5 Maret 2013

PERNIKAHAN DAN PERCERAIAN (ETIKA KRISTEN)


BAB 1 PENDAHULUAN
A.    Latar belakang Masalah
Sebagian budaya dalam sejarah menghargai pentingnya perkawinan dan kelanggengannya lebih dari budaya-budaya lain, sebagian seperti dunia barat abad 21,memandang rendah,menyepelekan dan tidak menghargai perkawinan.
Di Negara kita Indonesia sendiri sudah banyak terjadi kasus Kawin Cerai. Ketika kita menonton Infotaiment atau membaca Koran kita bisa membaca atau melihat baik dimedia masa dan media Elektronik kasus perceraian bukanlah hal yang tabu lagi tapi menjadi kasus yang biasa apalagi dikalangan selebritis dengan mudahnya mereka berganti pasangan,menikah lagi dengan orang lain yang menurut mereka adalah pasangan yang cocok dan akhir-akhir ini kasus kawin cerai sepertinya menjadi konsumsi public yang layak untuk diperbincangkan mereka sepertinya tidak merasa malu ketika hal-hal yang menyangkut masalah pribadi atau rumah tangga mereka dikonsumsi oleh public.
Bercermin Dari hal-hal diatas karena kurangnya pemahaman tentang makna Perkawinan yang sesungguhnya bahkan banyak diantara mereka adalah orang-orang percaya yang tidak memahami arti penting dari perkawinan sehingga mereka dengan mudahnya melakukan Perceraian.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah Pernikahan itu menurut pandangan Alkitab?
2.      Bagaimanakah tanggapan Alkitab tentang Perceraian?
C.    Tujuan Penulisan
1.      Dengan memahami Alkitab dengan Benar kita dapat menghargai Makna perkawinan yang sesungguhnya
2.      Untuk memberikan jawaban yang tepat kepada orang Kristen dan non Kristen yang memiliki pemahaman yang kurang tepat tentang Perceraian



BAB II PANDANGAN UMUM TERHADAP  PERKAWINAN DAN PERCERAIAN
Perkawinan Menurut Perjanjian Baru
Perkawinan adalah suatu kemitraan yang permanen yang dibuat dengan komitmen di antara seorang wanita dan pria. Ada dalam Alkitab, ”Dan sesudah itu Ia berkata, 'Itu sebabnya laki-laki meninggalkan ibu bapaknya dan bersatu dengan istrinya, maka keduanya menjadi satu.' Jadi mereka bukan lagi dua orang, tetapi satu. Itu sebabnya apa yang sudah disatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia” (Matius 19:5-6, BIS).
Bagaimana seharusnya hubungan suami-suami kepada istri-istri mereka? Ada dalam Alkitab,“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri” (Efesus 5:25-28). Suami-suami seharusnya menghormati istri-istri mereka. Ada dalam Alkitab,”Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang” (1 Petrus 3:7).
Bagaimana seharusnya hubungan istri-istri kepada suami-suami mereka? Ada dalam Alkitab, Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu” (Efesus 5:22-24).
Petunjuk apakah yang diberikan sehubungan dengan pasangan perkawinan? Ada dalam Alkitab, Janganlah mau menjadi sekutu orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus; itu tidak cocok. Mana mungkin kebaikan berpadu dengan kejahatan! Tidak mungkin terang bergabung dengan gelap” (2 Korintus 6:14).
Romantika dan karunia seks diberkati oleh Allah apabila dilakukan dalam ikatan perkawinan. Ada dalam Alkitab,”Sebab itu, hendaklah engkau berbahagia dengan istrimu sendiri; carilah kenikmatan pada gadis yang telah kaunikahi -- gadis jelita dan lincah seperti kijang. Biarlah kemolekan tubuhnya selalu membuat engkau tergila-gila dan asmaranya memabukkan engkau” (Amsal 5:18-19). *BIS = Bahasa Indonesia Sehari-hari
Sebagai mempelai laki-laki (Mat. 25:1-13 ; Mrk. 2:15 ; bnd. Mat. 22:1-4). Dia memberkati perkawinan yang terjadi di Kanaan (Yoh. 2:1-11). Dalam ajaran-Nya, Dia tidak membedakan martabat laki-laki dan perempuan di hadapan Allah.
Paulus memiliki pandangan yang agak berlainan dengan penulis Injil Matius. Di satu sisi Paulus tidak menganjurkan perkawinan sebagai pilihan utama dalam hidup (1Kor 7,7),akan tetapi di lain sisi Paulus sangat menghargai perkawinan. Paulus menegaskan pada jemaatnya bahwa perintah Yesus agar orang yang telah menikah tidak bercerai (1Kor 7,10-11)
Akan tetapi, Paulus juga terbuka pada berbagai persoalan yang terjadi dalam perkawinan. Salah satu tanggapannya adalah memperkenankan adanya perceraian dari orangkristiani yang menikah dengan orang yang non-kristiani dengan syarat-syarat tertentu.

Perkawinan kristiani bukan hanya merupakan tanda hubungan antara Kristus dan Gereja- Nya, melainkan kehidupan bersama dalam perkawinan ikut ambil bagian dalam misteri agung dari kasih Kristus yang tak terputuskan dengan Gereja-Nya. Jadi, cinta kasih antara Kristusdan Gereja-Nya kini hadir dan terpantul dalam cinta kasih suami-istri dalam sakramen perkawinan.

Pernikahan itu adalah Anugerah Allah yang tidak ternilai harganya. Tuhanlahyang menetapkan lembaga keluarga. Oleh sebab itu, peraturan yang ditetapkan oleh Tuhan merupakan persekutuan hidup yang tidak bisa dibatalkan oleh manusia dan dilakukan sebagai proses uji coba. Pernikahan itu merupakan penyerahan diri, tubuh dan jiwa kepada Tuhan dankepada pasangannya. Pernikahan mempunyai dasar yang teguh yang didasarkan dariungkapan Yesus Kristus “ Apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia”,
(Mat 19:6). Dengan demikian pernikahan Kristen di ikat atas suatu perjanjian yang murni dihadapan Allah, bukan di ikat oleh perasaan manusia saja.

PERKAWINAN MENURUT PERJANJIAN LAMA

Ikatan permanen antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam perkawinan yang diresmikan oleh Allah sendiri sebelum kejatuhan manusia dalam dosa (Kej. 1:26-27). Perkawinan dalam PL diterima sebagai suatu norma umum (tidak ada kata "bujangan" dalam bahasa Ibrani). Ketika Allah memberikan Hawa kepada Adam, dikatakan, "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku" (Kej. 2:23) sebagai pengakuan Adam akan keserupaan dan kesepadanannya dengan Hawa. Hubungan permanen perkawinan/pernikahan yang harmonis yang diciptakan oleh Allah ini rusak setelah manusia jatuh dalam dosa. Dan sejak itu, institusi pernikahan menjadi kabur dan akibatnya manusia lebih cenderung untuk merusak daripada mempertahankannya. Dalam seluruh PL ada ditunjukkan bentuk-bentuk penyelewengan pernikahan yang dilakukan oleh nenek moyang bangsa Israel, misalnya dalam praktek-praktek poligami dan perceraian
STATUS PERNIKAHAN

Pernikahan dianggap wajar dan dalam PL tak ada sebutan untuk 'lajang'. Berita tentang penciptaan Hawa (Kejadian 2:18-24) menunjukkan hubungan yg unik antara suami dan istri, juga menyajikan gambar tentang hubungan Allah dengan umat-Nya (Yeremia 3; Yehezkiel 16; Hosea 1-3) juga hubungan Kristus dengan gereja-Nya (Efesus 5:22-33). Perintah kepada Yeremia supaya tidak menikah (Yeremia 16:2) adalah tanda kenabian yg unik; namun dalam PB diketahui bahwa untuk maksud-maksud tertentu melajang bisa merupakan ketentuan Allah bagi seorang Kristen (Matius 19:10-12; 1 Korintus 7:7-9), tapi pernikahan dan kehidupan berkeluarga adalah sesuatu yg wajar (Yohanes 2:1-11; Efesus 5:22-6:4; 1 Timotius 3:2; 4:3; 5:14).

Monogami secara implisit tersirat dalam cerita tentang Adam dan Hawa, sebab Allah menciptakan hanya satu istri bagi Adam. Tapi poligami dibiarkan sejak zaman
Lamekh (Kejadian 4:19) dan tidak dilarang dalam Alkitab. Nampaknya Allah membiarkan manusia menggumuli hal itu dengan mencari tau dari pengalamannya sendiri, bahwa monogami adalah asli aturan-Nya dan itulah hubungan yg sewajarnya. Jelas ditunjukkan bahwa poligami menimbulkan kesukaran-kesukaran, dan sering menimbulkan dosa, misalnya Abraham (Kejadian 21); Gideon (Hakim 8:29-9:57); Daud (2 Sam 11; 13); Salomo (1 Raj 11:1-8). Belajar dari kebiasaan-kebiasaan Timur, raja-raja Israel diperingatkan supaya menentang poligami (Ulangan 17:17). Kecemburuan dalam keluarga timbul karena poligami, seperti halnya kedua istri Elkana saling memusuhi (1 Samuel 1:6; bnd Imamat 18:18). Sukar diketahui betapa jauh poligami dipraktikkan, tapi berdasarkan kemampuan ekonomi poligami mungkin lebih banyak di kalangan orang berada daripada orang biasa. Herodes Agung pada suatu waktu mempunyai sembilan istri (Jos., Ant. 17. 19). Sampai kini orang Yahudi yg tinggal di negeri-negeri Muslim mempraktikkan poligami.

