Seseorang di segani dan di hormati bukan karena apa yang di perolehnya, Melainkan apa yang telah di berikannya. Tak berhasil bukan karena gagal tapi hanya menunggu waktu yang tepat untuk mencoba lagi menjadi suatu keberhasilan hanya orang gagal yang merasa dirinya selalu berhasil dan tak mau belajar dari kegagalan

2 Februari 2012

Dasar Alkitab Tentang Misi Dalam Konteks Perkotaan

Oleh: Adrianus Pasasa, S.T, M.A
I.      MISI DALAM ALKITAB
Dalam bagian ini akan dibahas misi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Misi dalam Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama belum ditegaskan tentang penugasan untuk menjangkau segala bangsa untuk pekabaran Injil. Missions bukanlah sebuah tambahan yang diperintahkan Allah melalui Yesus kepada murid-muridNya untuk dilaksanakan beberapa saat sebelum meninggalkan dunia ini. Sebaliknya, pekabaran Injil berasal dari hati Allah (Mission Dei). Keinginan untuk pekabaran Injil dari semula sudah berada di dalam hati Allah. Pekabaran Injil bukanlah sebuah gagasan Perjanjian Baru, tetapi pekabaran Injil terdapat di seluruh Alkitab.[1] David Howard salah seorang pemimpin misi menjelaskan dasar alkitabiah dari pekabaran Injil sebagai berikut:
Kegiatan gereja untuk mengabarkan Injil bukanlah sebuah piramid yang dibangun terbalik dan bertumpuh pada satu ayat dalam kitab Perjanjian Baru yang terlepas dari ayat-ayat lain, lalu di atasnya kita membangun sebuah bangunan yang sangat besar yang dikenal sebagai “pengabaran injil”.kegiatan gereja untuk mengabarkan Injil merupakan sebuah pyramid besar yang dibangun tegak dengan ujungnya di atas dan dasarnya mulai dari kitab Kejadian pasal 1 sampai dengan kitab Wahyu pasal 22. Seluruh isi Alkitab membentuk dasar untuk pengabaran Injil ke seluruh dunia.[2]

            Allah telah mempersiapkan misiNya lewat umatNya, Israel sebagai anak-anak Abraham, untuk menjadi berkat bagi segala Bangsa. William Dyrness dalam pengamatannya berpendapat: “Perjanjian Lama mempersiapkan sebuah berita universal yang dalam Perjanjian Baru akan menjadi misi universal.”[3]. Misi dalam Perjanjian Lama bersifat sentripetal (dari luar ke pusat), dalam pengertian bangsa-bangsa datang kepada Israel dan  mereka dapat mengenal serta menyembah Tuhan yang benar.
Misi dalam Perjanjian Baru[4]
Allah Perjanjian Lama yang mengabarkan Injil melanjutkan karya penyelamatanNya melalui anakNya dan gerejaNya dengan kuasa Roh Kudus. Seperti yang diamati oleh Stott, tema mengenai pengabaran Injil semakin meningkat dalam Perjanjian Baru, “Misi pertama adalah milik Allah, karena Dialah yang mengutus nabi-nabiNya, AnakNya, RohNya. Dari antara misi-misi ini, misi Anak Allah merupakan pusat, karena misi Anak Allah merupakan puncak dari pelayanan nabi-nabi, dan dalam misi ini tercakup pengutusan Roh Kudus sebagai klimaknya.
Berita perjanjian baru adalah bahwa Allah Perjanjian Lama yang mengabarkan Injil itu telah datang, dalam rupa seorang manusia, sehingga Ia dapat memberikan keselamatan kepada ciptaan yang dahulu memilih untuk tidak taat kepadaNya. Tetapi ada lebih dari itu. Kepada mereka yang menerima keselamatan dari Penebus Ilahi yang diutus Allah, diberikan satu tugas untuk mengabarkan berita itu keseluruh dunia. Misi dalam Perjanjian Baru bersifat sentrifugal (dari pusat ke luar), yang berarti bahwa dari gereja atau dari Israel kabar keselamatan akan disampaikan kepada semua suku-suku bangsa.
Tidak ada keselamatan tanpa penderitaan Yesus Kristus. Semua ini tergenapi di dalam Yesus Kristus yang bersedia menjadi korban bagi umat manusia  yang berdosa. Misi sedunia adalah kehendak Allah, oleh karena itu setiap orang  Kristen harus terlibat dan mengambil bagian dalam pekerjaan yang  mulia ini.
Perintah Amanat Agung
             Amanat yang diberikan Tuhan Yesus untuk memuridkan segala bangsa akan tetap berlaku sampai akhir Zaman. Tugas kita sebagai orang percaya adalah memberitakan Injil kepada setiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Amanat Agung ini merupakan tugas inti dari misi, yaitu “menjadikan murid” dari segala suku bangsa. Fokus inti misi yaitu ”menjadikan murid” akan melibatkan dan akan menggerakkan umat Allah untuk pergi sebagai proses pelaksanaan srategi dan tanda taat kepada Allah untuk memberitakan Injil, Babtis sebagai proses Inkorporasi ke dalam wadah umat Allah untuk diteguhkan menjadi anggota gereja, dan Ajar sebagai proses konseptualisasi yang menunjang pemahaman, perubahan dan pendewasaan hidup serta peran umat Allah.[5] Beberapa pernyataan Ananat Agung di dalam Perjanjian Baru.
Menurut Matius
Injil Matius 28:18-20, menulis bahwa Amanat Agung dimulai pada saat Tuhan Yesus mengutus muridNya untuk memberitakan Injil. Tugas para murid adalah, menjadikan semua bangsa muridNya, membaptiskan mereka dan mengajar mereka. Tujuan dari amanat agung dan penginjilan  adalah pemuridan supaya manusia menjadi serupa dengan Allah. Unsur dasar dari Amanat Agung di dalam Injil Matius ini adalah “menjadikan semua bangsa murid Tuhan”, pentingnya memuridkan ini ditekankan oleh fakta bahwa menjadikan murid adalah bentuk perintah tunggal dalam bagian tersebut.
Di dalam proses menjadikan murid terkandung dua kegiatan utama yaitu “babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”, dan “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu.” Jika murid-murid harus dijadikan “dari segala bangsa” maka “murid-murid” harus disebarkan di tengah seluruh bangsa.[6]

