Blog ini berisi materi-materi yang berhubungan dengan mata kuliah Misiologi, Filsafat, Liturgika, Sosiologi, Etika Kristen, Teologi Kontekstual, Misi Holistik. Materi dalam blog ini didapat dari berbagai sumber dan juga tugas-tugas penulis selama kuliah serta beberapa tugas mahasiswa yang penulis ajar. Jika mengambil data dari blog ini, mohon mencantumkan blog ini sebagai sumber, dengan demikian kita belajar menghargai karya orang lain. Semoga tulisan dalam blog ini menjadi berkat....
19 Maret 2020
18 Maret 2020
Bapak Reformasi Gereja
Mengenang Luther sebagai Bapak Reformasi Gereja* - Baca selengkapnya di artikel "Martin Luther & 95 Nota Protesnya yang Melahirkan Kristen Protestan"
Sejarah Gereja pada 18 Februari untukn Protestan tidak muncul dari ruang kosong. Ia lahir dari pemberontakan terhadap ajaran Katolik Roma. Dan dalang perlawanan itu adalah Martin Luther. Luther lahir di Eisleben, Saxony (sekarang Jerman), daerah kekuasaan Holy Roman Empire, pada 10 November 1483. Memang banyak pemikir besar yang lahir di antara abad ke-14 sampai ke-17—suatu periode yang dikenal dengan nama Renaisans. Kala itu tak akan ada yang menduga Luther juga akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pemikir besar bidang keagamaan. Sebagaimana dicatat laman Britannica, pada umur 13 Luther bersekolah di Brethern of the Common Life yang mengajarkan pentingnya meditasi dan pemulihan batin. Siswa di sekolah itu juga kerap mengkritisi aksi-aksi spiritualitas yang cenderung spekulatif. Ayah Luther, Hans, tidak menghendakinya sebagai pastor. Dia mengharapkan Luther bisa menjadi pengacara. Hans kemudian mengirim Luther yang berusia 15 ke sekolah St. George's di Eisenach. Tiga tahun kemudian Luther melanjutkan pendidikan ke Universitas Erfurt dan mendalami aritmatika, astronomi, geometri, dan filsafat. Urusan keagamaan dan teologi semakin jauh dari Luther muda. Cerita klise yang biasa kita temui dari pemuka agama adalah kisah masa lalunya kala merasa mendapat panggilan Tuhan dan menjadikannya rohaniwan. Luther juga punya momen seperti itu. Laman History mencatat, satu ketika di bulan Juli 1505, Luther terjebak di tengah badai besar yang hanya berjarak beberapa jam naik kuda dari Erfurt dan petir hampir menghantamnya. Luther terpelanting dan jatuh dari kudanya. Rasa takut akan kematian mendera Luther yang berumur 21 tahun dan membuatnya bersumpah atas nama St. Anne, ibu dari Bunda Maria, bahwa dirinya akan menjadi rahib jika nyawanya selamat. Momen itulah yang membuat Luther menempuh jalan asketisme. Dia masuk ke biara St. Augustine di Wittenberg dan mendalami teologi meski sudah lulus dari sekolah hukum. Saat itu tak ada satupun orang yang membayangkan Luther akan menjadi salah satu mimpi terburuk Katolik Roma. 95 Nota Protes Pada 1512, tiga tahun setelah Luther mengajar di Universitas Wittenberg, Paus Leo X menjalankan praktik indulgensi yang baru di mana pengampunan dosa bisa didapat oleh siapapun. Syaratnya hanya dua: mau dan punya uang. Paus Leo memang sedang menggalang dana untuk rekonstruksi Basilika Santo Petrus di Roma. Salah satu yang sangat mendukung langkah ini adalah biarawan Johann Tetzel dari Ordo Dominikan. Jangankan kepada yang masih bernapas, Tetzel meyakini indulgensi bisa diberikan kepada mereka yang sudah meninggal, asalkan dengan bayaran. Renaisans membuka pengetahuan dalam skala yang lebih luas. Efek yang bersamaan timbul adalah aktivitas pelayaran dan perdagangan antarsamudra menjadi lebih sering dilakukan daripada abad-abad sebelumnya. Era ini juga memunculkan intelektual seperti Luther yang menentang tindakan gereja yang dianggap tidak masuk akal. Luther yang geram terhadap pemahaman indulgensi gereja kemudian melakukan tindakan nekat. Baginya, indulgensi macam itu justru bertentangan dengan doktrin bahwa pengampunan datang dari iman dan karunia ilahi. Luther membawa palu kemudian mengayunkannya keras-keras ke paku di pintu gereja Wittenberg pada 31 Oktober 1517. Dia mematri 95 dalil yang sebagian besar isinya mempertanyakan keputusan Paus tentang indulgensi. Kendati sebagian orang meragukan aksi Luther, Theses 95 yang juga dikenal dengan Disputation on the Power of Indulgences diingat sampai sekarang sebagai awal mula berdirinya Kristen Protestan dan diperingati sebagai Hari Reformasi setiap tanggal 31 Oktober. Baca juga: 500 Tahun Setelah Martin Luther Mengkritik Gereja Gereja saat itu adalah salah satu pembawa berita yang