Sementara poligami dipraktikkan, maka status dan hubungan antar para istri dapat dikumpulkan baik dari cerita-cerita Alkitab maupun hukum. Adalah biasa jika seorang suami lebih tertarik kepada istri yg satu daripada istri yg satu lagi. Demikianlah Yakub, yg tertipu berpoligami, lebih mencintai Rahel daripada Lea (Kejadian 29). Elkana lebih mengutamakan Hana kendati tidak melahirkan anak (1 Samuel 1:18). Dalam Ulangan 21:15-17 dikatakan bahwa seorang suami akan mencintai istri yg satu dan membenci yg lain.

Karena anak sangat penting dalam kelanjutan nama keluarga, maka seorang istri yg mandul boleh jadi mengizinkan suaminya mengambil hambanya perempuan, untuk melahirkan anak bagi istri tersebut. Ini sah menurut hukum sipil Mesopotamia (lih Kode Hammurabi, §§ 144-147), dan dipraktikkan oleh Sara dan Abraham (Kejadian 16), juga oleh Rahel dan Yakub (Kejadian 30:1-8), tapi Yakub bertindak lebih jauh lagi, yakni mengambil hamba Lea juga sekalipun Lea sudah melahirkan anak bagi Yakub (Kejadian 30:9). Dalam kejadian-kejadian ini hak-hak istri dijamin; istrilah yg memberikan hambanya kepada suaminya karena suatu kasus khusus. Memang sukar menentukan kedudukan apa yg dimiliki hamba perempuan dalam kasus di atas; kedudukannya cenderung sebagai 'istri serep' ketimbang istri kedua. Bila suami terus mempunyai hubungan seksual dengan hambanya perempuan itu, maka ia menjadi gundik. Barangkali inilah sebabnya, mengapa Bilha disebut gundik Yakub dalam Kejadian 35:22, sedang Hagar tidak digolongkan dalam gundik-gundik Abraham dalam 25:6.

Istri (bagi orang Ibrani) biasanya dipilih dari perempuan Ibrani (ump Nehemia 13:23-28). Pertunangan dan pernikahan dilaksanakan menurut acara-acara tertentu (lih di bawah). Kadang-kadang mereka dibeli sebagai hamba Ibrani (Keluaran 21:7-11; Nehemia 5:5). Dikatakan bahwa kepala keluarga mempunyai hak bersetubuh dengan semua hambanya perempuan. Tentu ada contoh-contoh mencolok mengenai hal ini, tapi Alkitab tidak menyinggungnya. Perlu diperhatikan bahwa Keluaran 21:7-11 dan Ulangan 15:12 membedakan hamba perempuan biasa, yg harus dibebaskan sesudah 7 thn, dari hamba perempuan yg sengaja diambil menjadi istri, atau gundik, yg tidak boleh dengan sendirinya minta bebas. Karena hak-hak hamba perempuan yg telah dijadikan istri atau gundik itu dilindungi oleh hukum, maka kepala keluarga atau anaknya harus melaksanakan sesuatu upacara pensahihan, bagaimanapun sederhananya, sesuai hukum. Dalam membicarakan hak-haknya, acuan di atas tidak menentukan hak-hak itu tergantung pada ucapannya melampaui ucapan kepala keluarga, juga tidak tergantung pada perihal ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi kepala keluarga itu atau bagi putranya. Sukar sekali mengatakan apa kedudukan hamba perempuan itu. Tentu kedudukan itu berbeda-beda sesuai kenyataan apakah dia istri pertama, kedua atau satu-satunya dari kepala keluarga. Jika dia diberikan kepada putra keluarga itu, dia bisa mendapat kedudukan penuh sebagai istri. Kenyataan ialah, bahwa hukum ini, seperti terlihat dari acuan terkait, menentukan haknya sebagai hamba dan bukan terutama sebagai istri.

Istri boleh juga diambil dari tawanan perang, dengan syarat tidak boleh orang Kanaan (Ulangan 20:14-18). Ada penulis yg menganggap tawanan ini sebagai gundik, tapi peraturan dalam Ulangan 21:10-14 memandang mereka sebagai istri biasa.

Tidak ada hukum mengenai gundik, dan kita tidak tahu apa hak mereka. Jelas kedudukan mereka lebih rendah dari kedudukan istri, tapi anak-anak mereka bisa turut menjadi pewaris atas pertimbangan bapaknya (Kejadian 25:6). Kitab Hak menceritakan bangkitnya kekuasaan Abimelekh, anak gundik Gideon (Hakim 8:31-9:57), dan mencatat peristiwa tragis seorang Lewi dengan gundiknya (Hakim 19). Kesan yg diberikan 19:2-4 ialah, bahwa gundik ini bebas meninggalkan 'suaminya', dan hanya dengan bujukan dia dapat dibawa pulang. Daud dan Salomo mengikuti raja-raja Timur mengambil banyak istri dan gundik (2 Samuel 5:13; 1 Raja 11:3; Kidung 6:8-9). Dalam kedua ay terakhir agaknya gundik-gundik itu diambil dari golongan bawah.

Dalam pernikahan biasa pengantin perempuan yg pindah ke rumah laki-laki. Tapi dalam Hakim 14-15 ada bentuk pernikahan lain. Inilah yg dipraktikkan oleh orang Filistin, tapi tidak oleh orang Israel. Di sini istri Simson tetap tinggal di rumah bapaknya, dan Simson yg mendatanginya. Bisa diberikan alasan bahwa Simson bermaksud membawa istrinya ke rumahnya sesudah pernikahan, tapi Simson pergi sendirian karena mengamuk sesudah istrinya menipu dia. Dan si istri masih tetap di rumah bapaknya menurut 15:1, walaupun kemudian dia dikawinkan dengan seorang Filistin.
Dalam buku This Momentary Marriage, Pernikahan itu lebih dari sekadar cinta seseorang terhadap yang lain,jauh lebih luas maknannya makna pernikahan adalah meanampilkan kasih Allah dalam ikatan perjanjian antara kristus dan umatnya. Hal yang paling mendasar yang dapat kita lihatdi Alkitab tentang pernikahan itu karya Allah dan hal utama yang dapat kita lihat di Alkitab tentang pernikahan adalah bahwa pernikahan itu untuk kemuliaan Allah,Pernikahan adalah karya Allah disini ada empat cara untuk melihat hal ini dengan jelas dan lengkap dalam kejadian 2:18-25. Pertama Pernikahan dirancang oleh Allah,kedua Allah mengantarkan pengantin yang pertama,ketiga Allah menjadikan Pernikahan nyata,keempat Allah menetapkan Suami istri menjadi satu daging.
Menurut Ir Jarot Wijanarko dalam bukunya Pernikahan bahagia, Menikah untuk menjadi satu bukan menjadi sama orang akan frustasi jika menikah dan menargetkan untuk menjadi sama.bukan untuk menjadi sama tetapi untuk saling melengkapi.Dan untuk itu terima belajarlah untuk menerima apa adanya pasanganmu karakter maupun sifatnya.dengan mulai menerima satu sama lain akan terjadi perubahan kearah perbaikkan.Penerimaan membuat seseorang merasa bahagia dan sering dari sikap hati bahagia justru muncul perbuatan-perbuatan yang simpatik    

PERCERAIAN
Dalam Matius 19:8 Yesus berkata bahwa Musa 'mengizinkan' perceraian, hanya karena ketegaran hati umat Israel. Artinya, Musa tidak memerintahkan perceraian, tapi mengatur praktik hidup yg nyata ada, dan bentuk hukum dalam Ulangan 24:1-4 sebaiknya dipahami dalam pengertian ini. Dan ayat 4 memuat peraturan yg nyata itu. Bagaimanapun terjemahannya, dari bagian ini dapat disimpulkan bahwa perceraian dipraktikkan, dan semacam perjanjian diberikan kepada si istri, kemudian sang istri ini bebas menikah lagi.

Alasan-alasan perceraian di sini diberikan dalam kaidah-kaidah umum, sehingga tafsiran yg tepat dan pasti tak dapat diberikan. Suami mendapati 'sesuatu yg tidak senonoh' pada istrinya. Kata-kata Ibrani 'erwat davar (harfiah, 'sesuatu yg telanjang'), terdapat hanya sekali lagi sebagai ungkapan dalam Ulangan 23:14. Tidak lama sebelum zaman Kristus sekolah Syammai menafsirkan ungkapan itu hanya sebagai ketidaksetiaan, tapi sekolah Hillel memperluas artinya menjadi sesuatu yg tidak menyenangkan bagi suami. Perlu kita ingat, bahwa Musa di sini bukanlah hendak menyatakan dasar-dasar perceraian, tapi menerima perceraian itu sebagai fakta nyata.

