun
ditengah-tengah masyarakat sebagai hakim yang adil.
Pernyataan tentang Yesus sebagai anak Tuhan, Quran menolak pernyataan
ini. Pada dasarnya Quran menegaskan keesaan Allah bahwa Tuhan tidak
mungkin melahirkan anak seperti manusia, Tuhan tidak dapat disamakan
dengan yang lain. Quran menolak keras pandangan bahwa Tuhan memiliki
anak. Dengan kata lain Quran menegaskan bahwa Yesus bukanlah Tuhan
tambahan yang berkedudukan sebagai anak. Karena bagi kaum muslim
kepercayaan akan adanya anak Tuhan merupakan sebuah penghinaan
terhadap keesaan Tuhan. Demikian juga dengan Trinitas juga Quran
menolak, kaum muslim memahami trinitas sebagai tiga Allah. Jika
demikian halnya pandangan tiga Alllah sangat tercela di dalam ajaran
kristen, karena kristen mengklaim dirinya sebagai monoteis. Untuk
memahami trinitas kaum muslim hendaknya melihat atau memahami trinitas
dalam ajaran kristen.
Quran juga memberi penghargaan yang tinggi kepada kitab suci Taurat
dan Injil dan ini disebutkan berkali-kali. Dijelaskan bahwa Quran
menjelaskan apa yang ada sebelumnya dan tidak menghapus kitab
sebelumnya tetapi mengukuhkan dan sebagai batu uji kebenaran yang
memperjelas apa yang dimaksudkan kitab-kitab sebelumnya. Jika demikian
Quran sendiri memberi kesaksian bahwa jika ada kesulitan mengenai isi
Quran maka kitab-kitab sebelumnya dapat dijadikan rujukan (surat
10:94). Quran juga tidak memberi keterangan bahwa Injil yang menjadi
pegangan orang-orang kristen berbeda dengan Injil yang dimaksud Quran.
Zaman modern ini muncul polemik yang menyalakan orang-orang kristen
karena merubah Injil, tetapi ada sejumlah komentator muslim yang
berpendapat bahwa Injil tetap dalam keadaannya yang asli, hanya
tafsirannya yang dikelirukan, bukan teksnya. Demikian juga dengan
orang-orang Kristen dimuliahkan dalam beberapa ayat Quran karena Quran
menempatkan orang-orang Kristen lebih dekat persahabatannya dengan
kaum muslim.

Tinjauan Kritis
1. Tujuan buku ini tercapai dimana dijelaskan bagaimana pandangan
Islam tentang Isa yang pada intinya dikalangan Islam sendiri sangat
menghargai keberadaan-Nya. Melalui buku ini para pembaca dapat
memiliki pemahaman yang baru untuk menghindari kesalapahaman yang
terjadi selama ini antara Islam dan Kristen.
2. Buku ini cukup di gemari karena dapat dijadikan bahan pembanding
mengenai Isa dari sudut pandang Quran dan Alkitab. Dengan melihat
Yesus dari sudut pandang Quran akan semakin mengokohkan pendapat
mereka dan membantah pemahaman orang Kristen tentang Isa. Namun dilain
sisi penulis juga membahas Yesus dari sudut pandang Alkitab, hal ini
jelas akan memunculkan pertentangan dalam pikiran orang Islam dan akan
membuat orang-orang Muslim mencari jawaban, siapa Isa yang sebenarnya.
3. Buku ini juga akan memberi wawasan baru kepada orang Kristen, bahwa
Quran pun menulis tentang Isa. Tugas orang-orang Kristen adalah
menjalaskan kepada orang-orang Muslim tentang Isa dari sudut pandang
Alkitab. Jembatan sudah ada tinggal bagaimana memanfaatkan jembatan
itu.
4. Banyak istilah-istilah asing dalam Quran masuk ke dalam bahasa arab
melalui bahasa Syria dan Aramia, banyak istilah-istilah yang sudah
dikenal oleh orang Arab sebelum masa nabi Muhammad. Sebelum agama
Islam lahir ada kemungkinan Muhammad sendiri sering berdiskusi dengan
orang-orang Kristen Nestoria, selain itu Muhammad juga mengembara ke
Syria di mana di sana banyak bertemu dan bersinggungan dengan
orang-orang Kristen Syria.
5. Quran sendiri sangat menghormati dan mendukung Yesus, seandainya
setiap orang Islam memahami dan mendalami ajaran Quran pada akhirnya
akan menyadari siapa Yesus itu. Nabi Muhammad sendiri memberikan
penghormatan yang mendalam kepada Yesus dan ibunya.
6. Penulis melihat bahwa kitab agama Yahudi, Kristen dan Islam sebagai
sebuah rangkaian kitab suci. Mereka tidak saling menghapuskan tetapi
semuannya membawa kebenaran ilahi untuk menjadi petunjuk bagi manusia.
Saya tidak sepaham dengan pendapat ini, kalau Injil merupakan
penggenapan dari Taurat, tetapi kalau berbicara Quran tidak bisa
dikatakan saling melengkapi, karena pada intinya banyak ajaran Quran
yang berasal dari Taurat dan Ajaran Kristen, hal ini dimungkinkan
karena Muhammad banyak bertemu dan bersahabat dengan rahib-rahib
Kristen pada masanya, dari pergaulan mereka mungkin saja Muhammad
terinpirasi dengan ajaran-ajaran rahib Kristen sehingga dia
mengajarkan kepada pengikutnya, dan kemudian hari dituliskan
pengikutnya dalam Quran..

Implikasi
Buku ini sangat memberkati saya, membuka wawasan saya sehingga
pemahaman saya tentang ajaran Islam selama ini semakin dimengerti dan
dipahami. Selain itu saya semakin menyadari bahwa saya tidak salah
memilih Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi saya.

KUMPULAN KOTBAH DAN PUJIAN PENYEMBAHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA

  LINK KUMPULAN KOTBAH / RENUNGAN FIRMAN TUHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA (PAS)   1.        HIDUP YANG SUDAH DIBAHARUI https://www.youtu...