paling utama. Tulisan Luther segera diterjemahkan dari bahasa Latin ke bahasa Jerman. Dalam dua minggu, seantero Jerman sudah mengetahui tulisan itu dan dua bulan setelahnya penyebaran mencapai hampir seluruh Eropa. Katolik Roma tentu tidak terima. Pada 1518 Paus Leo mendeskripsikan Luther sebagai "biarawan yang mabuk" dan tidak menanggapi lebih jauh terkait isi dalil-dalil tersebut. Luther dipanggil Kardinal Thomas Cajetan agar mengaku bersalah atau terpaksa mengikuti persidangan. Thomas meninggal di awal tahun 1519, Luther berhasil lolos untuk sementara. Tidak kapok, Luther kemudian muncul pada debat publik di Leipzig pada 1519. Dia mengatakan, "orang awam yang dipersenjatai kitab suci lebih unggul dari Paus beserta dewan kardinalnya." Akibatnya Luther langsung mendapat ancaman ekskomunikasi. Pada debat yang sama, istilah Lutheran mulai terkenal. Paus Leo yang sudah muak dengan tindakan Luther lantas mencapnya sebagai bidah dan sesat. Luther kemudian dituntut agar menarik kembali segala ucapannya terkait indulgensi. Surat berisi gugatan itu dibakar oleh Luther. Dia malah mengeluarkan tiga risalah lain. Pertama berjudul "Seruan kepada Bangsawan Kristen" yang berpendapat bahwa semua orang Kristen adalah imam dan mendesak para penguasa untuk mengambil jalan Reformasi gereja. Kedua, "Tawanan Babilonia Gereja", yang mengurangi tujuh sakramen menjadi hanya dua berupa pembaptisan dan Perjamuan Kudus. Ketiga, "Tentang Kebebasan Seorang Kristen" yang mengatakan kepada orang-orang Kristen bahwa mereka sudah terbebas dari hukum Taurat dan telah digantikan ikatan cinta pada hukum tersebut. Pada 1521 dia resmi terkena ekskomunikasi. Penghakiman pada Luther belum selesai. Kaisar Holy Roman Empire, Charles V, memanggil Luther untuk mengikuti Diet of Worms, sidang yang digagasnya untuk mendesak Luther mengubah pandangan yang tertuang dalam "95 Dalil", termasuk 24 tulisannya yang lain. Sidang digelar di Worms, salah satu kota di Jerman. Namun Luther bergeming dan tidak mengubah apapun. "Kecuali saya diyakinkan oleh kesaksian Alkitab atau alasan jelas. Saya terikat dengan Alkitab yang saya kutip dan hati nurani saya terikat dengan firman Allah. Saya tidak bisa dan tidak akan menarik apapun, karena itu tidak aman dan tidak benar melakukan yang bertentangan dengan hati nurani saya. Saya tidak bisa melakukan sebaliknya. Ini sikap saya. Semoga Tuhan menolong saya, Amin," kata Luther seperti dicatat dalam The Cambridge Companion to Martin Luther (2003). Penyebaran dan Konflik Setelah persidangan itu, Luther terancam tidak aman. Frederick III atau Frederick si Bijak yang merupakan penentu pewaris takhta Holy Roman Empire menjamin agar Luther bisa berangkat dan pulang dengan aman dari persidangan. Saat itu Luther tak ditangkap di Worms. Alih-alih membawanya kembali ke Wittenburg, Frederick mengambil keputusan mengantar Luther ke Kastil Wartburg untuk mengungsi selama 10 bulan. Selama pengungsiannya, Luther banyak berkirim surat dengan pendukung di Wittenberg. Kaum Lutheran semakin banyak, bahkan ada tiga pendeta yang memutuskan untuk menikah sebagai aksi protes. Pada 1522 Luther sudah aman untuk pulang ke kediamannya di Wittenberg. Pada 1534 Luther membuat gebrakan lain dengan menerjemahkan Alkitab ke bahasa Jerman. Selain mengakrabkan bahasa Jerman ke seluruh dunia, orang tidak perlu lagi bergantung pada imam untuk memahami dan membaca Alkitab. Namun kedamaian belum rampung. Konflik gara-gara Reformasi yang digagas Luther terjadi di mana-mana. Salah satu yang paling besar adalah Perang Petani tahun 1524 yang menuntut pembebasan lahan dari bangsawan dan pemilik tanah. Luther sendiri tidak mendukung aksi tersebut. Meski perang berhenti tahun 1525, sekitar 100 ribu petani meninggal dunia. Puncak dari konflik berdarah tersebut adalah Perang Tiga Puluh Tahun di Jerman antara 1618- 1648 yang menewaskan sekitar 7,5 juta jiwa. Konflik kedua kubu berakhir dengan perjanjian damai Westfalen. Tiga aliran Kristen akhirnya diakui: Katolik Roma, Lutheran, dan Calvinis. Ajaran dan pengaruh Luther abadi pada kaum Protestan. Tidak hanya tiga aliran itu, masih banyak lainnya yang berkembang dan bertahan hingga sekarang seperti Presbiterian, Kongregasional, Baptis, Pantekosta, atau Bala Keselamatan. Pada 18 Februari 1546, tepat hari ini 474 tahun lalu, Luther meninggal. Bagi banyak orang, Luther dianggap telah "mengubah dunia". Warisan yang ditinggalkannya belum juga pudar.