Menurut Markus
Amanat Agung di dalam Injil Markus 16: 15, ditujukan kepada seluruh dunia yaitu seluruh makhluk ciptaan karena Allah adalah pencipta, artinya Yesus meminta jemaat-Nya membawa keselamatan kepada seluruh makhluk di dunia tanpa terkecuali. Kegiatan yang dilakukan adalah pergi dan memberitakan pesan utama yaitu Injil.

Menurut Lukas
Tuhan Yesus menjelaskan rencana misi kepada murid-murid-Nya yaitu misi berdasarkan kitab Taurat Musa, Nabi-nabi dan Mazmur (Lukas 24:44).  Inti dari pada Injil adalah kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus dengan tujuan supaya terjadi pertobatan dan pengampunan. Jadi pemberitaan Injil bagi seluruh bangsa mulai dari Yerusalem (Lukas 24:46-49) dan alat yang dipakai adalah murid-murid-Nya. Kegiatan dilakukan dengan jalan memberitakan dan bersaksi dan dalam melaksanakan pemberitaan Amanat Agung, kuasa dan kekuatan berasal dari Roh Kudus yang sudah dijanjikan (Lukas 24:49).

Menurut Yohanes
Injil Yohanes menulis bahwa Tuhan Yesus mengutus murid-murid-Nya, sama seperti Bapa telah mengutus anak-Nya yang tunggal, yaitu Tuhan Yesus (Yohanes 20:21-23). Murid-murid diutus dengan diperlengkapi oleh kuasa Roh Kudus dan pada hari Pentakosta murid-murid-Nya dipenuhi dengan Roh Kudus untuk melaksanakan misi Amanat Agung Tuhan Yesus.

Menurut Kisah Para Rasul
Kisah Para Rasul 1:8, menguraikan dan menekankan tentang tugas bersaksi tentang Tuhan Yesus Kristus dan ini merupakan pesan utamanya. Dalam melakuan penginjilan itu ada jaminan dari Allah yaitu Kuasa Roh Kudus. Injil harus disampaikan dan ditujukan kepada semua orang berdosa yang dimulai dari Yerusalem, Seluruh Yudea, samaria, dan bahkan sampai ke bagian terpencil dari bumi.