Ada dua hal yg menyebabkan perceraian dilarang: pertama, jika seseorang mengajukan tuduhan palsu terhadap istrinya, bahwa sebelum pernikahan mereka, istri itu sudah melakukan persetubuhan (Ulangan 22:13-19); kedua, jika seorang laki-laki bersetubuh dengan seorang perempuan, dan bapak perempuan itu memaksa laki-laki itu kawin dengan anaknya (Ulangan 22:28-29; Keluaran 22:16-17).

Ada dua kekecualian dan yg mendesak perceraian dilakukan. Kekecualian itu ialah orang-orang Yahudi buangan yg kembali dari pembuangan telah kawin dengan perempuan non-Yahudi (Ezra 9-10; Nehemia 13:23 dab). Dalam Maleakhi 2:10-16 ada yg menceraikan istrinya sekalipun orang Yahudi, supaya bisa kawin dengan perempuan non-Yahudi.

Membandingkan ucapan Tuhan Yesus dalam Matius 5:32 dengan Matius 19:3-12; Markus 10:2-12; Lukas 16:18 nampak bahwa Dia mencap perceraian dan kawin kembali sebagai perzinaan. Tapi tidak dikatakan bahwa manusia tidak boleh menceraikan apa yg sudah dipersatukan Allah. Kedua bagian Mat di atas mengatakan bahwa hanya percabulan atau persundalanlah yg boleh dijadikan dasar untuk menceraikan istri, walaupun ucapan itu alpa dalam Markus dan Lukas. Percabulan atau persundalan di sini biasanya dianggap sama dengan perzinaan; dan sejalan dengan itu tingkah laku umat Israel sebagai istri YHVH dicap sebagai perzinaan (Yeremia 3:2-3; Yehezkiel 23:43); dalam Ekklus 23:23 istri yg tidak setia dituduh melakukan zina dalam percabulan (bnd juga 1 Korintus 7:2).

Alasan mengapa 'terkecuali' alpa dalam Markus dan Luk mungkin adalah karena orang Yahudi, Romawi maupun Yunani menyangsikan bahwa perzinaan dapat dijadikan dasar untuk perceraian, sementara para penginjil menganggap zina hukum yg teguh. Sejalan dengan itu, dalam Roma 7:13, sambil merujuk ke hukum Yahudi dan Romawi, rasul Paulus tidak menyebut kemungkinan perceraian karena perzinaan, padahal hukum kedua bangsa itu memuatnya.

Teori-teori lain mengemukakan makna lain dari ucapan Tuhan Yesus itu. Sebagian mengenakan percabulan kepada kelakuan pra-nikah, yg diketahui oleh suami sesudah nikah. Yg lain berpendapat bahwa kedua pihak mengetahui kemudian bahwa mereka dalam tali kekerabatan yg terlarang menikah. Tapi yg terakhir ini terlalu ganjil menjadi dasar kekecualian khusus dalam ucapan Tuhan Yesus itu. Ada golongan yg mengartikan kata-kata itu menghalalkan perceraian, tapi tidak menghalalkan kawin kembali. Namun sukar sekali menarik kesimpulan bahwa Matius 19:9 tidak mengizinkan menikah lagi; dan dalam kehidupan orang Yahudi tidak terdapat perceraian tanpa boleh menikah lagi.

Ada yang meragukan keaslian Markus 10:12, karena biasanya perempuan Yahudi tidak boleh menceraikan suaminya. Tapi seorang istri boleh mengadu ke pengadilan tentang perlakuan suaminya terhadap dia, dan pengadilan dapat memaksa suami menceraikannya. Lagi pula, Tuhan Yesus mungkin mengingat hukum Yunani dan Romawi, dan menurut kedua hukum itu istri boleh menceraikan suaminya, seperti Herodias menceraikan suaminya yg pertama.

Ada pendapat yg teguh pada golongan Protestan dan Katolik, bahwa 1 Korintus 7:10-16 mengemukakan dasar yg lain untuk perceraian. Di sini rasul Paulus mengulangi ajaran yg diberikan Tuhan Yesus, tatkala Dia masih di bumi ini, lalu, dengan pimpinan Roh Kudus, memberikan ajaran yg melebihi apa yg diberikan oleh Tuhan Yesus, sebab situasi baru sudah timbul. Jika dalam pernikahan non-Kristen satu pihak bertobat kepada Kristus, yg bertobat itu tak boleh meninggalkan teman hidupnya. Tapi jika pihak yg tidak bertobat itu mendesak perceraian, maka 'dalam hal yg demikian saudara atau saudari tidak terikat'. Kalimat terakhir ini tak mungkin berarti bahwa mereka bebas bercerai, tapi harus berarti bahwa mereka bebas untuk menikah lagi. Dasar terakhir ini, yg sekilas pandang pengenaannya terbatas, terkenal sebagai 'keluwesan Paulus'.
Pada zaman modern ini kekusutan pernikahan, perceraian, rujuk dan menikah lagi melibatkan gereja menghadapi masalah pelik mengurus orang-orang yg baru percaya dan anggota-anggota lama yg bertobat, sering terpaksa menerima kenyataan sebagaimana adanya. Seorang yg baru percaya yg sebelumnya bercerai dengan alasan-alasan yg sah atau tidak, dan yg sudah menikah lagi, tak dapat kembali kepada pasangannya semula, dan pernikahan kedua tak dapat dicap sebagai perzinaan (1 Korintus 6:9, 11).

Poligami diterima tanpa persetujuan yang jelas, namun ada hukum yang mengecamnya secara tidak langsung. Perceraian juga diijinkan, tetapi akhirnya dikecam pula secara langsung. Perceraian hampir tidak disinggung dalam hukum Perjanjian Lama, sebab pernikahan dan perceraian bukanlah kasus perdata seperti dalam kebudayaan masa kini. Kedua-duanya termasuk yuridiksi rumah tangga. karena itu, orang tidak harus pergi ke pengadilan untuk bercerai.