Sejarah Gereja pada 18 Februari untukn Protestan tidak muncul dari ruang kosong. Ia lahir dari pemberontakan terhadap ajaran Katolik Roma. Dan dalang perlawanan itu adalah Martin Luther. Luther lahir di Eisleben, Saxony (sekarang Jerman), daerah kekuasaan Holy Roman Empire, pada 10 November 1483. Memang banyak pemikir besar yang lahir di antara abad ke-14 sampai ke-17—suatu periode yang dikenal dengan nama Renaisans. Kala itu tak akan ada yang menduga Luther juga akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pemikir besar bidang keagamaan. Sebagaimana dicatat laman Britannica, pada umur 13 Luther bersekolah di Brethern of the Common Life yang mengajarkan pentingnya meditasi dan pemulihan batin. Siswa di sekolah itu juga kerap mengkritisi aksi-aksi spiritualitas yang cenderung spekulatif. Ayah Luther, Hans, tidak menghendakinya sebagai pastor. Dia mengharapkan Luther bisa menjadi pengacara. Hans kemudian mengirim Luther yang berusia 15 ke sekolah St. George's di Eisenach. Tiga tahun kemudian Luther melanjutkan pendidikan ke Universitas Erfurt dan mendalami aritmatika, astronomi, geometri, dan filsafat. Urusan keagamaan dan teologi semakin jauh dari Luther muda. Cerita klise yang biasa kita temui dari pemuka agama adalah kisah masa lalunya kala merasa mendapat panggilan Tuhan dan menjadikannya rohaniwan. Luther juga punya momen seperti itu. Laman History mencatat, satu ketika di bulan Juli 1505, Luther terjebak di tengah badai besar yang hanya berjarak beberapa jam naik kuda dari Erfurt dan petir hampir menghantamnya. Luther terpelanting dan jatuh dari kudanya. Rasa takut akan kematian mendera Luther yang berumur 21 tahun dan membuatnya bersumpah atas nama St. Anne, ibu dari Bunda Maria, bahwa dirinya akan menjadi rahib jika nyawanya selamat. Momen itulah yang membuat Luther menempuh jalan asketisme. Dia masuk ke biara St. Augustine di Wittenberg dan mendalami teologi meski sudah lulus dari sekolah hukum. Saat itu tak ada satupun orang yang membayangkan Luther akan menjadi salah satu mimpi terburuk Katolik Roma. 95 Nota Protes Pada 1512, tiga tahun setelah Luther mengajar di Universitas Wittenberg, Paus Leo X menjalankan praktik indulgensi yang baru di mana pengampunan dosa bisa didapat oleh siapapun. Syaratnya hanya dua: mau dan punya uang. Paus Leo memang sedang menggalang dana untuk rekonstruksi Basilika Santo Petrus di Roma. Salah satu yang sangat mendukung langkah ini adalah biarawan Johann Tetzel dari Ordo Dominikan. Jangankan kepada yang masih bernapas, Tetzel meyakini indulgensi bisa diberikan kepada mereka yang sudah meninggal, asalkan dengan bayaran. Renaisans membuka pengetahuan dalam skala yang lebih luas. Efek yang bersamaan timbul adalah aktivitas pelayaran dan perdagangan antarsamudra menjadi lebih sering dilakukan daripada abad-abad sebelumnya. Era ini juga memunculkan intelektual seperti Luther yang menentang tindakan gereja yang dianggap tidak masuk akal. Luther yang geram terhadap pemahaman indulgensi gereja kemudian melakukan tindakan nekat. Baginya, indulgensi macam itu justru bertentangan dengan doktrin bahwa pengampunan datang dari iman dan karunia ilahi. Luther membawa palu kemudian mengayunkannya keras-keras ke paku di pintu gereja Wittenberg pada 31 Oktober 1517. Dia mematri 95 dalil yang sebagian besar isinya mempertanyakan keputusan Paus tentang indulgensi. Kendati sebagian orang meragukan aksi Luther, Theses 95 yang juga dikenal dengan Disputation on the Power of Indulgences diingat sampai sekarang sebagai awal mula berdirinya Kristen Protestan dan diperingati sebagai Hari Reformasi setiap tanggal 31 Oktober. Baca juga: 500 Tahun Setelah Martin Luther Mengkritik Gereja Gereja saat itu adalah salah satu pembawa berita yang paling utama. Tulisan Luther segera diterjemahkan dari bahasa Latin ke bahasa Jerman. Dalam dua minggu, seantero Jerman sudah mengetahui tulisan itu dan dua bulan setelahnya penyebaran mencapai hampir seluruh Eropa. Katolik Roma tentu tidak terima. Pada 1518 Paus Leo mendeskripsikan Luther sebagai "biarawan yang mabuk" dan tidak menanggapi lebih jauh terkait isi dalil-dalil tersebut. Luther dipanggil Kardinal Thomas Cajetan agar mengaku bersalah atau terpaksa mengikuti persidangan. Thomas meninggal di awal tahun 1519, Luther berhasil lolos untuk sementara. Tidak kapok, Luther kemudian muncul pada debat publik di Leipzig pada 1519. Dia mengatakan, "orang awam yang dipersenjatai kitab suci lebih unggul dari Paus beserta dewan kardinalnya." Akibatnya Luther langsung mendapat ancaman ekskomunikasi. Pada debat yang sama, istilah Lutheran mulai terkenal. Paus Leo yang sudah