Seseorang di segani dan di hormati bukan karena apa yang di perolehnya, Melainkan apa yang telah di berikannya. Tak berhasil bukan karena gagal tapi hanya menunggu waktu yang tepat untuk mencoba lagi menjadi suatu keberhasilan hanya orang gagal yang merasa dirinya selalu berhasil dan tak mau belajar dari kegagalan

25 April 2013

KEPECAYAAN TERHADAP PARA ROH PADA SUKU BIAK, PAPUA

Tugas Makalah Teologi Kontestual
Nama : Michael Morino
Asal : Papua
Kuliah : STT SAPPI Cianjur


BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang

Masyarakat Biak masih memiliki kebudayaan kuno yang berkisar pada
kepercayaan animisme bahkan kepercayaan tersebut lebih ditonjolkan
melalui upacara ritual yang lebih dikenal dengan WOR. Kata Wor sudah
berarti lagu dan tari tradisional. Semua anak yang terkena wabah
penyakit dianggap bernasib malang sehingga harus diadakan upacara
adat.
Wor dapat mengekspresikan semua aspek kehidupan orang Biak, seperti
halnya upacara tradisional para leluhur berupa ukiran kayu, dan lebih
khusus pada motif atribut yang digunakan mereka pada saat menyanyi dan
menari; berupa motif pada pakaian. Semua barang yang digunakan untuk
upacara adat dapat disakralkan atau dikeramatkan.

Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang di atas maka rumusan masalahnya
adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah proses Wor berlangsung?
2. Apa tujuan suku Biak melakukan Wor?
3. Bagaimanakah upacara pesta adat ini berlangsung?

Tujuan Penulis
Bertitik tolak dari rumusan masalah maka tujuannya penulis ingin
menjelaskan masalahnya sebagai berikut:
1. Penulis ingin menjelaskan bagaimanakah proses Wor ini berlangsung
2. Penulis ingin menjelaskan apa tujuan suku Biak melakukan Wor
3. Penulis ingin menjelaskan bagaimanakah upacara pesta adat berlangsung


BAB II
KEPECAYAAN TERHADAP PARA ROH PADA SUKU BIAK, PAPUA

Pengertian wor
Dalam agama tradisional orang Biak, Wor merupakan suatu kewajiban yang
harus diselenggarakan oleh setiap keluarga batih/inti mereka. Wor
mempunyai dua arti :
(a) Wor sebagai upacara adat (upacara taradisional);
(b) Wor sebagai nyanyian adat .

Jika kita uraikan kedua konsep atau istilah munara dan wor atas struktur
atau bentuk katanya, maka akan jelas konsep-konsep utama yang berkaitan erat
dengan kedua kata kompleks tersebut. Kata munara terdiri atas dua kata
yaitu mun yang artinya penggal bagian atau bayar ganti sedangkan ara
artinya kasihan, ibah hati, penggugah, pemancing, motivasi, penyebab,
sesuatu terjadi. Wor terdiri atas dua kata w/ aw artinya engkau
sedangkang or panggilan, mengundang; pesta lagu nyanyian yang disebut
wor.

Dengan demikian kata munara atau wor itu dapat diformulasikan menjadi:
undangan keluarga untuk mengambil bagian dalam pesta: menari dan bernyanyi,
makan-minum bersama, dan diakhiri dengan acara transaksi ekonomi bersama
berupa hasil ladang seperti: talas, keladi, sagu, dan hasil buruan
seperti: daging
babi, ikan, dengan transaksi hasil barteran berupa: piring, gelang, parang,
tombak dan sebagainya antar keluarga tuan pesta dengan pihak keluarga paman
(mother brother), yang dikenal dalam adat Vyak dengan istilah munsasu dan
maidofa (take and give) secara kolektif.

Dengan demikian, munara atau wor dapat diartikan secara bebas sebagai pesta
atau upacara akbar yang tentunya dibarengi dengan acara jamuan makan,
bernyanyi dan menari, yang diakhiri dengan transaksi ekonomi, yang
terselenggara sebagai puncak dari seluruh rangkaian pesta adat
yang mengikuti lingkaran atau daur hidup seseorang, mulai dari kehadirannya
dalam kandungan (janin), kelahiran, kanak-kanak, remaja, akilbalik, dewasa, tua,
hingga ia masuk liang kubur.

3. Jenis Munara atau Wor Biak
Munara atau wor Vyak dibagi atas dua bagian besar, yaitu wor sraw 'pesta kecil'
dan munara atau wor veyeren 'pesta akabar'. Seterusnya wor sraw atau secabik
pesta (kecil) kurang lebih terbagi lagi atas 18 wor, yakni pesta 'wor':
1. Kakfo ikoibur 'meramal kelamin janin.
2. Anunbesop 'diturunkannya bayi darirumah ke halaman/bawah sekitar kampong.
3. Anansus 'tetekan bayi.
4. Raikarkir 'pelobangan telinga dan hidung.
5. Ananmam 'makan kunyahan.
6. Marandak 'jalan pertama kali.
7. Andomankun ' makan sendiri tanpa disuap.
8. Papaf 'penyapihan anak.
9. Kapanaknik 'cukur rambut anak.
10. Famamarwark 'pemberian cawat/pakain
11. Mansorandak 'pertama kali pergi dan kembali dari negeri orang.
12. Amfudum 'pengatapan rumah baru.
13. Sunavrdado 'memasuki/hunian rumah tinggal baru.
14. Sunsram 'memasukipendidikan di lembaga rumsram.
15. Sarsram 'pesta tamat lembaga rumsram.
16. Sarwai babo uji-pakai perahu baru.
17. Kper-roemun lepas dari bahaya.
18. Avovs-farbey pelepasan atribut perkabungan.

Sedangkan munara pesta akbar kurang lebih terbagi pula atas 11 wor, yakni
pesta wor.
1. beyeren atau wor kabor insos 'pesta inisiasi keluarga inti
(anak-anak).
2. ramrem pesta peminyakan bagi pengantin laki-laki yang akan
memasuki rumah tangga baru;
3. fakoker pesta pemotongan atau pelepasantali (adat) pingitan
(keperawanan) orang tua atau keluarga bagi seseorang.pengantin
perempuan yang hendak berumah tangga baru;
4. umbambin pesta prosesi antar-arakan dari keluarga luas pengantin
wanita kepada keluarga luas
pengantin pria;
5. yakyaker pesta pengantaran wanita disertai perabot rumah tangganya
dari keluarga dekat pihak perempuan (orang tua terdekat: bapak-ibu,
saudara-saudara, paman-bibi) untuk seterusnya tinggal bersama suaminya
atau memasuki keluarga pihak keluarga laki-laki;
6. akekdofnan (yaf) 'pesta panenraya).
7. faduren pesta sarat muatan perahu niaga atau keberhasilan
perbarteran antar pulau;
8 samsom pesta permohonan maaf.
9. samsyom syukur puji.
10. fannangki pesta pemberian persembahan hasil panen kepada Tuhan
penguasa langit-bumi.
11. rakmamun pesta kemenanganperang.

4. Wor sebagai Fokus dan Dinamika Hidup Orang Biak
Istilah fokus kebudayaan, seperti yang digunakan untuk mengarahkan diskusi
ini, sesungguhnya mengandung arti bahwa dalam kehidupan setiap suku bangsa
(etnik di mana pun, telah pasti mempunyai kebudayaan inti (culture core). Pada
hakekatnya garis besar konsep kebudayaan itu dapat dilihat sebagai pengetahuan
yang dapat diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan yang dipakai untuk
mengartikan pengalamannya dan menghasilkan tingkah laku social. Untuk
diskusi ini, kita akan melihat kebudayaan itu dari segi perilaku dalam
segi
kognitif (struktur). Berdasarkan pemahaman ini, kebudayaan dapat diartikan
dengan sejumlah perilaku manusia yang berpola sebagai hasil dari suatu
kegiatan (munara-wor). Kebudayaan juga adalah keseluruhan gagasan, ide,
kepercayaan dan pengetahuan manusia dalam suatu masyarakat. Karena itu,
perilaku budaya pada dasarnya ditentukan oleh segi kognisi atau pengetahuan
dan pengalaman manusia dalam suatu masyarakat. Karena itu, perilaku budaya
pada dasarnya ditentukan oleh segi kognisi atau pengetahuan dan pengalaman
manusia. Setiap kebudayaan mengandung berbagai kategori perilaku yang
digunakan manusia untuk memilah-milah dan menggolong-golongkan
pengalaman Sehubungan dengan itu, penulis akan
mencoba mengemukakan wor atau pesta sebagai fokus dalam kebudayaan
Biak. Upacara religi secara universal danpada dasarnya berfungsi
sebagai aktivitas untuk merekonstruksikan kembalaisemangat kehidupan
sosial antar warga masyarakat.
Menrut pengetahuan emik penulis bahwa bila diteliti secara mendalam tentang
rusaknya tatanan atau struktur sosial orang Biak yang terpaket dalam upacara
adat (munara/wor), karena telah dirusak oleh pranata lain. Diduga semangat
membangun dalam kebudayaan Biak menjadi rusak dan renggang oleh karena
beberapa sistem pranata adat Biak diputuskan secara sepihak oleh intervensi
kebudayaan luar sehingga dinamika kehidupan sosial orang Biak tak berdaya
lagi. Oleh karena wor sebagai pranata dan sekaligus menjadi dinamisator atas
prestasi maksimal bagi seseorang, keluarga, kelompok keret atau etnis Biak
sengaja diputuskan maka dinamika hidup orang Biak telah berada di ambang
kepunahan (Kamma, 1981, 1982; Kapissa, 1994; Rumbrawer, 1995). Lihat
struktur struktur Wor sebagai berikut


Hakekat dan Makna Wor Biak
Sebagai mana telah disinggung sepintas pada awal diskusi kita di atas, bahwa
hakekat wor atau pesta Biak adalah pusat kehidupan suku bangsa Biak (culture
core). Mengapa pernyataan hipotesis ini cenderung diabsahkan. Oleh karena jika
kita diskusikan secara mendalam tentang wor maka akan kita jumpai hakekat
dan arti makna hidup seutuhnya dalam terselenggaranya upacara ritual Biak.
Dalam filsafat ekonomi orang Biak telah ditegaskan bahwa " Nko wor va ido, na
nko mar" (Kami akan mati, jika kami tidak bernyanyi). Orang Biak dahulu, telah
menyadari bahwa lagu dan pesta adalah aset kehidupan. Jika melaksanakan
upacara wor akan mendatangkan rejeki dan berkah bagi keluarga dan
masyarakat sekitar. Pernyataan seperti ini telah dinyatakan dalam tema dan syair
lagu beberapa wor Biak kurang lebih dinyatakan sebagai berikut: Ada lagu ada
kehidupan (wor isya kenm isya); ada kehidupan ada makanan (kenm isya anan
isya); ada makanan ada nilai (anan isya vave snonsnon / maseren isya); dan
dapat diakhiri dengan: ada nilai ada pesta inisiasi (vave sno manseren isya
munara isya), dan ada persta akbar ada seberkas kasih dan persatuan klen atau
kampung (munara isya vave oser er mnu isya kako).

Budaya
Orang Biak sebagian besar telah menganut agama Kristen. Tetapi, orang
Biak masih banyak memiliki kepercayaan terhadap para roh, yaitu suatu
kepercayaan yang telah terbentuk dari nenek moyang mereka. Mereka
percaya akan adanya penguasa yang melebihi kekuatan atau kekuasaaan
manusia biasa yang menurut mereka penguasa tersebut mendiami Nanggi
(surga) yang berada di Mandep (langit).
Selain itu, mereka percaya akan adanya penguasa-penguasa yang mendiami
Farsyos (Jagad raya) dan ada juga yang menghuni abyab (gua), karui
beba (batu besar), bon bekaki (gunung tinggi), soren (dasar laut), war
besyab (sungai), ai beba (pohon besar), dan lain-lainnya.