Dari uaraian di atas dapat disimpulkan bahwa Amanat Agung adalah pokok dan penting dalam kekristenan. Dikatakan demikian karena semua kitab Injil dan Kisah Para Rasul menuliskan tentang itu. Jadi fokus Amanat Agung terletak dalam penginjilan dan pemuridan, sasarannya adalah seluruh bangsa dapat memperoleh keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus (2 Korintus 3:18).
 Dalam perintah Amanat Agung juga terdapat wewenang, perintah dan janji. Perintah Tuhan Yesus ini menuntut ketaatan dari setiap orang percaya. Selain ketaatan ada tugas utama dari perintah Amanat Agung yaitu pergi kepada segala bangsa untuk memberitakan Injil dan menjadikan mereka murid Tuhan Yesus. Di dalam melaksanakan Amanat Agung ada suatu jaminan yang pasti yaitu jaminan berkat dan jaminan keberhasilan bagi tugas penginjilan. Isi jaminan itu ialah penyertaan Tuhan Yesus (Matius 28:20).


II.      METODE TUHAN YESUS DALAM MELAKSANAKAN MISI-NYA
Berjalan keliling kota dan desa

Dalam menjalankan misi pelayanannya Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa (Matius 9:35a, Lukas 13:22). Dalam pelayanannya Tuhan Yesus melayani ke semua wilayah misalnya melayani di kota Kapernaum, suatu kota tempat kediaman pemungut cukai dan tempat sebuah pos militer Romawi (Matius 4:13; 8:5). Melayani di Nazaret, melayani di padang Gurun, dan melayani di pesisir-pesisir pantai dan sampai ke lemba-lembah, Tuhan Yesus juga melayani di Betania, dan daerah lainnya. Jadi Tuhan Yesus dalam program pelayananNya mencakup seluruh wilayah kerena seluruh bumi adalah ladang misi penyelamatan-Nya. Tuhan Yesus berkeliling ke semua kota dan desa. Kata ”berkeliling” menggambarkan aktivitas yang disadari dan berjalan terus menerus.

Mengajar di rumah-rumah ibadah, memberitakan Injil kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.
            Dalam rumah-rumah ibadah Yesus memberikan penjelasan  yang akurat dan benar mengenai seluruh rencana dan kehendak Allah yang harus dipenuhi oleh umat manusia. Tuhan Yesus mengajarkan sebuah prinsip hidup yang sejati mengenai hubungan antara manusia terhadap Allah dan manusia terhadap sesamanya (Matius 22:37-39). Yesus juga mengajarkan bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan hidupnya harus selalu bergantung sepenuhnya dan hormat kepada penciptaNya. Tuhan Yesus mengajarkan tentang sedekah, doa, puasa, serta ketaatan total kepada Firman Tuhan.
            Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan harus selalu hidup dalam norma-norma hukum Tuhan dalam hubungannya dengan sesamanya. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa bukan hanya membunuh yang dilarang Tuhan tetapi orang marah tanpa alasan pun tidak dibolehkan. Yesus juga mengajarkan bahwa bukan hanya melakukan perzinahan yang dilarang tetapi orang yang memandang dengan nafsu birahi pun tidak diperbolehkan. Tuhan Yesus juga mengajarkan sama sekali orang Kristen tidak boleh bercerai, orang Kristen juga diajarkan untuk tidak boleh sama sekali bersumpah palsu,  juga diajarkan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Selain itu Tuhan Yesus juga mengajarkan tidak boleh membenci musuh tetapi harus mengasihi musuh dan Tuhan Yesus mengajarkan bahwa segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka, itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 7:12).
            Tuhan Yesus tidak hanya mengajar, Ia juga berkhotbah. Tuhan Yesus berkeliling kemana-mana untuk berkhotbah. Inti berita dalam khotbah-khotbahnya adalah proglamasi Injil Kerajaan Sorga. Injil Kerajaan Sorga adalah suatu berita tentang Kerajaan yang menyelamatkan  dan yang menghukum, yang dinyatakan di dalam dan melalui Yesus Sang Juruselamat dan Tuhan. dalam khotbah-khotbahNya Tuhan Yesus menegaskan bahwa hanya dua pilihan bagi manusia di dunia ini yaitu Percaya atau menolak Tuhan Yesus dan masing-masing pilihan mempunyai konsekuensi. Firman Tuhan berkata ”Barang siapa percaya kepadaNya, ia tidak akan dihukum, barang siapa yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam anak tunggal Allah” (Yohanes 3:18). Inilah inti khotbah Tuhan Yesus ketika melayani di muka bumi ini.
            Tuhan Yesus tidak hanya mengajar dan berkhotbah tetapi Ia juga menyembuhkan berbagai penyakit, bahkan dibagian lain Tuhan Yesus memberikan makan kepada orang banyak yang kelaparan (Matius 14:15-16).