Hukum-hukum mengenai perceraian menyebutkan tentang keadaan yang tidak mengijinkan adanya perceraian dan aturan-aturan mengenai hubungan kedua belah pihak setelah perceraian terjadi. Dalam kedua kasus ini perlindungan terhadap perempuan rupanya menjadi pokok utama hukum-hukum tersebut. Dalam, Ulangan 22:28-29 ada larangan untuk menceraikan perempuan yang harus dinikahi oleh laki-laki yang telah memeperkosanya. Peraturan dalam Ulangan 24:1-4 menjadi pokok pertentangan antara Yesus dan orang Farisi. Peraturan itu tidak "memerintahkan" perceraian tetapi mengandaikan bahwa perceraian sudah terjadi. Dalam kasus ini, sang suami diminta menulis surat cerai untuk melindungi istrinya. Jika tidak, ia atau suami barunya yang kemudian dapat dituduh berzinah. Suami pertama dilarang mengambil kembali perempuan apabila suaminya yang berikut menceraikannya atau meninggal dunia. Dapat disebutkan lagi kasus perempuan tawanan yang hendak diceraikan dan tidak boleh dijual sebagai budak, kalau suaminya tidak merasa puas. Dalam hal itu perceraian tampaknya lebih baik daripada perbudakan. Setidak-tidaknya martabat dan kemerdekaan masih dipertahankan, bila dibandingkan dengan perbudakan (Ul 21:4).Dengan demikian perceraian ditoleransi dalam batas-batas hukum. dibandingkan dengan poligami, perceraian lebih jauh dari kehendak Allah.
Konsep yang toleran
Undang-undang dalam Kitab Pentateukh mendukung konsep perkawinan yang ideal ini dalam banyak aturan tertulis (misalnya Kel 20:17; 21:5; Im 18:8; 20:10; 21:13, Bil 5:12; Ul 5:21; 17:17; 22:22; 24:5). Tetapi undang-undang yang sama juga memberikan aturan yang toleran terhadap poligami dan perceraian sehingga menghasilkan konsep yang toleran tentang perkawinan, misalnya Kel 21:7-11; Ul 21:10-17; 24:1-4. Aturan-aturan yang mengijinkan poligami dan perceraian (sebagai ganti dari aturan monogami dan perkawinan yang langgeng) dalam perikop ini tergolong kepada aturan kasuistik. Aturan-aturan ini bukan aturan legal yang berlaku sepanjang masa, tetapi berlaku karena kasus yang terjadi dalam situasi tertentu. Dalam kekejaman perbudakan atau peperangan perkawinan, monogami tidak selalu dapat dipertahankan, sehingga terjadilah kasus poligami dan untuk itu dibutuhkan aturan yang melindungi hak perempuan dalam perkawinan itu (Kel 21:7-11; Ul 21:10-17). Dalam kebudayaan Israel kuno yang patriakhal perkawinan yang langgeng tidak selalu dapat dipelihara sehingga terjadilah kasus perceraian, untuk itu dibutuhkan aturan yang melindungi perempuan yang diceraikan atau yang membatasi kesewenang-wenangan laki-laki di dalam perceraian (Ul 24:1-4).
Konsep yang toleran tentang perkawinan ini, baik dalam kasus poligami maupun perceraian dikritik dalam Perjanjian Baru (Mat 19:1-9). Aturan kasuistik untuk perceraian disebabkan oleh ketegaran hati orang Yahudi (ay 7-8). Alasan perceraian hanyalah perzinahan (ay 9). Perkawinan monogami yang langgeng merupakan konsep perkawinan yang ideal (ay 4-6).
Konsep yang ideal dan toleran tentang perkawinan direfleksikan dalam Kitab-kitab sejarah. Pembahasan akan difokuskan kepada perefleksian konsep yang tidak ideal, kondisinya dan peringatan yang disampaikan. Pendekatan yang dipergunakan terhadap Kitab-kitab sejarah beraneka ragam, dalam hal mana pendekatan tersebut sangat menentukan gambaran perkawinan yang diperoleh. Pendekatan yang dipergunakan dalam bahasa ini adalah pendekatan bentuk Kanonis, yaitu pendekatan yang menganalisa perikop-perikop yang berbicara tentang perempuan dalam suatu kesatuan, tidak memisah-misah perikop tersebut sesuai dengan sumbernya, dan juga tidak menekankan pengaruh redaktur Deutronomik terhadap gambaran perempuan yang diberikan.
Beberapa bagian Kitab-kitab Sejarah memperlihatkan terjadinya perkawinan poligami dan perceraian, tetapi perkawinan seperti ini biasanya berupa kasus semata dan tidak permanen. Perkawinan poligami berlaku dalam kondisi khusus, yaitu kemandulan dan keinginan untuk memiliki banyak anak (1 Sam 1:2; 25:39-40; 2 Sam 3:1-5; Hak 8:30), kebutuhan raja akan hubungan diplomatik, cinta dan hawa nafsu (1 Raj 3:1; 11:3; 2 Sam 11:6), serta posisi sosial dan status ekonomi yang tinggi (1 Sam 1:2; 25:39; 2 Sam 3:1-5; 11:1; 1 Raj 11:3). Adalah suatu kenyataan bahwa seluruh Kitab-kitab Sejarah hanya melaporkan suatu perkawinan poligami yang terjadi diantara orang biasa (1 Sam 1:2).
Konsep yang refleksif
Kitab-kitab Sejarah memperlihatkan problema yang mungkin timbul dalam perkawinan poligami. Dalam hal ini, problema yang dikemukakan itu berfungsi sebagai peringatan bagi orang yang hidup di dalamnya atau bagi pembaca, bahkan berguna sebagai penolakan terhadap perkawinan poligami. Dalam kitab-kitab ini, hak, otoritas dan kebebasan laki-laki untuk memiliki lebih dari satu istri dibatasi oleh peringatan tersebut. Beberapa problema yang dikemukakan adalah bahaya penyembahan berhala khususnya dari istri asing (1 Raj 11:1-8), dan poligami biasanya menciptakan masalah dalam perkawinan, seperti persaingan di antara istri yang satu dengan yang lainnya (1 Sam 1:6), kematian keturunan (Hak 19), kemungkinan terjadinya kekacauan dan kejahatan yang berlipat ganda (2 Sam 4).
Bagian-bagian Kitab Sejarah yang amat menonjol di dalam membahas masalah perceraian berasal dari masa sesudah pembuangan. Orang Israel yang kembali dari pembuangan bukan saja mengawini perempuan asing. tetapi juga menceraikan istri Yahudi mereka (Ezr 9:13,10; 10:2,11,14,17,18,44; Neh 13:23-27; Mal 2:10-16). bahasan ini disertai dengan peringatan tentang bahaya yang mengancam umat Israel dalam hal kepercayaan, pemilikan dan pengontrolan tanah leluhur mereka, bahkan hukuman dijatuhkan bagi yang tidak mau menyesali perbuatannya yaitu kehilangan status politik dan religi dan hak penguasaan harta milik (Ezr 9:7-15; Neh 13:28).
Bab III Perkawinan dan Perceraian dari sudut pandangan Etika Kristen

Allah memaksudkan Pernikahan Kristen menjadi satu komitmen seumur hidup antara satu pria dan satu wanita. Sementara hubungan Pernikahan tidak meluas sampai kekekalan,pernikahan dimaksudkan untuk seluruh waktu kita bersama-sama didunia.Perceraian tidak pernah dibenarkan ,bahkan karena Perzinahan.Perzinahan adalah dosa dan Allah tidak menyetujui dosa manapun maupun terputusnya pernikahan.Apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia.(Matius 19:6).
Pernikahan adalah lembaga yang sakral yang tidak boleh dicemarkan oleh Perceraian khususnya oleh perceraian yang terjadi berulangkali.,Orang Kristen harus melakukan segala sesuatu dengan sekuat tenaga untuk mengagungkan Standar Allah mengenai Pernikahan monogami seumur hidup.

B. ANALISA

Banyak orang memiliki pemahaman yang salah tentang konsep Perkawinan dan perceraian,karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang benar tentang Alkitab akibatnya mereka akan membenarkan apa yang menurut pandangan mereka benar dengan alasan mereka mengutip beberapa ayat didalam Alkitab untuk membenarkan tindakan mereka.tetapi pada intinya Allah tidak menghendaki Perceraian karena Allah sendiri dengan jelas menentang perceraian karena Pernikahan adalah Karya Allah yang luar biasa oleh sebab itu orang percaya membutuhkan pertolongan Roh Kudus untuk memampukan kita melihat keindahan dari pernikahan itu.  


Bab IV Tindak Lanjut Terhadap Perkawinan dan Perceraian

A.Tinjauan Dari Sudut Pandang Iman Kristen

Apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia.(Matius 19:6). Pada dasarnya Perceraian dibenci oleh Tuhan,Pernikahan hanya dapat diakhiri oleh kematian 1 Korintus 7:39 Dalam Maleakhi 2:13-16 ada serangan yang tidak mengenal kompromi terhadap perceraian, yang memuncak dengan kecaman yang terang-terangan: "Aku membenci perceraian, firman Tuhan, Allah Israel". Tidak ada kecaman atas poligami yang setajam atau dilengkapi dengan argumen teologis yang kuat seperti itu, barangkali karena poligami hanya merupakan "perluasan" pernikahan yang melampaui batasan monogami yang dimaksudkan Allah, tetapi perceraian sama sekali menghancurkan pernikahan. Dalam kata Maleakhi, perceraian berarti "menutup [diri] dengan kekerasan"". Poligami menggandakan hubungan tunggal yang Allah kehendaki, sedangkan perceraian menghancurkan hubungan itu atau mengandaikan hubungan itu sudah hancur.

B.           Ditinjau dari konsep Alkitab
Kejadian 2:24-24 “ Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya sehingga keduanya menjadi satu daging.Pernikahan adalah satu kesatuan sangat mendalam seperti kristus dan gereja adalah satu tubuh Roma12:5
Markus 10:8-9 Allah mengokohkan pernikahan dalam Ayat ini maksudnya adalah kesatuan yang disebut satu daging ini adalah ciptaan-pekerjaan Allah ,bukan manusia Ayat 9 dalam markus 10 Karena apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia,jadi walaupun dua orang memutuskan untuk menikah dan orang lain yang berwenang yang mengesahkan kesatuan itu hanya bersifat sekunder actor utamanya adalah Allah.Allah menciptakan kesatuan yang kudus ini dengan tujuan yang kudus untuk menunjukkan kekuatan kasih ikatan perjanjianNya yang tak dapat dihancurkan, maka manusia tidak berhak menghancurkan apa yang telah diciptakan Allah.

Bab V Penutup
Konsep perkawinan yang ideal adalah perkawinan antara satu laki-laki dengan satu perempuan, yang membentuk kesatuan yang sangat intim, bukan hanya dalam fisik, tetapi dalam psikis, cinta, kasih, ekonomi dan segala kesulitan dalam kehidupan.Banyak hal yang dapat kita pelajari tentang Pernikahan yang sesuai dengan konsepnya Allah dan kudusnya pernikahan itu, ketika kita mengetahui makna sesungguhnya dari pernikahan itu. kita tidak akan mudah untuk melakukan hal-hal yang akan membuat Pernikahan tercemar hanya karena melihat kekurangan dan perbedaan dari pasangan dan dengan mudah mengambil keputusan untuk mengakhirinya dengan Perceraian karena sesungguhnya Arti penting dari Pernikahan adalah hal yang agung karena pernikahan meneladani sesuatu yang agung dan kasih yang mengikat laki-laki dan perempuan didalam pernikahan adalah Kasih yang agung sebagaiman kristus mengasihi jemaat.
Dan Allah sangat menentang perceraian karena Alkitab dengan jelas menulis apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia.karena itulah ikrar pernikahan Alkitabiah hanya memiliki satu batasan sampai kematian memisahkan atau seumur hidup.