muak dengan tindakan Luther lantas mencapnya sebagai bidah dan sesat. Luther kemudian dituntut agar menarik kembali segala ucapannya terkait indulgensi. Surat berisi gugatan itu dibakar oleh Luther. Dia malah mengeluarkan tiga risalah lain. Pertama berjudul "Seruan kepada Bangsawan Kristen" yang berpendapat bahwa semua orang Kristen adalah imam dan mendesak para penguasa untuk mengambil jalan Reformasi gereja. Kedua, "Tawanan Babilonia Gereja", yang mengurangi tujuh sakramen menjadi hanya dua berupa pembaptisan dan Perjamuan Kudus. Ketiga, "Tentang Kebebasan Seorang Kristen" yang mengatakan kepada orang-orang Kristen bahwa mereka sudah terbebas dari hukum Taurat dan telah digantikan ikatan cinta pada hukum tersebut. Pada 1521 dia resmi terkena ekskomunikasi. Penghakiman pada Luther belum selesai. Kaisar Holy Roman Empire, Charles V, memanggil Luther untuk mengikuti Diet of Worms, sidang yang digagasnya untuk mendesak Luther mengubah pandangan yang tertuang dalam "95 Dalil", termasuk 24 tulisannya yang lain. Sidang digelar di Worms, salah satu kota di Jerman. Namun Luther bergeming dan tidak mengubah apapun. "Kecuali saya diyakinkan oleh kesaksian Alkitab atau alasan jelas. Saya terikat dengan Alkitab yang saya kutip dan hati nurani saya terikat dengan firman Allah. Saya tidak bisa dan tidak akan menarik apapun, karena itu tidak aman dan tidak benar melakukan yang bertentangan dengan hati nurani saya. Saya tidak bisa melakukan sebaliknya. Ini sikap saya. Semoga Tuhan menolong saya, Amin," kata Luther seperti dicatat dalam The Cambridge Companion to Martin Luther (2003). Penyebaran dan Konflik Setelah persidangan itu, Luther terancam tidak aman. Frederick III atau Frederick si Bijak yang merupakan penentu pewaris takhta Holy Roman Empire menjamin agar Luther bisa berangkat dan pulang dengan aman dari persidangan. Saat itu Luther tak ditangkap di Worms. Alih-alih membawanya kembali ke Wittenburg, Frederick mengambil keputusan mengantar Luther ke Kastil Wartburg untuk mengungsi selama 10 bulan. Selama pengungsiannya, Luther banyak berkirim surat dengan pendukung di Wittenberg. Kaum Lutheran semakin banyak, bahkan ada tiga pendeta yang memutuskan untuk menikah sebagai aksi protes. Pada 1522 Luther sudah aman untuk pulang ke kediamannya di Wittenberg. Pada 1534 Luther membuat gebrakan lain dengan menerjemahkan Alkitab ke bahasa Jerman. Selain mengakrabkan bahasa Jerman ke seluruh dunia, orang tidak perlu lagi bergantung pada imam untuk memahami dan membaca Alkitab. Namun kedamaian belum rampung. Konflik gara-gara Reformasi yang digagas Luther terjadi di mana-mana. Salah satu yang paling besar adalah Perang Petani tahun 1524 yang menuntut pembebasan lahan dari bangsawan dan pemilik tanah. Luther sendiri tidak mendukung aksi tersebut. Meski perang berhenti tahun 1525, sekitar 100 ribu petani meninggal dunia. Puncak dari konflik berdarah tersebut adalah Perang Tiga Puluh Tahun di Jerman antara 1618- 1648 yang menewaskan sekitar 7,5 juta jiwa. Konflik kedua kubu berakhir dengan perjanjian damai Westfalen. Tiga aliran Kristen akhirnya diakui: Katolik Roma, Lutheran, dan Calvinis. Ajaran dan pengaruh Luther abadi pada kaum Protestan. Tidak hanya tiga aliran itu, masih banyak lainnya yang berkembang dan bertahan hingga sekarang seperti Presbiterian, Kongregasional, Baptis, Pantekosta, atau Bala Keselamatan. Pada 18 Februari 1546, tepat hari ini 474 tahun lalu, Luther meninggal. Bagi banyak orang, Luther dianggap telah "mengubah dunia". Warisan yang ditinggalkannya belum juga pudar.
Gereja dan Aliran
Kuliah Jarak Jauh - Pertemuan ke-6
waktu : 10.45-11.30
waktu : 10.45-11.30
Topik Bahasan: Aliran Methodis
Tujuan: Mahasiswa memahami Aliran
Methodis
Silahkan buka link di bawah ini:
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Metodis
2. https://pandangankristen12.blogspot.com/2017/12/sejarah-gereja-methodis.html
3. https://profilgereja.wordpress.com/denominasi-gereja/revival/methodis/
4. http://walanghening.blogspot.com/2012/03/sejarah-perkembangan-gereja-baptis.html
5. http://dermawanwaruwu.blogspot.com/2015/08/bab-viii-aliran-aliran-gereja.html
2. https://pandangankristen12.blogspot.com/2017/12/sejarah-gereja-methodis.html
3. https://profilgereja.wordpress.com/denominasi-gereja/revival/methodis/
4. http://walanghening.blogspot.com/2012/03/sejarah-perkembangan-gereja-baptis.html
5. http://dermawanwaruwu.blogspot.com/2015/08/bab-viii-aliran-aliran-gereja.html
Dari 5 link di atas buat satu laporan apa saja yang kamu pahami tentang aliran Methodis: pokok-pokok ajarannya, awal kemunculannya, bagaimana perkembangannya di Indonesia.