Kontektualisasi
Model kontektualisasi sangat mewarnai pelayanan Tuhan Yesus selama di dunia, misalnya bahasa yang digunakan sesuai dengan konteks masyarakat pada zaman itu, metafora-metafora yang digunakan dalam pemberitaannya cocok untuk kondisi budaya setempat. Yesus juga membawa mandat sosial budaya, politik dan pelayanannya mencakup jasmani dan rohani. Di dalam mengkomunikasikan InjilNya Yesus membangun jembatan-jembatan dan menciptakan jalur komunikasi dengan orang yang sulit didekati.
Model pelayanan yang konstektual cukup efektif, dan dapat diterapkan di dalam segala kondisi dan budaya di mana pun Tuhan Yesus pergi memberitakan Injil Kerajaan Allah. Pendekatan Injil dengan model kontektualisasi yang dilakukan Tuhan Yesus telah berhasil mencapai banyak orang, sehingga dalam waktu yang singkat Tuhan Yesus dapat menghasilkan pelayanan yang sangat maksimal. Misalnya, dalam menyampaikan InjilNya, Tuhan Yesus selalu memanfaatkan kemampuan-Nya untuk berbicara dengan orang-orang dimanapun mereka berada. Ketika berada di padang, Yesus berbicara tentang menanam gandum (Mrk. 4:1-9). Di keluarga, Ia berbicara tentang anak-anak (Mat. 19:13-15). Dengan nelayan, pokok pembicaraanNya adalah ikan (Mrk.1:14-18).

III.      MISI DALAM KONTEKS PERKOTAAN
KOTA DAN PERSOALANNYA
Sekitar setengah populasi dunia hidup di perkotaan, padahal setengah abad yang lalu hanya sepertiga penduduk tinggal di kota. Diperkirakan sekitar seperempat abad mendatang penduduk perkotaan akan menjadi dua pertiga di seluruh belahan dunia ini. Beban kota akan semakin berat manakala pengangguran dan kemiskinan masih mewarnai kehidupan kota. Urbanisasi dan segala dampaknya (terutama terhadap lingkungan hidup) adalah suatu konsekuensi pilihan pembangunan yang berorientasi pada kota. Urbanisasi adalah konsekuensi logis dari konsep pembangunan yang semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi melalui industrialisasi di mana terjadi akumulasi sentra-sentra pertumbuhan. Belum lagi masih buruknya penanganan sampah; serta banjir yang seringkali menelan banyak korban.
Perkotaan memiliki daya tarik tersendiri sehingga banyak orang yang tertarik untuk mengadu peruntungan di perkotaan. Pertumbuhan penduduk perkotaan pada masa kini menunjukkan peningkatan yang sangat drastis, selain disebabkan oleh pertumbuhan alami juga disebabkan oleh tingkat urbanisasi yang terus meningkat. Hal ini mengakibatkan semakin pesatnya pertumbuhan dan perkembangan kota-kota di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkotaan masih menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, hal ini berimplikasi pada tersediannya saran dan prasarana yang lengkap dan beragam yang merupakan daya tarik perkotaan. Selain fasilitas sarana dan prasaran juga tersedianya keanekaragaman pekerjaan memberi pengharapan untuk mengubah nasib.
 Masalah perkotaan yang timbul belakangan ini seperti soal kejahatan, korupsi, masalah kemiskinan & jurang kaya miskin, Lingkungan Hidup, PHK, masalah HAM, demonstrasi perburuhan, pengrusakan pabrik, bahkan huru-hara perkotaan di banyak kota. Kepadatan penduduk perkotaaan telah membawa dampak kemiskinan baik kemiskinan jasmani maupun kemiskinan rohani. Dalam kenyataannya, walau cukup banyak orang yang miskin materi, tetapi jauh lebih banyak lagi orang-orang perkotaan yang miskin rohani. Orang-orang yang miskin rohani inilah yang sesungguhnya lebih berbahaya keberadaannya dari pada hanya miskin materi. Keadaan akan sangat berbahaya lagi jika terjadi sinergi antara kemiskinan materi dan kemiskinan rohani. Orang-orang yang mengalami kemiskinan ganda ini kehidupannya akan lebih banyak diwarnai dengan segala perbuatan yang merugikan dengan segala bentuknya. Akibatnya tidak saja menyusahkan orang lain tetapi juga menyengsarakan dirinya. Selain dampak kemiskinan, terjadi juga degradasi mental dan moralitas di setiap segi kehidupan di masyarakat dan secara individu.
Paradigma bahwa orang miskin itu merupakan kelompok “the sinned agaisnt” merefleksikan pandangan tentang kemiskinan sebagai masalah hubungan sosial, bukan sekedar masalah pribadi atau individu si miskin. Kemiskinan bukan kesalahan si miskin semata-mata. Mereka menjadi miskin karena hubungan sosial dan ekonomi serta mungkin sekali politik yang salah. Mereka miskin karena sistim yang berdosa dan mereka menjadi “korbannya” atau sinned against. Mereka miskin karena penyelenggaraan kekuasaan yang salah, baik salah menggunakannya atau memang sengaja disalahgunakan. Mereka menjadi miskin karena sistim religi dan spiritualitas yang “mengelabui” mereka.