Tugas Teologi Kontesktual


NAMA           : ARNI LETELAY
NPM               : 20100103
Strategi Don Richarson dalam Menjangkau Suku Sawi di Pedalaman Papua tahun 1962
Don Richarson adalah seorang misionaris yang melayani di Suku Sawi pedalaman Papua bersama keluarganya. Panggilannya terhadap suku-suku yang memiliki cara hidup tidak wajar, dimana kekejaman, berburu manusia sebagai santapan sehari-hari merupakan cara hidup mereka merupakan suatu panggilan yang sangat jelas dengan penuh kepastian. Kehadiran Don di Suku Sawi untuk mengubahkan pola pikir masyarakat suku sawi untuk meninggalkan budaya mereka yang kejam dan mengganti dengan kasih Kristus Yesus.
Dengan mengenal dan memahami budaya serta adanya harapan-harapan untuk suku Sawi, Don Richarson memulai pelayanannya. Suku sawi adalah salah satu suku yang tertinggal di pulau Papua. Suku sawi memelihara budaya secara turun temurun yaitu Pengayauan dan Kanibalisme, budaya Penghianatan, budaya Aumaway.
Budaya Pengayauan sering kali dihubungkan dengan symbol keberanian dan kejantanan dimana kepala-kepala yang telah dipenggal direbus dan dikeringkan seringkali bergantungan di rumah dan sering dipakai sebagai bantal kepala. Budaya Penghianatan menyebabkan suku Sawi menjadi kanibal. Menurut kepercayaan mereka yang telah diwarisi secara turun temurun dengan memakan daging manusia (kanibal) merupakan salah satu ambang pintu utama yang harus mereka lewati untuk mengenal hakekat tertinggi dari kehidupan Sawi dan menjadikan mereka mengerti kebaikan dan kejahatan. Budaya ini disebabkan karena dendam dan jebakan yang digunakan yaitu musuh dalam selimut. Disebabkan karena mereka mendengar kisah penghianatan Yudas, mereka menganggap Yudas adalah pahlawan, mereka kagum akan penghianatan yang dilakukan Yudas dan Kristus menjadi yang menjadi korban penghianatan tidak berarti apa-apa. Orang-orang sawi bukan saja kejam tetapi juga menghormati kekejaman.
Budaya Aumaway ialah orang yang sakit dan tidk berdaya dipaksa mati sebelum waktunya. Orang yang pingsan, tidak sadarkan diri atau dalam keadaan koma sudah dianggap mati. Orang sakit yang sudah mati diupacarakan yang disebut gefam ason yang bertujuan supaya mereka mengalami pembaharuan tubuh dan mereka tidak mengalami kematian lagi. Persoalan yang sedang dihadapi oleh suku Sawi adalah persoalan rohani yang belum mereka temukan jawabannya. Selama ribuan tahun kebudayaan Sawi telah berjuang tanpa dapat memberikan jawaban yang memuaskan, hanya Injil yang bisa menghentikan kebiasaan/budaya suku Sawi.
Strategi yang dilakukan Don Richarson adalah mempelajari bahasa dan budaya orang Sawi, mengajar orang-orang Sawi untuk membaca dalam bahasa sawi dan menerjemahkan seluruh Perjanjian Baru ke dalam bahasa orang Sawi, mencari analogi untuk menjadi jembatan Injil. Don Richarson akhirnya memahami konsep anak perdamaian yang dilakukan suku Sawi. Konsep anak perdamaian digunakan oleh Don Richarson untuk menyampaikan pekabaran tentang Allah yang pengampun. Allah telah mengutus Putera-Nya untuk menjadi pendamai dan mengakhiri perang terhadap dosa dan kematian. Suku sawi dan haeman membutuhkan anak perdamaian untuk menemukan kedamaian. Kedamaian itu dapat dimiliki hanya jika hidup dan mencintai sama seperti Dia yang telah memanggil umat-Nya. Anak Perdamaian Allah, Tuhan kita Yesus Kristus.
Tanggapan:
Hati misi yang ada pada Don Richarson membuat setiap orang percaya atau hamba Tuhan dapat melayani setiap orang-orang yang masih hidup dalam budaya primitive. Dengan pola-pola yang digunakan oleh Don Richarson, kita dapat belajar mengerti dan belajar bahasa dari suku yang kita layani, mempelajari budaya orang-orang yang kita layani, mengajar membaca untuk orang-orang di tempat kita melayani sehingga ketika kita mengabarkan Injil, mereka dapat memahami, menerima Injil, dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru selamat. Dengan budaya yang ada juga kita dapat memperkenalkan Kristus dalam kehidupan orang-orang kita layani.  

 
Pemanfaatan Ritual Ma’nene’ dalam Masyarakat Toraja sebagai Jalan Masuk untuk Kesaksian Injil
Suku Toraja merupakan salah satu suku yang berasal dari Indonesia, dengan memiliki banyak kekayaan alam dan budaya membuat suku Toraja sangat terkenal dan banyak dikunjungi oleh para wisatawan dalam maupun luar negeri. Suku Toraja sudah menerima Injil dari para misionaris yang datang ke suku itu sehingga tidak heran bahwa Suku Toraja merupakan salah satu penduduk yang bermayoritas Kristen. Suku Toraja dengan kebudayaannya yang unik, dengan julukan Land of the Heavenly Kings yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain di dunia ini dan masih hidup hingga sekarang ini. Begitu banyak situs tua yang bisa dikunjungi, termasuk pekuburan leluhur seperti situs makam pahat di Lemo, makam goa purba di Londa, menhir padi dan megalit di antara persawahan, serta makam aristocrat. Selain itu suku Toraja terkenal dengan adat istiadat yang masih sangat kental, salah satunya yaitu budaya/ritual ma’nene.
Upacara ma’nene’ adalah salah satu kegitan ritual adat Toraja, khususnya di Barrupu, Rinding Allo, Toraja Utara, upcara ini adalah untuk mengganti pakaian Almarhum sebagai perwujudan rasa cinta dari keluarga yang masih hidup. Upacara ini diadakan pada  bulan agustus dan caranya adalah peti-peti leluhur, tokoh dan orang tua dikeluarkan dari makam-makam dan liang batu (kuburan batu adalah kuburan khas orang Toraja, kuburan ini biasanya terletak di lereng-lereng bukit/gunung batu). Mayat-mayat ini dikeluarkan dan diganti busana mereka dengan busana baru. Orang-orang yang melaksanakan upacar ini tetap berharap, arwah leluhur menjaga mereka dari gangguan jahat, hama tanaman, juga kesialan hidup.
Upacara ini diadakan dengan memotong kerbau dan babi. Ketika ritual Ma’nene’ diadakan, para perantau asal Barrupu akan pulang kampong demi menghormati leluhurnya. Warga Barrupu percaya, jika ritual Ma’nene’ tidak digelar maka leluhur akan menjaga mereka. Kesetiaan mereka terhadap amanah leluhur melekat pada setiap warga desa, meskipun warga Barrupu salah satu dari suku Toraja yang sudah menerima Injil.
Ritual berasal dari sebuah kisah seorang pemburu binatang yang bernama Pong Rumasek dimana saat ia sedang berburu bukannya menemukan binatang tetapi menemukan mayat. Ia merawat mayat itu karena merasa kasihan, dengan cara membungkus tulang-tulang mayat itu dengan pakaiannya dan diletakkan di areal yang lapang dan layak. Setelah itu, Pong Rumasek selalu mendapatkan hasil buruannya dan sesampainya di rumah tanaman padinya sudah menguning dan siap dipanen. Sejak saat itu. Pong Rumasek dan masyarakat Barrupu memuliakan mayat para leluhur. Tokoh dan kerabat dengan upacara Ma’nene’.
Tanggapan:
Adat-istiadat dan kebudayaan sudah mendarah daging oleh setiap suku yang ada di dunia ini. Setiap manusia yang lahir tentunya tidak bisa menolak yang namanya budaya dan secara tidak sadar setiap manusia dibesarkan dengan budaya yang ada di daerah masing-masing. Salah satunya suku Toraja yang memiliki adat istiadat dan kebudayaan yang dijaga sampai saat ini, misalnya upacara ma’nene’ yang begitu dihargai oleh mereka. Meskipun bertentangan dengan apa yang diajarkan ternyata mereka lebih menghormati kebudayaan karena mendapatkan malapetaka ketika mereka tidak melakukan ritual tersebut.
Masyarakat Toraja banyak yang menjadi Kristen tetapi ketika upacara ini diadakan mereka tetap melakukannya seakan-akan mereka tidak percaya dengan Injil yang telah mereka terima karena takut mendapatkan kutuk dari para Leluhur. Ini menjadi tugas bagi setiap hamba-hamba Tuhan yang melayani di suku Toraja ini, untuk memberi pemahaman kepada masyarakat Toraja bahwa yang memberikan kehidupan, berkat, kesejahteraan, musibah di dunia ini hanyalah Tuhan karena Dialah yang berkuasa atas dunia ini.
 