Tugas ini dikirim via E-mail: adrianuspasasa@gmail.com
pengumpulan tugas paling lambat Kamis, 19/03/2020 jam 15:00 WIB
Eklesiologi dan Pneumatologi
Kuliah Jarak Jauh - Pertemuan ke-6
waktu: 08.00-09.40
waktu: 08.00-09.40
Topik Bahasan: Gereja
Misioner
Tujuan: Mahasiswa mampu memahami gereja yang misioner
Silahkan buka link di bawah ini:
Dari 3 link di atas buat satu resensi pemahaman kamu tentang gereja yang misioner dengan bahasamu sendiri.
Tugas ini dikirim via E-mail: adrianuspasasa@gmail.com
pengumpulan tugas paling lambat Kamis, 19/03/2020 jam 15:00 WIB
18 Agustus 2014
LAPORAN HASIL PENELITIAN
LAPORAN HASIL PENELITIAN
A.
Latar Belakang
Penelitian ini dilakukan guna memenuhi salah satu
tugas kuliah Teologi Biblika. Dalam penelitian ini ditugaskan untuk meneliti
pandangan orang percaya (pendeta, majelis/pengerja, anggota jemaat) terhadap
Alkitab, dan bagaimana mereka memperlakukan Alkitab.
B.
Tujuan dan
Sasaran
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
bagaimana pandangan orang percaya (pendeta, majelis/pengerja, anggota jemaat)
terhadap Alkitab dan bagaimana mereka memperlakukan Alkitab.
C.
Lingkup
Penugasan
Lingkup penugasan ini hanya sebatas meneliti
pandangan orang percaya (Pendeta, majelis/pengerja, anggota jemaat) terhadap
Alkitab dan bagaimana mereka memperlakukan Alkitab. Lingkup penelitian ini di
batasi hanya pada gereja-gereja yang ada di wilayah Kecamatan Ciranjang,
Cianjur.
D.
Pendekatan dan
Cara Pelaksanaan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah mengambil sebagian saja dari populasi dengan maksud untuk mengambil
kesimpulan yang umum (generalisasi) yang berlaku untuk seluruh populasi dengan
data dari sebagian populasi itu. Data diambil secara acak di beberapa tempat
E.
Keterangan Umum
|
No
|
Denominasi Gereja
|
Aliran
|
Jml. Responden
|
|
1
|
Gereja Kristen
Pasundan Palalangon
|
Protestan
Oikumenikal
|
4
|
|
2
|
Gereja Kristen
Pasundan Sindangjaya
|
Protestan
Oikumenikal
|
3
|
|
3
|
GKP Ciranjang
|
Protestan
Oikumenikal
|
1
|
|
4
|
GKI Pos
Ciranjang
|
Protestan
Injili
|
2
|
|
5
|
GPI Eliezer
Jatinunggal
|
Protestan
Injili
|
1
|
|
6
|
Gereja
Kerasulan Pusaka
|
Protestan
Injili
|
1
|
|
7
|
Gereja
Kerasulan Baru
|
Protestan
Injili
|
3
|
|
8
|
GPdI
Pasirnangka
|
Pentakosta
|
2
|
|
9
|
GPdI Ciranjang
|
Pentakosta
|
2
|
|
10
|
GBI Ciranjang
|
Pentakosta
|
1
|
|
11
|
GGP
(Sihombing)
|
Pentakosta
|
Belum
|
|
12
|
GEPKOIN
|
Pentakosta
|
Belum
|
|
JUMLAH
|
19
|
||
|
No
|
Denominasi Gereja
|
Posisi di Gereja
|
||
|
Pendeta
|
Majelis/pengerja
|
Anggota jemaat
|
||
|
1
|
GKP Palalangon
|
-
|
2
|
2
|
|
2
|
GKP
Sindangjaya
|
-
|
2
|
1
|
|
3
|
GKP Ciranjang
|
-
|
-
|
1
|
|
4
|
GKI Pos
Ciranjang
|
-
|
2
|
-
|
|
5
|
GPI Eliezer
Jatinunggal
|
-
|
1
|
-
|
|
6
|
Gereja
Kerasulan Pusaka
|
-
|
-
|
1
|
|
7
|
Gereja
Kerasulan Baru
|
-
|
1
|
2
|
|
8
|
GPdI
Pasirnangka
|
-
|
2
|
-
|
|
9
|
GPdI Ciranjang
|
1
|
-
|
1
|
|
10
|
GBI Ciranjang
|
-
|
-
|
-
|
|
11
|
GGP
(Sihombing)
|
-
|
-
|
-
|
|
12
|
GEPKOIN
|
-
|
-
|
-
|
|
Jumlah
|
1
|
10
|
8
|
|
|
No
|
Denominasi Gereja
|
Usia Responden
|
|||
|
16-25
|
26-35
|
36-45
|
46 ke atas
|
||
|
1
|
GKP Palalangon
|
1
|
1
|
-
|
2
|
|
2
|
GKP
Sindangjaya
|
1
|
1
|
1
|
-
|
|
3
|
GKP Ciranjang
|
1
|
-
|
-
|
-
|
|
4
|
GKI Pos
Ciranjang
|
-
|
-
|
1
|
1
|
|
5
|
GPI Eliezer
Jatinunggal
|
-
|
1
|
-
|
-
|
|
6
|