Penguasa yang mendiami Nanggi merupakan pusat kekuatan atau kekuasaan
yang mengatur alam semesta. Penguasa Nanggi (Sang Langit) dikenal
dengan sebutan Manggundi (Dia sendiri). Penguasa-penguasa yang
mendiami Farsyos, abyab, karui beba (batu besar), bon bekaki, dan
lain-lainnya yang disebutkan di atas adalah bersifat roh (spirit).
Roh-roh ini diklasifikasikan menjadi dua, yaitu roh-roh/arwah-arwah
nenek moyang dan kerabat mereka yang telah meninggal dunia yang
dikenal dengan istilah bahasa Biak yaitu Karwar. Karwar ini mendiami
Farsyos (jagad raya), sup/meos aibui (wilayah/tempat atau pulau yang
merupakan tempat berkumpulnya arwah-arwah itu) dan juga Amfyanir.
Selain itu, roh-roh itu mendiami wilayah-wilayah yang tidak ada
penghuninya (sup bebewursba), seperti lautan luas atau hutan-hutan
belan-tara.

Kedua, roh-roh halus jin. Roh-roh ini dibagi menjadi tiga, yaitu : (a)
roh-roh halus/jin yang mendiami pohon-pohon besar yang dalam istilah
bahasa Biak disebut Arbur; (b) roh-roh halus/jin yang mendiami gua,
gunung, batu, hutan rimba, sungai disebut dabyor, yang dikenal juga
dengan sebutan Manggun (pemilik); dan roh-roh halu /jin yang mendiami
laut atau lautan disebut Faknik.

Hal ini menunjukkan bahwa orang Biak percaya adanya makhluk
supranatural. Agama tradisional mereka mempunyai hubungan erat dengan
mitologi mereka. Tokoh mitologi mereka adalah Manarmakeri yang telah
pergi ke sebelah barat dan dia akan datang kembali untuk memberikan
kebahagian atau kekayaan bagi mereka yang telah lama ditinggalkan.
Mereka percaya bahwa Manggundi yang menjelma sebagai manusia biasa,
yaitu Manarmakeri yang pernah melakukan karya Koreri di Meokbundi
(salah satu pulau di Biak Timur).

Namun, ia tidak diterima oleh masyarakatnya (Orang Biak), sehingga ia
pergi ke bagian barat yaitu Eropa, dan Ia akan kembali kepada mereka
dengan membawa kembali koreri, yaitu dunia Kando Mob Oser, artinya
dunia yang tidak ada kesusahan lagi/dunia bahagia. Selain itu, Wor
merupakan unsur penting dalam agama tradisonal mereka. Dengan demikian
mempunyai sifat religius cukup tinggi.

Oleh karena itu, Wor merupakan suatu perwujudan dari kehidupan
religius yang menurut mereka sangat penting. Dikatakan sangat penting
karena Wor mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas
orang Biak dan merupakan simbol hubungan mereka dengan Penguasa
(Manggundi) dan kerabat-kerabat mereka yang meninggal (Arwah-arwah
nenek moyang).

Dalam kehidupan beragama orang Biak, Wor merupakan suatu kewajiban
yang diatur berdasarkan sistem kekerabatan (patrilineal) dan sistem
perkawinan mereka, sehingga apabila ada keluarga batih yang lalai
melakukannya, maka keluarga tersebut akan mendapat sanksi dari
Manggundi atau arwah-arwah nenek moyang mereka



BAB III
PEMAHAMAN SUKU BIAK TERHADAP MUSIK WOR

Musik Wor dalam kehidupan masyarakat Biak berhubungan erat dengan
upacara keagamaan. Dengan upacara-upacara keagamaan, orang Biak
menyatakan hubungannya dengan "penguasa" yang disembah. Sebelum
masuknya pengaruh agama Kristen, orang Biak percaya akan adanya
penguasa yang melebihi kekuatan atau kekuasaan manusia biasa yang
menurut mereka penguasa tersebut mendiami Nanggi (surga) yang berada
di Mandep (langit). Selain itu, mereka percaya akan adanya
penguasa-penguasa yang mendiami Farscyos (jagad raya) dan ada juga
yang menghuni abyab (gua), karui beba (batu besar), bon bebaki (gunung
tinggi), soren (dasar laut), ai beba (pohon besar), dan lain-lainnya.
Penguasa yang mendiami Nanggi merupakan pusat kekuatan atau kekuasaan
tertinggi yang mengatur alam semesta. Penguasa Nanggi (Sang langit)
dikenal dengan sebutan Mangundi (Dia sendiri). Penguasa-penguasa yang
mendiami Farscyos (jagad raya), abyab (gua), karui beba (batu besar),
bon bebaki (gunung tinggi), soren (dasar laut), ai beba (pohon besar)
, dan lain-lainnya yang disebutkan di atas adalah bersifat roh
(spirit). Roh-roh ini diklasifikasikan menjadi dua, yaitu : (1)
Roh-roh/arwah-arwah nenek moyang dan kerabat mereka yang telah
meninggal dunia yang dikenal dengan istilah bahasa Biak yaitu Karwar.
Agama tradisional mereka mempunyai hubungan erat dengan mitologi
mereka. Tokoh mitologi mereka adalah Manarmakeri yang telah pergi ke
sebelah barat dan dia akan datang kembali
1. II. Deskripsi Masyarakat Biak.
Orang Biak adalah salah satu dari 250 suku bangsa di Tanah Papua.
Sekitar 96.000 penduduk tinggal di kabupaten Biak Numfor, yang
meliputi kepulauan Biak, Supiori, dan Numfor, dengan luas 3130 km².
Separuh dari penduduk tinggal di Biak kota. Ibukota kabupaten ini,
yang secara etnis penduduknya campuran, merupakan pusat pemerintahan
dan perekonomian, serta lokasi pelabuhan udara internasional. Biak
Numfor adalah kabupaten yang paling padat penduduknya di Irian Jaya,
dan satu-satunya wilayah yang penduduknya memiliki bahasa dan budaya
yang sama.
Sebelum perang dunia II, Biak terkenal sebagai sarang bajak laut.
Pemerintah Belanda meramalkan bahwa para bajak laut ini akan pindah
atau punah, kalau serangan-serangan meraka talah diberantas.
Kenyataannya, perdagangan merupakan sumber yang lebih jauh penting
dalam menopang kehidupan mereka daripada penjarahan, meski reputasi
Biak yang mengerikan itu sebagian tetap benar. Orang-orang Biak pada
masa lalu adalah pandai besi yang berpindah-pindah, pedagang dan
sewaktu-waktu menjadi pengikut Sultan Tidore. Sekarang kebanyakan
masyarakat menjadi nelayan, pemburu, dan petani yang berpindah-pindah
dengan mudah antara darat dan laut.

Pelaut selalu mendapat posisi yang khusus dalam masyarakat Biak.
Diceritakan bagaimana nenek moyang orang Biak mendayung perahu ke
barat atau selatan manuju Seram, Timor, dan bahkan ke Singapura untuk
mencari harta karun dan budak. Melancong ke "tanah asing' masih
menjadi kebanggaan sekarang dan kualifikasi terbaik untuk menjadi
pemimpin lokal seringkali berupa "pengalamannya di luar". Namun, lebih
penting lagi dari sekedar melancong, adalah bagaimana pengalaman ini
dapat "diterjemahkan" untuk konteks lokal. Para pelancong harus
membuktikan petualangan-petualangan mereka dengan benda-benda,
gelar-gelar, dan teks-teks: porselin China dan Eropa digunakan untuk
mas kawin dan alat tukar menukar dalam upacara; gelar yang diberikan
oleh Sultan Tidore diwariskan, ditukar, dan dijual oleh sanak keluarga
dari yang menerima gelar; kata-kata asing, frasa-frasa, dan
potongan-potongan dari khotbah (yang dihafal dalam kunjungan ke tempat
misionaris) dapat dimasukkan ke dalam cerita-cerita atau lagu-lagu.
Seorang misionaris dan antropolog belanda, F.C. Kamma, menulis:
"orang-orang biak menganggap sesuatu sebagai hal yang aneh hanya bila
hal itu belum menjadi milik mereka. Tetapi, begitu benda tersebut
'dikuasai', pemiliknya itu dianggap memiliki harkat yang sama seperti
yang dimiliki oleh pembajak laut pada masa lampau". Dalam pencarian
status, masyarakat Biak memberikan nilai positif kepada semua elemen
asing, dan benar- benar menyerap elemen-elemen itu, bukanlah hanya
menempelkannya.

Pada jaman ini, orang-orang Biak banyak yang menjadi pilot, ilmuwan,
rektor universitas, dan bintang-bintang sepakbola. Banyak di antara
mereka adalah keturunan dari guru-guru pribumi. Pada tahun 1950-an,
saat usaha-usaha awal untuk mengembangkan daerah tersebut secara
serius, orang Belanda sudah menganggap penduduk Biak sebagai
"orang-orang papua yang paling terpengaruh Barat". Namun orang Biak
masih mempertahankan nilai-nilai dan gaya berpikir lokal mereka. Mas
kawin masih mencerminkan dan menciptakan hubungan-hubungan sosial.
Seorang pegawai negri masih akan meliburkan diri untuk menunggu di
bandara dengan satu kotak umbi taro bagi sanak familinya yang
melancong, oleh-oleh yang bersifat feminin ini melambangkan ikatan
hubungan antara seorang laki-laki dengan saudara petempuan serta
ikatan antara keturunan-keturunan mereka. Seorang paman di Jayapura
mungkin masih bisa memberikan "gelar" pada keponakannya dengan
membiayai kuliahnya di Universitas. Batas-batas antara perkotaan dan
pedesaan Biak tetap dapat ditembus. Penduduk kota kerap kali
mengunjungi sanak keluarganya di desa dan banyak menyumbang pada
proyek-proyek desa. Orang-orang desa gemar sekali berkunjung ke kota
Biak untuk berjualan di pasar, mengunjungi sanak keluarga dan
berbelanja. Namun kedua lingkungan ini tetap mempertahankan
kualitasnya masing-masing. Tidak banyak uang beredar di desa-desa,
dimana mata pencaharian mereka tergantung pada pengaturan barter dan
produksi secara tradisional.

Pesta-pesta megah yang pernah menandai kehidupan sosial masyarakat
Biak sekarang merupakan sesuatu yang telah lampau. Namun, upacara
perkawinan, ulang tahun atau keselamatan pulang dari perjalanan masih
dirayakan dengan kegiatan makan dan minum, menari dan menyanyi
sepanjang malam. Pada masa lalu, nyanyiannya adalah wor. Sekarang
lagu-lagu gereja dan yospan telah menggantikan fungsi wor dalam
kebanyakan perayaan yang diadakan. Tidak mengherankan dengan
kemunduran yang terjadi dalam waktu yang panjang dari genre yang tua
ini; yang lebih mengherankan adalah kehidupannya yang tetap hadir
selama berpuluh-puluh tahun, atau bahkan abad, meskipun ia dilarang
keras. Misionaris yang datang ke teluk Cendrawasih tahun 1855
menemukan "orang-orang kasar tanpa agama","yang membuat pantai-pantai
bergema dengan lagu-lagu perang mereka dan dengan gemuruh gendang dan
suara yang berat, yang mengumandangkan bait-bait kemenangan mereka".
Para misionaris bekerjasama untuk menghapus bentuk-bentuk nyanyian
asli , yang mereka anggap terikat dengan peperangan antar kelompok.
Kalau bisa tetap selamat dari peperangan ini, wor pasti telah memiliki
kedudukan yang kokoh dalam masyarakat lokal, sebagaimana kita akan
melihat jika sekarang kita beralih ke masalah musik masyarakat biak
pada masa lampau.


BAB IV
STRATEGI MEMBAWA INJIL KE SUKU BIAK

Suku biak adalah suku yang memiliki budaya yang disebut Wor. Wor ini
sangat terkenal, wor ini adalah upacara yang biasa di lakukan oleh
suku biak sebagai satu ucapan syukur. Melihat dari latar belakang maka
penulis mengambil kesimpulan bahwa ketika penulis akanmelakukan
pelayanan disana engan mengunakan stratagi wor ssebagai jembatan untuk
memberitakan injil.


BAB V
PENUTUP

A. kesimpulan
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kebudayaan inti atau fokus
kebudayaan orang Biak sesungguhnya adalah pelaksanaan wor. Jika wor tidak
dilaksanakan berarti semua sistem kehidupan dan aktivitas hidup orang Biak
akan menjadi lumpuh total, tidak akan bergairah lagi dan akhirnya totalitas
kebudayaan Biak akan punah.
Makna tersirat dalam diskusi ini adalah bahwa akibat dari intervensi
kebudayaan-kebudayaan dominan dan adanya larangan untuk membatasi
berbagai upacara ritual wor Biak, maka fokus dan dinamika kebudayaan Biak
pun punah. Hilanglah makna upacara yang mempertebal perasaan kolektif dan
integrasi sosial orang Biak.