Rambu Solo sebagai gerbang memasuki Alam Kekal
Suku Toraja merupakan suku yang memiliki kekayaan alam dan budaya yang masih sangat kental, terus dipelihara sampai saat ini. Menurut kepercayaan orang Toraja, kehidupan di dunia ini hanya sementara saja setelah mereka meninggal maka mereka akan kembali ke atas yaitu tempat mereka berasal. Sehingga menurut kepercayaan ada tiga dewa yang mereka percayai yaitu Gaun Tikembong, Pong Banggairante dan Pong Tulakpadang. Puang Matua tinggal di Zenit, pusat atau puncak langit. Dialah yang menciptakan ritus-ritus dan manusia pertama bersama nenek moyangnya, tanaman-tanaman, binatang dan benda-benda mati. Penciptaan itu dilakukan di langit, kemudian barulah ciptaan itu diturunkan ke dunia tengah (bumi).
Menurut kepercayaan orang Toraja, setelah meninggal ia akan kembali kekehidupan semua. Kembalinya kesana dijamin oleh pelaksanaan ritus-ritus yang diwajibkan mulai dar kehidupan sampai kematian. Ritus kematian atau Rambu solo yaitu cara orang Toraja menguburkan orang mati. Dalam upacara Rambu Solo ada beberapa faseyang dilakukan sebelum yang meninggal dikuburkan. Fase-fase itu antara lain: yang pertama dinamakan Ma’karudusan, dimana akan dipotong dua ekor kerbau, yang kedua Ma’pasa’tedong dimana semua kerbau yang telah disepakati untuk dijadikan korban akan dikumpulkan di halaman tongkonan tempat jenazah dimakamkan. Puncak acara ialah semua kerbau yang akan dikorbankan dipotong dan dibagikan sesuai adat yang berlaku.
Kepercayaan ini terus dilakukan karena menurut mereka jika seseorang yang meninggal belum diupacarakan, maka ia akan menjadi arwah dalam wujud setengah dewa. Upacara rambu solo tidak bisa dipisahkan dengan kebudayaan masyarakat Toraja, sehingga akan terus diturunkan sampai ke semua keturunan.. ini yang menjadi pergumulan bagi setiap orang-orang suku Toraja untuk memenuhi setiap ritual dari kebudayaan mereka. Karena ini ada kewajiban bagi setiap keluarga suku Toraja untuk menjalankan upacara ritual ini, sehingga tidak heran jika upacara ini diadakan banyak keluarga yang berhutang karena tidak mampu membiayai pelaksanaan upacara ini. Bertemunya Injil dan Budaya tentu akan menjadi suatu pertentanga bagi setiap suku yang sudah hidup dalam kebudayaan mereka masing-masing, termasuk suku Toraja ini. Meskipun banyak sudah menjadi Kristen tetapi yang namanya kebudayaan tidak pernah lepas bahkan hilang dari kehidupan mereka. Sehingga mereka masih mengutamakan kebiasaan dari budaya mereka. Dengan adanya pengetahuan dan wawasan dari setiap anak-anak Tuhan yang melayani di suku Toraja ini dapat membuka wawasn mereka untuk membedakan mana yang harus dilakukan dan mana yang harus dibuang meskipun banyak pertentangan dan penolakan. Tetapi dengan penyertaan Kristus dan Kasih-Nya memampukan setiap kita yang melayani di berbagai suku dengan baik dan tanpa adanya perselisihan.

4 Maret 2013

Reflesi Misi Holistik

Reflexi 6, Misi Holistik . 24/2-'13

By: Efraim / 20100106

Dosen : Adrianus Pasassa, M.A


Mat 4:23 ¶ Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam
rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta
melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.24
Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah
kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai
penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang
lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka.25 Maka orang banyak
berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari
Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.

Hampir dipastikan bahwa bentuk atau pola pelayanan Yesus adalah
holistik. Yesus dalam melayani selalu pasti ada sisi rohaninya dan
sisi jasmaninya. Sisi jasmani di sini yang paling menonjol adalah
masalah, kesehatan dan kebutuhan sehari-hari. Namun bila diperhatikan
pola itu,bukan hanya menunjukkan ada dua sisi pemenuhan kebutuhan,
tetapi juga atas dasar inisiatif siapa pelayanan itu dilakukan, apakah
dari manusia sendiri yang mencari Tuhan atau Tuhan yang datang kepada
mausia. Jika diperhatikan pola pelaynan Yesus, maka yang berinisiatif
pertama adalah Yesus sendiri. Awal perikop di atas ada frase "Yesuspun
berkeliling…mengajar,…memberitakan,….melenyapkan…", artinya bahwa
Yesus tidak seperti seorang dokter spesialis yang duduk di kantor atau
rumah pribadinya menunggu sampai pasien yang datang kapadanya,
meskipun hal itu bisa saja dilakukan oleh Yesus, tetapi di sinilah
perbedaan antara pelayanan yang di dasarkan pada profesi dengan
pelayanan yang di dasarkan pada "kasih", hati yang dipenuhi belas
kasihan, kerinduan, kepedulian yang tak terbendung. Dan semua itu
muncul bukan sekadar karena tahu bahwa orang-orang itu butuh
disembuhkan atau dipenuhi kebutuhan jasmaninya, tetapi ada kerinduan
yang lebih dalam dari sekadar semua itu, yaitu Dia rindu setiap orang
kebutuhan jiwanya dipenuhi yaitu memiliki harapan yang pasti yaitu
keselamatan kekal setelah meninggalkan dunia yang sementara ini. Maka
dampak dari pelayanan yang didasarkan pada motifasi atau kerinduan
seperti itu m, engakibatkan respon balik yaitu, ketika "tersiar" oleh
kesaksian orang-orang yang mengalami lebih dahulu, membuat orang-orang
lain berikutnya "maka datang,..membawa orang lemah,..berbondong
bonding,…mengikuti Dia…". Dapat disimpulkan bahwa pola pelayanan Yesus
yang holistik adalah "pelayan memiliki hati yang punya inisiatif
karena ada kerinduan orang mengalami pengharapan bahwa di dalam Yesus
ada kelepasan dari kuasa penyakitm tetapi juga ada harapan kekekalan,
karena pemberitaan Injil Kerajaan Allah, di mana kerajaan Allah itu
sendiri buka hanya dapat dinikmati pada waktu yang aka datang tetapi
juga waktu sekarang ketika Kristus ada dalam hidup kita memerintah
sebagai Raja dan Tuhan atas semuanya.


Reflexi 5, Misi Holistik . 18/2-'13

By: Efraim / 20100106

Dosen : Adrianus Pasassa, M.A.


Mark 6:37 Tetapi jawab-Nya: "Kamu harus memberi mereka makan!" Kata
mereka kepada-Nya: "Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus
dinar untuk memberi mereka makan?"38 Tetapi Ia berkata kepada mereka:
"Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah
memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan."39 Lalu Ia
menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di
atas rumput hijau.40 Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada
yang seratus, ada yang lima puluh orang.41 Dan setelah Ia mengambil
lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap
berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada
murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu
juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.42 Dan
mereka semuanya makan sampai kenyang.

Peristiwa Nats di atas menunjukkan bahwa Yesus dalam pelaynan-Nya
bersama-sama murid-murid mau mengajarkan kepada murid-murid dan kita
saat ini bahwa dalam melakukan pelayanan tidak hanya memperhatikan
hal-hal rohani tetapi juga tak kalah pentingnya adalah masalah
jasmani. Yesus tahu apa kebutuhan mendesak orang-orang yang
berbondong-bondong mengikuti Dia saat itu. Dalam kondisi seperti itu,
Yesus tidak mau mengikuti saran murid-murid-Nya agar orang-orang yang
megikuti-Nya disuruh pulang saja ke rumah masing-masing, tetapi justru
Yesus menggunakan kesempatan itu untuk membuktikan bahwa Dia adalah
Tuhan sendiri yang sanggup melakukan apa yang tidak mungkin dilakukan
manusia. Pada peristiwa itu Yesus tidak hanya sekadar mengajarkan
bagaimana peduli akan kebutuhan yang mendesak atau sekadar mau
mengadakan mujizat, tetapi juga mengajarkan bahwa justru saat-saat
seperti itulah kesempatan untuk mengajar kepada semua orang bahwa apa
yang tidak mungkin manusia lakukan, Yesus Kristus sanggup dan
semuanya untuk memparkenalkan bahwa Yesus adalah benar-benar Tuhan
yang berkuasa atas kemustahilan, atau untuk memuliakan nama Tuhan.

Peristiwa dalam nats tersebut di sisi lain juga mau menunjukkan bahwa
murid-murid sendiri belum benar-benar mengenal siapa Guru mereka. Jika
tidak demikian, maka mereka seharusnya tahu tanggapan apa yang mereka
harus berikan kepada Yesus ketika mereka diperintahkan Yesus untuk
memberi makan orang sebanyak itu. Tetapi reaksi mereka adalah sama
dengan reaksi orang kebanyakan, bahwa hal itu tidak mungkin dapat
dilakukan dengan orang sebanyak itu. Hal ini mengajarkan bahwa tidak
secara otomatis orang yang mengikut Kristus, sekalipun mengaku bahwa
dia intim dengan Yesus, tidak tertutup kemungkinan belum benar-benar
mengena Kristus, apalagi yang suam-suam kuku.