Relevansi Pelayanan Tuhan Yesus bagi Misi Perkotaan
Allah menghendaki agar kita tidak hanya beribadah secara vertikal,  namun juga secara horisontal. Artinya, selain beribadah dan memuji Tuhan, kita pun wajib mengasihi dan peduli terhadap orang-orang di sekitar kita. Salah satunya adalah dengan misi pelayanan kota, lingkungan yang rentan dengan berbagai masalah sosial. Dalam Alkitab ternyata keadaan yang paling sering disebut sebagai penyebab kemiskinan adalah keserakahan, pemerasan, penindasan, ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan yang banyak dikutuk oleh nabi-nabi Perjanjian Lama. Oleh karenanya Alkitab menampilkan Allah yang sangat radikal pada waktu mengatakan, “Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik terhadap kesengsaraan orang yang tertindas  dan Ia tidak menyembunyikan wajahNya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong.” Mazmur 22:25. Ini adalah suatu dimensi penting dalam pelayanan kepada orang miskin. Mereka membutuhkan “pembelaan”.
Melihat persoalan yang dialami oleh masyarakat perkotaan maka model misi pelayanan Tuhan Yesus sangat relevan sebagai jawaban. Pembenahan moralitas (spiritualitas) tanpa pemenuhan ekonomi sama halnya dengan bicara tanpa kata, tidak ada isinya. Pelayanan Tuhan Yesus tidak hanya sebatas berkotbah dan mengajar, tetapi Tuhan Yesus juga memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan jasmani. Tuhan Yesus dalam pelayanan dan pemberitaan InjilNya, menempatkan kaum miskin sebagai subjek yang sentral. Mereka bukan saja menjadi sasaran pemberitaan Injil, melainkan kaum yang dibelaNya. Bahkan pembelaanNya sering lebih mengedepan daripada pemberitaanNya. Tidak jarang pembelaanNya itu dilakukan dengan “perbuatan baik” yang langsung menjamah masalah kaum papa itu dan juga menyuarakan kepentingan kaum papa itu kepada penguasa dan publik yang lebih luas. Berbagai mujizat penyembuhan orang sakit dan khususnya pada hari Sabat merupakan salah satu contoh model pelayananNya.
Tuhan Yesus memproklamirkan mission statementnya seperti dalam Lukas 4:18-19. Meneguhkan kemesiasanNya dengan karya-karya bagi orang miskin, Lukas 7:18-23, bukan bukti-bukti yang dimintakan dariNya, seperti pameran kuasa, Lukas 4:91-0, 23:35-37. Injilnya adalah injil yang mempunyai dampak transformasi sosial, seperti yang ditunjukkan dalam pertobatan Lazarus, Lukas 19:1-10.