B. Saran
Biarlah dari makalah ini dapat memberikan satu inspirasi bagi setiap
orang yang punya hati dalam pelayanan kontekstual. untuk masuk kedalam
budaya suatu daerah harus melalui konteks budaya setempat.
readmore »»  

PERTOLONGAN DI SETIAP PERSIMPANGAN JALAN

Tugas Kelopok : Artikel
Nama : Martinus, Marni, Railon
Sumber : majalah Bahana hlm. 12-13

PERTOLONGAN DI SETIAP PERSIMPANGAN JALAN

Kesulitan hidup mengajar Berliana Renta Simangunsong tak bosan
berjuang. Berjalan berkilo-kilo meter mendatangi rumah-rumah, mencari
dan membeli pakaian bekas. Menjualnya kembali ke pasar tanah Abang.
Setelah 11 tahun, tiga tahun lalu, Renta memiliki 2 kios yang saban
hari didatangi orang-orang yang bekerja seperti dirinya beberapa tahun
lalu.

Sering peristiwa buruk datang tak terduga. Keadaan yang nyaman,
tiba-tiba berubah menjadi sebaliknya. Setelah menika tiga tahun, suami
Renta Samuel Lewerissa yang bekerja dibagian perusahaan minyak di
Dumai tersandung PHK tanpa sebab yang jelas. Yang melakukan
ketidakjujuran temannya, tetapi suaminya yang kena imbas. Oleh
beberapa orang suaminya disuruh klarifikasi dan minta maaf tapi dia
tidak mau. Dia tidak mau minta maaf untuk kesalahan yang tak
dilakukannya. Keuangan keluarga ini terguncang karena selama ini
penghasilan Samuel lumayan besar. Sedangkan istrinya tidak bekerja
Karena dia hanya sebagai ibu rumah tangga.

Kemudian keluarga ibu Renta pindah ke Jakarta dengan maksud mencari
kehidupan yang lebih baik. Mereka tinggal bersama-sama kakak laki-laki
Samuel, suaminya. Keadaan ekonomi saudara Samuel lumayan baik. Samuel
dicarikan saudaranya pekerjaan tetapi selalu tidak betah dan akhirnya
dia selalu bertengkar dengan istrinya. Karena Renta berputus asa,
Renta nekat bunuh diri dengan cara minum racun.Tetapi syukur jiwa
Renta tertolong oleh seorang yang mengenalinya pada saat melihat renta
sedang pingsan. Kemudian Renta dilarikan kerumah sakit Cipto
Mangunkusumo selama 3 minggu. Kulit dan bibirnya mengelupas serta
pipinya terasa panas kemudian renta meminta ampun kepada Tuhan karena
ia menyadari apa dia lakukan adalah tindakan yang bodoh.

Ketika keadaan sudah mulai membaik, ibu Renta mengambil komitmen
untuk berjualan dengan modal seadanya. Setelah itu suami dan
anak-anaknya datang lagi karena sakit komplikasi diusus, ginjal, dan
liver, pada akhirnya suaminya meninggal. Renta berpikir akan pulang
kampung, tetapi kakak dari suaminya menawarkan untuk tetap tinggal di
Jakarta dan mereka bersedia untuk membiayai kehidupan seharai-hari dan
biaya sekolah anak-anaknya. Tetapi, kenyataan yang dihadapi oleh Renta
dan anak-anaknya tidak seperti yang dijanjikan. Kemudian Renta dan
anak-anaknya pamit dari keluarga Samuel, dengan berjalan kaki melewati
jembatan kalisari air matanya terus jatuh, anak-anaknya mengeluh
lapar. Kemudian dia mengajak kelima anaknya untuk berhenti dan
berpikir untuk menyuburkan diri bersama kelima anaknya. Namun
terdengar suara yang mencegah tidakan nekat itu dan ia ingat pada
Tuhan. Kemudian mereka naik bus karena tempat duduk penuh mereka
berdiri serta anak-anaknya terus meminta makan. Renta terus menangis
sesenggukan.

Penumpang mulai turun, seorang ibu Parubaya menawari duduk
disebelahnya dan bertanya kenapa kamu menangis? Renta bercerita.
Kemudian ibu itu berkata jangan kamu menangis, disinilah kita
dipertemukan Tuhan. Percaya saja kamu pada Tuhan, Dia pasti menolong.
Kemudian mereka turun ibu Renta dan anak-anaknya, diajak makan oleh
seorang ibu tadi dan mereka diberi uang taksi Rp 300.000.
Dengan uang yang mereka dapatkan dari ibu itu, mereka pakai untuk
membeli baju-baju bekas,kemudian berkembang sampai ibu Renta bisa
membeli 2 kios seharga Rp. 60 juta. Dia beryukus atas pertolongan
Tuhan. Anak-naknya semua sekolah bahkan sudah ada yang bekerja.

Penderitaan apapun yang kita alami kita harus tahu bahwa Tuhan tidak
pernah meninggalkan kita sedetik pun, dan satu hal yang harus kita
tahu bahwa Tuhan mengijinkan masalah terjadi dalam kehidupan kita.
Namun Ia tidak pernah memberikan masalah diluar kemampuan kita. Dan
Tuhan dapat memakai siapa saja untuk dapat menolong kita.


KAWAN YANG SEJATI

Dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan semakin canggi dari
anak-anak sampai orang tua menikmati alat atau sarana hidup yang
semakin praktis, akses apa saja mudah dapat untuk mendapatkannya
itulah dunia maya. Ada seorang yang mengatakan bahwa dia mempunyai
banyak sekali teman didalam pergaulannya, dalam pekerjaannya, terlebih
di dalam face book, menurut FACE BOOK temannya sudah mencapai 448
orang.
Tetapi jumlah itu masih kalah dengan seberapa orang yang dia kenalnya,
mereka memiliki teman dari dunia maya lebih dari seribuh, dua ribuh
bahkan lima ribuh orang. Sehingga ada yang harus membuat akun kedua.
Hebat zaman sekarang betapa gampangnya memilki seorang teman tingal
add friend (teman), jalin komunikasi lewat comen, lewat chetting,
lantas hanya berlalu begitu saja, setelah dikatakan telah sebelumnya
bahwa teknologi hanya memudahkan segalanya. Yang penting hanya
melontarkan syafaan pembukaan berupa Hei, lagi ngapain?, apa kabar?,
dan syafaan lainnya.

Jika teman yang disapa sedang sibuk, biasanya ia tidak membalas,
tetapi itukan wajar saja, karena masih banyak teman yang bisa diajak
ngobrol sebagian besar orang hanya sebatas kita kenal, kita hanya
ingin menghabiskan waktu tukar pikiran, siapa tahu dapat pencerahan
baru dari interaksi tersebut.

Kehidupan ini seperti perjalanan panjang penuh dengan liku-liku,
tebing disisi dalam jurang disisi luar kadangkala jantung dipacu
sangat cepat ketika melewati belokan tajam,. Atau ketika menanjak
bukit terjal, menuruni lembah kelam. Tidak disangkali bahwa kita
membutuhkan teman yang baik, yang mau diajak ngobrol demi melenyapkan
ketakutan, Namun menyenangkan hati yang risau dan galau. Teman yang
mengajak kita menertawakan kegagalan-kegagagalan masa lalu, stabil
terus memandang optimis ke depan, namun, banyak jenis teman didunia
ini beberapa silih berganti datang dan pergi tanpa dibatasi waktu.

Beberapa menghilang disaat susah atau pergi disaat kita sibuk, ada
juga beberapa orang yang menghapus kita dari hidupnya seperti
segampang menghapus seseorang dari akun facebooknya. Penyebabnya
sangat sederhana hanya karena tidak sehati atau tidak saat
pandangan/pikiran, tapi ada satu Teman yang tetap setia dalam segala
situasi, baik diwaktu senang, susah, sibuk, dan segala aktifitas hidup
kita, waktunya tidak terbatas untuk selalu setia untuk menemani kita
Ia adalah Tuhan Yesus. Dialah yang setia penuh kasih, lemah lembut,
dan memberikan keselamatan hidup kita.

Sudahkah Anda menjadi teman-Nya? Cara sangat sederahana berdiam diri,
berdoa, dan menerimah Dia untuk menjadi pemimpin hidup kita.
















SETIA MELAYANI WALAU DALAM KETERBATASAN


Kitab suci mengatakan,"sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk
dilayani, melainkan untuk melayani untuk memberikan nyawanya menjadi
tebusan bagi banyak orang". (Mat. 20:28), dengan Firman Tuhan ini
sangat jelas bahwa kita orang percaya memiliki tugas untuk mewartakan
kabar baik.
Melayani di daerah terpencil memang butuh kesiapan dan keberanian.
Selain itu, kepercayaan dan penyerahan total kepada Sang khalik, jadi
modal utama. Sejarah mencatat, meski terdengar banyak Martir yang
gugur, namun selalu ada beni-beni yang bertumbuh subur. Orang-orang
baru yang mengenal Tuhan bermunculan dimana-mana, lewat korban nyawa
yang telah dibayar mahal, banyak jiwa yang mengenal Dia yaitu Yesus
Kristus yang adalah tokoh sentral pembertaan Injil.
Sebuah kesaksian yang menarik dari seorang penulis artikel ini ketika
tahun 2001 setelah ia menyelesaikan kulia regular, dia diutus Yayan
Pelayanan di Desa Terpadu (PESAT), untuk pelayanan tahunan, yang
merupakan salah satu prasyarat untuk lulus program diploma 2. Tuhan
berkenan membuka tempat baginya di sebuah suku yang terletak di
perbatasan di Sulaweli tengah dan Provensi Gorontalo. Dia bersama
dengan tiga rekannya, masuk ke suku itu.
Mereka masuk suatu Desa yang sangat sepi jauh dari kota dan keramaian
transportasi sangat sulit MCK tidak tersedia, di tambah pemadaman
lampu yang terjadi setiap malam, setelah surya tenggelam semua
aktifitas harus berhenti, pada suatu malam, seperti hari-hari
sebelumnya dengan hawa dingin gelap gulita tanpa menyala lampu dia dan
seorang rekan perempuan memilih istirahat lebih awal.
Tiba-tiba, ketukan keras dan kasar dari luar di pintu depan , sangat
keras membuat mereka terbangun, muncul beberapa orang pemuda yang
belum pernah kenal sebelumnya. Dengan hitung menit saja, tiba-tiba
jumlah banyak orang yang berada di luar rumah bertambah banyak, entah
dari mana mereka berasal, situasi dan panik dan takut memenuhi
perasaan mereka seorang aparat desa mengatakan bahwa kami akan
melakukan pemeriksaan di rumah ini.saat kegaduhan terjadi dalam
kegelapan, terdengar suara dari luar bakar, bakar, bakar……..,
bakar..... terbersit diangannya, apakah ini akhir dari pelayananku
kepada Tuhan dalam langkah, dengan langkah, konta gontai,
tertatih-tatih, hati saat berteriak dalam kegelapan mengapa ini
terjadi? Lari………. Ada kata yang muncul dari dibenaknya. dia dan
seorang temannya keluar dari pintu belakang rumah. Tanpa menggunakan
sandalpun sudah tak terasa lagi. Melewati hutan kecil, semak beluk dan
pagar kawat menjadi pilihan kami.
Namun kekuatan dari Tuhan melingkupinya , sehingga timbul keberanian
dan kesanggupan yang luar biasa. Kemudian mereka kembali memutuskan
kembali ke rumah kontrakan itu, banyak orang disana, menanggu kedangan
mereka. Mereka diintrogasi didalam ruang tertutup, supaya massa jangan
masuk. Dalam situasi pelik seperti ini, Tuhan memakai salah seorang
perangkap Desa yang berpengaruh di desa itu sehingga dia menjadi
penengah diantara mereka.
Situasi panas dan mencekam dapat diredahkan atas pertolongan Tuhan
melalui bapak itu. Dengan situasi mereka mulai mencari solusi keluar
untuk mencari tempat lain di desa-desa sekitar.
kesimpulannya
Degan adanya cobaan yang kita alami banyak sekali pengalaman dan
pelajaran yang dapat kita petik. Bila melihat pelajaran dan peristiwa
yang dialami oleh penulis artikel ini kita dapat belajar bahwa Tuhan
hendak memperluas pelayanan kita dalam menjangkau jiwa-jiwa, untuk itu
jangan pernah mundur hanya karena tantangan.
Dalam situasi yang terjadi kesempatan untuk memberitakan injil tidak
pernah putus. Dengan demikian Tuhan pemberitaan injil dapat
disampaikan melalui apa yang menjadi keputusan kita.