Bagi saya pribadi peristiwa dalam nats di atas mengajarka kepada saya
bahwa ketika dalam pelayanan, tidak hanya memperhatikan kebutuhan
rohani orang yang dilayani, tetapu juga tak kalah pentingnya adalah
kebutuhan jasmani yang saat itu mendesak untuk dipenuhi. Dan dalam
melakukan pelayanan seperti itu bukan hal mudah, tetapi di situlah
dibutuhkan iman yang sungguh memparcayai bahwa bagi Yesus tidak ada
yang musthil. Dan dalam situasi yang seperti itulah kesempatan untuk
memparkenalkan bahwa Yesus adalah Tuhan ketika kuasa Tuhan dinyatakan
melalui pemenuhan kebutuhan orang itu, yang bagi orang dunia hal itu
tidak mungkin terjadi. Dalam hal ini kita tidak perlu
mengumbar-ngumbar bahwa apa yang sedang kita lakukan adalah kegiatan
rohani, sehingga dari golongan manapun yang dilayani bisa masuk, dan
dengan sendirinya ketika kita dengan tulus melayani setiap orang yang
diperhadapkan kepada kita, pada saat kuasa Roh Kudus bekerja orang itu
pasti dengan sendirinya percaya apa yang kita yakini, karena ketika
Roh Kudus bekerja, maka tidak ada orang yang sanggup lagi untuk
membantah-Nya. Peristiwa nats di atas tidak diceritakan bahwa Yesus
dan murid-murid hanya melayani orang percaya tetapi "orang banyak"
/"banyak orang", atau "orang-orang itu", artinya bahwa dalam melayani
tidak perlu melihat latar belakang atau ras dan golongan mana.


Reflexi 4, Misi Holistik . 11/2-'13

By: Efraim / 20100106

Dosen : Adrianus Pasassa, M.A.

Yoh 5:6 Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena
Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia
kepadanya: "Maukah engkau sembuh?"7 Jawab orang sakit itu kepada-Nya:
"Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila
airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang
lain sudah turun mendahului aku." 8 Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah,
angkatlah tilammu dan berjalanlah." 9 Dan pada saat itu juga
sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi
hari itu hari Sabat.

Misi holistik yang dilakukan Yesus nampak pada pola pelayanan-Nya.
Yesus memiliki pola pelayanan yakni, keliling, mencari, mendatangi,
bertanya, lalau menjawab persoalan tepat pada sasaran. Pada ayat-ayat
di atas adalah salah satu bukti bahwa pola pelayanan Yesus memang
demikian. Ketika Yesus menemukan seorang yang hidupnya sudah sekarat,
karena lumpuh dalam jangka waktu yang lama. Yesus tidak hanya merasa
kasian atau simpati, tetapi mendatangi orang itu, kemudian bertanya
tentang apa yang dibutuhkan orang sakit tersebut pada saat itu. Yesus
tidak bertanya tentang apakah orang itu sudah percaya Yesus atau
belum. Tetapi Yesus bertanya "apakah engkau mau sembuh?" meskipun
jawaban orang sakit itu tidak nyambung dengan apa yang ditanyakan oleh
Yesus, dan justru mempersalahkan orang disekitarnya, Yesus lalu
memberikan solusi yang sangat simpel, "Bangunlah, angkatlah tilammu
dan berjalanlah." Yesus tidak memberikan solusi dengan menambah
persoalan baru dengan berbagai pertanyaan atau syarat-syarat yang
harus dipenuhi orang sakit itu kalau mau sembuh. Yesus menjawab
persoalan langsung pada sasaran tanpa mengungkit apakah orang itu
percaya atau tidak kepada Yesus.

Setelah persoalan pokok orang itu terjawab, Yesus kemudian setelah
bertemu kembali dengan orang yang sudah disembuhkan itu, menegur
dengan tegas agar orang itu jangan berbuat dosa lagi. Artinya bahwa
pola pelayanan yang diterapkan Yesus, persolan utamanya (sedang
dialami) dijawab lebih dahulu, baru persoalan berikutnya (manyangkut
dosa atau yang sifatnya lebih privasi). Tantu saja pola pelayanan
seperti yang dilakukan Yesus tidak dipatok harus demikian, tetapi
prinsipnya tetap sama, yakni mengenali kebutuhan mendesak seseorang
pada saat itu, dan sebisa mungkin diusahakan memberikan jawaban pada
saat itu juga.

Dengan belajar dari pola pelayanan misi holistik yang dilakukan oleh
Yesus tersebut, akan sangat bermanfaat utuk dijadikan contoh bagaimana
cara melayani secara holistik, tanpa melihat latar belakang orang yang
membutuhkan pelayanan pada saat itu juga. Dan setelah persoalan utama
orang itu terjawab, barulah kita mulai masuk menyangkut hal-hal
berikutnya, seperti pengenalan akan manusia, dosa, dan siapa Tuhan
sesungguhnya yang layak dipercayai dan disembah.



Reflexi 3, Misi Holistik . 4/2-'13

By: Efraim / 20100106

Dosen : Adrianus Pasassa, M.A.


Kejadian 12:1-3

1 ¶ Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari
sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan
Kutunjukkan kepadamu; 2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang
besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau
akan menjadi berkat. 3 Aku akan memberkati orang-orang yang
memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan
olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."

Allah memilih, memanggil dan mengutus Abraham untuk menyatakan rencana
atau misinya kepada manusia. Sama halnya ketika Allah menciptakan
manusia pertama hingga zaman Abraham, Tuhan tidak mengatakan kepada
manusia - Adam, Nuh, Abraham bahwa mereka akan diberkati jika hanya
berdoa dan memuji Tuhan saja. Tuhan menjanjikan berkat justru dalam
bentuk materi atau yang kelihatan, seperti taman Eden dan segala
isinya, negeri (tempat tinggal), kambing domba, mendapat keturunan dan
keturunannya pun kembali diberkati seperti keturunan sebelumnya.

Demikian pun secara khusus Abraham, Allah memerintahkan dia pergi
meninggalkan rumah dan keluarganya ke tempat yang sama sekali Abraham
tidak kebayang seperti apa dan dimana lokasi tempat itu persisnya.
Meskipun demikian Allah tidak sekadar "mengusir" Abraham pergi keluar
dari rumahnya, tetapi Allah juga menjamin hidupnya secara fisik, yaitu
berkat-berkat secara jasmani, dan berkat itu tidak hanya sampai pada
Abraham saja tetapi berkat yang berkelajutan kepada keturunan Abraham.
Di sinilah dibuktikan bahwa sungguh misi Allah bagi manusia sagat
sempurna karena menyentuh dalam setiap aspek kehidupan manusia, ya
untuk kerohania, ya untuk jasmaniah.

Saya mau katakan lagi bahwa Allah kita bukanlah Allah yang tidak
sanggup melakukan hal-hal yang spektakuler dengan manciptakan manusia
seperti mesin robot yang dikendalikan oleh remot control. Artinya
bahwa tanpa manusia bekerja, atau tanpa berusaha sekuat tenaga, Allah
sanggup menyediakan kebutuha manusia dalam waktu sekejap. Allah
sangat bisa menyediakan keperluan Abraham kapanpun Abraham butuhkan.
Atau Allah tidak perlu mnyuruh Abraham pergi dari rumah keluarganya
lalu Allah memberkati mereka. Namun Allah tidak mau melakukan seperti
itu. Allah mau agar mansia berperan aktif menjadi agen misi Allah atau
kawan sekerja Allah mneyatakan misi-Nya di muka bumi ini. Dan justru
dalam seluruh aspek khidupanlah kuasa Alla dapat dinyatakan lebih
realistis dan efektif.

Dengan pemahaman seperti ini, maka akan sangat membantu ktika terlibat
dalam pelayanan baik di lembaga kekristenan maupun lembaga umum dalam
.pmerintahan. bahwa melakukan pelayanan misi holistic, itu berarti
tidak hanya dapat dilakukan di lingkungan kristiani, tetapi juga
seharusnya dapat dilakukan dalam masyatakat umum tanpa bawa nama agama
atau secara terang-terangan memberitakan Injl. Misalnya dapat dilakan
melalaui penyuluhan pembuatan produk teknologi pangan yang cocok
diolah dan dipasarkan dalam suatu daerah, atau melalui budi daya
peternakan unggas atau ternak lainnya. Atau penerapan berbagai
keterampilan yang sudah didapatkan melalui pelatihan-pelatihan di
sekolah. Dengan pola ini, dimungkinkan menjadi jembatan untuk mulai
secara pelan-pelan tapi pasti, nilai-nilai kristus ditanamkan,
misalnya bagaimana melakukan suatu usaha secara sehat, penuh
integritas- kedisiplinan, kejujuran dan ketelatenan dalam mengerjakan
sesuatu dan nilai-nilai lain yang bercirikan karakter ilahai dari
Kristus dapat ditaamkan. Atau mungkin juga dengan melalui sikap kita,
pola pikir kita, atau tindakan-tindakan reflex kita dapat membuat
orang penasaran untk bertanya mengapa ada perbedaan yang mencolok
dengan orang lain – dalam hal ptilaku kebaikan2 tantunya.