Gereja
Kerasulan Pusaka
|
1
|
-
|
-
|
-
|
|
7
|
Gereja
Kerasulan Baru
|
2
|
-
|
-
|
1
|
|
8
|
GPdI
Pasirnangka
|
-
|
2
|
-
|
-
|
|
9
|
GPdI Ciranjang
|
1
|
-
|
-
|
1
|
|
10
|
GBI Ciranjang
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
11
|
GGP
(Sihombing)
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
12
|
GEPKOIN
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Jumlah
|
7
|
5
|
2
|
5
|
|
|
No
|
Denominasi Gereja
|
Lama pelayanan/berjemaat
|
|||
|
0-25
|
26-35
|
36-45
|
46 ke atas
|
||
|
1
|
GKP Palalangon
|
1
|
1
|
-
|
2
|
|
2
|
GKP
Sindangjaya
|
3
|
-
|
-
|
-
|
|
3
|
GKP Ciranjang
|
1
|
-
|
-
|
-
|
|
4
|
GKI Pos
Ciranjang
|
2
|
-
|
-
|
-
|
|
5
|
GPI Eliezer
Jatinunggal
|
-
|
1
|
-
|
-
|
|
6
|
Gereja
Kerasulan Pusaka
|
1
|
-
|
-
|
-
|
|
7
|
Gereja
Kerasulan Baru
|
3
|
-
|
-
|
-
|
|
8
|
GPdI
Pasirnangka
|
2
|
-
|
-
|
-
|
|
9
|
GPdI Ciranjang
|
1
|
-
|
-
|
1
|
|
10
|
GBI Ciranjang
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
11
|
GGP
(Sihombing)
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
12
|
GEPKOIN
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Jumlah
|
14
|
2
|
-
|
3
|
|
F.
Hasil Penelitian
Tabel 1
Frekuensi jawaban responden tentang Alkitab
|
Pertanyaan
Jawaban
|
Apa pendapat Anda tentang Alkitab?
|
Frekuensi
Jawaban
|
Presentase (%)
|
|
A
|
Firman Allah
|
18
|
94,74
|
|
B
|
Sebuah dokumen historis
|
1
|
5,26
|
|
Jumlah
|
|
19
|
100
|
Yang dharapkan dari pertanyaan ini adalah pendapat
responden tentang Alkitab. Dari hasil pengolahan data seperti yang tertera
dalam table 1, maka dapat dilihat bahwa sebagian besar (94,74%) responden
berpendapat bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Jawaban yang diberikan responden
adalah Alkitab adalah Firman Allah. Namun masih ada sebagian kecil (5,26%)
responden yang berpendapat bahwa Alkitab hanya sebuah dokumen historis.
Tabel 2
Frekuensi jawaban responden tentang peran Alkitab
dalam pertumbuhan iman
|
Pertanyaan
Jawaban
|
Apakah peran Alkitab dalam pertumbuhan Iman?
|
Frekuensi
Jawaban
|
Presentase
(%)
|
|
A
|
Penunutun Kehidupan
|
13
|
68,42
|
|
B
|
Membawa jemaat untuk bertumbuh kerohaniannya
|
6
|
31,58
|
|
Jumlah
|
|
19
|
100
|
Yang dharapkan dari pertanyaan ini adalah pendapat
responden tentang peran Alkitab dalam pertumbuhan Iman. Dari hasil pengolahan
data seperti yang tertera dalam table 2, maka dapat dilihat bahwa 68,42%
responden berpendapat bahwa Alkitab
adalah penuntun dalam kehidupan orang-orang percaya, sedangkan 31,58% responden
berpendapat bahwa Alkitab berperan untuk membawa jemaat mengalami pertumbuhan
dalam kerohaniannya.
Tabel
3
Frekuensi jawaban responden tentang waktu yang
digunakan untuk membaca Alkitab
|
Pertanyaan
Jawaban
|
Apakah Anda membaca Alkitab?
|
Frekuensi
Jawaban
|
Presentase
(%)
|
|
A
|
Teratur setiap hari
|
8
|
42,11
|
|
B
|
Sewaktu-waktu
|
10
|
52,63
|
|
C
|
Jarang
|
1
|
5,26
|
|
Jumlah
|
|
19
|
100
|
Yang dharapkan dari pertanyaan ini adalah pendapat
responden tentang waktu yang digunakan dalam membaca Alkitab. Dari hasil
pengolahan data seperti yang tertera dalam table 3, maka dapat dilihat bahwa belum
semua responden membaca Alkitab secara teratur setiap hari, hanya 42,11% yang
membaca Alkitab secara teratur, selebihnya 52,63% hanya membaca Alkitab
sewaktu-waktu, bahkan ada 5,26% yang mengatakan jarang membaca Alkitab.