Sumber : Majala Bahana
Halaman : 27.
readmore »»  

Pasang Lambek “Kotoran bisa menjadi emas”

Nama kelompok : Marni & Theresia Tutik

Amati suatu daerah pelayanan, kembangkan daya pikir holistic saudara
kemudian rancangkan suatu model pelayanan holistik untuk menjawab
kebutuhan daerah pelayanan yang saudara amati.

Pasang Lambek "Kotoran bisa menjadi emas"
Daerah yang kami amati adalah daerah kami sendiri yaitu Kampung Pasang
Lambek. Arti dari nama Pasang Lambek Yaitu "Pasang" artinya lahan
kosong yang luas, sedangkan "Lambek" artinya panjang. Jadi dari arti
nama kampung tersebut sudah sangat jelas mempunyai potensi yang baik
untuk dikembangkan.

Kampung Pasang Lambek ini berada di lembah yang dikelilingi dengan
hutan dan gunung yang sangat subur. Hutan yang ada disekitar kampung
ini sangat kaya dengan sumber daya alam dan itu sudah dimanfaatkan
dengan baik. Dengan bercocoktanam misalnya, kopi, coklat, durian,
kemiri, langsat, jagung, padi ladang.
Namun di dalam kampung itu sendiri seperti dari arti namanya kurang
dimanfaatkan dengan baik karena masih banyak lahan yang sebenarnya
bisa dimanfaatkan namun tidak diolah dengan baik.

Salah satu faktor yang membuat mereka tidak mengolah lahan yang ada
disekitarnya adalah dengan alasan bahwa tanah tersebut kurang subur,
memang dulunya tanah yang ada sangat subur namun karena seringnya
menggunakan pupuk kimia akhirnya lama kelamaan tanah tersebut mulai
bergantung pada pupuk.

Masyarakat yang ada di kampung ini juga sepertinya sangat gengsi untuk
memanfaatkan kotoran-kotoran yang ada seperti kotoran babi dan kerbau.
Sebenarnya kotoran-kotoran ini bisa digunakan sebagai pupuk organic
namun karena gengsi mereka dan juga pemahaman mereka yang sangat
kurang akhirnya mereka tidak bisa melihat potensi yang ada pada
kotoran tersebut.

Dari permasalahan di atas kami merencanakan dengan apa yang sudah kami
dapatkan di SAPPI. Kami akan memulai pelayanan kami dengan
memanfaatkan hal-hal yang tidak dianggap oleh masyarakat, khususnya
dalam pemanfaatan kotoran-kotoran hewan (babi, kerbau) untuk bisa
digunakan sebagai pupuk organik dan juga biogas. Selain itu banyak hal
yang dapat dikembangkan dari hasil pertanian, misalnya pemanfaatan
jahe karena selama ini jahe hanya digunakan sebagai rempah-rempah dan
minuman sara'ba.
readmore »»  

Hari Keberuntungan

Penganut budaya ini beranggapan bahwa ada hari-hari tertentu yang bisa
memberikan keberuntungan dan juga ada hari-hari tertentu yang bisa
menimbulkan hal-hal yang tidak baik apabila mereka mulai mengerjakan
sesuatu pada hari tersebut.
Khususnya masyarakat yang kami amati di kampung Salutik, mereka sangat
percaya akan hal tersebut, sehingga ada orang-orang tertentu yang
dipercaya bisa menentukan dan melihat hari/bulan/tahun yang sesuai dan
dianggap bisa memberikan keberuntungan. Misalnya menentukan waktu
pernikahan, bercocok tanam, membangun rumah, panen dll. Semuanya ini
harus sesuai dengan petunjuk dari orang yang dipercaya bisa melihat
waktu yang dianggap bisa memberikan keberuntungan.

Masyarakat yang ada di sana mayoritas beragama Kristen, namun
kehidupan mereka juga masih terlibat dengan hal-hal yang disebutkan di
atas. Bahkan majelis sendiri pun masih mempraktekkan hal-hal yang
demikian.

Pola kehidupan dari masyarakat Salutik yaitu dengan bertani dan
beternak. Ini merupakan suatu kekuatan/potensi yang bisa dikembangkan,
karena mereka hanya mengolah lahan dan beternak dengan alat dan cara
yang masih sangat sederhana dan masih banyak lagi yang bisa
dikembangkan.

Dengan pola kehidupan yang demikian mereka menjalin hubungan sosial
dengan baik. Rasa kekeluargaan bisa terbangun melalui gotong royong.
Metode yang akan digunakan adalah melakukan pendekatan kepada
orang-orang tertentu agar kita dapat mengubah pola pemikiran mereka.
Sebenarnya bukan harinya yang tidak baik tetapi misalnya jika dalam
bercocok tanam mungkin musimnya tidak sesuai. Misalnya seseorang akan
menanam padi sawah pada musim kemarau maka hal ini tentunya tidak
sesuai dengan waktunya.

Sangat penting menekankan bagi mereka bahwa semua hari diciptakan
Tuhan itu baik. Apabila mereka mengalami kegagalan itu tidak
disebabkan oleh waktu/hari di mana memulai pekerjaan tersebut tetapi
ada begitu banyak faktor yang dapat mempengaruhinya.
readmore »»  

22 April 2013

PELAYANAN HOLISTIK BAGI ANAK PUTUS SEKOLAH

PELAYANAN HOLISTIK BAGI ANAK PUTUS SEKOLAH DISEBABKAN KARENA
KEMISKINANA DI DAERAH PINRANG,


DISUSUN
MARNI
NPM: 20100111


TUGAS INI DIBUAT UNTUK MEMENUHI TUGAS MAKALAH MISIHOLISTIK YANG
DIBIMBING OLEH ADRIANUS PASASA





SEKOLAH TINGGI TEOLOGI
SEKOLAH ALKITAB PENGEMBANGAN PEDESAAN INDONESIA
( STT SAPPI )
Cianjur, Maret 2013


BAB 1

PENDAHULUAN


1. Latar belakang pendidikan orang tua
Latar belakang pendidikan orang tua, adalah hampir dikatakan rata-rata
orang tua mereka adalah semua petani dan tidak ada pekerjaan bahkan
ada yang tidak mempunyai lahan sendiri, tidak sekolah. Sehingga banyak
dari anak-anak tidak dapat sekolah disebabkan latar belakang orang
tua yang tidak mempunyai kemampuan untuk membiayai anak-anaknya dalam
bangku pendidikan.

2. Tujuan Masalah
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui dan bagaimana
peranan pemerintah daerah dan hamba Tuhan dalam pemberdayaan masyarkat
khususnya dalam pengentasan anak putus sekolah, di Kecamatan Lembang
Kabupaten Pinrang. Anak putus sekolah di Kecamatan Lembang Kabupaten
Pinrang, ada begitu banyak sehingga penulis mempunyai kerinduan untuk
dapat melihat anak yang putus sekolah, disebabkan oleh karena
kurangnya biaya, atau karena keadaan ekonomi.

3. Rumusan masalah
Untuk mencapai derajat anak yang putus sekolah dan bisa sekolah
kembali yang sertinggi-tingginya, sangat diperlukan perhatian dan
tanggung jawab dari Pemerintah terhadap pelaksanaan pelayanan.
Masyarakat merupakan komponen yang sangat penting dalam pencapaian
tujuan dan hasil dari pelakasanaan kebijakan pelayanan kepada anak
putus sekolah. Olehnya itu Penulis membatasi permasalahan dengan
lingkup sebagai berikut :
1. Bagaimana persepsi Masyarakat terhadap Kebijakan pelayanan anak
putus sekolah Masyarakat Pinrang ?
2. Apa faktor yang mempengaruhi pelayanan anak putus sekolah di Pusat
Masyarakat Pinrang ?


Bab II

KEMISKINAN


1. Pengertian Kemiskinan
"Kemiskinan adalah kekurangan dana untuk biaya hidup, misalnya,
kekurangan dana untuk membeli makanan, membayar sewa rumah tinggal,
membeli pakaian, membiayai pelayanan, kesehatan dan pendidikan, serta
kepentingan hidup lainnya".
Kemiskinan yang terjadi karena pendapatan yang rendah yang di sebabkan
oleh berbagai macama soal hidup, misalnya lahan tidak ada/kecil, tidak
ada pendidikan, tidak ada keterampilan, pekerjaan, menjadi
pengangguran. Dan disebabkan karena malas. Banyak anak-anak yang
menjadi depresi oleh karena tidak sekolah mereka sedang sekolah tetapi
karena biaya tidak cukup menjadi malu,dan tertekan disebabkan karena
biaya hidup sekolah kurang, pendapatan orang tua tidak menjamin
sekolah anak-anak.

2. Kondisi obyektif anak putus sekolah
Kondisi obyektif anak putus sekolah di Kecamatan Lembang " mencapai
angka 979 anak, terdiri dari tingkat SD berjumlah 166 anak, SMP 372,
dan SMA 441 anak" . Begitu menyedihkan kalau kita dapat melihat
keadaan seperti ini. Pertanyaannya ini tanggungjawab siapa? Dimana
masa depan anak sangat berkurang oleh karena kondisi dari keluarga
mereka.
Dengan adanya penelitian penulis berharap akan adanya perkembangan
yang akan diperoleh dan dapat membantu bagi anak putus sekolah karena
keadaan ekonomi. Masa depan anak menjadi terhambat, bahkan boleh
dikatakan bahwa masa depan anak adalah suram. Merupakan sangat
menyedihkan anak-anak ini mereka hanya dapat berputus asa dan banyak
yang menjadi pengangguran, dan membantu orang tua, bahkan ada begitu
banyak menjadi anak jalanan.
'Berusia sekitar dua sampai 15 tahun. Mereka umumnya tidak lagi
mengenal dunia pendidikan dan dunia keluarga. Mereka tidak mengenal
dunia pendidikan. Mereka tidak mengenal lagi dunia bermain dan
sebagainya. Mereka berhadapan dengan kekerasan di jalanan setiap hari.
Kita bisa bayangkan anak-anak pada usia dua tahun terpaksa harus
menghidupi diri sendiri dan keluarganya dengan menghadapi kekerasan
yang begitu luar biasa.

3. faktor penyebab anak putus sekolah
'Situasi anak putus sekolah cukup memprihatinkan karena sampai hari
ini masalah-masalah anak, khususnya pada anak-anak yang berada di
jalanan ini yang tidak mempunyai keluarga,dan bahkan menjadi tulang
punggung keluarganya sendiri, belum mendapat perhatian yang serius
dari pemerintah. Jumlahnya terus-menerus meningkat. Bahkan pemerintah
sendiri tidak punya data.



BAB III
JAWABAN PELAYANAN HOLISTIK ANAK PUTUS SEEKOLAH


Berdasarkan 4 kasus yang ditemukan penulis, faktor yang menjadi
penyebab anak tidak atau putus sekolah adalah:

1. Lemahnya ekonomi keluarga
Orang yang jujur biarpun miskinnya ia adalah raja karena kejujurannya.
Dari ketulusan hatinya ia dapat membuktikan, dari sikapnya, namun yang
sering kali terjadi adalah orang yang miskin semakin ditindas dan dari
kepolosannya orang kya dapat memanfaatkan mereka, sehingga yang
terjadi adalah orang miskin semakin miskin dan orang kaya akan semakin
kaya. Karena dari kekayaannya ia dapat berkuaasa.
Orang miskin sering kelaparan dan tidak dapat makan dan kita sering
melihat banyak orang miskin banyak meninggal karena kelaparan. seperti
dalam " Lazarus, orang miskin, berbaring sakit didepan pintu seorang
kaya dan berharap mendapat sesuatu yang jatuh dari meja orang kaya
itu, untuk sekedar menghilangkan rasa laparnya itu (Luk. 16:20).
Gambaran tentang orang miskin dapat kita lihat di dalam, " Perjanjian
Baru kemiskinan pada dasarnya, orang-orang miskin itu sangat miskin,
mereka hidup begitu saja diujung batas hidup , mereka sering disamakan
dengan orang-orang yang sakit para tidak bisa ngapain-ngapain lagi,
cacat, hanya dapat berpakaian seadanya dan hanya dapat membutuhkan
orang lain" . Itulah yang sering di samakan dengan orang miskin tidak
dapat berbuat apa-apa hanya mereka bisa menantikan pertolongan. Inilah
yang membuat anak-anak banyak putus sekolah.
"Salah satu sifat yang dipuji dan dihargai orang ialah kejujuran. Jika
kita berterusterang dan tulus kemungkinan besar orang-orang menaruh
kepercayaan. Tak seorangpun mau mempercayai orang yang ia tidak rasa
tidak jujur. Apabila seorang merasa bahwa kita adalah seorang yang
jujur sehingga ia dapat empercayai kita. Keadaan dapat dipercayai
merupakan suatu faktor yang penting sekali dalam menimbulkan
kepercayaan diantara sesama manusia.