IV.      PENUTUP
Melalui pemaparan di atas, akhirnya penulis sampai pada penutup yang terdiri dari kesimpulan.
Kesimpulan
1.      Dari penguraian di atas penulis mengambil kesimpulan bahwa pada dasarnya masalah kemiskinan dan kepedulian sosial merupakan salah satu benang emas dalam ajaran Alkitab. Rencana keselamatan dan penebusan Allah mencakup segala bidang dalam alam semesta ini, baik berbagai aspek dalam diri manusia maupun dengan berbagai hubungan dengan ciptaan lain di luar dirinya yang telah dirusak oleh dosa.
2.      Pelayanan Tuhan Yesus merupakan model yang sangat relevan dalam segala zaman, di mana dapat menjawab segala aspek persoalan, baik jasmani maupun rohani (holistik). Tuhan Yesus mengabarkan Injil yang utuh yang mendatangkan Shalom bagi manusia, baik secara spiritual, fisis, psikis, maupun sosial.
3.      Keberhasilan dalam menyelesaikan masalah yang kompleks dalam masyarakat perkotaan tidak boleh terlepas dari Alkitab sebagai landasan atau dasar dalam melakukan misi pelayanan perkotaan.
                       
Daftar Pustaka
1.      Paul Borthwick. Pemberitaan Injil Tugas Siapa?. Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1995
2.      Dr. Yakob Tomatala, Teologi Misi,YT Leadership Foundation, Jakarta 2003, hl.55
3.      David J. Hesselgrave, Communicating Christ – Cross Culturally. Malang: Literatur SAAT 2004, hl.77
4.      Simamora, Rianto G. Misi Kemanusiaan dan Globalisasi. Jakarta: Ink Media, 2006
5.      Widyatmadja, Josef P. Yesus dan Wong Cilik. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010
6.      Budiardjo, Tri. Gereja dan Kemiskinan. April, 2002
7.      Hans, Andrias. Model Pelayanan Tuhan Yesus. Buletin Mitra, 2008
8.      Herlianto. Pelayanan Urban. Yabina Ministry
9.      Herlianto. Panggilan Urban. Yabina Ministry
                                                                                                                              

                                               


                                   


[1] Paul Borthwick, Pemberitaan Injil Tugas Siapa?, Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1995
[2] Ibid, hl.17
[3] Paul Bortwick, Pemberitaan Injil Tugas Siapa?, Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1995
[4] Ibid, hl 27-28
[5] Dr. Yakob Tomatala, Teologi Misi,YT Leadership Foundation, Jakarta 2003, hl.55
[6] David J. Hesselgrave, Communicating Christ – Cross Culturally. Malang: Literatur SAAT 2004, hl.77

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BERITA TERKINI

« »
« »
« »
Get this widget

My Blog List

  • Proposal Tesis-3 - Proposal Tesis *KONSEP KESELAMATAN * *DALAM AGAMA “ALUK TODOLO”* Diajukan untuk memenuhi kelengkapan perkuliahan Sebagai Tugas Akhir Bidang Studi ...
    3 hari yang lalu
  • Re: LELUCON PILPRES 2014 - Sangat disayangkan Anda menanggapi tulisan saya tapi kini ngambek setelah ditanggapi balik heheheeee.... Gitu aja koq refooottt! Salam hormat juga bro! In...
    4 minggu yang lalu
  • Brasil...Tim kesayanganku yang malang............... - Seumur-umur baru kali ini penulis menyaksikan kekalahan yang sangat menyakitkan dan memalukan bagi tim sehebat tim brasil. Memang dalam sebuah pertandingan...
    1 bulan yang lalu
  • Manfaat Jeruk Bali - Manfaat jeruk bali selain enak untuk dikonsumsi dan kulitnya dapat dimanfaatkan untuk mainan anak-anak, ternyata lebih dari itu manfaat jeruk bali sangat b...
    1 tahun yang lalu
  • - Jika teman-teman mengalami kesulitan untuk Donwload file, silahkan tulis di kotak komentar.... untuk memutar video terlebih dahulu donwload software K-Lite ...
    2 tahun yang lalu
Loading...

Komentar