Tabel 4
Frekuensi jawaban responden tentang kesenangan
membaca Alkitab
|
Pertanyaan
Jawaban
|
Apa Anda lebih senang
membaca/berkotbah dari Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru?
|
Frekuensi
Jawaban
|
Presentase (%)
|
|
A
|
Perjanjian Lama
|
4
|
21,05
|
|
B
|
Perjanjian Baru
|
13
|
68,42
|
|
C
|
Dua-duanya
|
2
|
10,53
|
|
Jumlah
|
|
19
|
100
|
Yang dharapkan dari pertanyaan ini adalah pendapat
responden tentang bagian Alkitab yang paling sering dibaca/dikotbahkan. Dari
hasil pengolahan data seperti yang tertera dalam table 4, maka dapat dilihat
bahwa rata-rata responden berpendapat bahwa mereka lebih suka membaca dan
menggunakan Alkitab Perjanjian Baru di dalam menyampaikan Firman Tuhan
(berkotbah), alas an yang diberikan responden adalah karena lebih mudah
memahami Perjanjian Baru. Sebagian kecil yang menggunakan Perjanjian Lama
(21,05%) dan 10,53% yang menggunakan
keduanya, alasan yang diberikan responden karena jadwal bacaan Alkitab sudah
ditentukan dari sinode.
Tabel 5
Frekuensi jawaban responden tentang bagian Alkitab
yang jarang di baca/dikotbahkan
|
Pertanyaan
Jawaban
|
Kitab mana dalam Perjanjian Lama
yang jarang dibaca/dikotbahkan?
|
Frekuensi
Jawaban
|
Presentase (%)
|
|
A
|
Kidung Agung
|
4
|
21,05
|
|
B
|
Kejadian
|
1
|
5,26
|
|
C
|
Keluaran
|
1
|
5,26
|
|
D
|
Bilangan
|
1
|
5,26
|
|
E
|
Imamat
|
2
|
10,53
|
|
F
|
Nabi-Nabi Kecil
|
1
|
5,26
|
|
G
|
Maleaki
|
2
|
10,53
|
|
H
|
Ester
|
2
|
10,53
|
|
I
|
Habakuk
|
1
|
5,26
|
|
J
|
Tidak Ada
|
4
|
21,05
|
|
Jumlah
|
|
19
|
100
|
Yang diharapkan dari pertanyaan ini adalah pendapat
responden tentang bagian Alkitab dalam Perjanjian Lama yang jarang
dibaca/dikotbahkan. Dari hasil pengolahan data seperti yang tertera dalam table
5, maka dapat dilihat bahwa masih ada bagian-bagian kitab yang jarang dibaca
oleh responden, seperti kitab Kidung Agung (21,05%), Imamat (10,53%), Maleaki
(10,53%), Ester (10,53%), Kejadian (5,26%), Keluaran (5,26%), Bilangan (5,26%),
Nabi-Nabi Kecil (5,26%), Habakuk (5,26%), dan
selebihnya (21,05%) sudah membaca dan mengkotbahkan seluruh kitab dalam
Perjanjian Lama.
Dari analisis data tersebut di atas dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar responden belum membaca atau mengkotbahkan
seluruh bagian kitab dalam Perjanjian Lama. Alas an yang mereka berikan karena
Perjanjian Lama susah di pahami.
Tabel 6
Frekuensi jawaban responden tentang bagian Alkitab
yang jarang dibaca/dikotbahkan
|
Pertanyaan
Jawaban
|
Kitab mana dalam Perjanjian Baru
yang jarang dibaca/dikotbahkan?
|
Frekuensi
Jawaban
|
Presentase
(%)
|
|
A
|
Wahyu
|
10
|
52,63
|
|
B
|
Yudas
|
1
|
5,26
|
|
C
|
Tesalonika
|
1
|
5,26
|
|
D
|
Galatia
|
1
|
5,26
|
|
E
|
Filemon
|
1
|
5,26
|
|
F
|
Banyak
|
1
|
5,26
|
|
G
|
Tidak Ada
|
4
|
21,05
|
|
Jumlah
|
|
19
|
100
|
Yang diharapkan dari pertanyaan ini adalah pendapat
responden tentang bagian Alkitab dalam Perjanjian Baru yang jarang
dibaca/dikotbahkan. Dari hasil pengolahan data seperti yang tertera dalam table
6, maka dapat dilihat bahwa masih ada bagian-bagian kitab yang jarang
dibaca/dikotbahkan oleh responden, seperti Wahyu (52,63%), Yudas (5,26%),
Tesalonika (5,26%), Galatia (5,26%), Filemon (5,26%), dan selebihnya (21,05%) sudah membaca dan
mengkotbahkan seluruh kitab dalam Perjanjian Baru.
Dari analisis data tersebut di atas dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar responden belum membaca atau mengkotbahkan
seluruh bagian kitab dalam Perjanjian Baru, khususnya Kitab Wahyu. Alasan yang
mereka berikan karena Kitab Wahyu susah untuk dipahami karena banyak berisi
symbol-simbol.