2. Kondisi lingkungan tempat tinggal,dan teman bergaul
Lingkungan sosial, ekonomi masyarakat yang tidak kondusif dapat
menjadi biang keladi dari kegagalan kinerja kebijakan. Karena itu
upaya untuk meningkatkan masyarakat untuk dapat bangkit dari
hidupnya,kebijakan harus pula memperhatikan kondisi lingkungan agar
eksternal.
Oleh karena itu kaum miskin kebanyakan menjadi korban keadaan atau
juga menyumbang terhadap kemiskinan mereka. Sehingga dapat pula
terpengaruh dari teman sepergaulannya. Oleh karena itu pandangan kita
dalam dunia pendidikan mereka sangat rendah sehingga banyak anak-anak
putus sekolah.
Oleh pengaruh dari lingkungan sehingga membuat anak-anak tidak sekolah
dan biaya/dana tidak cukup. Dan pengaruhnya dari sini kebanyak
orang-orang miskin menjadi minder menjadi malu karena tetangga.
Sehingga banyak mengalami saat putus asa. " Setiap orang pernah
mengalami saat-saat dimana ia merasa bingung atau putus asa. Mungkin
kita semua pernah mengalami saat dimana segala sesuatu tampaknya serba
salah".
Orang yang mengalami putus asah bukan hanya karena masalah banyak atau
di kagetkan, tetapi bisa juga karena dari kemiskinan atau putus
sekolah. " Orang yang mengalami putus asah sehingga depresi tidak
hanya mengalami ketidakbahagiaan secara pribadi tetapi
ketidakmampuannya untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan atau
menggerogoti dari kehidupannya ".
Sukar sekali bagi kita untuk dapat memahami orang yang sedang putus
asa, apabila kita sendiri tidak pernah mengalami hal yang demikian.
Orang-orang tersebut sering mengkritik tetapi mereka sesungguhnya
tidak tahu apa yang mereka lakukan, dan mereka merasa sudah
bersukacita karena sudah mengalami kesenangan dan tidak pernah tahu
bagaimana sesungguhnya kehidupannya.

3. Pandangan masyarakat mengenai pendidikan.
Pandangan masyarakat megenai pendidikan adalah sangat bagus namun
mereka hanya berpasra diri karena mereka sudah melihat keadaan mereka.
Dari sinilah kita dapat memperhatikan sebenarnya apa yang menjadi
tugas dan tangungjawab dan Peranan pemerintah daerah Kabupaten Pinrang
dan hamba Tuhan. Dalam mengatasi, sulusi untuk mencari jalan keluar
agar masyarakat dapat terbuka dalam dunia pendidikan. Dan membantu
masyarakat untuk keluar dari masalahnya.

4. Membuat suatu kebijakan untuk mengentaskan anak putus sekolah.
Salah satu langkah strategi yang harus penulis lakukan dalam
mengetaskan/menyelesaikan anak putus sekolah yang disebabkan oleh
karena kemiskinan, dalam upaya untuk memotong mata rantai lingkaran
setan, kemiskinan adalah dengan meningkatkan pendidikan anak keluarga
miskin.
Bantuan kepada mereka yang akan diberikan, penulis tidak akan langsung
untuk memberikan dalam pembebasan biaya/dana, disisi lain penulis
tidak mempunyai modal tetapi penulis akan melakukan. Pertama
mengumpulkan anak-anak ,Mencari dana, melalui media juga, dalam
melakukan pembinaan, les anak-anak, untuk pembelian buku, dan
peralatan sampai mereka akan selesai. Anak-anak keluarga miskin akan
diberikan keterampilan yang memadai, sehingga setelah lulus mereka
dapat bekerja. Dan meminta bantuan kepada aparat pemerintah setempat.
Penulis juga bisa masuk dalam berbagai keterampilan, dalam bentuk
pencarian dana dan melalui membuat produk yang akan penulis lakukan
dan supaya penulis dapat membantu. Dengan adanya program bantuan yang
dibuat diharapkan dapat berjalan dengan baik.


BAB IV

PENUTUP

1. Kesimpulan

Yang menjadi kesimpulan saya adalah banyak hal yang harus kita lakukan
dalam melayani,seperti Optimalisasi dalam melakukan pelayan bagian
pendidikan bagi masyarakat msikin, dan anak putus sekolah. Pelayanan
yang dilakukan bukan hanya dimibar, tetapi, Pelayanan pada hakikatnya
adalah serangkaian kegiatan, karena itu ia merupakan suatu proses.
sebagai proses pelayanan berlangsung secara rutin dan
berkesinambungan, meliputi seluruh kehidupan orang dalam masyarakat.
Pelayanan adalah usaha melayani kebutuhan orang lain dengan penuh
kerelaan tanpa mengaharapkan imbalan.

2. Saran
Melalui makalah yang penulis buat, maka penulis akan memberikan saran:
a. Pemerintah dan hamba Tuhan
Pemerintah dan hamba Tuhan agar dapat lebih aktif atau memperhatikan
bagi anak yang putus sekolah. Supaya anak-anak tidak putus sekolah
hanya karena factor biaya, tetapi mereka juga dapat menikmati
pendidikan.
b. Orang tua
Melalui pelayanan holistik yang dilakukan penulis berharap agar orang
tua tidak lagi merasa minder/malu, oleh karena keadaan yang
menyebabkan mereka merasa tidak mampu, tetapi mereka dapat bangkit
memikirkan apa harus dilakukan dalam masalah keluarganya, dan dapat
menyekolahkan anak-anaknya. Supaya anak-anak dapat sekolah kembali dan
tidak mudah putus asah, tetapi anak-anak ini dapat terbuka dan melihat
masa depan mereka.
readmore »»  

10 April 2013

MENGATASI STRES

CARA APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENGATASI STRES PADA ANAK-ANAK.

Mungkinkah anak anak yang masih sangat mudah stress?

Perlu dipahami bahwa, stress bukanlah penyakit, namun potensial
menimbulkan gangguan kesehatan badan maupun jiwa. Dan apa itu stress,
stress adalah suatu kondisi yang kita alami yang menuntut kita
menyesuaikan diri secara cepat terhadap kondisi itu. Stress bisa
terjadi kapan dan dimana saja,bila kita tidak mampu mengatasi atau
menyesuaikan diri terhadap keadaan ini karena beban yang kita rasakan
terlalu berat, maka mungkin saja kita akan menderita beberapa
gangguan, baik perilaku atau fisik.

Kondisi stress diluar kemampuannya untuk menahan, terjadi perubahan
tingkah laku yang mengarah kepada kemunduran.

Penyebab stress pada anak

Cukup banyak kondisi yang di tanggapi biasa-biasa saja oleh orang
dewasa ternyata membawa dampak buruk bagi anak- anak. Meskipun
demikian, beberapa kondisi yang dialami sebagai stress bagi orang
dewasa dapat juga dialami sebagai stress bagi anak-anak.

Stress pada tingkat sedang dapat dialami oleh anak yang harus pindah
rumah atau pindah sekolah. Anak yang terpaksa menerima kenyataan akan
kelahiran adiknya juga akan mengalami stres.sedangkan kondisi stres
tingkat berat dapat dialami anak yang harus dioperasi dan menginap di
rumah sakit.

Berbagai kondisi didalam keluarga secara potensial menciptakan stres
bagi anak. Kondisi stres yang berat dialami anak yang orang tuanya
bercerai, karena anak seakan tercabik dan kehilangan rasa percaya
terhadap dunia tempat ia berlindung.

Membantu anak mengatasi stress.

Hidup anak-anak sangat bergantung pada orang dewasa disekitarnya, maka
perang orang tua sangat penting artinya dalam membantu anak menghadapi
stress.

Saran bagi orang tua penulis

Pertumbuhan anak sangat bergantung pada orang tua sehingga orang tua
harus mendidik anak merawat anak dengan penuh kasih.

Saran bagi kita sebagai calon hamba Tuhan

Belajar dan memahami apa itu misi kita dan apa yang harus kita
rangcangkan dan apa yang akan di prioritaskan dalam lading pelayanan
kita masing-masing marilah kita renungkan itu bersama-sama dan lakukan
itu dengan penuh tanggung jawab yang didasari dengan kasih.

Kesimpulan

Dilihat dari apa yang penulis paparkan diatas maka penulis memberikan
kesimpulan bahwa pelayanan anak bukanlah tugas yang biasa-biasa saja
tetapi itu adalah tugas yang mendasar dalam pelayanan kita mengapa
penulis mengatakan demikian karena anak-anak ini yang akan menjadi
penerus gereja.
readmore »»  

8 April 2013

Diskusi Kelompok MK Teologi Kontekstual

Diskusikan:

Amati suatu daerah pelayanan (budaya, agama, pola hidup, sosial, politik, dll), kemudian rancangkan suatu model pelayanan kontekstual untuk menjembatani atau mempertemukan akan kebutuhan Injil (teks) di daerah pelayanan yang saudara amati (konteks).

Catatan:
* diskusikan di perpustakaan.
* setelah selesai diskusi presentasikan dikelas.
* waktu diskusi 45 menit.
* hasil diskusi kirim ke: adrianuspasasa@gmail.com

Hasil Diskusi

Kelompok: Papua (Maekel dan Efraim)


Pelayanan Kontekstualisasi SUKU PAPUA; Suku Dani

Latar Beakang Suku Dani
Budaya: masih sangat mistis, misalnya budaya Potong Jari yang  maknanya  sebagai wujud dari tanda kasih sayang kepada keluarga yang dicintai yang telah meninggal dunia.
Agama: mayoritas animism; Kristen belum seberapa
Pola hidup: berladang berpindah-pindah
Sosial: masih mempertahankan kesukuan satu dengan yang lain; atau bagi yang belum percaya hubugan social sangat tertutup
Politik: ingin memisahakan diri dari negara RI; Balas dendam antar suku masih kuat.
Dengan latar belakang Suku Dani di atas kami aka mencoba merancang model pelayanan secara kontekstual dengan metode dalam bentuk  “Pendekatan Step by Step”
Dengan berupaya mendalami dan mempelajari semua unsur dalam masarakat di atas secara step by step, besar harapan kami pelan tapi pasti akan memungkinkan kami dapat memahami baik dari segi bahasa, pergaulan social, poal hidup, keyakian, adat istiadat  maupun  dalam unsur politik. kemudian, setelah itu kami mulai terlibat dalam pola hidup mereka tanpa harus mengikuti pola hidup yang bertentangan dengan Injil.
Contoh pendekatan dalam unsur budaya Potong jari yang dimaknai sebagai tanda kasih sayang kepada keluarga yang dicintai yang telah meninggal. Akan hal ini Kami akan mencoba memberikan pemahaman bahwa kasih sayang tidak perlu dinyatakan melalui  dengan cara mengorbankan anggota tubuh seperti potong  jari. Dan kasih sayang kepada orang yang dicintai tidak ada faedanya jika dilakukan kepada orang yang sudah maninggal. Dan kasih sayang yang sejati hanya bisa didapatkan dalam Kristus . hanya melalui pengorbanan Kirstuslah  Kasih yang sejati itu dapat diwujudkan. Seperti apa pun wujud pengorbanan kasih kita kepada orang lain tanpa didasari kasih kristus tetapi  dengan motif hanya sebagai balas jasa kita kepada orang yang kita kasihi dan telah meninggal, maka  pengorbanan yang kita lakukan itu sia-sia saja.  sehingga katika kita  mewujudkan kasih kita kepada orang yang dikasihi, tidak harus dengan potong jari dan tidak perlu menunggu sampai mereka meninggal. Tetapi harusnya kasih kita dapat diwujudkan kepada orang-orang hidup yang ada di sekitar kita melalui perhatian atau kepedulian atau pertolongan disaat mereka membutuhkannya.
readmore »»  