Reflexi 2, Misi holistik . 28/1-'13

By: Efraim / 20100106

Dosen : Adrianus Pasassa, M.A.



Kej. 6:14-22

14 Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus
kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan
dari dalam. 15 Beginilah engkau harus membuat bahtera itu:… 21 Dan
engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan; kumpulkanlah itu
padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka."

Dari perikop diatas, menunjukkan bahwa Allah menyelamatkan Nuh dan
keluarganya bukan hanya dari segi jiwanya, tetapi juga dari segi
jasamaninya, yaitu menyangkut kebutuhan hidupnya. Tuhan bisa saja
memlihara Nuh dan keluarganya tanpa perbekalan apa-apa karena Tuhan
sanggup melakukan mujizat untuk mengadakan kebutuhan jasmani mereka
kapan pun waktunya. Namun ha itu tidak dilakukan-Nya. Suatu prinsip
yang sudah ditetapkan Tuhan adalah, bahwa ada bagian yang Tuhan
lakukan dan bagian lainnya dikerjakan manusia. Dari tugas refleksi
pertama mata kuliah ini saya mengatakan bahwa dari sejak awal Tuhan
menciptakan manusia tidak menciptakan manusia hanya bisa memuji Tuhan,
berdoa, bersantai-santai, tetapi juga Dia menyediakan sarana,
keparluan/kebutuhan hidup untuk dikelola dan dipelihara. Maka jelas
bahwa sejak awal Allah sudah melakukan misi-Nya secacara holistic
(mencakup segala segi keperluan hidup manusia).

Peristiwa Nuh dan Keluarganya dapat menjelaskan kembali akan hal
tersebut. Tuhan tidak hanya mengarahkan Nuh apa yang harus dilakukan
dalam menghadapi penghukuman Tuhan kepada umat manusia yang sudah
mendukakan bahkan membuat Tuhan menyesal untuk menciptakan mereka.
Tuhan bisa saja berkata kepada Nuh: "Nuh, kamu dan keluargamu tenang
saja, diam saja di tempat, nanti kalau air bah datang, Akulah yang
akan melakukan hal yang spektakuler bagi kamu dan keluargamu, kamu
akan tiba-tiba berada di suatu tempat/bahtera atau suatu tempat yang
nyaman, jadi, tidak perlu takut". Hal ini sangat sanggup Allah lakukan
tetapi bukan hal itu yang diinginkan Tuhan bagi nuh dan bagi kita
umat_Nya. Dia tidak mau kita menjadi manusia yang manja, cengeng, dan
maunya hidup enak-enak saja. Tuhan melakukan misi-Nya bagi manusia
secara lengkap, bukan hanya sepihak. Allah memberikan anugerah
kepercayaan kepada manusia untuk melakukan dan menyelesaikan
bagiannya. Allah hanya memberikan gambaran, petunjuk atau arahan, dan
manusia yang melaksanakan. Bukan berarti bahwa rancangan misi Allah
tidak akan terlaksana tanpa partisipasi manusia, itu sama sekali
pemahaman yang keliru. Allah adalah Allah yang sanggup melakukan
segala sesuatu tanpa partisipasi atau bantuan dari manusia. Karya dan
misi Allah bagi dunia tidak dibatasi/tidak tergantung oleh keberadaan
atau ketiadaan manusia.

Maka jiaka demikian, kita/saya hanya bisa berkata, "Terima kasih Tuhan
atas augerah-Mu untuk mempercayakan kepada saya ikut terlibat dalam
mewujudkan misi-Mu bagi dunia ini, sunggu suatu penghargaan yang tak
dapat dinilai denga barang/hal yang berharga apa pun juga".

Itu berarti bahwa saya tidak boeh menyia-nyiakan anugerah kepercayakan
untuk dapat melayani jiwa-jiwa yang membutuhkan kasih sejati dari
Tuhan, tetapi juga membutuhkan kasih berupa materi.



Reflexi I, Misi holistik . 21/1-'13

By: Efraim / 20100106

Dosen : Adrianus Pasassa, M.A.


Kjadian 1:26 ¶ Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia
menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di
laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi
dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." 2:15 TUHAN
Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk
mengusahakan dan memelihara taman itu.

Sejak awal penciptaan, Allah tidak hanya menyuruh manusia melakukan
hal-hal yang sifatnya rohani, bahkan secara literatur dalam Alkitab
tidak menerangkan seperti itu (tentang hal-hal rohani), tetapi justru
yang dijelaskan secara gamblang seperti dua ayat di atas yaitu
mengenai bagaimana manusia harus bertanggungjawab/berkuasa memelihara
atau mengusahakan taman Eden dan segala yang ada di dalamnya. Hal itu
juga berarti bahwa Allah tidak menciptakan manusia hanya sekadar bisa
menikmati segala sesuatu yang telah diciptakan, tetapi juga harus bisa
bertanggungjawab dalam melestarikan dan mengusahakannya. Allah bisa
saja merancang kehidupan manusia dalam suasana yang serba enak dan
nyaman, tinggal menikmati apa yang ada tanpa berubat apa-apa. Namun
hal itu Tuhan tidak lakukan. Atau manusia cukup berdoa, memuji Tuhan,
beribadah setiap hari tanpa mengusahakan hal-hal yang lain.

Allah menciptakam manusia "menurut gambar dan rupa-Nya" bukanlah
berbicara secara fisik, melainkan secara sifat dan karakter bahwa
Allah adalah oknum yang juga "bekerja" terus menerus. Maka jika
pencipta saja "terus-menerus sibuk bekerja", apalagi yang diciptakan.
Dengan kata lain Allah tidak hanya memperhatikan hal-hal yan
"rohani", tetapi juga hal2 yang jasmani/materi, tentu Allah punya
tujuan di dalamnya, antara lain agar melaluinya nama Tuhan
dipermuliakan dan diperkenalkan secara sempurna. Meskipun sesungguhnya
hidup dalam Tuhan tidak ada lagi pembagian mengenai hal2 jasmani atau
rohani. Karena di dalam Tuhan segala aspek kehidupan seharusnya dapat
bersifat rohani, karena seperti dijelaskan sebelumnya yaitu semunya
bertujuan untuk mempermuliakan nama-Nya.

Dengan demikian, dari pemahaman inilah dapat ditarik kesimpulan bahwa
memang dari awal mulanya Tuhan merancang/memprogram kehidupan manusia
secara holistik untuk lebih efektif menyatakan kemuliaan-Nya di muka
bumi ini. Artinya bahwa antara hal-hal yang rohani dengan jasmani
harus dapat berjalan bersama-sam secara seimbang. Maka dari hal ini
saya dapat menyadari bahwa untuk melakukan pelayanan yang Tuhan
percayakan, tidak cukup mengurus hal-hal rohani, tetapi juga hal-hal
yang jasmani secara seimbang. Atau singkatnya, ORA ET LABORA harus
seimbang.

Pada ayat pertama di atas ada kata sifat "berkuasa", artinya bahwa
Tuhan sudah memberikan kepercayaan kepada manusia untuk menguasai apa
yang Allah sudah cipatakan/siapkan bagi manusia. Berkuasa bukan
berarti memparlakukan segala ciptaan Tuhan seenaknya atau semau-maunya
saja. Akan tetapi ayat kedua pada ayat di atas ada kata kerja
"mengusahakan dan memelihara", artinya bahwa di dalam "menguasaia"
segala ciptaan Tuhan itu harus ada tanggung jawab untuk mengusahakan
dan memelihara semua yang Tuhan berikan. Segala sesuatu yang Tuhan
ciptakan tidak akan bisa terawat, terpelihara, lestari, nyaman dengan
sendirinya tanpa ada usaha dari manusia. Artinya bahwa manusia
diberikan andil ikut memelihara, menjaga segala ciptaan TUhan yang
maha baik itu. Ada bagian Tuhan ada bagian manusia.

Inilah fungsi saya belajar misi holistic, agar ketika terjun dalam
pelayanan, tidak hanya menekankan kegiatan "rohani" tetapi harus
diseimbangkan dengan kegiatan "jasmani", yang menyangkut kebutuhan
sandang, pangan dan papan masyarakat. Dan hal ini sangat baik
dilakukan karena bisa dipakai sebagai jembatan untuk menyatakan Injil
bagi orang yang belum percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan
Juruselamat.

KUMPULAN KOTBAH DAN PUJIAN PENYEMBAHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA

  LINK KUMPULAN KOTBAH / RENUNGAN FIRMAN TUHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA (PAS)   1.        HIDUP YANG SUDAH DIBAHARUI https://www.youtu...