Tabel 7
Frekuensi jawaban responden tentang tujuan kehadiran
gereja menurut Alkitab
|
Pertanyaan
Jawaban
|
Menurut Alkitab apa tujuan
kehadiran gereja?
|
Frekuensi
Jawaban
|
Presentase
(%)
|
|
A
|
Membawa/memanggil orang dari
gelap kepada terang Kristus
|
5
|
26,32
|
|
B
|
Memberitakan kebenaran Firman
Tuhan
|
5
|
26,32
|
|
C
|
Memperkuat kebersamaan orang
percaya
|
2
|
10,53
|
|
D
|
Sebagai tempat beribadah
|
7
|
36,84
|
|
Jumlah
|
|
19
|
100
|
Yang dharapkan dari
pertanyaan ini adalah pendapat responden tentang tujuan kehadiran geraja
menurut Alkitab. Dari hasil pengolahan data seperti yang tertera dalam table 7,
maka dapat dilihat bahwa 26,32% responden berpendapat bahwa tujuan kehadiran
gereja adalah membawa/memanggil orang dari gelap kepada terang Kristus, 26,32%
responden berpendapat bahwa tujuan kehadiran gereja untuk memberitakan
kebenaran Firman Tuhan, 10,53% responden berpendapat bahwa tujuan kehadiran
gereja adalah untuk memperkuat kebersamaan orang percaya, dan 36,84% responden
berpendapat bahwa tujuan kehadiran gereja adalah sebagai tempat beribadah.
Dari analisis data
tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tidak semua responden memahami tujuan
kehadiran gereja menurut Alkitab, banyak responden yang memahami bahwa
kehadiran gereja hanya sebagai tempat untuk beribadah.
Tabel 8
Frekuensi jawaban responden tentang siapa yang harus
bersaksi/PI menurut Alkitab
|
Pertanyaan
Jawaban
|
Menurut Alkitab siapa yang harus
bersaksi/PI
|
Frekuensi
Jawaban
|
Presentase (%)
|
|
A
|
Semua orang yang sudah percaya
|
18
|
94,74
|
|
B
|
Pendeta/Majelis
|
1
|
5,26
|
|
Jumlah
|
|
19
|
|
Yang dharapkan dari pertanyaan ini adalah pendapat responden
tentang siapa yang harus bersaksi menurut Alkitab. Dari hasil pengolahan data
seperti yang tertera dalam table 8, maka dapat dilihat bahwa 94,74% responden
berpendapat bahwa semua orang yang sudah
percaya harus bersaksi, hanya sebagian kecil yaitu 5,26% yang berpendapat bahwa
tugas bersaksi/PI adalah tugas pendeta dan majelis.
Dari analisis data tersebut di atas dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar responden memahami bahwa tugas bersaksi atau
penginjilan adalah menjadi tugas dan tanggung jawab semua orang yang sudah
percaya kepada Yesus Kristus.
Tabel 9
Frekuensi jawaban responden tentang program
pelatihan untuk PI di gereja
|
Pertanyaan
Jawaban
|
Apakah gereja punya program
pelatihan untuk PI?
|
Frekuensi
Jawaban
|
Presentase (%)
|
|
A
|
Punya
|
3
|
15,79
|
|
B
|
Tidak Punya
|
14
|
73,68
|
|
C
|
Punya tapi tidak berjalan
|
2
|
10,53
|
|
Jumlah
|
|
19
|
100
|
Yang dharapkan dari pertanyaan ini adalah pendapat
responden tentang apakah gereja mereka punya program pelatihan untuk PI. Dari
hasil pengolahan data seperti yang tertera dalam table 9, maka dapat dilihat
bahwa 15,79 responden berpendapat bahwa gereja mereka sudah punya program
pelatihan untuk PI, 73,68% responden yang berpendapat bahwa gereja mereka tidak
mempunyai program pelatihan untuk PI, dan 10,53% responden yang berpendapat
bahwa gereja mereka punya program pelatihan untuk PI tetapi tidak berjalan.
Dari hasil analisis data di atas dapat disimpulkan
bahwa sebagian besar gereja yang ada di
wilayah Kecamatan Ciranjang tidak memiliki program untuk pelatihan pengijilan,
hanya sebagian kecil yang punya program untuk pelatihan penginjilan.
G.
Kesimpulan
Penelitian ini diadakan di 12
denominasi gereja yang ada di kecamatan Ciranjang-Cianjur, di mana denominasi
ini terdiri dari 4 gereja yang beraliran protestan oikumenikal, 4 gereja yang
beraliran protestan injili, dan 5 gereja yang beraliran kharismatik/pentakosta.
maka dapat disimpulkan bahwa. Dari seluruh hasil penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa dari 12 denominasi tersebut, hanya 3 gereja yang mempunyai
program pelatihan untuk PI.
LAMPIRAN ANGKET
WAWANCARA
Langganan:
Postingan (Atom)
KUMPULAN KOTBAH DAN PUJIAN PENYEMBAHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA
LINK KUMPULAN KOTBAH / RENUNGAN FIRMAN TUHAN PONDOK AHZAREL SEJAHTERA (PAS) 1. HIDUP YANG SUDAH DIBAHARUI https://www.youtu...
-
Pengantar · Pertanyaan apa yang saudara pahami tentang liturgy…………….? · Dalam teologi Ilmu yang membahas tentang pe...
-
Interaksi Buku, pilih dan baca salah satu buku di bawah ini kemudian berikan komentar, kritik, dan buat laporan sebanyak dua halaman spasi...
-
Tugas MK LITURGIKA STTC TIRSA MONU Liturgi Ibadah Umum di GPdI 1. Doa Pembukaan Maknanya: Seluruh peserta ibadah mempersiapkan diri un...