7 April 2013

Diskusi Kelompok MK Misi Holistik

Diskusikan:


Amati suatu daerah pelayanan (berdasarkan kelompok yang sudah di bagi), kembangkan daya pikir holistik saudara kemudian Rancangkan suatu model pelayanan holistik untuk menjawab kebutuhan daerah pelayanan yang saudara amati.

catatan:
* diskusikan di perpustakaan.
* setelah selesai diskusi presentasikan di kelas.
* waktu diskusi: 10.35-11.10
* hasil diskusi kirim ke: adrianuspasasa@gmail.com

readmore »»  

31 Maret 2013

Kemuliaan ISA Almasih di QURAN

Kemuliaan ISA Almasih di QURAN


1. Lahir dari perawan (Sura 19:16-34; 3:47).

2. Diberi gelar “Kalimat Allah” (Sura 3:35, 39; 4:171).

3. Merupakan “Tiupan Roh dari Allah” (Sura 4:171; 19:17).

4. Diberi gelar Yang Mulia, Yang Lama dinubuatkan yaitu “Al-Masih” (Sura 4:17).

5. Disebut “seorang anak laki-laki yang suci” (Sura 19:19) dan dengan demikian tak perlu minta pengampunan.

6. Bergantian dengan Allah jadi Pengawas orang (Sura 5:117).

7. Dijadikan oleh Allah “suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami“ (Sura 19:21).

8. Sekarang ini berada di surga (Sura 3:55).

9. Akan kembali dari surga sebagai hakim pada Hari Kiamat (Sura 43:69).

10. Pengikutnya diberikan kedudukan istimewa di atas orang kafir sampai hari kiamat (Sura 3:55)

11. Az Zukrhruf (qs 43 :61 ) Wa innhu la'ilmun lilssaa'ati falaa tamtarunna bihaa waittabi'uuni haadzaa shiraathun mustaqimun : dan sesungguh nya ISA itu benar" memberikan pengetahuan ttg hr kiamat , krn itu jgn lah ragu" ttg hr kiamat itu & ikutilah AKU ,ini jalan yg lurus.

12. Nyawa nabi muhammad ada di tangan DIA ISA putra maryam (hadist mutiara III no 4251)

13. Yesus Adalah Hakim yg adil (hadist shohih muslim -127). YESUS dr ROH ALLAH (Qs :45 -91 & annisa 171).Semua anak manusia sdh tersentuh oleh setan kecuali ISA putra maryam (Hadist shohih buchori jilid III hal 208 ayat 1493)

14. Hanya Pengikut ISA lah di atas orang" kafir hingga hr kiamat (qs 3 : 55 ).Dan bangsa Israel menerima anugrah yg gk di terima umat lain (qs. almaidah : 20). Israel bangsa pilihan ALLAH (qs albaqaroh-47).Allah beserta Israel (qs almaidah :20).Isa almasih adalah yg terkemuka di dunia dan di akhirat (sura ali imran 3 : 45). Isa mengetahui hr kiamat (qs.43:61).

15. Beberapa Ayat Pertentangan Dlm Alquran : Isa bs menciptakan Burung (qs 3:49).Selain alloh tdk ada yg bs menciptakan lalat pun (qs 22:73). Bumi dan langit di ciptakan dlm 8 masa (qs 41:912) sedang ayat (qs 7 : 54,qs 25 :59 )bumi dan langit di ciptakan dlm 6 masa.

16. Isa putra maryam seorang Imam mahdi & hakim yg adil (hadist shohih muslim jilid 1)

readmore »»  

20 Maret 2013

Diktat Misi Holistik



Ringkasan  materi ajar ini  digunakan dalam perkuliaan misi holistik di STT SAPPI
Dosen Pengampuh: Adrianus Pasasa, S.T, M.A
Pendahuluan
Misi holistis merupakan tema penting dalam misiologi. Mengapa? Karena selama ini dianggap praktik misi jemaat Kristen tidak bersifat holistis
Misi yang dilakukan gereja selama ini dianggap bersifat fragmentaris, bukan suatu keutuhan. Banyak yang memisahkan dengan tajam pemberitaan Injil dan perbuatan sosial.
Misi dipandang sebagai suatu tindakan utuh yang meliputi baik pemberitaan Injil maupun perbuatan sosial. Keduanya dianggap sama pentingnya
Kata “misi” berasal dari bahasa Latin mitto yang merupakan terjemahan dari kata Yunani apostello, artinya “mengutus”. Secara umum kata misi bisa merujuk pada pengutusan seseorang dengan tujuan khusus, misalnya misi kesenian, misi budaya, dan lain-lain. Dalam konteks kekristenan, misi dipahami dalam arti pengutusan gereja universal ke dalam dunia untuk menjangkau orang-orang kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, khususnya melalui sekelompok pekerja yang disebut misionaris (dimodifikasi dari Harold R. Cook, An Introduction to Christian Mission, 8).

Kata ‘holsitik’ berasal dari kata “whole’ (Inggris) yang artinya : seluruhnya, sepenuhnya.
Kata ‘holistik’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai pengertian “ciri pandangan yang menyatakan bahwa keseluruhan sebagai suatu kesatuan lebih penting dari pada satu-satu bagian dari suatu organisme”. Istilah pelayanan yang holistik saat ini memang banyak digunakan oleh berbagai kalangan untuk menunjukkan bentuk pelayanannya, namun ada juga kelompok orang yang salah mengartikannya.  Sering terjadi salah pengertian mengenai pelayanan holistik adalah anggapan bahwa pelayanan  holistik adalah pelayanan yang berbentuk pelayanan sosial, sehingga akhirnya ada yang mengartikan bahwa pelayanan holistik adalah pelayanan sosial. Pemahaman akan pelayanan yang holistik diungkapkan Herlianto sebagai pelayanan yang mencakup pemberitaan Injil baik secara verbal maupun secara perbuatan dan ditujukan untuk menjangkau manusia seutuhnya pula, yaitu manusia yang terdiri dari tubuh, jiwa dan roh, dan manusia yang mempunyai kaitan–kaitan sosial, budaya, ekonomi, hukum dan politik dengan lingkungannya (Herlianto, Pelayanan Perkotaan. Bandung : Yabina, 1998, hlm 123).

Jika pelayanan holistik dianggap sebagai pelayanan gereja yang menyeluruh maka pelayanan tersebut harus mencakup semua aspek pelayanan yang dilakukan oleh gereja. J.C. Hoekendijk mengatakan bahwa pelayanan holistik yang meliputi unsur-unsur pelayanan : Koinonia (persekutuan), Martyria (kesaksian), dan Diakonia (pelayanan sosial), merupakan hal yang mutlak menggarisi penginjilan dan mendatangkan syalom (damai sejahtera, keselamatan) yang dijanjikan Tuhan (Arie de Kuiper, Misiolog., BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2003, hlm 74) Tomatala tentang hakikat misi yang holistik dimana dapat dijelaskan sebagai “satu yang menyeluruh” yang memiliki kesatuan integral dengan aspek-aspek lengkap yang utuh. Pemberitaan Injil menyentuh aspek pelayanan dasar pada empat dimensi pelayanan yang holistik yaitu : Persekutuan (koinoneo), Pelayanan (diakoneo), Kesaksian (martureo) dan Pemberitaan (kerigma/kerusso) –(Yakob Tomatala, Teologi Misi., YT Leadership Foundation, Jakarta, 2003, hlm 61)

Pelayanan holistik juga seringkali dijadikan alat untuk meredam suatu gejolak dimasyarakat ketika terjadi aksi karena ketidaksukaan masyarakat atas kehadiran orang Kristen, atau juga sebagai alat untuk menenangkan masyarakat ketika terjadi aksi protes terhadap pembangunan gereja. Kelihatannya memang efektif namun sebenarnya kondisinya tetap seperti api dalam sekam yang sewaktu-waktu api tersebut bisa membesar. Ini adalah suatu perbuatan yang kelihatannya baik tetapi bukan dilandasi oleh kasih yang murni, karena seolah-olah seperti ada “udang dibalik batu”. Jika kita melakukan hal tersebut bukankah dapat dikatakan kita melakukan “suap yang terselubung dengan kedok kasih”, apa yang membedakannya dengan tindakan orang-orang non Kristen.

Kebanyakan orang beranggapan dan mempraktekkan pelayanan holitik sebagai bagian dari penginjilan, atau dilakukan dengan tujuan penginjilan dimana akhirnya bisa menjadi “penginjilan terselubung”, padahal seharusnya penginjilan itulah yang justru merupakan bagian dari pelayanan holistik. Kalau kita melayani hanya sebagai “umpan” agar ikan-ikan mau mengigit kail kita, maka secara etis teologia tindakan ini tidak jujur, tidak murni. Yang paling fatal adalah ketika ternyata kita hanya menjadikan dan memperlakukan sesama sebagai “objek” untuk dijaring tanpa adanya rasa kasih. pelayanan holsitik bertujuan pada kesejahteraan manusia seutuhnya, artinya memberitakan Injil yang penuh kepada manusia yang utuh dalam berbagai dimensi, Kejadian 2 : 7 memberi kesaksian yang sangat jelas bahwa manusia adalah debu (adam). Allah menciptakan menjadi tubuh materi dan  Allah amat memperhatikan kebutuhan fisik manusia dengan memberi makanan kepada manusia. Manusia adalah jiwa (psyche) yang mempunyai kebutuhan-kebutuhan kejiwaan. Allah amat memperhatikan kebutuhan kejiwaan manusia, Allah tidak membiarkan manusia kesepian (Kej 2 : 18), manusia diberikan kebebasan (Kej 2 : 16) bahkan dikarunia kepercayaan dan tanggung jawab (Kej 2 : 15). Manusia adalah roh. Allah memberikan nafas hidup, bahkan menghebuskan itu dari nafas hidup Allah sendiri (Kej 2 : 7). Karena itu pelayanan holistik harus memperhatikan semua dimensi ini, yaitu spiritual, psikis dan fisik manusia.

Pelayanan holistik berupaya untuk memulihkan keseimbangan dan kesarasian antara dimensi individualitas dan sosial manusia. Oleh karena itu dalam pelayanan holistik tidak dikenal dikotomi atau pemisahan antara kebutuhan individual dan sosial manusia. Tidak seharusnya ada pertentangan antara “individual gospel” (kaum vertikalis) dan “social gospel” (kaum horisontalis). Oleh karena itu pelayanan holistik seharusnya juga melayani manusia dalam bidang sosial, ekonomi, budaya, politik dan sebagainya. Pelayanan holistik berupaya untuk memulihkan keseimbangan dan kesarasian antara keduanya. Tujuan dari pelayanan holistik bukan hanya untuk kepentingan manusia tetapi kepentingan seluruh lama ciptaan. Manusia memang diberi mandat untuk berkuasa atas alam (Kej 1:26), tetapi manusia juga diberi tugas untuk memelihara alam (Kej 2:15) dan bukan memusnahkannya. Pelayanan holistik tidak boleh hanya “people oriented” tetapi “life oriented”, usaha menjadikan seluruh alam semesta “theatrum gloriae dei” (Calvin)

Pelayanan?
Karena itu kita dapat katakan bahwa pelayanan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk menolong orang lain dalam memenuhi kebutuhan orang tersebut.
Karena itu, “Pelayanan Holistik” artinya pelayanan yang dilakukan secara utuh, yakni pemberitaan Injil yang dapat menjawab kebutuhan manusia secara jasmani dan rohani.
Kalau kita memperhatikan dengan seksama bagian-bagian Alkitab maka kita dapat menemukan bahwa Firman Tuhan menghendaki agar umat Tuhan dapat membangun hubungan yang seimbang yakni antara Allah (hubungan vertikal) dan sesama (horizontal).  
Sehingga implikasi praktis dari kehidupan rohani yang baik adalah peduli terhadap sesamanya yang dapat ditunjukkan melalui tindakan kasih atau menjawab kebutuhan secara jasmaniah orang-orang yang berada di sekitar kita.
Hukum-hukum itu dibagi dalam dua bagian yaitu:
      hukum 1-4 mengatur hubungan antara manusia dengan Allah dan
      hukum 5-10 mengatur hubungan manusia dengan sesamanya.
Apa yang Yesus lakukan dalam pelayanan-Nya?
Hal yang pertama yang IA lakukan adalah selalu berhubungan dengan Bapa-Nya tetapi di sisi yang lain kehidupan Yesus sangat solider dengan orang-orang yang berada di sekitanya, salah satunya adalah dengan memenuhi kebutuhan mereka secara jasmani.
Pelayanan dewasa ini membutuhkan kreatif-inovatif dari seorang pelayan. Kreatif-inovatif yang dimaksudkan bukan mengubah esensi dari pelayanan itu tetapi menawarkan sesuatu yang dikemas dalam pola yang baru.
Seorang pelayan Tuhan yang kreatif-inovatif tidak saja menyampaikan khotbah tentang memberi atau khotbah tentang persembahan persepuluhan tetapi mencarikan solusi agar jemaat mendapat kehidupan yang layak dalam pengertian memiliki penghasilan.
Seorang Pelayan Tuhan tidak saja menyampaikan hal-hal yang vertikalistis (membangun hubungan dengan Allah) tetapi juga memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan jasmaniah yang dihadapi jemaat (horisontalistis).

Diskusikan:
Pemikiran strategis untuk ‘Pelayanan Holistik’ kepada Jemaat?

Pemikiran ini bervariasi, terletak pada masing-masing sumber daya yang tersedia. Artinya tidak semua tempat memiliki strategi yang sama.
Gereja menyediakan sumber daya untuk dapat dikelola oleh jemaat sendiri.
Gereja melatih tenaga untuk dapat mengelola sumber daya tersebut. Prioritas dari pelatihan adalah untuk penjangkauan jiwa-jiwa (menolong jiwa-jiwa dalam hubungan vertikal dengan Tuhan). Tenaga-tenaga tersebut juga trampil mengelola sumber daya yang dimiliki oleh gereja.
Profit dari setiap usaha dapat dikelola oleh departemen khusus yang juga memiliki paradigma penjangkauan secara holistik
Sulit memang pemikiran ini dapat diterapkan dalam pelayanan dan kemungkinan juga mengalami tantangan.
untuk memulai sesuatu yang baru apa lagi orang tidak terbiasa dengan sistem pelayanan seperti ini pastilah mengalami kendala.
Pemberitaan Injil membutuhkan dana dan terkadang orang tidak mau melakukannya karena kekurangan dana tersebut.


Pelayanan holistik dalam Perjanjian Lama
Jika dicermati maka pelayanan holistik sebetulnya mempunyai maksud untuk menghadirkan Shalom kedalam dunia ini.

Shalom?
Arti dasar shalom adalah kesejahteraan Rohani dan jasmani, namun juga diekspresikan dalam lingkup politik dan militer. Shalom adalah sebuah konsep sosial yang lebih melihat kemakmuran untuk kelompok daripada untuk individu atau yang melihat kesejahteraan sebuah komunitas atau sebuah bangsa lebih utama dari seseorang
Kepekaan Yesus adalah terhadap apa yang dibutuhkan oleh manusia (real need) dan bukan apa yang diinginkan manusia (feel need).
Yesus amat peka terhadap kebutuhan holistik manusia. Kesejahteraan yang tercipta adalah kesejahteraan dalam arti yang luas. Kesejahteraan bisa berarti kecukupan dalam kelebihan, bisa berarti dalam keadaan aman atau bisa dalam arti kesehatan. Shalom menggambarkan
kesejahteraan secara umum, kondisi yang memuaskan, kesejahteraan baik jasmani maupun rohani Jadi shalom adalah hal yang holistik, ia mencakup baik kesejahteraan jasmani maupun rohani. Shalom juga berbicara mengenai keadaan yang harmonis yaitu keutuhandalam hubungan. Hubungan yang harmonis tersebut dapat terjadi antara Allah dengan individu “Cintailah Tuhan Allahmu dengan sepenuh hatimu” (Ulangan 6:5) merupakan kunci adanya hubungan yang harmonis dengan Allah yang mendatangkan shalom.

Hubungan yang harmonis dalam hubungannya dengan shalom adalah juga kehidupan yang harmonis dengan diri sendiri, artinya bahwa manusia harus hidup berdamai dengan dirinya sendiri. Segala kepahitan hati dan dendam akan menyebabkan kehidupan yang tidak harmonis,
yang pada akhirnya juga akan mengganggu hubungan yang harmonis dengan Tuhan dan sesama masyarakat Jadi dapat disimpulkan bahwa shalom adalah tema sentral dalam Perjanjian Lama yang mencakup tiga hal yaitu: keutuhan, kesejahteraan dan harmonis. Shalom merupakan konsep holistik bagi Israel. Tidak ada dikotomi antar yang sakral maupun profan (diluar agama). Dalam kesejahteraan, shalom meliputi rohani dan jasmani dan juga hubungan yang harmonis antara Allah, manusia dan alam Dalam Perjanjian Lama ada banyak tokoh yang memperlihatkan pelayanan yang holistik dalam rangka menghadirkan shalom ditengah-tengah masyarakat dan secara khusus pada bangsa Israel. Allah memilih mereka untuk dipakai dalam memelihara umat-Nya secara menyeluruh.

Diskusikan: Tokoh-tokoh PL yang melakukan pelayanan Holistik
Yusuf memperlihatkan pelayanan seutuhnya dengan memenuhi kebutuhan pangan seluruh rakyat negeri itu, negeri lainnya dan seluruh keluarganya. Yusuf mendatangkan shalom, rasa aman darikelaparan. Tidak ada yang kelaparan dan semua orang mengalami rasa damai sejahtera. Kebutuhan jasmani terpenuhi sampai masa kelaparan berlalu. Yusuf bukan saja memelihara jasmani baik orang Mesir maupun keluarganya, dia pun mengajarkan dan menyampaikan bahwa tanpa mereka berserah kepada Allah pada masa kelaparan dan tanpa campur tangan Allah maka kebutuhan jasmani mereka tidak
Terpenuhi

Diskusikan:
Bagaimana dengan Musa, para Nabi?

Pelayanan holistik dalam Perjanjian Baru
Yohanes 6:1-15, setelah Yesus memberi makan secara rohani kepada orang-orang yang haus akan Firman Tuhan maka Yesus memberikan makanan jasmani berupa roti dan ikan kepada lebih dari lima ribu orang. Kisah ini membuktikan bahwa Yesus melakukan pelayanan yang holistik dan kalau kita benar-benar mau mengikuti teladan kepelayanan Yesus, maka tidaklah cukup kita hanya memperhatikan orang yang lapar rohani saja.
Tidak cukup kita hanya memberitakan bahwa Yesus adalah air yang hidup (Yohanes 4:10), namun bagaimana kita mewujudkan adanya air yang menjadi salah satu kebutuhan utama fisik manusia, ditengah-tengah masyarakat yang hidup dalam kekeringan dan berbagai penyakit akibat kekurangan air bersih. Bukan hanya melayani roh manusia, Yesus juga memperhatikan jiwa manusia. Yesus membebaskan dan memulihkan jiwa dari orang gila di Gerasa yang dipengaruhi oleh kuasa setan (Matius 8:28-34; Markus
5:1-18; Lukas 8:26-37). Yesus membebaskan orang tersebut dari kuasa setan sehingga ia menjadi waras dan dapat memberitakan peristiwa tersebut kepada banyak orang (Lukas 8:39).

Yesus membebaskan orang tersebut dari kuasa setan sehingga ia menjadi waras dan dapat memberitakan peristiwa tersebut kepada banyak orang (Lukas 8:39).
“salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini” seperti yang terdapat dalam Matius 25:31-46. Rasul-rasul Dalam pekerjaan pelayanannya, rasul-rasul memperlihatkan pelayanan yang holistik. Mereka melakukan pemberitaan Injil (marturia) dengan berani karena mereka dipenuhi oleh Roh Kudus (Kisah 4:31) dan mereka menyembuhkan orang-orang yang sakit danorang-orang yang diganggu roh jahat dan mereka disembuhkan( kisah 5:15-16) .
Mereka juga bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, dalam persekutan (koinonia) dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (Kisah 2:41-42). Bentuk nyata dan tertinggi dari persekutuan mereka adalah ketika mereka yang menjadi percaya menganggap bahwa segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. Juga ada dari mereka yang selalu menjual harta miliknya lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing (Kisah 2:44-45; 4:32-37). Secara khusus para rasul menunjuk tujuh orang yang terkenal baik dan yang penuh roh dan hikmat untuk melayani orang miskin (Kisah 6:3). Para rasul menganggap penting untuk memperhatikan dan
melayani orang miskin (diakonia) karena ternyata pelayanan terhadap orang miskin adalah suatu hal penting. Mereka merasa tidak puas karena mereka telah melalaikan Firman Allah untuk melayani meja (Kisah 6:2).

Pelayanan Kristen tidak dapat lain harus merupakan pelayanan yang holitik karena hal ini bertolak dari teladan Sang Pelayan Agung, Yesus Kristus, Allah yang telah menjadi manusia yang penuh (100 persen Allah, 100 persen manusia). Yesus adalah teladan dari manusia yang holistik
Yesus Kristus yang adalah Tuhan kita telah melakukan pelayanan yang holistik, maka mau tidak mau kita yang menyebut diri anak-anak Allah dan pelayan Tuhan, harus juga berbuat yang sama yaitu melakukan pelayanan yang holistic

Diskusikan:
Bagaimana dengan tokoh2 lainnya dalam PB?


Gereja dan Misi Holistik
Gairah ibadah dalam gereja harus dibawa keluar gereja. Kesalehan personal harus kita lanjutkan dengan kesalehan sosial. Beringas di dalam ruang ibadah, tekun di dalam bilik doa, namun loyo dan pasif di kancah dunia keseharian merupakan hal yang memalukan.
Apalagi jika anak-anak Tuhan justru egois, menciptakan dan menikmati dunianya sendiri, acuh terhadap sesamanya yang menderita, acuh terhadap bumi kita yang sekarat, itu pemberontakan! Sikap pasif, malas campur tangan terhadap pergumulan dunia adalah tanda tidak peka, tanda egois, tanda Kristen fiktif!  Mengapa?
Karena mandat budaya dan mandat injil adalah titah ilahi, keduanya wajib.
Bersikap pasif, acuh terhadap berbagai permasalahan sosial dunia ini, maka ritual ibadah hanyalah sebuah malpraktek.

Memper-tentangkan dunia roh dengan dunia materi adalah sebuah kesalahan.
Iman yang alkitabiah itu di mana pun dan kapan pun selalu mencegah orang untuk melarikan  DIRI dari keterlibatan dunia sehari-hari. C.S Lewis dalam bukunya The Screwtape Letters menulis: “Tak ada kehidupan rohani yang sejati yang boleh membiarkan seseorang melalaikan tugasnya membuang sampah atau membayar tagihan-tagihannya.”
Kesalehan vertikal dan horisontal adalah buah iman yang bertumbuh secara seimbang dan utuh. Tanda-tanda zaman yang di sajikan media hari ini jelas mengundang misi holistik umat Tuhan.

Diskusikan:
Bumi akan terus sibuk, makin gundul, terus memanas, goncang, longsor, tenggelam, dlsb. Bagaimana respon saudara terhadap keadaan bumi saat ini?

Hambatan Pelayanan Holistik
1.      Pemahaman gereja yang keliru tentang konsep pelayanan yang holistik
Adanya pemahaman gereja-gereja yang melakukan dikotomi dalam pelayanan. Seperti pelayanan sosial dianggap pelayanan yang bersifat duniawi dan pelayanan pemberitaan Injil barulah dikatakan pelayanan rohani.
Atau  pelayanan sosial dalam gereja (diakonia) hanya dianggap sebagai pelengkap saja dan tidak menjadi bagian yang penting dari pelayanan itu sendiri.
Ketidaktahuan ini sebagian disebabkan karena perngaruh dari aliran pietisme yang berkembang di Indonesia pada masa penjajahan Belanda.
Salah satu ciri aliran pietis ini adalah:
      Sikap menjauhkan diri dari dunia
Orang-orang pietisme tidak mau melibatkan diri dengan masalah-masalah dunia, sebab dunia ini dianggap sebagai tempat yang kotor, berlumuran dosa dan tidak bermoral. Tempat-tempat hiburan dan rekreasi selalu dijauhi, perhatian mereka hanya tertuju kepada surga atau dunia di seberang kematian. Orang-orang pietisme cenderung memisahkan diri dari dunia ini karena melihat bahwa dunia ini adalah lembah air mata yang penuh dengan penderitaan. Keadaan ini digambarkan melalui syair lagu-lagu pietisme yang mengatakan bahwa dunia ini lembah air mata dan lebih baik kalau manusia itu pulang ke negeri asalnya.
2.      Gereja lupa memikirkan pelayanan keluar, “gereja tidak mau meninggalkan daerah kenyamanannya”
3.      Gereja tidak berani berkorban “bayar harga”

Diskusikan:
Hambatan-hambatan apa saja yang menjadi penghalang bagi gereja/hamba Tuhan dalam melakukan pelayanan holistik? Solusi apa yang sekiranya dapat dijadikan jawaban bagi hambatan-hambatan tersebut.
Bagaimana menerapkan misi holistik di tengah-tengah kondisi bangsa kita saat ini?
      Bahasa, tidak PD
      Malas mengembangkan diri
      Masih membedakan rohani dan jasmani
      Takut melakukan perubahan
      Ada sikap saling mencurigai
      Tidak berani mengambil resiko
      Tidak ada kerjasama antar gembala dan jemaat, lingkungan, dan masyarakat.
      Tidak peka dengan keadaan
      Sokusi: punya rasa peka, mau melakukan pelayanan holistik, berani mengambil resiko, berani mengubah pola pikir bahwa pelayanan itu adalah bersifat holistik.
      Gereja tidak terbuka dengan program yang baru
      Gereja tidak terbuka terhadap hamba Tuhan
      Solusi: hamba Tuhan peka dengan situasi dan kondisi, dan memulai perubahan dari diri sendiri.
      Tidak ada kemampuan di bidang holistik: solusinya, harus ada pembekalan.
      Kemalasan hamba Tuhan (tidak peduli dengan keadaan jemaat), solusi:  di beri pemahaman akan arti pelayanan
      Egois
      Tidak kreatif
      Malas, tidur terus
      Gengsi
      Tidak mengerti pelayanan holistik
      Solusi: mempelajari pelayanan holistik dan melakukannya.
      Keterbatasan pribadi (pendidikan, pengalaman, egois,  kurang menyatu dengan jemaat)
      Solusi: pembinaan bagi hamba Tuhan tentang pelayanan holistik
      Peraturan gereja yang permanen. Solusi: berani memberi inovasi baru
      Kurangnya pemahaman jemaat terhadap pentingnya pelayanan holistik
      Solusi: pembinaan warga gereja.
      Dana kurang
      Pengalaman kurang
      Malas bergerak/bekerja
      Hamba Tuhan kurang berinteraksi dengan jemaat



STRATEGI PELAYANAN HOLISTIK
Pola pelayanan kita adalah pola pelayanan Kristus. Sebab itu, pertanyaan yang amat penting adalah: bagaimana pola pelayanan Kristus itu? Ini harus jelas, oleh karena inilah pola yang harus kita teladani dalam seluruh pelayanan kita.
(a) Pelayanan Kristus ditentukan oleh titik - acu yang amat fundamental: ketaatan yang sepenuh-penuhnya kepada Allah dan kasih yang sepenuh-penuhnya kepada sesama manusia. Ini adalah batu uji yang amat penting bagi keabsahan pelayanan Kristiani kita, untuk menghindarkan kita dari kecenderungan melayani diri sendiri ('self-service' sudah semakin populer, bukan?) Orientasi pelayanan Kristiani adalah kehendak Allah dan kebutuhan mereka yang kita layani. Bukan kepentingan kita!
(b) Pelayanan Kristus diwujudkan dalam bentuk identifikasi dan solidaritas. (Yoh 1:12; Flp 2:7). Tidak berdiri lebih tinggi (=filantropis) tetapi juga tidak duduk lebih rendah dari yang dilayani, melainkan menempatkan diri sepenuhnya pada tempat mereka yang dilayani. Ikut merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang kita layani. Oleh karena itu pelayanan Kristiani harus disertai dengan respek, simpati, dan empati yang dalam.
(c) Pelayanan Kristus adalah pelayanan yang holistik, artinya pelayanan yang utuh dan menyeluruh. Oleh karena itu pelayanan Kristiani adalah mewujudnyatakan Injil yang utuh bagi manusia yang utuh. Holistik artinya melihat kebutuhan manusia baik kebutuhan-kebutuhan individualnya maupun sosialnya, kebutuhan-kebutuhan fisik, psikis maupun kebutuhan spiritualnya, kebutuhan-kebutuhan sekarang di bumi ini maupun nanti setelah mati, dan sebagainya. Tidak ada yang lain yang lebih merugikan pelaksanaan misi Kristiani kita, daripada dualisme yang memisahkan tubuh dari roh, ilmu dari agama, dan yang natural dari yang supernatural. Dualisme seperti ini, tanpa kita sadari, sebenarnya kita warisi dari modernisme Barat, yang bukan saja tidak alkitabiah tetapi juga tidak cocok dengan 'Weltanschauung' (wawasan atau konsep pandang dunia) kita sebagai orang Timur (baca: Indonesia) yang lebih inklusif dan integralistik. Pada satu pihak, dualisme itu telah membuat kita secara sempit mengidentikkan misi Kristiani dengan penginjilan (dalam arti sempit pula yang hanya mencari jiwa-jiwa yang terhilang dan berusaha menyelamatkan dari kebinasaan kekal), dan dengan demikian menyerahkan pelayanan sepenuhnya kepada badan-badan sekuler dan duniawi. Tentu saja pandangan seperti ini ada benarnya. Injil memang adalah mengenai sorga. Namun ini saja, hanya akan mengajak orang untuk mengikuti Yesus yang jauh, Yesus yang teologis dan abstrak, Yesus yang tidak berjalan di jalan-jalan kehidupan manusia yang nyata, Yesus yang tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan dan kebutuhan-kebutuhan hidup manusia yang nyata. Yesus yang terasing dan tidak mempunyai makna bagi manusia di tengah konteks kehidupan mereka yang nyata. Pada pihak lain, dualisme yang sama membuat sebagian orang Kristen yang lain hanya memusatkan perhatian kepada kebutuhan manusiawi, memberitakan Injil yang menjanjikan makanan, kesehatan, keadilan, pendek kata hidup yang lebih baik di bumi ini. Ini pun tidak salah seluruhnya. Sebab Kristus tidak hanya mati untuk dosa-dosa kita, tetapi juga untuk memperkenalkan datangnya Kerajaan Allah di bumi ini. Yesus adalah Yesus yang berjalan bersama-sama dengan orang-orang biasa, menyembuhkan penyakit mereka, memberi mereka makan, memberitakan keadilan dan kabar baik bagi orang miskin. Benar! Namun bagi saya, ini pun hanya separuh Injil. Misi kita tidak mempunyai artinya bila hanya memperbaiki kehidupan mereka yang sehari-hari, namun tidak menunjukkan kepada mereka jalan kepada kehidupan yang sejati dan pribadi.
Bagaimana sebenarnya hubungan antara keduanya? Ada dua pandangan yang harus tolak:
(a) pandangan yang sama sekali memisahkan antara keduanya. Misalnya: kesaksian diartikan sebagai penginjilan yang bersifat verbal semata-mata, yang tidak perlu diwujudkan dalam tindakan pelayanan yang nyata. Atau sebaliknya, pelayanan yang diartikan sebagai altruisme semata-mata, yang tidak mempunyai hubungan apapun dengan tugas kesaksian kita.
(b) pandangan yang mencampuradukkan keduanya. Misalnya: pelayanan hanya dilihat dan dilaksanakan sebagai 'alat' kesaksian, atau konkretnya sebagai 'pancingan' untuk mengkristenkan orang. Bagi saya bukan 'pelayanan'. Ia tidak tulus, tidak jujur, tidak etis, dan tidak Kristiani. Bukan saja pelayanan yang buruk, tetapi juga kesaksian yang buruk tentang kekristenan kita. Pandangan saya: kita harus membedakan keduanya, tapi tidak boleh memisahkannya. Pelayanan Kristiani bukan 'alat' kesaksian. Pelayanan, adalah wujud dari kesaksian Kristiani kita! Kita melayani, dan dengan itu kita bersaksi. Kita bersaksi, dan oleh karena itu kita melayani.

Bagaimana juka dikaitkan dengan kondisi bangsa kita saat ini?
Di situlah kita berada sekarang ini. Tidak ada yang dapat memastikan ke mana perubahan-perubahan itu pada akhirnya akan membawa kita. Pertanyaan kita: bagaimana dalam rangka ketaatan kita kepada Allah, kita dapat menyatakan kasih Kristus seefektif-efektifnya sebagai wujud pelayanan dan kesaksian kita? Tentukan lebih dahulu apa sasaran kita yang utama. Apakah cukup asal sekuritas kepentingan kita sebagai kelompok terjamin? tentu, tidak! Ini adalah egoisme kelompok yang bertentangan dengan semangat dan roh pelayanan Kristiani. Sasaran kita, menurut keyakinan saya adalah bagaimana melalui peran-peran kita yang semaksimal-maksimalnya, kita ikut serta menentukan arah kehidupan bangsa ini. Peran serta itu kita perjuangkan melalui upaya yang sekeras-kerasnya untuk menjadi berkat yang sebesar-besarnya bagi sebanyak mungkin orang, bagi kesejahteraan seluruh bangsa.
·         Perteguh komitmen iman Kristiani kita. Ini akan merupakan kunci paling utama! Komitmen, sekali lagi komitmen!
·         Upayakan agar umat kita menyadari sepenuhnya di dalam situasi apa kita berada sekarang ini, dan apa kemungkinan-kemungkinan akibatnya!
·         Perteguh persekutuan oikoumenis dan konsolidasikan kekuatan kita! Hanya dengan ini kita mampu bersaing !
·         Perkokoh kesadaran dan wawasan kebangsaan kita! Hanya dengan ini kita mampu berperan!
·         Tingkatkan 'daya saing' dengan memanfaatkan semaksimal-maksimalnya 'nilai lebih' kita! Persiapkan kader-kader Kristen yang tangguh!
·         Nyatakan keberpihakan kita kepada rakyat kecil dan komitmen kita mengatasi kesenjangan sosial ekonomi!
·         Bangun jembatan-jembatan, jangan tembok-tembok! Usahakan ini mulai dari setiap warga kita di lingkungan masing-masing. Seberapa mungkin bina kerjasama dengan semua pihak yang seperjuangan dengan kita.
9. Bagaimana aplikasinya?
·         Pembinaan SDM yang mempunyai komitmen iman, patriotisme, dan solidaritas sosial yang tinggi.
·         Bangun daerah-daerah 'Kristen' yang terbelakang melalui kerjasama oikoumenis.
·         Kembangkan proyek-proyek kerjasama untuk rakyat kecil.
10. Catatan: setiap lembaga hendaknya jangan berambisi untuk, melakukan segala sesuatu sendiri. Bangun "net-working system" yang efektif. Dalam kerangka sistem jejaring itu, masing-masing menentukan satu dua wilayah konsentrasi. Yang kedua yang penting juga adalah melaksanakan fungsi kita sebagai 'enabler': memampukan semakin banyak orang untuk melanjutkan dan mengembangkan apa yang kita lakukan. Apakah itu berarti kita tidak perlu memberitakan Injil? Sama sekali tidak! Pemberitaan Injil harus tetap dan terus kita laksanakan, di dalam konteks situasi yang bagaimana pun! Bila saya tidak terlalu menyentuhnya di sini, itu semata-mata adalah karena yang kita bicarakan di sini adalah strategi pelayanan, dan bukan tentang strategi Pi. Mengenai PI ini, yang ingin saya katakan adalah: beritakanlah Injil yang utuh bagi manusia yang utuh! Lakukanlah itu dengan tulus hati, dengan empati, dengan respek, dengan penuh kerendahan hati. Tanpa kepalsuan, tanpa paksaan, tanpa tipu daya! Ikutlah teladan Kristus: tidak dengan 'love to power' tetapi dengan 'power to love.


readmore »»  

BERITA TERKINI

« »
« »
« »
Get this widget

My Blog List

Loading...

Komentar